Author: Habibiel

  • Penyembelihan Hewan Qurban di PPSQ Asy-Syadzili Berlangsung Khidmat dan Penuh Kebersamaan

    Penyembelihan Hewan Qurban di PPSQ Asy-Syadzili Berlangsung Khidmat dan Penuh Kebersamaan

    Suasana penuh syukur dan kebersamaan menyelimuti pelaksanaan penyembelihan hewan qurban di PPSQ Asy-Syadzili pada momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk penghambaan diri kepada Allah SWT sekaligus sarana mempererat ukhuwah antara santri, pengurus, dan masyarakat sekitar.

    Sejak pagi hari, para panitia dan santri telah berkumpul di area penyembelihan dengan penuh antusias untuk mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan. Hewan-hewan qurban yang sebelumnya telah diterima dari para Mudhohi terlebih dahulu diperiksa kondisinya guna memastikan seluruh proses berjalan sesuai syariat Islam serta memenuhi standar kesehatan dan kelayakan hewan qurban.

    Proses penyembelihan dilakukan oleh tim yang berpengalaman dengan tetap memperhatikan adab-adab penyembelihan dalam Islam, mulai dari membaca basmalah dan takbir, menggunakan alat yang tajam, hingga memperlakukan hewan qurban dengan penuh kasih sayang. Kegiatan ini tidak hanya menjadi pelaksanaan ibadah semata, tetapi juga menjadi pembelajaran langsung bagi para santri tentang makna keikhlasan, pengorbanan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.

    Pada pelaksanaan qurban tahun ini, PPSQ Asy-Syadzili menerima sebanyak 21 hewan qurban yang terdiri dari tiga ekor sapi dan 18 ekor kambing, Sedangkan hewan-hewan lainnya berasal dari masyarakat, serta para santri atas nama pribadi yang turut berpartisipasi dalam ibadah qurban tahun ini. Salah satu sapi diatas namakan santri Asy Syadzili, namun pada hal ini tidak bisa disebut hewan qurban melainkan sebagai shadaqah biasa guna menambah rasa semangat para santri untuk berqurban pada tahun yang akan datang.

    Menariknya, para mudhohi juga diberikan kesempatan untuk belajar menyembelih hewan qurbannya secara langsung dengan pendampingan dari Habib Umar, atau yang akrab disapa Yek Umar. Pendampingan tersebut dilakukan agar para peserta tidak hanya berqurban, tetapi juga memahami tata cara penyembelihan yang benar sesuai tuntunan syariat Islam.

    Untuk memaksimalkan jalannya kegiatan, panitia membagi tugas ke dalam beberapa tim, mulai dari tim penyembelih, tim pemotongan dan pengemasan daging, hingga tim distribusi. Seluruh proses penyembelihan dan pemotongan berlangsung sejak pagi hari hingga menjelang waktu Dzuhur dengan suasana tertib dan penuh semangat gotong royong.

    Setelah seluruh proses selesai, daging qurban kemudian didistribusikan kepada masyarakat sekitar, para santri, serta warga yang membutuhkan. Semangat berbagi dan kebersamaan begitu terasa sepanjang rangkaian kegiatan, mencerminkan nilai-nilai sosial yang menjadi inti dari ibadah qurban itu sendiri.

    Melalui kegiatan ini, PPSQ Asy-Syadzili berharap nilai-nilai keikhlasan, kepedulian, dan semangat berbagi dapat terus tumbuh di tengah masyarakat. Selain menjadi bentuk ibadah kepada Allah SWT, qurban juga diharapkan mampu memperkuat rasa persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama.

    Semoga ibadah Qurban kita diterima olehnya.

  • Arafah: Hari Dimana Langit Lebih Dekat

    Arafah: Hari Dimana Langit Lebih Dekat

    Di antara hari-hari yang berlalu dalam cepatnya waktu, ada hari-hari yang tidak sekadar hadir membawa pergantian tanggal. Ia datang membawa panggilan. Panggilan bagi jiwa yang lelah, bagi hati yang letih oleh dunia, bagi siapa pun yang diam-diam merindukan jalan pulang menuju Tuhannya.

    Di bulan Dzulhijjah, Allah menghadirkan satu hari yang begitu agung: Hari Arafah. Sebuah hari yang bukan sekadar bagian dari rangkaian ibadah Haji, melainkan sebuah pelajaran besar tentang bagaimana seorang hamba mempersiapkan dirinya sebelum benar-benar kembali kepada Rabb-nya.

    Hari itu adalah hari ketika langit seolah lebih dekat, pintu ampunan lebih terbuka, dan rahmat Allah turun dengan limpahan yang tak terukur.

    Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Lathaiful Ma’arif menuturkan sebuah kisah yang begitu menggetarkan. Ketika Syaikh Ali bin Al-Muwaffaq sedang wukuf di Arafah, beliau memandang lautan manusia yang datang dari berbagai penjuru dunia, semuanya mengangkat tangan dengan satu harapan: ampunan Allah.

    Beliau pun berdoa,
    “Ya Allah, jika tidak ada seorang pun di antara mereka yang Engkau terima hajinya, maka aku hibahkan hajiku untuk mereka.”

    Malam harinya, beliau bermimpi dan mendengar seruan:
    “Wahai Ibnul Muwaffaq, apakah engkau merasa lebih dermawan daripada-Ku? Sungguh Aku telah mengampuni seluruh orang yang berada di tanah Arafah itu, dan juga orang-orang seperti mereka. Bahkan setiap dari mereka Aku izinkan memberi syafaat kepada keluarga dan kerabatnya.”

    Betapa luas kasih sayang Allah. Betapa tak terbatas ampunan-Nya. Sering kali kita datang dengan dosa yang tak terhitung, tetapi Allah menyambut kita dengan rahmat yang tak berbatas.

    Maka, masih kata Imam Ibnu Rajab, siapa saja yang ingin mendapatkan bagian dari keutamaan Arafah meski tidak sedang berdiri di Padang Arafah hendaknya ia menghidupkan hari itu dengan amal-amal terbaik.

    Pertama, berpuasa di Hari Arafah.
    Rasulullah Muhammad SAW bersabda bahwa puasa Arafah menjadi sebab dihapuskannya dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Betapa murahnya Allah memberi kesempatan, hanya dengan satu hari lapar dan dahaga, Dia menghapus dua tahun luka dosa kita.

    Kedua, menjaga diri dari segala bentuk maksiat.
    Sebab Arafah bukan hanya tentang amal yang banyak, tetapi juga tentang hati yang bersih. Menjaga lisan dari dusta, menjaga mata dari yang haram, menjaga telinga dari hal yang melalaikan itulah bentuk wukuf kita hari ini. Berdiri menjaga diri di hadapan Allah.

    Ketiga, memperbanyak dzikir tauhid.
    Sebab inti dari Arafah adalah kembali mengikrarkan siapa Tuhan kita sebenarnya:

    لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد، وهو على كل شيء قدير

    Kalimat yang sederhana, namun di dalamnya ada penyerahan total seorang hamba: bahwa tidak ada tempat bergantung selain kepada-Nya.

    Keempat, memperbanyak doa dan istighfar.
    Sebab Arafah adalah hari ketika doa-doa naik ke langit dengan jalan yang lebih lapang. Hari ketika air mata lebih mudah jatuh. Hari ketika penyesalan terasa lebih jujur.

    Maka jangan biarkan hari itu berlalu hanya sebagai tanggal di kalender.

    Ucapkanlah dalam sunyi:

    اللهم أعتق رقبتي من النار وأوسع لي من الرزق الحلال واصرف عني فسقة الجن والإنس

    “Ya Allah, bebaskanlah diriku dari api neraka, lapangkanlah rezekiku yang halal, dan jauhkan aku dari keburukan jin dan manusia.”

    Lebih dari itu, Hari Arafah adalah hari paling agung di mana Allah mengampuni dosa-dosa Kaum Mukminin di segala penjuru dunia mana kala mereka membentangkan diri untuk mendapatkan anugerah Allah yang dicurahkan pada hari tersebut dengan do’a yang sungguh-sungguh. Rasulullah SAW bersabda : 

    “Jika tiba hari Arafah, tidaklah seseorang masih mempunyai setitik iman dalam hatinya melainkan ia akan diampuni. Lantas ada yang bertanya: Ya Rasulallah, apakah terkhusus bagi yang wukuf di Arafah saja atau untuk semua manusia? Rasulullah menjawab: Untuk semua manusia”.

     (HR. Abu Daud)

    Sungguh, Arafah sejatinya bukan hanya milik mereka yang berdiri di tanah suci. Ia milik semua hati yang ingin kembali. Milik setiap jiwa yang ingin dibersihkan. Milik setiap hamba yang diam diam menyimpan rindu untuk lebih dekat kepada Rabb-nya.

    Mungkin hari ini kita tidak berada di Padang Arafah.
    Mungkin kita tidak mengenakan pakaian ihram yang putih.
    Mungkin kita tidak sedang bertalbiyah bersama jutaan manusia.

    Namun, bukankah langit yang mendengar doa mereka adalah langit yang sama yang menaungi kita?

    Bukankah Tuhan yang mendengar tangis mereka adalah Tuhan yang sama yang mendengar lirih munajat kita?

    Maka jangan merasa jauh.

    Sebab, jarak menuju Allah bukan ditentukan oleh berapa kilometer perjalanan kita menuju Makkah, tetapi oleh seberapa tulus hati kita melangkah menuju-Nya.

    Jadikan Arafah sebagai momentum pulang.

    Pulang dari dosa menuju taubat.
    Pulang dari lalai menuju sadar.
    Pulang dari kerasnya hati menuju lembutnya iman.

    Karena siapa tahu, ini adalah Arafah terakhir yang Allah titipkan kepada kita.
    Siapa tahu, ini adalah undangan terakhir sebelum suatu hari nanti kita benar-benar dipanggil pulang.

    Maka sambutlah ia dengan air mata, dengan doa, dengan puasa, dengan dzikir, dan dengan hati yang berkata penuh harap:

    “Ya Allah, jika aku belum menjadi hamba yang baik, maka izinkan Hari Arafah ini menjadi langkah awal perjalanan pulangku kepada-Mu.”

  • Air Mata Tanpa Langkah Adalah Dusta

    Air Mata Tanpa Langkah Adalah Dusta

    Di tengah hiruk pikuk dunia yang kian bising, dosa seolah telah bergeser menjadi santapan sehari hari bagi umat manusia. Ironisnya, banyak dari kita yang melakukannya secara terang terangan bahkan dengan dagu tegak dan dada membusung, seolah olah maksiat adalah sebuah pencapaian yang patut dibanggakan.

    Namun di sudut sunyi, ada jiwa yang terasing dalam kesedihan yang berbeda. Ia menangis bukan hanya karena khilaf yang diperbuat, melainkan karena rasa bersalah yang teramat sebab selalu tertinggal dalam melakukan kebaikan. Sementara orang lain berlomba-lomba menabung amalan, ia justru terpaku, melewatkan setiap kesempatan berharga untuk berbuat baik.

    Pertanyaannya: Apakah penyesalan atas ketertinggalan itu benar-benar nyata?

    Ataukah nestapa itu hanya sebersit emosi sesaat yang lewat bagai angin lalu? Sebuah siklus semu di mana manusia menangis malam ini, lalu besok pagi kembali melangkah dengan sukarela ke dalam kubangan dosa yang sama. Pada akhirnya, batasan antara pertobatan yang tulus dan kepalsuan yang berulang menjadi semakin kabur di bawah gemerlapnya panggung dunia.

    Penyesalan, rasa sedih, dan rutukan atas apa yang terlewat semestinya dibarengi dengan upaya perbaikan ke depan dan memanfaatkan kesempatan semaksimal mungkin. Tanpa ada upaya untuk mengejar ketertinggalan, penyesalan dan rasa sedih itu hanya tinggal omong kosong belaka, sebagaimana disebut oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini.

    “الحزن على فقدان الطاعة مع عدم النهوض إليها من علامات الاغترار”
    (Al-huznu ‘ala fiqdanith tha’ah ma’a ‘adamin nuhudhi ilaiha min ‘alamatil ightirar)

    Artinya: “Kesedihan atas ketertinggalan kebaikan tanpa disertai gerakan perbaikan adalah salah satu tanda terperdaya.”

    Dalam kitab sohor nya Al hikam, beliau menjelaskan bahwa ketika ada seorang hamba merasa sedih akan tertinggal kebaikan namun tanpa disertai akan perbaikan itu artinya kesedihan yang ia miliki hanyalah dusta.

    Pada dasarnya hidup adalah rute perjalanan panjang yang harus kita lewati, mustahil jalan yang kita lewati kian selalu mulus dan rata, tentu akan ada kerikil tajam, bebatuan atau bahkan akan ada lubang yang bisa membuat kita terjatuh.

    Dan jika suatu saat dalam perjalanan itu kita jatuh pada lubang yang ada, wajar jika akan ada rasa sakit dan rasa sesal yang akan datang, namun “jatuh” yang sebenarnya bukan tentang seberapa dalam lubang itu melainkan langkah apa yang kita ambil setelahnya, kita harus bangkit dan berbenah dan jika suatu saat ketika kita melanjutkan perjalanan tersebut jadikanlah lubang yang lalu sebagai pembelajaran agar tidak kembali jatuh pada lubang yang akan ada.

    Syekh Ibnu Abbad menyatakan bahwa banyak sekali air mata semu dan penyesalan palsu tak membuahkan apa-apa sehingga penyesalan dan rasa sedih itu hanya tinggal sia-sia. Syekh Ibnu Abbad juga memotivasi mereka yang bergerak bangkit mengejar ketertinggalan dalam beribadah. Mereka dapat memangkas waktu tempuh jauh lebih cepat dibanding mereka yang tidak bersedih.

    هذا هو الحزن الكاذب الذي يكون معه البكاء الكاذب كما قالوا كم من عين جارية وقلب قاس وهو آمن مكر الله تعالى الخفي حيث منعه ما ينفعه وأعطاه ما يغترّ به من الحزن والبكاء… قال الشيخ أبو على الدقاق رضي الله تعالى عنه صاحب الحزن يقطع من طريق الله عز وجل في شهر ما لا يقطعه من فقد حزنه في سنين. وفي الخبر أن الله يحب كل قلب حزين…وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم متواصل الأحزان دائم الفكر…


    Artinya, “Ini adalah kesedihan palsu yang dibarengi dengan tangisan dusta sebagai dikatakan, ‘Berapa banyak bola mata mengalirkan airnya dan hati yang keras sementara mereka merasa aman dari ujian Allah SWT yang tersembunyi di mana Allah mencegah hal yang bermanfaat untuk mereka dan menganugerahkan kesedihan dan tangis, suatu hal yang memperdaya kepada mereka…’

    Abuya KH. Abdul Mun’im Syadili pernah mengutip dawuh dari syeh ibnu athoillah tersebut, pada pesannya beliau menyampaikan:

    “Allah adalah mahbub atau yang dicintai, dan perantara pada yang dicintai dalam hal ini adalah ketaatan, juga mahbub atau yang dicintai, maka kalau ada orang kehilangan ketaatan seperti tertinggal jamaah atau ketinggalan sholat malam karna kerinan {bangun siang} maka dia kehilangan sesuatu yang dicintai dan tentunya dia harus bersedih tetapi kalau kesedihan itu tidak dibarengi dengan menata diri agar tidak kehilangan lagi maka itu adalah kesedihan yang bohong dan apabila kesedihan itu dibarengi dengan tangisan maka itu adalah tangisan yang bohong, dan ada yang lebih buruk dari itu adalah tidak pernah bersedih dengan kehilangan ketaatan”

    Pesan mendalam dari Abuya KH. Abdul Mun’im Syadili, yang bersumber dari mutiara hikmah Syeikh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam, menegaskan bahwa hubungan antara hamba dan Allah SWT dibangun di atas landasan cinta, seorang kekasih semestinya akan melakukan hal yang akan mendekatkan dirinya dengan yang dicinta. Maka sholat berjamaah, sholat malam atau bahkan dzikir-dzikir kecil adalah jembatan cinta itu, maka tatkala seorang pecinta meninggalkannya, tentulah akan menimbulkan kesedihan dan air mata. 

    Namun, Abuya memberikan peringatan keras bahwa kesedihan dan air mata penyesalan tersebut akan menjelma menjadi kebohongan besar jika tidak dibarengi dengan komitmen nyata untuk memperbaiki diri. Meratapi kelalaian malam ini menjadi sia-sia jika esok hari kita tetap berkubang dalam pola hidup yang sama tanpa ada ikhtiar konkret, seperti memasang alarm atau tidur lebih awal untuk menjemput shalat subuh. Bentuk kepalsuan yang lebih tragis adalah matinya rasa kehilangan itu sendiri “dan ada yang lebih buruk dari itu adalah tidak pernah bersedih dengan kehilangan ketaatan” di mana seorang hamba tetap merasa tenang dan biasa saja saat melewatkan ketaatan. Menata diri dan bangkit agar tidak jatuh di lubang kelalaian yang sama adalah satu-satunya pembuktian bahwa penyesalan kita adalah sebuah kejujuran, bukan sekadar drama manipulasi emosi semu sesaat.

    Dari banyaknya dawuh ulama baik terdahulu maupun sekarang tentang kesedihan semu, poin utamanya sebetulnya hanya bermuara pada satu kata: “Berbenah.”

    Jadikan masa lalu sebagai ruang pembelajaran, dan tataplah hari esok layaknya selembar kertas ujian yang siap kau selesaikan dengan lebih baik. Jangan menjadi seperti ikan, yang selalu bodoh dan terpancing oleh mata kail yang sama.

    Jika langkahmu kemarin tergelincir, biarlah tanah kotor yang melekat di pakaianmu menjadi saksi bisu: bahwa engkau memang pernah terjatuh, namun engkau dengan tegas menolak untuk menyerah dan membatu di dasar lubang.

    Bangkit dan berbenahlah. Sebab sedalam apa pun kejatuhanmu, langit esok hari selalu membentang luas, menyediakan ruang baru bagi kepak sayapmu yang ingin terbang lebih tinggi.

    Jazakumullah khairan jaza.

  • Malam Pembuka Rangkaian Haul Mbah Nyai Hj Siti Rohmah Marzuki ke 6: Khotmil Qur’an Bani Syadzili

    Malam Pembuka Rangkaian Haul Mbah Nyai Hj Siti Rohmah Marzuki ke 6: Khotmil Qur’an Bani Syadzili

    Pondok Pesantren salaf Al Quran Asy Syadzili 1, Pakis, Malang. Hari peringatan haul simbah nyai hj Siti Rohmah Marzuki yang keenam dibuka dengan mengadakan khotmil Quran pada tanggal 9 mei 2026 kemudian dilanjut dengan penutupan khotmil Quran pada  hari ini tanggal 10 mei 2026 di Masjid Ibrahim Pakis Malang yang dimana acara kali ini dibuka oleh pembawa acara yakni Ustadz Fikri yang merupakan alumni PPSQ Asy Syadzili, khotmil Quran ditutup langsung oleh beliau KH Abdul Mun’im Syadzili sekaligus diakhiri dengan doa yang juga dibacakan langsung oleh beliau dengan khusyu’ dan khidmat guna menambah berkah pada acara yang penuh barokah kali ini.

    Acara dilanjutkan dengan penyampaian mauidhoh hasanah yang dibawakan oleh beliau KH Mas Ali Fikri selaku pengasuh PPSQ Asy Syadzili 6, beliau menyampaikan bahwa hari ini adalah hari yang begitu istimewa dikarenakan dimulai dari hal hal yang baik seperti pembacaan khotmil Quran dan juga pembacaan sholawat guna mengharap kehadiran kanjeng nabi Muhammad SAW. Beliau juga menyampaikan acara kali ini penuh akan keberkahan karena dihadiri oleh para alim ulama yang turut serta mengharap barokah simbah Nyai Hj Siti Rohmah Marzuki.

    Beliau mengambil dawuh Imam Hasyim mengatakan “biaya masuk surga adalah majelis yang penuh kebaikan” selama kita membaca dzikir sholawat dan melakukan hal-hal baik itu berarti umpama kita membangun surga disana.

    Tak lupa Beliau mengucapkan terima kasih kepada para hadirin, kemudian beliau menceritakan kisah tentang simbah Nyai Hj Siti Rahmah Marzuki yang dinikahi oleh mbah Yai Ahmad Syadzili Muhdhor pada umur yang masih belia yakni 12 tahun. Beliau juga menceritakan kisah hidup simbah nyai yang dahulu berjualan kain keliling untuk menyekolahkan putra putrinya, yang dimana hasil dari semangat juga jerih payah beliau kala itu, bisa kita lihat sekarang pada putra putrinya yang menjadi orang orang yang dipenuhi akan ilmu dan kebaikan, dari hasil perjuangan beliau juga menjadi akar dari tumbuhnya Asy Syadzili yang terus melahirkan generasi generasi teladan yang dihiasi akan ilmu ilmu Al Quran.

    Acara berjalan dengan khusyu’ dan khidmat, seluruh jama’ah terlihat begitu antusias mengikuti satu demi satu rangkaian acara pada hari ini.

    Acara ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh beliau KH Hj Hazimul Ahzab selaku pengasuh PPSQ Asy Syadzili 2.

    Setelah selesai pembacaan doa para tamu dan para hadirin dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang disediakan sebagai ramah tamah, suasana terlihat begitu hangat para hadirin terlihat bercengkrama satu sama lain.

    Setelah selesai para tamu beramah tamah tim media santri pasir mengadakan sesi wawancara langsung bersama beliau Drs Agus Hj Abdul Mujib Syadzili atau yang kerap disapa dengan Gus Mujib selaku putra dari sang ummul ma’had mbah nyai hj Siti Rohmah Marzuki, pada wawancara tersebut beliau menceritakan kisah keteguhan mbah nyai dalam hal apapun, sebagai contoh beliau bercerita kala mbah nyai ditinggal wafat oleh Kh Ahmad Syadzili Muhdor beliau diberi wasiat “arek arek kudu tetep golek ilmu” anak anak harus tetap mencari ilmu, yang dimana pada saat itu putra putri beliau berjumlah 9 orang anak pada saat itu juga kondisi ekonomi keluarga Syadzili sangat terpuruk bahkan beliau tidak menerima warisan sepeser harta pun Mbah Yai Ahmad Syadzili Muhdhor, keadaan tersebut sangatlah berat tentunya bagi mbah nyai atau bahkan bagi siapapun namun mbah nyai tidak menolak amanah wasiat yang diberikan padanya beliau menjalaninya dengan penuh keteguhan sebagai bentuk mahabbah nya pada sang suami sekaligus gurunya, puluhan tahun kemudian hasil dari keteguhan tersebut berbuah manis putra putri beliau tumbuh dewasa menjadi orang orang yang berilmu dan bermanfaat bagi ummat.

    Kisah keteguhan beliau yang lain juga diceritakan oleh Gus Mujib yang mana keteguhan beliau terlihat pada saat beliau meminta dibangunkan gedung 7 lantai yang mana pada saat itu keadaan ekonomi masih terpuruk sehingga putra putri beliau menawar untuk dibangun gedung lantai 3 saja namun beliau mbah nyai bersikukuh agar tetap dibangun 7 lantai, alhamdulillah sekarang permintaan beliau sudah terwujudkan denhgan adanya gedung Graha Manarul Quran yang sekarang dimanfaatkan untuk perguruan tinggi Institut agama Islam Asy Syadzili (IAI).

    Gus mujib juga menyatakan bahwa sifat keteguhan mbah nyai adalah sifat yang sangat pantas untuk ditiru oleh siapapun terkhusus generasi muda sekarang beliau menyampaikan pesan

    “keteguhan, jadi kalau kita teguh dalam menjalankan sesuatu itu adalah jalan untuk menuju kesuksesan”

    Acara haul kali ini bukan sekedar acara rutinan belaka yang giat dilakukan setiap tahunnya, namun acara haul kali ini adalah sebagai bentuk wadah cinta dan terimakasih kita kepada beliau atas semua jasa dan perjuangan yang beliau berikan untuk kita semua, haul kali ini juga adalah tempat untuk mengingat bahwa akar dari tumbuh nya Asy Syadzili ini adalah buah dari segala doa dan usaha yang mbah nyai lakukan, beliau adalah wanita yang luar biasa hebatnya, wanita tangguh pejuang Al Quran Beliau Mbah Nyai Hj Siti Rohmah Marzuki.

    Mbah nyai segala doa dan salam rindu kami haturkan untukmu.

  • MANFAAT PUASA DALAM PRESPEKTIF SAINS DAN KESEHATAN

    MANFAAT PUASA DALAM PRESPEKTIF SAINS DAN KESEHATAN

    Bulan puasa Ramadhan adalah bulan yang sangat dinantikan oleh umat Muslim di seluruh

    dunia. Pada bulan ini, Allah menutup pintu-pintu neraka dan membuka pintu-pintu surga

    selebar-lebarnya. Artinya, Allah juga melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya seluas-luasnya

    kepada hamba-Nya. Selain itu, pada bulan ini setiap amal ibadah dilipatgandakan pahalanya.

    Selain memberikan pahala yang besar karena berpuasa selama satu bulan penuh, puasa juga

    berdampak positif bagi kesehatan manusia. Saat berpuasa, tubuh berfokus pada proses

    pemulihan dan pembersihan. Beban sistem pencernaan berkurang sehingga energi dialihkan

    untuk membuang racun dalam metabolisme. Proses ini dikenal sebagai autophagy, yaitu

    mekanisme ketika sel-sel tubuh membersihkan dan memperbaiki bagian sel yang rusak atau

    tidak lagi berfungsi dengan baik.

    Puasa juga dapat meningkatkan fungsi otak. Ketika berpuasa, tubuh menghasilkan lebih

    banyak brain-derived neurotrophic factor (BDNF), yaitu protein yang berperan dalam

    menjaga kelangsungan hidup dan perkembangan sel saraf. Peningkatan BDNF dapat

    membantu meningkatkan kemampuan kognitif, daya ingat, serta fokus.

    Meski memiliki banyak manfaat kesehatan, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus

    selama kurang lebih 12 jam. Ada hal penting yang perlu diperhatikan, terutama saat berbuka.

    Banyak orang berbuka dengan makanan yang tinggi gula dan kolesterol, seperti kudapan

    manis dan gorengan berminyak, hingga melupakan kebutuhan cairan tubuh dengan

    mengonsumsi air putih yang cukup.

    Hal ini tentu sangat disayangkan. Setelah tubuh melakukan proses perbaikan sel selama

    berpuasa, konsumsi makanan yang tidak sehat justru dapat merusak kembali kondisi

    kesehatan. Oleh karena itu, sebagai umat Muslim, kita harus bijak dalam memilih menu

    berbuka. Selain menjadikan puasa sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, kita

    juga perlu menjaga kesehatan diri. Jangan sampai banyaknya ragam takjil membuat kita lupa

    pada kebutuhan tubuh yang telah berpuasa sepanjang hari.

    Sumber : https://www.unpad.ac.id/2023/04/pakar-jelaskan-fakta-ilmiah-dari-puasa-ramadan/

    https://www.ataxia.org/scasourceposts/snapshot-what-is-brain-derived-neurotrophic-
    https://www.ataxia.org/scasourceposts/snapshot-what-is-brain-derived-neurotrophic-
  • KEUTAMAAN DAN AMALAN DI MALAM NISFU SYA’BAN

    KEUTAMAAN DAN AMALAN DI MALAM NISFU SYA’BAN

    Bulan Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam penanggalan kalender hijriah. Seringkali, keutamaan-keutamaan dalam bulan ini kita lewatkan karena berada di antara bulan rajab dan bulan ramadhan, padahal di bulan inilah kita harus memperbanyak ibadah untuk mempersiapkan diri menyambut bulan yang dinantikan seluruh umat islam, yaitu bulan suci ramadhan.

    Dalam bulan Sya’ban ada satu malam yang sangat di muliakan, malam itu bertepat pada tanggal 15 Sya’ban dan di sebut sebagai malam nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban).  Dikarenakan pada malam ini Allah membuka pemgampunannya kepada seluruh makhluk sebagaimana sabda nabi Muhammad SAW.  dalam hadist riwayat Mu’adz bin Jabal yang berbunyi:

    عَنْ مُعَاذٍ بِنْ جَبَلٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ يَطَّلِعُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ, فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

    Artinya: Dari Mu’adz bin Jabal, dari Nabi SAW beliau berkata, “Allah Tabaraka wa Ta’ala melihat kepada makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lalu Allah mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

    Dari hadist di atas dapat kita pahami bahwa Allah pada malam ini benar benar mengampuni kepada seluruh hambanya terkecuali orang-orang yang menyekutukannya. Maka dari itu, kita di anjurkan untuk memperbanyak ibadah pada malam ini. berikut beberapa amalan yang di anjurkan pada nisfu Sya’ban:

    1.Puasa Sunnah

    Puasa sunnah pada tanggal 15 Syaban. Puasa ini termasuk dalam kategori puasa sunah pertengahan bulan yang dikenal dengan Ayyamul Bidh yang biasa dilakukan pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah. Selain sebagai ibadah tambahan, puasa ini juga menjadi latihan spiritual agar tubuh dan jiwa lebih siap menyambut Ramadhan.

    2. Qiyamul lail

    Beberapa shalat sunnah yang dapat dikerjakan adalah shalat Tahajud, yang dilakukan setelah tidur di sepertiga malam terakhir, serta shalat Hajat, yang dikerjakan untuk memohon hajat tertentu kepada Allah. Selain itu, shalat Tasbih juga bisa menjadi pilihan karena memiliki keutamaan dalam menghapus dosa-dosa yang telah lalu.

    3. Membaca yasin 3 kali ba’da maghrib

    Amalan ini yang seing di anjurkan oleh para ulama’ terkhusus ulama’ dari pesantren. Selain itu surat yasin memiliki keutamaan yang sangat banyak, maka akan lebih berlipat ganda apabila di baca pada saat malam nisfu Sya’ban.

    Demikian sedikit dari banyaknya amalan-amalan yang utama dalam nisfu Sya’ban, maka dari itu kita sebagi umat muslim setidaknya tidak menganggap remeh bulan Sya’ban terlebih pada malam nisfu Sya’ban.

  • DEMOKRASI SEHAT DIMULAI DARI KESADARAN DIRI

    DEMOKRASI SEHAT DIMULAI DARI KESADARAN DIRI

    Indonesia adalah negara yang mengunakan paham demokrasi Pancasila yang artinya kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat, bukan berada di tangan presiden atau lembaga nasional lainnya. Oleh karena itu, kita sebagai warga negara Indonesia harus terus mengawal semua kebijakan dan perundang-undangan yang dibuat oleh pemerintah demi kesejahteraan rakyat. Namun, tahukah kalian di samping kewajiban kita sebagai warga negara ada satu hal yang lebih penting yang sering dilupakan banyak orang, terutama kita sebagai umat muslim. Apa itu?
    Yakni kesadaran diri sendiri, di saat kita terlalu sibuk akan mengkritik pemerintahan kita dan memantau kondisi geopolitik yang semakin memanas, kita sampai lupa untuk mengintropeksi diri kita sendiri. Karena perilaku pemerintahan yang ada adalah cerminan dari perilaku masyarakatnya sendiri, sebagaimana Allah berfirman dalam sebuah hadis qudsi sebagai berikut:

    إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا، مَالِكُ الْمُلُوكِ، وَمَلِكُ الْمُلُوكِ، قُلُوبُ الْمُلُوكِ فِي يَدِي، وَإِنَّ الْعِبَادَ إِذَا أَطَاعُونِي حَوَّلْتُ قُلُوبَهُمْ عَلَيْهِمْ بِالسَّخَطِ وَالنِّقْمَةِ، فَسَامُوهُمْ سُوءَ الْعَذَابِ، فَلَا تَشْغَلُوا أَنْفُسَكُمْ بِالدُّعَاءِ عَلَى الْمُلُوكِ، وَلَكِنِ اشْغَلُوا أَنْفُسَكُمْ بِالذِّكْرِ وَالتَّضَرُّعِ إِلَيَّ أَكْفِكُمْ مُلُوكَكُمْ.

    Yang artinya:
    “Sesungguhnya Allah عز وجل berfirman: Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Aku adalah Pemilik para raja dan Raja dari para raja. Hati para raja berada di tangan-Ku. Apabila para hamba menaati-Ku, niscaya Aku akan membalikkan hati mereka (para raja) kepada rakyatnya dengan kemurahan dan kasih sayang. Namun apabila para hamba mendurhakai-Ku, Aku akan membalikkan hati mereka dengan kemurkaan dan azab, sehingga mereka menimpakan siksaan yang buruk. Maka janganlah kalian menyibukkan diri dengan mendoakan keburukan atas para raja, tetapi sibukkanlah diri kalian dengan berzikir dan merendahkan diri kepada-Ku; niscaya Aku akan mencukupkan kalian dari (kezaliman) para penguasa kalian.”

    Hadis qudsi di atas menjelaskan bahwa jika kita banyak bermaksiat, maka Allah dengan mudah membalikkan hatinya para raja untuk berbuat zalim, begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, sebelum kita membenahi rezim yang ada, alangkah baiknya kita memantaskan diri terlebih dahulu dengan terus menjaga iman dan menjauhi larangannya. Hadis di atas bukan berarti kita tidak boleh tersibukkan akan masalah demokrasi, namun lebih untuk menghimbau dan mengingatkan untuk kita menjalani demokrasi dengan sehat.

  • Hari ke-4 rangkaian Haul-35: Majelis Ta’lim Wad Da’wah Ar-riyadh dan Pembacaaan Sholawat Dalailul Khoirot

    Hari ke-4 rangkaian Haul-35: Majelis Ta’lim Wad Da’wah Ar-riyadh dan Pembacaaan Sholawat Dalailul Khoirot

    Santripasir.id Sabtu (15/11/2025) adalah hari ke empat rangkaian acara Haul Akbar KH. Ahmad Syadzili Muhdlor ke-35, yang diisi dengan Majelis Ta’lim Wad Da’wah Ar-riyadh dan pembacaan Sholawat Dalailul Khoirot. kegiatan berlangsung di panggung utama PPSQ Asy-Syadzili 1. Pembacaan Sholawat Dalailul Khoirot dimulai ba’da ashar, dihadiri oleh seluruh santri dan para jama’ah Dalailul Khoirot. Menjelang maghrib, setelah pembacaan Dalailul Khoirot selesai, seluruh jama’ah bergeser ke masjid PPSQ Asy-Syadzili 1 untuk menjalani jama’ah sholat maghrib sekaligus Khataman dalam Sholat.

    Selepas Maghrib, rangkaian selanjutnya digelar. Majelis Ta’lim Wad Da’wah Ar-riyadh yang dipimpin langsung oleh KH. Mas Aly Fikri berjalan dengan meriah. acara dipenuhi berbagai kalangan, baik santri, alumni, Masyarakat sekitar, hingga jama’ah Ar-riyadh yang berbondong datang dari pasuruan. Gema sholawat memenuhi seluruh penjuru pesantren. Dengan penuh semangat, KH. Mas Aly Fikri turut mengajak dan mendoakan siapa pun yang mengangkat suaranya dalam bersholawat. 

    Setelah pembacaan syair dan sholawat, hadir Al Habib Musthofa Alaydrus  untuk menyampaikan Mauidloh Hasanah. Dalam kesempatan ini, beliau menyampaikan betapa pentingnya bersholawat:

    “Manfaat sholawat bukan hanya bermanfaat kepada diri sendiri melainkan juga kepada orang tua kita, maka sholawat adalah bagian dari Birul Walidain.” 

    selain itu beliau juga mengingatkan kepada seluruh jama’ah untuk tidak mengedepankan hadir dalam majelis maulid saja, tapi juga selalu ingat kepada orang tua. Di akhir penyampaiannya, beliau menekankan kepada seluruh generasi muda maupun orang tua untuk saling menjaga dari siksa neraka, yang dimana, penyebabnya bisa datang dari mana saja bahkan dari hal remeh sekalipun.

    Usai Mauidloh Hasanah yang di sampaikan oleh Al Habib Musthofa Alaydrus,

    seluruh jamaah berdiri untuk mahallul qiyam. Do’a penutup setelahnya, mengakhiri rangkaian acara Haul Akbar KH. Ahmad Syadzili Muhdlor ke-35 pada malam ini.

  • Majelis Dzikrul Ghofilin

    Majelis Dzikrul Ghofilin

    Santripasir.id Jumat (14/11/2025) Memasuki hari ketiga Haul Akbar KH. Ahmad Muhdlor ke-35, rangkaian acara malam ini adalah Dzikrul Ghofilin yang digelar di panggung utama PPSQ Asy Syadzili 1. Selepas salat Isya’, para santri berkumpul di lapangan futsal. Acara diawali dengan pembacaan shalawat oleh tim banjari Asy Syadzili sembari menunggu kedatangan Gus Ferry, cucu dari KH. Hamim Tohari Djazuli (Gus miek) yang akan memimpin majelis.

    Pukul 19.33 WIB, Gus Ferry tiba di lokasi. Dengan didampingi beberapa orang, beliau langsung menuju panggung utama. Setelah dibuka oleh MC, Gus Ferry memimpin pembacaan Dzikrul Ghofilin yang diikuti seluruh jamaah dengan khidmat.

    Pukul 19.51 WIB, KH. Sabuth Panoto Projo hadir di area acara. Beliau disambut hangat dan diarahkan menuju ndalem pengasuh oleh yang bertugas. Sesampainya di sana, beliau disambut langsung oleh Abuya KH. Abdul Mun’im Syadzili.

    Setelah pembacaan Dzikrul Ghofilin selesai, KH. Sabuth Panoto Projo memimpin Mauidloh Hasanah. Dalam dawuhnya, beliau menjelaskan tentang pentingnya Mendoakan orang tua yang sudah meninggal.

    “manusia kalau sudah menjadi ahli kubur hanya butuh ampunan dari Allah dan kiriman Al Fatihah dari ahli warisnya” tutur beliau.

    Beliau juga menceritakan kisah Rasulullah SAW saat memberitakan istrinya tentang betapa mengerikannya alam kubur. Rasulullah bersabda :

    إن الميت في قبره كالغريق الغريب ينتظر دعوةً تصل إليه من أبٍ أو أمٍ أو أخٍ أو صديق.”
    “Sesungguhnya mayit di dalam kuburnya itu seperti orang yang tenggelam dan terasing. Ia menunggu doa yang sampai kepadanya, baik dari ayah, ibu, saudara, atau sahabatnya.”  nabi mengibaratkan orang yang sudah masuk  dalam kubur itu seperti orang yang tenggelam di dalam lautan yang senantiasa membutuhkan pertolongan. kemudian Sayyidati Aisyah bertanya bagaimana cara aku agar dapat menyelamatkan orang yang orang yang ada di alam barzah, Rasulullah pun menjawab dengan membacakan salah satu ayat Al Qur’an untuk orang tersebut.

    Dari sini beliau mengingatkan kita untuk senantiasa mendoakan orang tua kita terlebih yang sudah meninggal.

    Sebelum beliau mengakhiri mauidhoh Hasanah, beliau mendoakan khusus untuk keluarga besar Bani Syadzili terlebih kepada KH. Abdul Mun’im pengasuh PPSQ ASY SYADZILI 1. dan beliau juga mendoakan kepada seluruh jamaah dzikrul Ghofilin seluruh nusantara. sebagai penutup dari dawuh beliau acara pun di akhiri dengan pembacaan Syi’ir Dzikru Ghofilin yang di pimpin kembali oleh Gus ferry.