Category: Kajian Abuya

  • mengoptimalkan waktu dengan berdakwah

    mengoptimalkan waktu dengan berdakwah

    Waktu adalah suatu hal yang penting dan berharga dalam kehidupan. Karna segala hal dapat kita kuasai asal kita bisa mengoptimalkan waktu. Pepatah mengatakan “waktu itu ibarat pedang, jika kamu tidak menebasnya maka kamu yang akan ditebas olehnya”.

    Kita diharuskan untuk pandai-pandai mencuri waktu. Apa yang dimaksud mencuri waktu itu? Artinya kita diharuskan untuk memastikan bahwa tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Sebagai contoh, ketika kita sedang menunggu guru yang belum datang, kita dibarengi dengan membaca Al-Qu’an.

    Jangan sampai kita yang tercuri oleh waktu. karna banyak dari kita, termasuk diri penulis sendiri, sering kehilangan waktu tanpa disadari, sudah mondok berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun tapi hasil yang dirasakan belum maksimal.

    Kenapa kita tidak boleh tercuri oleh waktu? Karna waktu itu terus berjalan dan semua akan berganti, termasuk zaman kita saat ini, seperti dawuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib

    مكنامز ريغ نامزل اوقلخ مهنإف مكدلاوأ اوملع

    Didiklah anak-anakmu (sesuai zamannya), karena sesungguhnya mereka diciptakan untuk sebuah zaman yang zaman itu berbeda dengan zamanmu.

    Dalam hadits diatas dijelaskan bahwa zaman sekarang akan berbeda dengan zaman yang akan datang. Maka dari itu, kita siapkan diri dari sekarang untuk menghadapi zaman yang semakin berat dengan memastikan masa muda kita tidak berlalu dengan sia-sia.

    Sebagai umat islam, terkhusus para santri, salah satu cara terbaik dalam mengoptimalkan waktu yaitu dengan berdakwah, dan dakwah yang paling utama adalah dakwah bil hal (dengan perbuatan).

    Sudah sepatutnya kita sebagai santri untuk menunjukkan etika yang baik ketika berada diluar lingkup pondok pesantren.

    Sebagai contoh saat ketika berada disekolah, kita harus bisa membedakan perbuatan sebagai siswa yang santri dan siswa yang bukan santri, dan kita juga harus mampu menunjukkan akhlaq santri kepada guru maupun warga sekitar, bahwa santri tetap ber akhlak luhur walau diluar pesantren.

    Dengan berdakwah bil hal kepada guru atau kepada orang lain yang berlatar belakang bukan seorang santri, itu dapat menjadi ladang kita dalam mengoptimalkan waktu dengan berdakwah, dan juga dapat menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

  • ISTIQAMAH LEBIH UTAMA DARI SERIBU KAROMAH

    ISTIQAMAH LEBIH UTAMA DARI SERIBU KAROMAH

    Sebagai seorang santri yang sedang jihad fi Sabilillah , sebenarnya apa sih yang kita cari?

    apakah hanya mengaji di waktu yang tidak ditentukan? atau bahkan mencari suatu

    keajaiban? Seperti dapat menghilang, berjalan di atas air dan terbang di atas langit? memang, kerap kali agama Islam disangkut pautkan dengan suatu hal yang mistis atau keramat, akan tetapi sebenarnya bukan itulah suatu hal yang kita cari, Melainkan beribadah dengan tujuan mengharap Ridho Allah SWT.

    seperti yang dikatakan oleh kebanyakan ulama’ :

    الاستقامة خير من الف كرامة            

    Artinya : “Istiqomah itu lebih baik dari seribu karomah”

    Sebenarnya apa sih itu istiqamah? mudahnya, istiqamah ialah perilaku atau sikap yang dilakukan secara terus-menerus (continue) atau biasa kita sebut dengan konsisten. Tentunya sikap tersebut harus dilekatkan dengan setiap pribadi yang ingin mencari ilmu khususnya santri yang sedang mengaji atau mencari ilmu di pondok pesantren.

    Di pondok pesantren kita tidak hanya dituntut untuk mengaji dan melaksanakan kegiatan pesantren saja, tetapi juga belajar mengatur dan membagi waktu sebaik mungkin supaya dapat meraih yang namanya Istiqomah tersebut.

    Istiqamah merupakan satu hal yang tidak bisa terpisahkan dengan kegiatan mencari ilmu, analoginya bagaikan sebongkah batu yang terus-menerus terkena tetesan air,  memang jika kita pandang sebelah mata saja, mungkin kita akan berfikir bahwa air tersebut tidak akan memberi dampak apa-apa kepada sebongkah batu tadi, akan tetapi siapa sangka bahwa sebongkah batu yang padat dan keras pun dapat berlubang hanya karena air yang terus- menerus menetesinya.

    Diceritakan pada dahulu kala ada seorang Ulama’  mashur yang bernama Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al- Qabilah yang berasal dari Al-Asqalan. Namun ia lebih masyhur dengan julukan Ibn Hajar Al Asqalani. Ibnu Hajar berarti anak batu sementara Asqalani adalah nisbat kepada Asqalan, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah.

    Suatu ketika, saat beliau masih belajar disebuah madrasah, ia terkenal sebagai murid yang rajin, namun ia juga dikenal sebagai murid yang bodoh, selalu tertinggal jauh dari teman- temannya. Bahkan sering lupa dengan pelajaran-pelajaran yang telah di ajarkan oleh gurunya di sekolah yang membuatnya patah semangat dan frustasi.

    Beliaupun memutuskan untuk pulang meninggalkan sekolahnya. Di tengah perjalanan

    pulang, dalam kegundahan hatinya meninggalkan sekolahnya, hujan pun turun dengan sangat lebatnya, memaksa dirinya untuk berteduh didalam sebuah gua. Ketika berada didalam gua pandangannya tertuju pada sebuah tetesan air yang menetes sedikit demi sedikit jatuh melubangi sebuah batu, ia pun terkejut.

    Beliau pun berguman dalam hati, sungguh sebuah keajaiban. Melihat kejadian itu beliaupun merenung, bagaimana mungkin batu itu bisa terlubangi hanya dengan setetes air. Ia terus

    mengamati tetesan air itu dan mengambil sebuah kesimpulan bahwa batu itu berlubang karena tetesan air yang terus menerus.

    Dari peristiwa itu, seketika ia tersadar bahwa betapapun kerasnya sesuatu jika ia di asah terus menerus maka ia akan menjadi lunak. Batu yang keras saja bisa terlubangi oleh tetesan air apalagi kepala saya yang tidak menyerupai kerasnya batu. Jadi kepala saya pasti bisa menyerap segala pelajaran jika dibarengi dengan ketekunan, rajin dan sabar. Nah dari cerita tersebut kita tahu bahwa betapa pentingnya peran istiqamah dalam kegiatan tholabil Ilmi.

    Namun, mengapa Istiqomah begitu penting bagi kita yang sedang mencari ilmu? jawabannya karena sesuatu yang selalu kita lakukan secara terus-menerus (continue) maka secara tidak langsung kita akan bisa melakukan sesuatu tersebut. Karena orang bisa itu karena terbiasa.

    Oleh karena itu, mari sama sama kita belajar untuk selalu istiqamah di dalam segala hal yang positif untuk hidup kita, memang istiqamah bukanlah suatu hal yang mudah, akan tetapi tidak ada salahnya bukan? untuk mencoba, ingat! siapapun dapat menjadi apapun, asalkan ada kemauan, Insyaallah jalan itu akan diberi oleh Allah SWT.

    Barakallah fii kum…

  • mampukah umat muslim mengembalikan kedudukannya

    mampukah umat muslim mengembalikan kedudukannya

    “Ibaratkan ikan yang besar tetapi apabila dipotong potong maka akan menjadi kecil kembali.”itulah yang terjadi pada umat islam.

       Umat Islam pernah mencapai puncak kejayaan dalam berbagai bidang, mulai dari ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, hingga budaya. Masa keemasan Islam, terutama pada abad ke-8 hingga ke-14, menunjukkan bagaimana umat Muslim mampu menjadi pelopor dalam ilmu kedokteran, matematika, astronomi, dan filsafat. Namun, saat ini, banyak yang mempertanyakan apakah umat Islam mampu mengembalikan kedudukan tersebut di tengah tantangan globalisasi dan perkembangan zaman.

       Pada saat ini kejayaan tersebut terasa semakin menjauh dengan fakta keadaan islam. Hal tersebut terjadi dikarenakan Di zaman sekarang ini para muslim dipecah belahkan oleh aliran. Satu menganggap aliran lain radikal dan satu lagi menganggap aliran itu liberal. Bahkan dalam satu aliranpun masih terbagi menjadi beberapa aliran lagi.

      Seperti setiap madzhab yang memiliki perbedaan pendapat masing-masingnya, dengan beberapa cara yang berbeda pula. Tapi apakah ada satu madzhab itu memusuhi yang lain? tidak, bahkan kata imam syafii

    الْخُرُوجُ مِنْ الْخِلَافِ مُسْتَحَبٌّ

    Keluar dari khilaf itu disunatkan

      imam syafii wudhu nya cukup mengusap sebagian kepala dan imam malik mengakatan wudhu itu harus mengusap seluruh kepala. apakah kemudian imam syafii berkomentar kepada imam malik “apa imam malik itu, wudhu kok harus mengusap seluruh kepala,  sebagian saja kan sudah cukup?” tidak seperti itu, bahkan kata imam syafii kalau kamu wudhu mengusap seluruh kepala itu adalah sunnah karena kamu keluar dari khilafnya imam malik, dan imam malik sendiri kemudian mengatakan kalau hal tersebut sah.

      Dari kisah tersebut seharusnya dapat menjadi pelajaran bagi kita bahwa bagaimana kita bisa menerima perbedaan. Orang yang dipuji sesudah orang muhajirin dan ansar adalah:

    وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌرَّحِيْمٌࣖ 

    Orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

      Pada ayat tersebut terdapat doa agar kita dijauhkan dari rasa dengki terhadap orang yang beriman,apalagi apabila berbeda pendapat. Hendaknya ketika terjadi perbedaan pendapat kita harus mencari titik pertemuan agar tidak terjerumus pada titik perpecahan.

      Kalau sudah seperti itu apa bisa umat muslim mengembalikan kedudukannya? Tentu saja mampu apabila semua dapat menghilangkan egonya dan melakukan upaya Reknosiliasi. Hal tersebut menjadi sulit bahkan dapat tidak  mampu apabila tidak terjadi persatuan di antara kaum muslim.

      Maka dapat kita simpulkan bahwa meskipun menghadapi berbagai tantangan, umat Islam masih memiliki potensi besar untuk mengembalikan kejayaannya. Dengan semangat persatuan umat Muslim dapat kembali memainkan peran penting dalam peradaban dunia. Namun, semua itu memerlukan usaha bersama yang konsisten dan berkelanjutan dengan selalu berusaha menghadapi segala perbedaan tanpa terjerumus pada perpecahan dan mempeloreh titik pertemuan atas perbedaan tersebut.

  • MENOLONG ORANG DALAM KEMAKSIATAN?

    MENOLONG ORANG DALAM KEMAKSIATAN?

    Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa tolong menolong merupakan kewajiban bagi umat muslim.islam mengajarkan saling menolong dalam kebaikan dan tidak pernah membolehkan pemeluknya untuk menolong perbuatan-perbuatan yang bisa menjadi pendukung atas terselenggaranya maksiat dengan bentuk dan motif seperti apapun, bahkan Islam dengan tegas melarang semua perbuatan yang berbau maksiat.

    sebagaimana firman allah swt dalam QS. Al Maidah: 2

    وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ      

    Artinya: “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. 

    Ayat ini menegaskan bahwa tolong-menolong harus didasarkan pada prinsip kebaikan dan taqwa, bukan sebaliknya, yaitu membantu dalam dosa dan kemaksiatan. Dalam konteks ini, Islam sangat tegas melarang umatnya untuk saling membantu dalam perbuatan yang bertentangan dengan hukum Allah.

    Ridho dan menolong terhadap perbuatan maksiat berarti sama dengan orang yang bermaksiat.

    Dalam hadist riwayat Muslim disebutkan bahwa

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا (رواه مسلم)

    “Artinya: Diriwayatkan dari Abi Hurairah, sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa mengajak kepada petunjuk (amal baik), maka ia mendapatkan pahala sama seperti pahalanya orang yang mengikutinya. Tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang melakukannya. Barang siapa yang mengajak pada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa setimbang dengan dosa orang yang mengikutinya. Tanpa sedikitpun mengurangi dosa orang yang melakukannya.” (HR Muslim).

    hal tersebut menunjukkan bahwa membantu perbuatan maksiat tidak hanya mendatangkan dosa bagi orang yang melakukannya, tetapi juga bagi orang yang memberikan bantuan atau dukungan.

    Larangan untuk tolong-menolong dalam kemaksiatan ini bukan tanpa alasan. Islam ingin menjaga moralitas dan kehormatan umat manusia dari kerusakan. Dengan menghindari bantuan terhadap perbuatan yang bertentangan dengan syariat, maka kita turut menjaga diri kita dan orang lain dari dosa, serta memastikan kehidupan sosial yang lebih baik dan penuh berkah.

    Islam mengajarkan umatnya untuk hidup penuh kasih sayang dan tolong-menolong, namun tetap dakam kerangka kebaikan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, penting bagi umat islam untuk menjaga prinsip-prinsip moral dan tidak membantu dalam kemaksiatan. Semoga kita selalu diberikan petunjuk dan kemampuan untuk saling menolong dalam kebaikan dan menjauhi dosa-dosa yang merusak diri dan sesama umat. Amin.

  • BICARA SEPERLUNYA, BUKAN SEMAUNYA

    BICARA SEPERLUNYA, BUKAN SEMAUNYA

    Berbicara merupakan bagian dari komunikasi verbal yang memungkinkan seseorang berinteraksi dengan orang lain, serta, bisa berbicara adalah salah satu anugrah terbesar yang diberi oleh Allah SWT.

    Oleh karna itu, kita harus menjaga lisan dalam berkata-kata, sebab jika dalam kita berbicara terdapat suatu kebohongan atau kesalahan, kita bisa mendapat dosa atau bahkan bisa terseret kedalam Neraka-Nya. Lantas, bagaimana cara berbicara yang benar, agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan?

    Untuk menghindari segala hal yang bertentangan dengan agama, sebaiknya, sebagai umat muslim harus selalu menjaga lisannya dari kata-kata yang tidak perlu. Dengan artian, kita harus membatasi bicara kita tehadap hal-hal yang tidak penting.

    اِذَا تَمَّ عَقْلُ الْمَرْءِ قَلَّ كَلَامُهُ

    Jika akal seseorang itu sempurna, maka akan sedikitlah bicaranya.

    Dari kutipan kitab Ta’limul Muta’allim di atas, dapat kita ketahui, apabila terdapat seseorang yang sedikit bicaranya, menandakan akalnya sempurna.

    Yang artinya, kita diharuskan untuk menghindari banyak bicara. yang dimaksud adalah bukan yang menjelaskan suatu permasalahan dengan sangat terperinci, tapi yang dimaksud banyak bicara adalah mereka yang menceritakan apapun yang telah mereka dengar, tanpa mengatahui benar atau tidaknya.

     يَتَكَلَّمُ بِكَلِمَةٍ لِيُضْحِكَ بِهَا النَّاسَ، فَيَهْوِيَ بِهَا فِي النَّارِ

    Dia berbicara dengan suatu kata untuk membuat orang tertawa, lalu dia terjatuh dengan kata itu ke dalam api (neraka).

    ketika kita berbicara, hendaklah katakan kata-kata yang benar dan baik, apalagi ketika kita sedang bercanda dengan orang lain, jauhilah berbohong untuk membumbui suatu kalimat agar terlihat lucu atau mengucapkan kata-kata yang jorok dan tidak pantas untuk diucapkan bagi seorang muslim, hanya untuk membuat orang lain tertawa.

    Sebab barangsiapa yang berbohong untuk membuat orang lain tertawa, maka An-Nar (Neraka)lah balasan dari Allah SWT. Maka, kita harus bisa memanajemen kata sebelum berbicara, bagaimana itu?

    Kalau berbicara biasakan untuk menyaring kata sebelum dilontarkan kepada orang lain juga harus melihat siapa lawan bicaranya, jadi berbicara itu tidak sembarangan.

    Karena dengan salah berbicara bisa memasukkan kita ke dalam lobang kesengsaraan, bahkan dapat membuat kita murtad, contohnya, berbicara dengan menghina nama-nama Allah atau menjelek-jelekan Nabi dan Rasulullah.

    Dengan kita berbicara dengan baik, tidak menggunjing orang lain dan selalu berkata jujur, Insyaallah kita akan dijauhkan dari hal-hal yang tidak di inginkan, juga mendapat rahmat serta petunjuk oleh Allah SWT.

  • mengenal tarwiyah dan arafah

    mengenal tarwiyah dan arafah

    Di awal bulan dzuhijjah, terdapat dua hari istimewa yang dimana seluruh umat mulim disunnah kan untuk berpuasa, yaitu; hari Tarwiyah dan arafah. Dua hari tersebut memiliki banyak keutamaan yang luar biasa. Apa saja keutamaan yang dapat kita peroleh dari kedua hari tersebut?

    Hari Tarwiyah merupakan hari kedelapan bulan dzulhijjah, Tarwiyah mempunyai makna merenung ataupun berfikir, dikarenakan hari Tarwiyah sendiri, identik dengan merenungi suatu peristiwa yang masih dipenuhi keraguan.

    Menurut pendapat para ulama’, hari Tarwiyah disebut hari berfikir, dikarnakan ketika penduduk makkah keluar pada hari Tarwiyah menuju mina, mereka dalam keadan berfikir tentang doa-doa apa yang akan mereka panjatkan keesokan harinya, dihari Arafah.

    Sedangkan penamaan hari arafah, beberapa ulama’ berpendapat bahwa Arafah diambil dari kata I’tiraf (pengetahuan), disebabkan pada hari itu umat islam mengetahui bahwa Allah sebagai Dzat Esa yang harus disembah, dan Al-Haqq merupakan Dzat yang Mulia dan Agung.

    Membicarakan keutamaan dua hari tersebut, akan sangat perlu untuk dipahami oleh seluruh umat islam. Dua hari tersebut sangat mulia disisi Allah, sebagaimana Allah berfirman pada surat Al-Fajr ayat 3:

    وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ (الفجر: 3)

    Artinya, “Demi yang genap dan yang ganjil” (Al-Fajr: 3)

    Menukil kitab dari Ibnu ‘Abbas yang berpendapat, maksud dari ayat di atas adalah Asy-Syaf’i merupakan hari Tarwiyah dan Arafah, Walwatri merupakan hari raya Idul Adha.

    puasa di hari Tarwiyah dapat menghapus dosa kita dalam waktu setahun, sedangkan dengan kita berpuasa Arafah, dosa kita akan dihapuskan 2 tahun yakni, 1 tahun yang telah lepas dan yang akan datang.

    Walaupun begitu kita tidak diperkenankan untuk membanding-bandingkan kedua hari tersebut dengan hanya melihat dengan dangkal keutamaanya, kita harus menyadari bahwa keduanya mempunyai kedudukan yang agung disisi Allah.

    Tata cara puasa dua hari tersebut sama hal nya dengan tata cara puasa sunnah lainnya. Adapun niat yang dibaca untuk puasa Tarwiyah dan Arafah, dan untuk kapan waktu membacanya, yakni mulai terbenamya matahari (Maghrib) hingga sebelum memasuki waktu Dzuhur

    Niat puasa Tarwiyah

    نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

    Artinya, “saya niat puasa sunnah Tarwiyah karna Allah ta’ala.

    Niat puasa Arafah

    نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

    Artinya, “saya niat puasa sunnah Arafah karna Allah ta’ala.

    Pada intinya dua hari tersebut adalah peristiwa luar biasa yang sudah semestinya seorang muslim tidak mengabaikanya, selain karna keutamaanya, melakukan amalan-amalan yang baik di dua hari tersebut juga merupakan wujud nyata iman kita kepada Allah.  

  • 7 Golongan yang selamat dari mahsyar

    7 Golongan yang selamat dari mahsyar

    Mahsyar merupakan sebuah padang pasir yang sangat luas, tempat dimana seluruh umat manusia kelak akan dikumpulkan menjadi satu didalamnya. Setelah tiupan sangkakala kedua, seluruh umat manusia yang telahir di bumi akan dikumpulkan dipadang mahsyar dalam keadaan tidak mengenakan pakaian dan belum dikhitan. Namun mereka tidak akan melirik satu sama lain, dikarenakan pada waktu itu, selain matahari berada tepat diatas kepala dan dalam keadaan ketakutan, mereka juga gelisah atas amalnya sendiri.

    Seluruh manusia pasti akan melewati fase ini, dimana seorang akan lupa dengan keadaan keluarganya, dan pada saat itu, manusia akan dibangkitkan dalam kondisi tubuh mereka, sesuai dengan amal  perbuatannya.

    Lalu, bagaimana cara agar mendapat naungan di padang mahsyar? Dari hadits Rasulullah, dikatakan ada 7 golongan yang ternaungi dipadang mahsyar, yaitu sebagai berikut:

    1.    Imam yang Adil

    Imam yang dimaksud disini adalah seorang pemimpin, dan seorang pemimpin kelak akan di mintai pertanggungjawaban atas apa yang telah dipimpin. Memang berat, tapi jika seorang pemimpin itu adil, maka mereka akan mendapat pahala yang setimpal.

    2.    Pemuda yang tumbuh beribadah kepada Allah

    Masa muda seseorang, yang dioptimalkan untuk beribadah kepada allah. Alih-alih dipergunakan untuk hal-hal yang sia-sia atau bahkan untuk hal yang berbau maksiat, ia justru mempergunakan masa mudanya untuk berusaha menggapai ridhonya Allah.

    3.    Orang yang hatinya terikat kepada masjid

    orang yang ingin selalu ingin berada di masjid, apabila setelah ia melakukan sholat dzuhur di masjid, ia tidak akan sabar menunggu untuk pergi ke masjid untuk melakukan sholat ashar.

    4.    Orang yang berdzikir dikesunyian sampai berlinang air mata

    Barangsiapa yang tanpa henti memuji allah di kesunyian malam sampai bercucuran air mata, kelak mereka akan mendapat kedudukan yang istimewa disisi Allah

    5.    Dua orang yang saling berkasihan untuk ketaatan kepada Allah

    Terdapat dua orang yang selalu bersama untuk beribadah kepada allah, jika seorang sahabat yang melakukan ketaatan bersama didunia, niscaya kelak persahabatan mereka akan berlanjut sampai kesurga-Nya.

    6.    Orang yang diajak zina wanita cantik, tapi dia berkata takut kepada Allah

    Ketika ia diajak melakukan maksiat oleh perempuan yang cantik juga berpangkat, namun ia mengatakan اِنِّيْ اَخَافُ اللّه (sesungguhnya aku takut kepada Allah), maka ketika dipadang mahsyar nanti ia akan mendapatkan naungan dari Allah

    7.   Orang yang menafkahkan hartanya, tapi menyamarkanya

    Orang yang bersedekah, tapi ia menyembunyikan perbuatanya itu dan tidak ingin orang melihatnya, bahkan sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh tangan kanannya.

    Memang tidak mudah untuk melakukan itu semua, tapi, ketika kita berusaha, kita akan menuai hasil yang sepadan dengan usaha yang kita lakukan. Minimal kita maksimalkan masa muda kita untuk beribadah kepada Allah, serta melakukan kebaikan-kebaikan.

    Pada intinya, kita harus selalu berusaha untuk bertaqwal kepada Allah, dan selalu mengingat bahwa, tanpa daya yang diberikan oleh-Nya, kita tidak akan bisa melakukan ibadah kepada-Nya. Dan semoga kita termasuk dari 7 golongan yang di naungi oleh Allah dipadang mahsyar.

  • HAL KECIL YANG MESTI DIPERBAIKI

    HAL KECIL YANG MESTI DIPERBAIKI

    Terkadang tanpa kita sadari berkata kasar sudah menjadi biasa dalam kehidupan kita sehari-hari, tapi bagaimana tanggapan agama dengan itu? Mari kita renungkan kembali, apakah hidup kita yang tak tahu kapan berakhir ini telah sesuai dengan ajaran Nabi.

    Berkata kasar atau kotor sejatinya berasal dari hati, orang yang hatinya bersih besar kemungkinan perkataan yang keluar dari mulutnya merupakan kalimat-kalimat yang baik, namun sebaliknya, jika seseorang hatinya kotor perkataanya pun demikian.

    Sesuai dangan sabda Rasulullah :

    أَلَا إِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ, وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ؛ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ

     “ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dana apabila ia buruk maka buruklah seluruh tubuhnya.ingatlah ia adalah hati.”

    Qolbu dalam arti kongkret adalah jantung, dan jantung sendiri dalam dunia kesehatan merupakan organ penting yang dapat mempengaruhi organ-organ lain dalam tubuh manusia.

    Jika dalam artian abstrak Qolbu merupakan hati, sejatinya hati manusia itu selalu berubah-ubah, semisal tadi siang ingin ini pas malamnya ingin itu, maka kita selalu dianjurkan berdoa pada saat duduk tasyahud akhir.

    يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
    Artinya: “Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

    Pada akhirnya, setiap orang yang mempunyai hati bersih perkataan maupun perbuatannya akan ikut bersih. Sebaliknya, orang yang mempunyai hati yang kotor, perkataan dan perbuatnya mencerminkan hatinya. Memiliki hati yang bersih, bukan sesuatu yang lahiriah, sesederhana apapun yang kotor selalu dapat dibersihkan, begitu pula hati. Dengan selalu ingat akan murka Allah, setidaknya akan menyapu perlahan apa-apa yang kotor dalam diri kita–dari hati, tindakan, sampai pikiran. Dan segala hal yang menyebabkan murka Allah, menjauh pula ridhonya. 

    جَزَاۤءً وِّفَاقًاۗ  

    Artinya: “sebagai pembalasan yang setimpal.”

    Na’udzubillah min dzalik

    Sebagai seorang muslim, sudah semestinya menjaga ucapan dan perbuatan agar tidak merugikan, entah bagi orang lain maupun diri sendiri. Karena muslim yang baik adalah yang menjaga dirinya dari yang buruk, menjadikan Rasulullah SAW sebagai contoh dalam setiap tindakan yang diambil.