Author: Admin

  • Wanita Tangguh Pejuang Al Qur’an

    Wanita Tangguh Pejuang Al Qur’an

    Oleh: Abuya Kh Abdul Mun’im Syadzili

    Beliau adalah putri dari seorang kaya raya yang sholih dan dermawan, serta mencintai Para Ulama’ dan ketika Beliau mendengar ada seorang alim dan ahli Qur’an menantu dari Syaikhul Huffadz K.H.Munawwar Nur ditinggal wafat istrinya, maka ada keinginan untuk mengambilnya sebagai menantu dan diantara putrinya yang paling besar yang belum menikah adalah Beliau yang masih usia anak-anak, maka terenggutlah bahagia masa kanak2 Beliau, karena harus menikah dengan orang yang sudah tua dan sudah punya 3 orang putra.
    Saat itu semua orang menasehati agar Beliau menolak perjodohan itu, namun ketika Beliau tahu bahwa calon suaminya adalah orang yang alim dan hafal Al-Qur’an maka Beliau tidak menolak, karena berharap bisa belajar banyak dari suaminya kelak.
    Pada tahun ‘59 terjadilah pernikahan itu dan luar biasanya selama dua tahun sesudah menikah Beliau yang masih kecil ini belum mau mendekat ke suaminya kecuali di saat mengaji dan sesudah ngaji pergi lagi.
    Sesudah dua tahun maka Beliau sudah berkenan, dan terciptalah rumah tangga bahagia dengan segala keterbatasan ekonomi, karena meskipun Beliau putri dari orang yang kaya raya, Beliau hanya diberi rumah kecil bekas gudang dan sepetak tanah kecil yang diwaqofkan pada menantunya bukan sebagai pribadi, tetapi sebagai Imam Masjid.
    Ketika Beliau sudah dianugrahi putra dan putri maka terjadi puncak masa krisisnya sampai-sampai sekedar untuk makan saja tidak ada, padahal sang Suami yang tangguh dan pekerja keras sudah mencoba usaha apapun, maka di saat itu karena khawatir Sang Suami terganggu mengajarnya, maka urusan ekonomi Beliau ambil alih dan Beliau yang bekerja mencari uang.
    Saya masih ingat bahwa ketika membutuhkan uang untuk keperluan sekolah dll selalu minta kepada Beliau, sampai suatu ketika saya telat membayar SPP, saya tidak berani masuk sekolah dan menangis sejadi-jadinya, kemudian saya diajak Beliau untuk menjual kain yang sudah dibordir ke pasar dan jualan Beliau ditolak dari toko ke toko dan pulang dengan tanpa membawa uang,
    Yang luar biasa lagi di tengah kondisi yang begitu sulit, Beliau masih sempat untuk mengaji kepada Sang Suami.
    Ketika itu sudah ada beberapa santri yang muqim, yang putra dibuatkan tempat di tanah Masjid dan yang putri menempat di ndalem yang kecil dan tidak layak, maka dengan gigihnya meskipun awalnya tidak dapat izin dari Sang Suami Beliau berusaha mendirikan asrama santri di sepetak tanah Beliau dan Alhamdulillah dg kegigihan Beliau maka mendapat restu dan izin dari Sang Suami dan jadilah pondok yang bisa ditempati santri putri, yang dulu ini diperingati setiap tanggal 13 Dzulhijjah.

    Di balik wajahnya yang teduh, Beliau merupakan sosok figur yang tegas. Beliau tidak peduli itu putranya, menantunya, santrinya, saudaranya, bahkan orang lain kalau Beliau tahu mereka berbuat kesalahan atau sesuatu yang tidak pantas, maka akan diingatkan dan dimarahi seketika. Beliau juga seorang pelindung yang luar biasa, hal ini saya masih ingat betul ketika begitu kerasnya Bapak saya sehingga suatu ketika Bapak saya menghajar putri dari Ibuk yang pertama, maka Beliau menjadi tameng bagi putri tirinya ini dan Beliau yang dihajar, dan juga pernah saya alami karena nakalnya saya, maka saya dihajar oleh seseorang, maka Beliau berdiri di tengah antara saya dan orang yang menghajar saya, sehingga Beliau yang dipukuli dan lari dikejar dan dilihat oleh banyak mata.
    Dibalik hidup yang serba kekurangan, Beliau sangat dermawan, sampai suatu waktu ketika salah seorang putranya membeli rumah, uang untuk pelunasannya dititipkan Beliau kemudian datang seseorang yang minta bantuan sambil memelas, maka uang itu diberikan semuanya tanpa tersisa dan Beliau juga seorang Ibu yang visioner dengan punya pikiran yang jauh ke depan, yang terkadang para putranya tidak mampu mengikutinya, yang diantaranya adalah ketika saat itu Asy-Syadzili belum punya apa2 dengan santri yang sangat terbatas, Beliau minta agar dibangun gedung dengan 6 lantai, dan ini tidak bisa ditawar… maka Alhamdulillah akhirnya terwujud graha manarul Qur’an.
    Mewarisi kehati2an Bapak dalam masalah hukum, maka Beliau juga sangat hati-hati, terbukti ketika saat ditinggal wafat Suami tercinta, Beliau tidak ditinggali warisan sama sekali kemudian dari orang-orang yang ta’ziyah terkumpul sejumlah uang, maka Beliau tidak berani menggunakan uang itu, karena mau dibagi waris, tapi kemudian putra-putranya matur kalau itu bukan tirkah atau tinggalan sehingga tidak perlu dibagi.
    Tidak dalam hal ini saja, tapi dalam segala hal Beliau tidak malu untuk bertanya urusan agama kepada Putra dan menantunya bahkan Beliau juga ngaji kepada putra dan menantunya.

    Ketika saya masih mondok di Singosari untuk menghafal Al-Qur’an, saya tidak pernah krasan, sehingga sering pulang dan mengadu pada Beliau, dengan dikasih bumbu-bumbu sedap biar diizinkan pulang dan Alhamdulillah curhatan ini Beliau perhatikan dengan seksama, tetapi ketika selesai Beliau dawuh “sudah selesai ngadunya ? kalau sudah, segera kembali.” karena tidak boleh boyong sebelum khotam. dan ketika ini terjadi berkali-kali maka Beliau dawuh “sebagai orang tua saya tidak mau kalah dengan anak.” “apakah kamu tega memasukkan org tuamu ke dalam neraka ?” Dawuh ini yang terngiang sampai saat ini.
    Dan ketika saya hampir lulus SMA, saya ikut program PBUD (penjaringan bibit unggul daerah) UGM dengan mengambil jurusan kedokteran, tapi anehnya tiba-tiba saya ingin mondok ke Ploso dan saat itu saya didatangi tokoh-tokoh NU untuk masuk kedokteran, karena alasan Beliau-Beliau agar ada orang NU yang menjadi dokter, dan keinginan mondok menjadi goyah, maka Beliau dawuh “kalau sudah punya niat yang baik dan mulia maka jangan mudah digoyahkan oleh siapapun”.
    Dan ketika Ayahanda wafat maka santri-santri yang tersisa sowan kepada Beliau, dan matur kalau saya tetap bertahan di Ploso semua akan boyong, maka dengan tegas Beliau dawuh, “apapun yang terjadi Anak saya tetap harus bertahan di Ploso.” karena ngugemi wasiat dari Suami tercinta dan ketika kedaan sudah menuntut saya harus pulang, saya matur Mbah Yai untuk diizinkan pulang, dan ternyata tidak mendapat izin, maka Beliau minta saya untuk nurut Mbah Yai, karena di situ ada hal yang lebih penting,
    Yaitu barokah.

    Pada akhir tahun 1991, Ayahanda wafat dan sekitar 14 hari sebelum wafat memberikan wasiat kepada Beliau, (sebagaimana cerita Beliau kepada saya) yang diantara wasiatnya adalah, “agar tidak ada satu anak pun yang putus pendidikan, baik yang mondok maupun yang sekolah atau kuliah” padahal saat itu, dari 9 putra putri Beliau yang sudah menikah hanya satu, sehingga Beliau mendapat amanat untuk menuntaskan pendidikan dari 8 putra-putrinya dengan tanpa tinggalan warisan apa-apa, dan saat itu jumlah santri bisa dihitung dengan jari.
    Inilah episode terberat dalam perjalanan hidup Beliau, yang harus banting tulang untuk menghidupi keluarga, sendirian, tanpa modal warisan dan harus membiayai pendidikan putra-putrinya sesuai amanat dari sang Suami, dengan tanpa ada barang berharga yang bisa dijual.
    Sehingga segala cara Beliau lakukan sampai-sampai ketika Beliau menanak nasi Beliau menyisakan satu genggam beras untuk dikumpulkan selama satu bulan, namun dibalik kesulitan itu Beliau tetap aktif ikut mendidik para santri dan aktif di organisasi-organisasi kemasyarakatan.
    Yang mengherankan adalah, semua putra-putrinya tetap bisa tercukupi untuk biaya hidup dan pendidikannya, seakan Beliau hidup dalam kecukupan.
    Alhamdulillah satu demi satu putra/i nya menuntaskan masa pendidikannya, bahkan sebagian sudah mampu membantu perekonomian keluarga, dan pondok sudah mulai bertambah jumlah santrinya, karena meski belum sempurna tapi sudah ada putra yang berkenan mengurusnya dan akhirnya semua putra/i nya sudah berkeluarga dan terentaskan di tangan Beliau.
    Alhamdulillah dengan perjuangan Beliau berdirilah pesantren Asy-Syadzili 1-6 dan tiga putra Beliau yang tidak mengasuh pesantren, ada yang aktif di dunia pendidikan dan ada yang aktif dalam pengabdian masyarakat, sebagai dokter dan semuanya ikut berperan aktif dalam pengembangan pesantren Asy-Syadzili.
    Beliau orang yang sangat aktif dan tidak mau diam,maka dalam usia sepuhnya, Beliau mengajar santri-Santri yang masih belum lancar membaca Al-Qur’an dan menyimak santri-santri yang mau setor hafalan, dan Beliau aktif ngaji kepada putra dan menantunya.
    Beliau juga mengumpulkan Ibu-ibu untu diajak mengaji, dengan mewajibkan putra dan menantunya untuk aktif meluangkan waktu untuk mereka, dan yang luar biasa tidak ada waktu bagi Beliau kecuali untuk menghafal Al-Qur’an, sehingga kemanapun Beliau pergi, Beliau mengajak dua orang santri untuk menyimak hafalan Beliau selama di perjalanan, dan yang membuat hati saya terharu adalah setiap pagi dengan duduk di atas kursi roda Beliau Rawuh ke rumah saya, dengan didampingi dua orang santri untuk menghafalkan.
    Saat itu di Asy-Syadzili 1 sedang ada peringatan Haul Al-Habib Abubakar Al-Athos, karena sedang merebak wabah corona, sehingga acara yang sesmestinya di ndalem Habib Abdurrahman, dipindah ke pondok dan saat itu Beliau hadir di rumah tetapi di tengah-tengah acara Beliau merasa tidak enak badan dan minta dibawa ke RS dan sesampai di RS diswab dan hasilnya negatif maka bisa masuk ke kamar perawatan biasa dan Alhamdulillah semua keluarga bisa menjenguk ke RS tiba-tiba di malam harinya ada telfon dari RS kalau sesuai hasil pemeriksaan Beliau positif terkena wabah corona, maka harus dirujuk ke RS lain yang menangani covid 19.
    Malam itu semua keluarga berkumpul di RS, karena secara medis sudah sulit diharapkan sembuh dan Beliau pun tidak mau didoakan sembuh, tetapi minta dido’akan husnul khotimah, karena itu kita secara bergantian, kita mentalqin Beliau via telfon genggam, karena kebetulan putra dan cucu Beliau yang dokter diizinkan untuk mendampingi Beliau, di tengah-tengah kita mentalqin, dengan suara lantang Beliau dawuh “Ya Allah biha Ya Allah biha Ya Allah bihusnil khotimah”.
    Pagi itu di tanggal 23 Dzulqo’dah Beliau menghembuskan nafas terakhir dan Alhamdulillah bisa dimandikan dan dikafani oleh keluarga kemudian dimasukkan peti jenazah dan dibawa pulang, tidak dengan ambulan tapi dengan mobilnya sendiri dan sesampai di pondok disholati oleh banyak penta’ziyah dan dimakamkan di pondok, di sini saya teringat setiap pagi menjelang wafatnya Beliau selalu rawuh ke pondok seakan isyarat Beliau akan bersemayam di pondok, untu tetap menunggui santri-santrinya.
    Alhamdulillah ketika pemakaman saya bisa mendampingi sampai ke liang lahad meski tanpa berpakaian APD (pakaian khusus untuk jenazah covid) dan kegiatan tahlil selama 7 hari selalu banyak yang hadir, para penta’ziyah tidak pernah berhenti dan tidak lazimnya berlaku pada jenazah covid yang lain, sesudah 7 harinya semua yang mendampingi Beliau mulai dari RS sampai selesai pemakaman diswab dan Alhamdulillah berkah Beliau tidak ada satupun yang terjangkit wabah ini.

    Kami merindukan Panjenengan semoga kelak kami dikumpulkan dengan Panjenengan.

  • Sebuah cahaya bagi yang buta untuk mengambil kembali penglihatannya sebagai manusia: Catatan Milad Abuya yang ke-55

    Sebuah cahaya bagi yang buta untuk mengambil kembali penglihatannya sebagai manusia: Catatan Milad Abuya yang ke-55

    Dalam tradisi keilmuan islam yang baik, pengetahuan-pengetahuan tumbuh dan menjalar melalui guru ke guru, dengan asal-usul yang jelas sampai kepada Rasulullah. Pengetahuan, seperti hal nya dengan urusan kenyang, tak mungkin bisa disingkirkan dari kemaslahatan banyak orang, toh meski mereka merasa tak membutuhkan, pada akhirnya mereka bakal mati secara perlahan. Guru-guru yang kita miliki sekarang, setidaknya, telah mendulang kita saban hari dan menjadi pemandu yang menunjukkan apa-apa yang mesti kita bawa setelah kematian, menjadi juru selamat dari kematian yang lebih cepat. Sebab kebodohan, jauh membunuh ketimbang seratus peluru sekalipun.

    Tentu guru bukan juru kunci yang memegang hidup-mati, mencatat tercela-terpuji, mencipta gempa-tsunami dan tugas-tugas lain yang memang sejatinya milik tuhan semata. Selayaknya kita, guru adalah manusia. Mereka, seperti juga kita, sebenarnya adalah murid dari guru mereka, dari gurunya guru mereka, dari guru yang menjadi gurunya guru mereka dan seterusnya dan seterusnya. Hanya saja, keluasan ilmu dan keputusan untuk memilih jalan keilmuan itulah, yang memberi beda antara guru dengan kita sampai kapanpun.

    Kita bisa menemukan guru tanpa peduli dengan status sosial, selama mereka memiliki ilmu dan asal-usul keilmuan yang jelas, maka layak kita pilih. Mau berguru kepada ulama kondang seperti Imam Syafi’i kepada Imam Malik, atau kepada tukang sol kasut macam yang dilakukan Imam Ghozali, tentu bukan masalah. Tapi yang perlu digaris bawahi, dan tak kalah penting, adalah hubungan antara murid dan guru itu sendiri. Murid yang menghormati dan guru yang mengasihi adalah salah satu kombinasi terbaik selain mati dan iman.

    Beruntung, dalam ruang yang lebih kecil, dalam ruang antara kami dengan guru kami, Abuya KH. Abdul Mun’im Syadzili, kami memiliki kombinasi tersebut. Bentuk hormat tentu tidak lahir dari ruang hampa, tidak sekonyong-konyong muncul secara spontan, tapi mesti tumbuh dari hari ke hari. Dan Abuya, dengan hati yang lapang dan punggung yang tegak, membuka jalan dari lebatnya ilalang kebodohan, memberi dan membuang paksa apa-apa yang menjadikan kami manusia. Dari perlakuan demikian, harapan dan kehormatan bisa terus lahir.

    Bentuk kasih juga tidak melulu harus dengan mengusap ubun-ubun, tidak harus menimang-nimang atau me ninabobokan. Kasih yang paling terang, adalah kasih yang keterikatannya tidak menghabiskan yang sepihak, atau lebih buruk lagi, menghabiskan satu sama lain—dalam arti yang lebih luas, adalah kasih yang saling mengasihi. Abuya memahami itu dan membuktikan dengan ketekunannya dalam hari-hari kami: Bagaimana caranya menghormati ilmu dengan mencintai guru-gurunya, mencontoh perangai baik, memberi pengertian yang juga baik, sampai, pada taraf tertentu, membentak saat panjang yang seharusnya lima, cuma kami baca sampai dua.

    Seperti yang beliau ajarkan, yakni menghormati ilmu dengan mencintai guru, kami pun demikian. Hari ini adalah Hari jadi nya yang ke-55, tentu kami turut bergembira dan mendoakan apa-apa yang terbaik untuk Abuya. Tidak melalui perayaan pesta yang penuh gemerlap warna-warni, tidak dengan mengacungkan sampanye atau semacamnya, melainkan dengan doa dan harapan-harapan yang kami genggam erat dengan kasih. Sebab untuk kami, guru-guru dan ilmu yang mereka miliki, adalah cahaya bagi kami yang buta untuk mengambil kembali jarak pandang sebagai manusia.

    Sugeng ambal warsa, Abuya.

  • IAI ASY-SYADZILI GELAR SIMULASI VISITASI PENDIRIAN INSTITUT BERSAMA PARA PAKAR PENDIDIKAN TINGGI 

    IAI ASY-SYADZILI GELAR SIMULASI VISITASI PENDIRIAN INSTITUT BERSAMA PARA PAKAR PENDIDIKAN TINGGI 

    Pelaksanaan Simulasi Visitasi 

    Malang – Institut Agama Islam (IAI) Asy-Syadzili Malang menyelenggarakan Simulasi Visitasi Pendirian Institut pada Selasa, 30 Desember 2025, bertempat di Ruang Rapat IAI Asy-Syadzili. Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini dihadiri oleh jajaran pimpinan institusi, para Wakil Rektor, Ketua dan Sekretaris Program Studi (Kaprodi), serta dosen pendamping dari seluruh program studi, yaitu Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Pendidikan Agama Islam (PAI), Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), serta Ekonomi Syariah (ES). Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari tindak lanjut persiapan menghadapi visitasi pendirian Institut guna memastikan kesiapan kelembagaan, akademik, dan tata kelola institusi secara menyeluruh. 

    Arahan Dan Sambutan Rektor 

    Dalam sambutannya, Rektor IAI Asy-Syadzili Malang, Drs. H. Abdul Mujib Syadzili, M.Si., menyampaikan bahwa upaya pendirian Institut Agama Islam Asy-Syadzili merupakan ikhtiar strategis untuk menjawab kebutuhan yang mendesak dari para santri Asy-Syadzili yang memiliki minat dan potensi untuk berkiprah pada berbagai bidang keilmuan, namun tetap berlandaskan nilai-nilai Qur’ani dan tradisi pesantren. 

    “IAI Asy-Syadzili dihadirkan sebagai ruang pengembangan ilmu pengetahuan yang lebih luas bagi santri, tanpa tercerabut dari nilai Al-Qur’an, akhlak, dan jati diri pesantren. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan dukungan dari seluruh elemen masyarakat, termasuk para wali santri, agar ikhtiar pendirian Institut ini dapat terwujud dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi umat,” tegas beliau. 

    Pemateri Dan Substansi Kegiatan 

    Simulasi visitasi ini menghadirkan para pemateri nasional yang berkompeten di bidang tata kelola dan penjaminan mutu perguruan tinggi, yaitu Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (Prof. Amka) selaku Wakil Ketua LPTNU Jawa Timur, Dr. KH. Kusoy Fadiliyah, M.Si. selaku Rektor Institut NU Ciamis, serta Prof. Dr. Sugeng Listyo Prabowo, M.Pd. selaku Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Para narasumber memberikan penguatan terkait strategi menghadapi visitasi, penyiapan dokumen kelembagaan, penguatan tata kelola perguruan tinggi, serta pemetaan peran setiap unit kerja. Kegiatan berlangsung lancar dengan partisipasi aktif seluruh peserta sebagai wujud kesungguhan IAI Asy-Syadzili Malang dalam mewujudkan perguruan tinggi Islam yang unggul dan berdaya saing. 

    Reporter: Muchammad Jauhari