Sedekah Itu Soal Mau, Bukan Soal Mampu

Bersedekah adalah salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam agama Islam. Dengan bersedekah, kita dapat membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang membutuhkan serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, seringkali banyak orang berpikir bahwa sedekah itu harus nunggu sukses/ kaya terlebih dahulu. Padahal, jika kita sudah memiliki apa yang kita inginkan maka kita akan lupa memberikan harta pada orang lain.

Dalam Islam, bersedekah tidak melulu tentang kekayaan. Tetapi, bagaimana cara kita mensyukuri atas rahmat yang telah diberikan Allah pada kita. Artikel ini akan membahas pentingnya bersedekah dalam segala keadaan, berbagai manfaat yang bisa didapatkan, dan bagaimana cara kita bisa memastikan bahwa sedekah yang kita berikan mendapatkan pahala yang besar.

Hal ini sesuai dengan hadist riwayat bukhari yakni

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Yang artinya “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta(HR. Muslim).

Pernah suatu ketika seorang sahabat datang menemui Rasulullah. Sahabat itu memberi Rasulullah sebuah mantel sebagai hadiah. Mantel itu sangat indah dan setiap ujungnya ada hiasan nan cantik. Dengan senang hati Rasulullah menerima mantel tersebut dan memakainya. Tidak lama kemudian, seorang sahabat yang lain berkata, “Masyaallah betapa indahnya mantel yang engkau pakai, wahai Rasulullah. Andai saja aku bisa memiliki mantel yang sebagus itu, aku pasti sangat bahagia.”

Tanpa berpikir panjang, Rasulullah segera melepas mantel tersebut. Dengan ikhlas, Rasulullah memberikan mantel itu kepada sahabatnya. Rasulullah tidak pernah ragu memberikan benda terbaik miliknya. Rasulullah memang gemar bersedekah. Beberapa sahabat yang lain berusaha mencegah, “Jangan berikan mantel itu, wahai Rasulullah. Bukankah baginda sangat memerlukannya?” Mereka pun menasihati sahabat yang meminta mantel tersebut, “Kenapa engkau meminta sesuatu yang menjadi hak Rasulullah? Tidakkah engkau tahu bahwa mantel itu sangat berguna untuk beliau?” “Tidak apa-apa, wahai saudaraku. Aku percaya si fulan lebih memerlukan mantel ini. Insyaallah, akan ada mantel pengganti untukku nanti,” ucap Rasulullah.

Kisah ini memberikan pelajaran bahwa bersedekah bukan tentang kaya atau miskin, tapi tentang keikhlasan. Bukan tentang seberapa banyak jumlah, melainkan seberapa ikhlasnya kita dalam memberi. Bersedekah juga tidak melulu berbentuk uang, dengan barang pun kita bisa bersedekah. Orang yang memiliki banyak harta ketika bersedekah mungkin terlihat biasa. Namun, yang luar biasa adalah ketika kita merasa sedang kekurangan, tetapi masih senang bersedekah. Rasulullah sangat senang bersedekah, semoga kita sebagai pengikutnya juga demikian. Untuk mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam bersedekah hanya ada dua syarat yaitu ikhlas dan mengikuti Rasulullah.

Islam tidak melihat apa yang disedekahkan. Baik sedekah makanan/barang maupun uang tetap bernilai pahala saat dilakukan dengan syarat tersebut. Bahkan Senyum yang tulus, membantu teman yang kesulitan, memberi tenaga, waktu, bahkan mendoakan orang lain juga termasuk sedekah. Hal-hal kecil yang sering dianggap sepele justru bisa menjadi amal yang besar di sisi Allah jika dilakukan dengan niat baik.

Sering kali rasa takut kekurangan membuat seseorang menunda sedekah sampai merasa “cukup kaya”. Namun kenyataannya, tidak ada jaminan seseorang akan merasa cukup. Orang yang terbiasa berbagi sejak memiliki sedikit, biasanya akan tetap dermawan ketika memiliki banyak. Sebaliknya, jika menunggu kaya terlebih dahulu, bisa jadi kebiasaan memberi itu tidak pernah dimulai. Selain pahala, keutamaan dari amalan sedekah lebih luas lagi.

Bahkan efek dari kebiasaan bersedekah tak hanya terasa saat di dunia. Efek dari pelaksanaan amalan ini hingga ke alam kubur dan akhirat kelak.

1. Sedekah Tidak Mengurangi Harta Sedekah adalah ibadah yang tidak akan mengurangi harta, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda untuk mengingatkan kita dalam sebuah riwayat Muslim, “sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim). Mengapa sedekah tidak akan mengurangi harta? Karena meskipun secara tersurat harta terlihat berkurang, tetapi kekurangan tersebut akan ditutup dengan pahala di sisi Allah SWT dan akan terus bertambah kelipatannya menjadi lebih banyak. Hal ini merupakan janji Allah yang termaktub dalam surat Saba “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).

2. Sedekah Menghapus Dosa Sebagai makhluk Allah SWT yang tak luput dari dosa, umat Islam senantiasa diberikan berbagai keistimewaan agar berkesempatan untuk bertaubat dan menghapus dosa-dosanya dengan cara yang yang diridhai oleh Nya. Salah satunya adalah dengan sedekah. Sedekah merupakan ibadah yang istimewa, ia dapat memudahkan kita dalam menghapus dosa-dosa. Rasulullah SAW pernah bersabda “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi).

3. Sedekah Menjauhkan Diri dari Api Neraka “Dan kelak akan dijauhkan (dari neraka) orang yang paling bertakwa, yaitu orang yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan diri, dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalas, tetapi (dia berinfak) semata-mata karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar akan ridha.” (QS. Al-Lail: 17-21). Dengan menyalurkan sedekah, tidak hanya memperoleh pahala yang berlipat ganda dan menghapus dosa, tetapi juga mendekatkan diri kepada rahmat dan ampunan Allah SWT, sehingga terhindar dari azab neraka jahanam.

4. Sedekah Melipatgandakan Pahala Sedekah memberikan banyak keistimewaan kepada pelakunya, salah satu diantaranya adalah Allah SWT akan memberikan pahala yang banyak untuk orang yang bersedekah. Allah SWT berfiman, “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18) 5. Sedekah Menjadi Obat untuk Orang Sakit Firman Allah dan sabda Rasulullah SAW mengajarkan kita bahwa sedekah memiliki keutamaan luar biasa, termasuk sebagai sarana penyembuhan bagi yang sakit, sebagaimana terkandung dalam hadits, “Obatilah orang sakit kalian dengan sedekah.” (HR. Abu Daud).

Namun, penting untuk memahami secara menyeluruh bahwa sakit merupakan bagian dari takdir Ilahi yang harus diterima dengan kesabaran dan ketabahan sebagai wujud keimanan kepada Allah SWT. Cara memulai sedekah sebenarnya sangat sederhana. Langkah pertama adalah menanamkan niat yang ikhlas, yaitu memberi karena ingin membantu dan mencari kebaikan, bukan untuk mendapatkan pujian. Setelah itu, mulailah dari hal kecil sesuai kemampuan. Tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi, karena sedikit bantuan pun tetap memiliki nilai yang besar jika dilakukan dengan tulus. Sedekah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti memberikan uang, makanan, pakaian layak pakai, tenaga, ilmu yang bermanfaat, atau sekadar memberikan senyum dan ucapan yang baik kepada orang lain. Kita juga dapat mulai memperhatikan orang-orang di sekitar yang membutuhkan bantuan, seperti tetangga, teman, anak yatim, atau orang yang sedang mengalami kesulitan.

Agar menjadi kebiasaan baik, biasakan bersedekah secara rutin, misalnya setiap hari Jumat, setiap mendapat rezeki, atau dengan menyisihkan sebagian uang harian. Sedekah memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Dengan bersedekah, hati menjadi lebih tenang dan bahagia karena dapat membantu sesama. Selain itu, sedekah juga menumbuhkan rasa syukur atas nikmat yang dimiliki, sekecil apa pun itu. Kebiasaan berbagi membuat seseorang lebih peduli terhadap orang lain dan mengurangi sifat egois dalam diri. Hubungan sosial pun menjadi lebih erat karena adanya rasa kasih sayang dan kepedulian di lingkungan sekitar.

Banyak orang juga percaya bahwa sedekah dapat membawa keberkahan hidup, mempermudah urusan, dan membuka pintu rezeki dengan cara yang tidak disangka-sangka. Jadi, seberapapun kita punya usahakan untuk selalu bersedekah, bahkan seribu rupiah lebih baik jika disertai keikhlasan dibanding dengan ratusan harta yang disertai dengan riya, dan kesombongan.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *