Pernah lihat orang kaya raya tapi tetap serakah? Atau pejabat tinggi yang masih sibuk menjilat demi posisi lebih besar? Atau tetangga mewah yang tega mengusir pengemis? Semua itu bukan kebetulan. Ada benih yang tumbuh subur di dalam: cinta dunia. Diam-diam, ia mengubah manusia. Dari peduli jadi cuek. Dari murah senyum jadi cemberut saat keinginan tak terpenuhi.
Dunia itu sendiri netral. Batu, uang, mobil, tanah semua tidak berdosa. Masalahnya saat manusia menempatkan mereka di atas nilai, moral, bahkan di atas Tuhan. Pada titik itu, manusia tidak lagi memiliki dunia. Dunia justru memilikinya. Satu per satu prinsip runtuh, satu per satu alasan menguatkan tindakan curang. Siklusnya dimulai dari rasa tak pernah cukup. Gaji naik, tapi iri melihat gaji orang lain lebih besar. Promosi didapat, tapi masih membandingkan jabatan rekan. Ambisi perlahan berubah jadi keserakahan.
Fenomena ini sudah tua. Alkisah, seorang hakim adil menerima bingkisan emas dari konglomerat. Keesokan harinya, putusannya mulai berat sebelah. Ia tetap mengatakan hal benar, tapi hatinya telah menerima bisikan lain. Kisah ini berulang sepanjang masa—bisa menimpa manajer, pejabat, atau ulama. Tak ada yang kebal. Tapi hikmahnya bukanlah agar manusia miskin atau membenci kekayaan. Nabi sendiri punya unta, tanah, dan istri-istri terhormat. Saat ditawari emas oleh perempuan tua yang ingin menggoda agamanya, ia menolak dengan ringan. Bukan karena emas buruk, tapi dadanya telah penuh dengan keyakinan bahwa semua milik Allah dan manusia cuma numpang lewat.
Lalu, haruskah berhenti mengejar prestasi? Tentu tidak. Pelajar wajib belajar, pedagang wajib menghitung untung, pekerja wajib mengejar target. Semua itu tanggung jawab. Tapi satu pertanyaan harus terus menyala: “Untuk apa semua ini?” Jika jawabannya hanya “hidup nyaman”, waspadalah. Jika “agar lebih memberi, lebih berguna, lebih dekat kepada-Nya”, dunia tak akan merusak. Dunia manis di awal, pahit di akhir. Pegang dengan satu tangan, selamat. Peluk erat dengan dua, terbawa arus. Kesadaran bisa datang kapan saja. Yang diperlukan hanyalah keberanian mengembalikan dunia ke tempatnya: di bawah kaki, bukan di dada.

Leave a Reply