Di antara hari-hari yang berlalu dalam cepatnya waktu, ada hari-hari yang tidak sekadar hadir membawa pergantian tanggal. Ia datang membawa panggilan. Panggilan bagi jiwa yang lelah, bagi hati yang letih oleh dunia, bagi siapa pun yang diam-diam merindukan jalan pulang menuju Tuhannya.
Di bulan Dzulhijjah, Allah menghadirkan satu hari yang begitu agung: Hari Arafah. Sebuah hari yang bukan sekadar bagian dari rangkaian ibadah Haji, melainkan sebuah pelajaran besar tentang bagaimana seorang hamba mempersiapkan dirinya sebelum benar-benar kembali kepada Rabb-nya.
Hari itu adalah hari ketika langit seolah lebih dekat, pintu ampunan lebih terbuka, dan rahmat Allah turun dengan limpahan yang tak terukur.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Lathaiful Ma’arif menuturkan sebuah kisah yang begitu menggetarkan. Ketika Syaikh Ali bin Al-Muwaffaq sedang wukuf di Arafah, beliau memandang lautan manusia yang datang dari berbagai penjuru dunia, semuanya mengangkat tangan dengan satu harapan: ampunan Allah.
Beliau pun berdoa,
“Ya Allah, jika tidak ada seorang pun di antara mereka yang Engkau terima hajinya, maka aku hibahkan hajiku untuk mereka.”
Malam harinya, beliau bermimpi dan mendengar seruan:
“Wahai Ibnul Muwaffaq, apakah engkau merasa lebih dermawan daripada-Ku? Sungguh Aku telah mengampuni seluruh orang yang berada di tanah Arafah itu, dan juga orang-orang seperti mereka. Bahkan setiap dari mereka Aku izinkan memberi syafaat kepada keluarga dan kerabatnya.”
Betapa luas kasih sayang Allah. Betapa tak terbatas ampunan-Nya. Sering kali kita datang dengan dosa yang tak terhitung, tetapi Allah menyambut kita dengan rahmat yang tak berbatas.
Maka, masih kata Imam Ibnu Rajab, siapa saja yang ingin mendapatkan bagian dari keutamaan Arafah meski tidak sedang berdiri di Padang Arafah hendaknya ia menghidupkan hari itu dengan amal-amal terbaik.
Pertama, berpuasa di Hari Arafah.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda bahwa puasa Arafah menjadi sebab dihapuskannya dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Betapa murahnya Allah memberi kesempatan, hanya dengan satu hari lapar dan dahaga, Dia menghapus dua tahun luka dosa kita.
Kedua, menjaga diri dari segala bentuk maksiat.
Sebab Arafah bukan hanya tentang amal yang banyak, tetapi juga tentang hati yang bersih. Menjaga lisan dari dusta, menjaga mata dari yang haram, menjaga telinga dari hal yang melalaikan itulah bentuk wukuf kita hari ini. Berdiri menjaga diri di hadapan Allah.
Ketiga, memperbanyak dzikir tauhid.
Sebab inti dari Arafah adalah kembali mengikrarkan siapa Tuhan kita sebenarnya:
لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد، وهو على كل شيء قدير
Kalimat yang sederhana, namun di dalamnya ada penyerahan total seorang hamba: bahwa tidak ada tempat bergantung selain kepada-Nya.
Keempat, memperbanyak doa dan istighfar.
Sebab Arafah adalah hari ketika doa-doa naik ke langit dengan jalan yang lebih lapang. Hari ketika air mata lebih mudah jatuh. Hari ketika penyesalan terasa lebih jujur.
Maka jangan biarkan hari itu berlalu hanya sebagai tanggal di kalender.
Ucapkanlah dalam sunyi:
اللهم أعتق رقبتي من النار وأوسع لي من الرزق الحلال واصرف عني فسقة الجن والإنس
“Ya Allah, bebaskanlah diriku dari api neraka, lapangkanlah rezekiku yang halal, dan jauhkan aku dari keburukan jin dan manusia.”
Lebih dari itu, Hari Arafah adalah hari paling agung di mana Allah mengampuni dosa-dosa Kaum Mukminin di segala penjuru dunia mana kala mereka membentangkan diri untuk mendapatkan anugerah Allah yang dicurahkan pada hari tersebut dengan do’a yang sungguh-sungguh. Rasulullah SAW bersabda :
“Jika tiba hari Arafah, tidaklah seseorang masih mempunyai setitik iman dalam hatinya melainkan ia akan diampuni. Lantas ada yang bertanya: Ya Rasulallah, apakah terkhusus bagi yang wukuf di Arafah saja atau untuk semua manusia? Rasulullah menjawab: Untuk semua manusia”.
(HR. Abu Daud)
Sungguh, Arafah sejatinya bukan hanya milik mereka yang berdiri di tanah suci. Ia milik semua hati yang ingin kembali. Milik setiap jiwa yang ingin dibersihkan. Milik setiap hamba yang diam diam menyimpan rindu untuk lebih dekat kepada Rabb-nya.
Mungkin hari ini kita tidak berada di Padang Arafah.
Mungkin kita tidak mengenakan pakaian ihram yang putih.
Mungkin kita tidak sedang bertalbiyah bersama jutaan manusia.
Namun, bukankah langit yang mendengar doa mereka adalah langit yang sama yang menaungi kita?
Bukankah Tuhan yang mendengar tangis mereka adalah Tuhan yang sama yang mendengar lirih munajat kita?
Maka jangan merasa jauh.
Sebab, jarak menuju Allah bukan ditentukan oleh berapa kilometer perjalanan kita menuju Makkah, tetapi oleh seberapa tulus hati kita melangkah menuju-Nya.
Jadikan Arafah sebagai momentum pulang.
Pulang dari dosa menuju taubat.
Pulang dari lalai menuju sadar.
Pulang dari kerasnya hati menuju lembutnya iman.
Karena siapa tahu, ini adalah Arafah terakhir yang Allah titipkan kepada kita.
Siapa tahu, ini adalah undangan terakhir sebelum suatu hari nanti kita benar-benar dipanggil pulang.
Maka sambutlah ia dengan air mata, dengan doa, dengan puasa, dengan dzikir, dan dengan hati yang berkata penuh harap:
“Ya Allah, jika aku belum menjadi hamba yang baik, maka izinkan Hari Arafah ini menjadi langkah awal perjalanan pulangku kepada-Mu.”

Leave a Reply