Mutiara Dawuh Habib Abdul Qodir Ba’abud di Acara Majelis Ta’lim Wad Da’wah Ar-Riyadh

Written by

in

Rangkaian malam keempat Haul Akbar KH. Ahmad Syadzili Muhdlor ke-36 diisi dengan pelaksanaan Majelis Ta’lim Wad Da’wah Ar-Riyadh yang berlangsung meriah di panggung utama PPSQ Asy-Syadzili 1. 

Majelis yang dipimpin oleh KH. Muhammad Ali Fikri bin Machfudz Ali (Gus Ali Fikri) diawali dengan penampilan drum band Tim Gita Varadisa dari SMP IT Asy-Syadzili yang menambah semarak malam keempat Haul Akbar.

Kehadiran beliau disambut hangat oleh para santri dan jamaah melalui lantunan sholawat Thola’al Badru, yang menggema di area panggung utama PPSQ Asy-Syadzili 1. Acara kemudian dibuka dengan sambutan singkat Gus Ali Fikri yang menyampaikan pentingnya membaca Al-Fatihah serta mengajak para hadirin untuk memiliki cita-cita tinggi sebagai landasan dalam menjalani kehidupan.

Kemeriahan berlanjut dengan lantunan sholawat hadroh dari Majelis Ar-Riyadh, kemudian dilanjutkan dengan Mahallul Qiyam. Seluruh santri dan jamaah berdiri bersama sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan cinta kepada Rasulullah SAW. Suasana semakin khidmat ketika lantunan sholawat diikuti oleh seluruh hadirin.

Usai pelaksanaan Mahallul Qiyam, acara dilanjutkan dengan mauizah hasanah yang disampaikan oleh Habib Abdul Qodir Ba’abud. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan sejumlah nasihat dan pesan keagamaan kepada para jamaah. Beliau mengawali dawuh dengan ungkapan syukur, kemudian mendoakan kebaikan bagi seluruh jamaah serta dzurriyah KH. Ahmad Syadzili Muhdlor.

Beliau mengungkapkan bahwa kehadirannya dalam majelis tersebut sebenarnya tidak direncanakan. Saat hendak melakukan rihlah, beliau merasa kurang enak karena ternyata telah diundang untuk menghadiri majelis tersebut melalui Gus Ali Fikri.

Beliau menyampaikan bahwa salah satu nikmat besar yang diberikan Allah Swt. kepada manusia setelah Islam dan iman adalah memiliki teman yang saleh, terlebih seorang guru. Sayyidina Umar pernah berkata bahwa di antara nikmat istimewa yang diberikan Allah setelah Islam dan iman adalah teman yang saleh.

Habib Ali juga menyampaikan bahwa seseorang yang hidup di dunia tanpa memiliki guru akan mudah terombang-ambing oleh berbagai fitnah kehidupan.

Mengutip perkataan Habib Al-Haddad, beliau menjelaskan bahwa kehidupan dunia memang penuh dengan kerumitan. Beliau juga menceritakan kisah seorang santri Habib Abdullah bin Husein bin Thahir yang mengatakan bahwa dirinya tidak pernah merasakan rumitnya kehidupan dunia, kecuali setelah gurunya wafat. Sebab, ketika duduk bersama sang guru, ia selalu memperoleh manfaat dan ketenangan.

Beliau kemudian menjelaskan empat faedah duduk bersama orang saleh, yaitu:

  1. Mendapatkan ketenangan. Allah memiliki surga di bumi, yaitu majelis zikir. Siapa pun yang memasukinya akan memperoleh ketenangan.
  2. Menjadikan setiap aktivitas bernilai akhirat. Dengan bimbingan orang saleh, seseorang akan terbiasa mengamalkan sunah Nabi. Habib Umar menyampaikan bahwa tidur seseorang yang mengikuti sunah Nabi pun dapat bernilai ibadah. Oleh karena itu, disebutkan bahwa tidurnya orang alim lebih utama daripada ibadahnya orang bodoh.
  3. Memiliki arah kehidupan yang jelas. Orang saleh akan menunjukkan jalan hidup terbaik sehingga seseorang tidak mudah kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.
  4. Memiliki kompas menuju surga. Seorang santri yang menimba ilmu di pesantren sejatinya telah dibekali kompas yang senantiasa menunjukkan arah menuju surga. Sebab, ilmu merupakan kompas kehidupan akhirat yang akan membimbing seseorang dalam kondisi apa pun.

Beliau menegaskan bahwa tujuan hidup manusia hanya satu, yakni kembali kepada Allah dan meraih surga-Nya. Kehidupan dunia bukanlah tempat tinggal yang sesungguhnya, melainkan tempat mengumpulkan bekal untuk kehidupan setelah kematian. Allah menguji manusia untuk mengetahui siapa di antara mereka yang paling baik amalnya.

Menurut beliau, terdapat tiga hal yang dapat membuat seseorang lalai terhadap akhirat, yaitu dunia, setan, dan hawa nafsu. Untuk menghindarinya, ada dua hal yang perlu dilakukan: senantiasa menjalin hubungan dengan orang saleh agar terhindar dari tipu daya setan serta memperbanyak mengingat kematian.

Rasulullah saw. menganjurkan umatnya untuk memperbanyak mengingat sesuatu yang dapat memutus kelezatan dunia, yaitu kematian. Beliau juga mengingatkan bahwa kelak manusia akan berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya.

Beliau kemudian mengutip hadis Rasulullah saw. tentang keutamaan menuntut ilmu, bahwa siapa pun yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.

Beliau menjelaskan bahwa tujuan seseorang mondok dalam waktu yang lama bukan semata-mata untuk menjadi kiai. Sebab, kedudukan sebagai kiai merupakan pilihan Allah Swt. Menurut beliau, ada tiga hal yang menjadi bekal seseorang untuk memperoleh kemuliaan tersebut, yaitu memiliki hati yang bersih, patuh kepada orang tua, serta menghormati guru.

Beliau juga mengutip perkataan salah seorang ulama yang menyatakan bahwa dirinya dapat meninggal dengan tenang karena memiliki santri-santri yang kelak akan melanjutkan perjuangannya.

Nikmat besar yang dimiliki seorang santri adalah memiliki guru. Namun, menjadi seorang guru bukanlah perkara mudah. Beliau menjelaskan tiga syarat yang harus dimiliki seorang guru.

  1. Memiliki guru. Ilmu harus memiliki sanad atau mata rantai keilmuan yang jelas. Mengutip perkataan Habib Salim, satu ilmu yang didengar langsung dari guru lebih baik daripada seratus bahkan seribu faedah yang dibaca tanpa bimbingan guru. Beliau juga menyampaikan bahwa para santri patut bersyukur dapat menimba ilmu di pesantren tersebut karena memiliki kiai yang senantiasa mengutamakan kehidupan akhirat.
  2. Mengamalkan sunah Nabi. Seorang guru merupakan teladan yang meneruskan ajaran Rasulullah saw. Oleh karena itu, ketika seseorang ingin menyambungkan hubungan keilmuannya dengan guru, ia harus berusaha meneladani kebiasaan baik sang guru, seperti menggunakan siwak.
  3. Memiliki ilmu. Beliau mengingatkan agar para santri tidak sembarangan mengikuti seseorang yang memiliki kondisi majdub. Dalam menyikapi orang tersebut, santri harus tetap mengedepankan husnuzan dan sopan santun.

Beliau kemudian mengingatkan bahwa memiliki guru seperti KH. Ahmad Syadzili Muhdlor merupakan nikmat yang patut disyukuri. Salah satu kebiasaan yang perlu dimiliki oleh setiap santri adalah melaksanakan qiyamul lail.

Mengutip perkataan Syekh Ismail Al-Jabarti, beliau menyampaikan bahwa Allah menyimpan berbagai kebaikan pada waktu malam. Tidaklah seseorang diangkat derajatnya menjadi wali Allah, kecuali melalui amalan yang dilakukan pada malam hari.

Beliau menjelaskan empat keistimewaan qiyamul lail, yaitu:

  1. Menjadi salah satu jalan menuju derajat kewalian.
  2. Mengangkat derajat dan kemuliaan seseorang.
  3. Menjadi sarana memperoleh ilmu. Beliau mengibaratkan santri yang tidak melaksanakan qiyamul lail seperti orang yang hanya memancing, bukan menjaring ilmu.
  4. Memberikan ketenangan hati.

Beliau juga mengutip perkataan Imam Al-Haddad yang menyampaikan bahwa ilmu yang diperolehnya merupakan buah dari usaha membersihkan hati dari kecintaan berlebihan terhadap dunia dan membiasakan diri bangun pada malam hari.

Untuk menggambarkan keistimewaan malam, beliau menceritakan kebiasaan Habib Abu Bakar Al-Adni yang bahkan mengungkapkan kecintaannya terhadap waktu malam melalui sebuah syair. Dalam syair tersebut, beliau seolah meminta ayam agar tidak berkokok dan fajar agar tidak segera datang, sehingga waktu malam dapat berlangsung lebih lama untuk menikmati keberkahan ibadah.

Pada bagian akhir tausiyah, beliau menyampaikan bahwa KH. Ahmad Syadzili Muhdlor merupakan sosok yang termasuk ahlul Qur’an. Beliau menjelaskan bahwa para wali memiliki tingkatan derajat, dan salah satu derajat yang tinggi adalah mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama kehidupannya.

Beliau juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam ibadah. Mengutip sabda Rasulullah saw., beliau menegaskan keutamaan membaca Al-Qur’an sebagai salah satu bentuk ibadah yang paling utama.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *