Category: Berita

  • Dari Asy-Syadzili untuk Negeri, MERDEKA!: Gelora Rasa Syukur dan Nasionalisme Santri di HUT ke-81 RI

    Dari Asy-Syadzili untuk Negeri, MERDEKA!: Gelora Rasa Syukur dan Nasionalisme Santri di HUT ke-81 RI

    ASY SYADZILI NEWS – Memperingati 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada Senin, 17 Agustus 2026, Pondok Pesantren Salafiah Al-Qur’an (PPSQ) Asy-Syadzili 1 menggelar serangkaian perayaan khidmat sekaligus meriah. Mengusung tasyakur kemerdekaan, perhelatan ini menjadi wujud nyata komitmen santri dalam merawat spiritualitas dan membakar semangat cinta tanah air.

    Rangkaian peringatan telah dimanifestasikan sejak Minggu malam (16/8/2026) melalui gelaran spiritual bertajuk “Asy-Syadzili Bermunajat”. Berpusat di halaman utama pesantren, ribuan santri bersama jajaran pengasuh larut dalam pembacaan zikir, tahlil, dan doa bersama yang ditujukan khusus bagi para pahlawan serta syuhada bangsa. Suasana khusyuk melingkupi lokasi saat melantunkan bait-bait doa untuk keselamatan dan kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

    Tak hanya sarat akan nuansa spiritual, malam puncak munajat tersebut juga dibalut dengan panggung ekspresi seni santri. Berbagai pertunjukan kebudayaan bernuansa islami dan kebangsaan—mulai dari pembacaan puisi drama sejarah perjuangan, penampilan musik islami, hingga koreografi kolosal—turut menyemarakkan acara.

    Keesokan harinya, tepat pada 17 Agustus 2026 pagi, puncak peringatan diwujudkan melalui Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih secara serentak. Seluruh unit pendidikan di bawah naungan yayasan—mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, hingga SMK IT Asy-Syadzili—melebur menjadi satu dalam barisan upacara yang presisi dan penuh disiplin di lapangan utama sekolah.

    Para santri yang bertugas sebagai Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) menjalankan tugas dengan penuh khidmat saat Sang Saka Merah Putih berkibar diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Momentum ini menegaskan kembali peran pesantren sebagai pilar pembentuk generasi muda yang unggul secara intelektual, kokoh secara spiritual, dan berjiwa nasionalis.

    Asy Syadzili 1, Dari santri untuk negeri.

  • FMPP Ke-45: Ditengah Modernitas Dapatkah Kitab Kuning Menjadi Kompas?

    FMPP Ke-45: Ditengah Modernitas Dapatkah Kitab Kuning Menjadi Kompas?

    Berdasarkan wawancara dengan Ketua FMPP, KH. Muhammad Bahaudin.

    “Tugas kita berat kedepan, kita memiliki tantangan zaman yang luar biasa, maka maksimalkan pembelajaran di pondok pesantren”

    Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan sosial, tidak sedikit yang menganggap kitab kuning sudah tidak lagi relevan dengan kehidupan modern. Anggapan bahwa kitab kuning hanya menjadi warisan masa lalu masih sering terdengar. Namun, Ketua Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP), KH. Muhammad Bahaudin, menegaskan bahwa pandangan tersebut lahir karena belum memahami hakikat kitab kuning secara utuh.

    “Kitab sering kali dianggap ketinggalan zaman. Padahal kenyataannya, kita tidak pernah lepas dari realita kehidupan sehari-hari. Kita hidup bermasyarakat, dan sebagai santri kita punya tanggung jawab agar apa yang diajarkan dalam kitab kuning tetap berjalan sesuai hukum syariat.”

    Menurut beliau, kehidupan memang terus berubah dan persoalan yang dihadapi masyarakat semakin beragam. Akan tetapi, perubahanitu membuat kita kehilangan syariat sebagai pijakan. Justru, santri memiliki tugas untuk menghubungkan realitas kehidupan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan kitab kuning. Sebagaimana yang diucapkan oleh beliau:

    “Prinsip kita sebagai santri itu jangan kita paksakan kitab yang sesuai dengan kita tapi bagaimana kita dalam kehidupan sehari hari kita itu sesuai denga napa  yang diajarkan oleh para guru guru kita yang ada di kitab kitab kita”

    Melalui Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP), para santri dilatih untuk membahas persoalan-persoalan aktual menggunakan metodologi para ulama. FMPP diharapkan menjadi ruang belajar yang membuktikan bahwa kitab kuning tidak hanya dipelajari sebagai warisan keilmuan, tetapi juga sebagai pedoman dalam menjawab persoalan umat.

    “Mau seperti apa pun permasalahannya, semua jawabannya pasti ada di kitab kuning. Kalau orang menganggap kitab kuning itu bukan jawaban, berarti dia belum benar-benar memahami kitab kuning. Kalau dia benar-benar mengerti kitab kuning, saya rasa tidak akan ada permasalahan yang tidak ada jawabannya.”

    Beliau juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar santri di masa kini bukan hanya perkembangan teknologi atau arus globalisasi, tetapi bagaimana tetap istiqamah memegang ajaran para guru. Jangan sampai keinginan mengejar keuntungan dunia membuat santri meninggalkan nilai-nilai yang telah diwariskan oleh para ulama.

    “Jangan sampai kita terpaksa banting setir meninggalkan kitab kita hanya demi mendapatkan keuntungan-keuntungan duniawi yang hanya sesaat. Agar iman kita kuat, kita harus mempertahankan ajaran guru-guru kita dan syariat yang ada di kitab.”

    Bagi KH. Muhammad Bahaudin, seorang santri tidak boleh memaksa kitab mengikuti perkembangan zaman. Sebaliknya, kehidupan manusialah yang harus diarahkan agar sesuai dengan tuntunan syariat.

    “Prinsip kita sebagai santri itu jangan memaksakan kitab yang sesuai dengan kita, tetapi bagaimana kehidupan kita yang harus sesuai dengan apa yang diajarkan para guru dalam kitab-kitab kita.”

    Di akhir wawancara, beliau menyampaikan harapannya agar FMPP tidak hanya dikenal di lingkungan pesantren, tetapi juga menjadi rujukan masyarakat luas dalam mencari jawaban atas persoalan keagamaan. Menurutnya, selama umat berpegang pada Al-Qur’an dan kitab kuning, relevansi keduanya tidak akan pernah berakhir.

    “Harapan saya, FMPP mampu menjadi jawaban umat. Menunjukkan bahwa relevansi Al-Qur’an dan kitab-kitab kuning itu tidak ada akhirnya. Bukan berarti zaman berubah lalu kitab kuning selesai. Mau sampai kapan pun, relevansi itu masih ada.”

    Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan santri hari ini dan di masa depan bukanlah mempertahankan kitab kuning dari perubahan zaman, melainkan membuktikan bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap mampu menjadi pedoman dan solusi bagi setiap persoalan yang dihadapi umat.

  • PENUTUPAN BAHTSUL MASA’IL FMPP (FORUM MUSYAWARAH PONDOK PESANTREN) KE 45 DI PPSQ ASY-SYADZILI 1

    PENUTUPAN BAHTSUL MASA’IL FMPP (FORUM MUSYAWARAH PONDOK PESANTREN) KE 45 DI PPSQ ASY-SYADZILI 1

    ASY-SYADZILI 1 – Ratusan ulama, kiai, santri, dan tokoh masyarakat dari berbagai wilayah Jawa dan Madura menghadiri penutupan Bahtsul Masail ke-45 Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) di Pondok Pesantren Salaf Al-Quran Asy-Syadzili 1, Minggu (12/7).

    Terpilihnya Asy-Syadzili sebagai tuan rumah menjadi kebanggaan tersendiri. Abuya KH. Abdul Mun’im Syadzili dalam sambutannya menyampaikan syukur yang mendalam atas kepercayaan yang diberikan. Menurut beliau, ini bukan sekadar tanggung jawab, melainkan kehormatan yang akan tercatat dalam sejarah pondok.

    Sebagai agenda inti, perwakilan dari dewan perumus membacakan rumusan hasil musyawarah yang telah disepakati di setiap komisinya. Suasana hening menyelimuti ruangan ketika setiap pembacaan berlangsung, para peserta menyimak dengan penuh perhatian. Seluruh hasil yang dibacakan merupakan buah diskusi panjang yang telah berjalan selama dua hari penuh. 

    Di balik kebanggaan itu, beliau mengakui segala keterbatasan. Seluruh panitia telah bekerja keras memberikan pelayanan terbaik, namun kesempurnaan hanya milik Allah. Dengan rendah hati, beliau memohon maaf kepada seluruh peserta atas segala kekurangan.

    Forum yang berlangsung dua hari ini diwarnai diskusi hangat serta dilapisi oleh beragaman emosional antar peserta. Mereka datang dari berbagai penjuru, dari Madura hingga Jawa Barat, duduk bersama membahas persoalan yang dihadapi umat. Semua berlangsung dengan adab, sebagaimana diajarkan para ulama terdahulu.

    KH. Muhammad Ma’mun Mahfudz dalam mawuidoh hasanahnya beliau menyampaikan harapan beliau kepada para santri dan para musyawirin khususnya untuk terus berusaha menjadi orang yang bermanfaat untuk semua.

    Lantunan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Arsyad Qusyairi mengakhiri rangkaian acara. Seluruh hadirin memohon agar setiap pembahasan yang telah berlangsung membawa berkah bagi masyarakat luas. Panitia kembali menyampaikan maaf atas segala kekurangan.

    Bahtsul Masail ke-45 resmi ditutup. Acara diakhiri dengan salaman, simbol eratnya persaudaraan di antara mereka. Asy-Syadzili mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai tuan rumah yang dipercaya menyelenggarakan agenda besar ini.

  • Mengokohkan Peran Pesantren Dalam menjawab Isu Kontemporer Melalui FMPP XLV Se-Jawa-Madura di Pondok Asy-Syadzili

    Mengokohkan Peran Pesantren Dalam menjawab Isu Kontemporer Melalui FMPP XLV Se-Jawa-Madura di Pondok Asy-Syadzili

    Asy-Syadzili, Sabtu, 11 Juli 2026 M-Pondok Pesantren Asy-Syadzili baru saja menyelenggarakan Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) yang ke 45. Acara ini dihadiri oleh para Masyayikh, ulama, delegasi dari pesantren se-Jawa-Madura dan seluruh santri Asy-Syadzili 1. Forum Musyawarah Pondok Pesantren ini berlangsung mulai Sabtu, 11 Juli hingga Ahad, 12 juli 2026 M.

    Forum musyawarah ini dilaksanakan didalam pondok pesantren Asy-Syadzili. Forum musyawarah dibagi menjadi tiga komisi, disetiap komisi menjalani tiga jalsah atau pertemuan dan disetiap pertemuanya mengkaji persoalan keagamaan yang tengah terjadi di masyarakat dan persoalan yang terkait dengan perkembangan zaman.

    Forum musyawarah ini dipimpin oleh moderator. Hasilnya nanti akan diperiksa dan dikoreksi oleh mushohih yang terdiri dari para ulama dan kyai yang ilmu pengetahuan agamanya dalam dan mumpuni. Dalam forum ini juga terdapat perumus yang mengemban tugas merumuskan dan menyusun keputusan yang diambil dari hasil musyawarah.

    Forum musyawarah ini dimulai ba’da dzuhur, dimulai dengan moderator menjelaskan deskripsi dari permasalahan yang akan dibahas. Selepasnya satu persatu persoalan dimusyawarahkan dan dicari hukumnya berdasarkan kitab-kitab salaf dan pendapat para ulama.

    Seluruh kyai, ulama, peserta, dan santri mengikuti jalannya musyawarah dengan khidmat. Perbedaan pendapat yang sempat memicu dinamika diskusi tidak mengurangi semangat dalam bermusyawarah. Kondisi tersebut menunjukkan peran pondok pesantren dalam menjawab berbagai tantangan dan persoalan keagamaan yang berkembang seiring perubahan zaman.

    Terakhir kami sampaikan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada seluruh pihak yang telah memberikan tenaga, pikiran dan doa demi terselenggaranya FMPP XLV ini dengan baik. Semoga acara ini dapat menjadi langkah bersama untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang terus berkembang ditengah masyarakat.

  • PPSQ Asy Syadzili 1 Gelar Penutupan Ujian Akhir dan Penganugerahan Santri Berprestasi

    PPSQ Asy Syadzili 1 Gelar Penutupan Ujian Akhir dan Penganugerahan Santri Berprestasi

    Pondok Pesantren Salaf Al-Qur’an (PPSQ) Asy Syadzili 1 menggelar acara Penutupan Ujian Akhir Tahun Ajaran sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan para santri selama menempuh proses pembelajaran. Acara berlangsung dengan khidmat dan penuh semangat, dihadiri oleh jajaran pengasuh, asatidz, serta seluruh santri.

    Rangkaian acara dibuka oleh pembawa acara (MC), kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ananda Syaifudin Zuhri. Suasana semakin khusyuk ketika lantunan ayat-ayat Al-Qur’an menggema, mengawali kegiatan yang sarat akan nilai keilmuan dan spiritualitas.

    Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Ketua Pondok Pesantren, Ust. Muhammad Wafi. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pesan-pesan motivasi kepada seluruh santri agar terus istiqamah dalam menuntut ilmu serta menjaga semangat belajar demi meraih keberkahan ilmu dan masa depan yang lebih baik.

    Sambutan berikutnya disampaikan oleh perwakilan asatidz, Ust. Hamidullah. Beliau menegaskan bahwa lahirnya Asy Syadzili tidak lain adalah untuk membentuk karakter santri dan menanamkan pemahaman yang mendalam terhadap Al-Qur’an. Beliau menyampaikan untuk selalu mengutamakan akhlak sebelum ilmu. Menurutnya, memiliki ilmu saja tidak otomatis menjadikan seseorang diangkat derajatnya oleh Allah. Oleh karena itu, beliau berpesan agar para santri tidak pernah merasa puas hanya dengan menjadi orang yang alim, melainkan terus berusaha menjadi pribadi yang berakhlak mulia sepanjang hayat.

    Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Maklumat Madrasah oleh Ust. Anang Ma’ruf Amin. Dalam maklumat tersebut disampaikan berbagai ketentuan terkait kenaikan kelas serta sejumlah aturan yang berlaku di lingkungan madrasah. Pada kesempatan itu, beliau juga mengumumkan bahwa pada tahun ajaran mendatang PPSQ Asy Syadzili akan membuka program pembelajaran Bahasa Inggris sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan santri dalam menghadapi perkembangan zaman dan juga menunjukan keseriusan tekad PPSQ Asy Syadzili untuk memajukan generasi.

    Memasuki acara inti, panitia membacakan nominasi dan penghargaan bagi santri-santri berprestasi dalam berbagai bidang pembelajaran.

    Santri berprestasi bidang tahfidz jenjang Tahsin

    Kelas Tahsin 1

    1. Dimas Sahrul Gazi (90)

    Kelas Tahsin 2

    1. Ahmad Anis Syauqi (94)

    Kelas Tahsin 3

    1. Nafi Amrullah Ardiansyah (93)

    Santri berprestasi program Tahfidz jenjang SMP

    Kelas Tahfidz jenjang 1

    1. Muhammad Evan Alfaro Makhbub (91)
    2. Ahmad Mustafid (91)
    3. Muhammad Taufiqqurahman (89)

    Kelas tahfidz jenjang 2

    1. Mishari Ar Rasyid (91)
    2. Kaffa Rabbi Ahla Syarif (80)
    3. Abad Wafi Rabbani Rochmad (80)

    Santri berprestasi program Tahfidz jenjang SMA

    Kelas Tahfidz jenjang 1

    1. Owynn Ayyuasi Taj Azzam (99,5)
    2. Fizam Zami Ahmad Karim (96)
    3. Fairuz Arkan Lazuardi (94)

    Kelas Tahfidz jenjang 2

    1. Muhammad Kanzul Azam (98)
    2. Ahmad Nawwaru Ukasyah Azzahir (95,5)
    3. Muhammad Azriel Chamiel (94)

    Kelas Tahfidz jenjang 3

    1. Muhammad Azkiyan Birbik (98)
    2. Muhammad Mu’afi Mansur (88)
    3. Muhammad Ilmi Fadilah (88)

    Santri berprestasi program Tahfidz jenjang Non Formal

    Kelas Tahfidz jenjang 1

    1. Muhammad Qoidul Ghunil Muhajilin (94)
    2. Widadul Musthofa (77)
    3. Nasrullah Husain (53)

    Kelas Tahfidz jenjang 2

    1. Brian Erlangga (90)
    2. Muhammad Huda Arridwan (84)
    3. Muhammad Rizki Arifin (83,5)

    Kelas Tahfidz jenjang 3

    1. Muhammad Ainul Haq (98)
    2. Fahmi Rosyadi (95)
    3. Yasfi Fuadana (83)

    Santri berprestasi program Takmil

    Kelas Takmil Formal

    1. Muhammad Haidar Naufal Afifuddin (74)
    2. Nabil Siroj (72)
    3. Ahmad Amrin Haqiqi (71)

    Kelas Takmil Non Formal

    1. Muhammad Afriandika Romli (98)
    2. Ali Mufid Zulkarnain (97)
    3. Muhammad Ishomuddin (96)

    Santri berprestasi Madrasah Diniyah

    Jenjang Ula 1

    1. Fizamzami Achmad Karim (297)
    2. Muhammad Fitzal Ashfa (297)
    3. Muhammad Irfan Zulkarnain (295)

    Jenjang Ula 2

    1. Ahmad Atqo Imanul Wakil (348)
    2. Muhammad Evan Alfaro Makhbub (347)
    3. Ahmad Nizam (340)

     Jenjang Ula 3

    1. Abad Wafi Ramdhani Rochmad (345)
    2. Muhammad Afif Khoirul Anam (344)
    3. Muhammad Akbar Sulton (344)

    Madrasah Diniyah jenjang Wustho

    Kelas Wustho 1 Formal

    1. Ahmad Adi Febriansyah (342)
    2. Misbahuddin Nadhif (323)
    3. Nabil Siroj Basyari (321)

    Kelas Wustho 1 Non Formal

    1. Abdul Mun’im Zam Zami (244)
    2. Fahmi Zainul Muttaqin (195)
    3. Muhammad Fakhri Jauhari (180)

    Kelas Wustho 2 Formal

    1. Muhammad Fandi Narendra Muttaqin (379)
    2. Alif Maulana Fachris (361)
    3. Aldi Varinico Ensa Ridwanda (354)

    Kelas Wustho 2 Non Formal

    1. Brian Erlangga (354)
    2. Fadlan Hafiz Ramadana (353)
    3. Muhammad Fahmi Rosyadi (296)

    Kelas Wustho 3 Formal

    1. Dzateghib Roobith Aufi Halabiyah (357)
    2. Ahmad Islahul Umam (345)
    3. Ali Mufid Zulkarnain (340)

    Madrasah Diniyah jenjang Ulya

    1. Ahmad Qusyairi (230)
    2. Ali Muhdlor Salam (210)
    3. Ahmad Faizul Musyafa (145)

    Santri berprestasi program Markazul Lughoh

    Kelas Mubtadi 1

    1. Ahmad Badawi (167)

    Kelas Mubtadi 2 SMA

    1. Muhammad Dhafiq Kanz (180)

    Kelas Mubtadi 2 SMP

    1. Ahmad Maulana Ikmal (190)

    Kelas Mutawasit

    1. Ahmad Fahri Hidayat (173)

    Selain penghargaan untuk santri berprestasi, panitia juga memberikan apresiasi kepada para pengajar yang dinilai memiliki dedikasi dan kontribusi terbaik selama satu tahun pembelajaran.

    The Best Teacher program Tahfidz

    1. Ust. Muhammad Nafi Addiyar
    2. Ust. Muhammad Izzul Bahri
    3. Ust. Ali Mufid Zulkarnain
    4. Ust. Haidar Naufal
    5. Ust. Muhammad Afriandika Romli

    The Best Teacher program Diniyah

    1. Ust. Ahmad Jufri
    2. Ust. Ahmad Soleh
    3. Ust. Muhammad Hizbullah
    4. Ust. Muhammad Khozin
    5. Ust. Muhammad Uwais Al Qorni

    The Best Teacher program Markazul Lughoh

    1. Habib Abdul Hadi Al Muhdhor
    2. Ust. Dzateghib Roobith Aufi Halabiyah

    Setelah seluruh penghargaan selesai dibacakan, acara dilanjutkan dengan prosesi seremonial penutupan Ujian Akhir yang dipimpin oleh Ust. Muhammad Rofiqi Al Kubro selaku Kepala Madrasah PPSQ Asy Syadzili 1. Prosesi ini menjadi simbol berakhirnya rangkaian evaluasi pembelajaran sekaligus penanda dimulainya persiapan menuju tahun ajaran baru.

    Pada penghujung acara, seluruh hadirin mengikuti pembacaan doa yang dipimpin oleh Al Habib Abdullah Al Attas. Dengan penuh kekhusyukan, doa dipanjatkan sebagai ungkapan syukur atas kelancaran kegiatan serta harapan agar ilmu yang telah diperoleh para santri menjadi ilmu yang bermanfaat, membawa keberkahan, dan menjadi bekal dalam mengabdikan diri kepada agama, bangsa, dan masyarakat.

    Acara Penutupan Ujian Akhir PPSQ Asy Syadzili 1 tahun ini tidak hanya menjadi ajang penghargaan bagi para santri dan asatidz berprestasi, tetapi juga menjadi momentum untuk meneguhkan kembali pentingnya akhlak, ilmu, serta semangat belajar yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an. Pesan yang disampaikan sepanjang acara menjadi pengingat bahwa keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari capaian akademik, melainkan juga dari kualitas akhlak dan ketulusan dalam menuntut ilmu.

  • PPSQ Asy Syadzili Peringati Tahun Baru Islam 1448 H dengan Rangkaian Kegiatan Penuh Keberkahan.

    PPSQ Asy Syadzili Peringati Tahun Baru Islam 1448 H dengan Rangkaian Kegiatan Penuh Keberkahan.

    Pakis, 15 Juni 2026 — Pondok Pesantren Salaf Qur’an (PPSQ) Asy Syadzili kembali memperingati Tahun Baru Islam 1448 Hijriah dengan berbagai rangkaian kegiatan yang sarat akan nilai spiritual, tradisi keilmuan, serta pengamalan sunnah Rasulullah SAW. Kegiatan yang telah menjadi tradisi istiqamah dari tahun ke tahun ini berlangsung dengan penuh khidmat dan diikuti oleh seluruh santri, wali santri, alumni, serta masyarakat sekitar.

    Rangkaian acara dimulai sejak ba’da Dzuhur dengan kegiatan ziarah ke maqam Almaghfurlah Mbah Yai Ahmad Syadzili Muhdlor. Pada kesempatan tersebut, seluruh santri turut hadir untuk bertawassul dan berdoa bersama, sekaligus mengantarkan beberapa santri yang telah menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Pengasuh PPSQ Asy Syadzili, Abuya KH Abdul Mun’im Syadzili.

    Memasuki waktu ba’da Ashar, kegiatan dilanjutkan dengan Khataman Hizb Al-Qur’an yang secara rutin diselenggarakan setiap bulan. Majelis khataman ini menjadi salah satu agenda yang selalu dinantikan karena menghadirkan suasana kebersamaan dalam lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Tidak hanya diikuti oleh para santri, kegiatan ini juga dihadiri oleh wali santri, alumni, dan masyarakat umum yang turut merasakan keberkahan majelis tersebut.

    Usai khataman, seluruh jamaah mengikuti pembacaan doa akhir tahun yang dipimpin langsung oleh Al Habib Muhammad. Setelahnya, para santri dan jamaah dibagi ke dalam halaqah-halaqah kecil yang terdiri dari lima orang untuk menikmati hidangan ramah tamah. Selain sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT, kegiatan ini juga bertujuan mempererat ukhuwah Islamiyah serta menghidupkan sunnah kebersamaan yang diajarkan Rasulullah SAW.

    Sebagai pesantren yang dikenal luas memiliki perhatian besar terhadap ilmu Al-Qur’an dan Qira’at, PPSQ Asy Syadzili kembali menunjukkan kekhasannya pada pelaksanaan shalat Maghrib berjamaah. Pada kesempatan tersebut, jamaah dipimpin langsung oleh Abuya KH Abdul Mun’im Syadzili dengan mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an Riwayat Rauh dari Imam Ya’qub dan dilanjutkan dengan Riwayat Khalaf Al-‘Asyir. Tradisi ini menjadi salah satu ciri khas pesantren dalam menjaga dan melestarikan khazanah ilmu Qira’at yang bersanad.

    Setelah shalat Maghrib, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa awal tahun yang dipimpin oleh Al Habib Muhammad bin Idrus Al Haddad, Selanjutnya, seluruh jamaah mengikuti tradisi minum susu putih bersama sebagai bentuk tafa’ul (mengharap kebaikan) yang diwariskan oleh para ulama dalam menyambut tahun baru Islam.

    Menjelang penutupan acara, setelah pelaksanaan shalat Isya berjamaah, para santri dan jamaah kembali berkumpul dalam majelis shalawat dengan pembacaan Dalailul Khairat yang dipimpin oleh Al Habib Hasan bin Syeikh Abu Bakar bin Salim, , Al Habib Bakar Assegaf dan juga para habaib lainnya serta para masyaikh, Kegiatan ini juga merupakan agenda rutin bulanan PPSQ Asy Syadzili sebagai wujud kecintaan kepada Rasulullah SAW serta sarana memperkuat ikatan spiritual para santri dan jamaah.

    Seluruh rangkaian peringatan Tahun Baru Islam 1448 H di PPSQ Asy Syadzili berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan keberkahan. Melalui berbagai kegiatan yang berlandaskan Al-Qur’an, sunnah, serta tradisi para ulama salaf, pesantren berharap momentum pergantian tahun hijriah ini dapat menjadi sarana muhasabah, memperkuat keimanan, serta menumbuhkan semangat untuk terus menapaki jalan ilmu dan pengabdian kepada agama.

    Peringatan ini sekaligus menjadi bukti nyata komitmen PPSQ Asy Syadzili dalam menjaga tradisi keilmuan Islam, menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW, serta membina generasi Qur’ani yang berakhlak mulia dan berpegang teguh pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

  • Idul Adha dan Malam Kebersamaan Santri PPSQ Asy-Syadzili

    Idul Adha dan Malam Kebersamaan Santri PPSQ Asy-Syadzili

    Perayaan Idul Adha 1447H atau 2026, pondok pesantren salaf Al Quran asy-syadzili merayakan Idul Adha dengan penuh khidmat. Kegiatan pemotongan hewan qurban di pondok Asy Syadzili tahun ini juga berjalan lancar. Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa di lingkungan PPSQ Asy-Syadzili setelah rangkaian penyembelihan hewan qurban selesai dilaksanakan.

    Tidak hanya menjadi momentum ibadah dan berbagi kepada masyarakat, Hari Raya Idul Adha juga menjadi ajang mempererat ukhuwah antarsantri melalui kegiatan nyate, serta kegiatan penyembelihan hewan qurban.

    Aktivitas pemotongan hingga pengemasan daging qurban pun berlangsung dengan lancar dan tertib. Para santri yang telah ditunjuk sebagai panitia qurban tampak antusias menjalankan tugas masing-masing. Mereka bekerja sama dalam proses pemotongan, penimbangan, hingga pembungkusan daging yang nantinya akan didistribusikan kepada masyarakat.

    Kegiatan Idul Adha tahun ini juga menghadirkan suasana yang begitu meriah dan penuh kebersamaan. Tidak hanya diikuti oleh para santri, tetapi juga melibatkan para shohibul qurban, asatidz, serta warga sekitar yang turut hadir menyaksikan jalannya proses penyembelihan hingga pembagian daging qurban. Kehadiran berbagai kalangan tersebut semakin menambah hangat suasana kekeluargaan di lingkungan pondok.

    Daging qurban yang telah dikemas kemudian dibagikan kepada para shohibul qurban, masyarakat sekitar pondok, serta warga di lingkungan sekitar. Ratusan bungkus daging berhasil didistribusikan kepada penerima manfaat, belum termasuk bagian lain seperti kepala, kaki, dan buntut yang juga dibagikan secara terpisah.

    Kegiatan perayaan hari raya idul adha pada hari ini, tidak hanya berefek pada masyarakat sekitar pesantren. Namun, para santri juga merasakan daging kambing yang telah diolah oleh orang-orang bagian dapur pesantren dengan acara makan bersama ala santri. yakni setiap kalangan yang hadir dipersilahkan untuk membuat kelompok duduk berisi 5 orang per kelompok. Kemudian masing-masing kelompok akan diberikan 1 porsi besar talam yang berisi lauk daging yang sangat lezat.

    Setelah proses penyembelihan dan pendistribusian serta perayaan daging qurban selesai, para santri mulai berkumpul bersama teman-teman sekamar untuk menyiapkan kegiatan bakar bakar sederhana. Dengan penuh semangat, mereka saling berbagi tugas, mulai dari memotong daging, menusuk sate, menyiapkan bumbu, hingga menyalakan bara api. Suasana keakraban tampak begitu hidup di setiap sudut pondok. Canda tawa para santri menghiasi malam, menciptakan momen sederhana namun penuh makna.

    Berbeda dari tahun sebelumnya, tradisi nyate tahun ini berbeda dengan tahun kemarin, jika tahun lalu perayaan Idul Adha dikemas dengan adanya perlombaan memasak sate antar kamar yang kriteria penilainnya meliputi rasa, kreativitas, kebersihan dan kekompokan. Namun, pada tahun ini dikemas sederhana dengan rasa harmonis serta kekeluargaan.

    Kegiatan ini berlangsung di dua halaman utama pondok yakni, lapangan atas & lapangan bawah. Menu ragam sepeti gulai, sate, rawon dan soto turut serta menghiasi acara meriahnya di malam hari ini. Setelah proses sate menyate para santri berkumpul untuk memakan masakan dari hasil kerja mereka. Di sini, mereka bukan hanya di tuntut untuk membuat masakan yang enak, mereka juga di ajarkan tentang rasa kuatnya ukhuwah Islamiyah antar sesama anggota kamar, serta menambah ilmu pengetahuan mereka tentang dunia persate menyatean.

    Kesederhanaan pada tahun ini justru menciptakan nuansa kehangatan serta kebersamaan, karena pada tahun ini mereka tidak dituntut untuk berlomba-lomba melainkan mereka diberi suatu momen untuk mempererat persaudaraan mereka. Momen sate menyate juga, tidak melulu tentang membakar/menggoreng masakan olahan dari daging yang telah diberikan panitia. Di sela-sela mereka mengolah mereka juga menyempatkan diri untuk bercanda gurau bersama temannya yakni dengan bermain conteng-contengan dengan arang, yang membuat wajah serta tubuh mereka seperti dekil, karena hitamnya wajah bekas contengan arang dari temannya.

    Dengan adanya serangkaian acara perayaan Idul Adha ini. Pondok pesantren salaf Al Quran Asy Syadzili berharap, dapat turut serta memeriahkan dengan tidak hanya menunaikan ibadah qurban saja. Melainkan, juga mengadakan kegiatan edukatif sebagai wadah bagi para santri untuk menuangkan berbagai macam kreatifitasnya, dan juga sebagai media untuk mempererat hubungan ukhuwah Islamiyah.

  • Penyembelihan Hewan Qurban di PPSQ Asy-Syadzili Berlangsung Khidmat dan Penuh Kebersamaan

    Penyembelihan Hewan Qurban di PPSQ Asy-Syadzili Berlangsung Khidmat dan Penuh Kebersamaan

    Suasana penuh syukur dan kebersamaan menyelimuti pelaksanaan penyembelihan hewan qurban di PPSQ Asy-Syadzili pada momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk penghambaan diri kepada Allah SWT sekaligus sarana mempererat ukhuwah antara santri, pengurus, dan masyarakat sekitar.

    Sejak pagi hari, para panitia dan santri telah berkumpul di area penyembelihan dengan penuh antusias untuk mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan. Hewan-hewan qurban yang sebelumnya telah diterima dari para Mudhohi terlebih dahulu diperiksa kondisinya guna memastikan seluruh proses berjalan sesuai syariat Islam serta memenuhi standar kesehatan dan kelayakan hewan qurban.

    Proses penyembelihan dilakukan oleh tim yang berpengalaman dengan tetap memperhatikan adab-adab penyembelihan dalam Islam, mulai dari membaca basmalah dan takbir, menggunakan alat yang tajam, hingga memperlakukan hewan qurban dengan penuh kasih sayang. Kegiatan ini tidak hanya menjadi pelaksanaan ibadah semata, tetapi juga menjadi pembelajaran langsung bagi para santri tentang makna keikhlasan, pengorbanan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.

    Pada pelaksanaan qurban tahun ini, PPSQ Asy-Syadzili menerima sebanyak 21 hewan qurban yang terdiri dari tiga ekor sapi dan 18 ekor kambing, Sedangkan hewan-hewan lainnya berasal dari masyarakat, serta para santri atas nama pribadi yang turut berpartisipasi dalam ibadah qurban tahun ini. Salah satu sapi diatas namakan santri Asy Syadzili, namun pada hal ini tidak bisa disebut hewan qurban melainkan sebagai shadaqah biasa guna menambah rasa semangat para santri untuk berqurban pada tahun yang akan datang.

    Menariknya, para mudhohi juga diberikan kesempatan untuk belajar menyembelih hewan qurbannya secara langsung dengan pendampingan dari Habib Umar, atau yang akrab disapa Yek Umar. Pendampingan tersebut dilakukan agar para peserta tidak hanya berqurban, tetapi juga memahami tata cara penyembelihan yang benar sesuai tuntunan syariat Islam.

    Untuk memaksimalkan jalannya kegiatan, panitia membagi tugas ke dalam beberapa tim, mulai dari tim penyembelih, tim pemotongan dan pengemasan daging, hingga tim distribusi. Seluruh proses penyembelihan dan pemotongan berlangsung sejak pagi hari hingga menjelang waktu Dzuhur dengan suasana tertib dan penuh semangat gotong royong.

    Setelah seluruh proses selesai, daging qurban kemudian didistribusikan kepada masyarakat sekitar, para santri, serta warga yang membutuhkan. Semangat berbagi dan kebersamaan begitu terasa sepanjang rangkaian kegiatan, mencerminkan nilai-nilai sosial yang menjadi inti dari ibadah qurban itu sendiri.

    Melalui kegiatan ini, PPSQ Asy-Syadzili berharap nilai-nilai keikhlasan, kepedulian, dan semangat berbagi dapat terus tumbuh di tengah masyarakat. Selain menjadi bentuk ibadah kepada Allah SWT, qurban juga diharapkan mampu memperkuat rasa persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama.

    Semoga ibadah Qurban kita diterima olehnya.

  • Pelaksanaan Sholat Idul Adha di Ponpes Asy-Syadzili

    Pelaksanaan Sholat Idul Adha di Ponpes Asy-Syadzili

    PPSQ Asy-Syadzili menggelar sholat Idul Adha pada Rabu (27/5/26). Seluruh jamaah berkumpul di masjid Asy-Syadzili. Mulai dari malam (26/5) lantunan takbir tak ada hentinya menghiasi langit-langit Asy-Syadzili. Pelaksanaan Sholat idul adha berjalan dengan khidmat. Para santri dengan semangat terus melantunkan takbir.

    Pelaksanaan sholat Idul Adha dipimpin oleh Ust. Ikhwan Fakhrul Rifki selaku imam sholat Idul Adha Asy-Syadzili kali ini. Selepas salam, Habib Abdul Hadi Al Muhdlor selaku Khotib naik ke atas mimbar. Beliau mengusung tema meneladani kisah nabi Ibrahim As.

    “Mengambil kisah dari Nabi Ibrahim, beliau mengajarkan tentang keikhlasan, kesabaran, dan juga kepedulian. Kita harus meneladani dan mengamalkan do’a-do’a dari nabi Ibrahim dan juga mengambil pelajaran dari do’a-do’a beliau, diantaranya adalah do’a tentang meminta perlindungan dari dosa-dosa dan kesyirikan

    “رَبِّ ٱجْعَلْ هَـٰذَا ٱلْبَلَدَ ءَامِنًۭا وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ “ٱلْأَصْنَامَ

    “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.”

    Dengan demikian kita harus senantiasa memupuk iman dan meminta pertolongan kepada Allah agar terhindar dari dosa-dosa. Sebab sekelas Nabi pun meminta agar di lindungi dari dosa, apalah kita yang hanya seorang hamba yang lemah dan seringkali melanggar aturan-Nya.

    Khutbah berakhir setelah matahari mulai nampak, seluruh santri beranjak meninggalkan masjid. Sebagian ada yang berfoto, sebagian lagi sudah duduk bersiap untuk melihat penyembelihan hewan qurban.

  • Malam Puncak Peringatan Haul Mbah Nyai Hj. Siti Rohmah Marzuki yang Ke-6

    Malam Puncak Peringatan Haul Mbah Nyai Hj. Siti Rohmah Marzuki yang Ke-6

    Puncak peringatan Haul ke-6 Simbah Nyai Hj. Rohmah Marzuki hari ini berlangsung sangat khidmat. Rangkaian acara kali ini kurang lebih sama dengan agenda haul tahun-tahun sebelumnya, yaitu berupa pembacaan Al-Qur’an serentak oleh santri secara di tempat-tempat yang sudah ditentukan.

    Sejak waktu Subuh tadi pagi (11/05/26), suasana di sekitar maqbaroh mu’assis dan pesantren sudah riuh dengan suara lantunan ayat suci. Panitia menyelenggarakan Khotmil Qur’an yang terbagi menjadi 20 majelis. Majelis-majelis ini tersebar di beberapa tempat untuk memastikan seluruh santri ikut merasakan keberkahan khataman Al-Qur’an, serta mengharapa-harapkan keberkahan beliau.

    Menariknya, dari 20 majelis tersebut, terdapat satu majelis pusat yang menjadi poros utama. Majelis pusat ini bertempat di maqbaroh KH Ahmad Syadzili Muhdlor. Berbeda dengan majelis lainnya yang baru dimulai pada waktu Subuh, majelis di maqbaroh ini sudah berjalan lebih awal, yakni sejak Minggu malam.

    Dimulainya khataman di maqbaroh tersebut bertepatan dengan penutupan acara Khotmil Qur’an Bani Syadzili yakni pada malam tanggal 10/05/26. Dengan memperbanyak membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an harapannya dapat menambah keberkahan di hari-hari penuh barokah ini.

    Di sela-sela kesibukan mempersiapkan segala kesiapan haul, para santri terlihat begitu antusias dan penuh hormat mengikuti setiap rangkaian pembacaan Al-Qur’an. Pada sore harinya, Seluruh santri berkumpul di maqbaroh KH Ahmad Syadzili Muhdlor untuk mengikuti penutupan Khotmil Qur’an. Di sana, penutupan Khotmil Qur’an berlangsung dengan sangat istimewa karena dipimpin langsung oleh Abuya KH Abdul Mun’im Syadzili.

    Kegiatan berlanjut kembali setelah sholat Maghrib berjamaah. Di dalam masjid dan area utama, para jamaah duduk rapi untuk mengikuti pembacaan Surat Yasin dan Tahlil. Agenda ini dilakukan bersama-sama untuk mendoakan almarhumah Simbah Nyai Hj. Rohmah Marzuki agar segala amal baiknya diterima dan mendapatkan tempat yang paling mulia. Suasana terasa sangat tenang dan khidmat saat suara ratusan santri yang melantunkan tahlil dan doa terdengar kompak dan memenuhi seluruh pesantren.
    Setelah selesai dengan tahlil dan melaksanakan sholat Isya. Acara berlanjut ba’da Isya, suasana menjadi semakin meriah namun tetap khusyuk dengan adanya pembacaan Sholawat Dalailul Khoirot.

    Yang membuat suasana malam itu terasa sangat istimewa adalah kehadiran para habaib dan para masyayikh di atas panggung utama. Dengan dipimpin langsung oleh para ulama dan habaib, pembacaan Dalailul Khoirot ini menjadi salah satu bagian terpenting pada malam hari ini, setelah usai membaca sholawat dalailul khoirot. Para jamaah yang dipimpin langsung oleh tim Al Banjari Asy Syadzili melantunkan sholawat Mahalul qiyam, suasana begitu khusyu’ dan tenang tak jarang ada beberapa santri yang begitu khusyu’nya membaca sholawat tanpa sadar mulai menetskan air mata, bukti puncak kerinduan pada kanjeng nabi Muhammad, pembacaan sholawat ditutup dengan doa yang dibacakan oleh beliau Al Habib dengan penuh khusyu’ menambah keberkahan acara pada malam hari ini.

    Tepat pukul 20.50 musik mengalun syahdu para hadirin terdiam, para santri membuat koreo lampu membuentuk tulisan murobiyah yang berarti sang guru. Sambil melantunkan lagu berjudul rindu (dibuat khusus untuk mbah Nyai Hj Siti Rohmah Marzuki), pseluruh santri hanyut dalam kerinduan yang ditulis melalui syair, setiap suara memanggil Namanya, merindu padanya, merindu setiap detik yang berlalu bersamanya.