Tasu’a dan Asyura: Belajar Bersyukur dari Versi “Lautan” dan “Fir’aun” Kita Sendiri

Tahun baru Hijriah datang. Muharam hadir. Tapi yang bikin penasaran, kenapa selalu ada riuh rendah menjelang tanggal 9 dan 10? Dua angka itu, Tasu’a dan Asyura, seperti punya magnet tersendiri. Bukan karena ada pesta atau perayaan besar. Justru sebaliknya: ada puasa, ada sunyi, dan ada sejarah panjang yang membentang dari zaman Nabi Musa sampai ke masjid-masjid di kampung-kampung.

Awal mula cerita ini menarik. Waktu Rasulullah SAW menjejakkan kaki di Madinah, beliau menemukan pemandangan tak biasa: orang-orang Yahudi berpuasa di tanggal 10 Muharam. Kenapa? Ternyata itu bentuk terima kasih mereka kepada Tuhan karena Musa dan pengikutnya selamat dari kejaran Fir’aun. Lautan yang terbelah, musuh yang karam, dan kebebasan yang akhirnya tiba. Rasulullah nggak serta-merta menolak. Beliau bilang, “Kita lebih berhak terhadap Musa.” Maka beliau ikut puasa, dan meminta sahabat-sahabatnya untuk turut melakukannya.

Lalu ada satu hal yang membuat cerita ini makin berwarna. Menjelang akhir hayatnya, Rasulullah menyampaikan keinginan untuk menambahkan puasa di tanggal 9. Alasannya, biar umat Islam punya pembeda dari kebiasaan kaum Yahudi yang hanya berpuasa di hari ke-10. Sebuah niat yang simpel, tapi sarat makna. Sayangnya, takdir berkata lain. Beliau wafat sebelum keinginan itu terwujud. Namun para ulama kemudian menjadikan niat itu sebagai dasar anjuran berpuasa dua hari 9 dan 10 sekaligus.

Kalau dipikir-pikir, ini bukan sekadar urusan teknis perbedaan tanggal. Ada semacam pesan halus di balik semua ini. Identitas itu penting, tapi menghargai sejarah orang lain juga nggak kalah penting. Di situlah keseimbangan yang jarang ditemui dalam kehidupan beragama yang kadang terlalu eksklusif.

Tapi mari kita geser sedikit fokusnya. Selain soal puasa, apa sih yang membuat Asyura dan Tasu’a begitu istimewa di mata banyak orang? Jawabannya mungkin ada pada satu kata: syukur. Nabi Musa dan Bani Israil berada di titik paling terjepit. Ada lautan di depan, musuh di belakang. Semua serba mustahil. Tapi justru pada momen itulah pertolongan datang. Dan kisah ini terasa abadi karena setiap generasi selalu punya versi “lautan” dan “Fir’aun” mereka sendiri.

Di negeri ini, tradisi menyambut dua hari tersebut juga beragam. Ada yang menggelar majelis taklim, ada yang mengadakan doa bersama, dan banyak juga yang memilih untuk berbagi makanan serta santunan untuk anak-anak yatim. Sebut saja bubur suro di beberapa daerah, atau sekadar berbagi nasi kotak di masjid-masjid. Nggak mewah, nggak muluk-muluk. Hanya gotong royong kecil yang entah bagaimana terasa sangat kuat efeknya bagi kebersamaan warga.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak berpuasa? Apakah momen ini lantas kehilangan makna? Tentu tidak. Esensinya lebih dalam dari sekadar menahan lapar dan dahaga. Esensinya adalah pengingat bahwa waktu terus berjalan, dan manusia punya kecenderungan lupa. Lupa bersyukur, lupa bersabar, lupa bahwa di luar sana masih ada orang-orang yang perjuangannya jauh lebih berat dari sekadar menahan haus di siang hari.

Di sinilah relevansi Tasu’a dan Asyura sebenarnya. Dia hadir di awal tahun, bukan di akhir, seolah memberi sinyal: “Mulailah dengan kesadaran.” Kesadaran bahwa sejarah adalah guru, bahwa rasa syukur harus dirawat, dan bahwa kepedulian terhadap sesama adalah bagian tak terpisahkan dari iman. Bukan cuma tentang ritual, tapi tentang bagaimana menghidupkan nilai-nilai itu dalam keseharian.

Mungkin memang terlalu sederhana, tapi seringkali justru kesederhanaan inilah yang paling susah dipertahankan. Di tengah hiruk-pikuk modernitas, orang lebih mudah tersedot oleh rutinitas. Puasa Asyura atau Tasu’a menjadi semacam “tombol pause” yang mengingatkan bahwa ada yang lebih penting dari sekadar produktivitas dan pencapaian duniawi.

Akhir kata, dua hari ini menawarkan kesempatan yang sayang untuk dilewatkan. Bukan karena pahala puasanya yang besar, tapi karena di dalamnya tersimpan pesan lintas zaman: bahwa pertolongan Tuhan nyata, bahwa berbagi menguatkan, dan bahwa memulai tahun baru dengan hati bersih adalah investasi yang tak ternilai.

Muharam baru saja berlalu beberapa hari. Tapi bagi yang sadar, Tasu’a dan Asyura selalu datang tepat waktu. Tinggal bagaimana menyambutnya, dengan hati yang terbuka atau sekadar melewatinya seperti hari-hari biasa.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *