Author: Alif

  • Menyelamatkan Masa Depan Generasi Muda dari Darurat Literasi

    Menyelamatkan Masa Depan Generasi Muda dari Darurat Literasi

    Ungkapan “buku adalah jendela dunia” mengingatkan kita bahwa membaca adalah kunci utama untuk memahami berbagai ilmu pengetahuan. Melalui buku, siswa dapat memperluas wawasan, mengasah kecerdasan, dan mengenali dunia luar tanpa harus terkendala jarak. Namun, saat ini tantangan besar sedang dihadapi oleh dunia pendidikan kita karena minat membaca di kalangan siswa kian menurun, sehingga makna buku sebagai jendela dunia perlahan mulai terlupakan dan jarang disentuh oleh generasi muda.

    Faktor utama yang menyebabkan rendahnya minat baca ini adalah pengalihan perhatian ke media digital, di mana banyak siswa lebih memilih menghabiskan waktu luang mereka untuk mengakses media sosial, bermain game, atau menonton hiburan instan di gawai dibandingkan membaca buku. Selain itu, kegiatan membaca di lingkungan sekolah sering kali hanya dianggap sebagai kewajiban kaku untuk menyelesaikan tugas akademis, sehingga siswa jarang merasakan bahwa membaca bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan dan didasari oleh rasa ingin tahu yang alami.

    Kurangnya minat baca ini membawa dampak yang cukup serius terhadap kualitas berpikir siswa. Berdasarkan data dari Programme for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh OECD, kemampuan literasi membaca siswa Indonesia secara konsisten berada di kelompok bawah secara global. Dampak nyata dari kemalasan membaca ini adalah melemahnya kemampuan berpikir kritis, sehingga di era keterbukaan informasi seperti sekarang, siswa menjadi lebih mudah memercayai informasi bohong atau hoaks karena malas memverifikasi data. Selain itu, siswa juga cenderung kesulitan dalam menganalisis masalah, memahami instruksi yang kompleks, serta memiliki keterbatasan kosakata dalam berkomunikasi.

    Jika kebiasaan malas membaca ini terus dibiarkan, masa depan generasi muda akan menghadapi tantangan yang jauh lebih berat. Di masa mendatang, dunia kerja akan sangat bergantung pada teknologi canggih, kecerdasan buatan, dan kemampuan analisis tingkat tinggi. Tanpa dasar literasi yang kuat, siswa saat ini terancam kesulitan untuk bersaing di tingkat global, yang tidak hanya merugikan masa depan individu secara ekonomi karena sulit mendapat pekerjaan yang layak, tetapi juga dapat menghambat kemajuan bangsa dalam menciptakan inovasi.

    Untuk mengatasi krisis literasi ini, diperlukan langkah nyata yang konsisten dari lingkungan sekolah maupun rumah. Langkah awal dapat dimulai dengan membiasakan siswa untuk membaca selama lima belas menit setiap hari secara disiplin, di mana buku yang dibaca tidak harus selalu buku pelajaran, tetapi bisa dimulai dari buku fiksi, komik pengetahuan, atau artikel hobi yang sesuai dengan minat mereka untuk menumbuhkan kebiasaan terlebih dahulu.

    Selanjutnya, sekolah dan orang tua dapat mengenalkan platform digital resmi, seperti aplikasi iPusnas milik Perpustakaan Nasional, agar siswa dapat mengakses ribuan buku berkualitas secara gratis, aman, dan praktis melalui gawai mereka sendiri. Terakhir, setelah membaca, siswa perlu diajak untuk menceritakan kembali atau mendiskusikan poin penting dari buku tersebut bersama teman atau keluarga agar aktivitas membaca menjadi lebih interaktif sekaligus melatih kemampuan mengemukakan pendapat.

    Pada akhirnya, meningkatkan minat baca bukan hanya tugas guru di sekolah, melainkan tanggung jawab bersama karena membaca adalah investasi jangka panjang yang menentukan kualitas masa depan. Dengan mendisiplinkan diri untuk membaca sejak dini, kita sedang membantu generasi muda membuka kembali jendela dunia mereka agar siap tumbuh menjadi pemimpin yang cerdas, kritis, dan mampu bersaing di masa depan.

  • Idul Adha dan Malam Kebersamaan Santri PPSQ Asy-Syadzili

    Idul Adha dan Malam Kebersamaan Santri PPSQ Asy-Syadzili

    Perayaan Idul Adha 1447H atau 2026, pondok pesantren salaf Al Quran asy-syadzili merayakan Idul Adha dengan penuh khidmat. Kegiatan pemotongan hewan qurban di pondok Asy Syadzili tahun ini juga berjalan lancar. Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa di lingkungan PPSQ Asy-Syadzili setelah rangkaian penyembelihan hewan qurban selesai dilaksanakan.

    Tidak hanya menjadi momentum ibadah dan berbagi kepada masyarakat, Hari Raya Idul Adha juga menjadi ajang mempererat ukhuwah antarsantri melalui kegiatan nyate, serta kegiatan penyembelihan hewan qurban.

    Aktivitas pemotongan hingga pengemasan daging qurban pun berlangsung dengan lancar dan tertib. Para santri yang telah ditunjuk sebagai panitia qurban tampak antusias menjalankan tugas masing-masing. Mereka bekerja sama dalam proses pemotongan, penimbangan, hingga pembungkusan daging yang nantinya akan didistribusikan kepada masyarakat.

    Kegiatan Idul Adha tahun ini juga menghadirkan suasana yang begitu meriah dan penuh kebersamaan. Tidak hanya diikuti oleh para santri, tetapi juga melibatkan para shohibul qurban, asatidz, serta warga sekitar yang turut hadir menyaksikan jalannya proses penyembelihan hingga pembagian daging qurban. Kehadiran berbagai kalangan tersebut semakin menambah hangat suasana kekeluargaan di lingkungan pondok.

    Daging qurban yang telah dikemas kemudian dibagikan kepada para shohibul qurban, masyarakat sekitar pondok, serta warga di lingkungan sekitar. Ratusan bungkus daging berhasil didistribusikan kepada penerima manfaat, belum termasuk bagian lain seperti kepala, kaki, dan buntut yang juga dibagikan secara terpisah.

    Kegiatan perayaan hari raya idul adha pada hari ini, tidak hanya berefek pada masyarakat sekitar pesantren. Namun, para santri juga merasakan daging kambing yang telah diolah oleh orang-orang bagian dapur pesantren dengan acara makan bersama ala santri. yakni setiap kalangan yang hadir dipersilahkan untuk membuat kelompok duduk berisi 5 orang per kelompok. Kemudian masing-masing kelompok akan diberikan 1 porsi besar talam yang berisi lauk daging yang sangat lezat.

    Setelah proses penyembelihan dan pendistribusian serta perayaan daging qurban selesai, para santri mulai berkumpul bersama teman-teman sekamar untuk menyiapkan kegiatan bakar bakar sederhana. Dengan penuh semangat, mereka saling berbagi tugas, mulai dari memotong daging, menusuk sate, menyiapkan bumbu, hingga menyalakan bara api. Suasana keakraban tampak begitu hidup di setiap sudut pondok. Canda tawa para santri menghiasi malam, menciptakan momen sederhana namun penuh makna.

    Berbeda dari tahun sebelumnya, tradisi nyate tahun ini berbeda dengan tahun kemarin, jika tahun lalu perayaan Idul Adha dikemas dengan adanya perlombaan memasak sate antar kamar yang kriteria penilainnya meliputi rasa, kreativitas, kebersihan dan kekompokan. Namun, pada tahun ini dikemas sederhana dengan rasa harmonis serta kekeluargaan.

    Kegiatan ini berlangsung di dua halaman utama pondok yakni, lapangan atas & lapangan bawah. Menu ragam sepeti gulai, sate, rawon dan soto turut serta menghiasi acara meriahnya di malam hari ini. Setelah proses sate menyate para santri berkumpul untuk memakan masakan dari hasil kerja mereka. Di sini, mereka bukan hanya di tuntut untuk membuat masakan yang enak, mereka juga di ajarkan tentang rasa kuatnya ukhuwah Islamiyah antar sesama anggota kamar, serta menambah ilmu pengetahuan mereka tentang dunia persate menyatean.

    Kesederhanaan pada tahun ini justru menciptakan nuansa kehangatan serta kebersamaan, karena pada tahun ini mereka tidak dituntut untuk berlomba-lomba melainkan mereka diberi suatu momen untuk mempererat persaudaraan mereka. Momen sate menyate juga, tidak melulu tentang membakar/menggoreng masakan olahan dari daging yang telah diberikan panitia. Di sela-sela mereka mengolah mereka juga menyempatkan diri untuk bercanda gurau bersama temannya yakni dengan bermain conteng-contengan dengan arang, yang membuat wajah serta tubuh mereka seperti dekil, karena hitamnya wajah bekas contengan arang dari temannya.

    Dengan adanya serangkaian acara perayaan Idul Adha ini. Pondok pesantren salaf Al Quran Asy Syadzili berharap, dapat turut serta memeriahkan dengan tidak hanya menunaikan ibadah qurban saja. Melainkan, juga mengadakan kegiatan edukatif sebagai wadah bagi para santri untuk menuangkan berbagai macam kreatifitasnya, dan juga sebagai media untuk mempererat hubungan ukhuwah Islamiyah.

  • Sedekah Itu Soal Mau, Bukan Soal Mampu

    Sedekah Itu Soal Mau, Bukan Soal Mampu

    Bersedekah adalah salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam agama Islam. Dengan bersedekah, kita dapat membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang membutuhkan serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, seringkali banyak orang berpikir bahwa sedekah itu harus nunggu sukses/ kaya terlebih dahulu. Padahal, jika kita sudah memiliki apa yang kita inginkan maka kita akan lupa memberikan harta pada orang lain.

    Dalam Islam, bersedekah tidak melulu tentang kekayaan. Tetapi, bagaimana cara kita mensyukuri atas rahmat yang telah diberikan Allah pada kita. Artikel ini akan membahas pentingnya bersedekah dalam segala keadaan, berbagai manfaat yang bisa didapatkan, dan bagaimana cara kita bisa memastikan bahwa sedekah yang kita berikan mendapatkan pahala yang besar.

    Hal ini sesuai dengan hadist riwayat bukhari yakni

    مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

    Yang artinya “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta(HR. Muslim).

    Pernah suatu ketika seorang sahabat datang menemui Rasulullah. Sahabat itu memberi Rasulullah sebuah mantel sebagai hadiah. Mantel itu sangat indah dan setiap ujungnya ada hiasan nan cantik. Dengan senang hati Rasulullah menerima mantel tersebut dan memakainya. Tidak lama kemudian, seorang sahabat yang lain berkata, “Masyaallah betapa indahnya mantel yang engkau pakai, wahai Rasulullah. Andai saja aku bisa memiliki mantel yang sebagus itu, aku pasti sangat bahagia.”

    Tanpa berpikir panjang, Rasulullah segera melepas mantel tersebut. Dengan ikhlas, Rasulullah memberikan mantel itu kepada sahabatnya. Rasulullah tidak pernah ragu memberikan benda terbaik miliknya. Rasulullah memang gemar bersedekah. Beberapa sahabat yang lain berusaha mencegah, “Jangan berikan mantel itu, wahai Rasulullah. Bukankah baginda sangat memerlukannya?” Mereka pun menasihati sahabat yang meminta mantel tersebut, “Kenapa engkau meminta sesuatu yang menjadi hak Rasulullah? Tidakkah engkau tahu bahwa mantel itu sangat berguna untuk beliau?” “Tidak apa-apa, wahai saudaraku. Aku percaya si fulan lebih memerlukan mantel ini. Insyaallah, akan ada mantel pengganti untukku nanti,” ucap Rasulullah.

    Kisah ini memberikan pelajaran bahwa bersedekah bukan tentang kaya atau miskin, tapi tentang keikhlasan. Bukan tentang seberapa banyak jumlah, melainkan seberapa ikhlasnya kita dalam memberi. Bersedekah juga tidak melulu berbentuk uang, dengan barang pun kita bisa bersedekah. Orang yang memiliki banyak harta ketika bersedekah mungkin terlihat biasa. Namun, yang luar biasa adalah ketika kita merasa sedang kekurangan, tetapi masih senang bersedekah. Rasulullah sangat senang bersedekah, semoga kita sebagai pengikutnya juga demikian. Untuk mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam bersedekah hanya ada dua syarat yaitu ikhlas dan mengikuti Rasulullah.

    Islam tidak melihat apa yang disedekahkan. Baik sedekah makanan/barang maupun uang tetap bernilai pahala saat dilakukan dengan syarat tersebut. Bahkan Senyum yang tulus, membantu teman yang kesulitan, memberi tenaga, waktu, bahkan mendoakan orang lain juga termasuk sedekah. Hal-hal kecil yang sering dianggap sepele justru bisa menjadi amal yang besar di sisi Allah jika dilakukan dengan niat baik.

    Sering kali rasa takut kekurangan membuat seseorang menunda sedekah sampai merasa “cukup kaya”. Namun kenyataannya, tidak ada jaminan seseorang akan merasa cukup. Orang yang terbiasa berbagi sejak memiliki sedikit, biasanya akan tetap dermawan ketika memiliki banyak. Sebaliknya, jika menunggu kaya terlebih dahulu, bisa jadi kebiasaan memberi itu tidak pernah dimulai. Selain pahala, keutamaan dari amalan sedekah lebih luas lagi.

    Bahkan efek dari kebiasaan bersedekah tak hanya terasa saat di dunia. Efek dari pelaksanaan amalan ini hingga ke alam kubur dan akhirat kelak.

    1. Sedekah Tidak Mengurangi Harta Sedekah adalah ibadah yang tidak akan mengurangi harta, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda untuk mengingatkan kita dalam sebuah riwayat Muslim, “sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim). Mengapa sedekah tidak akan mengurangi harta? Karena meskipun secara tersurat harta terlihat berkurang, tetapi kekurangan tersebut akan ditutup dengan pahala di sisi Allah SWT dan akan terus bertambah kelipatannya menjadi lebih banyak. Hal ini merupakan janji Allah yang termaktub dalam surat Saba “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).

    2. Sedekah Menghapus Dosa Sebagai makhluk Allah SWT yang tak luput dari dosa, umat Islam senantiasa diberikan berbagai keistimewaan agar berkesempatan untuk bertaubat dan menghapus dosa-dosanya dengan cara yang yang diridhai oleh Nya. Salah satunya adalah dengan sedekah. Sedekah merupakan ibadah yang istimewa, ia dapat memudahkan kita dalam menghapus dosa-dosa. Rasulullah SAW pernah bersabda “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi).

    3. Sedekah Menjauhkan Diri dari Api Neraka “Dan kelak akan dijauhkan (dari neraka) orang yang paling bertakwa, yaitu orang yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan diri, dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalas, tetapi (dia berinfak) semata-mata karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar akan ridha.” (QS. Al-Lail: 17-21). Dengan menyalurkan sedekah, tidak hanya memperoleh pahala yang berlipat ganda dan menghapus dosa, tetapi juga mendekatkan diri kepada rahmat dan ampunan Allah SWT, sehingga terhindar dari azab neraka jahanam.

    4. Sedekah Melipatgandakan Pahala Sedekah memberikan banyak keistimewaan kepada pelakunya, salah satu diantaranya adalah Allah SWT akan memberikan pahala yang banyak untuk orang yang bersedekah. Allah SWT berfiman, “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18) 5. Sedekah Menjadi Obat untuk Orang Sakit Firman Allah dan sabda Rasulullah SAW mengajarkan kita bahwa sedekah memiliki keutamaan luar biasa, termasuk sebagai sarana penyembuhan bagi yang sakit, sebagaimana terkandung dalam hadits, “Obatilah orang sakit kalian dengan sedekah.” (HR. Abu Daud).

    Namun, penting untuk memahami secara menyeluruh bahwa sakit merupakan bagian dari takdir Ilahi yang harus diterima dengan kesabaran dan ketabahan sebagai wujud keimanan kepada Allah SWT. Cara memulai sedekah sebenarnya sangat sederhana. Langkah pertama adalah menanamkan niat yang ikhlas, yaitu memberi karena ingin membantu dan mencari kebaikan, bukan untuk mendapatkan pujian. Setelah itu, mulailah dari hal kecil sesuai kemampuan. Tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi, karena sedikit bantuan pun tetap memiliki nilai yang besar jika dilakukan dengan tulus. Sedekah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti memberikan uang, makanan, pakaian layak pakai, tenaga, ilmu yang bermanfaat, atau sekadar memberikan senyum dan ucapan yang baik kepada orang lain. Kita juga dapat mulai memperhatikan orang-orang di sekitar yang membutuhkan bantuan, seperti tetangga, teman, anak yatim, atau orang yang sedang mengalami kesulitan.

    Agar menjadi kebiasaan baik, biasakan bersedekah secara rutin, misalnya setiap hari Jumat, setiap mendapat rezeki, atau dengan menyisihkan sebagian uang harian. Sedekah memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Dengan bersedekah, hati menjadi lebih tenang dan bahagia karena dapat membantu sesama. Selain itu, sedekah juga menumbuhkan rasa syukur atas nikmat yang dimiliki, sekecil apa pun itu. Kebiasaan berbagi membuat seseorang lebih peduli terhadap orang lain dan mengurangi sifat egois dalam diri. Hubungan sosial pun menjadi lebih erat karena adanya rasa kasih sayang dan kepedulian di lingkungan sekitar.

    Banyak orang juga percaya bahwa sedekah dapat membawa keberkahan hidup, mempermudah urusan, dan membuka pintu rezeki dengan cara yang tidak disangka-sangka. Jadi, seberapapun kita punya usahakan untuk selalu bersedekah, bahkan seribu rupiah lebih baik jika disertai keikhlasan dibanding dengan ratusan harta yang disertai dengan riya, dan kesombongan.

  • Adaptasi Lingkungan Pesantren di Tengah Gempuran Kemajuan Teknologi Kecerdasan Buatan (A.I.) ​

    Adaptasi Lingkungan Pesantren di Tengah Gempuran Kemajuan Teknologi Kecerdasan Buatan (A.I.) ​

    Di era yang serba cepat ini, Artificial Intelligence (A.I) hadir sebagai salah satu bukti kemajuan teknologi yang tidak bisa dihindari. Dunia pendidikan pun ikut merasakannya, termasuk lingkungan pondok pesantren yang selama ini dikenal dengan tradisi keilmuan klasik dan penekanan kuat pada akhlak serta adab.

    Kehadiran A.I sering kali memunculkan pertanyaan: apakah teknologi ini akan menggeser nilai-nilai pesantren, atau justru bisa menjadi alat pendukung yang bermanfaat?

    Pondok pesantren sejatinya tidak harus menolak perkembangan teknologi, termasuk AI. Namun, yang menjadi kunci utama adalah bagaimana santri menyikapinya dengan bijak. Dan di sinilah poin pentingnya, yakni penguatan akhlak dan etika (adab). Seorang santri harus dibekali pemahaman bahwa teknologi hanyalah sebuah alat, bukan tujuan. Tanpa adab, kecanggihan teknologi justru bisa menjerumuskan pada kemalasan, ketergantungan, bahkan penyalahgunaan ilmu.

    Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:
     وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
     “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36).
     Ayat ini menegaskan bahwa setiap penggunaan ilmu dan teknologi harus disertai tanggung jawab moral.

    Rasulullah ﷺ juga bersabda:
     إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
     “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).
     Hadis ini menunjukkan bahwa inti dari pendidikan dalam Islam adalah pembentukan akhlak, bukan sekadar penguasaan ilmu atau teknologi.

    Dengan akhlak yang kuat, santri mampu menggunakan AI secara sepadan. Misalnya, AI dapat dimanfaatkan sebagai teman penyemak hafalan. Santri bisa mengecek kesalahan dalam hafalan Al-Qur’an sehingga proses untuk mutqin menjadi lebih efektif. Namun, tetap harus diingat bahwa keberkahan ilmu tidak hanya berasal dari kecanggihan alat, tetapi dari kesungguhan, keikhlasan, dan bimbingan seorang masyayikh (guru).

    Secara data, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan juga menunjukkan dampak yang signifikan. Laporan UNESCO (2023) tentang pendidikan digital menyebutkan bahwa penggunaan teknologi berbasis A.I dapat meningkatkan efisiensi pembelajaran dan membantu personalisasi materi sesuai kebutuhan siswa. Namun, laporan yang sama juga menekankan pentingnya etika dan pengawasan agar teknologi tidak disalahgunakan.

    Namun, pondok harus menanamkan batasan yang jelas: jangan sampai santri bergantung sepenuhnya pada A.I hingga mengurangi usaha pribadi atau bahkan menyalahi nilai kejujuran, seperti menyalin jawaban tanpa memahami isi.

    Dalam Al-Qur’an juga ditegaskan:
     لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
     “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
     Ayat ini mengingatkan bahwa usaha pribadi tetap menjadi kunci utama keberhasilan.

    Peran pengasuh dan pengurus sangat penting dalam membimbing santri menghadapi era ini. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menjadi teladan dalam bersikap terhadap teknologi. Dengan pendekatan yang tepat, pondok pesantren dapat tetap menjaga jati dirinya sebagai pusat pembinaan akhlak, sekaligus dapat beradaptasi terhadap perkembangan zaman.

    Pada akhirnya, A.I bukanlah ancaman bagi pondok pesantren jika disikapi dengan benar. Justru, dengan fondasi akhlak dan adab yang kuat, santri dapat menjadikan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas diri, memperdalam ilmu, dan tetap menjaga nilai-nilai luhur yang menjadi ciri khas pesantren. Serta dapat membantu seorang santri agar bisa lebih mantap lagi dalam menghafal Al-Qur’an/mempelajari materi yang ia pelajari selama di pesantren.

  • Malam Puncak Peringatan Haul Mbah Nyai Hj. Siti Rohmah Marzuki yang Ke-6

    Malam Puncak Peringatan Haul Mbah Nyai Hj. Siti Rohmah Marzuki yang Ke-6

    Puncak peringatan Haul ke-6 Simbah Nyai Hj. Rohmah Marzuki hari ini berlangsung sangat khidmat. Rangkaian acara kali ini kurang lebih sama dengan agenda haul tahun-tahun sebelumnya, yaitu berupa pembacaan Al-Qur’an serentak oleh santri secara di tempat-tempat yang sudah ditentukan.

    Sejak waktu Subuh tadi pagi (11/05/26), suasana di sekitar maqbaroh mu’assis dan pesantren sudah riuh dengan suara lantunan ayat suci. Panitia menyelenggarakan Khotmil Qur’an yang terbagi menjadi 20 majelis. Majelis-majelis ini tersebar di beberapa tempat untuk memastikan seluruh santri ikut merasakan keberkahan khataman Al-Qur’an, serta mengharapa-harapkan keberkahan beliau.

    Menariknya, dari 20 majelis tersebut, terdapat satu majelis pusat yang menjadi poros utama. Majelis pusat ini bertempat di maqbaroh KH Ahmad Syadzili Muhdlor. Berbeda dengan majelis lainnya yang baru dimulai pada waktu Subuh, majelis di maqbaroh ini sudah berjalan lebih awal, yakni sejak Minggu malam.

    Dimulainya khataman di maqbaroh tersebut bertepatan dengan penutupan acara Khotmil Qur’an Bani Syadzili yakni pada malam tanggal 10/05/26. Dengan memperbanyak membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an harapannya dapat menambah keberkahan di hari-hari penuh barokah ini.

    Di sela-sela kesibukan mempersiapkan segala kesiapan haul, para santri terlihat begitu antusias dan penuh hormat mengikuti setiap rangkaian pembacaan Al-Qur’an. Pada sore harinya, Seluruh santri berkumpul di maqbaroh KH Ahmad Syadzili Muhdlor untuk mengikuti penutupan Khotmil Qur’an. Di sana, penutupan Khotmil Qur’an berlangsung dengan sangat istimewa karena dipimpin langsung oleh Abuya KH Abdul Mun’im Syadzili.

    Kegiatan berlanjut kembali setelah sholat Maghrib berjamaah. Di dalam masjid dan area utama, para jamaah duduk rapi untuk mengikuti pembacaan Surat Yasin dan Tahlil. Agenda ini dilakukan bersama-sama untuk mendoakan almarhumah Simbah Nyai Hj. Rohmah Marzuki agar segala amal baiknya diterima dan mendapatkan tempat yang paling mulia. Suasana terasa sangat tenang dan khidmat saat suara ratusan santri yang melantunkan tahlil dan doa terdengar kompak dan memenuhi seluruh pesantren.
    Setelah selesai dengan tahlil dan melaksanakan sholat Isya. Acara berlanjut ba’da Isya, suasana menjadi semakin meriah namun tetap khusyuk dengan adanya pembacaan Sholawat Dalailul Khoirot.

    Yang membuat suasana malam itu terasa sangat istimewa adalah kehadiran para habaib dan para masyayikh di atas panggung utama. Dengan dipimpin langsung oleh para ulama dan habaib, pembacaan Dalailul Khoirot ini menjadi salah satu bagian terpenting pada malam hari ini, setelah usai membaca sholawat dalailul khoirot. Para jamaah yang dipimpin langsung oleh tim Al Banjari Asy Syadzili melantunkan sholawat Mahalul qiyam, suasana begitu khusyu’ dan tenang tak jarang ada beberapa santri yang begitu khusyu’nya membaca sholawat tanpa sadar mulai menetskan air mata, bukti puncak kerinduan pada kanjeng nabi Muhammad, pembacaan sholawat ditutup dengan doa yang dibacakan oleh beliau Al Habib dengan penuh khusyu’ menambah keberkahan acara pada malam hari ini.

    Tepat pukul 20.50 musik mengalun syahdu para hadirin terdiam, para santri membuat koreo lampu membuentuk tulisan murobiyah yang berarti sang guru. Sambil melantunkan lagu berjudul rindu (dibuat khusus untuk mbah Nyai Hj Siti Rohmah Marzuki), pseluruh santri hanyut dalam kerinduan yang ditulis melalui syair, setiap suara memanggil Namanya, merindu padanya, merindu setiap detik yang berlalu bersamanya.

  • AMANAH IS NOT EASY

    AMANAH IS NOT EASY

    “TEK TEK TEK.” Suara langkah kaki seseorang memecah keheningan di dalam masjid. Suara langkah kaki itu merupakan langkah kaki pemuda yang tengah memegang sapu di tangannya, Dia datang lebh awal dibanding para jemaah sholat yang lain. Dengan sabar dia pun mulai menyapu seisi ruangan masjid tersebut hingga benar benar bersih, dan tak lupa, ia selalu melakukannya dengan senyuman yang terukir di wajahnya.

    Amin. Itu adalah nama dari seorang pemuda yang mengabdikan dirinya ke masjid raya di dekat kampung halamannya. Dia seorang pemuda yang baru beranjak ke umur 18 tahun dan baru lulus dari sekolah Sekolah menengah kedua. Semasa sekolah Amin merupakan seorang siswa yang teladan dan menjadi contoh baik bagi siswa lainnya. Akan tetapi sangat disayangkan sekali, karna masalah ekonomi keluarganya yang buruk, dia tidak dapat melanjutkan karir pendidikannya ke perguruan tinggi.

    Amin adalah anak sulung dari 3 bersaudara, ayahnya telah lama meninggal, dan saat ini ibunya sakit sakitan. Oleh karena itu, karena dia adalah anak laki laki pertama di keluarganya, iapun harus membanting tulang. Mau tidak mau diapun menjadi pekerja kasar yang bekerja serabutan di pasar tradisional.

     Akan tetapi, hebatnya lagi. Di tengah kondisinya yang seperti itu ia tetap memegang teguh hadist Rasulullah yang berbunyi “ Sebaik baiknya manusia ialah yang dapat bermanfaat bagi manusia yang lain”.

     Maka dari itu di sela sela waktu bekerjanya, amin senantiasa ikut serta berkontribusi menghidupi masjid di kampungnya tersebut. Ia istiqamah menyapu masjid disaat sebelum shubuh,  kemudian berangkat bekerja di pasar seusai sholat jemaah shubuh. Selain menyapu, kontribusinya untuk masjid ialah memperbaiki barang-barang yang rusak seperti kipas ataupun kran yang mampet. Dan tidak hanya itu, ia juga menjadi pengurus penitipan barang di masjid tersebut.

    Awalnya semua itu berjalan baik-baik saja, hingga pada suatu hari..

    ***

    Sesaat setelah adzan Dzuhur berkumandang. Amin senantiasa siap siaga melayani siapa saja yang ingin menitipkan barangnya di pos penitipan masjid. Karena lokasi masjid tersebut sangatlah strategis dan tepat di dekat kantor dan Universitas. Alhasil setiap jemaah dzuhur, Masjid itu selalu dipenuhi oleh para jemaah mulai dari kalangan pekerja kantoran, mahasiswa, maupun warga sekitar. Ditemani dengan seorang sahabatnya yang bernama Banu, mereka berdua melayani semua orang dengan penuh semangat.

    “ Banu! sebelah sini biar kuatasi, kamu layani saja rombongan pekerja kantoran yang baru datang itu” Ucap Amin. Tangannya sibuk menerima barang dari mahasiswa yang berdatangan untuk sholat.

    “Okee, baiklah.” Balas banu, semangat.

    Mereka berdua pun  menanyakan nama dari setiap pemilik barang yang ingin dititipkan.

    “ Baik saya terima Tas nya, atas nama siapa pak?” Amin bertanya dengan penuh sopan santun.

     “ Tulis saja badrun mas”.

    “Siap..” dengan sigap diapun menulis nama tersebut ke atas kertas stiker lalu menempelkannya ke tas ransel dihadapannya. Kemudian tas itu ia masukkan ke dalam Etalase kaca yang menjadi tempat pengumpulan barang.

    “ Amin! Kertas stiker di sebelah sini habis, tolong ambilkan yang baru” mendengar permohonan temannya itu, Amin langsung sigap mengambil bungkusan kertas yang baru

    “ Ini tangkap!” Ia melempar bungkus kertas stiker itu dengan meniru gaya atlit basket yang ia idolakan.

    Good pass bro” dengan sigap ia terima lemparan stiker itu layaknya pemain basket yang menerima pasing dari temannya.

    Setelah beberapa menit melayani rombongan yang berdatangan.  Suara iqamah  terdengar lantang. Tanda sholat jemaa’ah akan segera dimulai . Ketika itu juga pos penitipan barang tutup sejenak dan kembali dibuka pasca jema’ah usai. Amin langsung mengunci etalase yang ada di dekatnya dan bergegas menuju ke barisan shaf guna ikut shalat berjamaah.

    Selang beberapa waktu. Seusai Solat jema’ah Amin menjadi orang pertama yang meninggalkan shaf lebih dahulu karena dialah orang yang memegang kunci etalasetempat barang dititipkan. Disaat itu pula Amin kembali melayani orang orang yang menitipkan barangnya. Akan tetapi dia merasa kayak ada yang aneh, karena Banu rekan sesama takmirnya tidak kunjung kembali.

    “Aneh sekali, tumben banget tuh anak gak langsung kembali. Yasudahlah, mungkin dia lagi dapet hidayah sudah mau ikut wiridan sekalian sholat sunnahnya juga, xixixi.” Gumam Amin di dalam hatinya sambil-tersenyum-senyum sendiri.

    Namun, anehnya bahkan setelah imam selesai membaca wirid Banu tetap tidak kunjung kembali. Amin yang penasaran kadang sesekali mengintip ke dalam ruangan masjid memastikan apakah temannya masih ada di dalam masjid atau tidak. Akan tetapi, hingga barang titipan tersisa satu,  Banu tetap tidak kunjung kembali.

    Kemudian. Setelah cukup lelah melaksanakan tugasnya, kini Amin menyandarkan tubuhnya ke tembok pinggir etalase ditempatkan. Tangannya sibuk menggerakan songkok yang kini ia gunakan sebagai kipas. Dia terdiam, sempat sesekali melamun. Dan tanpa sengaja kini pandangannya tertuju ke satu tas yang tak kunjung diambil oleh pemiliknya.

    “ NONAME. Hah? Nama siapa itu? Perasaan mulai tadi gak ada yang menitipkan tas pakai nama ini.”  Alis di matanya menyempit. Memerhatikan tas itu dengan serius. Kalah dengan rasa penasaran yang menghantui dirinya. Ia beranjak dari tempat duduknya dan meraih tas yang tertinggal dari etalase.

    “Buset! Aku lagi gak salah lihat kan, ini pasti tas yang sangat mahal. Dilihat dari pori-pori yang gak teratur ini. Ini pasti tas dari kulit buaya asli. Karna gak akan ada replika yang bisa membuat detail kulit se-asli ini”. Tangannya sibuk meremas, dan mengelus body dari tas itu.

    Fokus menatap tas itu, tiba-tiba hp yang ada di saku Amin berdering, ada telfon yang masuk ke hpnya. ternyata yang menelpon adalah Banu. Segera Amin langsung mengangkat telfon itu dan mengomel. “Halo Ban, kemana aja kau! barusan aku kewalahan mengurusi semuanya sendirian. Seenaknya main ilang-ilang aja kamu.” Amin menggerutu dengan raut wajah kesal, seakan Banu ada dihadapannya saat ini.

    “Hehe maaf boy, tadi pas baca dzikir tiba-tiba perutku terasa perih dan mual. Bergegas aku langsung keluar lewat pintu pinggir dan pulang ke rumah. Di rumah aku langsung rebahan di kasur, kayaknya kepalaku juga ikut ikutan pusing. Sekali lagi aku minta maaf yah, juga aku mau izin ke kamu kayaknya beberapa hari ke depan aku gak bisa bantu dulu, ngeliat kondisiku yang seperti ini aku butuh istirahat sejenak”.

    “Owhh, kalau memang kondisimu kayak gitu. Yaudah, Lebih baik kamu istirahat aja dulu, nanti kalau sudah sembuh lanjut bantu-bantu di masjid lagi. Tapi ingat yah, harus sembuh total dulu baru bantu-bantu, aku gak mau kamu bantu-bantu disini kalau kondisimu masih kayak gitu.”

    “iya makasih min, tumben banget mau pengertian sama kondisi temenmu.”

    “ Haha, santai aja bro. Apa mau aku jenguk ke rumahmu?”

    “Eh engak enggak, gak usah” Tolak banu spontan.

    “kenapa? Jangan bilang kalau nanti jokes ku akan mengganggu istirahatmu”.

    “hahaha, enggaak hanya saja jokes mu sudah seperti jokes bapak-bapak aja, garing dan gak ada isinya.”

    “hahahahaha” kedua teman itu tertawa terbahak-bahak bersama.

    “ Oh iya Ban, omong-omong tadi kamu ingat gak? Kalau ada orang yang menitipkan Barang pakai nama NONAME?

    “Hmm, enggak. Barang apa sih?

    “Ini lo handbag yang terbuat dari kulit”

    “Enggak min, aku gak tau apa-apa. Memang sih, tadi kamu pergi duluan ke shaf sholat, tapi bukannya sudah kamu kunci dulu etalasenya sebelum masuk?”

    “iya juga ya, kupikir setelah etalesanya ku kunci, kamu buka lagi etalase itu untuk nambah tas kulit ini, soalnya yang megang kunci dari etalase ini kan cuma kita berdua .Yasudah Ban kamu istirahat aja dulu, nanti kalau sudah sembuh kabari aku.”

    “Oke bro”. Kemudian Amin menutup telfon. Lantas, kembali menatap tas itu.

    “Sungguh tas yang aneh. Entahlah, mungkin nanti juga diambil sama yang punya” Ucapnya. mengangkat kedua bahu bersamaan.

    Di malam harinya. Sang pemilik tas masih tak kunjung datang. Amin yang telah agak lama menunggu memutuskan untuk melanjutkannya di esok hari. Tepat di jam 8 malam pos penitipan barang akan ditutup, dan kembali buka sesaat sebelum sholat dzuhur. Tanpa Amin sadari, dari kejauhan ada seseorang yang fokus memerhatikan tas yang bernama NONAME itu. Orang tersebut mengenakan jaz dan dasi yang terikat rapi di lehernya, sembari memperbaiki posisi kacamata di wajahnya orang itupun pergi meninggal kan masjid Raya. “Sungguh barang yang menarik” ucap orang misterius tersebut lalu pergi menghilang.

    ***

    Keesokan harinya, Amin menjaga pos penitipan seorang diri. Walaupun sedikit kewalahan, mau gak mau dia tetap harus melaksanakan tugasnya. Hingga setelah sholat dzuhur, Akhirnya dia dapat duduk dan terlentang untuk istirahat sejenak. Di ruangan sempit tempat penitipan barang itu, ia melepas segala kelelahan yang telah dia pikul mulai sebelum shubuh.

    Gimana gak lelah? Bayangkan saja, Amin memulai harinya di jam 3 malam. Dilanjut memasak sarapan untuk ibuk dan adik-adiknya di pagi hari, karena akhir-akhir ini ibunya sakit parah jadi Amin lah yang memasak di rumah itu. Kemudian pergi ke masjid tepat sebelum shubuh dan langsung menyapu seisi ruangan yang ada di masjid lalu dilanjut ketika selesai sholat shubuh ia langsung pergi ke pasar. Bekerja `menjadi tukang pikul membantu pedagang memanggul barang dagangan. Amin akan memikulnya dari kendaraan untuk diletakkan ke kios-kios para pedagang. Tak hanya membantu pedagang, Amin juga membantu pembeli yang membeli dalam jumlah banyak dan digaji dengan upah harian yang hanya cukup untuk makan saja.

    Setelah bekerja di pasar, jam 10 dia pulang. Mandi dan mengganti pakainnya dengan pakaian yang sopan untuk pergi ke masjid, lalu langsung berangkat ke masjid dan menjadi staf penitipan barang di masjid tanpa di bayar sepeserpun. Karena memang niatnya adalah mengabdi di rumah Allah. Yah… begitulah keseharian yang biasa dilakukan oleh seorang Amin.

    Kembali ke waktu siang. Disaat enak-enaknya istirahat, terdengar langkah kaki seseorang menghampiri Amin. Amin pun menoleh ke suara langkah kaki tersebut.Terlihat seseorang menggunakan jaz rapi dan berkacamata mengulurkan tangannya. Mengajak bersalaman. “Halo tuan, perkenalkan nama saya Alexander smart, panggil saja Alex”

    Seketika Amin berdiri dan turut menjabat tangan orang itu,” Owh iya mas. Nama saya Amin” Jawab nya singkat. sembari memperbaiki posisi songkok di kepalanya.

    “ Jadi begini tuan, saya adalah salah satu anggota dari organisasi Hiperbratik ( Himpunan pengusaha Branded Otentik) Maksud tujuan saya disini  ingin membeli tas kulit tuan yang ada di dalam etalase itu. Apakah tuan berkenan menjualnya ke saya.”

     “ Mohon maaf mas, semua barang yang ada di dalam etalase ini bukan milik saya. Saya hanyalah orang yang diberi amanah untuk menjaga barang-barang titipan ini. Sebentar lagi juga para pemilik barang ini pasti akan mengambil tasnya” Ucapnya. Tenang dan tegas.

     “Sudahlah tuan, tuan tidak perlu khawatir, saya sudah tau kok kalau sebenarnya tas  itu sudah ada mulai kemarin. Mungkin saja pemilik tas itu sudah bosan dan tak peduli lagi dengan tasnya.  jadi? bagaimana? Saya membawa uang cash yang cukup banyak lo. Nanti apabila orang yang memiliki tas ini kembali tinggal tuan berikan saja uang pemberian saya ini” Orang berdasi itu tetap bersikeras mendapatkan tas langka di etalase.

    “Maaf mas. Mau berapapun uang yang anda bayar, saya tetap tidak bisa menjual tas itu tanpa seizin pemiliknya” Amin memasang wajah yang serius.

    Kemudian, sang kolektor tas tetap tak mau kalah. Ia terpaksa mengeluarkan jurus andalannya. Ia memberi isyarat tangan ke Amin untuk mendekatkan kepalanya. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia bisikkan.

    “ Koper yang ada di tangan saya ini berisikan uang cash seratus lima puluh juta rupiah, ini semua dapat tuan ambil sekarang juga. Apabila sang pemilik tas menanyakan tasnya tuan tinggal bilang habis tercuri orang lalu ganti rugi dengan uang yang saya berikan. Saya yakin jumlah uang ini lebih dari cukup untuk mengganti rugi. Dan untuk masalah keamanan privasi kita berdua, aku dapat menyuruh orang ku untuk meretas semua kamera cctv yang berada di sekitar sini. Jadi? apakah tuan tertarik dengan tawaran saya? Ucapnya lirih, lantas membuka isi  koper untuk membuktikan ucapannya.

    Mendengar itu, tiba-tiba Jantung Amin berdegup kencang, keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya. Segala macam godaan syetan seketika tayang di pikirannya, ia membayangkan. Dengan uang sebanyak itu dia dapat memberikan ibunya obat dan perawatan yang lebih baik, lebih-lebih melunasi biaya sekolah adiknya. Dan juga sebagai modal untuk membuka usaha.

    “Ayolaah, gak ada salahnya sesekali melakukan dosa. Namanya juga manusiaa! semua pasti akan pernah melakukan kesalahan di hidupnyaa. Wajarlahh manusia, bukan nabi boyy.” Goda syetan yang menghantui pikirannya.

    Seketika itu juga. Saat Amin hendak menjabat tangan sang kolektor tas, sepersekian detik sebelum Amin hendak mengucapkan kata “iya”. Tiba-tiba, tayangan di dalam pikirannya berubah menjadi kenangan Amin saat bersama almarhum Ayahnya.

    Tiba-tiba pikiran Amin seperti terseret ke masa lalu. Di pinggiran pantai selat madura tempat masa kecilnya bermain. Matahari semakin tenggelam dibawah garis horizon. Burung-burung berkicau.  Angin laut meniup rambut dan wajahnya. Disanalah dia selalu mendapat nasihat dan falsafah hidup dari sang ayah.

    “Nak, kamu tahu tidak. Kenapa ayah kok memberimu nama Amin. Jadi Ayah terinspirasi dari gelar Rasullullah yang bernama Al-Amin, yang berarti Orang yang dapat dipercaya. Maka dari itu Ayah mohon kepadamu agar dapat menjadi orang yang amanah. amanah itu berat, maka jagalah! Berhati-hatilah menjaga amanah karena ada hak orang yang sedang kita jaga, ada tanggung jawab besar yang akan kita pertanggung jawabkan di dunia. Lebih-lebih kelak di akhirat. Kalau memang seseorang memberikanmu suatu amanat janganlah dikhianati. Tunaikanlah amanat tersebut dengan baik. Maka kau akan menjadi orang yang menyandang gelar yang sama dengan Rasulullah” Setelah mengucapkannya Ayah amin tersenyum.

    Satu detik sempat melamun. Seketika pikirannya kembali. Spontan Amin yang telah menjulurkan tangannya menepis tangan sang kolektor tas. “MAU KAU BAYAR AKU DENGAN DUNIA DAN SEISINYA SEJKALIPUN! TAS INI TAKKAN KUBERIKAN PADAMU!” Sentakan Amin memecah ketenangan di masjid. Kolektor tas terdiam. Suasanapun menjadi canggung. Semua orang menoleh ke Alex. Dirinya yang saat ini merasa menjadi pusat perhatian lebih memilih untuk pergi daripada harus menanggung malu.

    “Yasudah, kalau begitu saya permisi” Alex memutar badannya dan pergi menjauh, kedua alisnya bersentuhan. Urat-urat  di wajahnya bermunculan. mengekspresikan wajahnya yang sangat marah. Akan tetapi, tak lama kemudian wajah Alex tiba-tiba tersenyum. senyuman yang sangat mengerikan, bahkan lebih mengerikan dari wajahnya yang sedang marah. dia juga tak ingin kalah dan menyerah begitu saja.

    ***

    Di malam harinya. Setelah  jemaah sholat isya’ Amin menyempatkan dirinya untuk membaca Al Quran ditempatnya menjaga barang. Kemudian pada saat jarum jam menunjukkan jam 8 malam. Amin  mengunci etalase tempat barang-barang dititipkan. Lagi-lagi, di hari itu hanya tersisa tas yang bernama NONAME yang tak kunjung diambil oleh pemiliknya. Setelah semua tugasnya tuntas.  Ia pulang.

    Sesampainya di rumah, ia merasakan kejanggalan. Karena kondisi rumah yang sangat sepi dan tidak seperti biasanya. Biasanya, ketika Amin pulang adik-adiknya datang menyambut, begitupun ibunya. tetapi kali ini tidak, justru  Amin lah yang mencari mereka. Lalu Amin pergi ke kamar depan. Mencari ke tiga orang keluarganya. ternyata nihil, kamar itu kosong. kemudian kamar tengah, dan kamar itu pun juga sama. Disitu Amin mulai berpikiran buruk tentang keberadaan keluarganya, karena tidak lama ini Amin pernah membaca berita tentang satu keluarga yang diculik oleh orang jahat. Lantas cepat-cepat ia menggelengkan kepalanya. Membuang pikiran buruk sejauh mungkin.

    Kemudian Amin langsung mempercepat langkahnya, pergi ke kamar terakhir yang dimana itu adalah kamar ibunya. Lalu terlihat pintu kamar tersebut tertutup. Sejak sholat isya’ tadi perasaan Amin memang sudah tidak enak. seperti ada sesuatu yang terjadi pada keluarganya. Dengan tangannya yang gemetar, pelan-pelan ia membuka pintu kamar itu. Berharap semuanya baik-baik saja.”‘KREEEK” Pintu tua berderit pelan. Dan ternyata…

    Napas amin  terputus seketika. ternyata Alhamdulillah ibu dan kedua adiknya ada di dalam kamar itu. Terlihat adik perempuannya yang bernama Hilya tengah mengkompres dahi ibunya dengan lipatan kain yang dibasahi. Sedangkan adik bungsunya, Rafi. Sedang memijat kaki ibunya yang tidur dengan posisi terlentang di kasur.

    “He dek, Ibuk kenapa??” Tanya Amin cemas. lalu menghampiri ibunya dan memegang kedua pipinya, memeriksa. Kulit ibunya terasa panas sekali, pertanda bahwa tidak baik-baik saja.

    “Tadi setelah sholat isya’ ibuk terpeleset di depan kamar mandi. Aku yang lagi ngerjain tugas makalah sontak kaget mendengar ibuk  berteriak. Sesampainya di lokasi ibuk sudah pingsan” Ujar Hilya dengan wajah melas. Sembari menahan tangis, si adik bungsu mengangguk kan kepalanya.

    “pantas saja dari tadi perasaanku gak enak”. Bisik Amin di dalam hatinya. Lalu Amin  duduk di ranjang ibunya tidur.

    “Buk, sekarang ibuk makan terus minum obat ya”, ucap Amin lembut. Mendengar ucapan Amin sang ibu hanya mengangguk. Iapun pergi sebentar untuk mengambil makanan dan obat. Dengan sabar Aminpun menyuapi ibunya, dan memberinya obat. Setelah itu Amin menyuruh adik-adiknya untuk kembali mengerjakan tugas sekolahnya.

    Namun tak lama setelah itu, masalah baru pun datang. HP di sakunya berdering, kemudian ia mengangkat telpon dari temannya, Banu. “ Halo ban, ada apa malem-malem telfon?”

    “Sebelumnya maaf min ganggu waktumu, tapi ini gawat banget!. Tadi ada orang yang lapor ke aku. Katanya, sekarang  ada seseorang yang sedang berusaha membobol etalase penitipan barang!. Aku minta tolong, Saat ini kondisiku masih belum sem-“. Tanpa pikir panjang Amin langsung mematikan telfon dari Banu.

    “Dek Hilyaa!”

    “ iyaa, ada apa mas?” dengan cepat Hilya menghampiri panggilan kakaknya tersebut. “ Tolong jaga ibuk, emas ada urusan penting, kalau terjadi apa-apa hubungi kakak” Ujar Amin dengan wajah serius. Dengan cepat ia membalikkan badannya dan menggenggam tangannya erat-erat. Ia langsung menaiki motor supra peninggalan bapaknya dan pergi dengan memacu kecepatan tertinggi. Saat ini benar-benar ada orang yang berani menguji kesabaran seekor singa yang telah lama tak mengamuk.

    Karena lokasi masjid yang hanya sekitar 100 meteran saja, Amin yang memacu supranya dengan kecepatan penuh akhirnya sampai di lokasi. Ternyata memang benar, tampak  sesosok orang yang bertubuh kekar dan mengenakan topeng sedang berusaha membuka etalase penitipan barang di masjid. Amin yang tak kuasa menahan emosinya, langsung menarik kerah baju pencuri itu dari belakang dan memberinya pukulan telak di kepalanya “BHUK” kemudian disusul dengan tendangan lurus yang mengenai perut pencuri “TENG” tubuh sang pencuri terpental ke etalase.

    Pencuri yang bertubuh kekar itu tidak diam begitu saja, ia langsung menerjang dan memiting leher Amin dengan lengannya yang tebal akan otot. Membuat amin kesulitan bernafas, akan tetapi Amin yang merupakan mantan petarung di sekolahnya, tidak akan mudah ditaklukkan begitu saja. Ia seperti gunung berapi yang sedang meletus, penuh dengan energi yang destruktif.  Dengan sekuat tenaga ia membalik badan pencuri berada di posisi bawah. Kemudian menghujani wajah pencuri itu dengan pukulan-pukulan dahsyat yang dulu sering ia berikan ke siswa yang berani kurang ajar kepada gurunya. “PLAK” “PLAK” “BHUM” “PHAW”.

    Tangannya berlumuran darah. kemudian setelah menang telak, Amin memberi kesempatan pencuri itu untuk kabur. “Dasar pencuri!, Hama masyarakat!, panggil teman-temanmu!, bawa orang yang lebih banyak lagi aku tidak takut!”. Bentak amin, matanya menyala seperti bara api. penuh dengan kemarahan. Tanpa disuruh pencuri itu langsung pergi lari terbirit-birit.

    Selepas itu Amin menarik nafasnya panjang-panjang, berusaha membuat dirinya tenang terlebih dahulu. Lalu setelah suasana hati lebih tenang ia pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudlu sekaligus membersihkan wajah dan tangannya yang terkena darah.

    “Ahh sial. Kenapa tadi tidak ku buka saja topeng orang itu, biar sekalian kulaporkan ke polisi. tapi yasudahlah, apa gunanya melaporkan pencuri ke pencuri. Yang terpenting sekarang masjid ini aman” ujarnya di dalam hati.

    Se usai berwudlu, Amin baru menyadari sesuatu, ia meraba-raba kantong di bajunya. Hp nya tidak ada di kantong. Segera ia mengecek lokasi ia berkelahi tadi, ternyata benar sesuai dugaan. Hp nya jatuh saat sibuk menghajar pencuri tadi, lalu  ia meraih hp nya yang tergeletak di lantai. baru beberapa menit di tinggal, ternyata di hp nya telah banyak panggilan tak terjawab dari sang adik. Segera dia mengecek pesan yang dikirim oleh Hilya. Kaget setengah mati Amin rasakan. saat membaca pesan yang berisi

    “ Mass, kamuu dimana aja..”

    “ Mas cepat pulang, kondisi ibuk semakin parahh”

    “ Mass, ibuk semakin panas. juga tambah sulit bernafas”

    “ Mas, aku sudah nelfon paman, beliau langsung datang dan bersedia mengantar ibuk ke RS . Saat ini kami otw rumah sakit HUSADA UTAMA kutunggu disana”. Senin 21.40

    Baru saja keluar dari suasana yang menegangkan, kini Amin harus kembali memacu supranya untuk pergi ke rumah sakit tempat ibunya dibawa. Bermodalkan rasa cinta yang mendalam kepada sang ibu, seluruh rasa kesal dan ngantuk tidak terasa olehnya. Sekitar 10 menit perjalanan, iapun sampai dan langsung menuju ke kamar ibunya di rawat.

    “Assalamualaikum” Amin mendobrak pintu kamar tempat ibunya dirawat. Segera, amin langsung mendekat ke tubuh ibunya yang sedang terlentang di atas kasur dan memegang lembut tangan ibunya. “Kondisi ibuk sekarang gimana dek?” tanya amin dengan nafas yang tersengal-sengal.

    “Alhamdulillah mas, setelah sempat di rawat di ruang darurat ibuk masih bisa diselamatkan. Tapi masih harus rawat inap disini hingga sembuh nanti.” Ucap hilya sembari mengisap matanya yang basah.

    Amin menoleh kebelakang, ternyata dari tadi ada pamannya yang duduk di sudut ruangan turut menemani, iapun langsung beranjak dan memeluk pamannya “ Man, makasih. Makasih banyak mann. Berkat sampean ibuk masih bisa diselamatkan. bahkan sampai harus meninggalkan toko dan keluarga sampean rela dateng ke rumah. Maafkan aku mann, aku gagal menjadi seorang anak” haru tangis amin pun pecah, membasahi pundak pamannya. Sedari kecil amin sudah menganggap pamannya seperti kakak kandungnya sendiri.

    “Sudah min. Bersyukurlah kepada Allah, karena hakikatnya semua pertolongan itu asalnya dari Allah. Aku hanyalah sebuah perantara, Aku juga tidak akan tega membiarkan kakak ipar ku menderita. Dan kamu, kamu tidaklah gagal min. Saat ini kamu sudah saangat luar biasa,  kau telah menjadi pria yang tangguh dan amanah. Ayahmu pasti bangga min.” Ujar pamannya sembari menepuk-nepuk pundaknya menguatkan.

    “Iya man, terimakasih banyak man.” Amin mengusap mata dengan lengan bajunya. Lalu amin melihat jam di pergelangan tangannya.

    “ Ini sudah malam man, sampean silahkan pulang aja. biar aku aja yang menjaga ibuk.” Ujar Amin.

    “ Yasudah, kalau begitu paman pamit dulu. Owh iya, bagaimana dengan hilya? mau ikut menjaga disini atau mau pulang?”

    “Tidak usah man, biar aku aja yang jaga ibuk disini. Besok dia masih harus sekolah, sudah sana dek kamu ikut paman biar diantar pulang, kasihan Rafi sendiri di rumah” Hilya mengangguk mematuhi keputusan kakaknya itu. Kemudian mereka berpamitan, meninggalkan Amin dan ibunya di ruangan itu.

    Kemudian Amin duduk di kursi tempat pamannya duduk. Menyandarkan badannya sembari menatap lamat-lamat wajah ibunya, lalu disambung dengan menatap langit-langit di ruangan itu. Disitu ia mulai berfikir, betapa “melelahkannya” hidup di dunia.

    Sejak ditinggal oleh sang ayah tepat setelah hari wisuda sma nya. Ia mulai banyak mengetahui berbagai hal. Tentang busuknya kehidupan para manusia yang dirasuki oleh syetan. Pertengkaran, iri, dengki, saling memfitnah satu sama lain. Itu semua benar-benar membuat dirinya mengerti, betapa pentingnya untuk mempelajari ilmu agama dan juga  mengamalkannya.

    Selain berpikir ia juga mencurahkan segala isi hatinya  “Ya Allah, saat ini hamba lelah ya Allah. Sudah terlalu banyak beban yang hamba terima sendirian. Dan sudah tentu hamba tidak akan kuat untuk memikulnya sendirian. Akan tetapi hamba percaya ya Allah.., Inna ma’al usri yusra, Bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Dan juga La yukallifullahu nafsan illa wus’aha Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Oleh karena itu, Hamba yakin sekali, dengan bantuanmu ya Allah hamba dapat mengatasi ini semua”. Lantas, seketika itu juga Amin meneteskan air matanya, lalu karena tak kuasa menahan rasa lelahnya Amin pun tertidur di kursi itu.

    “Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaiyk,..” Irama tarhim menggema, memecah keheningan di sunyinya ketenangan malam. Amin yang sudah lama tertidur di kursi kemudian terbangun. Ia sudah terbiasa untuk bangun lebih awal tepat sebelum shubuh. Setelah bangun, yang pertama ia lakukan ialah mengecek kondisi ibunya terlebih dahulu. Kemudian setelah semuanya terlihat aman, iapun pergi ke kamar mandi dan disambung sholat witir 3 rokaat. Lalu setelah adzan shubuh berkumandang ia langsung mendirikan sholat sunnah rawatib dan disambung dengan sholat shubuh.

    Untuk pertama kalinya, tepat di hari inilah dia tidak melakukan rutinitasnya yang biasa ia lakukan di masjid. Sempat terpikir di benaknya “kira-kira bagaimana kondisi masjid saat ini? Siapa yang akan menyapu masjid? Siapa yang akan menjaga masjid sedangkan Banu sakit dan aku harus menjaga ibuku disini?”. Pikiran itu benar-benar mengacau ke khusyuk an sholat Amin.

    Selepas sholat, Amin langsung berdoa. Mengangkat kedua tangannya dan meminta kemudahan dari semua masalah yang saat ini sedang menimpanya. Lagi-lagi mungkin karena masih kelelahan atas kejadian semalam, Amin yang lagi berdoa kemudian tertidur di atas hamparan sajadah di pinggir ibunya itu.

    Kemudian, selang beberapa jam setelah itu. Terdengar suara ketukan dari pintu kamar. “TOK, TOK, TOK. Assalamualaikum” Amin pun terbangun. Ia menoleh ke jam dinding. Dan diapun kaget karena saat ini jam di tangannya menunjukkan jam setengah 7 pagi. Yang artinya Amin telah tertidur lebih dari satu jam.

    “Walaikumsalam.. iya sebentar” Jawab Amin, lantas ia pergi untuk meraupi wajahnya terlebih dahulu. lalu segera pergi untuk membukakan pintu.

    iapun membuka pintu kamar. Setelah mengetahui seseorang dibalik pintu tersebut, wajah Amin menjadi lebih cerah 2 kali lipat. Ternyata orang yang mengetuk pintu itu adalah Banu, temannya yang selama ini sakit.

    “ Heyy, gimana kabarmu?” tanya Amin sambil meremas erat-erat tangan sahabatnya itu.

    “Alhamdulillah min, aku baik-baik saja. Justru aku lebih khawatir sama kondisi ibukmu, aslinya aku baru aja nyariin kamu di rumah. Tapi aku diberi tahu Hilya kalau ternyata kamu lagi jaga ibukmu disini.” Ujar Banu cemas.

    “ Owh Alhamdulillah, sejak dibawa kesini kondisi ibuk sudah mendingan. Walau masih masih belum bangun juga sampai sekarang. Owh ya jadi ada apa nih kok tiba-tiba nyariin? Tumben banget inget ke temen, hehe” Ujar Amin dengan sedikit bergurau.

    “ Jadi gini min, sebenarnya aku gak sendirian ke sini. Sebenarnya ada beberapa orang yang ingin menemuimu.” Raut wajah Bnu seketika menjadi datar.

    Tiba-tiba muncul 3 orang lainnya dari belakang Banu. salah satu wajah dari 3 orang itu sangat familiar sekali di mata Amin. Dan ternyata benar orang itu adalah Alex, salah seorang collector tas yang pernah bertemu dengannya. Seketika suasana lenggang sejenak, Amin pun memasang wajah serius. Lalu menatap satu-persatu tamunya yang tak diundang itu.

    Pertama-tama dia mengamati orang yang berada di samping kanan Banu, Orang itu bertubuh besar dan berbadan kekar, dengan perban yang menutupi luka di wajahnya. “Hey bentar-bentar, kok rasanya aku  familiar sekali dengan postur tubuh itu?” Ucapnya di dalah hati. Lalu dia mengamati orang berkacamata di samping kiri Banu. “Hah dia lagii, dia lagi. Apa jangan-jangan kehadiran mereka ada hubungannya dengan tas kulit itu?”. Gumam Amin di dalam hati sembari menatap Alex dengan wajah yang tidak mengenakkan. Dan yang terakhir, ia mengamati pria yang benar-benar sangat asing di matanya, pria itu berdiri tepat di samping Banu. Pria itu tampil dengan kemeja dan celana panjang yang rapi.

    Seketika Amin pun terkejut berkali-kali lipat. Karena orang terakhir yang dia amati terlihat sedang menjinjing tas yang selama ini dititipkan di masjid, yakni tas kulit yang bertuliskan Noname. Karena penasaran dan curiga Amin mempersilahkan mereka untuk masuk, lalu Amin mengampar karpet sederhana sebagai tempat untuk mereka duduk.  Kemudian mereka duduk melingkar, seketika atmosphere udara di ruangan tersebut menjadi sangat mencekam.

     “ jadi, mau membicarakan apa? Kok, Sampai repot-repot kesini.” Ujar Amin membuka pembicaraan. Dengan tenang tapi juga serius.

    “Sebelumnya izinkan saya untuk memperkenalkan diri, nama saya Rafasya. Jadi maksud saya kesini untuk menyampaikan beberapa hal, tapi tujuan utama saya kesini adalah untuk meminta maaf. Saya pribadi juga mewakilkan semua teman-teman yang ada di ruangan ini memohon maaf sebesar-besarnya karena selama ini sudah mempermainkan anda”. Rafasya pun menggeggam erat-erat tangan Amin dan menundukkan kepalanya. Begitu pun dengan semua orang yang di ruangan itu turut menunduk dan memasang wajah malu.

    Melihat itu,  Amin merasa keheranan. “bentar-bentar, saya belum paham maksud anda gimana, kenapa kok tiba-tiba minta maaf saya kan gak tau permasalahannya.” Ujar Amin sembari mengerutkan alisnya.

    “Baik, biar saya jelaskan semuanya” Ujar Rafasya dengan nada lirih.

    Kemudian Amin pun membalasnya dengan memasang ekspresi serius menyimak dengan sungguh-sunguh.

    “ Saya lah pemilik dari tas kulit yang selama ini tertinggal di masjid. Dan saya juga orang yang menyuruh dua orang ini untuk datang menguji seberapa amanah kamu sebagai petugas penjaga barang. Yang pertama saya suruh berpura-pura sebagai kolektor tas, dan yang kedua saya suruh sebagai pencuri yang berusaha mengambil tas itu secara paksa. Tetapi sebelum berangkat dia sudah kuberi pesan agar tidak terlalu kasar, jadi lagi-lagi saya minta maaf kalau dia sempat kasar kepadamu. Mungkin dari sini timbul pertanyaan, kenapa aku sebagai orang asing tiba-tiba sekali, ingin menguji seseorang yang sedang berkhidmah di masjid tanpa suatu alasan. Sebenarnya saya melakukan ini karna ada suatu alasan, jadi bolehkah saya bercerita lebih panjang lagi?”. Lalu Amin menganggukkan kepalanya, mengizinkan Rafasya untuk lanjut berbicara

    “ Semua itu berawal sejak saya kehilangan satpam di rumah saya. Lebih tepatnya satpam saya lah yang menghilang dengan membawa barang-barang di rumah saya. Dulunya satpam di rumah itu sangat baik sekali, murah senyum di hadapan saya. Akan tetapi ketika saya keluar kota bersama keluarga untuk mengurus bisnis sekaligus liburan, tiba-tiba dia berkhianat. Menggunakan kesempatan itu untuk menyapu bersih harta-harta yang tertinggal di rumah. Oleh karena itu saat ini aku butuh seorang satpam yang benar-benar amanah dan kuat. Kemudian suatu hari salah seorang kenalanku yakni Banu menyarankan dirimu untuk menjadi satpam baruku. Tentunya aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, maka dari itu sebelum menawarkan pekerjaan ini kepadamu aku berencana untuk mengujimu terlebih dahulu, Lalu akhirnya saya dan Banu pun sepakat. Kemudian terjadilah kejadian yang selama ini kamu alami. Aku sungguh minta maaf yang sebesar-besarnya mas Aminn, kami telah kurang ajar. seenaknya merpermainkanmu tanpa mengetahui kondisi ibumu yang sedang sakit..” Rafasya benar-benar merasa malu hingga tak kuasa membendung air di matanya.

    Melihat Rafasya yang menangis karna menyesali kesalahannya, Amin merasa iba. Ia mendekat dan merangkul Rafasya sembari mengelus punggunggya.

    “ Sudah lah, aku sudah tidak marah kok. Asalkan kamu sudah mau minta maaf dan mengakui kesalahan itu sudah Keren sekali!  Allah saja yang maha kuasa mau mengampuni siapapun hambanya yang siap bertaubat, lalu siapa aku? Yang masih seorang pendosa, tidak mau mengampuni kesalahan sesama saudara muslimku sendiri. Haha, tentu akan menjadi aib bagiku kalau sampai tidak memaafkan.” Ucap amin dengan senyuman yang lebar di pipinya.

    Seluruh orang di ruangan itu tersentuh dengan ucapan Amin. Lalu Rafasya, banu, dan juga diikuti dua orang lainnya bergantian bersalaman dengan Amin. Mengungkapkan segala macam ucapan maaf untuk Amin. Kemudian ketika hendak berpamitan pergi, Rafasya memberi kode kepada bodyguard nya yakni pria yang bertubuh kekar itu untuk mengambil sesuatu. Ditinggal berbicara sebentar, tak lama kemudian orang itu kembali dengan membawa koper kecil di tangannya. Lalu diserahkanlah tas itu ke Rafasya.

    “Mas Amin, jadi ini saya ada sedikit rezeki yang bisa sampean bawa pulang. Semoga dengan sedikit rezeki ini dapat membantu perekonomian keluarga di rumah.”  Ujar Rafasya sembari membuka dan menyerahkan koper yang berisi dengan tumpukan uang rupiah berwarna merah.

    “ Loh mas, yang bener aja ini. Masnya gak bangkrut apa kalau ngasih uang sebanyak itu” Ujar Amin yang masih shock melihat jumlah uang yang sebanyak itu.

    “Sudah gak papa, silahkan kamu terima aja. Semoga dapat membantu biaya pengobatan ibuk. Dan juga saya tidak akan dirugikan sama sekali, karena berbagi itu tidak akan membuat siapapun rugi melainkan akan Allah gantikan dengan sesuatu yang lebih baik lagi.” Ujar Rafasya tersenyum.

    Mendengar itu Amin pun terharu memeluk tubuh Rafasya sebagai ungkapan terimakasihnya yang mendalam.

    “ Owh iya satu hal lagi, sebelum saya undur diri, saya ingin menawarkan suatu pekerjaan untuk mas Amin. Tapi pekerjaan itu bukan satpam, melainkan sebagai manager bisnis di perusahaan saya. Soalnya kebetulan manager saya baru saja resign minggu kemarin, dan saat ini saya sedang mencari penggantinya.” Ucap Rafasya menawarkan.

    “ Sebenarnya saya mau-mau aja sih, tapi apa pantes orang seperti saya yang masih kurang dalam segi pengalaman menjadi manager.” Ujar Amin ragu.

    “ Enggak kok, justru bagi saya value di dalam anak muda sepertimu merupakan sebuah permata yang tertimbun di dalam tanah. Dan juga saya dengar dari banu kamu pernah memegang toko jahit peninggalan Ayah mu kan?.

    “ Iya sih, walaupun hanya bertahan beberapa bulan saja sebelum saya jual toko itu karna tidak seramai ketika dipegang sama ayah”. Ujar Amin sambil menggaruk-garuk kepalanya.

    “ Santai saja, dengan pengalaman itu kuyakin sudah cukup. Jadi bagaimana? Mau nerima tawaran saya?” Rafasya menjulurkan tangannya.

    Amin pun berpikir sejenak, kemudian ia terpikir bagaimana dengan kondisi masjid apabila ditinggal olehnya, lantas siapa yang akan menemani Banu untuk mengurus masjid? Lalu Amin pun menoleh sejenak ke arah Amin, ekspresinya seperti meminta pendapat.

    “ sudahlah kawan.. untuk urusan masjid serahkan saja padaku, lagi pula tanpa sepengetahuanmu aku sudah melakukan kaderisasi untuk membuat kelompok remaja masjid, dan alhamdulillahnya banyak peminat yang mendaftarkan diri mulai dari anak-anak smp hingga sma. Hilangkan keraguan di dadamu! Ingat! Kau dulunya adalah lulusan terbaik dari sekolah ternama, jangan ragukan kemampuanmu!.” Ujar Amin sembari menepuk punggung dari sahabatnya membari semangat.

    Akhirnya setelah berpikir sejenak, iapun menerima tawaran tersebut dan menjabat erat-erat tangan tangan Rafasya, seorang pengusaha muda.

    *********

    7 tahun kemudian. Sudah bertahun-tahun sejak Amin bekerja di perusahaan milik Rafasya. Otak mudanya yang cerdas dapat berkontribusi baik dalam memberikan perkembangan untuk perusahaan milik Rafasya itu, alhasil perusahaan milik Rafasya semakin berkembang dan semakin menjadi lebih baik.  Rafasya sendiri tak segan-segan untuk menaikkan jabatan Amin dan menambah gajinya, mulai dari situ kehidupan amin menjadi lebih baik.

    Dia telah menjadi seorang millionaire muda yang dermawan. ia menggunakan harta kekayaannya bukan untuk berfoya-foya melainkan untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti membayar biaya pendidikan adiknya bahkan memberi beasiswa bagi anak yang tidak mampu dan juga menyumbangkan hartanya untuk berbagai macam kebutuhan masjid.

    Saat ini ia hidup bahagia bersama ibu dan kedua adiknya dengan perekonomian yang lebih dari cukup, keberhasilannya itu dapat Amin dapatkan selain memang rezeki dari Allah,  itu semua ia dapat dari kegigihannya dalam belajar dan juga usahanya untuk menjadi orang yang dapat senantiasa menjaga amanah. Di zaman ini manusia yang pintar itu banyak, akan tetapi mencari orang yang benar-benar amanah itu bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Oleh karna itu, Jadilah manusia yang yang berpendidikan dan juga dapat menjaga amanah. Amanah itu berat maka jagalah!. 

    ~END~

    Malang, pakis, 05 Mei 2025

  • Malam Puncak Haul Akbar KH. Ahmad Syadzili Muhdlor ke 35.

    Malam Puncak Haul Akbar KH. Ahmad Syadzili Muhdlor ke 35.

    Asy News- Malang (Ahad) 16/11/25. Seluruh pondok pesantren Asy syadzili 1 hingga 6 menggelar rangkaian kegiatan haul inti mulai pagi hingga malam dengan penuh khidmat. Seluruh kalangan mulai dari santri, alumni, asatidz hingga masyarakat turut hadir untuk memeriahkan dan meneladani kisah perjuangan seorang hamilul Quran sekaligus mempererat hubungan silaturahmi antar jema’ah.

    Acara dimulai sejak jam 06:00 dengan pembukaan majelis khataman se malang raya, yang dibuka langsung oleh Abuya kh Abdul Mun’im Syadzili. Karena saking luasnya khataman majelis se malang raya ini, sehingga melibatkan beberapa pondok cabang mulai dari asy- syadzili 2, 3 hingga Asy syadzili 4. Lantunan ayat suci Al Quran pun menggema di seluruh sudut kota malang dan sekitarnya.

    Pada siang harinya, kegiatan khataman ini Kembali ditutup oleh Abuya KH Abdul Mun’im di maqbarah Mbah Nyai Haji Siti Rahmah.

    Memasuki malam hari, Kawasan pondok Kembali dipadati oleh para jama’ah. Rangkaian acara diawali dengan prosesi wisuda tahfidz dan tasmi’ 30 juz oleh para santri yang telah menuntaskan setoran hafalannya, dan juga dapat membacanya secara bil’ghoib (tanpa melihat) bagi santri yang wisuda tasmi’. Doa, haru dan tangisan dari para wali santri menghiasi sakralnya prosesi wisuda tersebut.

    setelah rangkaian prosesi wisuda selesai, lantunan adzan isya’ dikumandangkan. Menjadi alarm bagi setiap muslim untuk melaksanakan sholat berjama’ah. Tak lama kemudian, para Jema’ah pun bergeser ke masjid guna melaksanakan sholat isya’ berjama’ah.

    Setelah sholat isya’, para jema’ah Kembali mengisi tempat di depan panggung utama. Tidak sabar untuk menyaksikan langsung prosesi acara ceremonial haul KH Ahmad Syadzili muhdlor yang ke 35.

    Tidak lama kemudian, MC dari acara inti  masuk. Memberikan penghormatan kepada tamu-tamu penting yang  hadir, terkhusus para masyayikh ploso dan para masyayikh kh Ahmad syadzili.

    Seusai pembukaan, acara berlanjut dengan pembacaan ayat suci Al Quran yang dibacakan oleh Ust Ahmad Fauzan Muhson yang merupakan alumni dari pondok pesantren  Asy syadzili 1.

    Kemudian acara dilanjut dengan sambutan oleh keluarga besar bani syadzili yang disampaikan oleh Agus KH abdul Mujib Syadzili. yang dalam sambutannya beliau menyampaikan akan betapa pentingnya Pendidikan di era modern.

    Bahwasannya Pendidikan formal berbasis pesantren memiliki daya saing yang tak kalah kuat dari sekolah-sekolah negeri pada umumnya. “Bahkan tidak hanya nasional saja, bahkan santri mampu bersaing di tingkat internasional“  tutur beliau, di dalam sambutannya.

    Setelah sambutan dari keluarga ndalem. Acara berlanjut dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh KH Musthofa Hadi. diikuti oleh seluruh jamaah yang memenuhi area pesantren. Suasana khidmat semakin terasa ketika tahlil berlangsung, menandai penghormatan mendalam kepada orang yang didoakan.

    Selanjutnya, acara beralih ke pembacaan syi’ir untuk almarhum mbah yai. Sepatah dua patah syi’ir dinyanyikan. Membuat seluruh jema’ah yang hadir terdiam untuk mendengarkan. Arti yang sangat mendalam dari syi’ir tersebut benar-benar berhasil membuat hati para santrinya rindu akan beliau. Bahkan tidak jarang ada santri yang menangis apabila benar-benar menghayati satu persatu kata yang dibacakan.

    Kemudian, telah sampailah di penghujung acara. Yakni mauidloh hasanah oleh Agus KH Abdurrahman Al Kausar, yang dalam dawuhnya beliau menjelaskan bahwasannya Guru dan orang tua merupakan perantara kita untuk mengenal tuhan. beliau mengambil dalil:

    لَوْلَا الْمُرَبِّي مَا عَرَفّْتُ رَبِّي

    “Andai bukan sebab guruku, aku tak akan mengenal Tuhanku”.

    “Acara-acara seperti haul ini merupakan kebutuhan, terutama bagi kita sebagai santri dan para putra. Sebab penting sekali untuk terus membentuk suatu halaqoh batiniah dengan para guru.” Ucap Gus Kausar. Di dalam mauidloh hasanahnya.

    Kemudian rangkaian acarapun ditutup oleh doa yang dipimpin oleh KH Nurul Huda Jazuli.