Category: Kajian Abuya

  • BICARA SEPERLUNYA, BUKAN SEMAUNYA

    BICARA SEPERLUNYA, BUKAN SEMAUNYA

    Berbicara merupakan bagian dari komunikasi verbal yang memungkinkan seseorang berinteraksi dengan orang lain, serta, bisa berbicara adalah salah satu anugrah terbesar yang diberi oleh Allah SWT.

    Oleh karna itu, kita harus menjaga lisan dalam berkata-kata, sebab jika dalam kita berbicara terdapat suatu kebohongan atau kesalahan, kita bisa mendapat dosa atau bahkan bisa terseret kedalam Neraka-Nya. Lantas, bagaimana cara berbicara yang benar, agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan?

    Untuk menghindari segala hal yang bertentangan dengan agama, sebaiknya, sebagai umat muslim harus selalu menjaga lisannya dari kata-kata yang tidak perlu. Dengan artian, kita harus membatasi bicara kita tehadap hal-hal yang tidak penting.

    اِذَا تَمَّ عَقْلُ الْمَرْءِ قَلَّ كَلَامُهُ

    Jika akal seseorang itu sempurna, maka akan sedikitlah bicaranya.

    Dari kutipan kitab Ta’limul Muta’allim di atas, dapat kita ketahui, apabila terdapat seseorang yang sedikit bicaranya, menandakan akalnya sempurna.

    Yang artinya, kita diharuskan untuk menghindari banyak bicara. yang dimaksud adalah bukan yang menjelaskan suatu permasalahan dengan sangat terperinci, tapi yang dimaksud banyak bicara adalah mereka yang menceritakan apapun yang telah mereka dengar, tanpa mengatahui benar atau tidaknya.

     يَتَكَلَّمُ بِكَلِمَةٍ لِيُضْحِكَ بِهَا النَّاسَ، فَيَهْوِيَ بِهَا فِي النَّارِ

    Dia berbicara dengan suatu kata untuk membuat orang tertawa, lalu dia terjatuh dengan kata itu ke dalam api (neraka).

    ketika kita berbicara, hendaklah katakan kata-kata yang benar dan baik, apalagi ketika kita sedang bercanda dengan orang lain, jauhilah berbohong untuk membumbui suatu kalimat agar terlihat lucu atau mengucapkan kata-kata yang jorok dan tidak pantas untuk diucapkan bagi seorang muslim, hanya untuk membuat orang lain tertawa.

    Sebab barangsiapa yang berbohong untuk membuat orang lain tertawa, maka An-Nar (Neraka)lah balasan dari Allah SWT. Maka, kita harus bisa memanajemen kata sebelum berbicara, bagaimana itu?

    Kalau berbicara biasakan untuk menyaring kata sebelum dilontarkan kepada orang lain juga harus melihat siapa lawan bicaranya, jadi berbicara itu tidak sembarangan.

    Karena dengan salah berbicara bisa memasukkan kita ke dalam lobang kesengsaraan, bahkan dapat membuat kita murtad, contohnya, berbicara dengan menghina nama-nama Allah atau menjelek-jelekan Nabi dan Rasulullah.

    Dengan kita berbicara dengan baik, tidak menggunjing orang lain dan selalu berkata jujur, Insyaallah kita akan dijauhkan dari hal-hal yang tidak di inginkan, juga mendapat rahmat serta petunjuk oleh Allah SWT.

  • mengenal tarwiyah dan arafah

    mengenal tarwiyah dan arafah

    Di awal bulan dzuhijjah, terdapat dua hari istimewa yang dimana seluruh umat mulim disunnah kan untuk berpuasa, yaitu; hari Tarwiyah dan arafah. Dua hari tersebut memiliki banyak keutamaan yang luar biasa. Apa saja keutamaan yang dapat kita peroleh dari kedua hari tersebut?

    Hari Tarwiyah merupakan hari kedelapan bulan dzulhijjah, Tarwiyah mempunyai makna merenung ataupun berfikir, dikarenakan hari Tarwiyah sendiri, identik dengan merenungi suatu peristiwa yang masih dipenuhi keraguan.

    Menurut pendapat para ulama’, hari Tarwiyah disebut hari berfikir, dikarnakan ketika penduduk makkah keluar pada hari Tarwiyah menuju mina, mereka dalam keadan berfikir tentang doa-doa apa yang akan mereka panjatkan keesokan harinya, dihari Arafah.

    Sedangkan penamaan hari arafah, beberapa ulama’ berpendapat bahwa Arafah diambil dari kata I’tiraf (pengetahuan), disebabkan pada hari itu umat islam mengetahui bahwa Allah sebagai Dzat Esa yang harus disembah, dan Al-Haqq merupakan Dzat yang Mulia dan Agung.

    Membicarakan keutamaan dua hari tersebut, akan sangat perlu untuk dipahami oleh seluruh umat islam. Dua hari tersebut sangat mulia disisi Allah, sebagaimana Allah berfirman pada surat Al-Fajr ayat 3:

    وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ (الفجر: 3)

    Artinya, “Demi yang genap dan yang ganjil” (Al-Fajr: 3)

    Menukil kitab dari Ibnu ‘Abbas yang berpendapat, maksud dari ayat di atas adalah Asy-Syaf’i merupakan hari Tarwiyah dan Arafah, Walwatri merupakan hari raya Idul Adha.

    puasa di hari Tarwiyah dapat menghapus dosa kita dalam waktu setahun, sedangkan dengan kita berpuasa Arafah, dosa kita akan dihapuskan 2 tahun yakni, 1 tahun yang telah lepas dan yang akan datang.

    Walaupun begitu kita tidak diperkenankan untuk membanding-bandingkan kedua hari tersebut dengan hanya melihat dengan dangkal keutamaanya, kita harus menyadari bahwa keduanya mempunyai kedudukan yang agung disisi Allah.

    Tata cara puasa dua hari tersebut sama hal nya dengan tata cara puasa sunnah lainnya. Adapun niat yang dibaca untuk puasa Tarwiyah dan Arafah, dan untuk kapan waktu membacanya, yakni mulai terbenamya matahari (Maghrib) hingga sebelum memasuki waktu Dzuhur

    Niat puasa Tarwiyah

    نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

    Artinya, “saya niat puasa sunnah Tarwiyah karna Allah ta’ala.

    Niat puasa Arafah

    نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

    Artinya, “saya niat puasa sunnah Arafah karna Allah ta’ala.

    Pada intinya dua hari tersebut adalah peristiwa luar biasa yang sudah semestinya seorang muslim tidak mengabaikanya, selain karna keutamaanya, melakukan amalan-amalan yang baik di dua hari tersebut juga merupakan wujud nyata iman kita kepada Allah.  

  • 7 Golongan yang selamat dari mahsyar

    7 Golongan yang selamat dari mahsyar

    Mahsyar merupakan sebuah padang pasir yang sangat luas, tempat dimana seluruh umat manusia kelak akan dikumpulkan menjadi satu didalamnya. Setelah tiupan sangkakala kedua, seluruh umat manusia yang telahir di bumi akan dikumpulkan dipadang mahsyar dalam keadaan tidak mengenakan pakaian dan belum dikhitan. Namun mereka tidak akan melirik satu sama lain, dikarenakan pada waktu itu, selain matahari berada tepat diatas kepala dan dalam keadaan ketakutan, mereka juga gelisah atas amalnya sendiri.

    Seluruh manusia pasti akan melewati fase ini, dimana seorang akan lupa dengan keadaan keluarganya, dan pada saat itu, manusia akan dibangkitkan dalam kondisi tubuh mereka, sesuai dengan amal  perbuatannya.

    Lalu, bagaimana cara agar mendapat naungan di padang mahsyar? Dari hadits Rasulullah, dikatakan ada 7 golongan yang ternaungi dipadang mahsyar, yaitu sebagai berikut:

    1.    Imam yang Adil

    Imam yang dimaksud disini adalah seorang pemimpin, dan seorang pemimpin kelak akan di mintai pertanggungjawaban atas apa yang telah dipimpin. Memang berat, tapi jika seorang pemimpin itu adil, maka mereka akan mendapat pahala yang setimpal.

    2.    Pemuda yang tumbuh beribadah kepada Allah

    Masa muda seseorang, yang dioptimalkan untuk beribadah kepada allah. Alih-alih dipergunakan untuk hal-hal yang sia-sia atau bahkan untuk hal yang berbau maksiat, ia justru mempergunakan masa mudanya untuk berusaha menggapai ridhonya Allah.

    3.    Orang yang hatinya terikat kepada masjid

    orang yang ingin selalu ingin berada di masjid, apabila setelah ia melakukan sholat dzuhur di masjid, ia tidak akan sabar menunggu untuk pergi ke masjid untuk melakukan sholat ashar.

    4.    Orang yang berdzikir dikesunyian sampai berlinang air mata

    Barangsiapa yang tanpa henti memuji allah di kesunyian malam sampai bercucuran air mata, kelak mereka akan mendapat kedudukan yang istimewa disisi Allah

    5.    Dua orang yang saling berkasihan untuk ketaatan kepada Allah

    Terdapat dua orang yang selalu bersama untuk beribadah kepada allah, jika seorang sahabat yang melakukan ketaatan bersama didunia, niscaya kelak persahabatan mereka akan berlanjut sampai kesurga-Nya.

    6.    Orang yang diajak zina wanita cantik, tapi dia berkata takut kepada Allah

    Ketika ia diajak melakukan maksiat oleh perempuan yang cantik juga berpangkat, namun ia mengatakan اِنِّيْ اَخَافُ اللّه (sesungguhnya aku takut kepada Allah), maka ketika dipadang mahsyar nanti ia akan mendapatkan naungan dari Allah

    7.   Orang yang menafkahkan hartanya, tapi menyamarkanya

    Orang yang bersedekah, tapi ia menyembunyikan perbuatanya itu dan tidak ingin orang melihatnya, bahkan sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh tangan kanannya.

    Memang tidak mudah untuk melakukan itu semua, tapi, ketika kita berusaha, kita akan menuai hasil yang sepadan dengan usaha yang kita lakukan. Minimal kita maksimalkan masa muda kita untuk beribadah kepada Allah, serta melakukan kebaikan-kebaikan.

    Pada intinya, kita harus selalu berusaha untuk bertaqwal kepada Allah, dan selalu mengingat bahwa, tanpa daya yang diberikan oleh-Nya, kita tidak akan bisa melakukan ibadah kepada-Nya. Dan semoga kita termasuk dari 7 golongan yang di naungi oleh Allah dipadang mahsyar.

  • HAL KECIL YANG MESTI DIPERBAIKI

    HAL KECIL YANG MESTI DIPERBAIKI

    Terkadang tanpa kita sadari berkata kasar sudah menjadi biasa dalam kehidupan kita sehari-hari, tapi bagaimana tanggapan agama dengan itu? Mari kita renungkan kembali, apakah hidup kita yang tak tahu kapan berakhir ini telah sesuai dengan ajaran Nabi.

    Berkata kasar atau kotor sejatinya berasal dari hati, orang yang hatinya bersih besar kemungkinan perkataan yang keluar dari mulutnya merupakan kalimat-kalimat yang baik, namun sebaliknya, jika seseorang hatinya kotor perkataanya pun demikian.

    Sesuai dangan sabda Rasulullah :

    أَلَا إِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ, وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ؛ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ

     “ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dana apabila ia buruk maka buruklah seluruh tubuhnya.ingatlah ia adalah hati.”

    Qolbu dalam arti kongkret adalah jantung, dan jantung sendiri dalam dunia kesehatan merupakan organ penting yang dapat mempengaruhi organ-organ lain dalam tubuh manusia.

    Jika dalam artian abstrak Qolbu merupakan hati, sejatinya hati manusia itu selalu berubah-ubah, semisal tadi siang ingin ini pas malamnya ingin itu, maka kita selalu dianjurkan berdoa pada saat duduk tasyahud akhir.

    يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
    Artinya: “Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

    Pada akhirnya, setiap orang yang mempunyai hati bersih perkataan maupun perbuatannya akan ikut bersih. Sebaliknya, orang yang mempunyai hati yang kotor, perkataan dan perbuatnya mencerminkan hatinya. Memiliki hati yang bersih, bukan sesuatu yang lahiriah, sesederhana apapun yang kotor selalu dapat dibersihkan, begitu pula hati. Dengan selalu ingat akan murka Allah, setidaknya akan menyapu perlahan apa-apa yang kotor dalam diri kita–dari hati, tindakan, sampai pikiran. Dan segala hal yang menyebabkan murka Allah, menjauh pula ridhonya. 

    جَزَاۤءً وِّفَاقًاۗ  

    Artinya: “sebagai pembalasan yang setimpal.”

    Na’udzubillah min dzalik

    Sebagai seorang muslim, sudah semestinya menjaga ucapan dan perbuatan agar tidak merugikan, entah bagi orang lain maupun diri sendiri. Karena muslim yang baik adalah yang menjaga dirinya dari yang buruk, menjadikan Rasulullah SAW sebagai contoh dalam setiap tindakan yang diambil.