Dalam tradisi keilmuan islam yang baik, pengetahuan-pengetahuan tumbuh dan menjalar melalui guru ke guru, dengan asal-usul yang jelas sampai kepada Rasulullah. Pengetahuan, seperti hal nya dengan urusan kenyang, tak mungkin bisa disingkirkan dari kemaslahatan banyak orang, toh meski mereka merasa tak membutuhkan, pada akhirnya mereka bakal mati secara perlahan. Guru-guru yang kita miliki sekarang, setidaknya, telah mendulang kita saban hari dan menjadi pemandu yang menunjukkan apa-apa yang mesti kita bawa setelah kematian, menjadi juru selamat dari kematian yang lebih cepat. Sebab kebodohan, jauh membunuh ketimbang seratus peluru sekalipun.
Tentu guru bukan juru kunci yang memegang hidup-mati, mencatat tercela-terpuji, mencipta gempa-tsunami dan tugas-tugas lain yang memang sejatinya milik tuhan semata. Selayaknya kita, guru adalah manusia. Mereka, seperti juga kita, sebenarnya adalah murid dari guru mereka, dari gurunya guru mereka, dari guru yang menjadi gurunya guru mereka dan seterusnya dan seterusnya. Hanya saja, keluasan ilmu dan keputusan untuk memilih jalan keilmuan itulah, yang memberi beda antara guru dengan kita sampai kapanpun.
Kita bisa menemukan guru tanpa peduli dengan status sosial, selama mereka memiliki ilmu dan asal-usul keilmuan yang jelas, maka layak kita pilih. Mau berguru kepada ulama kondang seperti Imam Syafi’i kepada Imam Malik, atau kepada tukang sol kasut macam yang dilakukan Imam Ghozali, tentu bukan masalah. Tapi yang perlu digaris bawahi, dan tak kalah penting, adalah hubungan antara murid dan guru itu sendiri. Murid yang menghormati dan guru yang mengasihi adalah salah satu kombinasi terbaik selain mati dan iman.
Beruntung, dalam ruang yang lebih kecil, dalam ruang antara kami dengan guru kami, Abuya KH. Abdul Mun’im Syadzili, kami memiliki kombinasi tersebut. Bentuk hormat tentu tidak lahir dari ruang hampa, tidak sekonyong-konyong muncul secara spontan, tapi mesti tumbuh dari hari ke hari. Dan Abuya, dengan hati yang lapang dan punggung yang tegak, membuka jalan dari lebatnya ilalang kebodohan, memberi dan membuang paksa apa-apa yang menjadikan kami manusia. Dari perlakuan demikian, harapan dan kehormatan bisa terus lahir.
Bentuk kasih juga tidak melulu harus dengan mengusap ubun-ubun, tidak harus menimang-nimang atau me ninabobokan. Kasih yang paling terang, adalah kasih yang keterikatannya tidak menghabiskan yang sepihak, atau lebih buruk lagi, menghabiskan satu sama lain—dalam arti yang lebih luas, adalah kasih yang saling mengasihi. Abuya memahami itu dan membuktikan dengan ketekunannya dalam hari-hari kami: Bagaimana caranya menghormati ilmu dengan mencintai guru-gurunya, mencontoh perangai baik, memberi pengertian yang juga baik, sampai, pada taraf tertentu, membentak saat panjang yang seharusnya lima, cuma kami baca sampai dua.
Seperti yang beliau ajarkan, yakni menghormati ilmu dengan mencintai guru, kami pun demikian. Hari ini adalah Hari jadi nya yang ke-55, tentu kami turut bergembira dan mendoakan apa-apa yang terbaik untuk Abuya. Tidak melalui perayaan pesta yang penuh gemerlap warna-warni, tidak dengan mengacungkan sampanye atau semacamnya, melainkan dengan doa dan harapan-harapan yang kami genggam erat dengan kasih. Sebab untuk kami, guru-guru dan ilmu yang mereka miliki, adalah cahaya bagi kami yang buta untuk mengambil kembali jarak pandang sebagai manusia.
Sugeng ambal warsa, Abuya.

Leave a Reply