Category: Berita

  • Pelajaran semangat dan istiqomah dari Abuya

    Pelajaran semangat dan istiqomah dari Abuya

    ” Gus Mun’im niku aura gus e sampun sampun ketingal mulai zaman muda saat di pondok pesantren dulu”

    Dawuh Gus Kautsar dalam Haul Kh. Ahmad Syadzili Muhdlor yang ke 33 lalu.

    dapat kita simpulkan bahwa memang sedari muda beliau sudah ditempa dan disiapkan untuk menghadapi banyak kemungkinan yang akan terjadi di masa mendatang, jadi, tidak heran jika beliau menghadapi berbagai macam situasi dengan sabar.

    Karena Wafatnya Kyai Syadzili, menjadikan beliau mau tidak mau harus segera melanjutkan estafet kepengasuhan dari Kyai Syadzili.

    tetapi tampaknya hal itu bukanlah hal yang membuat Abuya Mun’im kaget, panik ataupun tidak siap, karena memang Abuya sendiri sudah tampak keseriusannya saat menimba ilmu,

    Dahulu Kyai Syadzili terkenal akan keistiqomahannya, bahkan tidak ada yang Namanya libur untuk mengaji, Kyai Syadzili Dawuh “aku gak badalan lek aku gak mati” dari dawuh Kyai Syadzili  tersebut tersirat bahwasanya selama detak jantung masih berdenyut maka beliau akan terus mengaji, dan salah satu prinsip itulah yang memotivasi Abuya KH. Abdul Mun’im Syadzili untuk terus semangat dalam mengajar dan mengaji

    Mengaji dan mengajar adalah obatnya.


    tentunya setiap orang memiliki ujian yang berbeda-beda, serta dengan tingkatan masing-masing sesuai kadar keimanannya, tetapi ada satu hal yang patut kita contoh dan kita teladani dari beliau, pada hari ini 6 Maret 2025 beliau telah berumur 54 tahun, dan sejak berapa tahun lalu beliau di vonis mengidap beberapa penyakit, tetapi hal ini tidak mematahkan semangat beliau dalam mengajarkan ilmu, bahkan pada umumnya orang yang memiliki penyakit akan banyak beristirahat.

    Tetapi berbeda dengan beliau yang lebih memperbanyak menyema’ Al Quran, mengaji dan mengajar, dikala beliau sedang sakit, apalagi dalam momen bulan ramadhan seperti ini,

    beliau tidak mau melewatkan kesempatan emas yang datang setahun sekali ini, beliau lebih memilih menambah kapasitas mengaji dan beribadah di bulan ramadhan,

    kita seharusnya sebagai pembaca apalagi sebagai santri beliau bersyukur dan terus mengoptimalkan peluang yang ada, beliau dikala sakit tetap melaksanakan sholat witir sejak jam 2 dini hari, setelah itu sahur, dilanjutkan, dengan mengajar ngaji, kemudian disiang harinya beliau megajar kitab lagi, dan ketika malam hari beliau menjadi imam dalam sholat tarawih untuk khataman beliau sendiri.

    Maka dari itu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengoptimalkan kesempatan dari bulan mulia ini, beliau tidak hanya mengatakan tapi juga dapat kita saksikan bagaimana beliau melakukannya dalam keseharian.

    Semoga dalam kesempatan Milad ke 54 tahun ini, Abuya tetap di beri sehat wal afiyat, diampuni segala kesalahan beliau, dan tetap i beri kesempatan untuk menebarkan ilmu yang insyaAllah akan menjadi amal jariyah untuk kehidupan akhirat kelak. Amin Ya robbal Alamin.






    .











  • Wanita Tangguh Pejuang Al-Qur’an

    Wanita Tangguh Pejuang Al-Qur’an

    PENDAHULUAN

         “Obate ati iku Qur’an. Dadi, lek loro balekno nang Qur’an, woco o sing akeh, ben penyakite ilang.” Artinya, “Obatnya hati itu Qur’an. Jadi, kalau sakit kembalikan ke Qur’an, baca yang banyak, biar penyakitnya hilang.” Begitulah salah satu dawuh dari Ummul Ma’had Asy-Syadzili, Simbah Nyai Hj. Rohmah Marzuki, kisah hidup beliau penuh keteladanan, cinta beliau terhadap Al-Qur’an membuat siapapun pencintanya iri. Bahkan, hingga memasuki usia yang sangat senjapun beliau tetap belajar Al-Qur’an. Seorang istri yang telah ditinggal suaminya wafat, namun tetap pantang menyerah untuk memberikan kesembilan putra dan putrinya pendidikan yang layak, mencetak mereka hingga menjadi penerus yang pantas untuk mendiang suami, yakni KH. Ahmad Syadzili Muhdlor. Dari tangan beliaulah puluhan lembaga dibawah bendera Asy-Syadzili berkibar dimana-mana. Gedung-gedung tersebut menjadi saksi bisu perjuangan tangan lembut dari Ummul Ma’hadnya, seakan-akan mempertegaskan bahwa Simbah Nyai Hj. Siti Rohmah Marzuki adalah sang wanita tangguh pejuang Al-Qur’an.

    MASA KECIL

         Simbah Nyai Hj. Siti Rohmah Marzuki biasa dipanggil dengan sebutan Nyai Rohmah adalah putri dari pasangan H. Marzuki dan Hj. Nasihah, yang lahir pada hari Kamis, 8 Ramadhan 1364 H. Atau bertepatan dengan tanggal 16 Agustus 1945 M. Sehari sebelum kemerdekaan Indonesia. H. Marzuki sendiri merupakan seorang dermawan yang kaya raya, shalih, serta sangat mencintai para ulama.

    Nyai Rohmah tumbuh cerdas dengan semangat mencari ilmu yang sangat tinggi, sehingga saat berusia 9 tahun, beliau menyampaikan keinginannya untuk pergi mondok. “Bah, mondok. Bah, mondok.” (Abah, saya ingin mondok), ucapnya kepada Haji Marzuki. Haji Marzuki tentu sangat senang dengan semangat putrinya untuk mencari ilmu. Tapi beliau memiliki rencana lain yang lebih baik. “Tak golekno guru dewe.” (Aku carikan guru sendiri). Setelah mendengar jawaban dari sang abah, Siti Rohmah girangnya bukan main. Suatu ketika, ayah beliau mendengar kabar bahwa seorang alim dan ahli Al-Qur’an yang juga merupakan menantu dari Syaikhul Huffadz KH. Munawwar Nur, baru saja ditinggal wafat istrinya. Timbullah keinginan sang ayah untuk menjadikan sang alim tersebut sebagai menantu. Di antara putri-putrinya, hanya beliau yang paling besar dan belum menikah, meski usianya masih anak-anak.

    MENJADI ISTRI SANG HAMILUL QUR’AN

         Kebahagiaan masa kanak-kanak Nyai Rohmah pun terenggut karena harus menikah dengan pria yang sudah tua dan telah memiliki tiga orang anak. Saat itu, banyak orang menasihati agar beliau menolak perjodohan tersebut. Namun, setelah mengetahui bahwa calon suaminya adalah seorang yang alim dan hafal Al-Qur’an, beliau tidak menolak perjodohan itu, dengan harapan dapat belajar banyak dari suaminya kelak.

    Pada tahun 1959 pernikahan itu diberlangsungkan, namun ada hal luar biasa yang terjadi setelahnya. Selama satu tahun pertama pernikahan, Nyai Rohmah yang masih sangat belia belum mau mendekat kepada suaminya, kecuali saat mengaji. Seusai mengaji, beliau akan kembali menjaga jarak. Sikap ini bukan karena kurangnya rasa hormat kepada Kyai Syadzili, melainkan karena usia beliau yang masih sangat muda dan belum sepenuhnya memahami makna sebuah pernikahan.

    Barulah setelah satu tahun, perlahan hati Nyai Rohmah luluh dan menerima kehadiran Kyai Syadzili sepenuhnya. Sejak saat itu, terciptalah rumah tangga yang bahagia, meski harus dijalani dengan segala keterbatasan ekonomi. Meskipun beliau adalah putri dari keluarga kaya raya, H. Marzuki hanya memberikan sebuah rumah kecil bekas gudang dan sepetak tanah yang diwakafkan kepada menantunya. Bukan sebagai pribadi, melainkan sebagai imam masjid.

    UJIAN DALAM BERUMAH TANGGA

         Ketika Allah menganugerahkan Kyai Syadzili dan Nyai Rohmah putra dan putri, justru di situlah puncak ujian hidup datang. Masa-masa krisis ekonomi melanda keluarga kecil ini, hingga untuk sekadar makan pun mereka seringkali kesulitan. Meski Kyai Syadzili yang tangguh dan pekerja keras telah mencoba berbagai usaha untuk mencukupi kebutuhan keluarga, namun keadaan tak kunjung membaik. Di tengah keterhimpitan itu, Nyai Rohmah merasa khawatir jika beban ekonomi akan mengganggu tugas mulia Kyai Syadzili sebagai pengajar dan imam. Maka dengan penuh keikhlasan dan keteguhan hati, Nyai Rohmah memutuskan untuk mengambil alih urusan ekonomi keluarga. Beliau pun turun tangan, bekerja dan berjuang mencari nafkah demi kelangsungan hidup keluarga tercinta.

    Saat masih kecil, salah satu putra beliau masih sangat ingat setiap kali beliau membutuhkan uang untuk keperluan sekolah dan kebutuhan lainnya, beliau selalu meminta kepada sang ibunda. Suatu ketika Salah satu putra beliau terlambat membayar SPP, rasa takut menyelimuti hati nya sehingga tak berani masuk sekolah dan menangis sejadi-jadinya. Melihat kesedihan itu, sang ibunda mengajak Salah satu putra beliau untuk pergi ke pasar bersama- sama menjual kain yang sudah dibordir. Dengan penuh harapan mereka berkeliling dari toko ke toko, menawarkan kain tersebut. Penolakan demi penolakan mereka terima hingga pulang tanpa membawa uang sepeser pun. Yang luar biasa, di tengah kondisi hidup begitu sulit Nyai Rohmah masih menyempatkan waktu untuk mengaji kepada Kyai Syadzili. Menunjukkan keteguhan hati dan semangat belajar yang tak pernah pudar meski dalam ujian terberat sekalipun.

    MENDIRIKAN PESANTREN

         Pada saat itu, sudah ada beberapa santri yang muqim di pondok. Santri putra dibuatkan bangunan di tanah masjid, sementara santri putri menempat di ndalem kecil yang sangat sederhana dan kurang layak. Melihat kondisi tersebut, Nyai Rohmah dengan penuh semangat dan kegigihan berusaha untuk mendirikan asrama khusus bagi santri di sepetak tanah milik beliau sendiri.

    Awalnya, usaha beliau ini tidak mendapat izin dari Kyai Syadzili. Namun, berkat keteguhan hati dan tekad yang kuat, beliau terus berjuang dan meyakinkan suaminya akan pentingnya keberadaan asrama yang layak bagi para santri. Alhamdulillah, akhirnya beliau mendapatkan restu dan izin dari Kyai Syadzili. Berkat kegigihan dan do’a beliau, terwujudlah sebuah asrama yang dapat ditempati oleh para santri dengan lebih nyaman dan layak. Keberhasilan ini kemudian diperingati setiap tanggal 13 Dzulhijjah sebagai momen yang penuh makna dan menjadi tonggak sejarah penting dalam perjalanan Asy-Syadzili.

    MENJADI IBU YANG VISIONER

         Di balik wajah beliau yang teduh, Nyai Rohmah adalah sosok yang tegas dan berwibawa. Beliau tidak membeda-bedakan baik itu putra, menantu, santri, saudara, maupun orang lain. Jika beliau mengetahui adanya kesalahan atau perbuatan yang tidak pantas, maka dengan segera mengingatkan bahkan menegur dengan tegas tanpa ragu.

    Selain itu, Nyai Rohmah juga dikenal sebagai pelindung yang luar biasa. Salah satu putra beliau masih ingat betul, ketika Kyai Syadzili begitu keras hingga pernah memukul putri dari istri pertama beliau, Nyai Rohmah dengan tegas menjadi tameng bagi putri tirinya itu dan justru Nyai Rohmah yang menerima pukulan tersebut. Pengalaman serupa juga pernah dialami oleh Salah satu putra beliau ketika beliau nakal dan dihajar oleh seseorang, Nyai Rohmah berdiri di antara Salah satu putra beliau dan orang tersebut. Akibatnya, Nyai Rohmah yang dipukuli dan dikejar hingga lari, kejadian itu disaksikan oleh banyak orang. Sikap Nyai Rohmah yang tegas namun penuh kasih itu menunjukkan betapa besar keberanian dan pengorbanan demi melindungi keluarga dan orang yang disayangi.

    Di balik hidup yang serba kekurangan, Nyai Rohmah dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan. Suatu ketika, salah satu putra beliau hendak membeli rumah, uang pelunasannya dititipkan kepada Nyai Rohmah. Tiba-tiba datang seseorang yang memelas meminta bantuan, tanpa ragu beliau memberikan seluruh uang itu tanpa menyisakan sedikit pun.

    Selain kemurahan hati, Nyai Rohmah juga seorang ibu yang visioner dengan pemikiran jauh ke depan, yang kadang sulit diikuti oleh putra-putri beliau. Salah satu contohnya adalah ketika Asy-Syadzili masih sangat sederhana dengan jumlah santri yang terbatas. Beliau meminta agar dibangun sebuah gedung enam lantai, sebuah permintaan yang tidak bisa ditawar. Alhamdulillah, akhirnya terwujudlah Graha Manarul Qur’an, sebuah bangunan megah yang menjadi simbol kemajuan dan harapan bagi Asy- Syadzili.

    Mewarisi kehati-hatian sang suami dalam urusan hukum, Nyai Rohmah juga dikenal sangat teliti dan berhati-hati. Hal ini terbukti ketika suami tercinta wafat, beliau tidak mendapat warisan sama sekali. Setelah itu, dari orang-orang yang berziarah terkumpul sejumlah uang, namun Nyai Rohmah tidak berani menggunakan uang tersebut karena ingin membaginya sesuai aturan waris. Namun, putra-putri beliau kemudian menjelaskan bahwa uang itu bukanlah tirkah atau harta peninggalan, sehingga tidak perlu dibagi. Kehati-hatian Nyai Rohmah tidak hanya terlihat dalam urusan harta, tetapi juga dalam segala hal. Nyai Rohmah tidak pernah merasa malu untuk bertanya tentang urusan agama kepada putra dan menantunya. Bahkan, beliau juga rutin mengaji kepada mereka, menunjukkan kerendahan hati dan semangat belajar yang luar biasa, meskipun sebagai sosok ibu dan pemimpin keluarga.

    MENGUTAMAKAN PENDIDIKAN PUTRA-PUTRINYA

         Diceritakan, saat salah satu putra beliau masih mondok di Singosari untuk menghafal Al-Qur’an, ia sering merasa tidak betah dan kerap pulang dengan berbagai alasan. “saya sering mengadu kepada Ibuk dengan menambahkan bumbu-bumbu agar diizinkan pulang. Alhamdulillah, setiap kali saya curhat Ibuk selalu memperhatikan dengan seksama. Namun, setelah mendengar keluh kesah saya, beliau selalu menegaskan, ‘Sudah selesai mengadunya? Kalau sudah, segera kembali’ karena tidak boleh boyong sebelum khotam.”

    Aduan dan curhatan tersebut ia ulang berkali-kali hingga suatu saat Mbah Nyai Rohmah berkata dengan tegas, “Sebagai orang tua, saya tidak mau kalah dengan anak. Apakah kamu tega memasukkan orang tuamu ke dalam neraka?” hingga saat ini, dawuh itu terus terngiang dalam ingatannya, menjadi pengingat yang kuat akan tanggung jawab dan tekad.

    Ketika hampir lulus SMA, ia juga pernah mengikuti program PBUD (Penjaringan Bibit Unggul Daerah) di UGM dengan mengambil jurusan kedokteran. Namun, tiba-tiba ia merasa terpanggil untuk mondok di Ploso. Pada saat yang sama, tokoh-tokoh NU mendatanginya dan mendorong agar dirinya tetap melanjutkan kuliah kedokteran, dengan alasan agar ada orang NU yang menjadi dokter. Keinginannya untuk mondok sempat goyah. Namun, Nyai Rohmah kembali memberi nasihat yang menguatkan,

    “Kalau sudah punya niat yang baik dan mulia, jangan mudah digoyahkan oleh siapapun.” Nasihat ini menjadi pegangan baginya untuk tetap teguh pada pilihan dan niat yang diyakini.

    WAFATNYA SANG SUAMI

         Pada akhir tahun 1991 M. Kyai Syadzili wafat. Sekitar 14 hari sebelum wafat, beliau memberikan wasiat kepada Nyai Rohmah (sebagaimana diceritakan Nyai Rohmah kepada Salah satu putra beliau). Di antara wasiat itu adalah agar tidak ada satu pun anak yang putus pendidikan, baik yang mondok, sekolah, maupun kuliah. Padahal saat itu, dari sembilan putra-putri Nyai Rohmah yang sudah menikah hanya satu orang. Dengan demikian, Nyai Rohmah mendapat amanat untuk menuntaskan pendidikan delapan putra-putrinya tanpa peninggalan warisan materi apapun. Pada masa itu, jumlah santri pun masih bisa dihitung dengan jari.

    Saat Kyai Syadzili wafat, para santri yang tersisa sowan kepada Nyai Rohmah dan menyampaikan bahwa jika Salah satu putra beliau yang berada di ploso tidak segera pulang, hanya menunggu waktu seluruh santri akan boyong. Namun, dengan tegas Nyai Rohmah berkata, “Apapun yang terjadi, dia harus tetap bertahan di Ploso.” Hal ini beliau lakukan karena ngugemi wasiat dari suami tercinta.

    Ketika keadaan sudah sangat menuntut anak tersebut untuk pulang, ia memohon izin kepada Mbah Yai di ploso, ternyata izin itu tidak diberikan. Nyai Rohmah pun meminta agar dia tetap patuh kepada Mbah Yai karena di situ ada hal yang lebih penting yaitu keberkahan.

    Inilah episode terberat dalam perjalanan hidup Nyai Rohmah. Beliau harus banting tulang menghidupi keluarga sendirian tanpa modal warisan sedikit pun, sekaligus membiayai pendidikan putra-putrinya sesuai amanat sang suami. Tanpa adanya barang berharga yang bisa dijual, Nyai Rohmah melakukan segala cara demi memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan ketika menanak nasi, beliau sengaja menyisihkan satu genggam beras untuk dikumpulkan selama sebulan penuh sebagai tabungan agar bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di balik segala kesulitan itu, Nyai Rohmah tetap aktif mendidik para santri dan terlibat dalam berbagai organisasi kemasyarakatan. Yang mengherankan, meskipun hidup dalam keterbatasan, Semua putra-putri beliau tetap tercukupi biaya hidup dan pendidikannya, seolah-olah Nyai Rohmah hidup dalam kondisi berkecukupan.

    MEMETIK APA YANG TELAH DITANAM

         Alhamdulillah, satu demi satu putra-putri Nyai Rohmah berhasil menuntaskan masa pendidikannya. Bahkan sebagian dari mereka sudah mampu membantu perekonomian keluarga. Pondok pun mulai berkembang dengan bertambahnya jumlah santri. Meski belum sempurna, sudah ada putra yang berkenan mengurus pesantren sehingga pengelolaannya mulai berjalan lebih baik.

    Akhirnya, semua putra-putri Nyai Rohmah telah berkeluarga dan terentaskan di bawah asuhan beliau. Berkat perjuangan gigih Nyai Rohmah, berdirilah pesantren Asy-Syadzili 1 hingga 6 yang kini menjadi lembaga pendidikan yang mapan. Tiga putra yang tidak mengasuh pesantren justru aktif di bidang lain; ada yang berkiprah di dunia pendidikan dan ada pula yang mengabdikan diri sebagai dokter di masyarakat. Semua tetap berperan aktif dalam pengembangan pesantren Asy-Syadzili, meneruskan amanah dan visi yang telah diwariskan.

    Nyai Rohmah adalah sosok yang sangat aktif dan tak pernah mau berdiam diri, meski usianya telah sepuh. Beliau terus mengajar para santri yang masih belum lancar membaca Al-Qur’an dan dengan penuh perhatian menyimak para santri yang hendak setor hafalan. Selain itu, Nyai Rohmah juga rajin mengaji kepada putra-putranya dan menantunya, menunjukkan semangat belajar yang tak pernah pudar.

    Tak hanya itu, beliau mengumpulkan ibu-ibu untuk diajak mengaji bersama dengan mewajibkan putra dan menantu beliau meluangkan waktu khusus untuk membimbing mereka. Yang luar biasa, waktu Nyai Rohmah hampir seluruhnya dihabiskan untuk menghafal Al-Qur’an. Kemanapun beliau pergi, selalu mengajak dua orang santri untuk menyimak hafalannya selama perjalanan.

    SEMANGAT WALAU DIUSIA SENJA

         Yang paling mengharukan adalah setiap pagi dengan duduk di atas kursi roda, Nyai Rohmah datang ke ndalem Salah satu putra beliau didampingi oleh dua orang santri untuk melanjutkan hafalan Al-Qur’annya. Keteguhan dan kecintaan beliau terhadap Al-Qur’an menjadi teladan yang menginspirasi, menunjukkan bahwa semangat belajar dan pengabdian tidak mengenal batasan usia.

    Suatu ketika di Asy-Syadzili 1 sedang berlangsung peringatan Haul Al- Habib Abu Bakar Al-Athos. Karena wabah corona yang sedang merebak, acara yang semestinya diadakan di ndalem Habib Abdurrahman dipindahkan ke pondok. Nyai Rohmah turut hadir saat acara berlangsung, namun di tengah-tengah kegiatan beliau mulai merasa tidak enak badan dan meminta agar dibawa ke rumah sakit.

    WAFATNYA SANG UMMUL MA’HAD

         Sesampainya di rumah sakit, Nyai Rohmah menjalani tes swab dan hasilnya negatif, sehingga beliau dapat dirawat di kamar perawatan biasa. Alhamdulillah, seluruh keluarga dapat menjenguk beliau di rumah sakit. Namun, tiba-tiba pada malam harinya rumah sakit menghubungi keluarga dan memberitahukan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan lanjutan, Nyai Rohmah dinyatakan positif terkena virus corona. Oleh karena itu, beliau harus dirujuk ke rumah sakit lain yang khusus menangani pasien Covid-19.

    Malam itu, seluruh keluarga berkumpul di rumah sakit karena secara medis kondisi Nyai Rohmah sudah sulit diharapkan untuk sembuh. Beliau pun tidak meminta didoakan agar sembuh, melainkan memohon agar didoakan husnul khotimah. Dengan penuh harap, putra-putri beliau secara bergantian membaca talqin melalui telepon genggam, karena putra dan cucu beliau yang dokter diizinkan mendampingi di ruang perawatan. Di tengah-tengah keluarga membaca talqin, suara lantang Nyai Rohmah terdengar dengan jelas, beliau berdoa, “Ya Allah biha, Ya Allah biha, Ya Allah bihusnul khotimah.” Suara itu menjadi penguat dan penghibur hati di saat- saat penuh ujian tersebut.

    Pagi itu, pada hari Selasa, 23 Dzulqo’dah 1441 H. Yang bertepatan pada tanggal

    14 Juli 2020 M. Nyai Rohmah menghembuskan nafas terakhirnya. Alhamdulillah, beliau dapat dimandikan dan dikafani oleh keluarga dengan penuh kasih salah satu putra beliaung. Jenazah kemudian dimasukkan ke dalam peti dan dibawa pulang bukan dengan ambulan, melainkan menggunakan mobil beliau sendiri. Sesampainya di pondok, jenazah Nyai Rohmah disholati oleh banyak penta’ziyah yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Beliau kemudian dimakamkan di area pondok, tempat yang selama ini menjadi pusat perjuangan dan pengabdian beliau. Saat itu Salah satu putra beliau teringat betul bahwa setiap pagi menjelang wafatnya, Nyai Rohmah selalu rawuh ke pondok, seolah memberi isyarat bahwa beliau akan bersemayam di sana, untuk tetap menemani dan menjaga para santrinya walau sudah tiada.

    Alhamdulillah, ketika pemakaman Nyai Rohmah, Salah satu putra beliau mendapat kesempatan untuk mendampingi hingga ke liang lahat, meskipun tanpa mengenakan APD (pakaian khusus untuk jenazah Covid). Selama tujuh hari tahlil berlangsung, selalu ramai dihadiri oleh banyak orang yang datang untuk mendoakan beliau. Para penta’ziyah pun tak pernah berhenti memberikan penghormatan, sebuah hal yang tidak lazim terjadi pada jenazah Covid lainnya. Setelah tujuh hari, semua yang mendampingi Nyai Rohmah dari rumah sakit hingga pemakaman menjalani tes swab. Alhamdulillah, berkah dari beliau, tidak ada satu pun yang terjangkit wabah ini.

    Kami semua sangat merindukan Panjenengan, Nyai Rohmah. Semoga kelak kami diberi kesempatan untuk berkumpul kembali bersama Panjenengan di tempat yang penuh rahmat dan kedamaian.

    Alfatihah..

  • 7 Kata Dalam Pancasila Yang Dihapuskan

    7 Kata Dalam Pancasila Yang Dihapuskan

    Pada awalnya, bunyi sila pertama dalam pancasila pada piagam Jakarta adalah “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Yang kemudian dihapus dan diganti menjadi “Ketuhanan yang maha Esa.”

    Penghapusan ini diusulkan oleh delegasi Indonesia timur yang meliputi Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua. Keberatan ini didasari oleh kekhawatiran bahwa frasa tersebut dapat menimbulkan perpecahan dan diskriminasi terhadap warga negara Indonesia yang beragama non-Muslim.

    Lantas, apa makna dan dampak perubahan penghapusan tujuh kata ini?

    Penghapusan “tujuh kata” ini bukan sekadar perubahan redaksional, melainkan sebuah keputusan politik yang sangat strategis dan visioner. Keputusan ini menunjukkan komitmen para pendiri bangsa untuk membangun negara Indonesia yang inklusif, berdasarkan prinsip kebinekaan, karena:

    1. Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa: Dengan dihilangkannya frasa tersebut, Pancasila mampu merangkul seluruh elemen bangsa Indonesia, tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan. Ini mencegah potensi perpecahan yang serius pada awal kemerdekaan.

    2. Menegaskan Negara Kesatuan: Perubahan ini memperkuat konsep Indonesia sebagai negara kesatuan yang tidak berdasarkan pada satu agama tertentu, melainkan mengakomodasi keberagaman keyakinan.

    3. Memperkuat Toleransi Beragama: Sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” menekankan pada pengakuan adanya Tuhan bagi setiap warga negara, namun memberikan kebebasan bagi setiap individu untuk memeluk dan menjalankan agamanya masing-masing tanpa paksaan atau diskriminasi. Ini menjadi fondasi penting bagi kehidupan beragama yang harmonis di Indonesia.

    Keputusan menghapus “tujuh kata” adalah salah satu momen paling penting dalam sejarah perumusan Pancasila. Ini adalah bukti bahwa para pendiri bangsa mengutamakan persatuan di atas segala perbedaan, menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang relevan dan mampu menyatukan masyarakat Indonesia yang majemuk hingga saat ini.

  • menarik kembali pelajaran nabi ibrahim dan ismail

    menarik kembali pelajaran nabi ibrahim dan ismail

    Santripasir.id- Pelaksanaan sholat Idul adha di Masjid Asy-Syadzili berjalan dengan penuh khidmat. Jamaah terhimpun mulai dari santri, asatidz hingga alumni. Sebelum itu, gema takbir tak berhenti sejak malam sehabis pentas seni. Seluruh santri dibagi sesuai angakatan masing-masing untuk menyalakan malam dengan takbiran.

    Selepas sholat Idul adha, KH. Abdul Qodir selaku khotib naik ke atas mimbar. Beliau menarik kembali pelajaran penting dari kisah Nabi Ismail dan ayahnya, Nabi Ibrahim. 

    “Seperti yang kita ketahui dalam kisah nabi ibrahim dan putra nya. Beliau memberikan contoh yang luar biasa, yakni akan betapa pentingnya sifat tawakkal. Ketika mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih ismail, yang mendominasi pikirannya bukan pikiran bagaimana nanti jika dia kehilangan seorang anak, bagaimana rasa sakit yang akan dirasakan ismail juga bagaimana perasaan istrinya. Tapi bagaimanapun juga tetap patuh atas perintah Allah SWT.

    “فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ  ۗ اِنّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ”

    Sehingga seluruh jamaah dapat merenungi hikmah bahwa tawakkal adalah kekuatan yang luar biasa. Bertawakkal dapat membantu seorang hamba menjalani segala macam tantangan hidup, dan juga menjadi jalan menuju ridho Allah SWT.

    Khutbah ditutup setelah matahari mulai tampak dibalik kabut. Seluruh jamaah beranjak, sebagian santri memilih langsung ke kamar dan ambil makan, sebagian lagi berfoto mengabadikan kebahagiaan, sebagian lagi bahkan sudah duduk manis di sekitar area kurban, tak mau berdiri paling belakang saat proses penyembelihan.

  • Idul adha di pesantren, merawat tradisi menguatkan ukhuwah

    Idul adha di pesantren, merawat tradisi menguatkan ukhuwah

    Perayaan Idul Adha 1446H atau 2025, pondok pesantren salaf Al Quran asy-syadzili merayakan Idul Adha dengan penuh khidmat. Kegiatan pemotongan hewan qurban di pondok Asy Syadzili tahun ini juga berjalan lancar.

    Pada hari pertama, pondok asy syadzili diamanahi untuk memotong 3 ekor sapi dan 11 ekor kambing untuk dipotong dan didistribusikan. Pelaksanaannya dilakukan selang beberapa waktu setelah sholat Idul Fitri selesai, dan dilaksanakan langsung oleh sejumlah asatidz dan santri yang berpengalaman dan jelas paham akan ilmu untuk melaksanakan qurban.

    Proses pemotongannya, berlangsung mulai pagi hari kemudian istirahat sejenak untuk persiapan sholat jumat. Kemudian, Setelah sholat jumat proses pemotongan dilanjutkan kembali.

    Aktivitas pemotongan dan pembungkusan daging berjalan lancar. Melibatkan teman-teman santri yang tertunjuk untuk menjadi panitia qurban, mereka dengan antusias memotong dan membungkus daging yang kemudian akan didistribusikan. 

    Kegiatan berjalan bersukaria dari berbagai kalangan, mulai dari teman-teman santri, para shohibul qurban, asatidz, maupun warga sekitar yang menonton pada waktu itu.

    Pendistribusian daging qurban tidak hanya diberikan kepada sohibul qurban, tetapi juga kepada warga sekitar pondok dan tetangga-tetangga. Total perkiraan sekitar 100 bungkus lebih daging qurban yang didistribusikan, diluar organ seperti kepala kaki dan buntut.

    Kegiatan perayaan hari raya idul adha pada hari pertama ini, diakhiri dengan acara makan bersama ala santri. yakni setiap kalangan yang hadir dipersilahkan untuk membuat kelompok duduk berisi 5 orang per kelompok. Kemudian masing-masing kelompok akan diberikan 1 porsi besar talam yang berisi lauk daging yang sangat lezat.

    Beranjak ke hari kedua, hati masih hangat oleh semangat kemarin. Para panitia qurban telah siap menyambut kebaikan yang ada pada hari ini.

    Proses penyembelihan pun berlanjut, menuntaskan hewan yang belum dipotong. Proses penyembelihan berlangsung mulai sekitar jam 07:00 dini hari, lalu istirahat sejenak untuk persiapan sholat dzuhur.

    Kemudian setelah istirahat, proses penyembelihan terus berlanjut hingga sore hari. Hari ini ada sebanyak 12 kambing dan 2 sapi yang disembelih. dengan total sebanyak 23 ekor kambing dan 5 ekor sapi yang terkumpul pada tahun ini.

    Pada hari kedua ini, para santri menggelar kegiatan unik yang telah menjadi tradisi tahunan, yakni lomba memasak bersama . Lomba memasak ini merupakan bagian dari rangkaian acara, sekaligus penutup dari acara Idul Adha. Dimana setiap perwakilan santri tiap kamar ditantang untuk memasak daging qurban, yang kemudian akan dinilai oleh para juri.

    Peserta lomba diikuti berbagai macam kalangan santri, baik dari jenjang santri SMP, SMA, hingga santri non formal. Untuk panitia pelaksana berasal dari kalangan pengurus. Dan dewan juri berasal dari golongan asatidz pondok.

    Kegiatan ini berlangsung di dua halaman utama pondok dengan penempatan santri smp di lapangan atas, dan santri sma, non formal di lapangan bawah. Menu ragam sepeti gulai, sate, rawon dan soto turut serta menghiasi acara meriahnya di malam hari ini.

    Setiap masing-masing kamar diberi waktu 90 menit untuk menyiapkan masakannya dan kemudian dibawa ke juri di atas panggung. Untuk kriteria penilainnya meliputi rasa, kreativitas, kebersihan dan kekompokan. Jadi, selain berlomba-lomba untuk membuat masakan yang enak, para santri juga dituntut untuk memperkuat dan mempererat ilmu pengetahuan satu sama lain. 

    Sebagai bentuk penghargaan, panitia memberikan penghargaan dan juga piagam kepada tiga tim terbaik. Selain itu, makanan yang telah dimasak dipasarkan secara gratis kepada seluruh masyarakat pondok pesantren yang menginginkannya. Hal ini sebagai bentuk syiar semangat saling berbagi di idul adha.

    Dengan adanya serangkaian acara perayaan Idul Adha ini. Pondok pesantren salaf Al Quran Asy syadzili berharap, dapat turut serta memeriahkan dengan tidak hanya menunaikan ibadah qurban saja. Melainkan, juga mengadakan kegiatan edukatif sebagai wadah bagi para santri untuk menuangkan berbagai macam kreatifitasnya, dan juga sebagai media untuk mempererat hubungan ukhuwah Islamiyah.

  • Selamat Memperingati Harlah Asy-Syadzili Yang Ke-60

    Selamat Memperingati Harlah Asy-Syadzili Yang Ke-60

    Di balik setiap dinding, setiap sudut, dan setiap jengkal tanah, tersembunyi sebuah harta karun yang tak bernilai. Sebuah permata sejarah, berbalut waktu, menanti untuk ditemukan dan dipancarkan cahayanya. Harta itu bukanlah emas permata, melainkan kisah perjuangan, keteguhan, dan visi mulia yang telah mengukir jejak peradaban. Inilah warisan yang harus kita jaga, jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan, agar generasi penerus dapat menyelami samudra hikmah dari kisah juang sang mu’assisnya, pendiri pendiri pondok pesantren Asy-Syadzili ini.

    Lebih dari sekedar bangunan dan tradisi, Pondok Pesantren Asy-Syadzili adalah warisan yang istimewa. la adalah untaian nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi, sebuah mata air ilmu yang tak pernah kering, dan suluh yang menambah kegelapan zaman. Di setiap sudutnya terukir jejak pengabdian para pendirinya, semangat juang para santri, dan harapan akan masa depan yang gemilang. 

    Niat untuk mengulik kembali mengenai hari lahir pesantren muncul setelah kami yang tergabung sebagai tim pengembangan biografi KH. Ahmad Syadzili Muhdlor mengetahui dawuh salah satu dzurriyah beliau. Bahwasanya sang mu’assis dahulu selalu istiqomah dalam memperingati pesantren harlah setiap tanggal 13 Dzulhijjah, namun tradisi itu sempat terputus. Inilah sebabnya, demi memastikan keabsahan dan kehausan tradisi ini, tim pengembangan biografi merasa terpanggil untuk kembali menilik, mencari informasi, dan menggali lebih lanjut mengenai kapan pesantren ini didirikan.

    Setelah melalui wawancara dan pengumpulan informasi dari beberapa narasumber utama, yaitu para sesepuh santri generasi pertama dan para dzurriyah mu’assis. Banyak pernyataan yang sedikit demi sedikit menjadi petunjuk, membawa kami semakin dekat pada apa yang kami cari, diantaranya:
    * KH. Muhammad Chusaini (santri tahun 1975)
    * KH. Nur Kholis (santri tahun 1973)
    * KH. Nurul Yaqin (santri tahun 1972)

    Pencarian ini memiliki target bahwasanya, tahun dimana Asy-Syadzili berdiri, adalah tahun dimana santri pertama masuk ke pesantren, pencarian kami berakhir pada pernyataan KH. Nurul Yaqin yang mengatakan bahwa tidak ada santri sebelum beliau, kecuali santri pertama yakni KH. Maftuh Sa’id pendiri pondok pesantren Al-Munawwariyah, Bululawang. Selain menimbang dan menghubungkannya dengan biografi KH. Maftuh Said diberbagai sumber, dan diperkuat dengan dawuh beliau dihadapan para kyai NU di Wajak bahwa beliau mondok di Asy-Syadzili sekitar tahun 1967 M. Dari situlah diasumsikan berubah menjadi fakta yang terverifikasi, sebagai tahun lahirnya Asy-Syadzili. Ditambah setelah melihat hari lahir pesantren berdasarkan apa yang telah mu’assis istiqomahkan, maka pondok pesantren Asy-Syadzili, lahir pada hari Kamis Legi, 13 Dzulhijjah 1386 H. / 23 Maret 1967 M.

    Yang mana, jika dihitung berdasarkan tahun hijriyahnya, pada hari ini, pondok pesantren Asy-Syadzili secara resmi memasuki usia yang ke 60 tahun, dan pada hari ini juga, untuk pertama kalinya, peringatan harlah kembali di peringati. Dengan membawa tema, menjaga warisan, meraih kemajuan.

    المحافظة على القديم الصالح، والاخذ بالجديد الاصلح
    tradisi terdahulu yang baik, serta mengambil hal baru yang lebih baik.

    Tema Harlah Asy-Syadzili ini bukan sekedar slogan, melainkan cerminan dari visi dan misi Asy-Syadzili di era modern. Sebagai seruan untuk introspeksi, refleksi, dan aksi. Dengan mengajak seluruh civitasnya, baik pesantren, alumni, dan masyarakat untuk bersama-sama meneguhkan komitmen dalam melestarikan identitas keilmuan dan nilai-nilai luhur pesantren, seraya terus berinovasi dan melangkah maju demi mewujudkan generasi Muslim yang unggul, berakhlak mulia, dan mampu memberikan manfaat bagi agama, bangsa, dan dunia.

  • Pondok pesantren Asy syadzili gelar ujian akhir tahun.

    Pondok pesantren Asy syadzili gelar ujian akhir tahun.

    Asy syadzili News — Pondok pesantren salaf Al Quran asy syadzili kembali menggelar ujian akhir tahun secara serentak, kegiatan ini dilakukan sebagai evaluasi rutin atas  pencapaian belajar para santri dari segi akademik dan juga pendidikan moral, kegiatan ini rutin dilakukan setiap satu tahun sekali.

    Pelaksanaan ujian ini mencakup ujian Tahfidz dan madrasah diniyah. Dengan mata pelajaran Fiqih, nahwu, dan Akhlak. Dalam rangka memastikan kelancaran dan ketertiban ujian, pihak pesantren telah melakukan berbagai macam persiapan, termasuk penyusunan soal yang mengacu pada kurikulum dan pengawasan ketat yang dilakukan di setiap tempat ujian.

    Ujian ini diikuti oleh berbagai macam kalangan santri, baik santri yang masih aktif sekolah, non sekolah dan juga santri dari kalangan pengurus. Untuk waktu pelaksanaannya pun juga berbeda.

    Untuk santri non sekolah, ujian tahfidz dilaksanakan di hari pertama setelah pembukaan, dan disambung dengan ujian tulis dan lisan di pagi hari pada hari-hari berikutnya. Sedangkan untuk santri sekolah, ujian tahfidz dillaksanakan pada hari kedua setelah pembukaan. Dan ujian tulis dan lisan dilaksanakan di malam hari.

    Seluruh kegiatan ujian berlangsung khidmat, Ruang ujian terbagi sesuai tingkatan kelas madinnya. Untuk kelas Ula berada di latar masjid dan sekitarnya. Sedangkan kelas wustho berada di aula gedung baru. Dengan pengawasan langsung dari para guru dan staf pengajar pondok.

    Selama pelaksanaan UAT, suasana pesantren terlihat sangat kondusif. Para santri mengikuti ujian dengan tertib dan penuh semangat. Setiap santri santri juga diharuskan mengikuti ujian dengan tertib dan tepat waktu.

    Salah satu santri kelas wustho Farel raditya rahman, mengungkapkan perasaannya menghadapi ujian UAT kali ini. “Alhamdulillah seru sekali, karena di hari itu anak-anak menjadi lebih semangat belajar, dan dari diri saya sendiri mendapat banyak pengalaman baru.“ ujarnya.

    Kegiatan ujian ini telah berlangsung selama 8 hari mulai dari tangggal 15 hingga 22 juni, Dua hari diantaranya adalah ujian susulan, yang diperuntukkan bagi para santri yang berhalangan untuk mengikuti ujian di hari yang telah ditentukan.

    Ujian ini, bertujuan untuk menguji seberapa jauh pemahaman santri terhadap materi pelajaran yang telah diajarkan kepada santri selama satu tahun terakhir. Selain itu ujian ini juga bertujuan sebagai syarat naik kelas para santri.

    Dengan terselenggaranya ujian ini, pondok pesantren salaf Al Quran Asy syadzili berharap dapat meningkatkan prestasi akademik santri dan siap menghadapi ujian-ujian berikutnya.

  • Asy syadzili berkreasi, pecahkan rekor MURI.

    Asy syadzili berkreasi, pecahkan rekor MURI.

    Asy syadzili News — Dalam rangka meyemarakkan Puncak Resepsi Harlah Asy-Syadzili ke 60, segenap panitia Harlah mengadakan Festival Literasi Asy-Syadzili 2025.

    dimana festival ini mengadakan dua agenda yang diantaranya adalah lomba cipta cerpen yang dapat diikuti seluruh civitas pondok dan penulisan 2025 Puisi secara serentak Oleh Santri Menuju Rekor MURI (Museum Rekor – Dunia Indonesia).

    Dimana acara ini akan diikuti secara serantak diseluruh pondok pesantren Asy-Syadzili 1-6 dengan target melibatkan 2025 santri untuk menulis 2025 puisi untuk menyabet rekor MURI.

    Nantinya tim dari MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia ) juga akan turut hadir pada hari diselenggarakannya kegiatan berlangsung, dan ikut mengawasi dan memverifikasi  proses pembuatan puisi.

    Kegiatan menulis puisi ini akan diselenggarakan pada hari kamis 26 Juni 2025 dan akan berlangsung di Aula gedung baru lt 1. Dengan ditemani oleh para pendamping profesional, nantinya para santri  akan diberi arahan dan juga materi dari para pendamping.

    Output dari pelatihan ini ialah para santri sekolah dan santri dari kalangan pengurus dapat lebih produktif lagi dan tentunya dapat menyumbangkan 1 karya puisi yang dimana karangan itu akan disetorkan kepada pihak MURI.

    Aksi ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta dan kepedulian santri terhadap Budaya literasi dan juga sebagai wadah bagi para santri untuk mengekspresikan kreatifitasnya, agar dapat tertuang menjadi suatu karya sastra yang indah.

    ilham islamuddin-selaku ketua pelaksana harlah menuturkan, adanya festival literasi tersebut bertujuan untuk menanamkan rasa minat dan cinta santri terhadap kegiatan literasi, yang mencakup aktivitas membaca, menulis ataupun berbicara.

    “Saya harap, festival literasi ini dapat menjadi awal tumbuhnya minat santri untuk membaca dan menulis. Menurut saya, literasi adalah kunci penting dalam mencerminkan kualitas sumber daya manusia suatu golongan. Oleh karena itu santri harus cinta akan literasi agar mampu bersaing dengan perkembangan zaman.” Ujarnya.

    Semoga dengan adanya festival literasi ini tidak hanya dapat memotivasi para santri saja melainkan dapat menjadi sebuah percikan awal untuk mendorong minat para anak muda bangsa untuk cinta akan literasi dan dapat lebih produktif lagi.

  • Amanat inspektur upacara

    Amanat inspektur upacara

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Atas nikmat dan karunia Allah, kita semua dapat hadir pada acara upacara peringatan HUT RI ke-80 yang doadakan di YPS. Asy-Syadzili dalam keadaan sehat wal afiyat.

    Tak lupa sholawat serta salam semoga dapat tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW. Kita semua bangga dapat terlibat secara langsung dalam peringatan HUT RI Ke-80 sesuai peran kita masing-masing yang hakikatnya adalah sama, dalam rangka mensyukuri nikmat Allah atas berkah kemerdekaan.

    Sebuah perjalanan yang panjang menuju kemerdekaan, saya tidak bisa membayangkan berapa generasi kita dijajah, yang pasti tidak singkat, kita dijajah dalam waktu yang sangat panjang, ada enam negara penjajah. Ditengah penjajahan ini, muncul sosok-sosok pejuang yang menginginkan Indonesia merdeka, dari putra-putra terbaik bangsa untuk memerdekakan NKRI, dari tahun ke tahun ternyata perjuangan itu membuahkan hasil pada 17 Agustus 1945, sekaligus kemerdekaan Indonesia dapat diproklamirkan oleh bapak proklamator kita.

    Kemerdekaan ini bukan hadiah ataupun pemberian, melainkan perjuangan dari putra-putri terbaik bangsa hingga kita merasakan kenikmatan kemerdekaan ini. Seperti tiga perang yakni, perang perebutan kemerdekaan oleh pahlawan-pahlawan yang sangat banyak sekali, darahnya terkucur untuk bumi pertiwi. Kemudian, setelah dinyatalan kemerdekaan, ternyata perjuangan belum selesai, negara yang dulunya menjajah Indonesia tidak terima, seperti Belanda dan ditunggangi Inggris yang ditugaskan oleh PBB untuk melucuti Jepang, pahlawan kita terus berjuang, untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pertempuran kembali berkobar oleh arek-arek Suroboyo, terutama para santri, mereka berjuang agar Indonesia tetap mempertahankan kemerdekaannya.

    Perjuangan-perjuangan itulah yang harus kita warisi, bahkan sampai nyawapun mereka pertaruhkan untuk perjuangan bangsa ini. Ini harus menjadi momen kita bersama untuk secara tulus melanjutkan perjuangan-perjuangan mereka dalam merawat kemerdekaan ini. Yang ketika, dalam menjaga kemerdekaan ini, kita harus bertekat dalam mengisi kemerdekaan dengan berjuang mencerdaskan pendidikan bangsa, hingga mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat dan maju untuk melanjutkan perjuangan para pahlawan, terutama para santri yang terpanggil untuk melaksanakan resolusi jihad.

    Tentu tekad ini harus tetap kuat sesuai peran kita masing-masing sesuai peran kita masing-masing. Bapak ibu guru harus berkomitmen untuk menciptalan suasana pendidikan yang baik dan berkualiyas, dan para murid harus belajar dengan rajin dan bersungguh-sungguh, untuk menjadikan Indonesia cerdas dan bermartabat.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

  • pers release upacara peringatan hut ri ke-80 di Asy-Syadzili

    pers release upacara peringatan hut ri ke-80 di Asy-Syadzili

    MALANG, 17 Agustus 2025 – Yayasan Pendidikan dan Sosial (YPS.) Asy-Syadzili hari ini menyelenggarakan upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Acara yang berlangsung di lapangan YPS. Asy-Syadzili ini dihadiri oleh seluruh siswa, guru, staf, serta sejumlah tamu undangan, menciptakan suasana khidmat dan penuh semangat nasionalisme.

    Upacara dimulai tepat pukul 07.26 WIB, diawali dengan upacara pengibaran bendera Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) yang merupakan perwakilan siswa-siswa terbaik Asy-Syadzili. Dengan langkah tegap dan serentak, mereka berhasil menunaikan tugas dengan sempurna, diiringi lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan dengan lantang oleh seluruh peserta upacara.

    Dalam amanatnya, Kepala YPS. Asy-Syadzili, Drs. H. Abdul Mujib Syadzili M.Si. Selaku Kepala YPS. Asy-Syadzili, menyampaikan pentingnya meneladani semangat juang para pahlawan yang telah berkorban demi kemerdekaan. “Kemerdekaan ini bukan hadiah ataupun pemberian, melainkan perjuangan dari para pahlawan yang menjadi putra-putri terbaik bangsa hingga kita merasakan kenikmatan kemerdekaan ini.” “Tentu tekad ini harus tetap kuat sesuai peran kita masing-masing. Bapak ibu guru harus berkomitmen untuk menciptalan suasana pendidikan yang baik dan berkualiyas, dan para murid harus belajar dengan rajin dan bersungguh-sungguh, untuk menjadikan Indonesia cerdas dan bermartabat.” Tambahnya

    Setelah upacara bendera, acara dilanjutkan dengan berbagai pertunjukan dari tim paduan suara, paskibra, dan marching band yang semakin memeriahkan suasana, penampilan ini membuktikan kualitas pendidikan di YPS. Asy-Syadzili dalam pendidikan non akademiknya.

    Ketua YPS. Asy-Syadzili berharap, melalui peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI ini, seluruh komponen pendidikan dapat terus memupuk semangat patriotisme dan nasionalisme, serta berkomitmen untuk bersama-sama membangun Indonesia yang lebih maju, bermartabat, cerdas, dan sejahtera.