Category: Blog

Your blog category

  • Menyelamatkan Masa Depan Generasi Muda dari Darurat Literasi

    Menyelamatkan Masa Depan Generasi Muda dari Darurat Literasi

    Ungkapan “buku adalah jendela dunia” mengingatkan kita bahwa membaca adalah kunci utama untuk memahami berbagai ilmu pengetahuan. Melalui buku, siswa dapat memperluas wawasan, mengasah kecerdasan, dan mengenali dunia luar tanpa harus terkendala jarak. Namun, saat ini tantangan besar sedang dihadapi oleh dunia pendidikan kita karena minat membaca di kalangan siswa kian menurun, sehingga makna buku sebagai jendela dunia perlahan mulai terlupakan dan jarang disentuh oleh generasi muda.

    Faktor utama yang menyebabkan rendahnya minat baca ini adalah pengalihan perhatian ke media digital, di mana banyak siswa lebih memilih menghabiskan waktu luang mereka untuk mengakses media sosial, bermain game, atau menonton hiburan instan di gawai dibandingkan membaca buku. Selain itu, kegiatan membaca di lingkungan sekolah sering kali hanya dianggap sebagai kewajiban kaku untuk menyelesaikan tugas akademis, sehingga siswa jarang merasakan bahwa membaca bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan dan didasari oleh rasa ingin tahu yang alami.

    Kurangnya minat baca ini membawa dampak yang cukup serius terhadap kualitas berpikir siswa. Berdasarkan data dari Programme for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh OECD, kemampuan literasi membaca siswa Indonesia secara konsisten berada di kelompok bawah secara global. Dampak nyata dari kemalasan membaca ini adalah melemahnya kemampuan berpikir kritis, sehingga di era keterbukaan informasi seperti sekarang, siswa menjadi lebih mudah memercayai informasi bohong atau hoaks karena malas memverifikasi data. Selain itu, siswa juga cenderung kesulitan dalam menganalisis masalah, memahami instruksi yang kompleks, serta memiliki keterbatasan kosakata dalam berkomunikasi.

    Jika kebiasaan malas membaca ini terus dibiarkan, masa depan generasi muda akan menghadapi tantangan yang jauh lebih berat. Di masa mendatang, dunia kerja akan sangat bergantung pada teknologi canggih, kecerdasan buatan, dan kemampuan analisis tingkat tinggi. Tanpa dasar literasi yang kuat, siswa saat ini terancam kesulitan untuk bersaing di tingkat global, yang tidak hanya merugikan masa depan individu secara ekonomi karena sulit mendapat pekerjaan yang layak, tetapi juga dapat menghambat kemajuan bangsa dalam menciptakan inovasi.

    Untuk mengatasi krisis literasi ini, diperlukan langkah nyata yang konsisten dari lingkungan sekolah maupun rumah. Langkah awal dapat dimulai dengan membiasakan siswa untuk membaca selama lima belas menit setiap hari secara disiplin, di mana buku yang dibaca tidak harus selalu buku pelajaran, tetapi bisa dimulai dari buku fiksi, komik pengetahuan, atau artikel hobi yang sesuai dengan minat mereka untuk menumbuhkan kebiasaan terlebih dahulu.

    Selanjutnya, sekolah dan orang tua dapat mengenalkan platform digital resmi, seperti aplikasi iPusnas milik Perpustakaan Nasional, agar siswa dapat mengakses ribuan buku berkualitas secara gratis, aman, dan praktis melalui gawai mereka sendiri. Terakhir, setelah membaca, siswa perlu diajak untuk menceritakan kembali atau mendiskusikan poin penting dari buku tersebut bersama teman atau keluarga agar aktivitas membaca menjadi lebih interaktif sekaligus melatih kemampuan mengemukakan pendapat.

    Pada akhirnya, meningkatkan minat baca bukan hanya tugas guru di sekolah, melainkan tanggung jawab bersama karena membaca adalah investasi jangka panjang yang menentukan kualitas masa depan. Dengan mendisiplinkan diri untuk membaca sejak dini, kita sedang membantu generasi muda membuka kembali jendela dunia mereka agar siap tumbuh menjadi pemimpin yang cerdas, kritis, dan mampu bersaing di masa depan.

  • Wanita Tangguh Pejuang Al Qur’an

    Wanita Tangguh Pejuang Al Qur’an

    Oleh: Abuya Kh Abdul Mun’im Syadzili

    Beliau adalah putri dari seorang kaya raya yang sholih dan dermawan, serta mencintai Para Ulama’ dan ketika Beliau mendengar ada seorang alim dan ahli Qur’an menantu dari Syaikhul Huffadz K.H.Munawwar Nur ditinggal wafat istrinya, maka ada keinginan untuk mengambilnya sebagai menantu dan diantara putrinya yang paling besar yang belum menikah adalah Beliau yang masih usia anak-anak, maka terenggutlah bahagia masa kanak2 Beliau, karena harus menikah dengan orang yang sudah tua dan sudah punya 3 orang putra.
    Saat itu semua orang menasehati agar Beliau menolak perjodohan itu, namun ketika Beliau tahu bahwa calon suaminya adalah orang yang alim dan hafal Al-Qur’an maka Beliau tidak menolak, karena berharap bisa belajar banyak dari suaminya kelak.
    Pada tahun ‘59 terjadilah pernikahan itu dan luar biasanya selama dua tahun sesudah menikah Beliau yang masih kecil ini belum mau mendekat ke suaminya kecuali di saat mengaji dan sesudah ngaji pergi lagi.
    Sesudah dua tahun maka Beliau sudah berkenan, dan terciptalah rumah tangga bahagia dengan segala keterbatasan ekonomi, karena meskipun Beliau putri dari orang yang kaya raya, Beliau hanya diberi rumah kecil bekas gudang dan sepetak tanah kecil yang diwaqofkan pada menantunya bukan sebagai pribadi, tetapi sebagai Imam Masjid.
    Ketika Beliau sudah dianugrahi putra dan putri maka terjadi puncak masa krisisnya sampai-sampai sekedar untuk makan saja tidak ada, padahal sang Suami yang tangguh dan pekerja keras sudah mencoba usaha apapun, maka di saat itu karena khawatir Sang Suami terganggu mengajarnya, maka urusan ekonomi Beliau ambil alih dan Beliau yang bekerja mencari uang.
    Saya masih ingat bahwa ketika membutuhkan uang untuk keperluan sekolah dll selalu minta kepada Beliau, sampai suatu ketika saya telat membayar SPP, saya tidak berani masuk sekolah dan menangis sejadi-jadinya, kemudian saya diajak Beliau untuk menjual kain yang sudah dibordir ke pasar dan jualan Beliau ditolak dari toko ke toko dan pulang dengan tanpa membawa uang,
    Yang luar biasa lagi di tengah kondisi yang begitu sulit, Beliau masih sempat untuk mengaji kepada Sang Suami.
    Ketika itu sudah ada beberapa santri yang muqim, yang putra dibuatkan tempat di tanah Masjid dan yang putri menempat di ndalem yang kecil dan tidak layak, maka dengan gigihnya meskipun awalnya tidak dapat izin dari Sang Suami Beliau berusaha mendirikan asrama santri di sepetak tanah Beliau dan Alhamdulillah dg kegigihan Beliau maka mendapat restu dan izin dari Sang Suami dan jadilah pondok yang bisa ditempati santri putri, yang dulu ini diperingati setiap tanggal 13 Dzulhijjah.

    Di balik wajahnya yang teduh, Beliau merupakan sosok figur yang tegas. Beliau tidak peduli itu putranya, menantunya, santrinya, saudaranya, bahkan orang lain kalau Beliau tahu mereka berbuat kesalahan atau sesuatu yang tidak pantas, maka akan diingatkan dan dimarahi seketika. Beliau juga seorang pelindung yang luar biasa, hal ini saya masih ingat betul ketika begitu kerasnya Bapak saya sehingga suatu ketika Bapak saya menghajar putri dari Ibuk yang pertama, maka Beliau menjadi tameng bagi putri tirinya ini dan Beliau yang dihajar, dan juga pernah saya alami karena nakalnya saya, maka saya dihajar oleh seseorang, maka Beliau berdiri di tengah antara saya dan orang yang menghajar saya, sehingga Beliau yang dipukuli dan lari dikejar dan dilihat oleh banyak mata.
    Dibalik hidup yang serba kekurangan, Beliau sangat dermawan, sampai suatu waktu ketika salah seorang putranya membeli rumah, uang untuk pelunasannya dititipkan Beliau kemudian datang seseorang yang minta bantuan sambil memelas, maka uang itu diberikan semuanya tanpa tersisa dan Beliau juga seorang Ibu yang visioner dengan punya pikiran yang jauh ke depan, yang terkadang para putranya tidak mampu mengikutinya, yang diantaranya adalah ketika saat itu Asy-Syadzili belum punya apa2 dengan santri yang sangat terbatas, Beliau minta agar dibangun gedung dengan 6 lantai, dan ini tidak bisa ditawar… maka Alhamdulillah akhirnya terwujud graha manarul Qur’an.
    Mewarisi kehati2an Bapak dalam masalah hukum, maka Beliau juga sangat hati-hati, terbukti ketika saat ditinggal wafat Suami tercinta, Beliau tidak ditinggali warisan sama sekali kemudian dari orang-orang yang ta’ziyah terkumpul sejumlah uang, maka Beliau tidak berani menggunakan uang itu, karena mau dibagi waris, tapi kemudian putra-putranya matur kalau itu bukan tirkah atau tinggalan sehingga tidak perlu dibagi.
    Tidak dalam hal ini saja, tapi dalam segala hal Beliau tidak malu untuk bertanya urusan agama kepada Putra dan menantunya bahkan Beliau juga ngaji kepada putra dan menantunya.

    Ketika saya masih mondok di Singosari untuk menghafal Al-Qur’an, saya tidak pernah krasan, sehingga sering pulang dan mengadu pada Beliau, dengan dikasih bumbu-bumbu sedap biar diizinkan pulang dan Alhamdulillah curhatan ini Beliau perhatikan dengan seksama, tetapi ketika selesai Beliau dawuh “sudah selesai ngadunya ? kalau sudah, segera kembali.” karena tidak boleh boyong sebelum khotam. dan ketika ini terjadi berkali-kali maka Beliau dawuh “sebagai orang tua saya tidak mau kalah dengan anak.” “apakah kamu tega memasukkan org tuamu ke dalam neraka ?” Dawuh ini yang terngiang sampai saat ini.
    Dan ketika saya hampir lulus SMA, saya ikut program PBUD (penjaringan bibit unggul daerah) UGM dengan mengambil jurusan kedokteran, tapi anehnya tiba-tiba saya ingin mondok ke Ploso dan saat itu saya didatangi tokoh-tokoh NU untuk masuk kedokteran, karena alasan Beliau-Beliau agar ada orang NU yang menjadi dokter, dan keinginan mondok menjadi goyah, maka Beliau dawuh “kalau sudah punya niat yang baik dan mulia maka jangan mudah digoyahkan oleh siapapun”.
    Dan ketika Ayahanda wafat maka santri-santri yang tersisa sowan kepada Beliau, dan matur kalau saya tetap bertahan di Ploso semua akan boyong, maka dengan tegas Beliau dawuh, “apapun yang terjadi Anak saya tetap harus bertahan di Ploso.” karena ngugemi wasiat dari Suami tercinta dan ketika kedaan sudah menuntut saya harus pulang, saya matur Mbah Yai untuk diizinkan pulang, dan ternyata tidak mendapat izin, maka Beliau minta saya untuk nurut Mbah Yai, karena di situ ada hal yang lebih penting,
    Yaitu barokah.

    Pada akhir tahun 1991, Ayahanda wafat dan sekitar 14 hari sebelum wafat memberikan wasiat kepada Beliau, (sebagaimana cerita Beliau kepada saya) yang diantara wasiatnya adalah, “agar tidak ada satu anak pun yang putus pendidikan, baik yang mondok maupun yang sekolah atau kuliah” padahal saat itu, dari 9 putra putri Beliau yang sudah menikah hanya satu, sehingga Beliau mendapat amanat untuk menuntaskan pendidikan dari 8 putra-putrinya dengan tanpa tinggalan warisan apa-apa, dan saat itu jumlah santri bisa dihitung dengan jari.
    Inilah episode terberat dalam perjalanan hidup Beliau, yang harus banting tulang untuk menghidupi keluarga, sendirian, tanpa modal warisan dan harus membiayai pendidikan putra-putrinya sesuai amanat dari sang Suami, dengan tanpa ada barang berharga yang bisa dijual.
    Sehingga segala cara Beliau lakukan sampai-sampai ketika Beliau menanak nasi Beliau menyisakan satu genggam beras untuk dikumpulkan selama satu bulan, namun dibalik kesulitan itu Beliau tetap aktif ikut mendidik para santri dan aktif di organisasi-organisasi kemasyarakatan.
    Yang mengherankan adalah, semua putra-putrinya tetap bisa tercukupi untuk biaya hidup dan pendidikannya, seakan Beliau hidup dalam kecukupan.
    Alhamdulillah satu demi satu putra/i nya menuntaskan masa pendidikannya, bahkan sebagian sudah mampu membantu perekonomian keluarga, dan pondok sudah mulai bertambah jumlah santrinya, karena meski belum sempurna tapi sudah ada putra yang berkenan mengurusnya dan akhirnya semua putra/i nya sudah berkeluarga dan terentaskan di tangan Beliau.
    Alhamdulillah dengan perjuangan Beliau berdirilah pesantren Asy-Syadzili 1-6 dan tiga putra Beliau yang tidak mengasuh pesantren, ada yang aktif di dunia pendidikan dan ada yang aktif dalam pengabdian masyarakat, sebagai dokter dan semuanya ikut berperan aktif dalam pengembangan pesantren Asy-Syadzili.
    Beliau orang yang sangat aktif dan tidak mau diam,maka dalam usia sepuhnya, Beliau mengajar santri-Santri yang masih belum lancar membaca Al-Qur’an dan menyimak santri-santri yang mau setor hafalan, dan Beliau aktif ngaji kepada putra dan menantunya.
    Beliau juga mengumpulkan Ibu-ibu untu diajak mengaji, dengan mewajibkan putra dan menantunya untuk aktif meluangkan waktu untuk mereka, dan yang luar biasa tidak ada waktu bagi Beliau kecuali untuk menghafal Al-Qur’an, sehingga kemanapun Beliau pergi, Beliau mengajak dua orang santri untuk menyimak hafalan Beliau selama di perjalanan, dan yang membuat hati saya terharu adalah setiap pagi dengan duduk di atas kursi roda Beliau Rawuh ke rumah saya, dengan didampingi dua orang santri untuk menghafalkan.
    Saat itu di Asy-Syadzili 1 sedang ada peringatan Haul Al-Habib Abubakar Al-Athos, karena sedang merebak wabah corona, sehingga acara yang sesmestinya di ndalem Habib Abdurrahman, dipindah ke pondok dan saat itu Beliau hadir di rumah tetapi di tengah-tengah acara Beliau merasa tidak enak badan dan minta dibawa ke RS dan sesampai di RS diswab dan hasilnya negatif maka bisa masuk ke kamar perawatan biasa dan Alhamdulillah semua keluarga bisa menjenguk ke RS tiba-tiba di malam harinya ada telfon dari RS kalau sesuai hasil pemeriksaan Beliau positif terkena wabah corona, maka harus dirujuk ke RS lain yang menangani covid 19.
    Malam itu semua keluarga berkumpul di RS, karena secara medis sudah sulit diharapkan sembuh dan Beliau pun tidak mau didoakan sembuh, tetapi minta dido’akan husnul khotimah, karena itu kita secara bergantian, kita mentalqin Beliau via telfon genggam, karena kebetulan putra dan cucu Beliau yang dokter diizinkan untuk mendampingi Beliau, di tengah-tengah kita mentalqin, dengan suara lantang Beliau dawuh “Ya Allah biha Ya Allah biha Ya Allah bihusnil khotimah”.
    Pagi itu di tanggal 23 Dzulqo’dah Beliau menghembuskan nafas terakhir dan Alhamdulillah bisa dimandikan dan dikafani oleh keluarga kemudian dimasukkan peti jenazah dan dibawa pulang, tidak dengan ambulan tapi dengan mobilnya sendiri dan sesampai di pondok disholati oleh banyak penta’ziyah dan dimakamkan di pondok, di sini saya teringat setiap pagi menjelang wafatnya Beliau selalu rawuh ke pondok seakan isyarat Beliau akan bersemayam di pondok, untu tetap menunggui santri-santrinya.
    Alhamdulillah ketika pemakaman saya bisa mendampingi sampai ke liang lahad meski tanpa berpakaian APD (pakaian khusus untuk jenazah covid) dan kegiatan tahlil selama 7 hari selalu banyak yang hadir, para penta’ziyah tidak pernah berhenti dan tidak lazimnya berlaku pada jenazah covid yang lain, sesudah 7 harinya semua yang mendampingi Beliau mulai dari RS sampai selesai pemakaman diswab dan Alhamdulillah berkah Beliau tidak ada satupun yang terjangkit wabah ini.

    Kami merindukan Panjenengan semoga kelak kami dikumpulkan dengan Panjenengan.

  • Hari ke-4 rangkaian Haul-35: Majelis Ta’lim Wad Da’wah Ar-riyadh dan Pembacaaan Sholawat Dalailul Khoirot

    Hari ke-4 rangkaian Haul-35: Majelis Ta’lim Wad Da’wah Ar-riyadh dan Pembacaaan Sholawat Dalailul Khoirot

    Santripasir.id Sabtu (15/11/2025) adalah hari ke empat rangkaian acara Haul Akbar KH. Ahmad Syadzili Muhdlor ke-35, yang diisi dengan Majelis Ta’lim Wad Da’wah Ar-riyadh dan pembacaan Sholawat Dalailul Khoirot. kegiatan berlangsung di panggung utama PPSQ Asy-Syadzili 1. Pembacaan Sholawat Dalailul Khoirot dimulai ba’da ashar, dihadiri oleh seluruh santri dan para jama’ah Dalailul Khoirot. Menjelang maghrib, setelah pembacaan Dalailul Khoirot selesai, seluruh jama’ah bergeser ke masjid PPSQ Asy-Syadzili 1 untuk menjalani jama’ah sholat maghrib sekaligus Khataman dalam Sholat.

    Selepas Maghrib, rangkaian selanjutnya digelar. Majelis Ta’lim Wad Da’wah Ar-riyadh yang dipimpin langsung oleh KH. Mas Aly Fikri berjalan dengan meriah. acara dipenuhi berbagai kalangan, baik santri, alumni, Masyarakat sekitar, hingga jama’ah Ar-riyadh yang berbondong datang dari pasuruan. Gema sholawat memenuhi seluruh penjuru pesantren. Dengan penuh semangat, KH. Mas Aly Fikri turut mengajak dan mendoakan siapa pun yang mengangkat suaranya dalam bersholawat. 

    Setelah pembacaan syair dan sholawat, hadir Al Habib Musthofa Alaydrus  untuk menyampaikan Mauidloh Hasanah. Dalam kesempatan ini, beliau menyampaikan betapa pentingnya bersholawat:

    “Manfaat sholawat bukan hanya bermanfaat kepada diri sendiri melainkan juga kepada orang tua kita, maka sholawat adalah bagian dari Birul Walidain.” 

    selain itu beliau juga mengingatkan kepada seluruh jama’ah untuk tidak mengedepankan hadir dalam majelis maulid saja, tapi juga selalu ingat kepada orang tua. Di akhir penyampaiannya, beliau menekankan kepada seluruh generasi muda maupun orang tua untuk saling menjaga dari siksa neraka, yang dimana, penyebabnya bisa datang dari mana saja bahkan dari hal remeh sekalipun.

    Usai Mauidloh Hasanah yang di sampaikan oleh Al Habib Musthofa Alaydrus,

    seluruh jamaah berdiri untuk mahallul qiyam. Do’a penutup setelahnya, mengakhiri rangkaian acara Haul Akbar KH. Ahmad Syadzili Muhdlor ke-35 pada malam ini.

  • Semarak Sholawat Burdah Di Malam Penuh Berkah

    Semarak Sholawat Burdah Di Malam Penuh Berkah

    Rangkaian acara memperingati Haul akbar KH. Ahmad Syadzili Muhdlor ke-35 berlanjut dengan kegiatan Sholawat burdah pada Kamis (13/11/2025). Seluruh santri mengikuti pembacaan Qosidah Burdah dengan khidmat. Acara ini bertempat di PPSQ Asy-Syadzili 1, tepatnya dipanggung utama. Dengan adanya Sholawat burdah dalam rangkaian acara ini, kita mengharapkan syafaat dari kanjeng nabi sekaligus barokah dari Kyai Syadzili.

    Pembacaan Qosidah Burdah berjalan dengan khidmat namun tetap semangat, seluruh santri melantunkan Qosidah yang dikarang Imam Bushiri dengan lantang.
    Pembacaan Sholawat burdah diakhiri dengan doa oleh Ust. Unais Muhidi, salah satu alumni Asy-Syadzili.

    Pembacaan Qosidah Burdah rutin diadakan disetiap Peringatan Haul Akbar KH. Ahmad Syadzili Muhdlor. Berikut inilah alasan mengapa acara pembacaan Qosidah Burdah selalu menjadi pilihan, menurut Ust. Ahmad Nizar selaku wakil ketua panitia Haul Akbar KH. Ahmad Syadzili Muhdlor ke 35.

    “Selain untuk memperingati acara Haul, kita juga mengajak seluruh teman-teman untuk mengingat Rasulullah SAW dan juga kita membaca shalawat yang lain seperti: sholawat simtudduror, Majelis sholawat Dzikrul ghofilin, Majelis sholawat Dalailul Khoirot dan lain-lain.”

    beliau menuturkan, selain untuk mengharap barokah dari Simbah Yai Syadzili, momen ini juga dimanfaatkan untuk mengajak para santri mengingat Baginda Nabi Muhammad SAW melalui Sholawat-sholawat yang dilantunkan.

    Setelah Acara ditutup dengan pembacaan Syi’ir Simbah Yai Syadzili dan pembagian konsumsi kepada para santri, Kegiatan malam ini diakhiri dengan harapan mendapat barokah ilmu dari sang muassis pondok pesantren Asy-Syadzili.

  • Menilik Sepintas Kekuatan Cinta dalam Beragama dari Buku Tuhan Maha Asyik 2

    Menilik Sepintas Kekuatan Cinta dalam Beragama dari Buku Tuhan Maha Asyik 2

    Pada 2020 silam, terbit seri kedua dari Tuhan Maha Asyik, sebuah buku hasil kolaborasi dari —meminjam istilah dari Gus Mus— dua ‘musafir di jalan Allah’ yakni Mbah Sujiwo Tejo dan Dr. Mohammad Nur Kamba. Berangkat dari latar belakang yang berbeda membuat buku yang lahir dari tangan keduanya otentik dan eksotis.

    Mbah Tejo, seorang budayawan yang suka matematika. Membangun karakter dengan keragaman budaya dan kepercayaan yang diwakili oleh nama-nama tiap tokoh di dalamnya, yakni Buchori, Samin, Pangestu, Parwati, Dharma, Christine dan Kapitayan. Lain dengan Buya Kamba, seorang intelektual tasawuf yang menghabiskan sarjana sampai doktoralnya di Universitas Al-Azhar, Cairo, dengan mendalami bidang Akidah & Filsafat. Beliau memberikan pencerahan hikmah atau maksud dari kisah tujuh sekawan jagoan Mbah Tejo dan menyampaikan kasih sayang Tuhan terhadap hamba-Nya.

    Sebagaimana seri sebelumnya, kisah-kisah yang disampaikan berbicara tentang tuhan dan agama dengan analogi yang memancing daya kritis pembaca untuk mendapatkan gagasan besar yang disiratkan dengan sengaja. Pesannya tidak semata-mata berbicara tentang doktrin keagamaan, tetapi menembus batas cara berpikir yang lazim dianut oleh kebanyakan orang beragama. Dalam sinopsis resmi dikatakan bahwa urgensi penerbitan sekuel ke-2 Tuhan Maha Asyik merupakan kritik akan maraknya fenomena beragama yang dimonopoli untuk kepentingan syahwat dunia.

    Mengutip rangkuman apresiasi dari Habib Haidar Bagir, bahwa keberagamaan sejati bukanlah perkara simbol dan dogma semata, melainkan perjalanan cinta menuju Tuhan. Ia menyoroti bahwa ilmu dan agama akan kehilangan makna jika tak disertai kelembutan hati dan kebijaksanaan batin. Bagi beliau, agama sejati justru menumbuhkan kasih, bukan kebencian; menumbuhkan cinta, bukan eksklusivisme. Ia mengingatkan bahwa inti agama adalah pengakuan atas keesaan Tuhan dan kebebasan yang dianugerahkan-Nya kepada manusia. Pada akhirnya, seperti kutipan Rumi yang turut ia sertakan, seluruh pencarian spiritual bermuara pada kepasrahan dan cinta yang tak terpisahkan dari Sang Pencipta.

    Bagian favorit saya merupakan bab pertama “Nikmat Teh Mana Lagi yang Kau Dustakan”, ketika Christine menyajikan teh terbaik kepada ibunya dengan cangkir peninggalan dinasti ming yang harganya bisa selangit kalau dijual. Usai menyesapnya Ibu Christine seketika berteriak, “Christine, dengan cangkir miliaran begini kenapa sore ini kau beri ibu teh yang sangat buruk?” Padahal, di kesempatan sebelumnya Ibu Christine senang-senang saja disuguhi berbagai macam teh. Baru ketika disandingkan dengan cangkir miliaran, teh itu terasa kurang, tak sebanding.

    Kisah itu merupakan analogi dari bagaimana manusia sering kali kehilangan esensi dari kenikmatan sejati ketika terlalu terikat pada simbol, bentuk, dan atribut luar agama. Dalam bab ini, Mbah Tejo dan Buya Nursamad Kamba mengajak pembaca untuk merenungkan bahwa agama sejatinya bukan sekadar seperangkat aturan, ritual, atau simbol, tetapi sesuatu yang harus “disejiwai” dan dihayati dalam kehidupan sehari-hari.

    Layaknya teh yang baru terasa nikmat ketika benar-benar diminum dan diresapi, agama pun demikian—ia baru menghadirkan ketenangan dan produktivitas jika benar-benar dihidupi, bukan sekadar dijalankan secara formal. Ketika agama hanya dipahami sebagai sistem aturan atau ritual keagamaan, maka kenikmatan spiritual menjadi semu, bahkan hilang.

    Bab ini juga menyinggung bahwa Tuhan adalah Kebaikan Absolut yang tidak bisa didefinisikan atau dikonsepsikan secara terbatas oleh akal manusia. Tuhan hanya dapat dipahami melalui refleksi perbuatan baik dan cinta. Karena itu, segala profesi dan pengabdian yang dilakukan dengan keikhlasan dan cinta—entah itu bertani, mengajar, berkarya seni, atau meneliti—sejatinya juga merupakan bentuk ibadah.

    Hal ini sejalan dengan apa yang guru kami ajarkan, “Beragama itu pakai hati. Karena Tuhan memandang manusia, bukan dari dzohirnya, tapi bathin. Aksi (dzohir) hanyalah manifestasi dari hati (bathin) manusia.” Hubungan antara hati dan cinta dalam beragama sangat romantis. Karena di dalam hatilah kita merasakan cinta, rahmat, peduli yang kemudian tergambarkanlahkonsep akan cinta dari akhlaq, perilaku.

    Akhirnya, penulis menegaskan bahwa puncak kenikmatan tertinggi bukan terletak pada ritual atau simbol keagamaan, melainkan pada pertemuan dengan Tuhan melalui kesadaran dan cinta yang tulus dalam setiap aspek kehidupan.

    Secara keseluruhan, pembahasan dalam sekuel ini lebih mendalam dan panjang sehingga ilmu yang didapatkan lebih banyak dari sebelumnya. Dan sebagai catatan, saya menyarankan dalam membaca Tuhan Maha Asyik 2 pembaca tidak menelan kosong wawasan yang diberikan, tapi juga mengkritisi sembari merenungkannya. Selamat Membaca!

    Jazakumullah Khair

  • PUASA TERNYATA BIKIN BUGAR DAN AWET MUDA

    PUASA TERNYATA BIKIN BUGAR DAN AWET MUDA

      Selain jalan menuju ridho Allah SWT, ternyata puasa juga sangat bermanfaat bagi kesehatan fisik maupun mental. Dalam beberapa penilitian, ilmuwan telah menemukan beberapa manfaat dan efek samping puasa bagi kesehatan tubuh dan mental manusia yang menjalaninya. Dikutip dari buku The fasting cure karya upton sinclair (1878-1968) berikut beberapa ulasannya.

      Membersihkan racun di dalam tubuh secara alami

    Detoksifikasi adalah proses pengeluaran racun di dalam tubuh secara alami. Menurut peneliti, berpuasa dapat memicu detoksifikasi dan memungkinkan tubuh untuk berfokus pada penyembuhan dan regenerasi sel-sel tubuh yang rusak tanpa gangguan dari proses pencernaan.

      Pemulihan dari penyakit

    Berpuasa juga dapat menyembuhkan beberapa penyakit, seperti gangguan pencernaan, obesitas, radang sendi dan masih banyak lagi

      Peningkatan kesehatan mental

    Peniliti juga mengklaim, Selain manfaat fisik, puasa dapat meningkatkan kejernihan mental, fokus, dan bahkan suasana hati. Proses ini dianggap memberi waktu bagi tubuh untuk mengalihkan energi yang biasanya digunakan untuk pencernaan ke proses penyembuhan lainnya.

    Studi lain juga membuktikan bahwa puasa dapat meningkatkan aktivitas metabolisme dan mencegah penuaan dini. Studi mengatakan berpuasa khususnya yang dilakukan saat ramadhan, sama dengan program diet yang cukup populer, yaitu intermiten fasting yang mengatur pola makan, waktu makan, dan makanan yang dikonsumsi.

    Tapi puasa tidak selamanya baik bagi sebagian orang, lebih-lebih mereka yang baru mulai berpuasa, beberapa efek samping rentan menyerang, antara lain :

      Kelelahan atau Lemah di Awal Puasa

    peniliti mengatakan bahwa orang yang belum terbiasa berpuasa dapat mengalami Lelah dan lemah di hari-hari pertama. Hal ini dikarenakan tubuh belum dapat beradaptasi dengan perubahan pola makan dan mulai beralih dari proses pencernaan makanan yang terus- menerus ke proses penyembuhan dan detoksifikasi.

      Pusing atau Sakit Kepala

    Pusing dan sakit kepala adalah efek samping umum yang dapat muncul pada beberapa hari pertama puasa. Ini bisa disebabkan oleh penurunan kadar gula darah atau ketidakseimbangan elektrolit yang terjadi ketika seseorang tidak makan atau minum untuk jangka waktu lama.

      Perubahan Mood atau Irasibility (Mudah Tersinggung)

    Pada beberapa orang, puasa bisa menyebabkan perubahan mood, seperti perasaan mudah tersinggung, marah, atau bahkan cemas. Hal ini disebabkan oleh perasaan lapar atau ketidakseimbangan hormon yang terjadi ketika tubuh mulai beradaptasi dengan puasa.

      Risiko untuk Orang dengan Kondisi Kesehatan

    peneliti juga memperingatkan bahwa orang dengan kondisi medis tertentu, seperti diabetes, tekanan darah rendah, atau gangguan jantung, harus berhati-hati dalam melakukan puasa. Bagi mereka yang memiliki kondisi seperti itu, puasa bisa memengaruhi kadar gula darah atau keseimbangan elektrolit mereka, yang bisa berbahaya.

    Maka alangkah baiknya kita memperhatikan kondisi tubuh terlebih dahulu sebelum memulai berpuasa, mengidentifikasi Riwayat penyakit yang selama ini kita miliki, dan memberi penanganan sesuai arahan profesional. Metode puasa bedug yang diterapkan orangtua saat kita kecil dulu mungkin dapat membantu puasa dengan sehat dan bertahap, apalagi bagi kita yang memiliki riwayat penyakit tertentu dan baru ingin mulai berpuasa.

    Jazakumullah khairan jaza

  • Hello world!

    Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!