Category: Kajian Abuya

  • Sedekah Itu Soal Mau, Bukan Soal Mampu

    Sedekah Itu Soal Mau, Bukan Soal Mampu

    Bersedekah adalah salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam agama Islam. Dengan bersedekah, kita dapat membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang membutuhkan serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, seringkali banyak orang berpikir bahwa sedekah itu harus nunggu sukses/ kaya terlebih dahulu. Padahal, jika kita sudah memiliki apa yang kita inginkan maka kita akan lupa memberikan harta pada orang lain.

    Dalam Islam, bersedekah tidak melulu tentang kekayaan. Tetapi, bagaimana cara kita mensyukuri atas rahmat yang telah diberikan Allah pada kita. Artikel ini akan membahas pentingnya bersedekah dalam segala keadaan, berbagai manfaat yang bisa didapatkan, dan bagaimana cara kita bisa memastikan bahwa sedekah yang kita berikan mendapatkan pahala yang besar.

    Hal ini sesuai dengan hadist riwayat bukhari yakni

    مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

    Yang artinya “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta(HR. Muslim).

    Pernah suatu ketika seorang sahabat datang menemui Rasulullah. Sahabat itu memberi Rasulullah sebuah mantel sebagai hadiah. Mantel itu sangat indah dan setiap ujungnya ada hiasan nan cantik. Dengan senang hati Rasulullah menerima mantel tersebut dan memakainya. Tidak lama kemudian, seorang sahabat yang lain berkata, “Masyaallah betapa indahnya mantel yang engkau pakai, wahai Rasulullah. Andai saja aku bisa memiliki mantel yang sebagus itu, aku pasti sangat bahagia.”

    Tanpa berpikir panjang, Rasulullah segera melepas mantel tersebut. Dengan ikhlas, Rasulullah memberikan mantel itu kepada sahabatnya. Rasulullah tidak pernah ragu memberikan benda terbaik miliknya. Rasulullah memang gemar bersedekah. Beberapa sahabat yang lain berusaha mencegah, “Jangan berikan mantel itu, wahai Rasulullah. Bukankah baginda sangat memerlukannya?” Mereka pun menasihati sahabat yang meminta mantel tersebut, “Kenapa engkau meminta sesuatu yang menjadi hak Rasulullah? Tidakkah engkau tahu bahwa mantel itu sangat berguna untuk beliau?” “Tidak apa-apa, wahai saudaraku. Aku percaya si fulan lebih memerlukan mantel ini. Insyaallah, akan ada mantel pengganti untukku nanti,” ucap Rasulullah.

    Kisah ini memberikan pelajaran bahwa bersedekah bukan tentang kaya atau miskin, tapi tentang keikhlasan. Bukan tentang seberapa banyak jumlah, melainkan seberapa ikhlasnya kita dalam memberi. Bersedekah juga tidak melulu berbentuk uang, dengan barang pun kita bisa bersedekah. Orang yang memiliki banyak harta ketika bersedekah mungkin terlihat biasa. Namun, yang luar biasa adalah ketika kita merasa sedang kekurangan, tetapi masih senang bersedekah. Rasulullah sangat senang bersedekah, semoga kita sebagai pengikutnya juga demikian. Untuk mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam bersedekah hanya ada dua syarat yaitu ikhlas dan mengikuti Rasulullah.

    Islam tidak melihat apa yang disedekahkan. Baik sedekah makanan/barang maupun uang tetap bernilai pahala saat dilakukan dengan syarat tersebut. Bahkan Senyum yang tulus, membantu teman yang kesulitan, memberi tenaga, waktu, bahkan mendoakan orang lain juga termasuk sedekah. Hal-hal kecil yang sering dianggap sepele justru bisa menjadi amal yang besar di sisi Allah jika dilakukan dengan niat baik.

    Sering kali rasa takut kekurangan membuat seseorang menunda sedekah sampai merasa “cukup kaya”. Namun kenyataannya, tidak ada jaminan seseorang akan merasa cukup. Orang yang terbiasa berbagi sejak memiliki sedikit, biasanya akan tetap dermawan ketika memiliki banyak. Sebaliknya, jika menunggu kaya terlebih dahulu, bisa jadi kebiasaan memberi itu tidak pernah dimulai. Selain pahala, keutamaan dari amalan sedekah lebih luas lagi.

    Bahkan efek dari kebiasaan bersedekah tak hanya terasa saat di dunia. Efek dari pelaksanaan amalan ini hingga ke alam kubur dan akhirat kelak.

    1. Sedekah Tidak Mengurangi Harta Sedekah adalah ibadah yang tidak akan mengurangi harta, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda untuk mengingatkan kita dalam sebuah riwayat Muslim, “sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim). Mengapa sedekah tidak akan mengurangi harta? Karena meskipun secara tersurat harta terlihat berkurang, tetapi kekurangan tersebut akan ditutup dengan pahala di sisi Allah SWT dan akan terus bertambah kelipatannya menjadi lebih banyak. Hal ini merupakan janji Allah yang termaktub dalam surat Saba “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).

    2. Sedekah Menghapus Dosa Sebagai makhluk Allah SWT yang tak luput dari dosa, umat Islam senantiasa diberikan berbagai keistimewaan agar berkesempatan untuk bertaubat dan menghapus dosa-dosanya dengan cara yang yang diridhai oleh Nya. Salah satunya adalah dengan sedekah. Sedekah merupakan ibadah yang istimewa, ia dapat memudahkan kita dalam menghapus dosa-dosa. Rasulullah SAW pernah bersabda “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi).

    3. Sedekah Menjauhkan Diri dari Api Neraka “Dan kelak akan dijauhkan (dari neraka) orang yang paling bertakwa, yaitu orang yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan diri, dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalas, tetapi (dia berinfak) semata-mata karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar akan ridha.” (QS. Al-Lail: 17-21). Dengan menyalurkan sedekah, tidak hanya memperoleh pahala yang berlipat ganda dan menghapus dosa, tetapi juga mendekatkan diri kepada rahmat dan ampunan Allah SWT, sehingga terhindar dari azab neraka jahanam.

    4. Sedekah Melipatgandakan Pahala Sedekah memberikan banyak keistimewaan kepada pelakunya, salah satu diantaranya adalah Allah SWT akan memberikan pahala yang banyak untuk orang yang bersedekah. Allah SWT berfiman, “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18) 5. Sedekah Menjadi Obat untuk Orang Sakit Firman Allah dan sabda Rasulullah SAW mengajarkan kita bahwa sedekah memiliki keutamaan luar biasa, termasuk sebagai sarana penyembuhan bagi yang sakit, sebagaimana terkandung dalam hadits, “Obatilah orang sakit kalian dengan sedekah.” (HR. Abu Daud).

    Namun, penting untuk memahami secara menyeluruh bahwa sakit merupakan bagian dari takdir Ilahi yang harus diterima dengan kesabaran dan ketabahan sebagai wujud keimanan kepada Allah SWT. Cara memulai sedekah sebenarnya sangat sederhana. Langkah pertama adalah menanamkan niat yang ikhlas, yaitu memberi karena ingin membantu dan mencari kebaikan, bukan untuk mendapatkan pujian. Setelah itu, mulailah dari hal kecil sesuai kemampuan. Tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi, karena sedikit bantuan pun tetap memiliki nilai yang besar jika dilakukan dengan tulus. Sedekah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti memberikan uang, makanan, pakaian layak pakai, tenaga, ilmu yang bermanfaat, atau sekadar memberikan senyum dan ucapan yang baik kepada orang lain. Kita juga dapat mulai memperhatikan orang-orang di sekitar yang membutuhkan bantuan, seperti tetangga, teman, anak yatim, atau orang yang sedang mengalami kesulitan.

    Agar menjadi kebiasaan baik, biasakan bersedekah secara rutin, misalnya setiap hari Jumat, setiap mendapat rezeki, atau dengan menyisihkan sebagian uang harian. Sedekah memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Dengan bersedekah, hati menjadi lebih tenang dan bahagia karena dapat membantu sesama. Selain itu, sedekah juga menumbuhkan rasa syukur atas nikmat yang dimiliki, sekecil apa pun itu. Kebiasaan berbagi membuat seseorang lebih peduli terhadap orang lain dan mengurangi sifat egois dalam diri. Hubungan sosial pun menjadi lebih erat karena adanya rasa kasih sayang dan kepedulian di lingkungan sekitar.

    Banyak orang juga percaya bahwa sedekah dapat membawa keberkahan hidup, mempermudah urusan, dan membuka pintu rezeki dengan cara yang tidak disangka-sangka. Jadi, seberapapun kita punya usahakan untuk selalu bersedekah, bahkan seribu rupiah lebih baik jika disertai keikhlasan dibanding dengan ratusan harta yang disertai dengan riya, dan kesombongan.

  • Air Mata Tanpa Langkah Adalah Dusta

    Air Mata Tanpa Langkah Adalah Dusta

    Di tengah hiruk pikuk dunia yang kian bising, dosa seolah telah bergeser menjadi santapan sehari hari bagi umat manusia. Ironisnya, banyak dari kita yang melakukannya secara terang terangan bahkan dengan dagu tegak dan dada membusung, seolah olah maksiat adalah sebuah pencapaian yang patut dibanggakan.

    Namun di sudut sunyi, ada jiwa yang terasing dalam kesedihan yang berbeda. Ia menangis bukan hanya karena khilaf yang diperbuat, melainkan karena rasa bersalah yang teramat sebab selalu tertinggal dalam melakukan kebaikan. Sementara orang lain berlomba-lomba menabung amalan, ia justru terpaku, melewatkan setiap kesempatan berharga untuk berbuat baik.

    Pertanyaannya: Apakah penyesalan atas ketertinggalan itu benar-benar nyata?

    Ataukah nestapa itu hanya sebersit emosi sesaat yang lewat bagai angin lalu? Sebuah siklus semu di mana manusia menangis malam ini, lalu besok pagi kembali melangkah dengan sukarela ke dalam kubangan dosa yang sama. Pada akhirnya, batasan antara pertobatan yang tulus dan kepalsuan yang berulang menjadi semakin kabur di bawah gemerlapnya panggung dunia.

    Penyesalan, rasa sedih, dan rutukan atas apa yang terlewat semestinya dibarengi dengan upaya perbaikan ke depan dan memanfaatkan kesempatan semaksimal mungkin. Tanpa ada upaya untuk mengejar ketertinggalan, penyesalan dan rasa sedih itu hanya tinggal omong kosong belaka, sebagaimana disebut oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini.

    “الحزن على فقدان الطاعة مع عدم النهوض إليها من علامات الاغترار”
    (Al-huznu ‘ala fiqdanith tha’ah ma’a ‘adamin nuhudhi ilaiha min ‘alamatil ightirar)

    Artinya: “Kesedihan atas ketertinggalan kebaikan tanpa disertai gerakan perbaikan adalah salah satu tanda terperdaya.”

    Dalam kitab sohor nya Al hikam, beliau menjelaskan bahwa ketika ada seorang hamba merasa sedih akan tertinggal kebaikan namun tanpa disertai akan perbaikan itu artinya kesedihan yang ia miliki hanyalah dusta.

    Pada dasarnya hidup adalah rute perjalanan panjang yang harus kita lewati, mustahil jalan yang kita lewati kian selalu mulus dan rata, tentu akan ada kerikil tajam, bebatuan atau bahkan akan ada lubang yang bisa membuat kita terjatuh.

    Dan jika suatu saat dalam perjalanan itu kita jatuh pada lubang yang ada, wajar jika akan ada rasa sakit dan rasa sesal yang akan datang, namun “jatuh” yang sebenarnya bukan tentang seberapa dalam lubang itu melainkan langkah apa yang kita ambil setelahnya, kita harus bangkit dan berbenah dan jika suatu saat ketika kita melanjutkan perjalanan tersebut jadikanlah lubang yang lalu sebagai pembelajaran agar tidak kembali jatuh pada lubang yang akan ada.

    Syekh Ibnu Abbad menyatakan bahwa banyak sekali air mata semu dan penyesalan palsu tak membuahkan apa-apa sehingga penyesalan dan rasa sedih itu hanya tinggal sia-sia. Syekh Ibnu Abbad juga memotivasi mereka yang bergerak bangkit mengejar ketertinggalan dalam beribadah. Mereka dapat memangkas waktu tempuh jauh lebih cepat dibanding mereka yang tidak bersedih.

    هذا هو الحزن الكاذب الذي يكون معه البكاء الكاذب كما قالوا كم من عين جارية وقلب قاس وهو آمن مكر الله تعالى الخفي حيث منعه ما ينفعه وأعطاه ما يغترّ به من الحزن والبكاء… قال الشيخ أبو على الدقاق رضي الله تعالى عنه صاحب الحزن يقطع من طريق الله عز وجل في شهر ما لا يقطعه من فقد حزنه في سنين. وفي الخبر أن الله يحب كل قلب حزين…وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم متواصل الأحزان دائم الفكر…


    Artinya, “Ini adalah kesedihan palsu yang dibarengi dengan tangisan dusta sebagai dikatakan, ‘Berapa banyak bola mata mengalirkan airnya dan hati yang keras sementara mereka merasa aman dari ujian Allah SWT yang tersembunyi di mana Allah mencegah hal yang bermanfaat untuk mereka dan menganugerahkan kesedihan dan tangis, suatu hal yang memperdaya kepada mereka…’

    Abuya KH. Abdul Mun’im Syadili pernah mengutip dawuh dari syeh ibnu athoillah tersebut, pada pesannya beliau menyampaikan:

    “Allah adalah mahbub atau yang dicintai, dan perantara pada yang dicintai dalam hal ini adalah ketaatan, juga mahbub atau yang dicintai, maka kalau ada orang kehilangan ketaatan seperti tertinggal jamaah atau ketinggalan sholat malam karna kerinan {bangun siang} maka dia kehilangan sesuatu yang dicintai dan tentunya dia harus bersedih tetapi kalau kesedihan itu tidak dibarengi dengan menata diri agar tidak kehilangan lagi maka itu adalah kesedihan yang bohong dan apabila kesedihan itu dibarengi dengan tangisan maka itu adalah tangisan yang bohong, dan ada yang lebih buruk dari itu adalah tidak pernah bersedih dengan kehilangan ketaatan”

    Pesan mendalam dari Abuya KH. Abdul Mun’im Syadili, yang bersumber dari mutiara hikmah Syeikh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam, menegaskan bahwa hubungan antara hamba dan Allah SWT dibangun di atas landasan cinta, seorang kekasih semestinya akan melakukan hal yang akan mendekatkan dirinya dengan yang dicinta. Maka sholat berjamaah, sholat malam atau bahkan dzikir-dzikir kecil adalah jembatan cinta itu, maka tatkala seorang pecinta meninggalkannya, tentulah akan menimbulkan kesedihan dan air mata. 

    Namun, Abuya memberikan peringatan keras bahwa kesedihan dan air mata penyesalan tersebut akan menjelma menjadi kebohongan besar jika tidak dibarengi dengan komitmen nyata untuk memperbaiki diri. Meratapi kelalaian malam ini menjadi sia-sia jika esok hari kita tetap berkubang dalam pola hidup yang sama tanpa ada ikhtiar konkret, seperti memasang alarm atau tidur lebih awal untuk menjemput shalat subuh. Bentuk kepalsuan yang lebih tragis adalah matinya rasa kehilangan itu sendiri “dan ada yang lebih buruk dari itu adalah tidak pernah bersedih dengan kehilangan ketaatan” di mana seorang hamba tetap merasa tenang dan biasa saja saat melewatkan ketaatan. Menata diri dan bangkit agar tidak jatuh di lubang kelalaian yang sama adalah satu-satunya pembuktian bahwa penyesalan kita adalah sebuah kejujuran, bukan sekadar drama manipulasi emosi semu sesaat.

    Dari banyaknya dawuh ulama baik terdahulu maupun sekarang tentang kesedihan semu, poin utamanya sebetulnya hanya bermuara pada satu kata: “Berbenah.”

    Jadikan masa lalu sebagai ruang pembelajaran, dan tataplah hari esok layaknya selembar kertas ujian yang siap kau selesaikan dengan lebih baik. Jangan menjadi seperti ikan, yang selalu bodoh dan terpancing oleh mata kail yang sama.

    Jika langkahmu kemarin tergelincir, biarlah tanah kotor yang melekat di pakaianmu menjadi saksi bisu: bahwa engkau memang pernah terjatuh, namun engkau dengan tegas menolak untuk menyerah dan membatu di dasar lubang.

    Bangkit dan berbenahlah. Sebab sedalam apa pun kejatuhanmu, langit esok hari selalu membentang luas, menyediakan ruang baru bagi kepak sayapmu yang ingin terbang lebih tinggi.

    Jazakumullah khairan jaza.

  • KEUTAMAAN DAN AMALAN DI MALAM NISFU SYA’BAN

    KEUTAMAAN DAN AMALAN DI MALAM NISFU SYA’BAN

    Bulan Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam penanggalan kalender hijriah. Seringkali, keutamaan-keutamaan dalam bulan ini kita lewatkan karena berada di antara bulan rajab dan bulan ramadhan, padahal di bulan inilah kita harus memperbanyak ibadah untuk mempersiapkan diri menyambut bulan yang dinantikan seluruh umat islam, yaitu bulan suci ramadhan.

    Dalam bulan Sya’ban ada satu malam yang sangat di muliakan, malam itu bertepat pada tanggal 15 Sya’ban dan di sebut sebagai malam nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban).  Dikarenakan pada malam ini Allah membuka pemgampunannya kepada seluruh makhluk sebagaimana sabda nabi Muhammad SAW.  dalam hadist riwayat Mu’adz bin Jabal yang berbunyi:

    عَنْ مُعَاذٍ بِنْ جَبَلٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ يَطَّلِعُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ, فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

    Artinya: Dari Mu’adz bin Jabal, dari Nabi SAW beliau berkata, “Allah Tabaraka wa Ta’ala melihat kepada makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lalu Allah mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

    Dari hadist di atas dapat kita pahami bahwa Allah pada malam ini benar benar mengampuni kepada seluruh hambanya terkecuali orang-orang yang menyekutukannya. Maka dari itu, kita di anjurkan untuk memperbanyak ibadah pada malam ini. berikut beberapa amalan yang di anjurkan pada nisfu Sya’ban:

    1.Puasa Sunnah

    Puasa sunnah pada tanggal 15 Syaban. Puasa ini termasuk dalam kategori puasa sunah pertengahan bulan yang dikenal dengan Ayyamul Bidh yang biasa dilakukan pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah. Selain sebagai ibadah tambahan, puasa ini juga menjadi latihan spiritual agar tubuh dan jiwa lebih siap menyambut Ramadhan.

    2. Qiyamul lail

    Beberapa shalat sunnah yang dapat dikerjakan adalah shalat Tahajud, yang dilakukan setelah tidur di sepertiga malam terakhir, serta shalat Hajat, yang dikerjakan untuk memohon hajat tertentu kepada Allah. Selain itu, shalat Tasbih juga bisa menjadi pilihan karena memiliki keutamaan dalam menghapus dosa-dosa yang telah lalu.

    3. Membaca yasin 3 kali ba’da maghrib

    Amalan ini yang seing di anjurkan oleh para ulama’ terkhusus ulama’ dari pesantren. Selain itu surat yasin memiliki keutamaan yang sangat banyak, maka akan lebih berlipat ganda apabila di baca pada saat malam nisfu Sya’ban.

    Demikian sedikit dari banyaknya amalan-amalan yang utama dalam nisfu Sya’ban, maka dari itu kita sebagi umat muslim setidaknya tidak menganggap remeh bulan Sya’ban terlebih pada malam nisfu Sya’ban.

  • DEMOKRASI SEHAT DIMULAI DARI KESADARAN DIRI

    DEMOKRASI SEHAT DIMULAI DARI KESADARAN DIRI

    Indonesia adalah negara yang mengunakan paham demokrasi Pancasila yang artinya kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat, bukan berada di tangan presiden atau lembaga nasional lainnya. Oleh karena itu, kita sebagai warga negara Indonesia harus terus mengawal semua kebijakan dan perundang-undangan yang dibuat oleh pemerintah demi kesejahteraan rakyat. Namun, tahukah kalian di samping kewajiban kita sebagai warga negara ada satu hal yang lebih penting yang sering dilupakan banyak orang, terutama kita sebagai umat muslim. Apa itu?
    Yakni kesadaran diri sendiri, di saat kita terlalu sibuk akan mengkritik pemerintahan kita dan memantau kondisi geopolitik yang semakin memanas, kita sampai lupa untuk mengintropeksi diri kita sendiri. Karena perilaku pemerintahan yang ada adalah cerminan dari perilaku masyarakatnya sendiri, sebagaimana Allah berfirman dalam sebuah hadis qudsi sebagai berikut:

    إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا، مَالِكُ الْمُلُوكِ، وَمَلِكُ الْمُلُوكِ، قُلُوبُ الْمُلُوكِ فِي يَدِي، وَإِنَّ الْعِبَادَ إِذَا أَطَاعُونِي حَوَّلْتُ قُلُوبَهُمْ عَلَيْهِمْ بِالسَّخَطِ وَالنِّقْمَةِ، فَسَامُوهُمْ سُوءَ الْعَذَابِ، فَلَا تَشْغَلُوا أَنْفُسَكُمْ بِالدُّعَاءِ عَلَى الْمُلُوكِ، وَلَكِنِ اشْغَلُوا أَنْفُسَكُمْ بِالذِّكْرِ وَالتَّضَرُّعِ إِلَيَّ أَكْفِكُمْ مُلُوكَكُمْ.

    Yang artinya:
    “Sesungguhnya Allah عز وجل berfirman: Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Aku adalah Pemilik para raja dan Raja dari para raja. Hati para raja berada di tangan-Ku. Apabila para hamba menaati-Ku, niscaya Aku akan membalikkan hati mereka (para raja) kepada rakyatnya dengan kemurahan dan kasih sayang. Namun apabila para hamba mendurhakai-Ku, Aku akan membalikkan hati mereka dengan kemurkaan dan azab, sehingga mereka menimpakan siksaan yang buruk. Maka janganlah kalian menyibukkan diri dengan mendoakan keburukan atas para raja, tetapi sibukkanlah diri kalian dengan berzikir dan merendahkan diri kepada-Ku; niscaya Aku akan mencukupkan kalian dari (kezaliman) para penguasa kalian.”

    Hadis qudsi di atas menjelaskan bahwa jika kita banyak bermaksiat, maka Allah dengan mudah membalikkan hatinya para raja untuk berbuat zalim, begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, sebelum kita membenahi rezim yang ada, alangkah baiknya kita memantaskan diri terlebih dahulu dengan terus menjaga iman dan menjauhi larangannya. Hadis di atas bukan berarti kita tidak boleh tersibukkan akan masalah demokrasi, namun lebih untuk menghimbau dan mengingatkan untuk kita menjalani demokrasi dengan sehat.

  • 3 SIFAT YANG MENGGIRING MANUSIA PADA BINASA

    3 SIFAT YANG MENGGIRING MANUSIA PADA BINASA

    Allah SWT menciptakan manusia sebagai sebaik baiknya makhluk, dengan bukti bahwa manusia adalah satu-satu nya makhluk yang di anugerahi al’aql (akal) oleh allah SWT yang mana disini manusia dapat membedakan antara perakara baik dan buruk.

    Dengan segala nikmat anugerah tersebut, kita sebagai manusia tidak dapat melepas satu hal yang sangat melekat pada setiap pribadi manusia, apalagi kalau bukan hawa nafsu, yang selalu melahirkan penyakit penyakit hati yang dapat menjerumuskan manusia pada murka allah SWT naudzubillah min dzalik

    Dalam bab al qoul ma’ashil qolbi kitab bidayatul hidayah al-imam ghozali menukil kembali rubu’il muhlikat dalam kitabnya,  ihya’ ulumuddin :

    “diantara banyaknya penyakit hati, disini saya akan memperingatkan kamu dari 3 hal (sifat) saja dari paling menjijikkannya hati, dan 3 sifat inilah yang menguasai ahli fiqih nya zaman sekarang. Dengan tujuan kamu dapat menjaga dengan sebetul betulnya penjagaan, karena 3 sifat ini merusakkan dalam dirinya sendiri dan dia menjadi pokok dari sifat-sifat menjijikkan lainnya. Apa saja sifat-sifat itu? Adalah hasut, riya’, dan ujub.”

    1. Hasut

    Hasut sendiri bermakna dengki, dalam kasusnya, orang yang memiliki sifat hasut cenderung tidak suka atau iri melihat orang lain mendapat anugerah atau nikmat yang lebih dari Allah SWT, mereka yang hasut tidak akan menemukan ketenangan dalam hidupnya, dan sifat ini juga memmiliki potensi yang besar untuk melahirkan penyakit-penyakit hati lainnya naudzubillah min dzalik. Untuk menghindari sifat hasut, alangkah baiknya kita senantiasa mensyukuri pemberian allah dalam bentuk dan berapapun itu, sebagaimana pepatah mengatakan, berapapun porsi yang kau diberi, maka nikmatilah.

    • Riya’

    Riya’ yang berarti pamer, mereka yang mengidap penyakit riya’ cenderung haus akan pujian dan sanjungan, berbuat baik hanya semata mencari muka didepan manusia lainnya bukan karena ridho Allah SWT, di zaman kita sekarang Dimana teknologi telah melaju pesat, praktek riya’ lazim kita lihat dalam platfrom-platfrom digital, seperti tiktok, Instagram dll . refleksi diri sangat perlu untuk menghindari sifat riya’, selalu mengingat bahwa seluruh harta benda yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita hanyalah titipan semata untuk mencapai ridhonya.

    • Ujub

    Keangkuhan atau membanggakan diri sendiri adalah pengertian dari ujub. Mereka yang ujub biasanya merasa dirinya paling sempurna dari siapapun, selalu membawa-bawa jabatan yang disandangnya seakan itu adalah hal yang mulia di mata Allah SWT. Orang yang ujub juga cenderung memiliki hati yang keras atau susah dinasehati, karena mereka merasa diri mereka paling sempurna dan tak boleh ada yang menasehati nya diatas kesempurnaan itu, dan orang seperti ini juga akan susah menerima nasehat yang baik dari para ulama sekalipun, sebab hati mereka telah hanyut dalam keangkuhan diri mereka sendiri naudzubillah min dzalik.

    Untuk menghindari sifat-sifat diatas, kerendahan hati adalah obat yang paling mujarab, dan tentu juga merupakan bentuk Langkah kita menuju kebijaksanaan dalam hidup, yang semoga dengan kerendahan hati, kita semua mendapat ridho dan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT, Allahumma amin.

    Jazakumullah khairan

  • Mengapa harus pondok pesantren?

    Mengapa harus pondok pesantren?

    ASY-SYADZILI 1 – Sebelum Pondok Pesantren Asy-Syadzili bisa menjadi seperti sekarang , dahulu Asy-Syadzili merupakan pondok pesantren murni, belum memiliki banyak hal. 

    Karen Sayyidina Ali pernah berkata:

    “Ajarilah anak-anak kamu kerena mereka akan hidup di zaman yang berbeda dari kamu”

    Maka dari itulah  para santri harus dipersiapkan dengan sebaik mungkin dalam menghafal Qur’an tetapi bukan hanya itu saja,  ia juga harus mau ngaji (belajar) ilmu-ilmu lainnya, seperti mempelajari ilmu tauhid agar memiliki tauhid yang benar, belajar ilmu akhlak agar kita tahu bagaimana bersikap pada pada sesama, dan fungsi dari mondok itu ialah untuk wiqoyah

    Allah Ta’ala berfirman dalam surat at-tahrim ayat 6 :

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارً

    “Wahai orang beriman jaga dirimu dan keluargamu dari api neraka”

    Dari penggalan ayat diatas kita diperintahkan bukan hanya menjaga diri sendiri tetapi bagaimana caranya kita menjaga keluarga dari api neraka, banyak hal yang dapat dilakukan salah satunya ialah menjaga putra-putri kita dari pergaulan bebas yang salah, dan seharusnya orang tua sangat berperan dalam menjauhkan putra-putrinya dari lingkungan dan pertemanan yang buruk, salah caranya yaitu dengan menempuh pendidikan di pondok pesantren.

    Sebelum itu semua dilakukan, seluruh pondok pesantren juga harus baik, dan bersih dari lingkungan yang buruk, juga selayaknya seorang santri memilah dan memilih dalam berteman, karena itu sangat berpengaruh dengan urusan akhirat kita, teman yang salah dapat menjerumuskan kita ke neraka.

    Kemudian, tidak kalah penting kita juga perlu belajar ilmu Fiqih (hukum), agar kita memiliki pegangan dalam kehidupan dan kita tahu bagaimana sholat dengan benar serta bisa membedakan antara yang dihalalkan dan yang diharamkan, juga selagi kita memiliki masa emas yaitu masa muda kita pergunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang menunjang kehidupan kita dunia maupun akhirat nantinya.

    Seorang santri tidak boleh menguasai atau ahli dalam 1 bidang saja tetapi ia juga harus bisa dalam bidang-bidang keilmuan lainnya, terlebih lagi bisa menyeimbangkan antara belajar di pesantren dan belajar di sekolah, kita juga harus bisa memaksimalkan potensi dan bakat dalam diri dengan cara mengikuti ekstrakulikuler supaya kreativitas dalam diri kita terpacu, karena seorang yang memiliki jiwa kreatif dapat merubah batu menjadi bernilai seperti emas.

    Adapun dalam pondok pesantren seharusnya haruslah ada pendidikan kewirausahaan, mempersiapkan bagaimana nanti para menghafal Al-Qur’an, menguasai ilmu agama serta mereka tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain, tetapi seharusnya seorang penghafal Al-Quran bisa menebar manfaaat bagi orang lain, baik melalui ilmunya ataupun hartanya.

    Sehingga dengan itu, output keluaran pesantren (alumni pesanten) adalah orang-orang yang siap terjun di tengah-tengah masyarakat menjadi sumber kemanfaatan  serta dapat mencapai semua cita-cita yang diimpikan.

    Harapannya pada para santri ialah, sekali hidup di dunia sekali bisa bermanfaat bagi umat dan sekali menebar manfaat bisa berguna sampai kapanpun.

  • Kapan ilmu kita bisa dikatakan barokah?

    Kapan ilmu kita bisa dikatakan barokah?

    ASY-SYADZILI 1 – Kedudukan paling istimewa ialah mencari ilmu, dan sudah seharusnya setiap santri memiliki cita-cita untuk bisa mengaji dan sanggup mengajarkan ilmu yang dimiliki.

    Tidak berhentinya ilmu yang dimiliki hanya pada diri sendiri, bisa dikatakan adalah ilmu yang  barokah, kita bayangkan, apabila seorang guru memiliki murid, dan muridnya memiliki murid hingga seterusnya,  maka alangkah banyaknya keberkahan ilmu dan amal jariyah yang guru tersebut dapatkan.

    Adapun hal-hal yang perlu ditahui dan kita lakukan supaya mendapat keberkahan ilmu yakni :

    • 2.Menjalin silaturahim pada kiyai dan guru

    Peranan orangtua bagi santri sangatlah penting, seandainya ingin memiliki anak yang ahli fiqih maka    harus terbiasa menyambungkan diri kepada para kiyai,  salah satu caranya dengan dermawan kepada orang alim ulama serta kiyai, kalaupun anaknya tidak menjadi ahli fiqih maka hal tersebut masih bisa turun kepada cucunya.

    Diceritakan dalam kitab ta’lim muta’alim, suatu ketika ada seorang kyai yang mengunjungi sebuah daerah dimana ketika beliau sampai disana semua santri yang ada disana sowan kepada beliau, akan tetapi terdapat satu santri yang tidak sowan kepada beliau, kemudian dipanggilah santri tersebut dan ditanya oleh sang kyai atas perilakunya tersebut, santri tersebut beralasan sedang merawat ibunya yang sakit lantas kiyai berkata

     “kamu tidak akan mendapat keberkahan ilmu”.

    Dari kisah diatas dapat kita petik pelajaran bahwa pentingnya menyambungkan diri dengan kiyai sangat berpengaruh atas keberkahan ilmu yang kita inginkan.

    2.Menjaga haqqul adami

    Adapun haqqul adami hak-hak yang dimiliki setiap manusia yang apabila kita mengganggu hak tersebut bisa mencegah kita mendapatkan keberkahan ilmu. Menjaga haqqul adami lebih tepatnya seperti tidak mendholimi teman, tidak merusak barang-barang mereka dan semacamnya. Intinya semua perkara yang menyebabkan terambilnya hak orang lain termasuk melanggar haqqul adami. Adapun ketika kita terlanjur melanggar haqqul adami untuk menebusnya tidak cukup hanya dengan meminta maaf saja tapi perlunya meminta kehalalan atas barang atau hak orang yang kita ambil (istihlal)

    Oleh karena itu apabila dirasa belum melakukan hal-hal tersebut maka mulalilah dari sekarang agar ilmu yang kita peroleh bisa mendatangkan keberkahan bagi kita maupun orang lain.

  • benih didikan orang tua

    benih didikan orang tua

    Mendidik anak dengan baik sama dengan menapaki jalan yang benar menuju ridho Allah SWT, sebab anak yang tumbuh dengan karakter dan akhlak yang baik berpotensi memberi dampak yang baik pula pada lingkungan sekitarnya, dan berkat itu semua berlimpahlah ridho dari Allah SWT.

    Tapi bagaimana ketika orangt ua/guru ceroboh dalam mendidik anaknya? Sehingga membuat anak memiliki pemahaman dan akhlak yang buruk, tidak mengenal hak dan batil, baik dan buruk. Tidak hanya kesengsaraan dalam hidup yang didapatnya, tapi juga murka dan dosa dari allah SWT.

    Pertanyaanya, apakah orang tua/guru ikut memikul dosa anak yang terlanjur terjerumus ini? adakah sebab akibat atas segala kecerobohannya? terdapat dua perspektif dalam masalah ini.

    Yang pertama, adalah dosa bagi orangtua/guru yang ceroboh dalam mendidik anaknya. Tetapi bukan dosa anak tersebut yang dipikulnya, melainkan tasabbab atau sebab atas kecerobohannya dalam mendidik dan mendorong anak tersebut melakukan maksiat, yang akhirnya membuat orangtua/guru ikut terjerumus dalam dosa. sekali lagi, bukan dosa anak tersebut yang dipikul melainkan sebab atas kecerobohan seorang orang tua/guru . karena telah dikatakan  وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۗ “orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”

    Yang kedua, bukan sebuah dosa bagi orang tua/guru yang sudah berusaha keras dalam mendidik anaknya, yang benar benar sepenuhnya berusaha menumbuhkan hal hal baik dan di ridhoi Allah SWT, namun takdir berkata lain, masih terdapat titik hitam dalam hati nya yang mendorong anak melakukan maksiat. Maka dosa atas segala perbuatannya akan ditanggung sendiri oleh sang anak, yang dimana disini orang tua/guru telah menggugurkan tanggung jawab nya dalam mendidik, dan terdapat sebuah kesalahan dalam diri anak tersebut yang membuatnya mengabaikan seluruh didikan yang pernah diberikan selama ini.

    Maka dari itu peran dari orang tua/guru dalam kehidupan seorang anak sangat menentukan karakter dan masa depannya. Jika orang tua/guru ceroboh dalam menanam benih, maka buruk pula buah yang dipetik kemudian. Sebaliknya, dengan selalu memperhatikan dan merawat dengan baik seluruh benih yang ditanam, maka ranum pula buah yang dipetik kelak.

    Jazakumullah khairan

  • membiasakan fokus dalam banyak hal

    membiasakan fokus dalam banyak hal

    ASY-SYADZILI 1 –  Perumpamaan orang mencari ilmu itu seperti orang yang menggali sumur dan menambang untuk mencari emas, ketika ditengah perjalanan menggali ia menemukan intan atau permata maka apakah ia akan membuangnya karena yang ia sebenarnya cari adalah emas? Tentu kita akan mengambilnya karena hal tersebut sama berharganya.

    Semakin banyak kegiatan yang kita lakukan dan dengan membiaskan untuk tidak hanya fokus dalam satu kegiatan saja maka akan semakin banyak yang kita peroleh di masa depan.Kalau hanya terbiasa fokus dengan satu hal maka ketika dihadapkan dengan banyak hal akan sulit mengerjakannya, seperti halnya  ketika fokus menghafal alquran saja lantas ketika datang tanggung jawab lain maka alqurannya akan lupa.Maka dari itu semakin banyak pekerjaan yang kita lakukan akan membuat kita pandai mengatur waktu.

    Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Barangsiapa tidak peduli dengan urusan kaum muslimin maka dia bukan ummatku”

    Dari sabda beliau bisa kita tarik pelajaran tersirat tentang pentingnya kita untuk membiasakan mengerjakan banyak hal karena  ketika nanti terjun ke masyarakat agar bisa tetap melaksanakan perintah beliau dengan tetap meenjaga hafalan alquran yang kita punya

    Menghafal alquran itu hal yang mudah,akan tetapi kalau sudah hafal tapi tidak ada ilmunya maka buat apa susah susah menghafal dan apa yang perlu dibanggakan dari itu, maka kalau sudah hafal quran dan dibarengi dengan ilmunya itu baru kita bisa mengharapkan sesuatu yang istimewa di sisi Allah.

  • membenahi diri dengan 5 nasehat nabi

    membenahi diri dengan 5 nasehat nabi

    ASY-SYADZILI 1 –Dawuh nabi Muhammad SAW kepada abu hurairah untuk diamalkan ataupun diajarkan kepada umat yang berisikan tentang nasehat­ dan pesan beliau. Berikut dawuh beliau yang tidak cukup dengan disimak saja akan tetapi juga perlu diamalkan.

    1. Tinggalkan perkara yang haram maka kamu akan jadi paling ahli ibadahnya manusia

    Dikatakan paling ahli ibadahnya seseorang bukanlah ia yang mampu mengerjakan sholat seribu rokaat ataupun ia yang mampu membaca alquran dan mengkhatamkannya setiap hari, akan tetapi adalah ia yang kuat untuk menjauhi apapun yang diharamkan oleh Allah SWT, dan zaman sekarang untuk melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah bukanlah suatu perkara yang sulit, dan untungya apabila kita bisa meninggalkan hal tersebut maka akan bernilai pahala yang besar disisi Allah SWT.

    2. Ridholah dengan apapun yang diberikan Allah kepadamu maka kamu akan jadi paling  kayanya manusia

    Orang yang paling kaya adalah orang yang selalu menerima pemberian Allah. Hal ini sesuai dengan konsep qonaah yang bukan berarti hanya dengan diam lantas menerima segala pemberian allah saja dapat dikatakan qonaah,akan tetapi qonaah yang sebenarnya yakni ia yang semangat dalam mencari fadhol / rizkinya Allah dan menerima apapun hasil yang diberikan ketika kita sudah maksimal dalam berusaha.

    3. Berbuat baiklah kepada tetanggamu maka kamu akan jadi orang yang beriman

    Kenapa tetangga? Karena merekalah yang akan mengurusi kita dikala kita meninggalkan dunia ini, maka dari itu jangan sampai kita abai dan tutup mata tentang apapun yang berkaitan dengan tetangga kita.

    Nabi Muhammad SAW bersabda

                                                                              ….وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ….      

    “…..barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tetangganya…….”

     4. Cintailah untuk manusia apa yang kamu cintai untuk dirimu sendiri maka kamu akan jadi seorang muslim

    Seorang muslim yakni orang yang ketika ia dalam keadaan senang kepada sesama muslim yang mendapatkan kesenangan dan susah ketika temannya juga kesusahan, hal tersebut juga sesuai dengan konsep agama islam sendiri yakni menebarkan cinta kasih

     5. Janganlah kamu memperbanyak tertawa karena itu dapat mematikan hati

     Zaman sekarang itu pengajian yang laku yang lebih banyak membuat kita tertawa, tertawa diperbolehkan selama masih dalam keadaan tidak berlebihan karena ketika zaman nabi, nabi juga memberikan sedikit gurauan ketika berdakwah. Sedangkan yang tidak diperbolehkan adalah tertawa yang berlebihan yang nantinya dapat mematikan hati kita.

    Tentunya diharapkan setelah kita mengetahui tentang nasehat penting beliau kita dapat membenahi lagi diri dan memantaskan untuk bertemu sang ilahi.

    Amiiin….