Category: Blog

Your blog category

  • Menilik Sepintas Kekuatan Cinta dalam Beragama dari Buku Tuhan Maha Asyik 2

    Menilik Sepintas Kekuatan Cinta dalam Beragama dari Buku Tuhan Maha Asyik 2

    Pada 2020 silam, terbit seri kedua dari Tuhan Maha Asyik, sebuah buku hasil kolaborasi dari —meminjam istilah dari Gus Mus— dua ‘musafir di jalan Allah’ yakni Mbah Sujiwo Tejo dan Dr. Mohammad Nur Kamba. Berangkat dari latar belakang yang berbeda membuat buku yang lahir dari tangan keduanya otentik dan eksotis.

    Mbah Tejo, seorang budayawan yang suka matematika. Membangun karakter dengan keragaman budaya dan kepercayaan yang diwakili oleh nama-nama tiap tokoh di dalamnya, yakni Buchori, Samin, Pangestu, Parwati, Dharma, Christine dan Kapitayan. Lain dengan Buya Kamba, seorang intelektual tasawuf yang menghabiskan sarjana sampai doktoralnya di Universitas Al-Azhar, Cairo, dengan mendalami bidang Akidah & Filsafat. Beliau memberikan pencerahan hikmah atau maksud dari kisah tujuh sekawan jagoan Mbah Tejo dan menyampaikan kasih sayang Tuhan terhadap hamba-Nya.

    Sebagaimana seri sebelumnya, kisah-kisah yang disampaikan berbicara tentang tuhan dan agama dengan analogi yang memancing daya kritis pembaca untuk mendapatkan gagasan besar yang disiratkan dengan sengaja. Pesannya tidak semata-mata berbicara tentang doktrin keagamaan, tetapi menembus batas cara berpikir yang lazim dianut oleh kebanyakan orang beragama. Dalam sinopsis resmi dikatakan bahwa urgensi penerbitan sekuel ke-2 Tuhan Maha Asyik merupakan kritik akan maraknya fenomena beragama yang dimonopoli untuk kepentingan syahwat dunia.

    Mengutip rangkuman apresiasi dari Habib Haidar Bagir, bahwa keberagamaan sejati bukanlah perkara simbol dan dogma semata, melainkan perjalanan cinta menuju Tuhan. Ia menyoroti bahwa ilmu dan agama akan kehilangan makna jika tak disertai kelembutan hati dan kebijaksanaan batin. Bagi beliau, agama sejati justru menumbuhkan kasih, bukan kebencian; menumbuhkan cinta, bukan eksklusivisme. Ia mengingatkan bahwa inti agama adalah pengakuan atas keesaan Tuhan dan kebebasan yang dianugerahkan-Nya kepada manusia. Pada akhirnya, seperti kutipan Rumi yang turut ia sertakan, seluruh pencarian spiritual bermuara pada kepasrahan dan cinta yang tak terpisahkan dari Sang Pencipta.

    Bagian favorit saya merupakan bab pertama “Nikmat Teh Mana Lagi yang Kau Dustakan”, ketika Christine menyajikan teh terbaik kepada ibunya dengan cangkir peninggalan dinasti ming yang harganya bisa selangit kalau dijual. Usai menyesapnya Ibu Christine seketika berteriak, “Christine, dengan cangkir miliaran begini kenapa sore ini kau beri ibu teh yang sangat buruk?” Padahal, di kesempatan sebelumnya Ibu Christine senang-senang saja disuguhi berbagai macam teh. Baru ketika disandingkan dengan cangkir miliaran, teh itu terasa kurang, tak sebanding.

    Kisah itu merupakan analogi dari bagaimana manusia sering kali kehilangan esensi dari kenikmatan sejati ketika terlalu terikat pada simbol, bentuk, dan atribut luar agama. Dalam bab ini, Mbah Tejo dan Buya Nursamad Kamba mengajak pembaca untuk merenungkan bahwa agama sejatinya bukan sekadar seperangkat aturan, ritual, atau simbol, tetapi sesuatu yang harus “disejiwai” dan dihayati dalam kehidupan sehari-hari.

    Layaknya teh yang baru terasa nikmat ketika benar-benar diminum dan diresapi, agama pun demikian—ia baru menghadirkan ketenangan dan produktivitas jika benar-benar dihidupi, bukan sekadar dijalankan secara formal. Ketika agama hanya dipahami sebagai sistem aturan atau ritual keagamaan, maka kenikmatan spiritual menjadi semu, bahkan hilang.

    Bab ini juga menyinggung bahwa Tuhan adalah Kebaikan Absolut yang tidak bisa didefinisikan atau dikonsepsikan secara terbatas oleh akal manusia. Tuhan hanya dapat dipahami melalui refleksi perbuatan baik dan cinta. Karena itu, segala profesi dan pengabdian yang dilakukan dengan keikhlasan dan cinta—entah itu bertani, mengajar, berkarya seni, atau meneliti—sejatinya juga merupakan bentuk ibadah.

    Hal ini sejalan dengan apa yang guru kami ajarkan, “Beragama itu pakai hati. Karena Tuhan memandang manusia, bukan dari dzohirnya, tapi bathin. Aksi (dzohir) hanyalah manifestasi dari hati (bathin) manusia.” Hubungan antara hati dan cinta dalam beragama sangat romantis. Karena di dalam hatilah kita merasakan cinta, rahmat, peduli yang kemudian tergambarkanlahkonsep akan cinta dari akhlaq, perilaku.

    Akhirnya, penulis menegaskan bahwa puncak kenikmatan tertinggi bukan terletak pada ritual atau simbol keagamaan, melainkan pada pertemuan dengan Tuhan melalui kesadaran dan cinta yang tulus dalam setiap aspek kehidupan.

    Secara keseluruhan, pembahasan dalam sekuel ini lebih mendalam dan panjang sehingga ilmu yang didapatkan lebih banyak dari sebelumnya. Dan sebagai catatan, saya menyarankan dalam membaca Tuhan Maha Asyik 2 pembaca tidak menelan kosong wawasan yang diberikan, tapi juga mengkritisi sembari merenungkannya. Selamat Membaca!

    Jazakumullah Khair

  • PUASA TERNYATA BIKIN BUGAR DAN AWET MUDA

    PUASA TERNYATA BIKIN BUGAR DAN AWET MUDA

      Selain jalan menuju ridho Allah SWT, ternyata puasa juga sangat bermanfaat bagi kesehatan fisik maupun mental. Dalam beberapa penilitian, ilmuwan telah menemukan beberapa manfaat dan efek samping puasa bagi kesehatan tubuh dan mental manusia yang menjalaninya. Dikutip dari buku The fasting cure karya upton sinclair (1878-1968) berikut beberapa ulasannya.

      Membersihkan racun di dalam tubuh secara alami

    Detoksifikasi adalah proses pengeluaran racun di dalam tubuh secara alami. Menurut peneliti, berpuasa dapat memicu detoksifikasi dan memungkinkan tubuh untuk berfokus pada penyembuhan dan regenerasi sel-sel tubuh yang rusak tanpa gangguan dari proses pencernaan.

      Pemulihan dari penyakit

    Berpuasa juga dapat menyembuhkan beberapa penyakit, seperti gangguan pencernaan, obesitas, radang sendi dan masih banyak lagi

      Peningkatan kesehatan mental

    Peniliti juga mengklaim, Selain manfaat fisik, puasa dapat meningkatkan kejernihan mental, fokus, dan bahkan suasana hati. Proses ini dianggap memberi waktu bagi tubuh untuk mengalihkan energi yang biasanya digunakan untuk pencernaan ke proses penyembuhan lainnya.

    Studi lain juga membuktikan bahwa puasa dapat meningkatkan aktivitas metabolisme dan mencegah penuaan dini. Studi mengatakan berpuasa khususnya yang dilakukan saat ramadhan, sama dengan program diet yang cukup populer, yaitu intermiten fasting yang mengatur pola makan, waktu makan, dan makanan yang dikonsumsi.

    Tapi puasa tidak selamanya baik bagi sebagian orang, lebih-lebih mereka yang baru mulai berpuasa, beberapa efek samping rentan menyerang, antara lain :

      Kelelahan atau Lemah di Awal Puasa

    peniliti mengatakan bahwa orang yang belum terbiasa berpuasa dapat mengalami Lelah dan lemah di hari-hari pertama. Hal ini dikarenakan tubuh belum dapat beradaptasi dengan perubahan pola makan dan mulai beralih dari proses pencernaan makanan yang terus- menerus ke proses penyembuhan dan detoksifikasi.

      Pusing atau Sakit Kepala

    Pusing dan sakit kepala adalah efek samping umum yang dapat muncul pada beberapa hari pertama puasa. Ini bisa disebabkan oleh penurunan kadar gula darah atau ketidakseimbangan elektrolit yang terjadi ketika seseorang tidak makan atau minum untuk jangka waktu lama.

      Perubahan Mood atau Irasibility (Mudah Tersinggung)

    Pada beberapa orang, puasa bisa menyebabkan perubahan mood, seperti perasaan mudah tersinggung, marah, atau bahkan cemas. Hal ini disebabkan oleh perasaan lapar atau ketidakseimbangan hormon yang terjadi ketika tubuh mulai beradaptasi dengan puasa.

      Risiko untuk Orang dengan Kondisi Kesehatan

    peneliti juga memperingatkan bahwa orang dengan kondisi medis tertentu, seperti diabetes, tekanan darah rendah, atau gangguan jantung, harus berhati-hati dalam melakukan puasa. Bagi mereka yang memiliki kondisi seperti itu, puasa bisa memengaruhi kadar gula darah atau keseimbangan elektrolit mereka, yang bisa berbahaya.

    Maka alangkah baiknya kita memperhatikan kondisi tubuh terlebih dahulu sebelum memulai berpuasa, mengidentifikasi Riwayat penyakit yang selama ini kita miliki, dan memberi penanganan sesuai arahan profesional. Metode puasa bedug yang diterapkan orangtua saat kita kecil dulu mungkin dapat membantu puasa dengan sehat dan bertahap, apalagi bagi kita yang memiliki riwayat penyakit tertentu dan baru ingin mulai berpuasa.

    Jazakumullah khairan jaza

  • Hello world!

    Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!