Berdasarkan wawancara dengan Ketua FMPP, KH. Muhammad Bahaudin.
“Tugas kita berat kedepan, kita memiliki tantangan zaman yang luar biasa, maka maksimalkan pembelajaran di pondok pesantren”
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan sosial, tidak sedikit yang menganggap kitab kuning sudah tidak lagi relevan dengan kehidupan modern. Anggapan bahwa kitab kuning hanya menjadi warisan masa lalu masih sering terdengar. Namun, Ketua Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP), KH. Muhammad Bahaudin, menegaskan bahwa pandangan tersebut lahir karena belum memahami hakikat kitab kuning secara utuh.

“Kitab sering kali dianggap ketinggalan zaman. Padahal kenyataannya, kita tidak pernah lepas dari realita kehidupan sehari-hari. Kita hidup bermasyarakat, dan sebagai santri kita punya tanggung jawab agar apa yang diajarkan dalam kitab kuning tetap berjalan sesuai hukum syariat.”
Menurut beliau, kehidupan memang terus berubah dan persoalan yang dihadapi masyarakat semakin beragam. Akan tetapi, perubahanitu membuat kita kehilangan syariat sebagai pijakan. Justru, santri memiliki tugas untuk menghubungkan realitas kehidupan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan kitab kuning. Sebagaimana yang diucapkan oleh beliau:
“Prinsip kita sebagai santri itu jangan kita paksakan kitab yang sesuai dengan kita tapi bagaimana kita dalam kehidupan sehari hari kita itu sesuai denga napa yang diajarkan oleh para guru guru kita yang ada di kitab kitab kita”
Melalui Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP), para santri dilatih untuk membahas persoalan-persoalan aktual menggunakan metodologi para ulama. FMPP diharapkan menjadi ruang belajar yang membuktikan bahwa kitab kuning tidak hanya dipelajari sebagai warisan keilmuan, tetapi juga sebagai pedoman dalam menjawab persoalan umat.
“Mau seperti apa pun permasalahannya, semua jawabannya pasti ada di kitab kuning. Kalau orang menganggap kitab kuning itu bukan jawaban, berarti dia belum benar-benar memahami kitab kuning. Kalau dia benar-benar mengerti kitab kuning, saya rasa tidak akan ada permasalahan yang tidak ada jawabannya.”
Beliau juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar santri di masa kini bukan hanya perkembangan teknologi atau arus globalisasi, tetapi bagaimana tetap istiqamah memegang ajaran para guru. Jangan sampai keinginan mengejar keuntungan dunia membuat santri meninggalkan nilai-nilai yang telah diwariskan oleh para ulama.
“Jangan sampai kita terpaksa banting setir meninggalkan kitab kita hanya demi mendapatkan keuntungan-keuntungan duniawi yang hanya sesaat. Agar iman kita kuat, kita harus mempertahankan ajaran guru-guru kita dan syariat yang ada di kitab.”
Bagi KH. Muhammad Bahaudin, seorang santri tidak boleh memaksa kitab mengikuti perkembangan zaman. Sebaliknya, kehidupan manusialah yang harus diarahkan agar sesuai dengan tuntunan syariat.
“Prinsip kita sebagai santri itu jangan memaksakan kitab yang sesuai dengan kita, tetapi bagaimana kehidupan kita yang harus sesuai dengan apa yang diajarkan para guru dalam kitab-kitab kita.”
Di akhir wawancara, beliau menyampaikan harapannya agar FMPP tidak hanya dikenal di lingkungan pesantren, tetapi juga menjadi rujukan masyarakat luas dalam mencari jawaban atas persoalan keagamaan. Menurutnya, selama umat berpegang pada Al-Qur’an dan kitab kuning, relevansi keduanya tidak akan pernah berakhir.
“Harapan saya, FMPP mampu menjadi jawaban umat. Menunjukkan bahwa relevansi Al-Qur’an dan kitab-kitab kuning itu tidak ada akhirnya. Bukan berarti zaman berubah lalu kitab kuning selesai. Mau sampai kapan pun, relevansi itu masih ada.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan santri hari ini dan di masa depan bukanlah mempertahankan kitab kuning dari perubahan zaman, melainkan membuktikan bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap mampu menjadi pedoman dan solusi bagi setiap persoalan yang dihadapi umat.

Leave a Reply