Mimpi besar indonesia. Emas or cemas?

Bulan agustus baru saja berlalu, dengan begitu resmi sudah negara kita menginjak umurnya yang ke 80. Itu berarti kurang 20 tahun lagi indonesia mencapai umurnya yang ke seratus tahun. Tentunya, di umur yang ke satu abad ini banyak sekali harapan dan cita-cita yang bangsa kita damba-dambakan. Salah satunya ialah visi Indonesia emas 2045. Yaitu harapan agar bangsa Indonesia tumbuh menjadi negara yang sejahtera, adil dan berdaya saing tinggi.

Namun dibalik semangat optimisme tersebut, muncullah suatu pertanyaan kritis: Apakah kita benar-benar sedang menuju indonesia emas yang sejahtera atau malah sebaliknya, menuju indonesia cemas yang penuh akan kekhawatiran? Kedua hal tersebut sama-sama dapat terjadi. Semua tergantung pada langkah dan pilihan yang kita ambil sejak hari ini.

Tetapi, apabila kita melihat potensi yang indonesia miliki, Indonesia memiliki sejumlah modal yang kuat untuk mencapai negara yang maju. Salah satunya adalah bonus demografi. Yakni dimana kondisi negara indonesia lebih dominan memiliki jumlah penduduk yang produktif. Yaitu 70% jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) sedangkan sisanya 30% usia penduduk tidak produktif ( usia dibawah 14 tahun dan usia diatas 65 tahun) pada periode tahun 2024-2025.

Tentunya pemerintah tidak boleh menyia-nyiakan momentum istimewa tersebut, karena akan sangat berdampak terhadap permasalahan sosial. Seperti kemiskinan, pengangguran, dan tingginya kasus kriminalitas. Meskipun demikian Indonesia harus tetap siap dengan kondisi apapun, mengingat fakta bahwa bonus demografi merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari.

Selain bonus demografi, Indonesia memilki modal kuat yang menyongsong rasa optimisme rakyatnya, yakni dengan sumber daya alam yang melimpah. Dengan sumber daya alam yang melimpah dan dapat diiringi sumber daya manusianya yang unggul, Indonesia dapat menjadi negara yang berdaya saing tinggi dan berkualitas.

Akan tetapi, perlu kita sadari bersama. Tantangan besar indonesia emas ini dapat berubah menjadi  indonesia cemas. Apabila permasalahan pada hari ini tidak dapat ditangani sebagaimana mestinya, esok lusa permasalahan tersebut akan menjadi bom yang justru akan meruntuhkan segala hal yang selama ini telah negara kita bangun.

pendidikan adalah kunci utama untuk mencapai negara maju. Karena pendidikan merupakan tonggak utama yang dapat menghadapi tantangan dunia dengan kemajuan. Namun sayangnya, level pendidikan di indonesia masih ternilai sangat buruk. Perkembangan pendidikan di indonesia masih tidak memadai, akses dan kualitas yang tidak merata, fasilitas dan kualitas yang berbeda antara perkotaan dan pedesaan. Masih menjadi problematika tersendiri yang masih belum terselesaikan. 

Permasalahan pendidikan di indonesia masih menjadi salah satu masalah yang kompleks, dan masih membutuhkan penanganan yang lebih serius lagi untuk menghadapinya. Berdasarkan data GoodStats tahun 2022 yaitu S3 (0,02%), S2 (0,31%), S1 (4,39%), D3 (1,28%), D1&D2 (0,41%), SMA (20,89%), SMP (14,54%), Tamat SD (23,4%), Tidak tamat SD (11,14%), dan Tidak/Belum Sekolah (23,61%).

Berdasarkan data tersebut dapat kita ketahui  bersama, bahwa masih terdapat ketidaksetaraan pendidikan yang cukup besar  di negara kita. Dengan jumlah penduduk yang tidak atau belum sekolah masih mendominasi dari pada penduduk yang menempuh pendidikan di jenjang D1 hingga S3, yang hanya menyentuh angka (6,41%).

Lebih parahnya lagi, pertumbuhan ekonomi di indonesia masih sangat ketergantungan dengan sumber daya alam yang semakin lama semakin menipis. dan indonesia hanya mampu mengekspor barang mentah yang kemudian dijual dengan harga yang murah. Belum lagi dengan pertumbuhan sumber daya manusia yang semakin di atas rata-rata.

menurut data dari Statista menjelaskan, pada tahun 2025 indonesia memiliki jumlah penduduk dengan jumlah terbanyak ke 4 di dunia setelah India, tiongkok, dan Amerika serikat, yakni dengan jumlah penduduk 284,4 juta penduduk. Oleh karena itu, kita pasti membutuhkan sumber daya manusia yang uggul untuk keberlangsungan ekonomi di Indonesia.

Sama seperti negara berkembang lainnya, negara kita juga dapat menikmati pesatnya kelajuan teknologi. Akan tetapi, dibalik sifat konsumtif yang negara kita lakukan atas berkembangnya teknologi justru mendatangkan suatu tantangan baru bagi kita.

Seperti timbulnya kaum serba instan dan degaradasi moral yang disebabkan oleh budaya luar. Untuk mengatasi hal tersebut kita harus sadar bahwa sebenarnya teknologi dapat kita umpamakan sebagai pedang bermata dua yang karnanya kita dapat mendapatkan banyak manfaat. Dan karnanya juga apabila kita lengah dan tidak bijak dalam menggunakan teknologi maka kita akan terkena dampak negativenya.

Lantas, sebagai masyarakat indonesia yang sadar atas kemerosotan tersebut apakah kita hanya akan diam saja? tentu saja tidak, untuk menggapai negara maju dan berkualitas perlu adanya rasa inisiatif yang hadir di seluruh elemen yang ada di indonesia. Apabila sampai salah satu dari beberapa elemen tidak ikut serta dalam membangun negara, jangan harap negara kita akan dapat berkembang dengan baik.

Negara Indonesia dapat kita umpamakan sebagai sebuah kursi dengan empat mata kaki. yakni pemerintah, masyarakat, guru, dan siswa. Apabila sampai salah satu kaki patah atau tidak kokoh, kursinya pasti goyang bahkan bisa roboh. Dan saat ini itulah indonesia, minimnya kepercayaan dan inisiatif antar elemen yang ada. Oleh karena itu, sebagai masyarakat yang telah sadar akan ketertinggalan kita ini, mari kita bersama-sama mengintrospeksi diri dan terus melakukan berbagai macam hal yang bermanfaat.

Mari kita mulai perubahan ini dari diri kita sendiri terlebih dahulu, coba renungkan “ kira-kira masih berapa banyak buku yang sudah kita baca dalam satu bulan terakhir? dan aksi bermanfaat apa yang telah kita lakukan demi negara tercinta kita ini”

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *