FOMO: LARI PALING LELAH DI ERA DIGITAL

Di tengah banyaknya gempuran trend di media sosial saat ini, banyak menyebabkan seseorang menjadi kehilangan arah, salah satu penyebabnya ialah fomo. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi kesehatan mental dan finansial.

Fomo atau fear of missing out adalah kondisi dimana seseorang takut tertinggal dari apa yang telah dilakukan atau dicapai orang lain, terutama yang ditampilkan di media sosial. Perasaan ini membuat seseorang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain, sampai kehilangan arah dan standart hidup yang sehat.

Hasil penelitian menyebutkan bahwa fomo berawal dari naluri sosial menusia dan rasa takut akan tertinggal. Biasanya lewat postingan orang lain dimedia sosial, seseorang yang mempunyai presepsi terhadap pengalaman orang lain lebih memuaskan daripada diri sendiri, meyebabkan munculnya tekanan sosial yang datang dari perasaan akan tertinggal suatu peristiwa atau pengalaman yang mengesankan.

Fenomena fomo ini dapat berdampak pada kesehatan mental karena mendorong seseorang pada kecemasan dan ketidakpuasan diri. Menyebabkan seseorang bisa merasa hidupnya kurang berarti hanya karna tidak mengikuti trend.

Rasulullah bersabda :

اخرضِ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ با اللَّهِ وَلا تَعْجِز.

Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah, serta janganlah merasa lemah/malas.(HR. Muslim)

Dalam islam, fomo bertentangan dengan sikap fokus pada hal yang bermanfaat dan rasa syukur. Rasulullah mengajarkan agar seseorang lebih memperhatikan perbaikan diri dan tidak menjadikan standart orang lain sebagai tolak ukur kebahagiaan. Dengan terus membanding-bandingkan mengakibatkan seseorang kurang mensyukuri nikmat yang diberi oleh Allah.

Solusi dari fenomena ini tak lain adalah dengan merubah mindset kita agar lebih fokus pada penerimaan diri dan mulai membangun kembali standart diri berdasarkan gaya hidup yang sesuai dengan kemampuan diri kita. Pada akhirnya dengan jujur pada diri sendiri dan berani tampil apa adanya, merupakan perwujudan kesehatan mental yang baik. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam urusan dunia) dan janganlah engkau memandang orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih layak agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepadamu.” (HR. Muslim)

Dengan berpegang pada dawuh Rasulullah tersebut, menjadikan kita individu yang berkualitas dan dapat terhindar dari kecemasan sosial yang tak berujung. Jagalah kesehatan mentalmu, sebelum fomomenghancurkan harimu.

Referensi:

Judithya A. S. (2019). Impact of Fear of Missing Out on Psychological Well-Being Among Emerging Adulthood Aged Social Media Users. Diambil dari https://jurnal.uny.ac.id/index.php/pri/article/view/30363

Shinta P. (2023). Hubungan Antara Perasaan Takut Tertinggal (FoMO) dengan Adiksi Media Sosial pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta. Diambil dari  https://doi.org/10.21009/INSGIHT.122.10

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *