Mauidzah Hasanah Gus Kautsar.

Written by

in

Orang tua kita ada tiga: orang tua kandung, orang tua mertua, dan orang yang mengenalkan kita kepada Tuhan kita.

Kedudukan yang terakhir ini memiliki tingkatan yang sangat luar biasa dalam pandangan Islam. Itulah mengapa Imam Nawawi pernah menyampaikan bahwa guru kita adalah orang tua yang berusaha mengantarkan kita agar memiliki kedekatan dengan Allah Swt.

Maka, sangat tidak pantas apabila kita melupakan jasa beliau. Sejak awal, agama telah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mendoakan siapa pun yang telah berjasa kepada kita. Sebagai seorang hamba, kita bahkan tidak akan mampu bersyukur dengan sempurna sebelum menyadari bahwa guru kita adalah sosok yang istimewa. Kedudukan yang lebih istimewa lagi adalah menjadi penghubung antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Beliau memberikan teladan kepada kita bahwa hal terpenting yang harus dipersiapkan adalah bekal untuk menghadap Allah Swt.

Maka, tidak heran apabila kemudian Rasulullah saw. menyampaikan bahwa [bagian riwayat tentang sambutan pada hari kiamat perlu diperjelas].

Dalam suatu riwayat, Nabi Musa a.s. bertanya kepada Allah Swt. tentang siapa orang-orang yang kelak akan diberikan kenyamanan dan keselamatan. Mereka adalah orang-orang istimewa yang senantiasa membangun kepribadian dan membiasakan diri untuk tidak memusuhi siapa pun.

Ketika seseorang bertanya, “Apa itu Islam dan siapa itu seorang muslim?” Sesungguhnya, menjadi seorang muslim itu terlihat sederhana, tetapi tidak selalu mudah. Salah satu karakter seorang muslim adalah tidak memusuhi orang lain. Mereka adalah orang-orang yang memiliki hati suci. Dalam hal ini, Syekh Abdul Qadir [perlu verifikasi nama atau gelar] disebut sebagai sosok yang diselamatkan dari berbagai macam penyakit hati.

Orang yang senantiasa berusaha mencintai orang lain semata-mata karena Allah, bukan karena ikut-ikut atau kepentingan tertentu. Sebab, sering kali kita merasa sulit untuk cocok dengan seseorang apabila tidak ada keuntungan yang bisa kita peroleh darinya.

Artinya, mencintai sesama dengan tulus bukanlah perkara mudah. Ada proses panjang yang harus dilalui untuk mencapainya.

Mengapa kita sulit menemukan seorang guru atau kiai? Sebab, salah satu karakteristik seorang kiai adalah ketika kita berdzikir, saat itu pula kita teringat kepada sosok yang telah mengenalkan kita kepada Allah. Begitu pula sebaliknya.

Hal tersebut merupakan sesuatu yang mulai sulit ditemukan pada zaman sekarang. Sebagaimana sebuah nasihat ulama, ketika kita kehilangan guru, kita memang berusaha mencari penggantinya. Namun, sering kali pengganti tersebut memiliki kualitas yang jauh berbeda dengan pendahulunya.

Rasulullah saw. tidak pernah mengajarkan kita untuk membanding-bandingkan para kiai. Akan tetapi, persoalannya adalah orang-orang yang benar-benar faqih (mendalam pemahaman agamanya) telah banyak meninggalkan kita. Kita pun semakin sulit menemukan sosok yang sepadan dengan beliau-beliau.

Kita sering kali hanya menemukan orang-orang yang pandai berbicara, tetapi perkataannya jauh dari tuntunan para pendahulunya, yaitu Rasulullah saw.

Ada satu hal yang perlu kita pahami sebagai seorang santri. Sesuai dengan ajaran Islam, setiap mukmin memiliki kewajiban untuk menuntut ilmu.

Sebab, menjadi santri bukan sekadar mencari ilmu, melainkan juga membangun kesadaran penuh bahwa segala sesuatu yang kita lakukan tanpa didasari ilmu dapat membawa kita kepada kecelakaan.

Syekh Nawawi berkata bahwa tidak ada jalan untuk melaksanakan ibadah dengan benar kecuali dengan kesediaan untuk mengaji dan menuntut ilmu.

Seharusnya, Hari Santri menjadi hari bagi seluruh umat manusia di dunia. Sebab, setiap orang yang mengaku sebagai seorang muslim semestinya juga menyadari pentingnya menjadi santri, yakni senantiasa belajar dan menuntut ilmu.

Bagi siapa pun yang beragama Islam, penting untuk selalu dekat dengan orang-orang yang senantiasa mengingatkan kita kepada Allah Swt. Betapa besar dan mengerikannya tanggung jawab kita selama hidup di dunia. Jangan sampai kita melupakan untuk senantiasa sowan kepada orang-orang tersebut.

Jika kalian meyakini bahwa para kiai merupakan sosok yang mu’tabar (diakui keilmuan dan keteladanannya), jangan lupakan pula untuk berziarah dan sowan ke makam orang-orang alim.

Bisyri al-Hafidz pernah menyampaikan bahwa akan ada banyak orang yang tetap hidup dalam ingatan kita ketika sesuatu yang identik dengan beliau mengingatkan kita untuk kembali beribadah kepada Gusti Allah.

Betapa sulitnya mencari sosok kiai yang benar-benar menjadi teladan. Hal ini menunjukkan betapa nyata kemerosotan kualitas keilmuan dan keteladanan di kalangan tokoh agama yang kita saksikan saat ini.

Padahal, di antara sosok yang seharusnya menjadi idola kita adalah para ulama terdahulu.

Suatu ketika, muncul pertanyaan: mengapa dawuh para kiai terdahulu terasa jauh lebih mengena di hati kita dibandingkan dengan dawuh sebagian kiai pada zaman sekarang?

Jawabannya adalah karena para kyai terdahulu senantiasa menjaga niat ketika naik ke atas panggung dan memegang mikrofon. Niat mereka semata-mata untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mulia, memiliki kewibawaan, dan mampu memberikan solusi bagi umat.

Ketika mengakhiri ceramah, mereka mengucapkan salam sekaligus mendoakan seluruh hadirin. Bahkan, ketika berangkat menghadiri suatu undangan, tujuan mereka semata-mata adalah mencari rida Allah Swt.

Sementara itu, pada zaman sekarang, kita sering menjumpai hal yang sebaliknya. Ada kalanya seorang kiai tidak menyampaikan sesuatu sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. dan para pendahulunya karena khawatir menyinggung pihak atau tempat yang sedang dikunjungi.

Padahal, seorang ulama seharusnya tetap berpegang teguh pada kebenaran dan tuntunan agama, bukan sekadar menyampaikan sesuatu yang menyenangkan pihak tertentu.

Sesungguhnya, wajah dan kepribadian yang kita tampakkan hari ini merupakan hasil dari riyadhah (proses pendidikan dan pembinaan diri) para pendahulu kita.

Dalam dunia pesantren, tidak ada istilah mantan santri. Sebab, ketika seseorang telah menjadi santri, ikatan keilmuan dan hubungan batin dengan gurunya tidak semestinya terputus. Seorang santri tidak akan memutus tali hubungan dengan gurunya, kecuali apabila dirinya sendiri yang memilih untuk menjauh.

Ketika kita telah meninggalkan tempat menuntut ilmu, pastikan bahwa kita tidak pernah melupakan garis perjuangan dan nilai-nilai yang telah diwariskan kepada para santri. Kita harus senantiasa memahami apa yang seharusnya dilakukan dan kepada siapa kita patut mendekatkan diri. Hal ini merupakan bagian dari upaya menjaga hubungan antara kita dengan para kiai.

Sebagai seorang santri, kita harus selalu mawas diri. Ketika kita melihat guru menunjukkan sikap kurang berkenan terhadap diri kita, hendaknya hal tersebut menjadi bahan introspeksi. Sebab, tanpa rida seorang guru, akan sulit bagi kita untuk memperbaiki dan menata hati.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *