Air Mata Tanpa Langkah Adalah Dusta

Di tengah hiruk pikuk dunia yang kian bising, dosa seolah telah bergeser menjadi santapan sehari hari bagi umat manusia. Ironisnya, banyak dari kita yang melakukannya secara terang terangan bahkan dengan dagu tegak dan dada membusung, seolah olah maksiat adalah sebuah pencapaian yang patut dibanggakan.

Namun di sudut sunyi, ada jiwa yang terasing dalam kesedihan yang berbeda. Ia menangis bukan hanya karena khilaf yang diperbuat, melainkan karena rasa bersalah yang teramat sebab selalu tertinggal dalam melakukan kebaikan. Sementara orang lain berlomba-lomba menabung amalan, ia justru terpaku, melewatkan setiap kesempatan berharga untuk berbuat baik.

Pertanyaannya: Apakah penyesalan atas ketertinggalan itu benar-benar nyata?

Ataukah nestapa itu hanya sebersit emosi sesaat yang lewat bagai angin lalu? Sebuah siklus semu di mana manusia menangis malam ini, lalu besok pagi kembali melangkah dengan sukarela ke dalam kubangan dosa yang sama. Pada akhirnya, batasan antara pertobatan yang tulus dan kepalsuan yang berulang menjadi semakin kabur di bawah gemerlapnya panggung dunia.

Penyesalan, rasa sedih, dan rutukan atas apa yang terlewat semestinya dibarengi dengan upaya perbaikan ke depan dan memanfaatkan kesempatan semaksimal mungkin. Tanpa ada upaya untuk mengejar ketertinggalan, penyesalan dan rasa sedih itu hanya tinggal omong kosong belaka, sebagaimana disebut oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini.

“الحزن على فقدان الطاعة مع عدم النهوض إليها من علامات الاغترار”
(Al-huznu ‘ala fiqdanith tha’ah ma’a ‘adamin nuhudhi ilaiha min ‘alamatil ightirar)

Artinya: “Kesedihan atas ketertinggalan kebaikan tanpa disertai gerakan perbaikan adalah salah satu tanda terperdaya.”

Dalam kitab sohor nya Al hikam, beliau menjelaskan bahwa ketika ada seorang hamba merasa sedih akan tertinggal kebaikan namun tanpa disertai akan perbaikan itu artinya kesedihan yang ia miliki hanyalah dusta.

Pada dasarnya hidup adalah rute perjalanan panjang yang harus kita lewati, mustahil jalan yang kita lewati kian selalu mulus dan rata, tentu akan ada kerikil tajam, bebatuan atau bahkan akan ada lubang yang bisa membuat kita terjatuh.

Dan jika suatu saat dalam perjalanan itu kita jatuh pada lubang yang ada, wajar jika akan ada rasa sakit dan rasa sesal yang akan datang, namun “jatuh” yang sebenarnya bukan tentang seberapa dalam lubang itu melainkan langkah apa yang kita ambil setelahnya, kita harus bangkit dan berbenah dan jika suatu saat ketika kita melanjutkan perjalanan tersebut jadikanlah lubang yang lalu sebagai pembelajaran agar tidak kembali jatuh pada lubang yang akan ada.

Syekh Ibnu Abbad menyatakan bahwa banyak sekali air mata semu dan penyesalan palsu tak membuahkan apa-apa sehingga penyesalan dan rasa sedih itu hanya tinggal sia-sia. Syekh Ibnu Abbad juga memotivasi mereka yang bergerak bangkit mengejar ketertinggalan dalam beribadah. Mereka dapat memangkas waktu tempuh jauh lebih cepat dibanding mereka yang tidak bersedih.

هذا هو الحزن الكاذب الذي يكون معه البكاء الكاذب كما قالوا كم من عين جارية وقلب قاس وهو آمن مكر الله تعالى الخفي حيث منعه ما ينفعه وأعطاه ما يغترّ به من الحزن والبكاء… قال الشيخ أبو على الدقاق رضي الله تعالى عنه صاحب الحزن يقطع من طريق الله عز وجل في شهر ما لا يقطعه من فقد حزنه في سنين. وفي الخبر أن الله يحب كل قلب حزين…وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم متواصل الأحزان دائم الفكر…


Artinya, “Ini adalah kesedihan palsu yang dibarengi dengan tangisan dusta sebagai dikatakan, ‘Berapa banyak bola mata mengalirkan airnya dan hati yang keras sementara mereka merasa aman dari ujian Allah SWT yang tersembunyi di mana Allah mencegah hal yang bermanfaat untuk mereka dan menganugerahkan kesedihan dan tangis, suatu hal yang memperdaya kepada mereka…’

Abuya KH. Abdul Mun’im Syadili pernah mengutip dawuh dari syeh ibnu athoillah tersebut, pada pesannya beliau menyampaikan:

“Allah adalah mahbub atau yang dicintai, dan perantara pada yang dicintai dalam hal ini adalah ketaatan, juga mahbub atau yang dicintai, maka kalau ada orang kehilangan ketaatan seperti tertinggal jamaah atau ketinggalan sholat malam karna kerinan {bangun siang} maka dia kehilangan sesuatu yang dicintai dan tentunya dia harus bersedih tetapi kalau kesedihan itu tidak dibarengi dengan menata diri agar tidak kehilangan lagi maka itu adalah kesedihan yang bohong dan apabila kesedihan itu dibarengi dengan tangisan maka itu adalah tangisan yang bohong, dan ada yang lebih buruk dari itu adalah tidak pernah bersedih dengan kehilangan ketaatan”

Pesan mendalam dari Abuya KH. Abdul Mun’im Syadili, yang bersumber dari mutiara hikmah Syeikh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam, menegaskan bahwa hubungan antara hamba dan Allah SWT dibangun di atas landasan cinta, seorang kekasih semestinya akan melakukan hal yang akan mendekatkan dirinya dengan yang dicinta. Maka sholat berjamaah, sholat malam atau bahkan dzikir-dzikir kecil adalah jembatan cinta itu, maka tatkala seorang pecinta meninggalkannya, tentulah akan menimbulkan kesedihan dan air mata. 

Namun, Abuya memberikan peringatan keras bahwa kesedihan dan air mata penyesalan tersebut akan menjelma menjadi kebohongan besar jika tidak dibarengi dengan komitmen nyata untuk memperbaiki diri. Meratapi kelalaian malam ini menjadi sia-sia jika esok hari kita tetap berkubang dalam pola hidup yang sama tanpa ada ikhtiar konkret, seperti memasang alarm atau tidur lebih awal untuk menjemput shalat subuh. Bentuk kepalsuan yang lebih tragis adalah matinya rasa kehilangan itu sendiri “dan ada yang lebih buruk dari itu adalah tidak pernah bersedih dengan kehilangan ketaatan” di mana seorang hamba tetap merasa tenang dan biasa saja saat melewatkan ketaatan. Menata diri dan bangkit agar tidak jatuh di lubang kelalaian yang sama adalah satu-satunya pembuktian bahwa penyesalan kita adalah sebuah kejujuran, bukan sekadar drama manipulasi emosi semu sesaat.

Dari banyaknya dawuh ulama baik terdahulu maupun sekarang tentang kesedihan semu, poin utamanya sebetulnya hanya bermuara pada satu kata: “Berbenah.”

Jadikan masa lalu sebagai ruang pembelajaran, dan tataplah hari esok layaknya selembar kertas ujian yang siap kau selesaikan dengan lebih baik. Jangan menjadi seperti ikan, yang selalu bodoh dan terpancing oleh mata kail yang sama.

Jika langkahmu kemarin tergelincir, biarlah tanah kotor yang melekat di pakaianmu menjadi saksi bisu: bahwa engkau memang pernah terjatuh, namun engkau dengan tegas menolak untuk menyerah dan membatu di dasar lubang.

Bangkit dan berbenahlah. Sebab sedalam apa pun kejatuhanmu, langit esok hari selalu membentang luas, menyediakan ruang baru bagi kepak sayapmu yang ingin terbang lebih tinggi.

Jazakumullah khairan jaza.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *