Utsan bin Affan Wujud Dari Kedermawanan dan Kepemimpinan.

Written by

in

Nama: Utsman bin Affan

Berkuasa: 6 November 644 – 17 Juni 656

Lahir: 576 (45 SH)

Ayah: Affan bin Abi al-Ash

Ibu: Arwa binti Kuraiz

Pasangan:      Ummu ‘Amr

Asma binti Abu Jahal Ruqayyah binti Muhammad

Ummu Kultsum binti Muhammad Fakhitah binti Ghazwan

Ummul Banin binti Uyainah Fatimah binti al-Walid Na’ilah binti al-Farafishah

Keturunan:

Putra

  • Abdullah bin Utsman (dari Ruqayyah binti Rasulullah)
  • Amr bin Utsman (dari Umm Amr binti Jundab)
  • Aban bin Utsman (dari Umm Amr binti Jundab)
  • Umar bin Utsman (dari Umm Amr binti Jundab)
  • Khalid bin Utsman (dari Umm Amr binti Jundab)
  • Said bin Utsman (dari Fatimah binti al-Walid)
  • Al-Walid bin Utsman (dari Fatimah binti al-Walid)
  • Anbasa bin Utsman (dari Ramlah binti Syaiba)
  • Abdul Malik bin Utsman (dari Umm Al-Banin binti Uyaynah)

Putri

  • Maryam binti Utsman (dari Umm Amr binti Jundab)
  • Umm Said binti Utsman (dari Fatimah binti al-Walid)
  • Aisyah binti Utsman (dari Ramlah binti Syaiba)
  • Umm Aban binti Utsman (dari Ramlah binti Syaiba)
  • Umm Amr binti Utsman (dari Ramlah binti Syaiba)
  • Arwa binti Utsman (dari Na’ilah binti al-Farafishah)
  • Umm al-Banin binti Utsman (dari Umm Al-Banin binti Uyaynah)

Kisah Utsman bin Affan RA adalah perpaduan antara kedermawanan luar biasa, kesantunan, dan pengorbanan besar demi tegaknya ajaran Islam. Beliau lahir dari klan Bani Umayyah yang terpandang di Quraisy dan dikenal sebagai seorang pedagang kaya raya yang sangat dermawan, jujur, serta pemalu.

Utsman merupakan salah satu pemeluk Islam pertama (Assabiqunal Awwalun) melalui dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beliau mendapat julukan Dzun Nurain (Pemilik Dua Cahaya) karena menikahi dua putri Rasulullah SAW secara berurutan, yaitu Ruqayyah dan, setelah Ruqayyah wafat, Ummu Kultsum.

Kisah kedermawanan Utsman bin Affan RA adalah salah satu teladan paling indah dalam sejarah Islam. Beliau adalah seorang pedagang sukses dan kaya raya, namun kekayaannya tidak pernah bersatu di dalam hatinya—harta tersebut hanya berada di genggaman tangannya untuk dialirkan kembali demi kemaslahatan umat.

Berikut adalah beberapa kisah monumental yang menggambarkan betapa luar biasanya kedermawanan Utsman bin Affan:

1.  Membeli dan Mewakafkan Sumur Ruma

Saat kaum muslimin berhijrah dari Makkah ke Madinah, mereka mengalami krisis air bersih. Satu-satunya sumber air yang segar dan melimpah di Madinah adalah Sumur Ruma, yang dimiliki oleh seorang pria Yahudi. Pemiliknya menjual air tersebut dengan harga yang sangat mahal, sehingga menyulitkan rakyat miskin.

Rasulullah SAW kemudian bersabda:

“Barang siapa yang membeli Sumur Ruma, lalu ia menjadikan timbanya bersama timba kaum muslimin (digunakan bersama secara gratis), maka baginya surga.”

Mendengar hal itu, Utsman langsung menemui pemilik sumur dan menawarnya. Awalnya, pemilik sumur hanya mau menjual setengah kepemilikan sumur tersebut (sistem ganti hari

pakai). Utsman membelinya seharga 12.000 dirham. Ketika giliran hari Utsman yang memegang sumur, beliau menggratiskan air tersebut untuk seluruh warga Madinah, sehingga pada hari giliran si pemilik Yahudi, tidak ada lagi orang yang membeli air darinya.

Akhirnya, pemilik Yahudi tersebut meminta Utsman untuk membeli sisa kepemilikannya seharga 8.000 dirham. Utsman pun mewakafkan sumur tersebut sepenuhnya untuk kaum muslimin hingga akhir zaman.

  • Membiayai Pasukan Perang Tabuk (Jaysy al-‘Usrah)

Pada tahun 9 Hijriah, umat Islam menghadapi Perang Tabuk untuk melawan pasukan Romawi. Saat itu, Madinah sedang dilanda musim kemarau panjang, cuaca sangat panas, dan terjadi kelangkaan bahan pangan. Perang ini membutuhkan biaya dan persediaan logistik yang sangat besar.

Ketika Rasulullah SAW menyeru untuk bersedekah membiayai pasukan perang, Utsman berdiri dan menyumbangkan 300 ekor unta beserta seluruh perlengkapannya, 50 ekor kuda, serta

1.000 dinar emas (diperkirakan setara miliaran rupiah saat ini) yang dituangkan langsung ke pangkuan Rasulullah SAW.

Melihat kedermawanan yang tiada tanding itu, Rasulullah SAW terharu dan bersabda:

“Tidak ada dosa bagi Utsman atas apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”

3.  Kafilah Dagang di Masa Paceklik

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Madinah pernah dilanda musim kemarau dan paceklik yang sangat berat. Umat Islam mengalami kelaparan dan kesulitan bahan pokok.

Di tengah krisis tersebut, kafilah dagang milik Utsman yang terdiri dari 1.000 ekor unta yang membawa gandum, minyak, dan bahan makanan tiba dari Syam. Para pedagang Madinah segera mendatangi Utsman dan menawarkan untuk membeli bahan-bahan tersebut dengan keuntungan 2 sampai 5 kali lipat.

Namun, Utsman menolaknya dan bertanya:

“Apakah ada di antara kalian yang berani memberikan keuntungan yang lebih besar dari itu?”

Para pedagang bingung dan menjawab: “Tidak ada pedagang lain di Madinah selain kami, siapa yang memberimu keuntungan lebih?”

Utsman menjawab:

“Allah telah berjanji memberikan keuntungan 10 kali lipat untuk setiap satu kebaikan, bahkan hingga 700 kali lipat. Apakah kalian bisa menandingi keuntungan dari Allah?”

Utsman kemudian membagikan seluruh isi muatan 1.000 unta tersebut secara gratis kepada seluruh penduduk Madinah yang membutuhkan tanpa mengambil keuntungan sepeser pun.

4.  Perluasan Masjid Nabawi

Seiring pesatnya perkembangan jumlah umat Islam di Madinah, bangunan Masjid Nabawi tidak lagi muat untuk menampung jamaah shalat. Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa yang mau membeli tanah milik Fulan ini untuk ditambahkan ke dalam masjid, dan kelak ia akan mendapatkan yang lebih baik di surga?”

Tanpa ragu, Utsman membeli tanah di sekitar Masjid Nabawi dengan uang pribadinya seharga

25.000 dirham dan menyumbangkannya untuk perluasan masjid.

Hikmah dari Kedermawanan Utsman

Utsman bin Affan menunjukkan prinsip sejati dalam berharta bagi seorang muslim: bahwa harta bukanlah untuk ditumpuk atau dijadikan ajang kesombongan, melainkan alat untuk mengetuk pintu surga dan menebar kemaslahatan bagi sesama. Bahkan hingga hari ini, peninggalan wakaf sumur dan kebun milik Utsman di Madinah masih terawat dan dikelola oleh pemerintah Arab Saudi atas nama Utsman bin Affan.

Tertarik mengamalkan nilai-nilai keberanian dan keteladanan Sayyidina Utsman bin Affan? Tunjukkan kebanggaanmu lewat penampilan.
Dapatkan Kaos Santripasir Utsman bin Affan sekarang sebelum kehabisan!

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *