Mutiara Dawuh Gus Sabuth di Majelis Dzikrul Ghofilin Haul Mbah Syadzili

Written by

in

Pelaksanaan Dzikrul Ghofilin pada malam ketiga Haul Akbar KH. Ahmad Syadzili Muhdlor ke-35 di panggung utama PPSQ Asy-Syadzili 1 berlangsung khusyuk. Usai lantunan sholawat banjari dan pembacaan wirid yang dipimpin Agus H. Ferry Husnul Maab, acara dilanjutkan dengan mauidhoh hasanah oleh Agus H. Sabuth Panoto Projo. 

Dalam ceramahnya yang disimak penuh hikmat oleh santri dan ratusan jamaah, Gus Sabuth menguraikan secara mendalam mengenai Dawuh Gus Sabuth

Diawali dengan ucapan salam, puji syukur kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, serta penyampaian penghormatan kepada Bani Syadzili Muhdlor. Dalam dawuhnya, beliau berdoa serta menjelaskan tentang perjalanan KH. Ahmad Syadzili Muhdlor. Meskipun beliau telah berpulang 36 tahun yang lalu, tradisi baik yang beliau tinggalkan seperti sema’an Al-Qur’an dan kebaikan lainnya hingga masih tetap terjaga hingga kini. Semoga Allah SWT memberikan derajat yang mulia kepada beliau.

Beliau bercerita bahwa Mbah Yai, ketika masih sehat, diberi amanah untuk mendirikan pesantren dan merawat para santrinya. Beliau pun berdoa semoga kubur Mbah Yai menjadi taman surga dan para dzurriyah (keturunan)-nya kelak masuk surga.

Salah satu putra Almaghfurlah, yakni Abuya KH. Abdul Mun’im Syadzili, membuat beliau merasa kagum. Beliau kagum kepada Abuya karena Allah SWT memberikan jalan peningkatan derajat akhirat melalui ujian sakit pada fisik beliau. Sesungguhnya, bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya yang saleh itu tidak selalu berupa kenikmatan duniawi, melainkan terkadang melalui bentuk ujian yang orang awam sendiri tidak sanggup melewatinya. Yang sangat beliau kagumi adalah meskipun Abuya diberi sakit, Abuya hampir tidak pernah mengeluh sedikit pun, meski Allah terus menambah bobot ujian sakitnya.

“Kelak yang akan mendominasi penghuni surga adalah orang-orang yang ridha dan ikhlas atas ketetapan Allah.”

Dawuh yang sering didawuhkan oleh Gus Miek adalah bahwa setiap hari Allah mengutus malaikat khusus untuk turun ke tengah-tengah manusia. Tujuannya adalah untuk memberikan ujian kepada kita satu per satu. Allah memberikan ujian tersebut karena ingin mengetahui: ketika diuji, apakah kita akan mengeluh atau justru memperbanyak bacaan hamdalah? Semoga Abuya senantiasa diberi kesehatan, umur panjang, serta keberkahan dalam merawat para santrinya. Semoga pula peninggalan Mbah Yai yang kini diasuh oleh Abuya diberi kejayaan dan manfaat hingga hari kiamat.

Kita seharusnya merasa beruntung karena dapat menimba ilmu di pondok yang bagus dengan kiai yang luar biasa. Abuya sangat tidak memedulikan hal lain selain fokus pada santri-santrinya. Beliau teringat dawuh bahwa kelak di hari akhir, mencari guru yang benar-benar dapat dipercaya itu ibarat mencari jarum di dalam lautan. Oleh karena itu, kalian seharusnya berbahagia bisa bermukim (mondok) di sini. Semoga cita-cita kalian tercapai serta ilmu yang didapat menjadi berkah di dunia dan akhirat.

Seandainya kalian diberi umur 60 tahun, berarti saat ini perjalanan hidup kalian baru menjalani sekitar sepertiganya. Pada usia muda ini, seharusnya manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya untuk belajar agar memperoleh keberkahan ilmu. Di usia kalian sekarang, wajar jika belum banyak tahu tentang rahasia dunia, karena banyak orang di luar sana yang mengejar dunia dengan cara apa pun, terlebih ketika mereka diberi ujian yang berbahaya.

Sebagai gambaran, kelak jika kalian sudah lulus dan pulang ke masyarakat, kalian akan tahu bahwa kehidupan dunia luar saat ini hampir tidak lagi memedulikan apakah suatu hal itu haram atau halal; yang ada di pikiran mereka hanyalah “yang penting saya harus hidup.” Manusia bisa terjebak dalam hubbuddunya (cinta dunia) yang berlebihan sehingga tidak sadar ke mana arah tujuannya.

Pada rentang tahun 1900-an hingga akhir 1990-an (menjelang tahun 2000), masjid dan musala selama 24 jam tidak pernah dikunci karena anak-anak pada masa itu masih senantiasa ingat kepada Allah. Sedangkan pada zaman sekarang, tempat ibadah sering kali dikunci karena sudah jarang orang yang ingat. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW bahwa kelak manusia akan berlomba-lomba membangun masjid yang megah, tetapi sepi dari jamaah.

Saat ini banyak orang pintar dan berilmu, tetapi orang yang benar-benar baik itu sedikit. Beliau sangat kagum kepada Abuya karena sosok seperti beliau sangat langka; hampir tidak ada orang lain yang kebaikannya setulus beliau di zaman sekarang.

Janganlah kamu tertipu oleh ibadah-ibadahmu semata. Yang justru harus kamu perhatikan adalah bagaimana perlakuan dan sikapmu terhadap orang lain. Beliau berharap melalui keberkahan acara ini, kita semua mendapat kekuatan iman dalam menghadapi tantangan zaman.

Apa hubungannya acara haul dengan Dzikrul Ghofilin (dzikir karya Gus Miek)? Abuya sangat paham bahwa manusia jika sudah berada di dalam kubur tidak lagi membutuhkan pidato; ceramah hanya dibutuhkan saat ditalkin saja. Setelah itu, seluruh penghuni kubur hanya membutuhkan lantunan kalimat-kalimat thayyiabah.

Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda kepada istrinya bahwa alam kubur adalah tempat yang sangat mengerikan, gelap, dan mencekam. Lalu dengan apa kita dapat mengagungkan orang yang sudah berada di kubur? Yakni dengan bacaan Al-Qur’an dan dzikir.

Jika kalian bertanya mengapa ceramah beliau tidak diselingi dengan humor/guyonan, alasannya adalah karena majelis malam ini dibuat serius demi menghormati Haul Mbah Yai. Kita tidak selamanya hidup di dunia dan setiap kehidupan pasti memiliki akhir. Tidak ada jaminan pula bahwa kita pasti selamat dari siksaan Allah SWT.

Ada hal yang tak kalah penting dari ini: hormatilah orang tuamu. Selagi orang tua masih ada di dunia, jangan pernah menyia-siakan mereka. Walaupun kelak kalian sudah dewasa dan tua, jangan sampai berlaku sembrono terhadap orang tua. Ada sebuah kisah tentang salah satu habib dari Sidoarjo yang bertanya kepada Gus Miek. Habib tersebut bercerita bahwa ia pernah bertemu dengan ayahanda Gus Miek dan diajak sowan di sebuah hotel di Surabaya. Di tengah kerumunan orang, ia mendekati beliau dan bertanya: “Panjenengan Yai/Waliyullah?” (Sebab para ulama dan habaib mengakui bahwa Gus Miek adalah seorang waliyullah, karena hakikat wali itu diakui, bukan mengakui diri sendiri). Ketika meminta doa dan hendak mengamininya, beliau justru ditanya balik: “Apakah orang tuamu masih ada? Doa orang tuamu itu jauh lebih mustajab daripada dawuh saya. Dan hormatilah guru-gurumu di mana pun berada.” Semoga kita semua ditakdirkan baik fid dunya wal akhirah.

Ibarat tong kosong nyaring bunyinya, maksudnya adalah seseorang yang pintar berbicara tetapi ucapannya hampa tanpa isi. Di akhir zaman, banyak orang yang didatangkan pandai menyampaikan amanat, tetapi ia sendiri tidak mampu menjalankan apa yang ia perintahkan ia melarang orang lain berbuat maksiat, tetapi ia sendiri melakukannya. Fenomena yang diamati di akhir zaman ini adalah terkadang manusia terlihat sangat baik di mata sesama, padahal di balik itu ia melakukan dosa yang hanya diketahui oleh Allah SWT.

Semoga kita yang memiliki keterbatasan iman dan waktu ini senantiasa diberi ampunan (maghfirah) dan rahmat oleh Allah SWT. Semoga kelak kita dikumpulkan bersama Mbah Yai Syadzili di akhirat, diakui oleh Rasulullah SAW sebagai umatnya, dan pada akhirnya mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk melangkah masuk ke dalam surga-Nya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *