Author: Alif

  • Langkah Kecil Menuju Ketenangan Jiwa 

    Langkah Kecil Menuju Ketenangan Jiwa 

    Menjaga Hati yang Suci Menjaga pandangan dan pendengaran itu sebenarnya bukan cuma soal sopan santun atau aturan agama yang kaku. Lebih dari itu, ini adalah fondasi utama buat menjaga hati tetap bersih. Soalnya, dalam keseharian kita, mata dan telinga itu ibarat dua gerbang besar tempat masuknya segala macam informasi ke dalam jiwa. Apa yang kita lihat dan dengar secara nggak langsung bakal membentuk cara pikir, perasaan, dan bahkan tingkah laku kita sehari-hari. 

    Coba renungkan, mata itu sering banget jadi pintu pertama masuknya berbagai macam kesalahan. Begitu pandangan kita dibiarkan liar entah itu melihat hal-hal yang seharusnya nggak boleh dilihat, memandang lawan jenis dengan nafsu, atau bahkan melirik orang lain dengan rasa meremehkan pelan-pelan hati kita jadi keras dan kehilangan kepekaan. Dalam ajaran Islam, menjaga pandangan (yang sering disebut ghadhul bashar) itu bukan buat mengekang kebebasan, tapi justru bentuk penghormatan pada diri sendiri dan upaya meraih ketenangan batin. Begitu kita terbiasa memandang orang lain dengan tatapan menghina atau sibuk mencari-cari kekurangan mereka, sama aja kita sedang menggerogoti kebaikan yang ada dalam diri kita sendiri. 

    Hal yang sama juga berlaku buat telinga. Telinga kita diciptakan buat menyerap hal-hal baik: mendengar kebenaran, nasihat yang tulus, dan ilmu yang bermanfaat. Tapi, kalau telinga kita sudah terbiasa diisi dengan gosip, omongan kotor, atau pembicaraan nggak penting, fungsinya jadi berbalik dari alat penerima kebaikan jadi sumber kerusakan. Mendengar aib atau keburukan orang lain itu artinya kita memberi ruang dalam pikiran kita buat hal-hal negatif itu berkembang. Dalam setiap obrolan, pendengar yang bijak bukan cuma pinter milih kata-kata yang mau didengar, tapi juga paham kapan harus berhenti mendengar dan menjauh dari hal-hal yang bisa merusak. 

    Pada akhirnya, menjaga dua indra penting ini bukan perkara mudah. Butuh perjuangan serius (mujahadah) dan keteguhan hati. Melawan dorongan hawa nafsu dan rasa malas memang berat, tapi di situlah sebenarnya proses pembentukan karakter terjadi. Ibarat seorang penyelam yang berani menyelam ke dasar laut buat mencari mutiara berharga, kita juga harus rela bersusah payah mengendalikan diri. Semua itu demi meraih kemuliaan hidup dan ketenangan jiwa yang sejati adalah sesuatu yang nggak ternilai harganya.

  • Memanfaatkan Waktu Sebelum Waktu Tak Lagi Punya Waktu

    Memanfaatkan Waktu Sebelum Waktu Tak Lagi Punya Waktu

    Waktu itu seperti air mengalir. Begitu lewat, ya sudah. Nggak bisa diputar ulang, nggak bisa ditahan, apalagi dibeli. Setiap detik yang Allah kasih ke kita itu sebenarnya amanah, tapi sering banget kita lalai. Sibuk sama HP, sibuk sama kerjaan, sibuk sama urusan duniawi yang kadang nggak jelas ujungnya. Padahal, satu hal yang pasti: setiap waktu yang kita habiskan akan dimintai pertanggungjawaban. Pertanyaannya, udah siap belum?

    Coba lihat kebanyakan orang sekarang. Waktu luang malah dihabiskan buat scroll media sosial tanpa arah, atau ngobrol ngalor-ngidul yang nggak ada manfaatnya. Padahal, kesempatan yang Allah kasi hari ini belum tentu ada besok. Rasulullah ﷺ pernah bilang, ada dua nikmat yang sering bikin manusia tertipu: sehat dan waktu luang. Dua-duanya sering kita anggap enteng, padahal kalau hilang, nggak ada yang bisa ganti. Maka, waktu luang itu seharusnya diisi dengan hal-hal yang bikin hati teduh: baca Qur’an, ngaji, silaturahmi, atau setidaknya berhenti sejenak buat merenung.

    Allah juga ngasih waktu-waktu istimewa sebagai bentuk sayang-Nya ke kita. Dzulhijjah, Arafah, Asyura—hari-hari itu punya keistimewaan tersendiri. Tapi yang jadi catatan penting, jangan sampai semangat ibadah cuma nongol di momen-momen tertentu aja. Banyak orang rajin ibadah pas Ramadan atau Dzulhijjah, tapi pas udah lewat, balik lagi ke kebiasaan lama. Padahal Nabi ﷺ ngajarin, amalan yang paling dicintai Allah itu bukan yang banyak, tapi yang rutin—walaupun cuma sedikit. Istikamah itu memang berat, tapi itu tanda keikhlasan.

    Jadi, mulai dari sekarang aja. Nggak usah nunggu waktu yang sempurna buat berubah, karena nggak ada waktu yang sempurna selain hari ini. Bacalah satu ayat, sedekah seribu, atau cukup berhenti sejenak dari kesibukan untuk mengingat siapa kita dan untuk apa kita diciptakan. Karena pada akhirnya, hidup bukan soal berapa lama kita bernapas, tapi seberapa banyak napas itu kita isi dengan hal yang berarti di mata Allah. Waktu nggak pernah menunggu. Dan ajal? Dia juga nggak pernah janji bakal datang di waktu yang kita mau.

  • PENUTUPAN BAHTSUL MASA’IL FMPP (FORUM MUSYAWARAH PONDOK PESANTREN) KE 45 DI PPSQ ASY-SYADZILI 1

    PENUTUPAN BAHTSUL MASA’IL FMPP (FORUM MUSYAWARAH PONDOK PESANTREN) KE 45 DI PPSQ ASY-SYADZILI 1

    ASY-SYADZILI 1 – Ratusan ulama, kiai, santri, dan tokoh masyarakat dari berbagai wilayah Jawa dan Madura menghadiri penutupan Bahtsul Masail ke-45 Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) di Pondok Pesantren Salaf Al-Quran Asy-Syadzili 1, Minggu (12/7).

    Terpilihnya Asy-Syadzili sebagai tuan rumah menjadi kebanggaan tersendiri. Abuya KH. Abdul Mun’im Syadzili dalam sambutannya menyampaikan syukur yang mendalam atas kepercayaan yang diberikan. Menurut beliau, ini bukan sekadar tanggung jawab, melainkan kehormatan yang akan tercatat dalam sejarah pondok.

    Sebagai agenda inti, perwakilan dari dewan perumus membacakan rumusan hasil musyawarah yang telah disepakati di setiap komisinya. Suasana hening menyelimuti ruangan ketika setiap pembacaan berlangsung, para peserta menyimak dengan penuh perhatian. Seluruh hasil yang dibacakan merupakan buah diskusi panjang yang telah berjalan selama dua hari penuh. 

    Di balik kebanggaan itu, beliau mengakui segala keterbatasan. Seluruh panitia telah bekerja keras memberikan pelayanan terbaik, namun kesempurnaan hanya milik Allah. Dengan rendah hati, beliau memohon maaf kepada seluruh peserta atas segala kekurangan.

    Forum yang berlangsung dua hari ini diwarnai diskusi hangat serta dilapisi oleh beragaman emosional antar peserta. Mereka datang dari berbagai penjuru, dari Madura hingga Jawa Barat, duduk bersama membahas persoalan yang dihadapi umat. Semua berlangsung dengan adab, sebagaimana diajarkan para ulama terdahulu.

    KH. Muhammad Ma’mun Mahfudz dalam mawuidoh hasanahnya beliau menyampaikan harapan beliau kepada para santri dan para musyawirin khususnya untuk terus berusaha menjadi orang yang bermanfaat untuk semua.

    Lantunan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Arsyad Qusyairi mengakhiri rangkaian acara. Seluruh hadirin memohon agar setiap pembahasan yang telah berlangsung membawa berkah bagi masyarakat luas. Panitia kembali menyampaikan maaf atas segala kekurangan.

    Bahtsul Masail ke-45 resmi ditutup. Acara diakhiri dengan salaman, simbol eratnya persaudaraan di antara mereka. Asy-Syadzili mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai tuan rumah yang dipercaya menyelenggarakan agenda besar ini.

  • Saat Kitab Kuning Menjawab Tantangan Zaman

    Saat Kitab Kuning Menjawab Tantangan Zaman

    Apakah hukum penggunaan kecerdasan buatan dalam pendidikan?” Pertanyaan itu mungkin tak pernah terbayang di benak para ulama klasik. Namun pagi ini, ia mengemuka di ruang diskusi para santri. Bukan jawaban instan yang mereka cari, melainkan cara berpikir yang diwariskan kitab kuning.

    Di Forum Musyawarah Pondok Pesantren, lembaran-lembaran usang dibuka perlahan. Jari-jari muda menelusuri baris demi baris, membandingkan satu pendapat dengan yang lain. Suara lantang dan bisik-bisik silih berganti. Mereka bukan sekadar mencari siapa yang benar. Mereka sedang belajar bagaimana sebuah keputusan lahir, bukan dari tebakan atau emosi, tetapi dari pijakan yang kokoh.

    Di ruang itu, siapa yang paling banyak bicara bukanlah pemenang. Yang diuji justru ketelitian: seberapa tajam membaca, seberapa dalam memahami konteks, seberapa cermat merangkai alasan. Perbedaan pendapat bukan pertengkaran, karena setiap argumen punya akar yang harus dipahami sebelum ditarik kesimpulan. Dari sini santri belajar bahwa ilmu berkembang lewat dialog, bukan sekadar menerima atau menolak.

    Pembahasan tak berhenti pada bab ibadah. Media sosial, transaksi digital, persoalan lingkungan, hingga tata cara bergotong royong di era individualisme semua ikut digulirkan. Pesantren membuktikan bahwa tradisi tak harus kaku, nilai yang diwariskan tetap sama, tapi cara membacanya terus menari dengan realitas.

    Bagi sebagian santri, forum ini bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah pengalaman yang membongkar cara pandang. Mereka sadar: memahami agama tak cukup dengan menghafal kitab. Dibutuhkan keberanian membaca keadaan, kerendahan hati mendengar pendapat lain, dan tanggung jawab mempertanggungjawabkan setiap kesimpulan yang diambil.

    Tradisi inilah yang menjaga estafet keilmuan tak pernah putus. Dari generasi ke generasi, lahir calon-calon ulama yang tak hanya fasih di khazanah klasik, tapi juga tanggap pada desakan zaman. Tantangan boleh berganti, tetapi cara mencari kebenaran tetap berpijak pada ilmu. Sebab di situlah letak kekuatan: ketika akar kokoh, dahan tak gentar diterpa angin.

  • Mengapa Orang Kaya Masih Serakah?

    Mengapa Orang Kaya Masih Serakah?

    Pernah lihat orang kaya raya tapi tetap serakah? Atau pejabat tinggi yang masih sibuk menjilat demi posisi lebih besar? Atau tetangga mewah yang tega mengusir pengemis? Semua itu bukan kebetulan. Ada benih yang tumbuh subur di dalam: cinta dunia. Diam-diam, ia mengubah manusia. Dari peduli jadi cuek. Dari murah senyum jadi cemberut saat keinginan tak terpenuhi.

    Dunia itu sendiri netral. Batu, uang, mobil, tanah semua tidak berdosa. Masalahnya saat manusia menempatkan mereka di atas nilai, moral, bahkan di atas Tuhan. Pada titik itu, manusia tidak lagi memiliki dunia. Dunia justru memilikinya. Satu per satu prinsip runtuh, satu per satu alasan menguatkan tindakan curang. Siklusnya dimulai dari rasa tak pernah cukup. Gaji naik, tapi iri melihat gaji orang lain lebih besar. Promosi didapat, tapi masih membandingkan jabatan rekan. Ambisi perlahan berubah jadi keserakahan.

    Fenomena ini sudah tua. Alkisah, seorang hakim adil menerima bingkisan emas dari konglomerat. Keesokan harinya, putusannya mulai berat sebelah. Ia tetap mengatakan hal benar, tapi hatinya telah menerima bisikan lain. Kisah ini berulang sepanjang masa—bisa menimpa manajer, pejabat, atau ulama. Tak ada yang kebal. Tapi hikmahnya bukanlah agar manusia miskin atau membenci kekayaan. Nabi sendiri punya unta, tanah, dan istri-istri terhormat. Saat ditawari emas oleh perempuan tua yang ingin menggoda agamanya, ia menolak dengan ringan. Bukan karena emas buruk, tapi dadanya telah penuh dengan keyakinan bahwa semua milik Allah dan manusia cuma numpang lewat.

    Lalu, haruskah berhenti mengejar prestasi? Tentu tidak. Pelajar wajib belajar, pedagang wajib menghitung untung, pekerja wajib mengejar target. Semua itu tanggung jawab. Tapi satu pertanyaan harus terus menyala: “Untuk apa semua ini?” Jika jawabannya hanya “hidup nyaman”, waspadalah. Jika “agar lebih memberi, lebih berguna, lebih dekat kepada-Nya”, dunia tak akan merusak. Dunia manis di awal, pahit di akhir. Pegang dengan satu tangan, selamat. Peluk erat dengan dua, terbawa arus. Kesadaran bisa datang kapan saja. Yang diperlukan hanyalah keberanian mengembalikan dunia ke tempatnya: di bawah kaki, bukan di dada.

  • Tasu’a dan Asyura: Belajar Bersyukur dari Versi “Lautan” dan “Fir’aun” Kita Sendiri

    Tasu’a dan Asyura: Belajar Bersyukur dari Versi “Lautan” dan “Fir’aun” Kita Sendiri

    Tahun baru Hijriah datang. Muharam hadir. Tapi yang bikin penasaran, kenapa selalu ada riuh rendah menjelang tanggal 9 dan 10? Dua angka itu, Tasu’a dan Asyura, seperti punya magnet tersendiri. Bukan karena ada pesta atau perayaan besar. Justru sebaliknya: ada puasa, ada sunyi, dan ada sejarah panjang yang membentang dari zaman Nabi Musa sampai ke masjid-masjid di kampung-kampung.

    Awal mula cerita ini menarik. Waktu Rasulullah SAW menjejakkan kaki di Madinah, beliau menemukan pemandangan tak biasa: orang-orang Yahudi berpuasa di tanggal 10 Muharam. Kenapa? Ternyata itu bentuk terima kasih mereka kepada Tuhan karena Musa dan pengikutnya selamat dari kejaran Fir’aun. Lautan yang terbelah, musuh yang karam, dan kebebasan yang akhirnya tiba. Rasulullah nggak serta-merta menolak. Beliau bilang, “Kita lebih berhak terhadap Musa.” Maka beliau ikut puasa, dan meminta sahabat-sahabatnya untuk turut melakukannya.

    Lalu ada satu hal yang membuat cerita ini makin berwarna. Menjelang akhir hayatnya, Rasulullah menyampaikan keinginan untuk menambahkan puasa di tanggal 9. Alasannya, biar umat Islam punya pembeda dari kebiasaan kaum Yahudi yang hanya berpuasa di hari ke-10. Sebuah niat yang simpel, tapi sarat makna. Sayangnya, takdir berkata lain. Beliau wafat sebelum keinginan itu terwujud. Namun para ulama kemudian menjadikan niat itu sebagai dasar anjuran berpuasa dua hari 9 dan 10 sekaligus.

    Kalau dipikir-pikir, ini bukan sekadar urusan teknis perbedaan tanggal. Ada semacam pesan halus di balik semua ini. Identitas itu penting, tapi menghargai sejarah orang lain juga nggak kalah penting. Di situlah keseimbangan yang jarang ditemui dalam kehidupan beragama yang kadang terlalu eksklusif.

    Tapi mari kita geser sedikit fokusnya. Selain soal puasa, apa sih yang membuat Asyura dan Tasu’a begitu istimewa di mata banyak orang? Jawabannya mungkin ada pada satu kata: syukur. Nabi Musa dan Bani Israil berada di titik paling terjepit. Ada lautan di depan, musuh di belakang. Semua serba mustahil. Tapi justru pada momen itulah pertolongan datang. Dan kisah ini terasa abadi karena setiap generasi selalu punya versi “lautan” dan “Fir’aun” mereka sendiri.

    Di negeri ini, tradisi menyambut dua hari tersebut juga beragam. Ada yang menggelar majelis taklim, ada yang mengadakan doa bersama, dan banyak juga yang memilih untuk berbagi makanan serta santunan untuk anak-anak yatim. Sebut saja bubur suro di beberapa daerah, atau sekadar berbagi nasi kotak di masjid-masjid. Nggak mewah, nggak muluk-muluk. Hanya gotong royong kecil yang entah bagaimana terasa sangat kuat efeknya bagi kebersamaan warga.

    Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak berpuasa? Apakah momen ini lantas kehilangan makna? Tentu tidak. Esensinya lebih dalam dari sekadar menahan lapar dan dahaga. Esensinya adalah pengingat bahwa waktu terus berjalan, dan manusia punya kecenderungan lupa. Lupa bersyukur, lupa bersabar, lupa bahwa di luar sana masih ada orang-orang yang perjuangannya jauh lebih berat dari sekadar menahan haus di siang hari.

    Di sinilah relevansi Tasu’a dan Asyura sebenarnya. Dia hadir di awal tahun, bukan di akhir, seolah memberi sinyal: “Mulailah dengan kesadaran.” Kesadaran bahwa sejarah adalah guru, bahwa rasa syukur harus dirawat, dan bahwa kepedulian terhadap sesama adalah bagian tak terpisahkan dari iman. Bukan cuma tentang ritual, tapi tentang bagaimana menghidupkan nilai-nilai itu dalam keseharian.

    Mungkin memang terlalu sederhana, tapi seringkali justru kesederhanaan inilah yang paling susah dipertahankan. Di tengah hiruk-pikuk modernitas, orang lebih mudah tersedot oleh rutinitas. Puasa Asyura atau Tasu’a menjadi semacam “tombol pause” yang mengingatkan bahwa ada yang lebih penting dari sekadar produktivitas dan pencapaian duniawi.

    Akhir kata, dua hari ini menawarkan kesempatan yang sayang untuk dilewatkan. Bukan karena pahala puasanya yang besar, tapi karena di dalamnya tersimpan pesan lintas zaman: bahwa pertolongan Tuhan nyata, bahwa berbagi menguatkan, dan bahwa memulai tahun baru dengan hati bersih adalah investasi yang tak ternilai.

    Muharam baru saja berlalu beberapa hari. Tapi bagi yang sadar, Tasu’a dan Asyura selalu datang tepat waktu. Tinggal bagaimana menyambutnya, dengan hati yang terbuka atau sekadar melewatinya seperti hari-hari biasa.

  • Menyelamatkan Masa Depan Generasi Muda dari Darurat Literasi

    Menyelamatkan Masa Depan Generasi Muda dari Darurat Literasi

    Ungkapan “buku adalah jendela dunia” mengingatkan kita bahwa membaca adalah kunci utama untuk memahami berbagai ilmu pengetahuan. Melalui buku, siswa dapat memperluas wawasan, mengasah kecerdasan, dan mengenali dunia luar tanpa harus terkendala jarak. Namun, saat ini tantangan besar sedang dihadapi oleh dunia pendidikan kita karena minat membaca di kalangan siswa kian menurun, sehingga makna buku sebagai jendela dunia perlahan mulai terlupakan dan jarang disentuh oleh generasi muda.

    Faktor utama yang menyebabkan rendahnya minat baca ini adalah pengalihan perhatian ke media digital, di mana banyak siswa lebih memilih menghabiskan waktu luang mereka untuk mengakses media sosial, bermain game, atau menonton hiburan instan di gawai dibandingkan membaca buku. Selain itu, kegiatan membaca di lingkungan sekolah sering kali hanya dianggap sebagai kewajiban kaku untuk menyelesaikan tugas akademis, sehingga siswa jarang merasakan bahwa membaca bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan dan didasari oleh rasa ingin tahu yang alami.

    Kurangnya minat baca ini membawa dampak yang cukup serius terhadap kualitas berpikir siswa. Berdasarkan data dari Programme for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh OECD, kemampuan literasi membaca siswa Indonesia secara konsisten berada di kelompok bawah secara global. Dampak nyata dari kemalasan membaca ini adalah melemahnya kemampuan berpikir kritis, sehingga di era keterbukaan informasi seperti sekarang, siswa menjadi lebih mudah memercayai informasi bohong atau hoaks karena malas memverifikasi data. Selain itu, siswa juga cenderung kesulitan dalam menganalisis masalah, memahami instruksi yang kompleks, serta memiliki keterbatasan kosakata dalam berkomunikasi.

    Jika kebiasaan malas membaca ini terus dibiarkan, masa depan generasi muda akan menghadapi tantangan yang jauh lebih berat. Di masa mendatang, dunia kerja akan sangat bergantung pada teknologi canggih, kecerdasan buatan, dan kemampuan analisis tingkat tinggi. Tanpa dasar literasi yang kuat, siswa saat ini terancam kesulitan untuk bersaing di tingkat global, yang tidak hanya merugikan masa depan individu secara ekonomi karena sulit mendapat pekerjaan yang layak, tetapi juga dapat menghambat kemajuan bangsa dalam menciptakan inovasi.

    Untuk mengatasi krisis literasi ini, diperlukan langkah nyata yang konsisten dari lingkungan sekolah maupun rumah. Langkah awal dapat dimulai dengan membiasakan siswa untuk membaca selama lima belas menit setiap hari secara disiplin, di mana buku yang dibaca tidak harus selalu buku pelajaran, tetapi bisa dimulai dari buku fiksi, komik pengetahuan, atau artikel hobi yang sesuai dengan minat mereka untuk menumbuhkan kebiasaan terlebih dahulu.

    Selanjutnya, sekolah dan orang tua dapat mengenalkan platform digital resmi, seperti aplikasi iPusnas milik Perpustakaan Nasional, agar siswa dapat mengakses ribuan buku berkualitas secara gratis, aman, dan praktis melalui gawai mereka sendiri. Terakhir, setelah membaca, siswa perlu diajak untuk menceritakan kembali atau mendiskusikan poin penting dari buku tersebut bersama teman atau keluarga agar aktivitas membaca menjadi lebih interaktif sekaligus melatih kemampuan mengemukakan pendapat.

    Pada akhirnya, meningkatkan minat baca bukan hanya tugas guru di sekolah, melainkan tanggung jawab bersama karena membaca adalah investasi jangka panjang yang menentukan kualitas masa depan. Dengan mendisiplinkan diri untuk membaca sejak dini, kita sedang membantu generasi muda membuka kembali jendela dunia mereka agar siap tumbuh menjadi pemimpin yang cerdas, kritis, dan mampu bersaing di masa depan.

  • Idul Adha dan Malam Kebersamaan Santri PPSQ Asy-Syadzili

    Idul Adha dan Malam Kebersamaan Santri PPSQ Asy-Syadzili

    Perayaan Idul Adha 1447H atau 2026, pondok pesantren salaf Al Quran asy-syadzili merayakan Idul Adha dengan penuh khidmat. Kegiatan pemotongan hewan qurban di pondok Asy Syadzili tahun ini juga berjalan lancar. Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa di lingkungan PPSQ Asy-Syadzili setelah rangkaian penyembelihan hewan qurban selesai dilaksanakan.

    Tidak hanya menjadi momentum ibadah dan berbagi kepada masyarakat, Hari Raya Idul Adha juga menjadi ajang mempererat ukhuwah antarsantri melalui kegiatan nyate, serta kegiatan penyembelihan hewan qurban.

    Aktivitas pemotongan hingga pengemasan daging qurban pun berlangsung dengan lancar dan tertib. Para santri yang telah ditunjuk sebagai panitia qurban tampak antusias menjalankan tugas masing-masing. Mereka bekerja sama dalam proses pemotongan, penimbangan, hingga pembungkusan daging yang nantinya akan didistribusikan kepada masyarakat.

    Kegiatan Idul Adha tahun ini juga menghadirkan suasana yang begitu meriah dan penuh kebersamaan. Tidak hanya diikuti oleh para santri, tetapi juga melibatkan para shohibul qurban, asatidz, serta warga sekitar yang turut hadir menyaksikan jalannya proses penyembelihan hingga pembagian daging qurban. Kehadiran berbagai kalangan tersebut semakin menambah hangat suasana kekeluargaan di lingkungan pondok.

    Daging qurban yang telah dikemas kemudian dibagikan kepada para shohibul qurban, masyarakat sekitar pondok, serta warga di lingkungan sekitar. Ratusan bungkus daging berhasil didistribusikan kepada penerima manfaat, belum termasuk bagian lain seperti kepala, kaki, dan buntut yang juga dibagikan secara terpisah.

    Kegiatan perayaan hari raya idul adha pada hari ini, tidak hanya berefek pada masyarakat sekitar pesantren. Namun, para santri juga merasakan daging kambing yang telah diolah oleh orang-orang bagian dapur pesantren dengan acara makan bersama ala santri. yakni setiap kalangan yang hadir dipersilahkan untuk membuat kelompok duduk berisi 5 orang per kelompok. Kemudian masing-masing kelompok akan diberikan 1 porsi besar talam yang berisi lauk daging yang sangat lezat.

    Setelah proses penyembelihan dan pendistribusian serta perayaan daging qurban selesai, para santri mulai berkumpul bersama teman-teman sekamar untuk menyiapkan kegiatan bakar bakar sederhana. Dengan penuh semangat, mereka saling berbagi tugas, mulai dari memotong daging, menusuk sate, menyiapkan bumbu, hingga menyalakan bara api. Suasana keakraban tampak begitu hidup di setiap sudut pondok. Canda tawa para santri menghiasi malam, menciptakan momen sederhana namun penuh makna.

    Berbeda dari tahun sebelumnya, tradisi nyate tahun ini berbeda dengan tahun kemarin, jika tahun lalu perayaan Idul Adha dikemas dengan adanya perlombaan memasak sate antar kamar yang kriteria penilainnya meliputi rasa, kreativitas, kebersihan dan kekompokan. Namun, pada tahun ini dikemas sederhana dengan rasa harmonis serta kekeluargaan.

    Kegiatan ini berlangsung di dua halaman utama pondok yakni, lapangan atas & lapangan bawah. Menu ragam sepeti gulai, sate, rawon dan soto turut serta menghiasi acara meriahnya di malam hari ini. Setelah proses sate menyate para santri berkumpul untuk memakan masakan dari hasil kerja mereka. Di sini, mereka bukan hanya di tuntut untuk membuat masakan yang enak, mereka juga di ajarkan tentang rasa kuatnya ukhuwah Islamiyah antar sesama anggota kamar, serta menambah ilmu pengetahuan mereka tentang dunia persate menyatean.

    Kesederhanaan pada tahun ini justru menciptakan nuansa kehangatan serta kebersamaan, karena pada tahun ini mereka tidak dituntut untuk berlomba-lomba melainkan mereka diberi suatu momen untuk mempererat persaudaraan mereka. Momen sate menyate juga, tidak melulu tentang membakar/menggoreng masakan olahan dari daging yang telah diberikan panitia. Di sela-sela mereka mengolah mereka juga menyempatkan diri untuk bercanda gurau bersama temannya yakni dengan bermain conteng-contengan dengan arang, yang membuat wajah serta tubuh mereka seperti dekil, karena hitamnya wajah bekas contengan arang dari temannya.

    Dengan adanya serangkaian acara perayaan Idul Adha ini. Pondok pesantren salaf Al Quran Asy Syadzili berharap, dapat turut serta memeriahkan dengan tidak hanya menunaikan ibadah qurban saja. Melainkan, juga mengadakan kegiatan edukatif sebagai wadah bagi para santri untuk menuangkan berbagai macam kreatifitasnya, dan juga sebagai media untuk mempererat hubungan ukhuwah Islamiyah.

  • Sedekah Itu Soal Mau, Bukan Soal Mampu

    Sedekah Itu Soal Mau, Bukan Soal Mampu

    Bersedekah adalah salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam agama Islam. Dengan bersedekah, kita dapat membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang membutuhkan serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, seringkali banyak orang berpikir bahwa sedekah itu harus nunggu sukses/ kaya terlebih dahulu. Padahal, jika kita sudah memiliki apa yang kita inginkan maka kita akan lupa memberikan harta pada orang lain.

    Dalam Islam, bersedekah tidak melulu tentang kekayaan. Tetapi, bagaimana cara kita mensyukuri atas rahmat yang telah diberikan Allah pada kita. Artikel ini akan membahas pentingnya bersedekah dalam segala keadaan, berbagai manfaat yang bisa didapatkan, dan bagaimana cara kita bisa memastikan bahwa sedekah yang kita berikan mendapatkan pahala yang besar.

    Hal ini sesuai dengan hadist riwayat bukhari yakni

    مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

    Yang artinya “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta(HR. Muslim).

    Pernah suatu ketika seorang sahabat datang menemui Rasulullah. Sahabat itu memberi Rasulullah sebuah mantel sebagai hadiah. Mantel itu sangat indah dan setiap ujungnya ada hiasan nan cantik. Dengan senang hati Rasulullah menerima mantel tersebut dan memakainya. Tidak lama kemudian, seorang sahabat yang lain berkata, “Masyaallah betapa indahnya mantel yang engkau pakai, wahai Rasulullah. Andai saja aku bisa memiliki mantel yang sebagus itu, aku pasti sangat bahagia.”

    Tanpa berpikir panjang, Rasulullah segera melepas mantel tersebut. Dengan ikhlas, Rasulullah memberikan mantel itu kepada sahabatnya. Rasulullah tidak pernah ragu memberikan benda terbaik miliknya. Rasulullah memang gemar bersedekah. Beberapa sahabat yang lain berusaha mencegah, “Jangan berikan mantel itu, wahai Rasulullah. Bukankah baginda sangat memerlukannya?” Mereka pun menasihati sahabat yang meminta mantel tersebut, “Kenapa engkau meminta sesuatu yang menjadi hak Rasulullah? Tidakkah engkau tahu bahwa mantel itu sangat berguna untuk beliau?” “Tidak apa-apa, wahai saudaraku. Aku percaya si fulan lebih memerlukan mantel ini. Insyaallah, akan ada mantel pengganti untukku nanti,” ucap Rasulullah.

    Kisah ini memberikan pelajaran bahwa bersedekah bukan tentang kaya atau miskin, tapi tentang keikhlasan. Bukan tentang seberapa banyak jumlah, melainkan seberapa ikhlasnya kita dalam memberi. Bersedekah juga tidak melulu berbentuk uang, dengan barang pun kita bisa bersedekah. Orang yang memiliki banyak harta ketika bersedekah mungkin terlihat biasa. Namun, yang luar biasa adalah ketika kita merasa sedang kekurangan, tetapi masih senang bersedekah. Rasulullah sangat senang bersedekah, semoga kita sebagai pengikutnya juga demikian. Untuk mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam bersedekah hanya ada dua syarat yaitu ikhlas dan mengikuti Rasulullah.

    Islam tidak melihat apa yang disedekahkan. Baik sedekah makanan/barang maupun uang tetap bernilai pahala saat dilakukan dengan syarat tersebut. Bahkan Senyum yang tulus, membantu teman yang kesulitan, memberi tenaga, waktu, bahkan mendoakan orang lain juga termasuk sedekah. Hal-hal kecil yang sering dianggap sepele justru bisa menjadi amal yang besar di sisi Allah jika dilakukan dengan niat baik.

    Sering kali rasa takut kekurangan membuat seseorang menunda sedekah sampai merasa “cukup kaya”. Namun kenyataannya, tidak ada jaminan seseorang akan merasa cukup. Orang yang terbiasa berbagi sejak memiliki sedikit, biasanya akan tetap dermawan ketika memiliki banyak. Sebaliknya, jika menunggu kaya terlebih dahulu, bisa jadi kebiasaan memberi itu tidak pernah dimulai. Selain pahala, keutamaan dari amalan sedekah lebih luas lagi.

    Bahkan efek dari kebiasaan bersedekah tak hanya terasa saat di dunia. Efek dari pelaksanaan amalan ini hingga ke alam kubur dan akhirat kelak.

    1. Sedekah Tidak Mengurangi Harta Sedekah adalah ibadah yang tidak akan mengurangi harta, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda untuk mengingatkan kita dalam sebuah riwayat Muslim, “sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim). Mengapa sedekah tidak akan mengurangi harta? Karena meskipun secara tersurat harta terlihat berkurang, tetapi kekurangan tersebut akan ditutup dengan pahala di sisi Allah SWT dan akan terus bertambah kelipatannya menjadi lebih banyak. Hal ini merupakan janji Allah yang termaktub dalam surat Saba “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).

    2. Sedekah Menghapus Dosa Sebagai makhluk Allah SWT yang tak luput dari dosa, umat Islam senantiasa diberikan berbagai keistimewaan agar berkesempatan untuk bertaubat dan menghapus dosa-dosanya dengan cara yang yang diridhai oleh Nya. Salah satunya adalah dengan sedekah. Sedekah merupakan ibadah yang istimewa, ia dapat memudahkan kita dalam menghapus dosa-dosa. Rasulullah SAW pernah bersabda “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi).

    3. Sedekah Menjauhkan Diri dari Api Neraka “Dan kelak akan dijauhkan (dari neraka) orang yang paling bertakwa, yaitu orang yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan diri, dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalas, tetapi (dia berinfak) semata-mata karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar akan ridha.” (QS. Al-Lail: 17-21). Dengan menyalurkan sedekah, tidak hanya memperoleh pahala yang berlipat ganda dan menghapus dosa, tetapi juga mendekatkan diri kepada rahmat dan ampunan Allah SWT, sehingga terhindar dari azab neraka jahanam.

    4. Sedekah Melipatgandakan Pahala Sedekah memberikan banyak keistimewaan kepada pelakunya, salah satu diantaranya adalah Allah SWT akan memberikan pahala yang banyak untuk orang yang bersedekah. Allah SWT berfiman, “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18) 5. Sedekah Menjadi Obat untuk Orang Sakit Firman Allah dan sabda Rasulullah SAW mengajarkan kita bahwa sedekah memiliki keutamaan luar biasa, termasuk sebagai sarana penyembuhan bagi yang sakit, sebagaimana terkandung dalam hadits, “Obatilah orang sakit kalian dengan sedekah.” (HR. Abu Daud).

    Namun, penting untuk memahami secara menyeluruh bahwa sakit merupakan bagian dari takdir Ilahi yang harus diterima dengan kesabaran dan ketabahan sebagai wujud keimanan kepada Allah SWT. Cara memulai sedekah sebenarnya sangat sederhana. Langkah pertama adalah menanamkan niat yang ikhlas, yaitu memberi karena ingin membantu dan mencari kebaikan, bukan untuk mendapatkan pujian. Setelah itu, mulailah dari hal kecil sesuai kemampuan. Tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi, karena sedikit bantuan pun tetap memiliki nilai yang besar jika dilakukan dengan tulus. Sedekah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti memberikan uang, makanan, pakaian layak pakai, tenaga, ilmu yang bermanfaat, atau sekadar memberikan senyum dan ucapan yang baik kepada orang lain. Kita juga dapat mulai memperhatikan orang-orang di sekitar yang membutuhkan bantuan, seperti tetangga, teman, anak yatim, atau orang yang sedang mengalami kesulitan.

    Agar menjadi kebiasaan baik, biasakan bersedekah secara rutin, misalnya setiap hari Jumat, setiap mendapat rezeki, atau dengan menyisihkan sebagian uang harian. Sedekah memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Dengan bersedekah, hati menjadi lebih tenang dan bahagia karena dapat membantu sesama. Selain itu, sedekah juga menumbuhkan rasa syukur atas nikmat yang dimiliki, sekecil apa pun itu. Kebiasaan berbagi membuat seseorang lebih peduli terhadap orang lain dan mengurangi sifat egois dalam diri. Hubungan sosial pun menjadi lebih erat karena adanya rasa kasih sayang dan kepedulian di lingkungan sekitar.

    Banyak orang juga percaya bahwa sedekah dapat membawa keberkahan hidup, mempermudah urusan, dan membuka pintu rezeki dengan cara yang tidak disangka-sangka. Jadi, seberapapun kita punya usahakan untuk selalu bersedekah, bahkan seribu rupiah lebih baik jika disertai keikhlasan dibanding dengan ratusan harta yang disertai dengan riya, dan kesombongan.

  • Adaptasi Lingkungan Pesantren di Tengah Gempuran Kemajuan Teknologi Kecerdasan Buatan (A.I.) ​

    Adaptasi Lingkungan Pesantren di Tengah Gempuran Kemajuan Teknologi Kecerdasan Buatan (A.I.) ​

    Di era yang serba cepat ini, Artificial Intelligence (A.I) hadir sebagai salah satu bukti kemajuan teknologi yang tidak bisa dihindari. Dunia pendidikan pun ikut merasakannya, termasuk lingkungan pondok pesantren yang selama ini dikenal dengan tradisi keilmuan klasik dan penekanan kuat pada akhlak serta adab.

    Kehadiran A.I sering kali memunculkan pertanyaan: apakah teknologi ini akan menggeser nilai-nilai pesantren, atau justru bisa menjadi alat pendukung yang bermanfaat?

    Pondok pesantren sejatinya tidak harus menolak perkembangan teknologi, termasuk AI. Namun, yang menjadi kunci utama adalah bagaimana santri menyikapinya dengan bijak. Dan di sinilah poin pentingnya, yakni penguatan akhlak dan etika (adab). Seorang santri harus dibekali pemahaman bahwa teknologi hanyalah sebuah alat, bukan tujuan. Tanpa adab, kecanggihan teknologi justru bisa menjerumuskan pada kemalasan, ketergantungan, bahkan penyalahgunaan ilmu.

    Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:
     وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
     “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36).
     Ayat ini menegaskan bahwa setiap penggunaan ilmu dan teknologi harus disertai tanggung jawab moral.

    Rasulullah ﷺ juga bersabda:
     إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
     “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).
     Hadis ini menunjukkan bahwa inti dari pendidikan dalam Islam adalah pembentukan akhlak, bukan sekadar penguasaan ilmu atau teknologi.

    Dengan akhlak yang kuat, santri mampu menggunakan AI secara sepadan. Misalnya, AI dapat dimanfaatkan sebagai teman penyemak hafalan. Santri bisa mengecek kesalahan dalam hafalan Al-Qur’an sehingga proses untuk mutqin menjadi lebih efektif. Namun, tetap harus diingat bahwa keberkahan ilmu tidak hanya berasal dari kecanggihan alat, tetapi dari kesungguhan, keikhlasan, dan bimbingan seorang masyayikh (guru).

    Secara data, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan juga menunjukkan dampak yang signifikan. Laporan UNESCO (2023) tentang pendidikan digital menyebutkan bahwa penggunaan teknologi berbasis A.I dapat meningkatkan efisiensi pembelajaran dan membantu personalisasi materi sesuai kebutuhan siswa. Namun, laporan yang sama juga menekankan pentingnya etika dan pengawasan agar teknologi tidak disalahgunakan.

    Namun, pondok harus menanamkan batasan yang jelas: jangan sampai santri bergantung sepenuhnya pada A.I hingga mengurangi usaha pribadi atau bahkan menyalahi nilai kejujuran, seperti menyalin jawaban tanpa memahami isi.

    Dalam Al-Qur’an juga ditegaskan:
     لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
     “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
     Ayat ini mengingatkan bahwa usaha pribadi tetap menjadi kunci utama keberhasilan.

    Peran pengasuh dan pengurus sangat penting dalam membimbing santri menghadapi era ini. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menjadi teladan dalam bersikap terhadap teknologi. Dengan pendekatan yang tepat, pondok pesantren dapat tetap menjaga jati dirinya sebagai pusat pembinaan akhlak, sekaligus dapat beradaptasi terhadap perkembangan zaman.

    Pada akhirnya, A.I bukanlah ancaman bagi pondok pesantren jika disikapi dengan benar. Justru, dengan fondasi akhlak dan adab yang kuat, santri dapat menjadikan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas diri, memperdalam ilmu, dan tetap menjaga nilai-nilai luhur yang menjadi ciri khas pesantren. Serta dapat membantu seorang santri agar bisa lebih mantap lagi dalam menghafal Al-Qur’an/mempelajari materi yang ia pelajari selama di pesantren.