Sebagai santri, kita sudah tidak asing lagi dengan acara haul yang sarat dengan rangkaian kegiatan yang meliputi berbagai amalan ibadah seperti tahlil, pengajian, khataman, mau’izah hasanah, pembacaan manaqib dan sebagainya. Namun, sudahkah kita mengetahui makna dari haul itu sendiri?
Secara bahasa, haul berasal dari bahasa Arab الحول (al-haul) yang berarti satu tahun, masa perputaran satu tahun, atau perputaran satu tahun. Dalam penggunaan di Indonesia makna dari haul berkembang menjadi istilah peringatan tahunan untuk mengenang wafatnya seorang tokoh agama, terutama kyai, ulama, habaib dan wali.
Secara istilah, haul adalah peringatan genapnya wafatnya seorang tokoh setiap tanggal wafatnya menurut kalender Hijriah. Biasanya disertai dengan doa dan rangkaian kegiatan ibadah sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum, sekaligus untuk mengenang jasa, perjuangan, serta keteladanan yang telah diwariskannya.
Dengan demikian, secara garis besar, haul bukan sekadar peringatan tahunan atas wafatnya seorang tokoh agama, tetapi juga menjadi momentum untuk mendoakan almarhum, mengenang jasa dan perjuangannya, serta meneladani ilmu dan akhlak yang telah diwariskannya. Oleh karena itu, pelaksanaannya biasanya diisi dengan pembacaan Al-Qur’an, tahlil, khataman, manaqib, mau’izah hasanah, dan berbagai amalan lainnya.

Pada tahun 2026 ini, haul untuk memperingati wafatnya KH. Ahmad Syadzili Muhdlor telah memasuki penyelenggaraan yang ke-36. Tiga puluh enam tahun bukanlah waktu yang singkat, rentang waktu tersebut membuktikan bahwa tradisi ini terus terjaga sebagai bentuk penghormatan atas jasa, perjuangan, dan warisan ilmu yang beliau tinggalkan. Namun, bagaimana sebenarnya awal mula tradisi haul KH. Ahmad Syadzili Muhdlor hingga terus dilaksanakan hingga sekarang?
Secara garis besar, sejarah dari peringatan haul ini bermula ketika mbah yai memberi wasiat kepada istrinya, Ibu Nyai Rohmah Marzuki agar melaksanakan dengan sungguh-sungguh apa yang beliau sampaikan. Pesan pertama yang disampaikan adalah semua putra-putri Kyai Syadzili harus senantiasa menuntut ilmu dan tidak berhenti belajar.
Wasiat yang lainnya berkaitan dengan dirinya sendiri ketika telah meninggal, beliau ingin “diselameti”. Pesan tersebut langsung dipahami sebagai bentuk permohonan untuk keselamatan dan kebaikan bagi beliau setelah wafat. Wasiat ini kemudian dilaksanakan oleh istri, putra-putri, serta para santri beliau dengan melaksanakan haul setiap tahunnya.
Pada awalnya, pelaksanaan haul dilakukan secara sederhana. Namun, seiring berjalannya waktu tradisi tersebut kian lama semakin berkembang dan tetap bertahan hingga saat ini. Setiap bulan Jumadil Awal, peringatan haul KH. Ahmad Syadzili Muhdlor dilaksanakan dengan melibatkan para santri, alumni, masyarakat, keluarga hingga para masyayikh dan habaib. Rangkaian kegiatan tersebut diantaranya meliputi pembacaan shalawat Nabi dan majelis khataman Al-Qur’an yang dilaksanakan di berbagai tempat.

Lebih dari sekadar acara tahunan. Haul menjadi bukti nyata ikhtiar untuk menjaga tradisi peringatan atas perjuangan yang telah dirintis oleh KH. Ahmad Syadzili Muhdlor. Setiap doa yang dipanjatkan, ayat-ayat Al-Qur’an yang dikhatamkan, serta shalawat yang dilantunkan menjadi bentuk penghormatan atas segala jasa beliau dalam menanamkan nilai-nilai keilmuan, keislaman, akhlak, serta pengabdian beliau kepada agama.
Bagi para santri, haul bukan hanya sekedar acara yang diperingati setiap tahunnya, melainkan sebuah pesan yang disampaikan bahwa ilmu tidak hanya diwariskan melalui kitab yang dipelajari, tetapi juga dapat diwariskan melalui keteladanan para guru yang mengamalkannya sepanjang hayat. Dengan tetap menjaga tradisi haul, kita tidak hanya mengenang jasa KH. Ahmad Syadzili Muhdlor, tetapi juga meneruskan perjuangan beliau dalam menyebarkan ilmu dan nilai-nilai pesantren agar tetap terjaga dari generasi ke generasi.
Haul KH. Ahmad Syadzili Muhdlor yang ke-36 bukanlah akhir dari sebuah kisah dan kenangan semata, melainkan awal bagi generasi baru untuk mengemban amanah dan perjuangan yang telah ditinggalkan oleh beliau semasa hidupnya.

Leave a Reply