Category: Berita

  • Asy-Syadzili membawa gelar finalis

    Asy-Syadzili membawa gelar finalis

    Alhamdulillahirabbil ‘alamiin…

    Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada hari Selasa-Jum’at tanggal 9-12 Juli 2024 perwakilan tim Santripasir Media Creative dari PPSQ Asy-Syadzili 1 berhasil pulang membawa predikat “kelompok terbaik” dalam pelatihan Santri Digital Preneur Indonesia 2024 (disana para santri membawa produk dari pesantren masing-masing dan diberi tantangan membuat foto dan video iklan produk dengan waktu dan peralatan yang sangat terbatas) yang membuat bangga, tim dari PPSQ As-Syadzili 1 berhasil menyelamatkan tiket untuk acara Demoday Santri Digital Preneur Indonesia 2024 di Jakarta nanti dan juga mendapatkan “satu set alat produksi konten kreatif digital” berupa : laptop 1 set, kamera canon r100, Tripod beserta memori card nya.

    Yuk dukung produk Santripasir dengan membeli merchandise Santripasir di :
    📍Stand bazar santripasir (lapangan voli PPSQ Asy-Syadzili 1)
    🗓 Sambangan Ahad Pon
    🕗 08:00-selesai (selama waktu sambangan santri)

    Santripasir

    Jum’at, 2 Agustus 2024

    santripasir#ppsqasysyadzili1

    banggajadisantriasysyadzili

  • menteri kemenparekraf apresiasi santripasir merchandise

    menteri kemenparekraf apresiasi santripasir merchandise

    Alhamdulillahirabbil ‘alamiin…

    Pada hari ini (Ahad, 28 Juli 2024) mas Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI Sandiaga Salahuddin Uno mereview dan memberikan apresiasi terhadap produk merchandise “Santripasir”. Beliau sangat senang sekali setelah menerima pemberian kami dan berharap agar para santri terus dapat berkarya se kreatif mungkin untuk mengembangkan produk-produk dari pesantren. Melalui program Santri Digital Preneur Indonesia, kemenparekraf memberikan pelatihan kepada para santri dari pondok pesantren di Indonesia, hal ini juga dapat memberikan sisi positif yakni mematahkan stigma masyarakat yang menganggap santri itu gaptek (gagap teknologi). Dengan sologannya “Generasi kreatif, berdaya saing”.

    Yuk dukung produk Santripasir dengan membeli merchandise Santripasir di :
    📍Stand bazar santripasir (lapangan voli PPSQ Asy-Syadzili 1)
    🗓 Setiap Sambangan Ahad Pon
    🕗 08:00-selesai (selama waktu sambangan santri)

    Foto :

    • Plakat penghargaan kelompok terbaik “Santri Digital Preneur Indonesia 2024”.
    • Mas mentri membawa buku Biografi KH. Ahmad Syadzili Muhdlor.
    • Mas mentri membawa Tumbler Santripasir.
    • Mas mentri membawa Kaos Santripasir dan Gantungan Kunci Santripasir.

    Santripasir

    Jum’at, 2 Agustus 2024

    santripasir#ppsqasysyadzili1

    banggajadisantriasysyadzili

  • Sampah Melangitkan Manusia

    Sampah Melangitkan Manusia

    ASY-SYADZILI 1 – Dalam kehidupan ini pastinya kita dituntut untuk selalu beribadah pada Allah Subhanahu wataa’la
    Mulai dari melaksanakan kewajiban, melakukan sunnah-sunnahnya, hingga berbuat baik kepada sesama. 
    Tetapi kita tak tahu amalan apa yang membuat kita yang bisa menggiring kita masuk surga Allah Subhanahu wataa’la. 
    Belajar dari kisah kisah terdahulu kita tak bisa menilai seseorang dari penampilan atau perilaku yang tampak oleh mata saja, seperti hal nya, kisah dari Barseso seorang yang alim yang terobsesi untuk bisa lebih alim lagi, dan ternyata ia terperosok dalam kemaksiatan yang amat sangat buruk karena hasutan syaitan,hingga ia meninggal dalam keadaan Su’ul Khotimah  Naudzubillah.
    Dari kisah Seorang pendosa yang memberi minum seekor anjing juga kita bisa ambil pelajaran, bahwasanya orang yang memiliki perjalanan hidup yang buruk belum tentu ia memiliki akhir yang buruk juga, berkat kebaikan hati diakhir hanyatnya, justru itu yang menjadi sebab ia masuk surga. 
    Kesimpulan dari 2 cerita diatas ialah, kita memang harus terus berusaha berbuat amal – amal baik, karena kitapun tak tau hal apa yang bisa membuat kita masuk syurga, mungkin karena kita menyisakan sedikit makanan untuk diberikan kepada seekor kucing, atau menyingkirkan batu ditengah jalan agar tidak mengganggu arus lalu lintas, kita tak pernah tahu.


    DUNIA PESANTREN 
    Begitu pula, dalam pondok pesantren, kepintaran kita dalam menyerap ilmu bukan menjadi faktor kesuksesan kita, karena dalam pondok pesantren ada sebuah faktor yang sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang, yaitu faktor X (atau yang disebut dengan  barokah ), kita tak pernah tau bagaimana faktor ini bekerja, tetapi jika seseorang telah mendapat barokah maka taka da susah dalam kehidupannya, dan cara mendapatkan barokah yaitu dengan berkhidmah  (ngabdi/ngawulo) kepada guru. 


    KHIDMAH 
    Banyak macam cara berkhidmah untuk medapatkan barokah, mulai dari membantu bagian dapur, menjadi keamanan dan ketertiban, menjadi dari bagian dakwah pondok pesantren melalui media social, ataupun menjadi ketua kamar, tetapi berkhidmah bukan hanya itu saja, makna berkhidmah memiliki cakupan yang luas.
    Kita menyapu latar masjid dengan niatan agar jamaah sholat merasa nyaman itu termasuk khidmah, kita menata sandal agar jamaah tidak kebingungan mencarinya juga termasuk khidmah, hal apapun yang kita lakukan dengan niatan untuk kemaslahatan bersama juga termasuk dari khidmah.

    SAMPAH SEPELE YANG MEMBAWA BAROKAH 
    Kita selalu berpikir bahwa khidmah itu menjadi ketua kamar, menjadi keamanan, menjadi abdi ndalem, malah banyak dari kita tidak berpikir untuk membuang sampah yang ada disekitar kita padahal itu adalah peluang kita untuk berkhidmah yang sangat mulia.
    Banyak dari kita memandang khidmah dibagian kebersihan sebagai hal yang biasa saja, tetapi malah hal itulah yang membuat mereka cepat dalam mendapatkan barokah, karena mereka rela kotor, demi para santri nyaman dalam melaksanakan kegiatan sehari-harinya, banyak sekali kisah kesuksesan dari santri yang bersih-bersih menjadi kebiasaan sehari – hari, seperti halnya kisah santri yang diutus selalu bersih-bersih tidak pernah mengaji, tetapi ketika pulang beliau menjadi seorang kyai.
    Maka dari itu, kita tak usah bingung hal apa yang bisa kita lakukan untuk berkhidmah, minimal kita buang sampah di sekitar kita dengan niatan untuk kemaslahatan bersama, Insyallah, jika Allah berkehendak hal-hal seperti itu menjadi penyebab kita mendapat barokah serta ridho Allah Subhanahu wataa’la. 
    Amin yaa robbal AlaminASY-SYADZILI 1 – Dalam kehidupan ini pastinya kita dituntut untuk selalu beribadah pada Allah Subhanahu wataa’la
    Mulai dari melaksanakan kewajiban, melakukan sunnah-sunnahnya, hingga berbuat baik kepada sesama. 
    Tetapi kita tak tahu amalan apa yang membuat kita yang bisa menggiring kita masuk surga Allah Subhanahu wataa’la. 
    Belajar dari kisah kisah terdahulu kita tak bisa menilai seseorang dari penampilan atau perilaku yang tampak oleh mata saja, seperti hal nya, kisah dari Barseso seorang yang alim yang terobsesi untuk bisa lebih alim lagi, dan ternyata ia terperosok dalam kemaksiatan yang amat sangat buruk karena hasutan syaitan,hingga ia meninggal dalam keadaan Su’ul Khotimah  Naudzubillah.
    Dari kisah Seorang pendosa yang memberi minum seekor anjing juga kita bisa ambil pelajaran, bahwasanya orang yang memiliki perjalanan hidup yang buruk belum tentu ia memiliki akhir yang buruk juga, berkat kebaikan hati diakhir hanyatnya, justru itu yang menjadi sebab ia masuk surga. 
    Kesimpulan dari 2 cerita diatas ialah, kita memang harus terus berusaha berbuat amal – amal baik, karena kitapun tak tau hal apa yang bisa membuat kita masuk syurga, mungkin karena kita menyisakan sedikit makanan untuk diberikan kepada seekor kucing, atau menyingkirkan batu ditengah jalan agar tidak mengganggu arus lalu lintas, kita tak pernah tahu.


    DUNIA PESANTREN 
    Begitu pula, dalam pondok pesantren, kepintaran kita dalam menyerap ilmu bukan menjadi faktor kesuksesan kita, karena dalam pondok pesantren ada sebuah faktor yang sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang, yaitu faktor X (atau yang disebut dengan  barokah ), kita tak pernah tau bagaimana faktor ini bekerja, tetapi jika seseorang telah mendapat barokah maka taka da susah dalam kehidupannya, dan cara mendapatkan barokah yaitu dengan berkhidmah  (ngabdi/ngawulo) kepada guru. 


    KHIDMAH 
    Banyak macam cara berkhidmah untuk medapatkan barokah, mulai dari membantu bagian dapur, menjadi keamanan dan ketertiban, menjadi dari bagian dakwah pondok pesantren melalui media social, ataupun menjadi ketua kamar, tetapi berkhidmah bukan hanya itu saja, makna berkhidmah memiliki cakupan yang luas.
    Kita menyapu latar masjid dengan niatan agar jamaah sholat merasa nyaman itu termasuk khidmah, kita menata sandal agar jamaah tidak kebingungan mencarinya juga termasuk khidmah, hal apapun yang kita lakukan dengan niatan untuk kemaslahatan bersama juga termasuk dari khidmah.

    SAMPAH SEPELE YANG MEMBAWA BAROKAH 
    Kita selalu berpikir bahwa khidmah itu menjadi ketua kamar, menjadi keamanan, menjadi abdi ndalem, malah banyak dari kita tidak berpikir untuk membuang sampah yang ada disekitar kita padahal itu adalah peluang kita untuk berkhidmah yang sangat mulia.
    Banyak dari kita memandang khidmah dibagian kebersihan sebagai hal yang biasa saja, tetapi malah hal itulah yang membuat mereka cepat dalam mendapatkan barokah, karena mereka rela kotor, demi para santri nyaman dalam melaksanakan kegiatan sehari-harinya, banyak sekali kisah kesuksesan dari santri yang bersih-bersih menjadi kebiasaan sehari – hari, seperti halnya kisah santri yang diutus selalu bersih-bersih tidak pernah mengaji, tetapi ketika pulang beliau menjadi seorang kyai.
    Maka dari itu, kita tak usah bingung hal apa yang bisa kita lakukan untuk berkhidmah, minimal kita buang sampah di sekitar kita dengan niatan untuk kemaslahatan bersama, Insyallah, jika Allah berkehendak hal-hal seperti itu menjadi penyebab kita mendapat barokah serta ridho Allah Subhanahu wataa’la. 
    Amin yaa robbal Alamin

  • semangat dan kreativitas menuju Demoday  SDPI 2024

    semangat dan kreativitas menuju Demoday  SDPI 2024

    Santripasir Media Creative atau yang sering disebut SMC salah satu bidang yang bergerak di pusat  arus informasi milik pondok Pesantren Salaf Qur’an Asy-Syadzili 1 yang telah menorehkan prestasi di kancah nasional dalam event santri digitalpreneur pada tanggal 15 Oktober 2024 kemarin, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.

    Prestasi tersebut berawal dari ketertarikan untuk mengikuti pelatihan santri digitalpreneur tingkat daerah di Kabupaten Gresik yang tepatnya diselenggarakan di Pondok Pesantren Qomaruddin, Bungah, Kabupaten Gresik pada tanggal 9 hingga 12 Juli 2024 lalu.

    Di sebutkan oleh Ilham Islamuddin Ma’ruf yang merupakan ketua tim dari 5 orang delegasi yang berangkat untuk mengikuti kegiatan Santri Digitalpreneur Indonesia 2024 bahwa awal mulanya mereka tidak mengetahui bahwa event Santri digitalpteneur 2024 merupakan sebuah kompetisi.

    “Sebenarnya saat kami mendaftarkan diri, kami hanya mendapatkan informasi bahwa event tersebut merupakan acara pelatihan untuk para santri agar bisa memajukan bisnis pesantren melalui media digital, tetapi setelah mengetahui bahwa event tersebut bukan hanya pelatihan melainkan juga kompetisi untuk menyaring para santri yang memiliki keahlian dan kreativitas dalam mempromosikan produk pesantren, kami bersemangat untuk memenangkan seleksi daerah tersebut” tutur kata Ilham yang merupakan ketua delegasi SMC PPSQ Asy-Syadzili 1 dalam acara Santri digitalpreneur 2024 tersebut.

    Acara santri digitalpreneur 2024 tingkat daerah di Kabupaten Gresik telah usai terlaksana, dan Santripasir Media Creative turun sebagai juara 1 dalam Santri digitalpreneur Kabupaten Gresik 2024 dan mendapat tiket menuju kompetisi nasional Santri digitalpreneur Indonesia 2024 di jakarta. 

    Menjadikan Santripasir Media Creative dari PPSQ Asy Syadzili 1, Pakis, Kab. Malang, sebagai perwakilan Kabupaten Gresik untuk bersaing bersama 10 pondok pesantren terbaik dari daerah masing-masing di seluruh Indonesia yang akan diadakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada Bulan Oktober mendatang. 

    Tentunya menjawab tantangan tersebut, Santripasir Media Creative sangat antusias dan bersemangat untuk mempersiapkan konsep dan kreativitas yang akan dibawa menuju Jakarta nantinya, Mulai dari konsep produk yang menarik, pembuatan video produk iklan  yang unik serta pematangan karya yang sudah dipersiapkan sekitar 1 bulan sebelum keberangkatan untuk kompetisi Santri digitalpreneur Indonesia tahun 2024.

    Setibanya Bulan Oktober 2024, Seluruh perwakilan daerah masing berangkat untuk mengikuti rangkaian kompetisi. 

    5 orang peserta (Ilham Islamuddin Ma’ruf, Ahmad Fatih Sidra Muntaha, Muhammad Zidan Abdul Adzim, Muhammad Roiqul Bihar Anwarul Wahid, Faris Audah Iman Hajwa)  beserta 1 (Muhammad Farhan Bayhaqi) berangkat menuju Jakarta dengan penuh keyakinan setelah perjalanan panjang persiapan untuk menyelesaikan produk serta video iklan yang begitu rumit karena banyak sekali evaluasi serta pembenahan saat proses pembuatan, membuat mereka yakin karya mereka layak ditampilkan dan disandingkan dengan 10 pesantren terbaik dari daerah masing masing di seluruh Indonesia.

    Menurut mereka, hal ini merupakan pengalaman dan momen yang luar biasa karena dapat bertemu para santri dari pondok pesantren di berbagai penjuru Indonesia serta dapat memperluas relasi serta jejaring antar sesama santri untuk memperkuat dakwah islamiyah serta bertemu orang – orang hebat lainnya.

    Dengan perolehan Juara 1 Santridigitalpreneur Indonesia tahun 2024, membuktikan bahwa Santripasir  mampu bersaing hingga kancah nasional.

  • Tujuh tahun khidmah jalur media pesantrenTujuh tahun khidmah jalur media pesantren

    Tujuh tahun khidmah jalur media pesantrenTujuh tahun khidmah jalur media pesantren

    Harapan adalah kekuatan tak terlihat, namun mampu mengubah mimpi menjadi kenyataan. Kita tinggalkan cita-cita sebagai warisan, jejak langkah yang mengispirasi generasi mendatang. Bergeraklah bersama, dengan serentak, beri dampak yang besar untuk menciptakan perubahan yang berarti.

    “Bergerak, Serentak, Berdampak.”

    Memiliki makna:

    1. Bergerak (Aksi)
    Inisiatif: Nilai ini mendorong kita untuk tidak hanya berdiam diri, tetapi mengambil langkah pertama dan memulai perubahan. Ia mengajarkan bahwa ide dan gagasan hanya akan menjadi mimpi jika tidak diiringi tindakan nyata.
    Progresif: Bergerak berarti terus maju, berkembang, dan mencari solusi yang lebih baik. Nilai ini menekankan pentingnya evolusi, inovasi, dan pembelajaran tanpa henti.
    Adaptif: Dunia terus berubah, dan “bergerak” berarti mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Nilai ini mengajarkan fleksibilitas, kemampuan untuk belajar dari pengalaman, dan keberanian untuk mencoba hal baru.
    Responsif: Bergerak juga berarti tanggap terhadap kebutuhan dan tantangan yang ada. Nilai ini menekankan pentingnya kepedulian, empati, dan kesediaan untuk membantu sesama.

    2. Serentak (Persatuan)
    Kolaborasi: Serentak adalah kekuatan kebersamaan, di mana banyak orang bersatu padu untuk mencapai tujuan yang sama. Nilai ini mengajarkan pentingnya kerja sama, sinergi, dan saling mendukung.
    Solidaritas: Serentak berarti saling peduli dan berbagi rasa, menciptakan ikatan yang kuat antar sesama. Nilai ini menekankan pentingnya persaudaraan, empati, dan gotong royong.
    Inklusif: Serentak merangkul semua orang, tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras, atau golongan. Nilai ini mengajarkan pentingnya menghargai keberagaman, toleransi, dan kesetaraan.
    Harmoni: Serentak menciptakan keselarasan, di mana perbedaan menjadi kekuatan dan bukan penghalang. Nilai ini menekankan pentingnya komunikasi yang baik, saling pengertian, dan kerjasama yang produktif.

    3. Berdampak (Kontribusi)
    Signifikan: Dampak adalah perubahan positif yang kita ciptakan, sesuatu yang berarti dan memberikan manfaat bagi banyak orang. Nilai ini menekankan pentingnya memberikan kontribusi nyata, bukan hanya sekadar melakukan sesuatu.
    Berkelanjutan: Dampak yang kita ciptakan haruslah sesuatu yang bertahan lama, yang terus memberikan manfaat dari generasi ke generasi. Nilai ini menekankan pentingnya visi jangka panjang, tanggung jawab, dan keberlanjutan.
    Inspiratif: Dampak yang kita ciptakan dapat menjadi inspirasi bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Nilai ini menekankan pentingnya menjadi contoh yang baik, menyebarkan semangat positif, dan memotivasi orang lain untuk berkontribusi.
    Transformasi: Dampak yang kita ciptakan dapat mengubah kehidupan orang lain, bahkan mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik. Nilai ini menekankan pentingnya memiliki visi besar, berani bermimpi, dan bekerja keras untuk mewujudkan perubahan positif.

    Pada hari ini, 11 Februari 2025, Santripasir Media Creative genap berusia tujuh tahun, mengabdi dalam dunia media dakwah kepesantrenan dengan membawa motto “bergerak, serentak, berdampak”. Kami yakin, nilai-nilai luhur tersebut sangat relevan dalam kehidupan bermasyarakat. Motto tersebut mendorong Santripasir Media Creative untuk menjadi organisasi yang proaktif, kolaboratif, dan berkontribusi positif bagi lingkungan sekitar. Dengan mengamalkan nilai-nilai ini, Santripasir Media Creative tidak hanya mencapai tujuan organisasi, namun juga memberikan arti bagi kehidupan orang lain dan menciptakan perubahan yang lebih baik bagi nusa, bangsa dan agama, khususnya dikalangan pesantren.

    Happy anniversary yang ke-7
    Santripasir Media Creative✨️

  • AMALAN DAN KEUTAMAAN BERBUKA PUASA

    AMALAN DAN KEUTAMAAN BERBUKA PUASA

    Di bulan ramadhan ini, sudah menjadi kewajiban bagi kita semua sebagai umat muslim untuk melaksanakan puasa ramadhan, oleh karena itu  berbuka puasa merupakan suatu rutinitas yang tidak dapat ditinggalkan. Tapi tahukah kamu? keutamaan dan beberapa amalan sunnah pada saat berbuka puasa agar membawa kebaikan dan keberkahan.

    Berikut beberapa keutamaan dan amalan yang dianjurkan rasullullah :

    1. Menyegerakan Berbuka Puasa di Awal Waktu

    Ketika waktu berbuka puasa telah tiba Rasulullah saw berpesan untuk dapat menyegerakannya, karena hal ini adalah bagian dari kebaikan. Dalam kitab Sahih bukhari terdapat hadis yang menjelaskan anjuran tersebut, yaitu:

    لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

    artinya: “Orang yang selalu baik adalah orang yang menyegerakan waktu berbuka puasa.”

    Menyegerakkan buka puasa merupakan sunah Nabi yang harus dilakukan umat Islam yang sedang berpuasa untuk langsung berbuka jika waktunya sudah tiba.

    2. Berbuka Puasa dengan Buah Kurma

    Rasullullah menganjurkan untuk berbuka puasa dengan buah kurma, seperti yang diriwayatkan dalam hadis riwayar Tirmidzi dan Abu Dawud:

    “Apabila salah seorang di antara kalian berbuka, hendaklah berbuka dengan kurma, karena dia adalah berkah, apabila tidak mendapatkan kurma maka berbukalah dengan air karena dia adalah bersih.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)

    Kurma diyakini sebagai buah yang kering favorit Nabi yang dapat meningkatkan kesehatan otak, mengandung serat dan asam amino yang dapat merangsang pencernaan makanan secara optimal.

    3. Berdoa Sebelum Berbuka Puasa

    Sebelum berbuka puasa hendaknya berbaca doa terlebih dahulu, doa berbuka puasa saat Ramadan yaitu:

    اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَبِكَ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ. ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شاءَ اللهُ. يا وَاسِعَ الفَضْلِ اِغْفِرْ لِي الحَمْدُ لِلهِ الَّذِي هَدَانِي فَصُمْتُ، وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ

    Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu, wa bika amantu, wa bika ‘alaika tawakkalatu, dzahabadzh dzhama-u wabtalatil-‘uruqu wa tsabatal-ajru insyaa-Allah. Ya wasi’al-fadhli ighfirli alhamdulillahilladzi hadani fashumtu, wa razaqani fa-afthartu

    Artinya: “Ya Allah, hanya untuk-Mu aku berpuasa. Dengan rezeki-Mu aku membatalkannya. Kepada-Mu aku berpasrah. Dahaga telah pergi. Urat-urat telah basah dan Insyaallah pahala sudah tetap. Wahai Dzat Yang Luas Karunia, ampuni aku. Segala puji bagi Tuhan yang memberi petunjuk padaku, lalu aku berpuasa. Dan segala puji Tuhan yang memberiku rezeki, lalu aku membatalkannya.”

    4. Berdoa Umum Saat Berbuka Puasa

    Waktu berbuka puasa adalah salah satu waktu mustajab atau manjur selain waktu sahur dari terkabulnya doa. Untuk itu dianjurkan bagi umat muslim untuk tidak melewatkan berdoa dengan doa-doa sunah yang diajarkan Rasulullah saw.

    Dalam sebuah hadis riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, Rasulullah menegaskan:

    “Ada tiga orang yang tidak akan tertolak doanya, yaitu: seorang yang puasa ketika sedang berbuka, seorang imam yang adil, dan do’a seorang yang terzholimi.” (H.R Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban).

    5. berbuka puasa secukupnya

    Meski didera lapar dan dahaga seharian saat menunaikan ibadah puasa, namun pada saat berbuka jangan sampai makan dan minum berlebih-lebihan. Secara medis, hal itu akan berpengaruh pada organ pencernaan. Dan dari sisi ajaran Islam, Allah sesungguhnya membenci orang-orang yang berlebih-lebihan. Terkadang, ada orang yang berfikir bahwa buka puasa adalah tempat balas dendam dari menahan lapar seharian, alhasil iapun makan dan minum berlebihan sehingga akan mengganggu  proses beribadah berikutnya. Maka dari itu berbuka puasalah secukupnya dan jangan sampai berlebihan.

    Demikianlah keutamaan  berbuka puasa pada bulan Ramadan yang sebaiknya dapat sama sama kita amalkan untuk lebih meningkatkan produktifitas  ibadah kita semua. Semoga Ramadan ini dapat selalu membawa keberkahan bagi kita semua.

  • Pelajaran semangat dan istiqomah dari Abuya

    Pelajaran semangat dan istiqomah dari Abuya

    ” Gus Mun’im niku aura gus e sampun sampun ketingal mulai zaman muda saat di pondok pesantren dulu”

    Dawuh Gus Kautsar dalam Haul Kh. Ahmad Syadzili Muhdlor yang ke 33 lalu.

    dapat kita simpulkan bahwa memang sedari muda beliau sudah ditempa dan disiapkan untuk menghadapi banyak kemungkinan yang akan terjadi di masa mendatang, jadi, tidak heran jika beliau menghadapi berbagai macam situasi dengan sabar.

    Karena Wafatnya Kyai Syadzili, menjadikan beliau mau tidak mau harus segera melanjutkan estafet kepengasuhan dari Kyai Syadzili.

    tetapi tampaknya hal itu bukanlah hal yang membuat Abuya Mun’im kaget, panik ataupun tidak siap, karena memang Abuya sendiri sudah tampak keseriusannya saat menimba ilmu,

    Dahulu Kyai Syadzili terkenal akan keistiqomahannya, bahkan tidak ada yang Namanya libur untuk mengaji, Kyai Syadzili Dawuh “aku gak badalan lek aku gak mati” dari dawuh Kyai Syadzili  tersebut tersirat bahwasanya selama detak jantung masih berdenyut maka beliau akan terus mengaji, dan salah satu prinsip itulah yang memotivasi Abuya KH. Abdul Mun’im Syadzili untuk terus semangat dalam mengajar dan mengaji

    Mengaji dan mengajar adalah obatnya.


    tentunya setiap orang memiliki ujian yang berbeda-beda, serta dengan tingkatan masing-masing sesuai kadar keimanannya, tetapi ada satu hal yang patut kita contoh dan kita teladani dari beliau, pada hari ini 6 Maret 2025 beliau telah berumur 54 tahun, dan sejak berapa tahun lalu beliau di vonis mengidap beberapa penyakit, tetapi hal ini tidak mematahkan semangat beliau dalam mengajarkan ilmu, bahkan pada umumnya orang yang memiliki penyakit akan banyak beristirahat.

    Tetapi berbeda dengan beliau yang lebih memperbanyak menyema’ Al Quran, mengaji dan mengajar, dikala beliau sedang sakit, apalagi dalam momen bulan ramadhan seperti ini,

    beliau tidak mau melewatkan kesempatan emas yang datang setahun sekali ini, beliau lebih memilih menambah kapasitas mengaji dan beribadah di bulan ramadhan,

    kita seharusnya sebagai pembaca apalagi sebagai santri beliau bersyukur dan terus mengoptimalkan peluang yang ada, beliau dikala sakit tetap melaksanakan sholat witir sejak jam 2 dini hari, setelah itu sahur, dilanjutkan, dengan mengajar ngaji, kemudian disiang harinya beliau megajar kitab lagi, dan ketika malam hari beliau menjadi imam dalam sholat tarawih untuk khataman beliau sendiri.

    Maka dari itu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengoptimalkan kesempatan dari bulan mulia ini, beliau tidak hanya mengatakan tapi juga dapat kita saksikan bagaimana beliau melakukannya dalam keseharian.

    Semoga dalam kesempatan Milad ke 54 tahun ini, Abuya tetap di beri sehat wal afiyat, diampuni segala kesalahan beliau, dan tetap i beri kesempatan untuk menebarkan ilmu yang insyaAllah akan menjadi amal jariyah untuk kehidupan akhirat kelak. Amin Ya robbal Alamin.






    .











  • Wanita Tangguh Pejuang Al-Qur’an

    Wanita Tangguh Pejuang Al-Qur’an

    PENDAHULUAN

         “Obate ati iku Qur’an. Dadi, lek loro balekno nang Qur’an, woco o sing akeh, ben penyakite ilang.” Artinya, “Obatnya hati itu Qur’an. Jadi, kalau sakit kembalikan ke Qur’an, baca yang banyak, biar penyakitnya hilang.” Begitulah salah satu dawuh dari Ummul Ma’had Asy-Syadzili, Simbah Nyai Hj. Rohmah Marzuki, kisah hidup beliau penuh keteladanan, cinta beliau terhadap Al-Qur’an membuat siapapun pencintanya iri. Bahkan, hingga memasuki usia yang sangat senjapun beliau tetap belajar Al-Qur’an. Seorang istri yang telah ditinggal suaminya wafat, namun tetap pantang menyerah untuk memberikan kesembilan putra dan putrinya pendidikan yang layak, mencetak mereka hingga menjadi penerus yang pantas untuk mendiang suami, yakni KH. Ahmad Syadzili Muhdlor. Dari tangan beliaulah puluhan lembaga dibawah bendera Asy-Syadzili berkibar dimana-mana. Gedung-gedung tersebut menjadi saksi bisu perjuangan tangan lembut dari Ummul Ma’hadnya, seakan-akan mempertegaskan bahwa Simbah Nyai Hj. Siti Rohmah Marzuki adalah sang wanita tangguh pejuang Al-Qur’an.

    MASA KECIL

         Simbah Nyai Hj. Siti Rohmah Marzuki biasa dipanggil dengan sebutan Nyai Rohmah adalah putri dari pasangan H. Marzuki dan Hj. Nasihah, yang lahir pada hari Kamis, 8 Ramadhan 1364 H. Atau bertepatan dengan tanggal 16 Agustus 1945 M. Sehari sebelum kemerdekaan Indonesia. H. Marzuki sendiri merupakan seorang dermawan yang kaya raya, shalih, serta sangat mencintai para ulama.

    Nyai Rohmah tumbuh cerdas dengan semangat mencari ilmu yang sangat tinggi, sehingga saat berusia 9 tahun, beliau menyampaikan keinginannya untuk pergi mondok. “Bah, mondok. Bah, mondok.” (Abah, saya ingin mondok), ucapnya kepada Haji Marzuki. Haji Marzuki tentu sangat senang dengan semangat putrinya untuk mencari ilmu. Tapi beliau memiliki rencana lain yang lebih baik. “Tak golekno guru dewe.” (Aku carikan guru sendiri). Setelah mendengar jawaban dari sang abah, Siti Rohmah girangnya bukan main. Suatu ketika, ayah beliau mendengar kabar bahwa seorang alim dan ahli Al-Qur’an yang juga merupakan menantu dari Syaikhul Huffadz KH. Munawwar Nur, baru saja ditinggal wafat istrinya. Timbullah keinginan sang ayah untuk menjadikan sang alim tersebut sebagai menantu. Di antara putri-putrinya, hanya beliau yang paling besar dan belum menikah, meski usianya masih anak-anak.

    MENJADI ISTRI SANG HAMILUL QUR’AN

         Kebahagiaan masa kanak-kanak Nyai Rohmah pun terenggut karena harus menikah dengan pria yang sudah tua dan telah memiliki tiga orang anak. Saat itu, banyak orang menasihati agar beliau menolak perjodohan tersebut. Namun, setelah mengetahui bahwa calon suaminya adalah seorang yang alim dan hafal Al-Qur’an, beliau tidak menolak perjodohan itu, dengan harapan dapat belajar banyak dari suaminya kelak.

    Pada tahun 1959 pernikahan itu diberlangsungkan, namun ada hal luar biasa yang terjadi setelahnya. Selama satu tahun pertama pernikahan, Nyai Rohmah yang masih sangat belia belum mau mendekat kepada suaminya, kecuali saat mengaji. Seusai mengaji, beliau akan kembali menjaga jarak. Sikap ini bukan karena kurangnya rasa hormat kepada Kyai Syadzili, melainkan karena usia beliau yang masih sangat muda dan belum sepenuhnya memahami makna sebuah pernikahan.

    Barulah setelah satu tahun, perlahan hati Nyai Rohmah luluh dan menerima kehadiran Kyai Syadzili sepenuhnya. Sejak saat itu, terciptalah rumah tangga yang bahagia, meski harus dijalani dengan segala keterbatasan ekonomi. Meskipun beliau adalah putri dari keluarga kaya raya, H. Marzuki hanya memberikan sebuah rumah kecil bekas gudang dan sepetak tanah yang diwakafkan kepada menantunya. Bukan sebagai pribadi, melainkan sebagai imam masjid.

    UJIAN DALAM BERUMAH TANGGA

         Ketika Allah menganugerahkan Kyai Syadzili dan Nyai Rohmah putra dan putri, justru di situlah puncak ujian hidup datang. Masa-masa krisis ekonomi melanda keluarga kecil ini, hingga untuk sekadar makan pun mereka seringkali kesulitan. Meski Kyai Syadzili yang tangguh dan pekerja keras telah mencoba berbagai usaha untuk mencukupi kebutuhan keluarga, namun keadaan tak kunjung membaik. Di tengah keterhimpitan itu, Nyai Rohmah merasa khawatir jika beban ekonomi akan mengganggu tugas mulia Kyai Syadzili sebagai pengajar dan imam. Maka dengan penuh keikhlasan dan keteguhan hati, Nyai Rohmah memutuskan untuk mengambil alih urusan ekonomi keluarga. Beliau pun turun tangan, bekerja dan berjuang mencari nafkah demi kelangsungan hidup keluarga tercinta.

    Saat masih kecil, salah satu putra beliau masih sangat ingat setiap kali beliau membutuhkan uang untuk keperluan sekolah dan kebutuhan lainnya, beliau selalu meminta kepada sang ibunda. Suatu ketika Salah satu putra beliau terlambat membayar SPP, rasa takut menyelimuti hati nya sehingga tak berani masuk sekolah dan menangis sejadi-jadinya. Melihat kesedihan itu, sang ibunda mengajak Salah satu putra beliau untuk pergi ke pasar bersama- sama menjual kain yang sudah dibordir. Dengan penuh harapan mereka berkeliling dari toko ke toko, menawarkan kain tersebut. Penolakan demi penolakan mereka terima hingga pulang tanpa membawa uang sepeser pun. Yang luar biasa, di tengah kondisi hidup begitu sulit Nyai Rohmah masih menyempatkan waktu untuk mengaji kepada Kyai Syadzili. Menunjukkan keteguhan hati dan semangat belajar yang tak pernah pudar meski dalam ujian terberat sekalipun.

    MENDIRIKAN PESANTREN

         Pada saat itu, sudah ada beberapa santri yang muqim di pondok. Santri putra dibuatkan bangunan di tanah masjid, sementara santri putri menempat di ndalem kecil yang sangat sederhana dan kurang layak. Melihat kondisi tersebut, Nyai Rohmah dengan penuh semangat dan kegigihan berusaha untuk mendirikan asrama khusus bagi santri di sepetak tanah milik beliau sendiri.

    Awalnya, usaha beliau ini tidak mendapat izin dari Kyai Syadzili. Namun, berkat keteguhan hati dan tekad yang kuat, beliau terus berjuang dan meyakinkan suaminya akan pentingnya keberadaan asrama yang layak bagi para santri. Alhamdulillah, akhirnya beliau mendapatkan restu dan izin dari Kyai Syadzili. Berkat kegigihan dan do’a beliau, terwujudlah sebuah asrama yang dapat ditempati oleh para santri dengan lebih nyaman dan layak. Keberhasilan ini kemudian diperingati setiap tanggal 13 Dzulhijjah sebagai momen yang penuh makna dan menjadi tonggak sejarah penting dalam perjalanan Asy-Syadzili.

    MENJADI IBU YANG VISIONER

         Di balik wajah beliau yang teduh, Nyai Rohmah adalah sosok yang tegas dan berwibawa. Beliau tidak membeda-bedakan baik itu putra, menantu, santri, saudara, maupun orang lain. Jika beliau mengetahui adanya kesalahan atau perbuatan yang tidak pantas, maka dengan segera mengingatkan bahkan menegur dengan tegas tanpa ragu.

    Selain itu, Nyai Rohmah juga dikenal sebagai pelindung yang luar biasa. Salah satu putra beliau masih ingat betul, ketika Kyai Syadzili begitu keras hingga pernah memukul putri dari istri pertama beliau, Nyai Rohmah dengan tegas menjadi tameng bagi putri tirinya itu dan justru Nyai Rohmah yang menerima pukulan tersebut. Pengalaman serupa juga pernah dialami oleh Salah satu putra beliau ketika beliau nakal dan dihajar oleh seseorang, Nyai Rohmah berdiri di antara Salah satu putra beliau dan orang tersebut. Akibatnya, Nyai Rohmah yang dipukuli dan dikejar hingga lari, kejadian itu disaksikan oleh banyak orang. Sikap Nyai Rohmah yang tegas namun penuh kasih itu menunjukkan betapa besar keberanian dan pengorbanan demi melindungi keluarga dan orang yang disayangi.

    Di balik hidup yang serba kekurangan, Nyai Rohmah dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan. Suatu ketika, salah satu putra beliau hendak membeli rumah, uang pelunasannya dititipkan kepada Nyai Rohmah. Tiba-tiba datang seseorang yang memelas meminta bantuan, tanpa ragu beliau memberikan seluruh uang itu tanpa menyisakan sedikit pun.

    Selain kemurahan hati, Nyai Rohmah juga seorang ibu yang visioner dengan pemikiran jauh ke depan, yang kadang sulit diikuti oleh putra-putri beliau. Salah satu contohnya adalah ketika Asy-Syadzili masih sangat sederhana dengan jumlah santri yang terbatas. Beliau meminta agar dibangun sebuah gedung enam lantai, sebuah permintaan yang tidak bisa ditawar. Alhamdulillah, akhirnya terwujudlah Graha Manarul Qur’an, sebuah bangunan megah yang menjadi simbol kemajuan dan harapan bagi Asy- Syadzili.

    Mewarisi kehati-hatian sang suami dalam urusan hukum, Nyai Rohmah juga dikenal sangat teliti dan berhati-hati. Hal ini terbukti ketika suami tercinta wafat, beliau tidak mendapat warisan sama sekali. Setelah itu, dari orang-orang yang berziarah terkumpul sejumlah uang, namun Nyai Rohmah tidak berani menggunakan uang tersebut karena ingin membaginya sesuai aturan waris. Namun, putra-putri beliau kemudian menjelaskan bahwa uang itu bukanlah tirkah atau harta peninggalan, sehingga tidak perlu dibagi. Kehati-hatian Nyai Rohmah tidak hanya terlihat dalam urusan harta, tetapi juga dalam segala hal. Nyai Rohmah tidak pernah merasa malu untuk bertanya tentang urusan agama kepada putra dan menantunya. Bahkan, beliau juga rutin mengaji kepada mereka, menunjukkan kerendahan hati dan semangat belajar yang luar biasa, meskipun sebagai sosok ibu dan pemimpin keluarga.

    MENGUTAMAKAN PENDIDIKAN PUTRA-PUTRINYA

         Diceritakan, saat salah satu putra beliau masih mondok di Singosari untuk menghafal Al-Qur’an, ia sering merasa tidak betah dan kerap pulang dengan berbagai alasan. “saya sering mengadu kepada Ibuk dengan menambahkan bumbu-bumbu agar diizinkan pulang. Alhamdulillah, setiap kali saya curhat Ibuk selalu memperhatikan dengan seksama. Namun, setelah mendengar keluh kesah saya, beliau selalu menegaskan, ‘Sudah selesai mengadunya? Kalau sudah, segera kembali’ karena tidak boleh boyong sebelum khotam.”

    Aduan dan curhatan tersebut ia ulang berkali-kali hingga suatu saat Mbah Nyai Rohmah berkata dengan tegas, “Sebagai orang tua, saya tidak mau kalah dengan anak. Apakah kamu tega memasukkan orang tuamu ke dalam neraka?” hingga saat ini, dawuh itu terus terngiang dalam ingatannya, menjadi pengingat yang kuat akan tanggung jawab dan tekad.

    Ketika hampir lulus SMA, ia juga pernah mengikuti program PBUD (Penjaringan Bibit Unggul Daerah) di UGM dengan mengambil jurusan kedokteran. Namun, tiba-tiba ia merasa terpanggil untuk mondok di Ploso. Pada saat yang sama, tokoh-tokoh NU mendatanginya dan mendorong agar dirinya tetap melanjutkan kuliah kedokteran, dengan alasan agar ada orang NU yang menjadi dokter. Keinginannya untuk mondok sempat goyah. Namun, Nyai Rohmah kembali memberi nasihat yang menguatkan,

    “Kalau sudah punya niat yang baik dan mulia, jangan mudah digoyahkan oleh siapapun.” Nasihat ini menjadi pegangan baginya untuk tetap teguh pada pilihan dan niat yang diyakini.

    WAFATNYA SANG SUAMI

         Pada akhir tahun 1991 M. Kyai Syadzili wafat. Sekitar 14 hari sebelum wafat, beliau memberikan wasiat kepada Nyai Rohmah (sebagaimana diceritakan Nyai Rohmah kepada Salah satu putra beliau). Di antara wasiat itu adalah agar tidak ada satu pun anak yang putus pendidikan, baik yang mondok, sekolah, maupun kuliah. Padahal saat itu, dari sembilan putra-putri Nyai Rohmah yang sudah menikah hanya satu orang. Dengan demikian, Nyai Rohmah mendapat amanat untuk menuntaskan pendidikan delapan putra-putrinya tanpa peninggalan warisan materi apapun. Pada masa itu, jumlah santri pun masih bisa dihitung dengan jari.

    Saat Kyai Syadzili wafat, para santri yang tersisa sowan kepada Nyai Rohmah dan menyampaikan bahwa jika Salah satu putra beliau yang berada di ploso tidak segera pulang, hanya menunggu waktu seluruh santri akan boyong. Namun, dengan tegas Nyai Rohmah berkata, “Apapun yang terjadi, dia harus tetap bertahan di Ploso.” Hal ini beliau lakukan karena ngugemi wasiat dari suami tercinta.

    Ketika keadaan sudah sangat menuntut anak tersebut untuk pulang, ia memohon izin kepada Mbah Yai di ploso, ternyata izin itu tidak diberikan. Nyai Rohmah pun meminta agar dia tetap patuh kepada Mbah Yai karena di situ ada hal yang lebih penting yaitu keberkahan.

    Inilah episode terberat dalam perjalanan hidup Nyai Rohmah. Beliau harus banting tulang menghidupi keluarga sendirian tanpa modal warisan sedikit pun, sekaligus membiayai pendidikan putra-putrinya sesuai amanat sang suami. Tanpa adanya barang berharga yang bisa dijual, Nyai Rohmah melakukan segala cara demi memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan ketika menanak nasi, beliau sengaja menyisihkan satu genggam beras untuk dikumpulkan selama sebulan penuh sebagai tabungan agar bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di balik segala kesulitan itu, Nyai Rohmah tetap aktif mendidik para santri dan terlibat dalam berbagai organisasi kemasyarakatan. Yang mengherankan, meskipun hidup dalam keterbatasan, Semua putra-putri beliau tetap tercukupi biaya hidup dan pendidikannya, seolah-olah Nyai Rohmah hidup dalam kondisi berkecukupan.

    MEMETIK APA YANG TELAH DITANAM

         Alhamdulillah, satu demi satu putra-putri Nyai Rohmah berhasil menuntaskan masa pendidikannya. Bahkan sebagian dari mereka sudah mampu membantu perekonomian keluarga. Pondok pun mulai berkembang dengan bertambahnya jumlah santri. Meski belum sempurna, sudah ada putra yang berkenan mengurus pesantren sehingga pengelolaannya mulai berjalan lebih baik.

    Akhirnya, semua putra-putri Nyai Rohmah telah berkeluarga dan terentaskan di bawah asuhan beliau. Berkat perjuangan gigih Nyai Rohmah, berdirilah pesantren Asy-Syadzili 1 hingga 6 yang kini menjadi lembaga pendidikan yang mapan. Tiga putra yang tidak mengasuh pesantren justru aktif di bidang lain; ada yang berkiprah di dunia pendidikan dan ada pula yang mengabdikan diri sebagai dokter di masyarakat. Semua tetap berperan aktif dalam pengembangan pesantren Asy-Syadzili, meneruskan amanah dan visi yang telah diwariskan.

    Nyai Rohmah adalah sosok yang sangat aktif dan tak pernah mau berdiam diri, meski usianya telah sepuh. Beliau terus mengajar para santri yang masih belum lancar membaca Al-Qur’an dan dengan penuh perhatian menyimak para santri yang hendak setor hafalan. Selain itu, Nyai Rohmah juga rajin mengaji kepada putra-putranya dan menantunya, menunjukkan semangat belajar yang tak pernah pudar.

    Tak hanya itu, beliau mengumpulkan ibu-ibu untuk diajak mengaji bersama dengan mewajibkan putra dan menantu beliau meluangkan waktu khusus untuk membimbing mereka. Yang luar biasa, waktu Nyai Rohmah hampir seluruhnya dihabiskan untuk menghafal Al-Qur’an. Kemanapun beliau pergi, selalu mengajak dua orang santri untuk menyimak hafalannya selama perjalanan.

    SEMANGAT WALAU DIUSIA SENJA

         Yang paling mengharukan adalah setiap pagi dengan duduk di atas kursi roda, Nyai Rohmah datang ke ndalem Salah satu putra beliau didampingi oleh dua orang santri untuk melanjutkan hafalan Al-Qur’annya. Keteguhan dan kecintaan beliau terhadap Al-Qur’an menjadi teladan yang menginspirasi, menunjukkan bahwa semangat belajar dan pengabdian tidak mengenal batasan usia.

    Suatu ketika di Asy-Syadzili 1 sedang berlangsung peringatan Haul Al- Habib Abu Bakar Al-Athos. Karena wabah corona yang sedang merebak, acara yang semestinya diadakan di ndalem Habib Abdurrahman dipindahkan ke pondok. Nyai Rohmah turut hadir saat acara berlangsung, namun di tengah-tengah kegiatan beliau mulai merasa tidak enak badan dan meminta agar dibawa ke rumah sakit.

    WAFATNYA SANG UMMUL MA’HAD

         Sesampainya di rumah sakit, Nyai Rohmah menjalani tes swab dan hasilnya negatif, sehingga beliau dapat dirawat di kamar perawatan biasa. Alhamdulillah, seluruh keluarga dapat menjenguk beliau di rumah sakit. Namun, tiba-tiba pada malam harinya rumah sakit menghubungi keluarga dan memberitahukan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan lanjutan, Nyai Rohmah dinyatakan positif terkena virus corona. Oleh karena itu, beliau harus dirujuk ke rumah sakit lain yang khusus menangani pasien Covid-19.

    Malam itu, seluruh keluarga berkumpul di rumah sakit karena secara medis kondisi Nyai Rohmah sudah sulit diharapkan untuk sembuh. Beliau pun tidak meminta didoakan agar sembuh, melainkan memohon agar didoakan husnul khotimah. Dengan penuh harap, putra-putri beliau secara bergantian membaca talqin melalui telepon genggam, karena putra dan cucu beliau yang dokter diizinkan mendampingi di ruang perawatan. Di tengah-tengah keluarga membaca talqin, suara lantang Nyai Rohmah terdengar dengan jelas, beliau berdoa, “Ya Allah biha, Ya Allah biha, Ya Allah bihusnul khotimah.” Suara itu menjadi penguat dan penghibur hati di saat- saat penuh ujian tersebut.

    Pagi itu, pada hari Selasa, 23 Dzulqo’dah 1441 H. Yang bertepatan pada tanggal

    14 Juli 2020 M. Nyai Rohmah menghembuskan nafas terakhirnya. Alhamdulillah, beliau dapat dimandikan dan dikafani oleh keluarga dengan penuh kasih salah satu putra beliaung. Jenazah kemudian dimasukkan ke dalam peti dan dibawa pulang bukan dengan ambulan, melainkan menggunakan mobil beliau sendiri. Sesampainya di pondok, jenazah Nyai Rohmah disholati oleh banyak penta’ziyah yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Beliau kemudian dimakamkan di area pondok, tempat yang selama ini menjadi pusat perjuangan dan pengabdian beliau. Saat itu Salah satu putra beliau teringat betul bahwa setiap pagi menjelang wafatnya, Nyai Rohmah selalu rawuh ke pondok, seolah memberi isyarat bahwa beliau akan bersemayam di sana, untuk tetap menemani dan menjaga para santrinya walau sudah tiada.

    Alhamdulillah, ketika pemakaman Nyai Rohmah, Salah satu putra beliau mendapat kesempatan untuk mendampingi hingga ke liang lahat, meskipun tanpa mengenakan APD (pakaian khusus untuk jenazah Covid). Selama tujuh hari tahlil berlangsung, selalu ramai dihadiri oleh banyak orang yang datang untuk mendoakan beliau. Para penta’ziyah pun tak pernah berhenti memberikan penghormatan, sebuah hal yang tidak lazim terjadi pada jenazah Covid lainnya. Setelah tujuh hari, semua yang mendampingi Nyai Rohmah dari rumah sakit hingga pemakaman menjalani tes swab. Alhamdulillah, berkah dari beliau, tidak ada satu pun yang terjangkit wabah ini.

    Kami semua sangat merindukan Panjenengan, Nyai Rohmah. Semoga kelak kami diberi kesempatan untuk berkumpul kembali bersama Panjenengan di tempat yang penuh rahmat dan kedamaian.

    Alfatihah..

  • 7 Kata Dalam Pancasila Yang Dihapuskan

    7 Kata Dalam Pancasila Yang Dihapuskan

    Pada awalnya, bunyi sila pertama dalam pancasila pada piagam Jakarta adalah “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Yang kemudian dihapus dan diganti menjadi “Ketuhanan yang maha Esa.”

    Penghapusan ini diusulkan oleh delegasi Indonesia timur yang meliputi Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua. Keberatan ini didasari oleh kekhawatiran bahwa frasa tersebut dapat menimbulkan perpecahan dan diskriminasi terhadap warga negara Indonesia yang beragama non-Muslim.

    Lantas, apa makna dan dampak perubahan penghapusan tujuh kata ini?

    Penghapusan “tujuh kata” ini bukan sekadar perubahan redaksional, melainkan sebuah keputusan politik yang sangat strategis dan visioner. Keputusan ini menunjukkan komitmen para pendiri bangsa untuk membangun negara Indonesia yang inklusif, berdasarkan prinsip kebinekaan, karena:

    1. Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa: Dengan dihilangkannya frasa tersebut, Pancasila mampu merangkul seluruh elemen bangsa Indonesia, tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan. Ini mencegah potensi perpecahan yang serius pada awal kemerdekaan.

    2. Menegaskan Negara Kesatuan: Perubahan ini memperkuat konsep Indonesia sebagai negara kesatuan yang tidak berdasarkan pada satu agama tertentu, melainkan mengakomodasi keberagaman keyakinan.

    3. Memperkuat Toleransi Beragama: Sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” menekankan pada pengakuan adanya Tuhan bagi setiap warga negara, namun memberikan kebebasan bagi setiap individu untuk memeluk dan menjalankan agamanya masing-masing tanpa paksaan atau diskriminasi. Ini menjadi fondasi penting bagi kehidupan beragama yang harmonis di Indonesia.

    Keputusan menghapus “tujuh kata” adalah salah satu momen paling penting dalam sejarah perumusan Pancasila. Ini adalah bukti bahwa para pendiri bangsa mengutamakan persatuan di atas segala perbedaan, menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang relevan dan mampu menyatukan masyarakat Indonesia yang majemuk hingga saat ini.

  • menarik kembali pelajaran nabi ibrahim dan ismail

    menarik kembali pelajaran nabi ibrahim dan ismail

    Santripasir.id- Pelaksanaan sholat Idul adha di Masjid Asy-Syadzili berjalan dengan penuh khidmat. Jamaah terhimpun mulai dari santri, asatidz hingga alumni. Sebelum itu, gema takbir tak berhenti sejak malam sehabis pentas seni. Seluruh santri dibagi sesuai angakatan masing-masing untuk menyalakan malam dengan takbiran.

    Selepas sholat Idul adha, KH. Abdul Qodir selaku khotib naik ke atas mimbar. Beliau menarik kembali pelajaran penting dari kisah Nabi Ismail dan ayahnya, Nabi Ibrahim. 

    “Seperti yang kita ketahui dalam kisah nabi ibrahim dan putra nya. Beliau memberikan contoh yang luar biasa, yakni akan betapa pentingnya sifat tawakkal. Ketika mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih ismail, yang mendominasi pikirannya bukan pikiran bagaimana nanti jika dia kehilangan seorang anak, bagaimana rasa sakit yang akan dirasakan ismail juga bagaimana perasaan istrinya. Tapi bagaimanapun juga tetap patuh atas perintah Allah SWT.

    “فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ  ۗ اِنّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ”

    Sehingga seluruh jamaah dapat merenungi hikmah bahwa tawakkal adalah kekuatan yang luar biasa. Bertawakkal dapat membantu seorang hamba menjalani segala macam tantangan hidup, dan juga menjadi jalan menuju ridho Allah SWT.

    Khutbah ditutup setelah matahari mulai tampak dibalik kabut. Seluruh jamaah beranjak, sebagian santri memilih langsung ke kamar dan ambil makan, sebagian lagi berfoto mengabadikan kebahagiaan, sebagian lagi bahkan sudah duduk manis di sekitar area kurban, tak mau berdiri paling belakang saat proses penyembelihan.