Category: Kajian Abuya

  • DEMOKRASI SEHAT DIMULAI DARI KESADARAN DIRI

    DEMOKRASI SEHAT DIMULAI DARI KESADARAN DIRI

    Indonesia adalah negara yang mengunakan paham demokrasi Pancasila yang artinya kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat, bukan berada di tangan presiden atau lembaga nasional lainnya. Oleh karena itu, kita sebagai warga negara Indonesia harus terus mengawal semua kebijakan dan perundang-undangan yang dibuat oleh pemerintah demi kesejahteraan rakyat. Namun, tahukah kalian di samping kewajiban kita sebagai warga negara ada satu hal yang lebih penting yang sering dilupakan banyak orang, terutama kita sebagai umat muslim. Apa itu?
    Yakni kesadaran diri sendiri, di saat kita terlalu sibuk akan mengkritik pemerintahan kita dan memantau kondisi geopolitik yang semakin memanas, kita sampai lupa untuk mengintropeksi diri kita sendiri. Karena perilaku pemerintahan yang ada adalah cerminan dari perilaku masyarakatnya sendiri, sebagaimana Allah berfirman dalam sebuah hadis qudsi sebagai berikut:

    إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا، مَالِكُ الْمُلُوكِ، وَمَلِكُ الْمُلُوكِ، قُلُوبُ الْمُلُوكِ فِي يَدِي، وَإِنَّ الْعِبَادَ إِذَا أَطَاعُونِي حَوَّلْتُ قُلُوبَهُمْ عَلَيْهِمْ بِالسَّخَطِ وَالنِّقْمَةِ، فَسَامُوهُمْ سُوءَ الْعَذَابِ، فَلَا تَشْغَلُوا أَنْفُسَكُمْ بِالدُّعَاءِ عَلَى الْمُلُوكِ، وَلَكِنِ اشْغَلُوا أَنْفُسَكُمْ بِالذِّكْرِ وَالتَّضَرُّعِ إِلَيَّ أَكْفِكُمْ مُلُوكَكُمْ.

    Yang artinya:
    “Sesungguhnya Allah عز وجل berfirman: Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Aku adalah Pemilik para raja dan Raja dari para raja. Hati para raja berada di tangan-Ku. Apabila para hamba menaati-Ku, niscaya Aku akan membalikkan hati mereka (para raja) kepada rakyatnya dengan kemurahan dan kasih sayang. Namun apabila para hamba mendurhakai-Ku, Aku akan membalikkan hati mereka dengan kemurkaan dan azab, sehingga mereka menimpakan siksaan yang buruk. Maka janganlah kalian menyibukkan diri dengan mendoakan keburukan atas para raja, tetapi sibukkanlah diri kalian dengan berzikir dan merendahkan diri kepada-Ku; niscaya Aku akan mencukupkan kalian dari (kezaliman) para penguasa kalian.”

    Hadis qudsi di atas menjelaskan bahwa jika kita banyak bermaksiat, maka Allah dengan mudah membalikkan hatinya para raja untuk berbuat zalim, begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, sebelum kita membenahi rezim yang ada, alangkah baiknya kita memantaskan diri terlebih dahulu dengan terus menjaga iman dan menjauhi larangannya. Hadis di atas bukan berarti kita tidak boleh tersibukkan akan masalah demokrasi, namun lebih untuk menghimbau dan mengingatkan untuk kita menjalani demokrasi dengan sehat.

  • 3 SIFAT YANG MENGGIRING MANUSIA PADA BINASA

    3 SIFAT YANG MENGGIRING MANUSIA PADA BINASA

    Allah SWT menciptakan manusia sebagai sebaik baiknya makhluk, dengan bukti bahwa manusia adalah satu-satu nya makhluk yang di anugerahi al’aql (akal) oleh allah SWT yang mana disini manusia dapat membedakan antara perakara baik dan buruk.

    Dengan segala nikmat anugerah tersebut, kita sebagai manusia tidak dapat melepas satu hal yang sangat melekat pada setiap pribadi manusia, apalagi kalau bukan hawa nafsu, yang selalu melahirkan penyakit penyakit hati yang dapat menjerumuskan manusia pada murka allah SWT naudzubillah min dzalik

    Dalam bab al qoul ma’ashil qolbi kitab bidayatul hidayah al-imam ghozali menukil kembali rubu’il muhlikat dalam kitabnya,  ihya’ ulumuddin :

    “diantara banyaknya penyakit hati, disini saya akan memperingatkan kamu dari 3 hal (sifat) saja dari paling menjijikkannya hati, dan 3 sifat inilah yang menguasai ahli fiqih nya zaman sekarang. Dengan tujuan kamu dapat menjaga dengan sebetul betulnya penjagaan, karena 3 sifat ini merusakkan dalam dirinya sendiri dan dia menjadi pokok dari sifat-sifat menjijikkan lainnya. Apa saja sifat-sifat itu? Adalah hasut, riya’, dan ujub.”

    1. Hasut

    Hasut sendiri bermakna dengki, dalam kasusnya, orang yang memiliki sifat hasut cenderung tidak suka atau iri melihat orang lain mendapat anugerah atau nikmat yang lebih dari Allah SWT, mereka yang hasut tidak akan menemukan ketenangan dalam hidupnya, dan sifat ini juga memmiliki potensi yang besar untuk melahirkan penyakit-penyakit hati lainnya naudzubillah min dzalik. Untuk menghindari sifat hasut, alangkah baiknya kita senantiasa mensyukuri pemberian allah dalam bentuk dan berapapun itu, sebagaimana pepatah mengatakan, berapapun porsi yang kau diberi, maka nikmatilah.

    • Riya’

    Riya’ yang berarti pamer, mereka yang mengidap penyakit riya’ cenderung haus akan pujian dan sanjungan, berbuat baik hanya semata mencari muka didepan manusia lainnya bukan karena ridho Allah SWT, di zaman kita sekarang Dimana teknologi telah melaju pesat, praktek riya’ lazim kita lihat dalam platfrom-platfrom digital, seperti tiktok, Instagram dll . refleksi diri sangat perlu untuk menghindari sifat riya’, selalu mengingat bahwa seluruh harta benda yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita hanyalah titipan semata untuk mencapai ridhonya.

    • Ujub

    Keangkuhan atau membanggakan diri sendiri adalah pengertian dari ujub. Mereka yang ujub biasanya merasa dirinya paling sempurna dari siapapun, selalu membawa-bawa jabatan yang disandangnya seakan itu adalah hal yang mulia di mata Allah SWT. Orang yang ujub juga cenderung memiliki hati yang keras atau susah dinasehati, karena mereka merasa diri mereka paling sempurna dan tak boleh ada yang menasehati nya diatas kesempurnaan itu, dan orang seperti ini juga akan susah menerima nasehat yang baik dari para ulama sekalipun, sebab hati mereka telah hanyut dalam keangkuhan diri mereka sendiri naudzubillah min dzalik.

    Untuk menghindari sifat-sifat diatas, kerendahan hati adalah obat yang paling mujarab, dan tentu juga merupakan bentuk Langkah kita menuju kebijaksanaan dalam hidup, yang semoga dengan kerendahan hati, kita semua mendapat ridho dan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT, Allahumma amin.

    Jazakumullah khairan

  • Mengapa harus pondok pesantren?

    Mengapa harus pondok pesantren?

    ASY-SYADZILI 1 – Sebelum Pondok Pesantren Asy-Syadzili bisa menjadi seperti sekarang , dahulu Asy-Syadzili merupakan pondok pesantren murni, belum memiliki banyak hal. 

    Karen Sayyidina Ali pernah berkata:

    “Ajarilah anak-anak kamu kerena mereka akan hidup di zaman yang berbeda dari kamu”

    Maka dari itulah  para santri harus dipersiapkan dengan sebaik mungkin dalam menghafal Qur’an tetapi bukan hanya itu saja,  ia juga harus mau ngaji (belajar) ilmu-ilmu lainnya, seperti mempelajari ilmu tauhid agar memiliki tauhid yang benar, belajar ilmu akhlak agar kita tahu bagaimana bersikap pada pada sesama, dan fungsi dari mondok itu ialah untuk wiqoyah

    Allah Ta’ala berfirman dalam surat at-tahrim ayat 6 :

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارً

    “Wahai orang beriman jaga dirimu dan keluargamu dari api neraka”

    Dari penggalan ayat diatas kita diperintahkan bukan hanya menjaga diri sendiri tetapi bagaimana caranya kita menjaga keluarga dari api neraka, banyak hal yang dapat dilakukan salah satunya ialah menjaga putra-putri kita dari pergaulan bebas yang salah, dan seharusnya orang tua sangat berperan dalam menjauhkan putra-putrinya dari lingkungan dan pertemanan yang buruk, salah caranya yaitu dengan menempuh pendidikan di pondok pesantren.

    Sebelum itu semua dilakukan, seluruh pondok pesantren juga harus baik, dan bersih dari lingkungan yang buruk, juga selayaknya seorang santri memilah dan memilih dalam berteman, karena itu sangat berpengaruh dengan urusan akhirat kita, teman yang salah dapat menjerumuskan kita ke neraka.

    Kemudian, tidak kalah penting kita juga perlu belajar ilmu Fiqih (hukum), agar kita memiliki pegangan dalam kehidupan dan kita tahu bagaimana sholat dengan benar serta bisa membedakan antara yang dihalalkan dan yang diharamkan, juga selagi kita memiliki masa emas yaitu masa muda kita pergunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang menunjang kehidupan kita dunia maupun akhirat nantinya.

    Seorang santri tidak boleh menguasai atau ahli dalam 1 bidang saja tetapi ia juga harus bisa dalam bidang-bidang keilmuan lainnya, terlebih lagi bisa menyeimbangkan antara belajar di pesantren dan belajar di sekolah, kita juga harus bisa memaksimalkan potensi dan bakat dalam diri dengan cara mengikuti ekstrakulikuler supaya kreativitas dalam diri kita terpacu, karena seorang yang memiliki jiwa kreatif dapat merubah batu menjadi bernilai seperti emas.

    Adapun dalam pondok pesantren seharusnya haruslah ada pendidikan kewirausahaan, mempersiapkan bagaimana nanti para menghafal Al-Qur’an, menguasai ilmu agama serta mereka tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain, tetapi seharusnya seorang penghafal Al-Quran bisa menebar manfaaat bagi orang lain, baik melalui ilmunya ataupun hartanya.

    Sehingga dengan itu, output keluaran pesantren (alumni pesanten) adalah orang-orang yang siap terjun di tengah-tengah masyarakat menjadi sumber kemanfaatan  serta dapat mencapai semua cita-cita yang diimpikan.

    Harapannya pada para santri ialah, sekali hidup di dunia sekali bisa bermanfaat bagi umat dan sekali menebar manfaat bisa berguna sampai kapanpun.

  • Kapan ilmu kita bisa dikatakan barokah?

    Kapan ilmu kita bisa dikatakan barokah?

    ASY-SYADZILI 1 – Kedudukan paling istimewa ialah mencari ilmu, dan sudah seharusnya setiap santri memiliki cita-cita untuk bisa mengaji dan sanggup mengajarkan ilmu yang dimiliki.

    Tidak berhentinya ilmu yang dimiliki hanya pada diri sendiri, bisa dikatakan adalah ilmu yang  barokah, kita bayangkan, apabila seorang guru memiliki murid, dan muridnya memiliki murid hingga seterusnya,  maka alangkah banyaknya keberkahan ilmu dan amal jariyah yang guru tersebut dapatkan.

    Adapun hal-hal yang perlu ditahui dan kita lakukan supaya mendapat keberkahan ilmu yakni :

    • 2.Menjalin silaturahim pada kiyai dan guru

    Peranan orangtua bagi santri sangatlah penting, seandainya ingin memiliki anak yang ahli fiqih maka    harus terbiasa menyambungkan diri kepada para kiyai,  salah satu caranya dengan dermawan kepada orang alim ulama serta kiyai, kalaupun anaknya tidak menjadi ahli fiqih maka hal tersebut masih bisa turun kepada cucunya.

    Diceritakan dalam kitab ta’lim muta’alim, suatu ketika ada seorang kyai yang mengunjungi sebuah daerah dimana ketika beliau sampai disana semua santri yang ada disana sowan kepada beliau, akan tetapi terdapat satu santri yang tidak sowan kepada beliau, kemudian dipanggilah santri tersebut dan ditanya oleh sang kyai atas perilakunya tersebut, santri tersebut beralasan sedang merawat ibunya yang sakit lantas kiyai berkata

     “kamu tidak akan mendapat keberkahan ilmu”.

    Dari kisah diatas dapat kita petik pelajaran bahwa pentingnya menyambungkan diri dengan kiyai sangat berpengaruh atas keberkahan ilmu yang kita inginkan.

    2.Menjaga haqqul adami

    Adapun haqqul adami hak-hak yang dimiliki setiap manusia yang apabila kita mengganggu hak tersebut bisa mencegah kita mendapatkan keberkahan ilmu. Menjaga haqqul adami lebih tepatnya seperti tidak mendholimi teman, tidak merusak barang-barang mereka dan semacamnya. Intinya semua perkara yang menyebabkan terambilnya hak orang lain termasuk melanggar haqqul adami. Adapun ketika kita terlanjur melanggar haqqul adami untuk menebusnya tidak cukup hanya dengan meminta maaf saja tapi perlunya meminta kehalalan atas barang atau hak orang yang kita ambil (istihlal)

    Oleh karena itu apabila dirasa belum melakukan hal-hal tersebut maka mulalilah dari sekarang agar ilmu yang kita peroleh bisa mendatangkan keberkahan bagi kita maupun orang lain.

  • benih didikan orang tua

    benih didikan orang tua

    Mendidik anak dengan baik sama dengan menapaki jalan yang benar menuju ridho Allah SWT, sebab anak yang tumbuh dengan karakter dan akhlak yang baik berpotensi memberi dampak yang baik pula pada lingkungan sekitarnya, dan berkat itu semua berlimpahlah ridho dari Allah SWT.

    Tapi bagaimana ketika orangt ua/guru ceroboh dalam mendidik anaknya? Sehingga membuat anak memiliki pemahaman dan akhlak yang buruk, tidak mengenal hak dan batil, baik dan buruk. Tidak hanya kesengsaraan dalam hidup yang didapatnya, tapi juga murka dan dosa dari allah SWT.

    Pertanyaanya, apakah orang tua/guru ikut memikul dosa anak yang terlanjur terjerumus ini? adakah sebab akibat atas segala kecerobohannya? terdapat dua perspektif dalam masalah ini.

    Yang pertama, adalah dosa bagi orangtua/guru yang ceroboh dalam mendidik anaknya. Tetapi bukan dosa anak tersebut yang dipikulnya, melainkan tasabbab atau sebab atas kecerobohannya dalam mendidik dan mendorong anak tersebut melakukan maksiat, yang akhirnya membuat orangtua/guru ikut terjerumus dalam dosa. sekali lagi, bukan dosa anak tersebut yang dipikul melainkan sebab atas kecerobohan seorang orang tua/guru . karena telah dikatakan  وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۗ “orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”

    Yang kedua, bukan sebuah dosa bagi orang tua/guru yang sudah berusaha keras dalam mendidik anaknya, yang benar benar sepenuhnya berusaha menumbuhkan hal hal baik dan di ridhoi Allah SWT, namun takdir berkata lain, masih terdapat titik hitam dalam hati nya yang mendorong anak melakukan maksiat. Maka dosa atas segala perbuatannya akan ditanggung sendiri oleh sang anak, yang dimana disini orang tua/guru telah menggugurkan tanggung jawab nya dalam mendidik, dan terdapat sebuah kesalahan dalam diri anak tersebut yang membuatnya mengabaikan seluruh didikan yang pernah diberikan selama ini.

    Maka dari itu peran dari orang tua/guru dalam kehidupan seorang anak sangat menentukan karakter dan masa depannya. Jika orang tua/guru ceroboh dalam menanam benih, maka buruk pula buah yang dipetik kemudian. Sebaliknya, dengan selalu memperhatikan dan merawat dengan baik seluruh benih yang ditanam, maka ranum pula buah yang dipetik kelak.

    Jazakumullah khairan

  • membiasakan fokus dalam banyak hal

    membiasakan fokus dalam banyak hal

    ASY-SYADZILI 1 –  Perumpamaan orang mencari ilmu itu seperti orang yang menggali sumur dan menambang untuk mencari emas, ketika ditengah perjalanan menggali ia menemukan intan atau permata maka apakah ia akan membuangnya karena yang ia sebenarnya cari adalah emas? Tentu kita akan mengambilnya karena hal tersebut sama berharganya.

    Semakin banyak kegiatan yang kita lakukan dan dengan membiaskan untuk tidak hanya fokus dalam satu kegiatan saja maka akan semakin banyak yang kita peroleh di masa depan.Kalau hanya terbiasa fokus dengan satu hal maka ketika dihadapkan dengan banyak hal akan sulit mengerjakannya, seperti halnya  ketika fokus menghafal alquran saja lantas ketika datang tanggung jawab lain maka alqurannya akan lupa.Maka dari itu semakin banyak pekerjaan yang kita lakukan akan membuat kita pandai mengatur waktu.

    Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Barangsiapa tidak peduli dengan urusan kaum muslimin maka dia bukan ummatku”

    Dari sabda beliau bisa kita tarik pelajaran tersirat tentang pentingnya kita untuk membiasakan mengerjakan banyak hal karena  ketika nanti terjun ke masyarakat agar bisa tetap melaksanakan perintah beliau dengan tetap meenjaga hafalan alquran yang kita punya

    Menghafal alquran itu hal yang mudah,akan tetapi kalau sudah hafal tapi tidak ada ilmunya maka buat apa susah susah menghafal dan apa yang perlu dibanggakan dari itu, maka kalau sudah hafal quran dan dibarengi dengan ilmunya itu baru kita bisa mengharapkan sesuatu yang istimewa di sisi Allah.

  • membenahi diri dengan 5 nasehat nabi

    membenahi diri dengan 5 nasehat nabi

    ASY-SYADZILI 1 –Dawuh nabi Muhammad SAW kepada abu hurairah untuk diamalkan ataupun diajarkan kepada umat yang berisikan tentang nasehat­ dan pesan beliau. Berikut dawuh beliau yang tidak cukup dengan disimak saja akan tetapi juga perlu diamalkan.

    1. Tinggalkan perkara yang haram maka kamu akan jadi paling ahli ibadahnya manusia

    Dikatakan paling ahli ibadahnya seseorang bukanlah ia yang mampu mengerjakan sholat seribu rokaat ataupun ia yang mampu membaca alquran dan mengkhatamkannya setiap hari, akan tetapi adalah ia yang kuat untuk menjauhi apapun yang diharamkan oleh Allah SWT, dan zaman sekarang untuk melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah bukanlah suatu perkara yang sulit, dan untungya apabila kita bisa meninggalkan hal tersebut maka akan bernilai pahala yang besar disisi Allah SWT.

    2. Ridholah dengan apapun yang diberikan Allah kepadamu maka kamu akan jadi paling  kayanya manusia

    Orang yang paling kaya adalah orang yang selalu menerima pemberian Allah. Hal ini sesuai dengan konsep qonaah yang bukan berarti hanya dengan diam lantas menerima segala pemberian allah saja dapat dikatakan qonaah,akan tetapi qonaah yang sebenarnya yakni ia yang semangat dalam mencari fadhol / rizkinya Allah dan menerima apapun hasil yang diberikan ketika kita sudah maksimal dalam berusaha.

    3. Berbuat baiklah kepada tetanggamu maka kamu akan jadi orang yang beriman

    Kenapa tetangga? Karena merekalah yang akan mengurusi kita dikala kita meninggalkan dunia ini, maka dari itu jangan sampai kita abai dan tutup mata tentang apapun yang berkaitan dengan tetangga kita.

    Nabi Muhammad SAW bersabda

                                                                              ….وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ….      

    “…..barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tetangganya…….”

     4. Cintailah untuk manusia apa yang kamu cintai untuk dirimu sendiri maka kamu akan jadi seorang muslim

    Seorang muslim yakni orang yang ketika ia dalam keadaan senang kepada sesama muslim yang mendapatkan kesenangan dan susah ketika temannya juga kesusahan, hal tersebut juga sesuai dengan konsep agama islam sendiri yakni menebarkan cinta kasih

     5. Janganlah kamu memperbanyak tertawa karena itu dapat mematikan hati

     Zaman sekarang itu pengajian yang laku yang lebih banyak membuat kita tertawa, tertawa diperbolehkan selama masih dalam keadaan tidak berlebihan karena ketika zaman nabi, nabi juga memberikan sedikit gurauan ketika berdakwah. Sedangkan yang tidak diperbolehkan adalah tertawa yang berlebihan yang nantinya dapat mematikan hati kita.

    Tentunya diharapkan setelah kita mengetahui tentang nasehat penting beliau kita dapat membenahi lagi diri dan memantaskan untuk bertemu sang ilahi.

    Amiiin….

  • Satu hal yang patut kita syukuri

    Satu hal yang patut kita syukuri

    Hal yang patut kita syukuri

    Ada satu hal yang amat penting untuk kita syukuri, apa itu?

     ketika orang tua  ingin anaknya mulia dengan cara menempatkannya di pondok pesantren dan anak itu pun mau dan semangat untuk mencari ilmu.

     Terlebih lagi, orang tua selalu diberi rezeki untuk selalu bisa mencukupi anaknya yang sedang menimba ilmu dipondok pesantren, maka itu adalah salah satu kenikmatan yang luar biasa yang patutnya kita syukuri setiap saat.

     Karena diluar sana pun, terdapat orang tua yang ingin anaknya menimba ilmu dipondok pesantren, tetapi anaknya tidak memiliki keinginan dan semangat dalam mencari ilmu

    Ada juga seorang anak yang semangat dan ingin menimba ilmu di pondok pesantren tetapi orang tuanya tidak memiliki keinginan  yang sama dengan anaknya

    Salah satu alasan terpenting orang tua ingin memondokkan anaknya tidak lain dan tidak bukan hanya karna ingin anaknya mulia, tidak menginginkan  balasan apapun dari itu, karena dengan putra-putrinya  menjadi mulia karena ilmu adalah hal yang akan selalu bermanfaat bagi kedua orang tuanya di dunia maupun di akhirat

    ۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا ۝٢

    ”Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

     Tugasnya seorang anak ialah selalu berusaha membantu dan berbakti pada kedua orang tua, bagaimana caranya membantu? Caranya dengan rajin dipondok, tidak melanggar peraturan dan selalu mendo’akannya.

    Semua manusia itu pasti punya masalah, apalagi dengan orang tua kita, maka dari itu cara apa yang bisa kita lakukan?

    Dengan cara selalu mendorongnya dengan doa yang penuh kesungguhan supaya kedua orang tua kita di beri jalan keluar atas seluruh masalahnya dan kelancaran atas segala urusannya. Allahumma Amin.

    Jangan sampai kita  menjadi anak yang malas, karna malas itu termasuk perbuatan dzolim, sebab kedua orang tua dirumah sudah berkerja keras untuk kebutuhan anaknya tetapi ia ketika di pondok bermalas-malasan, dan tidak mau berusaha.

    Itu merupakan perilaku yang sanagt dzolim kepada kedua orang tua kita

    Jika kita menjalankan kegiatan pondok pesantren dengan semangat dan maksimal serta terus berusaha meskipun belum mendapatkan hasil, itu sudah termasuk menyempurnakan nikmat orang tua yang sudah bersusah payah untuk mengusahakan anaknya yang mencari  ilmu.

    Dan juga kita jangan lupa dengan yang namanya Wirid (Berdzikir) karena itu penting,

    Belajar dari kisah Abdullah bin Mas’ud, ketika beliau sudah sakit keras menjelang wafat  lalu beliau hanya memberikan kepada anak-anaknya wasiat yakni surah Al-Waqiah.

    Maka wirid atau dzikir selalu kita amalkan insyaallah orang tua kita akan diberikan kemudahan oleh allah..

  • Ada yang lebih bahaya dari dajjal?

    Ada yang lebih bahaya dari dajjal?

    Sebagai muslim, kita pasti sudah sangat familiar dengan yang namanya Dajjal. Siapakah Dajjal?

    Dajjal adalah makhluk yang diberi kelebihan oleh Allah, di akhir zaman nantinya ia akan muncul dengan tujuan untuk  menyesatkan manusia, yang  menjadi salah satu tanda akan terjadinya kiamat.

    Tetapi ada yang lebih dikhawatirkan Rasulullah daripada Dajjal.

    Rasulullah bersabda:

    “أنا من غير الدجال أخوف عليكم من الدجال فقيل: وما هو يارسول الله؟، فقال: علماء السوء”

     “Ada yang paling aku khawatirkan dari kalian ketimbang Dajjal. Beliau kemudian ditanya, Apa itu wahai Rasulullah?` Beliau menjawab, ulama su` (buruk).”

    Ulama su’ adalah ulama akhir zaman yang jelek, apa definisi dari jelek tersebut? ‘Alimul lisan wa jahilul qolbi (pandai berbicara tapi hatinya bodoh).

    ulama su’ lebih dikhawatirkan oleh Rasulullah daripada Dajjal, sebab, kalau Dajjal itu tujuannya sudah jelas dan tentu kita semua tau yaitu untuk menyesatkan dan menjerumuskan seluruh umat manusia.

    jika ulama su’,  kita tau kalau ia adalah orang yang baik, tapi kita tidak tau ucapan orang itu akan membawa kita menuju allah atau malah menjauhkan kita dari allah, bahkan bisa-bisa sampai membuat kita murtad, naudzubillah.

    Maka dari itu, kita harus lebih waspada dan mengindari ulama su’, salah satu ciri-ciri ulama su’ adalah ia menjadikan ilmunya sebagi jalan untuk memperkaya diri, menjadikan kedudukannya untuk ajang menyombongkan diri dan lain-lain.

    Pesan penulis untuk para pembaca yakni janganlah kita gampang berburuk sangka, karna kita dilarang su’udzon kepada sesama apalagi kepada ulama. Sekian.

  • MENDZOLIMI TEMAN ADALAH PENGHAMBAT KEBERKAHAN ILMU

    MENDZOLIMI TEMAN ADALAH PENGHAMBAT KEBERKAHAN ILMU

    Sebagai seorang santri, kita harus bisa berpikir dan bijak dalam mengambil tindakan, segala hal yang ingin kita lakukan harus dipikir lebih dulu, dipikir apakah tindakan yang kita lakukan nanti berdampak baik atau buruk kepada diri kita maupun orang lain, rugi atau untung kah saat tindakan itu kita ambil, semuanya harus dipikir dengan matang. Dan salah satu tindakan yang tidak mencerminkan bahwa santri itu bisa berpikir adalah mendzolimi teman sendiri, dalam bentuk apapun itu, karena hal itu adalah penghambat keberkahan ilmu kita, baik di dunia maupun di akhirat. Mulai dari mengambil barang temannya tanpa izin, mengolok olok bahkan sampai memukul, sifat-sifat itu sangat tidak mencerminkan akhlak seorang santri.

    Yang seharusnya kita lakukan sebagai santri adalah saling menghargai dan saling mengasihi satu sama lain, sebab kita disini sama-sama berjuang, sama-sama jauh dari orangtua, sama-sama bersusah payah dalam menuntut ilmu. Apalah arti kita mencari ilmu selama ini jika kesalahan seorang teman, kita balas dengan kedzoliman, tidak ada artinya sama sekali. Akan lebih baik jika kita menjadi pribadi yang mudah memaafkan, tidak pernah menyimpan kebencian apalagi kepada teman sendiri. karena kebencian dapat menuju kerugian, yang hanya soal waktu kita akan menyesali itu.

    Dan perkara mendzolimi ini, kerugian yang dirasakan tidak hanya di dunia, di akhirat kelak Allah SWT menjanjikan neraka bagi mereka yang mendzolimi sesama makhluk. Suatu waktu diceritakan :

    Nabi bertanya kepada para sahabat “apakah kamu tahu siapa orang yang bangkrut itu?”. Sahabat menjawab “menurut kami orang yang bangkrut itu adalah orang yang tidak memiliki dirham”. Lantas Nabi menjawab “bukan seperti itu orang yang bangkrut. Orang yang bangkrut adalah orang yang nanti di akhirat membawa berbagai macam pahala, tapi dia pernah memukul seseorang, dia pernah menuduh seseorang, dia pernah mengambil harta nya seseorang. Maka kebaikan orang yang mendzolimi diberikan kepada dia yang didzolimi, dan keburukan orang yang didzolimi diberikan kepada orang yang mendzolimi sehingga dia termasuk penghuni neraka, dan itulah orang yang rugi.”

    Membenci memang manusiawi, tapi ketika berujung mendzolimi, hewan macam apakah kita hari ini?.

    Jazakumullah khairan jaza