Seni Menjadi Bahagia Tanpa Harus Terlihat Hebat di Mata Manusia

Written by

in

Di balik riuk pasar Madinah dan derap langkah orang-orang yang berpacu dengan urusan dunia, ada seorang lelaki yang berjalan senyap. Namanya Julaibib. Ia bukan seseorang yang ketika melangkah akan membuat orang menoleh. Garis wajahnya sederhana, tubuhnya tak tegap seperti para perwira, dan silsilah keluarganya bukan bahan pembicaraan di balai-balai kota. Bagi dunia yang sering menilai dari apa yang kasat mata, Julaibib hanyalah sesosok bayangan: ada, tetapi seolah tak dianggap.

Kita semua mungkin pernah merasakan sedikit bagian dari hidup Julaibib, momen ketika kita merasa menjadi orang paling biasa di dalam ruangan yang penuh dengan orang-orang hebat, atau ketika dedikasi kita lenyap dalam sepi tanpa ada satu pun mata yang memandang.

Namun, dunia boleh melupakan, tetapi cinta tidak pernah melewatkan.

Di mata Rasulullah ﷺ, Julaibib bukan sekadar nama dalam kerumunan. Beliau melihat melampaui rupa dan harta; beliau melihat jiwa yang tulus. Ketika orang lain enggan mendekat, Rasulullah ﷺ justru menggandengnya, memberikannya ruang, bahkan memperjuangkan kebahagiaannya hingga ke pintu pernikahan. Bagi Julaibib, diperhatikan oleh sosok sesempurna beliau mungkin adalah kehangatan paling besar yang pernah mampir dalam hidupnya.

Lalu, hari kecamuk perang itu tiba. Dehab debu menyamarkan garis depan, dan ketika pertempuran usai, semua orang sibuk mencari nama-nama besar. “Siapa yang hilang?” tanya Rasulullah ﷺ. Para sahabat menyebut beberapa nama terkenal. Namun, mata beliau menyapu padang pasir yang membisu, mencari satu sosok yang tak kunjung kelihatan.

“Tetapi aku kehilangan Julaibib,” ucap beliau.

Kalimat singkat itu adalah bentuk pengakuan tertinggi yang bisa diraih seorang manusia. Di tengah kemenangan besar, seorang pemimpin tertinggi tidak menanyakan panglimanya terlebih dahulu. Ia menanyakan seorang lelaki sederhana yang biasa duduk di sudut ruangan.

Ketika tubuh Julaibib ditemukan telah rebah memeluk bumi, Rasulullah ﷺ berlutut di sampingnya. Beliau mengangkat jasad bersahaja itu dengan kedua tangannya sendiri, menyandarkannya di pangkuan beliau, lalu membisikkan kalimat yang menggetarkan langit:

“Ia adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian darinya.”

Kisah Julaibib menyisakan sebuah refleksi tenang untuk hati kita yang sering lelah mencari penerimaan. Bahwa keberhargaan diri kita tidak pernah ditentukan oleh berapa banyak pasang mata yang memuja, atau berapa nyaring nama kita dipanggil di panggung dunia.

Bisa jadi, kita hanyalah seseorang yang biasa saja di mata manusia. Namun, di saat kita tetap jujur dalam ketulusan, diam-diam berbuat baik tanpa kamera, dan setia dalam kesendirian. Nama kita justru terukir indah dan menjadi pembicaraan hangat di antara para penghuni langit.

Di balik riuk pasar Madinah dan derap langkah orang-orang yang berpacu dengan urusan dunia, ada seorang lelaki yang berjalan senyap. Namanya Julaibib. Ia bukan seseorang yang ketika melangkah akan membuat orang menoleh. Garis wajahnya sederhana, tubuhnya tak tegap seperti para perwira, dan silsilah keluarganya bukan bahan pembicaraan di balai-balai kota. Bagi dunia yang sering menilai dari apa yang kasat mata, Julaibib hanyalah sesosok bayangan: ada, tetapi seolah tak dianggap.

Kita semua mungkin pernah merasakan sedikit bagian dari hidup Julaibib, momen ketika kita merasa menjadi orang paling biasa di dalam ruangan yang penuh dengan orang-orang hebat, atau ketika dedikasi kita lenyap dalam sepi tanpa ada satu pun mata yang memandang.

Namun, dunia boleh melupakan, tetapi cinta tidak pernah melewatkan.

Di mata Rasulullah ﷺ, Julaibib bukan sekadar nama dalam kerumunan. Beliau melihat melampaui rupa dan harta; beliau melihat jiwa yang tulus. Ketika orang lain enggan mendekat, Rasulullah ﷺ justru menggandengnya, memberikannya ruang, bahkan memperjuangkan kebahagiaannya hingga ke pintu pernikahan. Bagi Julaibib, diperhatikan oleh sosok sesempurna beliau mungkin adalah kehangatan paling besar yang pernah mampir dalam hidupnya.

Lalu, hari kecamuk perang itu tiba. Dehab debu menyamarkan garis depan, dan ketika pertempuran usai, semua orang sibuk mencari nama-nama besar. “Siapa yang hilang?” tanya Rasulullah ﷺ. Para sahabat menyebut beberapa nama terkenal. Namun, mata beliau menyapu padang pasir yang membisu, mencari satu sosok yang tak kunjung kelihatan.

“Tetapi aku kehilangan Julaibib,” ucap beliau.

Kalimat singkat itu adalah bentuk pengakuan tertinggi yang bisa diraih seorang manusia. Di tengah kemenangan besar, seorang pemimpin tertinggi tidak menanyakan panglimanya terlebih dahulu. Ia menanyakan seorang lelaki sederhana yang biasa duduk di sudut ruangan.

Ketika tubuh Julaibib ditemukan telah rebah memeluk bumi, Rasulullah ﷺ berlutut di sampingnya. Beliau mengangkat jasad bersahaja itu dengan kedua tangannya sendiri, menyandarkannya di pangkuan beliau, lalu membisikkan kalimat yang menggetarkan langit:

“Ia adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian darinya.”

Kisah Julaibib menyisakan sebuah refleksi tenang untuk hati kita yang sering lelah mencari penerimaan. Bahwa keberhargaan diri kita tidak pernah ditentukan oleh berapa banyak pasang mata yang memuja, atau berapa nyaring nama kita dipanggil di panggung dunia.

Bisa jadi, kita hanyalah seseorang yang biasa saja di mata manusia. Namun, di saat kita tetap jujur dalam ketulusan, diam-diam berbuat baik tanpa kamera, dan setia dalam kesendirian. Nama kita justru terukir indah dan menjadi pembicaraan hangat di antara para penghuni langit.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *