Category: Muhasabah

  • Sulit hafal?Inilah 5 penyebab hafalan santri tidak optimal

    Sulit hafal?Inilah 5 penyebab hafalan santri tidak optimal

    1.   Malas

    Penyebab pertama yang akan kita bahas terlebih dahulu adalah penyebab paling umum atau paling sering terjadi. Yakni rasa “malas”. Malas merupakan hal yang wajar, semua orang pasti akan pernah merasakannya. Entah karena hilangnya minat, mengalami masa-masa sulit, atau lain sebagainya. Namun, yang tidak wajar adalah rasa malas yang tidak kunjung datang.

    Penyakit malas yang tak kunjung selesai ini, kerap kali dialami oleh santri yang menghafal Al quran di pesantren. Juga menjadi salah satu musuh terbesar yang menghambat produktifitas dalam menambah hafalan. Dan faktor terbesar yang menyebabkan rasa malas hadir adalah tidak adanya target atau keinginan yang kuat untuk menghafal al Quran.

     Sehingga santri yang tidak memiliki target, umumnya akan terjebak dalam zona nyaman dan akhirnya akan terus bermalas-malasan. Perlu penulis ingatkan, apabila seseorang ingin mengahafalkan Al Quran sebaiknya memiliki target dalam hidupnya. Baik target jangka panjang dan jangka pendek.

     Contohnya nih, “misalkan dalam setahun saya harus dapat 15 juz, berarti dalam dua tahun ke depan insyaallah hafalan saya selesai 30 juz”. Kemudian apabila target jangka panjang telah ditentukan, lalu tinggal dibagi dalam bentuk harian (target jangka pendek). Seperti, “kalau target saya dua tahun lagi hafalan sudah tuntas 30 juz, berarti dalam sehari minimal hafalan saya harus bertambah dua halaman”.

    Nah, dengan adanya target seperti yang dicontohkan tadi, insyallah seseorang dapat meminimalkan rasa malasnya dan menjauhkan dirinya dari zona nyaman. Mengapa demikian? sebab, seseorang yang memiliki tujuan tak akan pernah menyia-nyiakan waktu yang telah berlalu begitu saja. karena dia sadar, jika dia segera beranjak dari tempat tidurnya maka kelak dia akan menerima konsekuensi yang sangat besar. Apa itu? Yakni kegagalan dalam mencapai tujuan yang telah dia tancap mantap-mantap dalam keyakinannya.   

    2.      Tidak disiplin .

    Tidak disiplin, juga menjadi salah satu faktor tidak optimalnya menghafal santri. Disiplin disini mencakup banyak hal diantaranya adalah kendali diri, komitmen, dan kepandaian mengatur waktu.

    Disiplin melibatkan kemampuan untuk mengendalikan diri , menahan nafsu dan keinginan dari hal-hal yang tidak bermanfaat atau yang tidak sesuai dengan tujuan. Sebab, apabila seorang penghafal Al Quran tidak dapat menahan keinginannya, maka dia telah memilih lebih jauh dari keberhasilannya menghafal Al Quran. 

    Karena, tidak dapat menahan nafsu adalah sifat dari orang yang suka mempertahankan-nunda pekerjaan. Yang awalnya ingin melaksanakan suatu tujuan yang baik tetapi karena kalah dengan nafsu akhirnya dia mempertahankan tujuan yang baik tersebut dan malah menuruti nafsunya yang hanya akan membuang waktunya sia-sia.

    Mirisnya, fenomena seperti itu masih sering terjadi di dalam kehidupan kita. Contohnya nih, semisal ada seorang mahasiswi yang hendak mengerjakan tugas sekaligus membaca buku di perpustakaan umum. Pada awalnya niatnya bagus, akan tetapi ketika sampai di tengah perjalanan dia melihat ada konser dari band kesukaannya sedang tampil. Karna tak mampu untuk mengusai nafsunya alhasil dia pun terhanyut ke dalam lautan orang-orang yang menonton konser tersebut.

    Tentunya hal tersebut akan sangat merugikan dirinya, selain tugasnya tidak selesai di hari itu juga,  dia telah menyia-nyiakan waktunya untuk sesuatu yang kurang bermanfaat.

    Yang tak kalah penting dari menahan nafsu ialah komitmen. Seorang penghafal Al Quran harus dapat berkomitmen dengan tujuannya. Apabila nanti malam menambah hafalan maka harus benar-benar menambah. Apabila besok subuh harus bangun awal, maka besok  harus benar-benar bangun lebih awal. dan begitupun seterusnya.

    Mengapa penulis katakan sangatlah penting untuk berkomitmen dengan suatu tujuan? Karena, apabila seseorang tidak dapat berkomitmen dengan tujuannnya, maka tujuan tersebut hanya akan menjadi angan-angan belaka.

    Kemudian, yang terpenting dari sikap disiplin ialah disiplin dalam mangatur waktu, maksud dari mengatur waktu disini ialah merencanakan dan memanfaatkan waktu dengan bijaksana untuk mencapai praktik menghafal yang efektif dan efisien.

    Seorang peghafal Al Quran harus dapat menentukan waktu emas yang bagi dirinya efektif untuk menghafal Al Quran. Karena biasanya setiap orang memiliki cara dan waktunya tersendiri yang bagi dirinya nyaman dan mudah untuk menghafal.

    Selain pemilihan waktu yang optimal untuk menghafal. Ada sesuatu yang lebih penting dan sangat perlu diperhatikan. Yakni memaksimalkan waktu  untuk mengolahnya menjadi waktu yang benar-benar  produktif.

    3.     Tidak Istiqamah

    Istiqamah dalam menghafal Al Quran disini berarti menjaga keteguhan dan konsistensi dalam menjalankan rencana menghafal. Ini melibatkan terus menerus membaca, menghafal dan mengulang (murojaah) hafalan Al Quran secara rutin dan tidak terputus-putus.

    Walaupun disaat hafalan tersebut sulit atau mudah, disaat mood hati ini semangat atau tidak yang terpenting terus saja jalani. Disaat seiring meningkatnya tingkat kesulitan yang dihadapi, ingatlah! yang terpenting terus saja jalani. Entah berapapun jumlah hafalan yang dapat dihasilkan bahkan hanya satu ayat saja dalam sehari pesan penulis jangan sampai pernah berhenti dalam menambah hafalan.

    Sebab, berkat konsistensi dan kegigihan itulah yang akan terus mengupgradedan meningkatkan kualitas hafalan dari seorang penghafal Al Quran. Sebagaimana yang diakatakan oleh pepatah “ sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit”.

    4.     Wara’

    Wara’ merupakan sifat kehati hatian dan menjauhi hal-hal yang syubhat (meragukan) atau mendekati haram. Sifat wara dalam konteks mengahafal Al Quran berarti seorang penghafal Al Quran perlu menjaga diri dari setiap barang yang syubhat (meragukan)serta menjaga kehormatan dan akhlaknya.

    Sifat wara’ ini terbilang cukup penting, dan wajib dimiliki oleh setiap pengahafal Al Quran. Terutama santri yang sedang mengahafalkan Al Quran. Posisi santri yang sedang mencari ilmu di pesantren jelas akan lebih tertantang untuk mengamalkan sifat wara’, Karena di lingkungannya yang hidup bersama, terkadang seorang santri lalay dalam menggunakan barang temannya dengan meminjam tanpa izin terlebih dahulu kepada sang pemilik.

    Nah, dari situlah merupakan titik awal yang tidak banyak orang sadari, dan kerap kali diremehkan oleh orang-orang. Padahal hal tersebut sangatlah penting dan benar-benar dapat mempengaruhi hafalan seseorang.

     Bagaimana hal tersebut dapat terjadi? Jawabnnya ialah karena Al Quran itu adalah ilmu, dan ilmu itu adalah cahaya. Sebaigamana yang terdapat dalam nasehat imam Syafi’i yang cukup terkenal:

    “ Aku mengadu kepada guruku, Al Waki’,  tentang betapa buruknya hafalanku. Beliau lalu mensehatiku untuk meninggalkan perbuatan dosa. Beliau mengatakan juga bahwa ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat dosa.”

    5.     Kurang Fokus

    Arti dari fokus dalam menghafal Al Quran yakni kemampuan untuk menjaga konsentrasi dari berbagai macam pikiran yang tidak penting dan mengganggu konsentrasi menghafal. Memang apabila kita perhatikan aspek fokus ini seakan-akan seperti suatu hal yang sepele. Akan tetapi, jangan salah. Justru fokus inilah yang mempengaruhi seberapa banyak hafalan yang mampu kita produksi.

    Berdasarkan pengalaman dari para guru yang mengajar tahfidz di pesantren. Untuk menambah hafalan, sebenarnya tidak membutuhkan waktu yang banyak atau lama. Bahkan untuk membuat hafalan satu halaman sebenarnya hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit saja, untuk ukuran orang-orang yang normal.

    Akan tetapi mengapa banyak santri yang bahkan seharian penuh menghafal siang, sore, malam akan tetapi hasil yang diciptakan juga tetap sama hanya mendapat satu halaman? Nah, faktor yang mempengaruhi hal tersebut ialah tingkat kefokusan santri tersebut ketika menghafal.

    Bisa jadi santri yang menghafal seharian itu masih mencampur adukkan pikirannya antara Al Quran yang sedang dibacanya dengan masalah yang bermunculan dipikirannya. Juga bisa jadi, di sela-sela waktu dia mengahafal dia malah melamun. Alhasil tingkat kefokusannya menurun dan waktunya terbuang sia-sia.

    Oleh karena itu, Aspek fokus dalam menghafal Al Quran sangatlah penting. Karena itulah yang menentukan hafalan seseorang dapat bertambah. Saran yang dapat pembaca gunakan agar bisa fokus daalam menghafal yakni hindari melamun, hindari berbicara yang tidak penting, dan hindari berpikir yang berlebihan atau Overthinking .

    Baik, mungkin cukup itu saja sedikit pengalaman yang dapat penulis bagikan ke teman-teman pembaca, semoga bermanfaat. Semoga adanya tulisan ini dapat membantu kita semua. Barakallah fikum…    

  • Sesudah kesulitan ada kemudahan.

    Sesudah kesulitan ada kemudahan.

    Capek, Stres, dan kesulitan dalam menghadapi masalah. Adalah hal  yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Setelah melakukan berbagai macam pekerjaan yang monoton, tubuh kita pasti akan mencapai batas kemampuannya. tak jarang pula, seiring menurunnya kekuatan tubuh, suasana hati pun juga akan turut menurun. Dan kejadian seperti itu merupakan hal lumrah yang pasti akan dirasakan oleh setiap manusia selama hidup di dunia.

    Bahkan, sekelas nabi muhammad saja pernah mendapat perlakuan buruk dari kaumnya. Dengan hinaan, celaan, caci maki, bahkan dilempari batu. Kemudian disaat nabi amat kesusahan hati, Allah turunkan dua surat berurutan kepada nabi Muhammad  guna kelapangan urusan dan kelapangan hati. Salah satunya adalah surat Al-insyirah.

    Surat Al insyirah merupakan surat ke 94 dalam Al Quran yang berarti kelapangan. Surat ini terdiri dari 8 ayat dan tergolong surat makiyah. Di dalamnya, berisi banyak pesan-pesan penting yang Allah sampaikan kepada nabi. Diantaranya ialah, allah memberikan kelapangan dada kepada nabi Muhammad, meringankan beban yang dialami oleh nabi, dan pesan yang paling berkesan ialah “bahwa setiap kesulitan ada kemudahan.”

    Kalimat itu berbunyi  ان مع العسر يسرا  “inna ma’al usri yusra” yang merupakan bunyi dari surat al insyirah, tepatnya ayat ke 6. Ayat tersebut merupakan ayat yang menjadi sumber motivasi bagi umat muslim di dunia. Bukan tanpa sebab, melainkan ayat tersebut mengandung pesan optimis yang akan mendorong seorang muslim yang membacanya untuk tetap semangat berjuang di sepanjang hidupnya.

    Ayat tersebut merupakan ayat yang berisi pesan penting bahwa tiap kesulitan yang kita alami, Allah swt telah menyiapkan kemudahan yang akan turut menyertai. Pesan ini mengajarkan kita akan betapa pentingnya terus berusaha dan tak berputus asa karena dibalik kesulitan pasti ada kemudahan yang akan  Allah berikan.

    Dengan memahami ayat ini umat muslim diajak untuk terus optimis dan yakin bahwa di setiap ujian yang Allah berikan pasti ada solusi atau jalan keluarnya. Keyakinan yang memupuk, dapat menjadi penguat serta energi yang tak tertandingi untuk terus berusaha dan tidak menyerah dalam menghadapi berbagai macam tantangan hidup.

    Hal ini pun, juga ter refleksikan dalam ayat sebelumnya yakni “Fa inna ma’al usri yusra” yang memiliki arti serupa. Pengulangan ayat ini menunjukkan betapa kuatnya penegasan Allah, yang Allah sampaikan pada ayat tersebut.

    Ayat ini juga menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kegagalan atau pun kesulitan yang kita hadapi bukanlah akhir dari segalanya. Melainkan sebagai media kita untuk belajar dari kesalahan dan meraih kesuksesan yang telah Allah siapkan bagi siapapun hambanya yang mau berusaha.

    Sebagai umat muslim yang baik, sepatutnya kita perlu bersabar dalam menghadapi berbagai macam ujian. Sebab, Allah swt tidak akan memberikan hambanya suatu ujian kecuali ia mampu untuk mengatasinya “La yukallifullahu nafsan illa wus’aha”. Maka dari itu, mari kita sama-sama terus bermujahadah menjalani kehidupan ini dalam rangka mencari ridha Allah. Juga terus mengintropeksi diri  kemudian tumbuh menjadi lebih baik lagi. Barakallah fikum…

  • Disiplin: kunci menuju kebebasan sejati.

    Disiplin: kunci menuju kebebasan sejati.

    Selama menempuh pendidikan baik dari tingkat mendasar hingga jenjang lanjutan, seseorang sudah pasti tidak asing lagi dengan kata Disiplin. Disiplin sendiri sering sekali disangkut-pautkan dengan berbagai macam pekerjaan atau tingkah laku, seperti disiplin dalam belajar, disiplin dalam bekerja dan masih banyak lagi. Dari beberapa contoh tadi kita dapat tahu bahwa disiplin sendiri adalah suatu elemen yang harus di satu padukan dengan pekerjaan demi tecapainya keberhasilan dalam pekejaan tersebut.

    Namun. Sebenarnya apa itu disiplin? Banyak orang yang memiliki pendapat dan pandangan yang bermacam-macam tentang disiplin. Bahkan, ada yang menganggap nya sebagai hukuman, pemaksaan dan juga pengekangan, mungkin karena disiplin identik dengan pembatasan diri. akan tetapi apakah benar? Bahwa disiplin adalah sesuatu yang membatasi diri kita dari mendapatkan kesenangan dan kebebasan.

    Sebenarnya, andai kita mau untuk berfikir lebih dalam, justru sikap disiplinlah yang menjadi senjata paling utama untuk membebaskan diri kita dari berbagai sikap yang tidak menyenangkan. Mengapa demikian? Karena  sikap disiplin mengajarkan kita untuk taat pada suatu aturan dan pengendalian diri.

    Memang dalam prosesnya disiplin memiliki level yang sangat sulit. Kita tidak boleh melakukan ini, tidak boleh melakukan  itu, serta apa-apa harus dibatasi dengan waktu, bahkan dapat menjadi sesuatu yang membosankan karena displin juga identik dengan konsisten atau dalam artian terus-menerus (continue).

    Akan tetapi perlu kita ingat karena melalui proses yang sangat sulit dan berat itu kita justru akan mendapatkan kemudahan dan kebebasan, sebagaimana dalam potongan ayat Al Quran  Surah Al-Insyirah (ayat 6) “ Sesunggahnya bersama kesulitan ada kemudahan”.

    Dari penggalan ayat Al quran tersebut saya akan memberikan contoh perbedaan antara anak yang disiplin dan tidak disiplin dalam mengawali harinya.

    Anak yang displin tentu akan mengawali harinya dengan bangun lebih awal, memang hal tersebut bukanlah suatu hal yang mudah dan gampang untuk dilakukan, akan tetapi dari kedisplinannya  tersebut, dia akan mendapatkan kenikmatan dan kemudahan dalam hidup, karena anak yang bangun lebih awal  akan memiliki waktu yang lebih banyak untuk melakukan persiapan menuju ke sekolah, sehingga dirinya akan dapat datang tepat waktu dan akan terbebas dari hukuman di sekolah.

    Sedangkan anak yang tidak disiplin, dia akan bangun kesiangan, dan hanya memiliki sedikit waktu untuk persiapan ke sekolah, sehingga dia akan tergesa-gesa dalam menyiapkan berbagai macam keperluannya, bahkan lebih buruknya lagi dia dapat datang terlambat ke sekolah dan mendapatkan hukuman dari sekolah.

    Berdasarkan contoh dan pembahasan tadi, kita bisa tahu bahwasannya disiplin itu akan membebaskan kita dari berbagai macam hal yang tidak menyenangkan, walaupun kelihatannya disiplin itu sangat berat dan tidak menyenangkan, akan tetapi  perlu kita sadari, karena disiplinlah semua pekerjaan dan aktivitas akan terlaksana dengan baik.

    Jadi, pilihan ada di tangan sob! Tinggal pilih saja “mau merasakan susahnya disiplin atau merasakan susahnya kehidupan”.

    Sekian dari saya, Barakallah fikum…                            

  • Rasa malu. sang benteng diri penjaga iman

    Rasa malu. sang benteng diri penjaga iman

    Dalam islam, rasa malu termasuk ke dalam sebagian iman seseorang. belum dikatakan berimanlah seseorang apabila dirinya belum memiliki rasa malu. Sebagaimana dalam hadist rasulullah yang berbunyi :

    Iman itu ada enam puluh sekian cabang, dan rasa malu adalah salah satu cabang iman ( HR. Bukhari no 09)

    Rasa malu merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap kalangan muslim. Karena dengan rasa malu inilah, setiap manusia dapat tertahan untuk tidak melakukan sesuatu hal yang terkesan kurang sopan.

    Dapat kita ketahui bersama, bahwa malu sebenarnya sudah terdapat di dalam diri seseorang, baik muslim maupun non muslim. Dan telah tertanam di dalam naluri manusia. Karena itulah seharusnya setiap manusia sudah dapat meraba antara manakah perilaku yang pantas untuk dilakukan dan manakah perilaku yang tidak pantas untuk dilakukan.

    Akan tetapi, apabila kita melihat fakta yang terjadi di zaman kita pada saat ini. Sungguh miris sekali, mata Kita akan melihat banyak sekali orang yang sudah tidak memiliki rasa malu. Alhasil terjadilah penurunan moral dan dampak-dampak negative lainnya, salah satunya seperti bangga pada saat melakukan hal-hal buruk.

    Maka dari itu, budaya malu saat melakukan hal buruk tetap harus kita pertahankan dan terus kita budayakan. Bahkan, andai teman-teman tahu, rasa malu ini sudah ada sejak zaman nabi Adam dan siti hawa usai memakan buah khuldi. Allah berfirman dalam Al Quran surat Thaha ayat 121:



    فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْءَٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ ٱلْجَنَّةِ ۚ وَعَصَىٰٓ ءَادَمُ رَبَّهُۥ فَغَوَىٰ

    Artinya: “Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia,”

    Pada intinya, Rasa malu tidak hanya merupakan perasaan atau emosi, tetapi juga merupakan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Seorang Muslim yang memiliki rasa malu akan selalu berusaha untuk menjalani kehidupan yang mencerminkan iman dan moralitas Islam yang tinggi. Dengan menjaga rasa malu, seorang Muslim dapat memberikan teladan yang baik dalam masyarakat dan membantu memelihara integritas individu dan komunitas Muslim.

    Ada kalanya diri kita ini perlu untuk membuang rasa malu. Contohnya pada saat melakukan hal baik dan menolong sesama. Dan juga ada kalanya diri kita ini wajib dan harus menghadirkan rasa malu ke dalam hati, dikala kita melakukan perbuatan buruk ataupun kesalahan.

    Oleh karena itu, kita harus pandai memposisikan dan mengarahkan naluri rasa malu kita ini untuk menjadi pendorong timbulnya perbuatan-perbuatan baik. Dan jangan sampai rasa malu kita menjadi pedang bermata dua yang justru akan menghambat pertumbuhan diri. sekian artikel ini ditulis sebagai pengingat kita bersama, Barakallah fikum..

  • Rasa malu. sang benteng diri penjaga iman

    Rasa malu. sang benteng diri penjaga iman

    Dalam islam, rasa malu termasuk ke dalam sebagian iman seseorang. belum dikatakan berimanlah seseorang apabila dirinya belum memiliki rasa malu. Sebagaimana dalam hadist rasulullah yang berbunyi :

    Iman itu ada enam puluh sekian cabang, dan rasa malu adalah salah satu cabang iman ( HR. Bukhari no 09)

    Rasa malu merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap kalangan muslim. Karena dengan rasa malu inilah, setiap manusia dapat tertahan untuk tidak melakukan sesuatu hal yang terkesan kurang sopan.

    Dapat kita ketahui bersama, bahwa malu sebenarnya sudah terdapat di dalam diri seseorang, baik muslim maupun non muslim. Dan telah tertanam di dalam naluri manusia. Karena itulah seharusnya setiap manusia sudah dapat meraba antara manakah perilaku yang pantas untuk dilakukan dan manakah perilaku yang tidak pantas untuk dilakukan.

    Akan tetapi, apabila kita melihat fakta yang terjadi di zaman kita pada saat ini. Sungguh miris sekali, mata Kita akan melihat banyak sekali orang yang sudah tidak memiliki rasa malu. Alhasil terjadilah penurunan moral dan dampak-dampak negative lainnya, salah satunya seperti bangga pada saat melakukan hal-hal buruk.

    Maka dari itu, budaya malu saat melakukan hal buruk tetap harus kita pertahankan dan terus kita budayakan. Bahkan, andai teman-teman tahu, rasa malu ini sudah ada sejak zaman nabi Adam dan siti hawa usai memakan buah khuldi. Allah berfirman dalam Al Quran surat Thaha ayat 121:



    فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْءَٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ ٱلْجَنَّةِ ۚ وَعَصَىٰٓ ءَادَمُ رَبَّهُۥ فَغَوَىٰ

    Artinya: “Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia,”

    Pada intinya, Rasa malu tidak hanya merupakan perasaan atau emosi, tetapi juga merupakan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Seorang Muslim yang memiliki rasa malu akan selalu berusaha untuk menjalani kehidupan yang mencerminkan iman dan moralitas Islam yang tinggi. Dengan menjaga rasa malu, seorang Muslim dapat memberikan teladan yang baik dalam masyarakat dan membantu memelihara integritas individu dan komunitas Muslim.

    Ada kalanya diri kita ini perlu untuk membuang rasa malu. Contohnya pada saat melakukan hal baik dan menolong sesama. Dan juga ada kalanya diri kita ini wajib dan harus menghadirkan rasa malu ke dalam hati, dikala kita melakukan perbuatan buruk ataupun kesalahan.

    Oleh karena itu, kita harus pandai memposisikan dan mengarahkan naluri rasa malu kita ini untuk menjadi pendorong timbulnya perbuatan-perbuatan baik. Dan jangan sampai rasa malu kita menjadi pedang bermata dua yang justru akan menghambat pertumbuhan diri. sekian artikel ini ditulis sebagai pengingat kita bersama, Barakallah fikum..

  • ENERGI TAK TERBATAS DARI KREATIVITAS

    ENERGI TAK TERBATAS DARI KREATIVITAS

    Sebenarnya, apa sih kreativitas itu?  sejak kecil tentu sudah tidak asing lagi bagi kita untuk mengenal kata kreatif. Tapi, apakah temen-temen sudah tau, apa arti  dari kata kreatif yang sudah kita kenal sejak lama. Mungkin beberapa orang menyangkut pautkan atau bahkan menyamai kata kreatif dengan “cerdas”. Padahal, sebenarnya keduanya memiliki perbadaan yang terletak pada kefokusannya.

    Cerdas, berfokus pada kemampuan manusia untuk memahami, belajar, bahkan memecahkan masalah dengan benar dan logis. Sedangkan kreatif, ialah kemampuan manusia untuk menciptakan suatu gagasan atau ide yang dapat bermanfaat bagi kehidupan.  Walaupun keduanya memiliki keterkaitan yang kuat, akan tetapi keduanya tetaplah suatu hal yang berbeda.

    saya akan memberi contoh seberapa besar dampak kreativitas dalam kehidupan manusia. Pada zaman dahulu, nenek moyang kita memerlukan waktu berbulan-bulan bahkan bisa lebih dari setahun untuk sampai di tanah suci mekah guna melaksanakan ibadah umroh ataupun haji.

    Namun, berkat kreativitas manusia. Seiring berjalannya waktu hadirlah di kehidupan manusia transportasi yang bernama kapal, dengannya nenek moyang kita dapat menempuh perjalanan umroh ataupun haji hanya dengan waktu beberapa minggu atau bulan saja.

    akan tetapi tidak berhenti disitu, manusia masih dapat terus mengembangkan kreativitasnya. Maka tak lama kemudian hadirlah transportasi udara yakni pesawat yang dapat membawa kita untuk pergi umroh ataupun haji hanya dengan beberapa jam saja.

    Dari contoh tersebut kita dapat tahu, bahwa kreativitas membawa dampak perubahan yang signifikan dalam kehidupan manusia. Dengan terus mengembangkan ide dan teknologi, manusia telah mampu menghancurkan batasan waktu dan jarak. Dengan adanya daya cipta manusia untuk membuat ide dan gagasan yang bermanfaat, manusia dapat menciptakan peradaban maju dan meningkatkan kualitas hidup manusia itu sendiri.

    Lantas, Bagaimana nasib manusia apabila tidak dikaruniai kemampuan  kreativitas dalam hidupnya?  dikutip dari buku The power of creativity karya Peng khen sun, kreativitas merupakan sebuah kelebihan dan kekuatan yang hanya dimiliki oleh manusia saja, sedangkan kehidupan hewan adalah kehidupan yang tidak ada kreativitas di dalamnya. untuk pemahaman lebih lanjut saya akan menyertakan contohnya.

     Mulai sejak zaman dahulu hingga saat ini, Singa selalu berburu dengan cara yang sama. Tidak pernah ada ceritanya singa di zaman purba berburu menggunakan tombak apalagi singa di zaman modern berburu menggunakan tembak atau sejenisnya.

    Mulai zaman dahulu hingga zaman modern saat ini, Monyet selalu membuka kulit pisang dengan cara yang sama, tidak ada tindakan kreatif yang dia lakukan untuk membuka kulit pasang bahkan untuk mengolahnya menjadi makanan yang lebih unik saja dia tidak bisa.

    Nah, beberapa contoh di atas adalah bukti bahwa tidak ada kreativitas di dalam dunia hewan. Dan tentu saja apabila kehidupan manusia tidak memiliki kreativitas seperti dunia hewan, maka akan terjadi Stagnasi dan juga manusia akan kesulitan menyelesaikan masalah. karena tidak ada kretivitas untuk melawan tantangan yang terus muncul dalam kehidupan sehari-hari

    Kreativitas juga sering disebut dengan “Energi tak terbatas”. Yakni kreativitas merupakan sesuatu yang dapat terus berkembang dan memperkuat dirinya secara continue.  Bukan berarti kreativitas ini sesuatu yang secara tiba-tiba mutlaq dapat memberikan manusia ide yang luar biasa. Melainkan, seperti kata seorang penulis amerika: “you can’t use up the creativity. The more you use, the more you have.”

    Artinya, kamu tidak akan bisa menghabiskan kreatifitas. Karena semakin anda menggunakan kreatifitas maka akan semakin meningkat dan berkembang pula kreatifitas tersebut. Bagaikan pohon yang terus terus tumbuh, dengan terus mencari air dan matahari. Begitupula dengan kreativitas, yang terus mencari ide dan inspirasi untuk tumbuh lebih baik dan berinovasi.

    Mungkin dengan beberapa contoh di atas, teman-teman sudah mulai paham arti dari kreativitas. sebelum saya tutup penulis akan memberikan beberapa tips yang dapat pembaca amalkan guna mengembangkan kreativitas kita.

    1.     Menelan buku sebanyak-banyaknya.

    Karena dengan membaca buku, sama halnya kita menyerap suatu ide dan juga gagasan yang telah penulis tumpahkan ke lembaran kertas.

    • Memelihara rasa ingin tahu.

    Rasa ingin tahu merupakan salah satu modal kita untuk menjemput suatu pengetahuan dan modal kita untuk menghapus kebodohan.

    • Berani mencoba, berani mengambil resiko.

    Takut untuk mencoba sesuatu adalah penyebab terhambatnya kreativitas. Sedangkan berani untuk mencoba sesuatu merupakan langkah awal kita untuk mempertajam kemampuan kita supaya lebih kreatif lagi.

    Semoga tulisan ini dapat bermanfaat, sampai jumpa lagi. barakallahfikum..

  • Mimpi besar indonesia. Emas or cemas?

    Mimpi besar indonesia. Emas or cemas?

    Bulan agustus baru saja berlalu, dengan begitu resmi sudah negara kita menginjak umurnya yang ke 80. Itu berarti kurang 20 tahun lagi indonesia mencapai umurnya yang ke seratus tahun. Tentunya, di umur yang ke satu abad ini banyak sekali harapan dan cita-cita yang bangsa kita damba-dambakan. Salah satunya ialah visi Indonesia emas 2045. Yaitu harapan agar bangsa Indonesia tumbuh menjadi negara yang sejahtera, adil dan berdaya saing tinggi.

    Namun dibalik semangat optimisme tersebut, muncullah suatu pertanyaan kritis: Apakah kita benar-benar sedang menuju indonesia emas yang sejahtera atau malah sebaliknya, menuju indonesia cemas yang penuh akan kekhawatiran? Kedua hal tersebut sama-sama dapat terjadi. Semua tergantung pada langkah dan pilihan yang kita ambil sejak hari ini.

    Tetapi, apabila kita melihat potensi yang indonesia miliki, Indonesia memiliki sejumlah modal yang kuat untuk mencapai negara yang maju. Salah satunya adalah bonus demografi. Yakni dimana kondisi negara indonesia lebih dominan memiliki jumlah penduduk yang produktif. Yaitu 70% jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) sedangkan sisanya 30% usia penduduk tidak produktif ( usia dibawah 14 tahun dan usia diatas 65 tahun) pada periode tahun 2024-2025.

    Tentunya pemerintah tidak boleh menyia-nyiakan momentum istimewa tersebut, karena akan sangat berdampak terhadap permasalahan sosial. Seperti kemiskinan, pengangguran, dan tingginya kasus kriminalitas. Meskipun demikian Indonesia harus tetap siap dengan kondisi apapun, mengingat fakta bahwa bonus demografi merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari.

    Selain bonus demografi, Indonesia memilki modal kuat yang menyongsong rasa optimisme rakyatnya, yakni dengan sumber daya alam yang melimpah. Dengan sumber daya alam yang melimpah dan dapat diiringi sumber daya manusianya yang unggul, Indonesia dapat menjadi negara yang berdaya saing tinggi dan berkualitas.

    Akan tetapi, perlu kita sadari bersama. Tantangan besar indonesia emas ini dapat berubah menjadi  indonesia cemas. Apabila permasalahan pada hari ini tidak dapat ditangani sebagaimana mestinya, esok lusa permasalahan tersebut akan menjadi bom yang justru akan meruntuhkan segala hal yang selama ini telah negara kita bangun.

    pendidikan adalah kunci utama untuk mencapai negara maju. Karena pendidikan merupakan tonggak utama yang dapat menghadapi tantangan dunia dengan kemajuan. Namun sayangnya, level pendidikan di indonesia masih ternilai sangat buruk. Perkembangan pendidikan di indonesia masih tidak memadai, akses dan kualitas yang tidak merata, fasilitas dan kualitas yang berbeda antara perkotaan dan pedesaan. Masih menjadi problematika tersendiri yang masih belum terselesaikan. 

    Permasalahan pendidikan di indonesia masih menjadi salah satu masalah yang kompleks, dan masih membutuhkan penanganan yang lebih serius lagi untuk menghadapinya. Berdasarkan data GoodStats tahun 2022 yaitu S3 (0,02%), S2 (0,31%), S1 (4,39%), D3 (1,28%), D1&D2 (0,41%), SMA (20,89%), SMP (14,54%), Tamat SD (23,4%), Tidak tamat SD (11,14%), dan Tidak/Belum Sekolah (23,61%).

    Berdasarkan data tersebut dapat kita ketahui  bersama, bahwa masih terdapat ketidaksetaraan pendidikan yang cukup besar  di negara kita. Dengan jumlah penduduk yang tidak atau belum sekolah masih mendominasi dari pada penduduk yang menempuh pendidikan di jenjang D1 hingga S3, yang hanya menyentuh angka (6,41%).

    Lebih parahnya lagi, pertumbuhan ekonomi di indonesia masih sangat ketergantungan dengan sumber daya alam yang semakin lama semakin menipis. dan indonesia hanya mampu mengekspor barang mentah yang kemudian dijual dengan harga yang murah. Belum lagi dengan pertumbuhan sumber daya manusia yang semakin di atas rata-rata.

    menurut data dari Statista menjelaskan, pada tahun 2025 indonesia memiliki jumlah penduduk dengan jumlah terbanyak ke 4 di dunia setelah India, tiongkok, dan Amerika serikat, yakni dengan jumlah penduduk 284,4 juta penduduk. Oleh karena itu, kita pasti membutuhkan sumber daya manusia yang uggul untuk keberlangsungan ekonomi di Indonesia.

    Sama seperti negara berkembang lainnya, negara kita juga dapat menikmati pesatnya kelajuan teknologi. Akan tetapi, dibalik sifat konsumtif yang negara kita lakukan atas berkembangnya teknologi justru mendatangkan suatu tantangan baru bagi kita.

    Seperti timbulnya kaum serba instan dan degaradasi moral yang disebabkan oleh budaya luar. Untuk mengatasi hal tersebut kita harus sadar bahwa sebenarnya teknologi dapat kita umpamakan sebagai pedang bermata dua yang karnanya kita dapat mendapatkan banyak manfaat. Dan karnanya juga apabila kita lengah dan tidak bijak dalam menggunakan teknologi maka kita akan terkena dampak negativenya.

    Lantas, sebagai masyarakat indonesia yang sadar atas kemerosotan tersebut apakah kita hanya akan diam saja? tentu saja tidak, untuk menggapai negara maju dan berkualitas perlu adanya rasa inisiatif yang hadir di seluruh elemen yang ada di indonesia. Apabila sampai salah satu dari beberapa elemen tidak ikut serta dalam membangun negara, jangan harap negara kita akan dapat berkembang dengan baik.

    Negara Indonesia dapat kita umpamakan sebagai sebuah kursi dengan empat mata kaki. yakni pemerintah, masyarakat, guru, dan siswa. Apabila sampai salah satu kaki patah atau tidak kokoh, kursinya pasti goyang bahkan bisa roboh. Dan saat ini itulah indonesia, minimnya kepercayaan dan inisiatif antar elemen yang ada. Oleh karena itu, sebagai masyarakat yang telah sadar akan ketertinggalan kita ini, mari kita bersama-sama mengintrospeksi diri dan terus melakukan berbagai macam hal yang bermanfaat.

    Mari kita mulai perubahan ini dari diri kita sendiri terlebih dahulu, coba renungkan “ kira-kira masih berapa banyak buku yang sudah kita baca dalam satu bulan terakhir? dan aksi bermanfaat apa yang telah kita lakukan demi negara tercinta kita ini”