Category: Kajian Abuya

  • benih didikan orang tua

    benih didikan orang tua

    Mendidik anak dengan baik sama dengan menapaki jalan yang benar menuju ridho Allah SWT, sebab anak yang tumbuh dengan karakter dan akhlak yang baik berpotensi memberi dampak yang baik pula pada lingkungan sekitarnya, dan berkat itu semua berlimpahlah ridho dari Allah SWT.

    Tapi bagaimana ketika orangt ua/guru ceroboh dalam mendidik anaknya? Sehingga membuat anak memiliki pemahaman dan akhlak yang buruk, tidak mengenal hak dan batil, baik dan buruk. Tidak hanya kesengsaraan dalam hidup yang didapatnya, tapi juga murka dan dosa dari allah SWT.

    Pertanyaanya, apakah orang tua/guru ikut memikul dosa anak yang terlanjur terjerumus ini? adakah sebab akibat atas segala kecerobohannya? terdapat dua perspektif dalam masalah ini.

    Yang pertama, adalah dosa bagi orangtua/guru yang ceroboh dalam mendidik anaknya. Tetapi bukan dosa anak tersebut yang dipikulnya, melainkan tasabbab atau sebab atas kecerobohannya dalam mendidik dan mendorong anak tersebut melakukan maksiat, yang akhirnya membuat orangtua/guru ikut terjerumus dalam dosa. sekali lagi, bukan dosa anak tersebut yang dipikul melainkan sebab atas kecerobohan seorang orang tua/guru . karena telah dikatakan  وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۗ “orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”

    Yang kedua, bukan sebuah dosa bagi orang tua/guru yang sudah berusaha keras dalam mendidik anaknya, yang benar benar sepenuhnya berusaha menumbuhkan hal hal baik dan di ridhoi Allah SWT, namun takdir berkata lain, masih terdapat titik hitam dalam hati nya yang mendorong anak melakukan maksiat. Maka dosa atas segala perbuatannya akan ditanggung sendiri oleh sang anak, yang dimana disini orang tua/guru telah menggugurkan tanggung jawab nya dalam mendidik, dan terdapat sebuah kesalahan dalam diri anak tersebut yang membuatnya mengabaikan seluruh didikan yang pernah diberikan selama ini.

    Maka dari itu peran dari orang tua/guru dalam kehidupan seorang anak sangat menentukan karakter dan masa depannya. Jika orang tua/guru ceroboh dalam menanam benih, maka buruk pula buah yang dipetik kemudian. Sebaliknya, dengan selalu memperhatikan dan merawat dengan baik seluruh benih yang ditanam, maka ranum pula buah yang dipetik kelak.

    Jazakumullah khairan

  • membiasakan fokus dalam banyak hal

    membiasakan fokus dalam banyak hal

    ASY-SYADZILI 1 –  Perumpamaan orang mencari ilmu itu seperti orang yang menggali sumur dan menambang untuk mencari emas, ketika ditengah perjalanan menggali ia menemukan intan atau permata maka apakah ia akan membuangnya karena yang ia sebenarnya cari adalah emas? Tentu kita akan mengambilnya karena hal tersebut sama berharganya.

    Semakin banyak kegiatan yang kita lakukan dan dengan membiaskan untuk tidak hanya fokus dalam satu kegiatan saja maka akan semakin banyak yang kita peroleh di masa depan.Kalau hanya terbiasa fokus dengan satu hal maka ketika dihadapkan dengan banyak hal akan sulit mengerjakannya, seperti halnya  ketika fokus menghafal alquran saja lantas ketika datang tanggung jawab lain maka alqurannya akan lupa.Maka dari itu semakin banyak pekerjaan yang kita lakukan akan membuat kita pandai mengatur waktu.

    Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Barangsiapa tidak peduli dengan urusan kaum muslimin maka dia bukan ummatku”

    Dari sabda beliau bisa kita tarik pelajaran tersirat tentang pentingnya kita untuk membiasakan mengerjakan banyak hal karena  ketika nanti terjun ke masyarakat agar bisa tetap melaksanakan perintah beliau dengan tetap meenjaga hafalan alquran yang kita punya

    Menghafal alquran itu hal yang mudah,akan tetapi kalau sudah hafal tapi tidak ada ilmunya maka buat apa susah susah menghafal dan apa yang perlu dibanggakan dari itu, maka kalau sudah hafal quran dan dibarengi dengan ilmunya itu baru kita bisa mengharapkan sesuatu yang istimewa di sisi Allah.

  • membenahi diri dengan 5 nasehat nabi

    membenahi diri dengan 5 nasehat nabi

    ASY-SYADZILI 1 –Dawuh nabi Muhammad SAW kepada abu hurairah untuk diamalkan ataupun diajarkan kepada umat yang berisikan tentang nasehat­ dan pesan beliau. Berikut dawuh beliau yang tidak cukup dengan disimak saja akan tetapi juga perlu diamalkan.

    1. Tinggalkan perkara yang haram maka kamu akan jadi paling ahli ibadahnya manusia

    Dikatakan paling ahli ibadahnya seseorang bukanlah ia yang mampu mengerjakan sholat seribu rokaat ataupun ia yang mampu membaca alquran dan mengkhatamkannya setiap hari, akan tetapi adalah ia yang kuat untuk menjauhi apapun yang diharamkan oleh Allah SWT, dan zaman sekarang untuk melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah bukanlah suatu perkara yang sulit, dan untungya apabila kita bisa meninggalkan hal tersebut maka akan bernilai pahala yang besar disisi Allah SWT.

    2. Ridholah dengan apapun yang diberikan Allah kepadamu maka kamu akan jadi paling  kayanya manusia

    Orang yang paling kaya adalah orang yang selalu menerima pemberian Allah. Hal ini sesuai dengan konsep qonaah yang bukan berarti hanya dengan diam lantas menerima segala pemberian allah saja dapat dikatakan qonaah,akan tetapi qonaah yang sebenarnya yakni ia yang semangat dalam mencari fadhol / rizkinya Allah dan menerima apapun hasil yang diberikan ketika kita sudah maksimal dalam berusaha.

    3. Berbuat baiklah kepada tetanggamu maka kamu akan jadi orang yang beriman

    Kenapa tetangga? Karena merekalah yang akan mengurusi kita dikala kita meninggalkan dunia ini, maka dari itu jangan sampai kita abai dan tutup mata tentang apapun yang berkaitan dengan tetangga kita.

    Nabi Muhammad SAW bersabda

                                                                              ….وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ….      

    “…..barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tetangganya…….”

     4. Cintailah untuk manusia apa yang kamu cintai untuk dirimu sendiri maka kamu akan jadi seorang muslim

    Seorang muslim yakni orang yang ketika ia dalam keadaan senang kepada sesama muslim yang mendapatkan kesenangan dan susah ketika temannya juga kesusahan, hal tersebut juga sesuai dengan konsep agama islam sendiri yakni menebarkan cinta kasih

     5. Janganlah kamu memperbanyak tertawa karena itu dapat mematikan hati

     Zaman sekarang itu pengajian yang laku yang lebih banyak membuat kita tertawa, tertawa diperbolehkan selama masih dalam keadaan tidak berlebihan karena ketika zaman nabi, nabi juga memberikan sedikit gurauan ketika berdakwah. Sedangkan yang tidak diperbolehkan adalah tertawa yang berlebihan yang nantinya dapat mematikan hati kita.

    Tentunya diharapkan setelah kita mengetahui tentang nasehat penting beliau kita dapat membenahi lagi diri dan memantaskan untuk bertemu sang ilahi.

    Amiiin….

  • Satu hal yang patut kita syukuri

    Satu hal yang patut kita syukuri

    Hal yang patut kita syukuri

    Ada satu hal yang amat penting untuk kita syukuri, apa itu?

     ketika orang tua  ingin anaknya mulia dengan cara menempatkannya di pondok pesantren dan anak itu pun mau dan semangat untuk mencari ilmu.

     Terlebih lagi, orang tua selalu diberi rezeki untuk selalu bisa mencukupi anaknya yang sedang menimba ilmu dipondok pesantren, maka itu adalah salah satu kenikmatan yang luar biasa yang patutnya kita syukuri setiap saat.

     Karena diluar sana pun, terdapat orang tua yang ingin anaknya menimba ilmu dipondok pesantren, tetapi anaknya tidak memiliki keinginan dan semangat dalam mencari ilmu

    Ada juga seorang anak yang semangat dan ingin menimba ilmu di pondok pesantren tetapi orang tuanya tidak memiliki keinginan  yang sama dengan anaknya

    Salah satu alasan terpenting orang tua ingin memondokkan anaknya tidak lain dan tidak bukan hanya karna ingin anaknya mulia, tidak menginginkan  balasan apapun dari itu, karena dengan putra-putrinya  menjadi mulia karena ilmu adalah hal yang akan selalu bermanfaat bagi kedua orang tuanya di dunia maupun di akhirat

    ۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا ۝٢

    ”Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

     Tugasnya seorang anak ialah selalu berusaha membantu dan berbakti pada kedua orang tua, bagaimana caranya membantu? Caranya dengan rajin dipondok, tidak melanggar peraturan dan selalu mendo’akannya.

    Semua manusia itu pasti punya masalah, apalagi dengan orang tua kita, maka dari itu cara apa yang bisa kita lakukan?

    Dengan cara selalu mendorongnya dengan doa yang penuh kesungguhan supaya kedua orang tua kita di beri jalan keluar atas seluruh masalahnya dan kelancaran atas segala urusannya. Allahumma Amin.

    Jangan sampai kita  menjadi anak yang malas, karna malas itu termasuk perbuatan dzolim, sebab kedua orang tua dirumah sudah berkerja keras untuk kebutuhan anaknya tetapi ia ketika di pondok bermalas-malasan, dan tidak mau berusaha.

    Itu merupakan perilaku yang sanagt dzolim kepada kedua orang tua kita

    Jika kita menjalankan kegiatan pondok pesantren dengan semangat dan maksimal serta terus berusaha meskipun belum mendapatkan hasil, itu sudah termasuk menyempurnakan nikmat orang tua yang sudah bersusah payah untuk mengusahakan anaknya yang mencari  ilmu.

    Dan juga kita jangan lupa dengan yang namanya Wirid (Berdzikir) karena itu penting,

    Belajar dari kisah Abdullah bin Mas’ud, ketika beliau sudah sakit keras menjelang wafat  lalu beliau hanya memberikan kepada anak-anaknya wasiat yakni surah Al-Waqiah.

    Maka wirid atau dzikir selalu kita amalkan insyaallah orang tua kita akan diberikan kemudahan oleh allah..

  • Ada yang lebih bahaya dari dajjal?

    Ada yang lebih bahaya dari dajjal?

    Sebagai muslim, kita pasti sudah sangat familiar dengan yang namanya Dajjal. Siapakah Dajjal?

    Dajjal adalah makhluk yang diberi kelebihan oleh Allah, di akhir zaman nantinya ia akan muncul dengan tujuan untuk  menyesatkan manusia, yang  menjadi salah satu tanda akan terjadinya kiamat.

    Tetapi ada yang lebih dikhawatirkan Rasulullah daripada Dajjal.

    Rasulullah bersabda:

    “أنا من غير الدجال أخوف عليكم من الدجال فقيل: وما هو يارسول الله؟، فقال: علماء السوء”

     “Ada yang paling aku khawatirkan dari kalian ketimbang Dajjal. Beliau kemudian ditanya, Apa itu wahai Rasulullah?` Beliau menjawab, ulama su` (buruk).”

    Ulama su’ adalah ulama akhir zaman yang jelek, apa definisi dari jelek tersebut? ‘Alimul lisan wa jahilul qolbi (pandai berbicara tapi hatinya bodoh).

    ulama su’ lebih dikhawatirkan oleh Rasulullah daripada Dajjal, sebab, kalau Dajjal itu tujuannya sudah jelas dan tentu kita semua tau yaitu untuk menyesatkan dan menjerumuskan seluruh umat manusia.

    jika ulama su’,  kita tau kalau ia adalah orang yang baik, tapi kita tidak tau ucapan orang itu akan membawa kita menuju allah atau malah menjauhkan kita dari allah, bahkan bisa-bisa sampai membuat kita murtad, naudzubillah.

    Maka dari itu, kita harus lebih waspada dan mengindari ulama su’, salah satu ciri-ciri ulama su’ adalah ia menjadikan ilmunya sebagi jalan untuk memperkaya diri, menjadikan kedudukannya untuk ajang menyombongkan diri dan lain-lain.

    Pesan penulis untuk para pembaca yakni janganlah kita gampang berburuk sangka, karna kita dilarang su’udzon kepada sesama apalagi kepada ulama. Sekian.

  • MENDZOLIMI TEMAN ADALAH PENGHAMBAT KEBERKAHAN ILMU

    MENDZOLIMI TEMAN ADALAH PENGHAMBAT KEBERKAHAN ILMU

    Sebagai seorang santri, kita harus bisa berpikir dan bijak dalam mengambil tindakan, segala hal yang ingin kita lakukan harus dipikir lebih dulu, dipikir apakah tindakan yang kita lakukan nanti berdampak baik atau buruk kepada diri kita maupun orang lain, rugi atau untung kah saat tindakan itu kita ambil, semuanya harus dipikir dengan matang. Dan salah satu tindakan yang tidak mencerminkan bahwa santri itu bisa berpikir adalah mendzolimi teman sendiri, dalam bentuk apapun itu, karena hal itu adalah penghambat keberkahan ilmu kita, baik di dunia maupun di akhirat. Mulai dari mengambil barang temannya tanpa izin, mengolok olok bahkan sampai memukul, sifat-sifat itu sangat tidak mencerminkan akhlak seorang santri.

    Yang seharusnya kita lakukan sebagai santri adalah saling menghargai dan saling mengasihi satu sama lain, sebab kita disini sama-sama berjuang, sama-sama jauh dari orangtua, sama-sama bersusah payah dalam menuntut ilmu. Apalah arti kita mencari ilmu selama ini jika kesalahan seorang teman, kita balas dengan kedzoliman, tidak ada artinya sama sekali. Akan lebih baik jika kita menjadi pribadi yang mudah memaafkan, tidak pernah menyimpan kebencian apalagi kepada teman sendiri. karena kebencian dapat menuju kerugian, yang hanya soal waktu kita akan menyesali itu.

    Dan perkara mendzolimi ini, kerugian yang dirasakan tidak hanya di dunia, di akhirat kelak Allah SWT menjanjikan neraka bagi mereka yang mendzolimi sesama makhluk. Suatu waktu diceritakan :

    Nabi bertanya kepada para sahabat “apakah kamu tahu siapa orang yang bangkrut itu?”. Sahabat menjawab “menurut kami orang yang bangkrut itu adalah orang yang tidak memiliki dirham”. Lantas Nabi menjawab “bukan seperti itu orang yang bangkrut. Orang yang bangkrut adalah orang yang nanti di akhirat membawa berbagai macam pahala, tapi dia pernah memukul seseorang, dia pernah menuduh seseorang, dia pernah mengambil harta nya seseorang. Maka kebaikan orang yang mendzolimi diberikan kepada dia yang didzolimi, dan keburukan orang yang didzolimi diberikan kepada orang yang mendzolimi sehingga dia termasuk penghuni neraka, dan itulah orang yang rugi.”

    Membenci memang manusiawi, tapi ketika berujung mendzolimi, hewan macam apakah kita hari ini?.

    Jazakumullah khairan jaza

  • mengoptimalkan waktu dengan berdakwah

    mengoptimalkan waktu dengan berdakwah

    Waktu adalah suatu hal yang penting dan berharga dalam kehidupan. Karna segala hal dapat kita kuasai asal kita bisa mengoptimalkan waktu. Pepatah mengatakan “waktu itu ibarat pedang, jika kamu tidak menebasnya maka kamu yang akan ditebas olehnya”.

    Kita diharuskan untuk pandai-pandai mencuri waktu. Apa yang dimaksud mencuri waktu itu? Artinya kita diharuskan untuk memastikan bahwa tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Sebagai contoh, ketika kita sedang menunggu guru yang belum datang, kita dibarengi dengan membaca Al-Qu’an.

    Jangan sampai kita yang tercuri oleh waktu. karna banyak dari kita, termasuk diri penulis sendiri, sering kehilangan waktu tanpa disadari, sudah mondok berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun tapi hasil yang dirasakan belum maksimal.

    Kenapa kita tidak boleh tercuri oleh waktu? Karna waktu itu terus berjalan dan semua akan berganti, termasuk zaman kita saat ini, seperti dawuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib

    مكنامز ريغ نامزل اوقلخ مهنإف مكدلاوأ اوملع

    Didiklah anak-anakmu (sesuai zamannya), karena sesungguhnya mereka diciptakan untuk sebuah zaman yang zaman itu berbeda dengan zamanmu.

    Dalam hadits diatas dijelaskan bahwa zaman sekarang akan berbeda dengan zaman yang akan datang. Maka dari itu, kita siapkan diri dari sekarang untuk menghadapi zaman yang semakin berat dengan memastikan masa muda kita tidak berlalu dengan sia-sia.

    Sebagai umat islam, terkhusus para santri, salah satu cara terbaik dalam mengoptimalkan waktu yaitu dengan berdakwah, dan dakwah yang paling utama adalah dakwah bil hal (dengan perbuatan).

    Sudah sepatutnya kita sebagai santri untuk menunjukkan etika yang baik ketika berada diluar lingkup pondok pesantren.

    Sebagai contoh saat ketika berada disekolah, kita harus bisa membedakan perbuatan sebagai siswa yang santri dan siswa yang bukan santri, dan kita juga harus mampu menunjukkan akhlaq santri kepada guru maupun warga sekitar, bahwa santri tetap ber akhlak luhur walau diluar pesantren.

    Dengan berdakwah bil hal kepada guru atau kepada orang lain yang berlatar belakang bukan seorang santri, itu dapat menjadi ladang kita dalam mengoptimalkan waktu dengan berdakwah, dan juga dapat menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

  • ISTIQAMAH LEBIH UTAMA DARI SERIBU KAROMAH

    ISTIQAMAH LEBIH UTAMA DARI SERIBU KAROMAH

    Sebagai seorang santri yang sedang jihad fi Sabilillah , sebenarnya apa sih yang kita cari?

    apakah hanya mengaji di waktu yang tidak ditentukan? atau bahkan mencari suatu

    keajaiban? Seperti dapat menghilang, berjalan di atas air dan terbang di atas langit? memang, kerap kali agama Islam disangkut pautkan dengan suatu hal yang mistis atau keramat, akan tetapi sebenarnya bukan itulah suatu hal yang kita cari, Melainkan beribadah dengan tujuan mengharap Ridho Allah SWT.

    seperti yang dikatakan oleh kebanyakan ulama’ :

    الاستقامة خير من الف كرامة            

    Artinya : “Istiqomah itu lebih baik dari seribu karomah”

    Sebenarnya apa sih itu istiqamah? mudahnya, istiqamah ialah perilaku atau sikap yang dilakukan secara terus-menerus (continue) atau biasa kita sebut dengan konsisten. Tentunya sikap tersebut harus dilekatkan dengan setiap pribadi yang ingin mencari ilmu khususnya santri yang sedang mengaji atau mencari ilmu di pondok pesantren.

    Di pondok pesantren kita tidak hanya dituntut untuk mengaji dan melaksanakan kegiatan pesantren saja, tetapi juga belajar mengatur dan membagi waktu sebaik mungkin supaya dapat meraih yang namanya Istiqomah tersebut.

    Istiqamah merupakan satu hal yang tidak bisa terpisahkan dengan kegiatan mencari ilmu, analoginya bagaikan sebongkah batu yang terus-menerus terkena tetesan air,  memang jika kita pandang sebelah mata saja, mungkin kita akan berfikir bahwa air tersebut tidak akan memberi dampak apa-apa kepada sebongkah batu tadi, akan tetapi siapa sangka bahwa sebongkah batu yang padat dan keras pun dapat berlubang hanya karena air yang terus- menerus menetesinya.

    Diceritakan pada dahulu kala ada seorang Ulama’  mashur yang bernama Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al- Qabilah yang berasal dari Al-Asqalan. Namun ia lebih masyhur dengan julukan Ibn Hajar Al Asqalani. Ibnu Hajar berarti anak batu sementara Asqalani adalah nisbat kepada Asqalan, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah.

    Suatu ketika, saat beliau masih belajar disebuah madrasah, ia terkenal sebagai murid yang rajin, namun ia juga dikenal sebagai murid yang bodoh, selalu tertinggal jauh dari teman- temannya. Bahkan sering lupa dengan pelajaran-pelajaran yang telah di ajarkan oleh gurunya di sekolah yang membuatnya patah semangat dan frustasi.

    Beliaupun memutuskan untuk pulang meninggalkan sekolahnya. Di tengah perjalanan

    pulang, dalam kegundahan hatinya meninggalkan sekolahnya, hujan pun turun dengan sangat lebatnya, memaksa dirinya untuk berteduh didalam sebuah gua. Ketika berada didalam gua pandangannya tertuju pada sebuah tetesan air yang menetes sedikit demi sedikit jatuh melubangi sebuah batu, ia pun terkejut.

    Beliau pun berguman dalam hati, sungguh sebuah keajaiban. Melihat kejadian itu beliaupun merenung, bagaimana mungkin batu itu bisa terlubangi hanya dengan setetes air. Ia terus

    mengamati tetesan air itu dan mengambil sebuah kesimpulan bahwa batu itu berlubang karena tetesan air yang terus menerus.

    Dari peristiwa itu, seketika ia tersadar bahwa betapapun kerasnya sesuatu jika ia di asah terus menerus maka ia akan menjadi lunak. Batu yang keras saja bisa terlubangi oleh tetesan air apalagi kepala saya yang tidak menyerupai kerasnya batu. Jadi kepala saya pasti bisa menyerap segala pelajaran jika dibarengi dengan ketekunan, rajin dan sabar. Nah dari cerita tersebut kita tahu bahwa betapa pentingnya peran istiqamah dalam kegiatan tholabil Ilmi.

    Namun, mengapa Istiqomah begitu penting bagi kita yang sedang mencari ilmu? jawabannya karena sesuatu yang selalu kita lakukan secara terus-menerus (continue) maka secara tidak langsung kita akan bisa melakukan sesuatu tersebut. Karena orang bisa itu karena terbiasa.

    Oleh karena itu, mari sama sama kita belajar untuk selalu istiqamah di dalam segala hal yang positif untuk hidup kita, memang istiqamah bukanlah suatu hal yang mudah, akan tetapi tidak ada salahnya bukan? untuk mencoba, ingat! siapapun dapat menjadi apapun, asalkan ada kemauan, Insyaallah jalan itu akan diberi oleh Allah SWT.

    Barakallah fii kum…

  • mampukah umat muslim mengembalikan kedudukannya

    mampukah umat muslim mengembalikan kedudukannya

    “Ibaratkan ikan yang besar tetapi apabila dipotong potong maka akan menjadi kecil kembali.”itulah yang terjadi pada umat islam.

       Umat Islam pernah mencapai puncak kejayaan dalam berbagai bidang, mulai dari ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, hingga budaya. Masa keemasan Islam, terutama pada abad ke-8 hingga ke-14, menunjukkan bagaimana umat Muslim mampu menjadi pelopor dalam ilmu kedokteran, matematika, astronomi, dan filsafat. Namun, saat ini, banyak yang mempertanyakan apakah umat Islam mampu mengembalikan kedudukan tersebut di tengah tantangan globalisasi dan perkembangan zaman.

       Pada saat ini kejayaan tersebut terasa semakin menjauh dengan fakta keadaan islam. Hal tersebut terjadi dikarenakan Di zaman sekarang ini para muslim dipecah belahkan oleh aliran. Satu menganggap aliran lain radikal dan satu lagi menganggap aliran itu liberal. Bahkan dalam satu aliranpun masih terbagi menjadi beberapa aliran lagi.

      Seperti setiap madzhab yang memiliki perbedaan pendapat masing-masingnya, dengan beberapa cara yang berbeda pula. Tapi apakah ada satu madzhab itu memusuhi yang lain? tidak, bahkan kata imam syafii

    الْخُرُوجُ مِنْ الْخِلَافِ مُسْتَحَبٌّ

    Keluar dari khilaf itu disunatkan

      imam syafii wudhu nya cukup mengusap sebagian kepala dan imam malik mengakatan wudhu itu harus mengusap seluruh kepala. apakah kemudian imam syafii berkomentar kepada imam malik “apa imam malik itu, wudhu kok harus mengusap seluruh kepala,  sebagian saja kan sudah cukup?” tidak seperti itu, bahkan kata imam syafii kalau kamu wudhu mengusap seluruh kepala itu adalah sunnah karena kamu keluar dari khilafnya imam malik, dan imam malik sendiri kemudian mengatakan kalau hal tersebut sah.

      Dari kisah tersebut seharusnya dapat menjadi pelajaran bagi kita bahwa bagaimana kita bisa menerima perbedaan. Orang yang dipuji sesudah orang muhajirin dan ansar adalah:

    وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌرَّحِيْمٌࣖ 

    Orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

      Pada ayat tersebut terdapat doa agar kita dijauhkan dari rasa dengki terhadap orang yang beriman,apalagi apabila berbeda pendapat. Hendaknya ketika terjadi perbedaan pendapat kita harus mencari titik pertemuan agar tidak terjerumus pada titik perpecahan.

      Kalau sudah seperti itu apa bisa umat muslim mengembalikan kedudukannya? Tentu saja mampu apabila semua dapat menghilangkan egonya dan melakukan upaya Reknosiliasi. Hal tersebut menjadi sulit bahkan dapat tidak  mampu apabila tidak terjadi persatuan di antara kaum muslim.

      Maka dapat kita simpulkan bahwa meskipun menghadapi berbagai tantangan, umat Islam masih memiliki potensi besar untuk mengembalikan kejayaannya. Dengan semangat persatuan umat Muslim dapat kembali memainkan peran penting dalam peradaban dunia. Namun, semua itu memerlukan usaha bersama yang konsisten dan berkelanjutan dengan selalu berusaha menghadapi segala perbedaan tanpa terjerumus pada perpecahan dan mempeloreh titik pertemuan atas perbedaan tersebut.

  • MENOLONG ORANG DALAM KEMAKSIATAN?

    MENOLONG ORANG DALAM KEMAKSIATAN?

    Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa tolong menolong merupakan kewajiban bagi umat muslim.islam mengajarkan saling menolong dalam kebaikan dan tidak pernah membolehkan pemeluknya untuk menolong perbuatan-perbuatan yang bisa menjadi pendukung atas terselenggaranya maksiat dengan bentuk dan motif seperti apapun, bahkan Islam dengan tegas melarang semua perbuatan yang berbau maksiat.

    sebagaimana firman allah swt dalam QS. Al Maidah: 2

    وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ      

    Artinya: “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. 

    Ayat ini menegaskan bahwa tolong-menolong harus didasarkan pada prinsip kebaikan dan taqwa, bukan sebaliknya, yaitu membantu dalam dosa dan kemaksiatan. Dalam konteks ini, Islam sangat tegas melarang umatnya untuk saling membantu dalam perbuatan yang bertentangan dengan hukum Allah.

    Ridho dan menolong terhadap perbuatan maksiat berarti sama dengan orang yang bermaksiat.

    Dalam hadist riwayat Muslim disebutkan bahwa

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا (رواه مسلم)

    “Artinya: Diriwayatkan dari Abi Hurairah, sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa mengajak kepada petunjuk (amal baik), maka ia mendapatkan pahala sama seperti pahalanya orang yang mengikutinya. Tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang melakukannya. Barang siapa yang mengajak pada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa setimbang dengan dosa orang yang mengikutinya. Tanpa sedikitpun mengurangi dosa orang yang melakukannya.” (HR Muslim).

    hal tersebut menunjukkan bahwa membantu perbuatan maksiat tidak hanya mendatangkan dosa bagi orang yang melakukannya, tetapi juga bagi orang yang memberikan bantuan atau dukungan.

    Larangan untuk tolong-menolong dalam kemaksiatan ini bukan tanpa alasan. Islam ingin menjaga moralitas dan kehormatan umat manusia dari kerusakan. Dengan menghindari bantuan terhadap perbuatan yang bertentangan dengan syariat, maka kita turut menjaga diri kita dan orang lain dari dosa, serta memastikan kehidupan sosial yang lebih baik dan penuh berkah.

    Islam mengajarkan umatnya untuk hidup penuh kasih sayang dan tolong-menolong, namun tetap dakam kerangka kebaikan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, penting bagi umat islam untuk menjaga prinsip-prinsip moral dan tidak membantu dalam kemaksiatan. Semoga kita selalu diberikan petunjuk dan kemampuan untuk saling menolong dalam kebaikan dan menjauhi dosa-dosa yang merusak diri dan sesama umat. Amin.