Category: Muhasabah

  • Tasu’a dan Asyura: Belajar Bersyukur dari Versi “Lautan” dan “Fir’aun” Kita Sendiri

    Tasu’a dan Asyura: Belajar Bersyukur dari Versi “Lautan” dan “Fir’aun” Kita Sendiri

    Tahun baru Hijriah datang. Muharam hadir. Tapi yang bikin penasaran, kenapa selalu ada riuh rendah menjelang tanggal 9 dan 10? Dua angka itu, Tasu’a dan Asyura, seperti punya magnet tersendiri. Bukan karena ada pesta atau perayaan besar. Justru sebaliknya: ada puasa, ada sunyi, dan ada sejarah panjang yang membentang dari zaman Nabi Musa sampai ke masjid-masjid di kampung-kampung.

    Awal mula cerita ini menarik. Waktu Rasulullah SAW menjejakkan kaki di Madinah, beliau menemukan pemandangan tak biasa: orang-orang Yahudi berpuasa di tanggal 10 Muharam. Kenapa? Ternyata itu bentuk terima kasih mereka kepada Tuhan karena Musa dan pengikutnya selamat dari kejaran Fir’aun. Lautan yang terbelah, musuh yang karam, dan kebebasan yang akhirnya tiba. Rasulullah nggak serta-merta menolak. Beliau bilang, “Kita lebih berhak terhadap Musa.” Maka beliau ikut puasa, dan meminta sahabat-sahabatnya untuk turut melakukannya.

    Lalu ada satu hal yang membuat cerita ini makin berwarna. Menjelang akhir hayatnya, Rasulullah menyampaikan keinginan untuk menambahkan puasa di tanggal 9. Alasannya, biar umat Islam punya pembeda dari kebiasaan kaum Yahudi yang hanya berpuasa di hari ke-10. Sebuah niat yang simpel, tapi sarat makna. Sayangnya, takdir berkata lain. Beliau wafat sebelum keinginan itu terwujud. Namun para ulama kemudian menjadikan niat itu sebagai dasar anjuran berpuasa dua hari 9 dan 10 sekaligus.

    Kalau dipikir-pikir, ini bukan sekadar urusan teknis perbedaan tanggal. Ada semacam pesan halus di balik semua ini. Identitas itu penting, tapi menghargai sejarah orang lain juga nggak kalah penting. Di situlah keseimbangan yang jarang ditemui dalam kehidupan beragama yang kadang terlalu eksklusif.

    Tapi mari kita geser sedikit fokusnya. Selain soal puasa, apa sih yang membuat Asyura dan Tasu’a begitu istimewa di mata banyak orang? Jawabannya mungkin ada pada satu kata: syukur. Nabi Musa dan Bani Israil berada di titik paling terjepit. Ada lautan di depan, musuh di belakang. Semua serba mustahil. Tapi justru pada momen itulah pertolongan datang. Dan kisah ini terasa abadi karena setiap generasi selalu punya versi “lautan” dan “Fir’aun” mereka sendiri.

    Di negeri ini, tradisi menyambut dua hari tersebut juga beragam. Ada yang menggelar majelis taklim, ada yang mengadakan doa bersama, dan banyak juga yang memilih untuk berbagi makanan serta santunan untuk anak-anak yatim. Sebut saja bubur suro di beberapa daerah, atau sekadar berbagi nasi kotak di masjid-masjid. Nggak mewah, nggak muluk-muluk. Hanya gotong royong kecil yang entah bagaimana terasa sangat kuat efeknya bagi kebersamaan warga.

    Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak berpuasa? Apakah momen ini lantas kehilangan makna? Tentu tidak. Esensinya lebih dalam dari sekadar menahan lapar dan dahaga. Esensinya adalah pengingat bahwa waktu terus berjalan, dan manusia punya kecenderungan lupa. Lupa bersyukur, lupa bersabar, lupa bahwa di luar sana masih ada orang-orang yang perjuangannya jauh lebih berat dari sekadar menahan haus di siang hari.

    Di sinilah relevansi Tasu’a dan Asyura sebenarnya. Dia hadir di awal tahun, bukan di akhir, seolah memberi sinyal: “Mulailah dengan kesadaran.” Kesadaran bahwa sejarah adalah guru, bahwa rasa syukur harus dirawat, dan bahwa kepedulian terhadap sesama adalah bagian tak terpisahkan dari iman. Bukan cuma tentang ritual, tapi tentang bagaimana menghidupkan nilai-nilai itu dalam keseharian.

    Mungkin memang terlalu sederhana, tapi seringkali justru kesederhanaan inilah yang paling susah dipertahankan. Di tengah hiruk-pikuk modernitas, orang lebih mudah tersedot oleh rutinitas. Puasa Asyura atau Tasu’a menjadi semacam “tombol pause” yang mengingatkan bahwa ada yang lebih penting dari sekadar produktivitas dan pencapaian duniawi.

    Akhir kata, dua hari ini menawarkan kesempatan yang sayang untuk dilewatkan. Bukan karena pahala puasanya yang besar, tapi karena di dalamnya tersimpan pesan lintas zaman: bahwa pertolongan Tuhan nyata, bahwa berbagi menguatkan, dan bahwa memulai tahun baru dengan hati bersih adalah investasi yang tak ternilai.

    Muharam baru saja berlalu beberapa hari. Tapi bagi yang sadar, Tasu’a dan Asyura selalu datang tepat waktu. Tinggal bagaimana menyambutnya, dengan hati yang terbuka atau sekadar melewatinya seperti hari-hari biasa.

  • Pesantren di Era Modern: Masihkah Relevan?

    Pesantren di Era Modern: Masihkah Relevan?

    Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, dan arus informasi yang begitu cepat, muncul pertanyaan yang sering diperbincangkan: apakah pesantren masih relevan di zaman sekarang? Jawabannya adalah iya, pesantren masih sangat relevan, bahkan semakin dibutuhkan.

    Modernisasi memang telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia. Namun, kemajuan teknologi tidak selalu diiringi dengan kemajuan moral dan spiritual. Saat ini, banyak generasi muda menghadapi berbagai tantangan seperti krisis identitas, kecanduan media sosial, menurunnya etika dalam berkomunikasi, hingga lemahnya pegangan hidup. Dalam kondisi seperti ini, pesantren hadir sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, akhlak, dan kepribadian yang kuat.

    Pesantren memiliki keunggulan yang sulit ditemukan di banyak lembaga pendidikan lainnya, yaitu pendidikan yang menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Santri tidak hanya belajar memahami ilmu agama, tetapi juga dilatih hidup mandiri, disiplin, bertanggung jawab, serta mampu hidup berdampingan dengan masyarakat.

    Pentingnya agama pada zaman sekarang juga tidak dapat dipungkiri. Di tengah derasnya perubahan dunia, agama menjadi kompas yang membantu manusia membedakan antara yang benar dan yang salah. Agama memberikan ketenangan ketika menghadapi masalah, memberikan arah ketika merasa kehilangan tujuan, serta menjadi landasan moral dalam mengambil keputusan. Kemajuan teknologi tanpa nilai-nilai agama dapat melahirkan generasi yang cerdas, tetapi kehilangan kebijaksanaan.

    Dalam Islam, sumber utama petunjuk hidup adalah Al-Qur’an. Kitab suci ini tidak hanya berisi tuntunan ibadah, tetapi juga petunjuk dalam menjalani kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, hingga akhlak. Oleh karena itu, mempelajari dan mendalami Al-Qur’an menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi umat Islam di setiap zaman.

    Salah satu pesantren yang memiliki perhatian besar terhadap pendalaman Al-Qur’an adalah Pondok Pesantren Salaf Al-Qur’an Asy Syadzili 1. Pesantren ini dikenal sebagai lembaga yang menempatkan Al-Qur’an sebagai pusat pendidikan. Para santri dibimbing untuk tidak hanya mampu membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga memahami kandungan, adab, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sesuai dengan visi pesantren tersebut yaitu menciptakan generasi qur’ani lafdzhan, ma’nan wa amalan. Dengan pendekatan tersebut, diharapkan lahir generasi yang mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas keislamannya.

    Pada akhirnya, relevansi pesantren tidak ditentukan oleh zaman, melainkan oleh kebutuhan manusia akan ilmu, akhlak, dan nilai-nilai kehidupan. Selama manusia masih membutuhkan pedoman hidup dan pendidikan karakter, pesantren akan tetap memiliki tempat yang penting di tengah masyarakat. Bahkan di era modern seperti sekarang, pesantren menjadi benteng moral yang menjaga generasi muda agar mampu memanfaatkan kemajuan zaman secara bijak, berlandaskan agama dan petunjuk Al-Qur’an.

  • Arafah: Hari Dimana Langit Lebih Dekat

    Arafah: Hari Dimana Langit Lebih Dekat

    Di antara hari-hari yang berlalu dalam cepatnya waktu, ada hari-hari yang tidak sekadar hadir membawa pergantian tanggal. Ia datang membawa panggilan. Panggilan bagi jiwa yang lelah, bagi hati yang letih oleh dunia, bagi siapa pun yang diam-diam merindukan jalan pulang menuju Tuhannya.

    Di bulan Dzulhijjah, Allah menghadirkan satu hari yang begitu agung: Hari Arafah. Sebuah hari yang bukan sekadar bagian dari rangkaian ibadah Haji, melainkan sebuah pelajaran besar tentang bagaimana seorang hamba mempersiapkan dirinya sebelum benar-benar kembali kepada Rabb-nya.

    Hari itu adalah hari ketika langit seolah lebih dekat, pintu ampunan lebih terbuka, dan rahmat Allah turun dengan limpahan yang tak terukur.

    Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Lathaiful Ma’arif menuturkan sebuah kisah yang begitu menggetarkan. Ketika Syaikh Ali bin Al-Muwaffaq sedang wukuf di Arafah, beliau memandang lautan manusia yang datang dari berbagai penjuru dunia, semuanya mengangkat tangan dengan satu harapan: ampunan Allah.

    Beliau pun berdoa,
    “Ya Allah, jika tidak ada seorang pun di antara mereka yang Engkau terima hajinya, maka aku hibahkan hajiku untuk mereka.”

    Malam harinya, beliau bermimpi dan mendengar seruan:
    “Wahai Ibnul Muwaffaq, apakah engkau merasa lebih dermawan daripada-Ku? Sungguh Aku telah mengampuni seluruh orang yang berada di tanah Arafah itu, dan juga orang-orang seperti mereka. Bahkan setiap dari mereka Aku izinkan memberi syafaat kepada keluarga dan kerabatnya.”

    Betapa luas kasih sayang Allah. Betapa tak terbatas ampunan-Nya. Sering kali kita datang dengan dosa yang tak terhitung, tetapi Allah menyambut kita dengan rahmat yang tak berbatas.

    Maka, masih kata Imam Ibnu Rajab, siapa saja yang ingin mendapatkan bagian dari keutamaan Arafah meski tidak sedang berdiri di Padang Arafah hendaknya ia menghidupkan hari itu dengan amal-amal terbaik.

    Pertama, berpuasa di Hari Arafah.
    Rasulullah Muhammad SAW bersabda bahwa puasa Arafah menjadi sebab dihapuskannya dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Betapa murahnya Allah memberi kesempatan, hanya dengan satu hari lapar dan dahaga, Dia menghapus dua tahun luka dosa kita.

    Kedua, menjaga diri dari segala bentuk maksiat.
    Sebab Arafah bukan hanya tentang amal yang banyak, tetapi juga tentang hati yang bersih. Menjaga lisan dari dusta, menjaga mata dari yang haram, menjaga telinga dari hal yang melalaikan itulah bentuk wukuf kita hari ini. Berdiri menjaga diri di hadapan Allah.

    Ketiga, memperbanyak dzikir tauhid.
    Sebab inti dari Arafah adalah kembali mengikrarkan siapa Tuhan kita sebenarnya:

    لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد، وهو على كل شيء قدير

    Kalimat yang sederhana, namun di dalamnya ada penyerahan total seorang hamba: bahwa tidak ada tempat bergantung selain kepada-Nya.

    Keempat, memperbanyak doa dan istighfar.
    Sebab Arafah adalah hari ketika doa-doa naik ke langit dengan jalan yang lebih lapang. Hari ketika air mata lebih mudah jatuh. Hari ketika penyesalan terasa lebih jujur.

    Maka jangan biarkan hari itu berlalu hanya sebagai tanggal di kalender.

    Ucapkanlah dalam sunyi:

    اللهم أعتق رقبتي من النار وأوسع لي من الرزق الحلال واصرف عني فسقة الجن والإنس

    “Ya Allah, bebaskanlah diriku dari api neraka, lapangkanlah rezekiku yang halal, dan jauhkan aku dari keburukan jin dan manusia.”

    Lebih dari itu, Hari Arafah adalah hari paling agung di mana Allah mengampuni dosa-dosa Kaum Mukminin di segala penjuru dunia mana kala mereka membentangkan diri untuk mendapatkan anugerah Allah yang dicurahkan pada hari tersebut dengan do’a yang sungguh-sungguh. Rasulullah SAW bersabda : 

    “Jika tiba hari Arafah, tidaklah seseorang masih mempunyai setitik iman dalam hatinya melainkan ia akan diampuni. Lantas ada yang bertanya: Ya Rasulallah, apakah terkhusus bagi yang wukuf di Arafah saja atau untuk semua manusia? Rasulullah menjawab: Untuk semua manusia”.

     (HR. Abu Daud)

    Sungguh, Arafah sejatinya bukan hanya milik mereka yang berdiri di tanah suci. Ia milik semua hati yang ingin kembali. Milik setiap jiwa yang ingin dibersihkan. Milik setiap hamba yang diam diam menyimpan rindu untuk lebih dekat kepada Rabb-nya.

    Mungkin hari ini kita tidak berada di Padang Arafah.
    Mungkin kita tidak mengenakan pakaian ihram yang putih.
    Mungkin kita tidak sedang bertalbiyah bersama jutaan manusia.

    Namun, bukankah langit yang mendengar doa mereka adalah langit yang sama yang menaungi kita?

    Bukankah Tuhan yang mendengar tangis mereka adalah Tuhan yang sama yang mendengar lirih munajat kita?

    Maka jangan merasa jauh.

    Sebab, jarak menuju Allah bukan ditentukan oleh berapa kilometer perjalanan kita menuju Makkah, tetapi oleh seberapa tulus hati kita melangkah menuju-Nya.

    Jadikan Arafah sebagai momentum pulang.

    Pulang dari dosa menuju taubat.
    Pulang dari lalai menuju sadar.
    Pulang dari kerasnya hati menuju lembutnya iman.

    Karena siapa tahu, ini adalah Arafah terakhir yang Allah titipkan kepada kita.
    Siapa tahu, ini adalah undangan terakhir sebelum suatu hari nanti kita benar-benar dipanggil pulang.

    Maka sambutlah ia dengan air mata, dengan doa, dengan puasa, dengan dzikir, dan dengan hati yang berkata penuh harap:

    “Ya Allah, jika aku belum menjadi hamba yang baik, maka izinkan Hari Arafah ini menjadi langkah awal perjalanan pulangku kepada-Mu.”

  • Air Mata Tanpa Langkah Adalah Dusta

    Air Mata Tanpa Langkah Adalah Dusta

    Di tengah hiruk pikuk dunia yang kian bising, dosa seolah telah bergeser menjadi santapan sehari hari bagi umat manusia. Ironisnya, banyak dari kita yang melakukannya secara terang terangan bahkan dengan dagu tegak dan dada membusung, seolah olah maksiat adalah sebuah pencapaian yang patut dibanggakan.

    Namun di sudut sunyi, ada jiwa yang terasing dalam kesedihan yang berbeda. Ia menangis bukan hanya karena khilaf yang diperbuat, melainkan karena rasa bersalah yang teramat sebab selalu tertinggal dalam melakukan kebaikan. Sementara orang lain berlomba-lomba menabung amalan, ia justru terpaku, melewatkan setiap kesempatan berharga untuk berbuat baik.

    Pertanyaannya: Apakah penyesalan atas ketertinggalan itu benar-benar nyata?

    Ataukah nestapa itu hanya sebersit emosi sesaat yang lewat bagai angin lalu? Sebuah siklus semu di mana manusia menangis malam ini, lalu besok pagi kembali melangkah dengan sukarela ke dalam kubangan dosa yang sama. Pada akhirnya, batasan antara pertobatan yang tulus dan kepalsuan yang berulang menjadi semakin kabur di bawah gemerlapnya panggung dunia.

    Penyesalan, rasa sedih, dan rutukan atas apa yang terlewat semestinya dibarengi dengan upaya perbaikan ke depan dan memanfaatkan kesempatan semaksimal mungkin. Tanpa ada upaya untuk mengejar ketertinggalan, penyesalan dan rasa sedih itu hanya tinggal omong kosong belaka, sebagaimana disebut oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini.

    “الحزن على فقدان الطاعة مع عدم النهوض إليها من علامات الاغترار”
    (Al-huznu ‘ala fiqdanith tha’ah ma’a ‘adamin nuhudhi ilaiha min ‘alamatil ightirar)

    Artinya: “Kesedihan atas ketertinggalan kebaikan tanpa disertai gerakan perbaikan adalah salah satu tanda terperdaya.”

    Dalam kitab sohor nya Al hikam, beliau menjelaskan bahwa ketika ada seorang hamba merasa sedih akan tertinggal kebaikan namun tanpa disertai akan perbaikan itu artinya kesedihan yang ia miliki hanyalah dusta.

    Pada dasarnya hidup adalah rute perjalanan panjang yang harus kita lewati, mustahil jalan yang kita lewati kian selalu mulus dan rata, tentu akan ada kerikil tajam, bebatuan atau bahkan akan ada lubang yang bisa membuat kita terjatuh.

    Dan jika suatu saat dalam perjalanan itu kita jatuh pada lubang yang ada, wajar jika akan ada rasa sakit dan rasa sesal yang akan datang, namun “jatuh” yang sebenarnya bukan tentang seberapa dalam lubang itu melainkan langkah apa yang kita ambil setelahnya, kita harus bangkit dan berbenah dan jika suatu saat ketika kita melanjutkan perjalanan tersebut jadikanlah lubang yang lalu sebagai pembelajaran agar tidak kembali jatuh pada lubang yang akan ada.

    Syekh Ibnu Abbad menyatakan bahwa banyak sekali air mata semu dan penyesalan palsu tak membuahkan apa-apa sehingga penyesalan dan rasa sedih itu hanya tinggal sia-sia. Syekh Ibnu Abbad juga memotivasi mereka yang bergerak bangkit mengejar ketertinggalan dalam beribadah. Mereka dapat memangkas waktu tempuh jauh lebih cepat dibanding mereka yang tidak bersedih.

    هذا هو الحزن الكاذب الذي يكون معه البكاء الكاذب كما قالوا كم من عين جارية وقلب قاس وهو آمن مكر الله تعالى الخفي حيث منعه ما ينفعه وأعطاه ما يغترّ به من الحزن والبكاء… قال الشيخ أبو على الدقاق رضي الله تعالى عنه صاحب الحزن يقطع من طريق الله عز وجل في شهر ما لا يقطعه من فقد حزنه في سنين. وفي الخبر أن الله يحب كل قلب حزين…وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم متواصل الأحزان دائم الفكر…


    Artinya, “Ini adalah kesedihan palsu yang dibarengi dengan tangisan dusta sebagai dikatakan, ‘Berapa banyak bola mata mengalirkan airnya dan hati yang keras sementara mereka merasa aman dari ujian Allah SWT yang tersembunyi di mana Allah mencegah hal yang bermanfaat untuk mereka dan menganugerahkan kesedihan dan tangis, suatu hal yang memperdaya kepada mereka…’

    Abuya KH. Abdul Mun’im Syadili pernah mengutip dawuh dari syeh ibnu athoillah tersebut, pada pesannya beliau menyampaikan:

    “Allah adalah mahbub atau yang dicintai, dan perantara pada yang dicintai dalam hal ini adalah ketaatan, juga mahbub atau yang dicintai, maka kalau ada orang kehilangan ketaatan seperti tertinggal jamaah atau ketinggalan sholat malam karna kerinan {bangun siang} maka dia kehilangan sesuatu yang dicintai dan tentunya dia harus bersedih tetapi kalau kesedihan itu tidak dibarengi dengan menata diri agar tidak kehilangan lagi maka itu adalah kesedihan yang bohong dan apabila kesedihan itu dibarengi dengan tangisan maka itu adalah tangisan yang bohong, dan ada yang lebih buruk dari itu adalah tidak pernah bersedih dengan kehilangan ketaatan”

    Pesan mendalam dari Abuya KH. Abdul Mun’im Syadili, yang bersumber dari mutiara hikmah Syeikh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam, menegaskan bahwa hubungan antara hamba dan Allah SWT dibangun di atas landasan cinta, seorang kekasih semestinya akan melakukan hal yang akan mendekatkan dirinya dengan yang dicinta. Maka sholat berjamaah, sholat malam atau bahkan dzikir-dzikir kecil adalah jembatan cinta itu, maka tatkala seorang pecinta meninggalkannya, tentulah akan menimbulkan kesedihan dan air mata. 

    Namun, Abuya memberikan peringatan keras bahwa kesedihan dan air mata penyesalan tersebut akan menjelma menjadi kebohongan besar jika tidak dibarengi dengan komitmen nyata untuk memperbaiki diri. Meratapi kelalaian malam ini menjadi sia-sia jika esok hari kita tetap berkubang dalam pola hidup yang sama tanpa ada ikhtiar konkret, seperti memasang alarm atau tidur lebih awal untuk menjemput shalat subuh. Bentuk kepalsuan yang lebih tragis adalah matinya rasa kehilangan itu sendiri “dan ada yang lebih buruk dari itu adalah tidak pernah bersedih dengan kehilangan ketaatan” di mana seorang hamba tetap merasa tenang dan biasa saja saat melewatkan ketaatan. Menata diri dan bangkit agar tidak jatuh di lubang kelalaian yang sama adalah satu-satunya pembuktian bahwa penyesalan kita adalah sebuah kejujuran, bukan sekadar drama manipulasi emosi semu sesaat.

    Dari banyaknya dawuh ulama baik terdahulu maupun sekarang tentang kesedihan semu, poin utamanya sebetulnya hanya bermuara pada satu kata: “Berbenah.”

    Jadikan masa lalu sebagai ruang pembelajaran, dan tataplah hari esok layaknya selembar kertas ujian yang siap kau selesaikan dengan lebih baik. Jangan menjadi seperti ikan, yang selalu bodoh dan terpancing oleh mata kail yang sama.

    Jika langkahmu kemarin tergelincir, biarlah tanah kotor yang melekat di pakaianmu menjadi saksi bisu: bahwa engkau memang pernah terjatuh, namun engkau dengan tegas menolak untuk menyerah dan membatu di dasar lubang.

    Bangkit dan berbenahlah. Sebab sedalam apa pun kejatuhanmu, langit esok hari selalu membentang luas, menyediakan ruang baru bagi kepak sayapmu yang ingin terbang lebih tinggi.

    Jazakumullah khairan jaza.

  • Adaptasi Lingkungan Pesantren di Tengah Gempuran Kemajuan Teknologi Kecerdasan Buatan (A.I.) ​

    Adaptasi Lingkungan Pesantren di Tengah Gempuran Kemajuan Teknologi Kecerdasan Buatan (A.I.) ​

    Di era yang serba cepat ini, Artificial Intelligence (A.I) hadir sebagai salah satu bukti kemajuan teknologi yang tidak bisa dihindari. Dunia pendidikan pun ikut merasakannya, termasuk lingkungan pondok pesantren yang selama ini dikenal dengan tradisi keilmuan klasik dan penekanan kuat pada akhlak serta adab.

    Kehadiran A.I sering kali memunculkan pertanyaan: apakah teknologi ini akan menggeser nilai-nilai pesantren, atau justru bisa menjadi alat pendukung yang bermanfaat?

    Pondok pesantren sejatinya tidak harus menolak perkembangan teknologi, termasuk AI. Namun, yang menjadi kunci utama adalah bagaimana santri menyikapinya dengan bijak. Dan di sinilah poin pentingnya, yakni penguatan akhlak dan etika (adab). Seorang santri harus dibekali pemahaman bahwa teknologi hanyalah sebuah alat, bukan tujuan. Tanpa adab, kecanggihan teknologi justru bisa menjerumuskan pada kemalasan, ketergantungan, bahkan penyalahgunaan ilmu.

    Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:
     وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
     “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36).
     Ayat ini menegaskan bahwa setiap penggunaan ilmu dan teknologi harus disertai tanggung jawab moral.

    Rasulullah ﷺ juga bersabda:
     إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
     “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).
     Hadis ini menunjukkan bahwa inti dari pendidikan dalam Islam adalah pembentukan akhlak, bukan sekadar penguasaan ilmu atau teknologi.

    Dengan akhlak yang kuat, santri mampu menggunakan AI secara sepadan. Misalnya, AI dapat dimanfaatkan sebagai teman penyemak hafalan. Santri bisa mengecek kesalahan dalam hafalan Al-Qur’an sehingga proses untuk mutqin menjadi lebih efektif. Namun, tetap harus diingat bahwa keberkahan ilmu tidak hanya berasal dari kecanggihan alat, tetapi dari kesungguhan, keikhlasan, dan bimbingan seorang masyayikh (guru).

    Secara data, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan juga menunjukkan dampak yang signifikan. Laporan UNESCO (2023) tentang pendidikan digital menyebutkan bahwa penggunaan teknologi berbasis A.I dapat meningkatkan efisiensi pembelajaran dan membantu personalisasi materi sesuai kebutuhan siswa. Namun, laporan yang sama juga menekankan pentingnya etika dan pengawasan agar teknologi tidak disalahgunakan.

    Namun, pondok harus menanamkan batasan yang jelas: jangan sampai santri bergantung sepenuhnya pada A.I hingga mengurangi usaha pribadi atau bahkan menyalahi nilai kejujuran, seperti menyalin jawaban tanpa memahami isi.

    Dalam Al-Qur’an juga ditegaskan:
     لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
     “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
     Ayat ini mengingatkan bahwa usaha pribadi tetap menjadi kunci utama keberhasilan.

    Peran pengasuh dan pengurus sangat penting dalam membimbing santri menghadapi era ini. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menjadi teladan dalam bersikap terhadap teknologi. Dengan pendekatan yang tepat, pondok pesantren dapat tetap menjaga jati dirinya sebagai pusat pembinaan akhlak, sekaligus dapat beradaptasi terhadap perkembangan zaman.

    Pada akhirnya, A.I bukanlah ancaman bagi pondok pesantren jika disikapi dengan benar. Justru, dengan fondasi akhlak dan adab yang kuat, santri dapat menjadikan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas diri, memperdalam ilmu, dan tetap menjaga nilai-nilai luhur yang menjadi ciri khas pesantren. Serta dapat membantu seorang santri agar bisa lebih mantap lagi dalam menghafal Al-Qur’an/mempelajari materi yang ia pelajari selama di pesantren.

  • Sebuah cahaya bagi yang buta untuk mengambil kembali penglihatannya sebagai manusia: Catatan Milad Abuya yang ke-55

    Sebuah cahaya bagi yang buta untuk mengambil kembali penglihatannya sebagai manusia: Catatan Milad Abuya yang ke-55

    Dalam tradisi keilmuan islam yang baik, pengetahuan-pengetahuan tumbuh dan menjalar melalui guru ke guru, dengan asal-usul yang jelas sampai kepada Rasulullah. Pengetahuan, seperti hal nya dengan urusan kenyang, tak mungkin bisa disingkirkan dari kemaslahatan banyak orang, toh meski mereka merasa tak membutuhkan, pada akhirnya mereka bakal mati secara perlahan. Guru-guru yang kita miliki sekarang, setidaknya, telah mendulang kita saban hari dan menjadi pemandu yang menunjukkan apa-apa yang mesti kita bawa setelah kematian, menjadi juru selamat dari kematian yang lebih cepat. Sebab kebodohan, jauh membunuh ketimbang seratus peluru sekalipun.

    Tentu guru bukan juru kunci yang memegang hidup-mati, mencatat tercela-terpuji, mencipta gempa-tsunami dan tugas-tugas lain yang memang sejatinya milik tuhan semata. Selayaknya kita, guru adalah manusia. Mereka, seperti juga kita, sebenarnya adalah murid dari guru mereka, dari gurunya guru mereka, dari guru yang menjadi gurunya guru mereka dan seterusnya dan seterusnya. Hanya saja, keluasan ilmu dan keputusan untuk memilih jalan keilmuan itulah, yang memberi beda antara guru dengan kita sampai kapanpun.

    Kita bisa menemukan guru tanpa peduli dengan status sosial, selama mereka memiliki ilmu dan asal-usul keilmuan yang jelas, maka layak kita pilih. Mau berguru kepada ulama kondang seperti Imam Syafi’i kepada Imam Malik, atau kepada tukang sol kasut macam yang dilakukan Imam Ghozali, tentu bukan masalah. Tapi yang perlu digaris bawahi, dan tak kalah penting, adalah hubungan antara murid dan guru itu sendiri. Murid yang menghormati dan guru yang mengasihi adalah salah satu kombinasi terbaik selain mati dan iman.

    Beruntung, dalam ruang yang lebih kecil, dalam ruang antara kami dengan guru kami, Abuya KH. Abdul Mun’im Syadzili, kami memiliki kombinasi tersebut. Bentuk hormat tentu tidak lahir dari ruang hampa, tidak sekonyong-konyong muncul secara spontan, tapi mesti tumbuh dari hari ke hari. Dan Abuya, dengan hati yang lapang dan punggung yang tegak, membuka jalan dari lebatnya ilalang kebodohan, memberi dan membuang paksa apa-apa yang menjadikan kami manusia. Dari perlakuan demikian, harapan dan kehormatan bisa terus lahir.

    Bentuk kasih juga tidak melulu harus dengan mengusap ubun-ubun, tidak harus menimang-nimang atau me ninabobokan. Kasih yang paling terang, adalah kasih yang keterikatannya tidak menghabiskan yang sepihak, atau lebih buruk lagi, menghabiskan satu sama lain—dalam arti yang lebih luas, adalah kasih yang saling mengasihi. Abuya memahami itu dan membuktikan dengan ketekunannya dalam hari-hari kami: Bagaimana caranya menghormati ilmu dengan mencintai guru-gurunya, mencontoh perangai baik, memberi pengertian yang juga baik, sampai, pada taraf tertentu, membentak saat panjang yang seharusnya lima, cuma kami baca sampai dua.

    Seperti yang beliau ajarkan, yakni menghormati ilmu dengan mencintai guru, kami pun demikian. Hari ini adalah Hari jadi nya yang ke-55, tentu kami turut bergembira dan mendoakan apa-apa yang terbaik untuk Abuya. Tidak melalui perayaan pesta yang penuh gemerlap warna-warni, tidak dengan mengacungkan sampanye atau semacamnya, melainkan dengan doa dan harapan-harapan yang kami genggam erat dengan kasih. Sebab untuk kami, guru-guru dan ilmu yang mereka miliki, adalah cahaya bagi kami yang buta untuk mengambil kembali jarak pandang sebagai manusia.

    Sugeng ambal warsa, Abuya.

  • MANFAAT PUASA DALAM PRESPEKTIF SAINS DAN KESEHATAN

    MANFAAT PUASA DALAM PRESPEKTIF SAINS DAN KESEHATAN

    Bulan puasa Ramadhan adalah bulan yang sangat dinantikan oleh umat Muslim di seluruh

    dunia. Pada bulan ini, Allah menutup pintu-pintu neraka dan membuka pintu-pintu surga

    selebar-lebarnya. Artinya, Allah juga melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya seluas-luasnya

    kepada hamba-Nya. Selain itu, pada bulan ini setiap amal ibadah dilipatgandakan pahalanya.

    Selain memberikan pahala yang besar karena berpuasa selama satu bulan penuh, puasa juga

    berdampak positif bagi kesehatan manusia. Saat berpuasa, tubuh berfokus pada proses

    pemulihan dan pembersihan. Beban sistem pencernaan berkurang sehingga energi dialihkan

    untuk membuang racun dalam metabolisme. Proses ini dikenal sebagai autophagy, yaitu

    mekanisme ketika sel-sel tubuh membersihkan dan memperbaiki bagian sel yang rusak atau

    tidak lagi berfungsi dengan baik.

    Puasa juga dapat meningkatkan fungsi otak. Ketika berpuasa, tubuh menghasilkan lebih

    banyak brain-derived neurotrophic factor (BDNF), yaitu protein yang berperan dalam

    menjaga kelangsungan hidup dan perkembangan sel saraf. Peningkatan BDNF dapat

    membantu meningkatkan kemampuan kognitif, daya ingat, serta fokus.

    Meski memiliki banyak manfaat kesehatan, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus

    selama kurang lebih 12 jam. Ada hal penting yang perlu diperhatikan, terutama saat berbuka.

    Banyak orang berbuka dengan makanan yang tinggi gula dan kolesterol, seperti kudapan

    manis dan gorengan berminyak, hingga melupakan kebutuhan cairan tubuh dengan

    mengonsumsi air putih yang cukup.

    Hal ini tentu sangat disayangkan. Setelah tubuh melakukan proses perbaikan sel selama

    berpuasa, konsumsi makanan yang tidak sehat justru dapat merusak kembali kondisi

    kesehatan. Oleh karena itu, sebagai umat Muslim, kita harus bijak dalam memilih menu

    berbuka. Selain menjadikan puasa sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, kita

    juga perlu menjaga kesehatan diri. Jangan sampai banyaknya ragam takjil membuat kita lupa

    pada kebutuhan tubuh yang telah berpuasa sepanjang hari.

    Sumber : https://www.unpad.ac.id/2023/04/pakar-jelaskan-fakta-ilmiah-dari-puasa-ramadan/

    https://www.ataxia.org/scasourceposts/snapshot-what-is-brain-derived-neurotrophic-
    https://www.ataxia.org/scasourceposts/snapshot-what-is-brain-derived-neurotrophic-
  • FOMO: LARI PALING LELAH DI ERA DIGITAL

    FOMO: LARI PALING LELAH DI ERA DIGITAL

    Di tengah banyaknya gempuran trend di media sosial saat ini, banyak menyebabkan seseorang menjadi kehilangan arah, salah satu penyebabnya ialah fomo. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi kesehatan mental dan finansial.

    Fomo atau fear of missing out adalah kondisi dimana seseorang takut tertinggal dari apa yang telah dilakukan atau dicapai orang lain, terutama yang ditampilkan di media sosial. Perasaan ini membuat seseorang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain, sampai kehilangan arah dan standart hidup yang sehat.

    Hasil penelitian menyebutkan bahwa fomo berawal dari naluri sosial menusia dan rasa takut akan tertinggal. Biasanya lewat postingan orang lain dimedia sosial, seseorang yang mempunyai presepsi terhadap pengalaman orang lain lebih memuaskan daripada diri sendiri, meyebabkan munculnya tekanan sosial yang datang dari perasaan akan tertinggal suatu peristiwa atau pengalaman yang mengesankan.

    Fenomena fomo ini dapat berdampak pada kesehatan mental karena mendorong seseorang pada kecemasan dan ketidakpuasan diri. Menyebabkan seseorang bisa merasa hidupnya kurang berarti hanya karna tidak mengikuti trend.

    Rasulullah bersabda :

    اخرضِ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ با اللَّهِ وَلا تَعْجِز.

    Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah, serta janganlah merasa lemah/malas.(HR. Muslim)

    Dalam islam, fomo bertentangan dengan sikap fokus pada hal yang bermanfaat dan rasa syukur. Rasulullah mengajarkan agar seseorang lebih memperhatikan perbaikan diri dan tidak menjadikan standart orang lain sebagai tolak ukur kebahagiaan. Dengan terus membanding-bandingkan mengakibatkan seseorang kurang mensyukuri nikmat yang diberi oleh Allah.

    Solusi dari fenomena ini tak lain adalah dengan merubah mindset kita agar lebih fokus pada penerimaan diri dan mulai membangun kembali standart diri berdasarkan gaya hidup yang sesuai dengan kemampuan diri kita. Pada akhirnya dengan jujur pada diri sendiri dan berani tampil apa adanya, merupakan perwujudan kesehatan mental yang baik. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

    انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

    “Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam urusan dunia) dan janganlah engkau memandang orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih layak agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepadamu.” (HR. Muslim)

    Dengan berpegang pada dawuh Rasulullah tersebut, menjadikan kita individu yang berkualitas dan dapat terhindar dari kecemasan sosial yang tak berujung. Jagalah kesehatan mentalmu, sebelum fomomenghancurkan harimu.

    Referensi:

    Judithya A. S. (2019). Impact of Fear of Missing Out on Psychological Well-Being Among Emerging Adulthood Aged Social Media Users. Diambil dari https://jurnal.uny.ac.id/index.php/pri/article/view/30363

    Shinta P. (2023). Hubungan Antara Perasaan Takut Tertinggal (FoMO) dengan Adiksi Media Sosial pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta. Diambil dari  https://doi.org/10.21009/INSGIHT.122.10

  • Pentingnya ilmu Qiraat yang menjadi bagian dari Quran

    Pentingnya ilmu Qiraat yang menjadi bagian dari Quran

     ASY-SYADZILI 1 – ilmu Qiraat merupakan cabang ilmu dari Quran, yang mempelajari cara pengucapan (lahjah) atau pelafalan saat membaca Quran.

    Qiraat sendiri merujukk dari kitab syatibiyyah dan durroh terbagi menjadi menjadi 10 atau yang sering kita sebut Qiraat 10 (Qiraat Asyr), tetapi yang terkenal dalam beberapa kalangan masyarakat hanya Qiraat 7 atau di sebut Qiraat Sab’ah

    Telah hadir di PPSQ Asy-Syadzili 1, pada Senin 2 September, seorang alim ulama’ yang sekaligus profesor doktor dari Universitas Al-Azhar Mesir, juga merupakan guru dari Habib Ali bin Abdullah Alaydrus. Beliau Syaikh Prof. Dr. Jamal Faruq Al-Daqaq,

    Beliau menyempatkan hadir ditengah-tengah kita, untuk memberikan penjelasan tentang apa itu ilmu qiraat beserta kisah-kisah orang terdahulu dalam mempelajari ilmu qiraat.

    Dalam dauroh ilmiah yang disampaikan, beliau menyanjung Pondok pesantren Asy-Syadzili karena dapat mengajarkan

    ilmu Qiraat 10 berdasar kitab Syatibiyah dan durroh, karena sangat jarang pondok pesantren yang mempelajari ilmu Qiraat terutama Qiraat 10 (Qiraat asyr).

    Dalam kajian, beliau menjelaskan tentang apakah Al-Quran diturunkan dengan bacaan bacaan yang beragam?

    Rasulullah bersabda yang artinya “Sesungguhnya Al-Quran diturunkan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam 7 macam bacaan maka bacalah Al-Quran ini sesuai yang mudah bagi kalian dari bacaan-bacaan tersebut”

    jawabannya iya, karena dikuatkan oleh salah satu dalil yang sangat masyhur, menurut Imam Ash-Suyuthi dalam kitab Al-Azhar Al-Munakiroh bahwasannya hadist ini mutawatir dari rasulullah.

    Beliau juga bercerita tentang kisah awal mulanya pengumpulan ayat-ayat Al-Quran, terdapat 2 kali upaya pengumpulan Al-Quran yaitu pada zaman khalifah Abu bakar dan yang kedua pada zaman khalifah Utsman bin Affan.

    Pada era pimpinan Khalifah Abu bakar pengumpualn ini bertujuan untuk menghimpun bacaan atau tulisan Al-Quran yang belum disatukan menjadi satu tempat.

    Dahulunya para sahabat nabi lebih mudah untuk menghafa;kannya, berkat rahmat dari Allah Subhanahu wa ta’ala, karena kemudahan dari menghafal tersebut para sahabat-sahabat nabi menuliskan ayat-ayat Quran di pelepah qurma ataupun dahan pohon

    Sedangkan pada masa khalifah Ustman bin Affan, bukan lagi untuk menulis, tetapi untuk menghimpun Qiraat-qiraat yang saat itu mulai terjadi banyak perselisihan dikarenakan perbedaan qiraat, dan dari sekian banyaknya, akhirnya terciptalah mushaf Quran, karena para sahabat juga khawatir jika tidak dituliskan maka Quran akan menjadi kitab kitab terdahulu.

    diakhir nasehat beliau takjub dengan suatu peristiwa.

    “Saya pernah beberapa kali mejadi Juri MTQ Internasional dan saya mellihat peserta diantaranya ada yang bersal dari cina padahal ia tidak tahu 1 kalimatpun dari bahasa arab, tetapi bacaanya tidak salah sedikitpun baik makhroj ataupun tajwid, semuanya sempurna bagaikan malaikat.

    Begitu pula peserta dari Indonesia, dari negara eropa dan lain-lain yang notabene nya bukan negara arab pun, mampu menghafalkan Al-Quran dengan 10 Qiraat dan 20 riwayatnya, beserta dalil-dalilnya dari kitab Syatibiyah dan durroh,

    padahal menghafalkan Syatibiyah lebih susah daripada menghafalkan Al-Quran, sungguh Masyaallah

    Sekitar 40 tahun lalu saya sempat pesimis karena tidak ada lagi orang-orang yang peduli deng ilmu Qiraat tetapi , Masyaallah sekaranng banyak orang berlomba-lomba untuk mempelajarinya , dari hal itu menunjukkan bahwa Allah memang menjaga Al-Quran dengan sebenar-benarnya penjagaan hingga dari dahulu tidak ada perubahan 1 huruf pun dalam Al-Quran beserta Qiraat-Qiraatnya.

    Syaikh Jamal Faruq Jibril Mahmud Ad-Daqqaq.

  • ranjau bernama malas dan puas

    ranjau bernama malas dan puas

    ‘besok aja ah, masih jam segini, ngerjain bentar ntar juga kelar.’ Dan mantra mantra sakti lainnya. Sering terjadi, blunder yang menjadi kebiasaan kaum muda, terkhusus kalangan remaja, apalagi kalau bukan menunda suatu pekerjaan. Tak mengenal hujan badai angin ribut, rasa nyaman menunda nunda ini dapat menyerang kapan saja dimana saja, tak kenal muda maupun tua, menyerang begitu saja bagai desing peluru. Dan tak perlu didustakan lagi, hal satu ini memang selezat itu. Saat pikiran sudah tak keruan setelah kegiatan seharian, tulang belulang remuk tak tertahan, tapi tanggungan tak kunjung selesai, maka nikmat sudah hidangan ini.

    Mengapa hal ini dapat terjad? Menurut pengalaman penulis pribadi, hal ini sering bahkan nyaris setiap hari menghampiri. tentu saja yang mendasari semua ini adalah rasa, malas. Perlu diketahui dan disadari bahwa rasa malas ini adalah musuh terbesar umat manusia. kenapa demikian? Karena Dengan kemalasan seseorang  berhenti bekerja dan menjadi benalu bagi orang sekitarnya, dengan kemalasan seseorang tak akan dapat berkembang dalam segi apapun itu, dengan kemalasan seseorang dapat jatuh dalam berbagai penyesalan. Bahkan Jika diperhatikan lebih dalam lagi, kemalasan menjadi awal dari hancurnya suatu umat dan bangsa.  dan hal menunda nunda tadi merupakan langkah pertama seseorang menuju kemalasan yang berkelanjutan, menjadi ranjau yang mematikan bagi masa depan, keluarga, bahkan dirinya sendiri.

    Dalam perspektif lain, terdapat suatu hal yang bertolak belakang namun dampak yang diberikan tak beda jauh dari kasus kemalasan tadi. Apakah itu? Kita sebut saja dengan kepuasan. Kepuasan dalam konteks belajar, berkarya dll. Mengapa bertolak belakang dengan kasus malas tadi? sebab mereka yang merasa puas ini sejatinya bukan dari kaum pemalas. karena mereka bekerja, berkarya, dan melakukan hal-hal yang menghasilkan. Hanya saja, rasa puas atas suatu capaian yang menodai seluruh usaha tadi. Dan perasaan ini perlu dihindari, teman teman sekalian. Buang jauh jauh bila perlu.

    Mengapa perlu dihindari? Tak bolehkah kita merasa senang dan puas atas pencapaian kita selama ini? Tentu saja boleh, sangat boleh, apalagi saat itu semua memberi manfaat bagi diri kita masing masing. tapi dengan catatan, tidak menjadikan rasa puas kita sebagai suatu alasan agar kita berhenti belajar, berkarya dan menghasilkan hal-hal yang bermanfaat. Karena ketahuilah. Orang yang merasa cukup dan puas atas sesuatu yang dicapainya adalah orang yang sombong, dan orang sombong sangat sulit untuk berkembang, karena tujuan mereka adalah validasi dari orang lain, bukan substansi dan esensi dari belajar atau berkarya itu sendiri. Dan ketika semua itu terjadi, maka sebenarnya yang mereka lakukan adalah hanya berputar putar pada lingkaran yang sama, tak beranjak sama sekali.

    Maka dari itu, mari kita sadari dan benahi bersama sama detail-detail kecil seperti ini, sebuah ranjau kecil yang tak pernah kita sadari keberadaannya, dan hanya soal waktu dimana kita akan menginjak ranjau ranjau ini hingga akhirnya menghancurkan apa yang kita punya sekaligus. Terlepas dari itu semua, disini sebenarnya penulis hanya ingin berbagi perasaan yang selama ini menjadi penghambat rutinitas dan mengajak para pembaca sekalian untuk beranjak kedalam lingkungan yang produktif, kreatif dan inovatif. Tentunya dengan terus haus akan belajar, berkarya, dan hal bermanfaat lainnya, sebab dengan belajarlah seseorang dapat mengetahui luasnya semesta, dengan berkaryalah seseorang akan abadi dan berharga. Kosongkan selalu gelasmu, kawan. sekian.

    jazakumullah khairan