Category: Muhasabah

  • Sebuah cahaya bagi yang buta untuk mengambil kembali penglihatannya sebagai manusia: Catatan Milad Abuya yang ke-55

    Sebuah cahaya bagi yang buta untuk mengambil kembali penglihatannya sebagai manusia: Catatan Milad Abuya yang ke-55

    Dalam tradisi keilmuan islam yang baik, pengetahuan-pengetahuan tumbuh dan menjalar melalui guru ke guru, dengan asal-usul yang jelas sampai kepada Rasulullah. Pengetahuan, seperti hal nya dengan urusan kenyang, tak mungkin bisa disingkirkan dari kemaslahatan banyak orang, toh meski mereka merasa tak membutuhkan, pada akhirnya mereka bakal mati secara perlahan. Guru-guru yang kita miliki sekarang, setidaknya, telah mendulang kita saban hari dan menjadi pemandu yang menunjukkan apa-apa yang mesti kita bawa setelah kematian, menjadi juru selamat dari kematian yang lebih cepat. Sebab kebodohan, jauh membunuh ketimbang seratus peluru sekalipun.

    Tentu guru bukan juru kunci yang memegang hidup-mati, mencatat tercela-terpuji, mencipta gempa-tsunami dan tugas-tugas lain yang memang sejatinya milik tuhan semata. Selayaknya kita, guru adalah manusia. Mereka, seperti juga kita, sebenarnya adalah murid dari guru mereka, dari gurunya guru mereka, dari guru yang menjadi gurunya guru mereka dan seterusnya dan seterusnya. Hanya saja, keluasan ilmu dan keputusan untuk memilih jalan keilmuan itulah, yang memberi beda antara guru dengan kita sampai kapanpun.

    Kita bisa menemukan guru tanpa peduli dengan status sosial, selama mereka memiliki ilmu dan asal-usul keilmuan yang jelas, maka layak kita pilih. Mau berguru kepada ulama kondang seperti Imam Syafi’i kepada Imam Malik, atau kepada tukang sol kasut macam yang dilakukan Imam Ghozali, tentu bukan masalah. Tapi yang perlu digaris bawahi, dan tak kalah penting, adalah hubungan antara murid dan guru itu sendiri. Murid yang menghormati dan guru yang mengasihi adalah salah satu kombinasi terbaik selain mati dan iman.

    Beruntung, dalam ruang yang lebih kecil, dalam ruang antara kami dengan guru kami, Abuya KH. Abdul Mun’im Syadzili, kami memiliki kombinasi tersebut. Bentuk hormat tentu tidak lahir dari ruang hampa, tidak sekonyong-konyong muncul secara spontan, tapi mesti tumbuh dari hari ke hari. Dan Abuya, dengan hati yang lapang dan punggung yang tegak, membuka jalan dari lebatnya ilalang kebodohan, memberi dan membuang paksa apa-apa yang menjadikan kami manusia. Dari perlakuan demikian, harapan dan kehormatan bisa terus lahir.

    Bentuk kasih juga tidak melulu harus dengan mengusap ubun-ubun, tidak harus menimang-nimang atau me ninabobokan. Kasih yang paling terang, adalah kasih yang keterikatannya tidak menghabiskan yang sepihak, atau lebih buruk lagi, menghabiskan satu sama lain—dalam arti yang lebih luas, adalah kasih yang saling mengasihi. Abuya memahami itu dan membuktikan dengan ketekunannya dalam hari-hari kami: Bagaimana caranya menghormati ilmu dengan mencintai guru-gurunya, mencontoh perangai baik, memberi pengertian yang juga baik, sampai, pada taraf tertentu, membentak saat panjang yang seharusnya lima, cuma kami baca sampai dua.

    Seperti yang beliau ajarkan, yakni menghormati ilmu dengan mencintai guru, kami pun demikian. Hari ini adalah Hari jadi nya yang ke-55, tentu kami turut bergembira dan mendoakan apa-apa yang terbaik untuk Abuya. Tidak melalui perayaan pesta yang penuh gemerlap warna-warni, tidak dengan mengacungkan sampanye atau semacamnya, melainkan dengan doa dan harapan-harapan yang kami genggam erat dengan kasih. Sebab untuk kami, guru-guru dan ilmu yang mereka miliki, adalah cahaya bagi kami yang buta untuk mengambil kembali jarak pandang sebagai manusia.

    Sugeng ambal warsa, Abuya.

  • MANFAAT PUASA DALAM PRESPEKTIF SAINS DAN KESEHATAN

    MANFAAT PUASA DALAM PRESPEKTIF SAINS DAN KESEHATAN

    Bulan puasa Ramadhan adalah bulan yang sangat dinantikan oleh umat Muslim di seluruh

    dunia. Pada bulan ini, Allah menutup pintu-pintu neraka dan membuka pintu-pintu surga

    selebar-lebarnya. Artinya, Allah juga melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya seluas-luasnya

    kepada hamba-Nya. Selain itu, pada bulan ini setiap amal ibadah dilipatgandakan pahalanya.

    Selain memberikan pahala yang besar karena berpuasa selama satu bulan penuh, puasa juga

    berdampak positif bagi kesehatan manusia. Saat berpuasa, tubuh berfokus pada proses

    pemulihan dan pembersihan. Beban sistem pencernaan berkurang sehingga energi dialihkan

    untuk membuang racun dalam metabolisme. Proses ini dikenal sebagai autophagy, yaitu

    mekanisme ketika sel-sel tubuh membersihkan dan memperbaiki bagian sel yang rusak atau

    tidak lagi berfungsi dengan baik.

    Puasa juga dapat meningkatkan fungsi otak. Ketika berpuasa, tubuh menghasilkan lebih

    banyak brain-derived neurotrophic factor (BDNF), yaitu protein yang berperan dalam

    menjaga kelangsungan hidup dan perkembangan sel saraf. Peningkatan BDNF dapat

    membantu meningkatkan kemampuan kognitif, daya ingat, serta fokus.

    Meski memiliki banyak manfaat kesehatan, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus

    selama kurang lebih 12 jam. Ada hal penting yang perlu diperhatikan, terutama saat berbuka.

    Banyak orang berbuka dengan makanan yang tinggi gula dan kolesterol, seperti kudapan

    manis dan gorengan berminyak, hingga melupakan kebutuhan cairan tubuh dengan

    mengonsumsi air putih yang cukup.

    Hal ini tentu sangat disayangkan. Setelah tubuh melakukan proses perbaikan sel selama

    berpuasa, konsumsi makanan yang tidak sehat justru dapat merusak kembali kondisi

    kesehatan. Oleh karena itu, sebagai umat Muslim, kita harus bijak dalam memilih menu

    berbuka. Selain menjadikan puasa sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, kita

    juga perlu menjaga kesehatan diri. Jangan sampai banyaknya ragam takjil membuat kita lupa

    pada kebutuhan tubuh yang telah berpuasa sepanjang hari.

    Sumber : https://www.unpad.ac.id/2023/04/pakar-jelaskan-fakta-ilmiah-dari-puasa-ramadan/

    https://www.ataxia.org/scasourceposts/snapshot-what-is-brain-derived-neurotrophic-
    https://www.ataxia.org/scasourceposts/snapshot-what-is-brain-derived-neurotrophic-
  • FOMO: LARI PALING LELAH DI ERA DIGITAL

    FOMO: LARI PALING LELAH DI ERA DIGITAL

    Di tengah banyaknya gempuran trend di media sosial saat ini, banyak menyebabkan seseorang menjadi kehilangan arah, salah satu penyebabnya ialah fomo. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi kesehatan mental dan finansial.

    Fomo atau fear of missing out adalah kondisi dimana seseorang takut tertinggal dari apa yang telah dilakukan atau dicapai orang lain, terutama yang ditampilkan di media sosial. Perasaan ini membuat seseorang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain, sampai kehilangan arah dan standart hidup yang sehat.

    Hasil penelitian menyebutkan bahwa fomo berawal dari naluri sosial menusia dan rasa takut akan tertinggal. Biasanya lewat postingan orang lain dimedia sosial, seseorang yang mempunyai presepsi terhadap pengalaman orang lain lebih memuaskan daripada diri sendiri, meyebabkan munculnya tekanan sosial yang datang dari perasaan akan tertinggal suatu peristiwa atau pengalaman yang mengesankan.

    Fenomena fomo ini dapat berdampak pada kesehatan mental karena mendorong seseorang pada kecemasan dan ketidakpuasan diri. Menyebabkan seseorang bisa merasa hidupnya kurang berarti hanya karna tidak mengikuti trend.

    Rasulullah bersabda :

    اخرضِ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ با اللَّهِ وَلا تَعْجِز.

    Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah, serta janganlah merasa lemah/malas.(HR. Muslim)

    Dalam islam, fomo bertentangan dengan sikap fokus pada hal yang bermanfaat dan rasa syukur. Rasulullah mengajarkan agar seseorang lebih memperhatikan perbaikan diri dan tidak menjadikan standart orang lain sebagai tolak ukur kebahagiaan. Dengan terus membanding-bandingkan mengakibatkan seseorang kurang mensyukuri nikmat yang diberi oleh Allah.

    Solusi dari fenomena ini tak lain adalah dengan merubah mindset kita agar lebih fokus pada penerimaan diri dan mulai membangun kembali standart diri berdasarkan gaya hidup yang sesuai dengan kemampuan diri kita. Pada akhirnya dengan jujur pada diri sendiri dan berani tampil apa adanya, merupakan perwujudan kesehatan mental yang baik. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

    انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

    “Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam urusan dunia) dan janganlah engkau memandang orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih layak agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepadamu.” (HR. Muslim)

    Dengan berpegang pada dawuh Rasulullah tersebut, menjadikan kita individu yang berkualitas dan dapat terhindar dari kecemasan sosial yang tak berujung. Jagalah kesehatan mentalmu, sebelum fomomenghancurkan harimu.

    Referensi:

    Judithya A. S. (2019). Impact of Fear of Missing Out on Psychological Well-Being Among Emerging Adulthood Aged Social Media Users. Diambil dari https://jurnal.uny.ac.id/index.php/pri/article/view/30363

    Shinta P. (2023). Hubungan Antara Perasaan Takut Tertinggal (FoMO) dengan Adiksi Media Sosial pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta. Diambil dari  https://doi.org/10.21009/INSGIHT.122.10

  • Pentingnya ilmu Qiraat yang menjadi bagian dari Quran

    Pentingnya ilmu Qiraat yang menjadi bagian dari Quran

     ASY-SYADZILI 1 – ilmu Qiraat merupakan cabang ilmu dari Quran, yang mempelajari cara pengucapan (lahjah) atau pelafalan saat membaca Quran.

    Qiraat sendiri merujukk dari kitab syatibiyyah dan durroh terbagi menjadi menjadi 10 atau yang sering kita sebut Qiraat 10 (Qiraat Asyr), tetapi yang terkenal dalam beberapa kalangan masyarakat hanya Qiraat 7 atau di sebut Qiraat Sab’ah

    Telah hadir di PPSQ Asy-Syadzili 1, pada Senin 2 September, seorang alim ulama’ yang sekaligus profesor doktor dari Universitas Al-Azhar Mesir, juga merupakan guru dari Habib Ali bin Abdullah Alaydrus. Beliau Syaikh Prof. Dr. Jamal Faruq Al-Daqaq,

    Beliau menyempatkan hadir ditengah-tengah kita, untuk memberikan penjelasan tentang apa itu ilmu qiraat beserta kisah-kisah orang terdahulu dalam mempelajari ilmu qiraat.

    Dalam dauroh ilmiah yang disampaikan, beliau menyanjung Pondok pesantren Asy-Syadzili karena dapat mengajarkan

    ilmu Qiraat 10 berdasar kitab Syatibiyah dan durroh, karena sangat jarang pondok pesantren yang mempelajari ilmu Qiraat terutama Qiraat 10 (Qiraat asyr).

    Dalam kajian, beliau menjelaskan tentang apakah Al-Quran diturunkan dengan bacaan bacaan yang beragam?

    Rasulullah bersabda yang artinya “Sesungguhnya Al-Quran diturunkan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam 7 macam bacaan maka bacalah Al-Quran ini sesuai yang mudah bagi kalian dari bacaan-bacaan tersebut”

    jawabannya iya, karena dikuatkan oleh salah satu dalil yang sangat masyhur, menurut Imam Ash-Suyuthi dalam kitab Al-Azhar Al-Munakiroh bahwasannya hadist ini mutawatir dari rasulullah.

    Beliau juga bercerita tentang kisah awal mulanya pengumpulan ayat-ayat Al-Quran, terdapat 2 kali upaya pengumpulan Al-Quran yaitu pada zaman khalifah Abu bakar dan yang kedua pada zaman khalifah Utsman bin Affan.

    Pada era pimpinan Khalifah Abu bakar pengumpualn ini bertujuan untuk menghimpun bacaan atau tulisan Al-Quran yang belum disatukan menjadi satu tempat.

    Dahulunya para sahabat nabi lebih mudah untuk menghafa;kannya, berkat rahmat dari Allah Subhanahu wa ta’ala, karena kemudahan dari menghafal tersebut para sahabat-sahabat nabi menuliskan ayat-ayat Quran di pelepah qurma ataupun dahan pohon

    Sedangkan pada masa khalifah Ustman bin Affan, bukan lagi untuk menulis, tetapi untuk menghimpun Qiraat-qiraat yang saat itu mulai terjadi banyak perselisihan dikarenakan perbedaan qiraat, dan dari sekian banyaknya, akhirnya terciptalah mushaf Quran, karena para sahabat juga khawatir jika tidak dituliskan maka Quran akan menjadi kitab kitab terdahulu.

    diakhir nasehat beliau takjub dengan suatu peristiwa.

    “Saya pernah beberapa kali mejadi Juri MTQ Internasional dan saya mellihat peserta diantaranya ada yang bersal dari cina padahal ia tidak tahu 1 kalimatpun dari bahasa arab, tetapi bacaanya tidak salah sedikitpun baik makhroj ataupun tajwid, semuanya sempurna bagaikan malaikat.

    Begitu pula peserta dari Indonesia, dari negara eropa dan lain-lain yang notabene nya bukan negara arab pun, mampu menghafalkan Al-Quran dengan 10 Qiraat dan 20 riwayatnya, beserta dalil-dalilnya dari kitab Syatibiyah dan durroh,

    padahal menghafalkan Syatibiyah lebih susah daripada menghafalkan Al-Quran, sungguh Masyaallah

    Sekitar 40 tahun lalu saya sempat pesimis karena tidak ada lagi orang-orang yang peduli deng ilmu Qiraat tetapi , Masyaallah sekaranng banyak orang berlomba-lomba untuk mempelajarinya , dari hal itu menunjukkan bahwa Allah memang menjaga Al-Quran dengan sebenar-benarnya penjagaan hingga dari dahulu tidak ada perubahan 1 huruf pun dalam Al-Quran beserta Qiraat-Qiraatnya.

    Syaikh Jamal Faruq Jibril Mahmud Ad-Daqqaq.

  • ranjau bernama malas dan puas

    ranjau bernama malas dan puas

    ‘besok aja ah, masih jam segini, ngerjain bentar ntar juga kelar.’ Dan mantra mantra sakti lainnya. Sering terjadi, blunder yang menjadi kebiasaan kaum muda, terkhusus kalangan remaja, apalagi kalau bukan menunda suatu pekerjaan. Tak mengenal hujan badai angin ribut, rasa nyaman menunda nunda ini dapat menyerang kapan saja dimana saja, tak kenal muda maupun tua, menyerang begitu saja bagai desing peluru. Dan tak perlu didustakan lagi, hal satu ini memang selezat itu. Saat pikiran sudah tak keruan setelah kegiatan seharian, tulang belulang remuk tak tertahan, tapi tanggungan tak kunjung selesai, maka nikmat sudah hidangan ini.

    Mengapa hal ini dapat terjad? Menurut pengalaman penulis pribadi, hal ini sering bahkan nyaris setiap hari menghampiri. tentu saja yang mendasari semua ini adalah rasa, malas. Perlu diketahui dan disadari bahwa rasa malas ini adalah musuh terbesar umat manusia. kenapa demikian? Karena Dengan kemalasan seseorang  berhenti bekerja dan menjadi benalu bagi orang sekitarnya, dengan kemalasan seseorang tak akan dapat berkembang dalam segi apapun itu, dengan kemalasan seseorang dapat jatuh dalam berbagai penyesalan. Bahkan Jika diperhatikan lebih dalam lagi, kemalasan menjadi awal dari hancurnya suatu umat dan bangsa.  dan hal menunda nunda tadi merupakan langkah pertama seseorang menuju kemalasan yang berkelanjutan, menjadi ranjau yang mematikan bagi masa depan, keluarga, bahkan dirinya sendiri.

    Dalam perspektif lain, terdapat suatu hal yang bertolak belakang namun dampak yang diberikan tak beda jauh dari kasus kemalasan tadi. Apakah itu? Kita sebut saja dengan kepuasan. Kepuasan dalam konteks belajar, berkarya dll. Mengapa bertolak belakang dengan kasus malas tadi? sebab mereka yang merasa puas ini sejatinya bukan dari kaum pemalas. karena mereka bekerja, berkarya, dan melakukan hal-hal yang menghasilkan. Hanya saja, rasa puas atas suatu capaian yang menodai seluruh usaha tadi. Dan perasaan ini perlu dihindari, teman teman sekalian. Buang jauh jauh bila perlu.

    Mengapa perlu dihindari? Tak bolehkah kita merasa senang dan puas atas pencapaian kita selama ini? Tentu saja boleh, sangat boleh, apalagi saat itu semua memberi manfaat bagi diri kita masing masing. tapi dengan catatan, tidak menjadikan rasa puas kita sebagai suatu alasan agar kita berhenti belajar, berkarya dan menghasilkan hal-hal yang bermanfaat. Karena ketahuilah. Orang yang merasa cukup dan puas atas sesuatu yang dicapainya adalah orang yang sombong, dan orang sombong sangat sulit untuk berkembang, karena tujuan mereka adalah validasi dari orang lain, bukan substansi dan esensi dari belajar atau berkarya itu sendiri. Dan ketika semua itu terjadi, maka sebenarnya yang mereka lakukan adalah hanya berputar putar pada lingkaran yang sama, tak beranjak sama sekali.

    Maka dari itu, mari kita sadari dan benahi bersama sama detail-detail kecil seperti ini, sebuah ranjau kecil yang tak pernah kita sadari keberadaannya, dan hanya soal waktu dimana kita akan menginjak ranjau ranjau ini hingga akhirnya menghancurkan apa yang kita punya sekaligus. Terlepas dari itu semua, disini sebenarnya penulis hanya ingin berbagi perasaan yang selama ini menjadi penghambat rutinitas dan mengajak para pembaca sekalian untuk beranjak kedalam lingkungan yang produktif, kreatif dan inovatif. Tentunya dengan terus haus akan belajar, berkarya, dan hal bermanfaat lainnya, sebab dengan belajarlah seseorang dapat mengetahui luasnya semesta, dengan berkaryalah seseorang akan abadi dan berharga. Kosongkan selalu gelasmu, kawan. sekian.

    jazakumullah khairan

  • merasa tahu adalah ketidaktahuan

    merasa tahu adalah ketidaktahuan

    Seperti yang kita ketahui, ilmu pengetahuan adalah kunci peradaban umat manusia. Ilmu Pengetahuan juga menjadi jalan bagi manusia untuk mencari kebenaran dan seluruh jawaban atas kompleks nya dunia. Dalam Islam sendiri, ilmu pengetahuan sudah sangat berkembang di berbagai aspek, dan tuntutan umat islam untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan di anjurkan oleh Rasulullah SAW. dalam salah satu hadits beliau :

    كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ

    Artinya: “Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima, maka kamu akan celaka” (HR.  Al-Baihaqi dari Abu Darda Radhiyallahu ‘Anhu)


    Dari hadits ini, beliau menegaskan bahwa ilmu pengetahuan merupakan titik nilai keistimewaan manusia yang dianugerahi akal dapat benar benar bernilai sebagai manusia. Sedangkan yang dimaksud Rasulullah dengan orang kelima adalah mereka yang bukan salah satu dari empat golongan hadits di atas, sampai beliau menegaskan fatahlik ‘maka celakalah kamu.’

    Disini kita tidak akan membicarakan tentang perkembangan ilmu pengetahuan atau sebagainya, tapi disini kita akan membicarakan sedikit dari banyaknya sikap yang menghambat seseorang dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan mengapa hal tersebut dapat terjadi.

    Seperti yang dikatakan judul diatas, ‘merasa tahu adalah ketidaktahuan’. Mendengar pernyataan tersebut, mungkin beberapa dari kita bertanya apa maksud dari kalimat tersebut. Arti kalimat nya memang se harfiah itu. Karena memang, saat kita merasa tahu justru itu adalah ketidaktahuan. Mengapa demikian? Karena sifat ini berbuah dari merasa, merasa bahwa diri kita paling pintar, merasa diri kita paling tahu, merasa diri kita paling superior, tanpa membedakan apa yang sebenarnya kita ketahui dan apa yang kita pikir kita ketahui,

    Hal ini dapat terjadi karena kurangnya kemampuan kita dalam mengontrol aspek kognitif yang kita miliki. Singkatnya, kita tidak dapat membedakan antara kemampuan dan ketidakmampuan itu sendiri, atau mungkin refleksi atas kemampuan yang dimiliki.

    Saat kita tidak pandai dalam mengontrol aspek ini, maka yang terjadi adalah kita hanya akan berlarut larut dalam keangkuhan, kepercayaan diri yang tinggi menyebaban kita tidak mau menerima kritik dan saran, hingga akhirnya hanya terbiasa dengan masturbasi intelektual, yang tentu sangat merugikan dan menghambat perkembangan pengetahuan. Sebab relasi ilmu pengetahuan tak sebatas akal dan pikiran, jauh didalam hati, ilmu pengetahuan juga harus hadir mengisi.

    Maka seharusnya sikap kita sebagai seorang terpelajar adalah menyadari, bahwa semakin banyak sesuatu yang kita pelajari maka lebih banyak yang belum kita ketahui. semakin banyak yang kita ketahui, tak sepantasnya kita mendongak kepada siapapun, kerendahan hati akan menuntun kita pada jawaban jawaban atas seluruh persoalan di muka bumi ini. karena sejatinya ilmu pengetahuan adalah serangkaian pertanyaan yang membawa kita pada kebijaksanaan.

    Jazakumullah khairan jaza.

  • memetik hikmah dari kisah “robohnya surau kami”

    memetik hikmah dari kisah “robohnya surau kami”

    “…..kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja. Tidak…..”

    Kutipan cerpen di atas ditulis oleh A.A. Navis sastrawan besar yang telah melahirkan karya-karya monumental dalam sejarah sastra indonesia. Pemikirannya yang kritis dapat dijadikan sebuah otokritik bagi setiap pemeluk agama di indonesia dan mana pun juga. Silakan bercermin pada cerpen-cerpen yang ada dalam kumpulan ini. Lalu putuskan, apakah kita akan menarik hikmah dan manfaat atau bersikap buruk rupa, cermin dibelah.” [1]

    Ali Akbar Navis, lahir di kampung jawa, padang Panjang, Sumatera barat pada 17 November 1924 dan meninggal pada 22 Maret 2003 di padang setelah menjalani perawatan di rumah sakit jantung harapan Jakarta.

    Cerpen “Robohnya surau kami” pertama kali terbit dalam majalah kisah pada tahun 1955 dan menerima penghargaan SEA write award pada tahun 1992, saat pertama kali terbit, “Robohnya surau kami” mengejutkan kalangan pembaca maupun para kritikus sastra, pasalnya, cerpen tersebut menuai kritik terhadap kekolotan kehidupan Masyarakat beragama pada saat itu, yang bahkan masih sangat relevan sampai hari ini. Setahun setelah terbit di majalah kisah, “robohnya surau kami” dijadikan judul dari Kumpulan cerpen A.A. Navis yang berisi 10 cerpen : Robohnya Surau Kami, Anak Kebanggaan, Nasihat-nasihat, Topi Helm, Datangnya dan Perginya, Pada Pembotakan Terakhir, Angin dari Gunung, Menanti Kelahiran, Penolong, dan Dari Masa ke Masa.

    “Robohnya surau kami” mengisahkan seorang kakek penjaga surau yang sepanjang hidupnya dihabiskan untuk beribadat kepada Allah, setiap detiknya hanya berdzikir dan menyembah atas kehadiratnya, enggan memiliki istri maupun anak. Baginya, hidup hanya untuk tuhan semata, persetan dengan dunia. Hingga satu waktu, si “Aku” sebagai pemeran utama bertemu sang kakek yang sedang terduduk sambil meringkuk di sudut pojok surau. Si Aku yang semula ingin memberi upah kepada kakek menjadi urung setelah melihat kondisi nya yang berantakan Dan  duduk perkara semua itu ternyata adalah ulah ajo sidi, seorang pembual yang cerita cerita nya sangat digandrungi orang-orang desa. Meskipun semua bualan nya terkesan aneh, namun ajo sidi selalu mengaitkan bualannya dengan kehidupan seseorang, dengan begitu pendengarnya seperti mendapat contoh nyata dari bualan-bualan tersebut.

    Kiranya, itulah yang kakek rasakan. Satu waktu ajo sidi bercerita tentang haji saleh, seorang yang taat Ketika di dunia kini berdiri di akhirat menunggu pengadilan oleh tuhan. Karena percaya diri dengan seluruh amalan nya, haji saleh santai saja saat mengantri untuk diadili. Hingga sampai gilirannya, tuhan menanyakan apa saja yang diperbuatnya saat di dunia, dengan ringan haji saleh menjawab “aku menyembah engkau selalu, tuhanku” sampai tuhan mengulangi beberapa kali pertanyaannya, jawaban haji saleh tak bergeser dari taat kepada tuhan. Hingga akhirnya tuhan mengutus malaikat untuk menggiring haji saleh ke dalam neraka. Sebagaimana dengan penghuni yang lain, di dalam neraka haji saleh bingung dan kecewa dengan Keputusan tuhannya, bagaimana mungkin seorang yang taat sepertinya di masukkan ke dalam neraka? Maka beberapa dari mereka berencana untuk membuat pergerakan atas kekecewaan mereka kepada sang tuhan, ya, mereka akan melakukan demonstrasi terhadap tuhan, dikomandoi langsung oleh haji saleh.

    Maka sampailah mereka dihadapan tuhan, disampaikanlah rasa gundah mereka, mengapa orang-orang taat seperti mereka bukan termasuk ahli surganya melainkan ditempatkan Bersama kafir dan pendosa. setelah beberapa pertanyaan dari tuhan dan jawaban dari mereka, maka tercengang lah mereka mendengar pernyataan tuhan setelahnya. Berikut beberapa kutipannya.

    “…Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!…”

    Mendengar bualan itu, agaknya sang kakek merasa tertampar, hingga Keesokan harinya setelah kakek bercerita tentang bualannya ajo sidi, kakek ditemukan meninggal dengan menggorok lehernya sendiri. Si aku setelah mendengar kabar itu berlari menuju rumah ajo sidi untuk dimintai pertanggung jawaban, yang menurutnya perkara ini adalah ulah dari bualannya ajo sidi. Sesampainya dirumah ajo sidi, yang dicari ternyata tak dijumpa, istri ajo sidi bilang kalau suaminya sudah berangkat kerja, dan hanya menitip pesan agar dibelikan kain kafan tujuh lapis untuk sang kakek.

    A.A. Navis sukses memberikan perspektif yang sungguh luar biasa Di akhir ceritanya, bayangan ajo sidi yang semula Nampak seperti antagonis dapat dipatahkan di kalimat akhir cerpennya, membuat pembaca harus mencerna kembali kalimat tersebut.

    A.A. Navis juga begitu culas menggambarkan kekolotan berpikir umat beragama pada zaman itu, yang mungkin masih begitu relevan sampai detik ini. Menurut Navis, beragama tak selamanya tentang rukuk dan sujud, tak selamanya menjadikan masjid sebagai simbol bahwa kita taat dalam beribadah. Peduli pada sekitar pun adalah ibadah, tidak membiarkan orang dzolim mengambil hak kita pun termasuk ibadah, bekerja demi menghidupi anak cucu pun juga ibadah, tak ada yang boleh menghalangi kepenuhan duniawi kita untuk mendekatkan diri kepada Allah.

    Disisi lain, sifat egoistis manusia juga disebut Navis dalam dialog antara haji saleh dan malaikat.

    “…Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan dikerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu.

    ‘Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ tanya Haji Saleh.

    ‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun…”

    Dalam dialog tersebut, nampaklah borok yang dipelihara haji saleh selama di dunia, bahwa dia mementingkan sendiri kepenuhan akhiratnya, tanpa pernah peduli pada kehidupan sekitar yang membuat semuanya jauh akan ridho Allah. Dari sini kita dapat berkaca, mungkin hari ini kita adalah haji saleh yang menjelma keacuhan, tak perlu menoleh ke kanan kiri, cukup kita melihat kepada diri sendiri, barangkali, haji saleh adalah Gambaran kita kelak dihadapan Allah, yang Dimana tujuan kita melakukan ibadah bukan karena mengharap ridhonya, melainkan indah surga semata.

    Cerita ini sangat menarik, kalian dapat membeli bukunya di toko buku terdekat, atau mendapatkan digital book nya di platform yang tersedia. Selamat membaca dan temui hikmahnya.


    [1] Sinopsis kumpulan cerpen “Robohnya surau kami” karya A.A. Navis (1956)

  • elang saja tahu siapa tuannya

    elang saja tahu siapa tuannya

    Ada suatu tradisi dan mata pencaharian yang unik di belahan dunia bagian Asia Tengah seperti Mongolia dan Kazakhstan. Kebanyakan dari mereka bekerja sebagai pemburu dengan menggunakan burung elang, burung yang sudah mereka latih sejak masih sebesar anak ayam.

    Satu hal yang menarik adalah, para pemilik elang tidak mengajarkan burung elang cara berburu terlebih dahulu. Karena sejatinya elang sudah lahir dengan insting berburunya, tetapi yang dilatih para pemilik elang adalah bagaimana elang itu mampu kembali kepada majikannya dengan membawa hasil buruannya. bukan berburu yang diajarkan tetapi cara kembali dengan membawa hasil, itulah yang diajarkan kepada elang.

    Ilustrasi ini persis sebagaimana Allah dengan manusia. manusia sudah lahir dengan kemampuan berfikir yang akhirnya tau mana yang baik dan mana yang buruk. Sehingga, puncak akhir dari kehidupan kita bukanlah harta dan tahta atau bahkan catatan kebaikan kita selama ini, tetapi mampukah kita kembali kepada Allah dengan membawa ‘hasil akhir’ yang Allah inginkan, yakni meninggalkan dunia dalam keadaan Iman dan Taqwa yang utuh.

    Allah berfirman:

    اَﻓَﺣَﺳِﺑْﺗُمْ اَ ﱠﻧﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْٰﻧﻛُمْ ﻋَﺑَﺛًﺎ ﱠواَ ﱠﻧﻛُمْ اِﻟَﯾْﻧَﺎ ﻻَ ﺗُرْﺟَﻌُوْنَ

     Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS. Al-Mu’minun: 115)

    Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan

    “yakni apakah kalian menduga bahwa kalian diciptakan dengan main-main, tanpa tujuan, tanpa berkehendak, dan tanpa hikmah dari Kami? Menurut pendapat lain agar kalian hidup main-main dan berbuat sia-sia seperti Aku menciptakan binatang ternak, tiada pahala dan tiada siksaan. Sesungguhnya Kami ciptakan kalian tiada lain hanyalah untuk beribadah dan mengerjakan perintah-perintah Allah Swt.”

    Ayat ini secara terang-terangan memberi peringatan kepada kita bahwa hidup di dunia ini bukanlah lelucon, ada misi yang harus dituntaskan di dalamnya, misi berupa kehidupan untuk beribadah, menghambakan diri kepada Allah dan menjalani segala yang diperintahkan oleh-Nya.

    Allah berfirman :

    وَﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْتُ اﻟْﺟِ ﱠن وَاﻻِْﻧْسَ اِ ﱠﻻ ﻟِﯾَﻌْﺑُدُوْنِ ٥٦۝

     Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat : 56)

    Inilah misi utama dalam hidup kita sebagai manusia, yakni beribadah kepada Allah SWT. Seperti yang kita tahu dalam ilustrasi burung elang di awal tadi, dimana puncak dalam melatih burung elang adalah kemampuan untuk kembali kepada tuannya. Tentu saja, yang tuannya inginkan bukanlah burung yang kembali dalam keadaan tangan kosong, tapi juga membawakan hasil dari buruan si elang.

    Sama halnya dengan manusia, bukan ibadah dan catatan amalnya yang menjadi penentuan akhir, tapi “apakah kita mampu mempertahankan Iman yang lahir dalam Ibadah itu, sampai mati?”

    Karena itu, mari kita jalani misi ini sebaik mungkin, bersungguh-sungguh dalam beribadah dan mencari secercah ridho tuhan di setiap bilik kehidupan ini. Ibadah bukan hanya soal takbiratul ihram atau bersujud lama, tapi melakukan segala kebaikan atas dasar niat karena Allah, itulah Ibadah.

    Kalau burung elang saja tahu siapa tuan mereka, apakah kita tidak cukup pintar untuk tahu siapa tuhan kita?

  • Pesan Nuzulul Quran : Membaca adalah awalnya

    Pesan Nuzulul Quran : Membaca adalah awalnya

    Mungkin kita terlewat atau bahkan kita tidak sadar bahwasanya perintah yang pertama kali turun dalam Al-Quran ialah perintah membaca, tetapi apa yang kita pahami dari perintah membaca tersebut?

    اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقۚ

    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!

    Tafsir Ibnu Katsir:

    Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah yang menceritakan bahwa permulaan wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah Saw. berupa mimpi yang benar dalam tidurnya. Dan beliau tidak sekali-kali melihat suatu mimpi, melainkan datangnya mimpi itu bagaikan sinar pagi hari.

    Kemudian dijadikan baginya suka menyendiri, dan beliau sering datang ke Gua Hira, lalu melakukan ibadah di dalamnya selama beberapa malam yang berbilang dan untuk itu beliau membawa perbekalan secukupnya. Kemudian beliau pulang ke rumah Khadijah (istrinya) dan mengambil bekal lagi untuk melakukan hal yang sama.

    Pada suatu hari ia dikejutkan dengan datangnya wahyu saat berada di Gua Hira. Malaikat pembawa wahyu masuk ke dalam gua menemuinya, lalu berkata, “Bacalah!” Rasulullah Saw. melanjutkan kisahnya, bahwa ia menjawabnya, “Aku bukanlah orang yang pandai membaca.” Maka malaikat itu memegangku dan mendekapku sehingga aku benar-benar kepayahan olehnya, setelah itu ia melepaskan diriku dan berkata lagi, “Bacalah!” Nabi Saw. menjawab, “Aku bukanlah orang yang pandai membaca.” Malaikat itu kembali mendekapku untuk kedua kalinya hingga benar-benar aku kepayahan, lalu melepaskan aku dan berkata, “Bacalah!” Aku menjawab, “Aku bukanlah orang yang pandai membaca.” Malaikat itu kembali mendekapku untuk ketiga kalinya hingga aku benar-benar kepayahan, lalu dia melepaskan aku dan berkata:

    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan.

    Atas penjelasan tersebut, membaca memiliki keistimewaan tersendiri, bahkan menjadi perintah pertama sebagai wahyu dan ayat Al-Quran, sebab semua hal tidak lepas dari yang nama belajar dan salah satu pintu utama belajar ialah dengan membaca.

    Bahkan, Rasulullah Sallahu Alaihi wa Sallam pun berawal dari “belajar untuk membaca” dibimbing oleh Malaikat Jibril yang menyiratkan bahwa pentingnya membaca sebagai sarana untuk menimba ilmu,   

    Jika kita menyadari, berdasarkan data dari UNESCO, presentase membaca masyarakat Indonesia sangatlah rendah, yakni 0,001 % yang berarti dari 1000 orang hanya 1 orang yang memiliki minat baca lebih.

    Sungguh sangat disayangkan, karena salah satu pintu utama mencari ilmu ialah dengan membaca tetapi malah banyak dari masyarakat Indonesia yang tidak memilih untuk menempuh jalur tersebut.  

    Bahkan salah satu prestasi warga Indonesia ialah memiliki perputakaan nasional terbesar se-Asia Tenggara, yang seharusnya bisa menjadi sarana prasarana bahkan penyemangat masyarakat untuk terus mengembangkan minat literasi.

    Melihat sejarah, bahwasanya kaum muslimin memiliki masa keemas an atau yang sering disebut dengan Golden Age, pada masa dinasti Abbasiyah, yang saat itu dipim[in oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid.

    Beliau juga merupakan gambaran Pemerintahan yang sukses menggerakkan masyarakatnya agar membudidayakan literasi, hingga terciptalah Baitul hikmah yakni perpustakaan terbesar sepanjang masa, yang menjadi masa jayanya umat islam dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, bahkan banyak para ilmuan yang hidup pada zaman tersebut.

    Jika menelaah serta benar-benar belajar dari sejarah apakah pemerintah mampu menerapkan budidaya literasi pada masyarakatnya, dan sebaliknya apakah masyarakat juga memiliki ketertarikan juga semangat dalam menumbuhkan minat literasi ?

    Melihat banyak umat pada zaman sekarang memilih hanya berfokus pada ibadah tanpa mengembangkan ilmu pengetahuan yang berorientasi pada dunia, tanpa ia sadar dan ia tahu ilmu pengetahuan merupakan salah satu kendaraan akhirat.

  • dermawan dan ber-uang

    dermawan dan ber-uang

    Terkadang, orang pelit tak pernah menginginkan untuk menjadi pelit. Begitu pun dengan yang dermawan. setiap manusia memiliki motif yang membentuk mengapa mereka tidak ingin berbagi, dan mengapa mereka harus berbagi. Dalam islam, menjadi dermawan bukan hanya keistimewaan tapi juga cobaan, cobaan kapan kita akan jadi yang dermawan.

    perlu disayangkan, banyak orang yang menunda untuk menjadi dermawan hanya karena menunggu punya,padahal dikatakan oleh para ulama’ “Orang apabila semakin dermawan semakin banyak Allah memberi rezeki kepada dirinya” sebagaimana Allah swt berfirman dalam surah as saba ayat 39

    قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُ لَهٗۗ وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗۚ وَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ ۝٣

    Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.Suatu apa pun yang kamu infakkan pasti Dia akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.”

    Dari ayat tersebut kita dapat tahu, bahwa  dengan bersedekah dan suka berbagi terhadap sesama tidak akan membuat kita rugi, melainkan akan allah lipat gandakan dengan rizki yang melimpah.

    Selain bersikap dermawan, sebagai seorang muslim yang bijak kita juga perlu pandai menghemat dan menggunakan uang sesuai skala prioritasnya. Tujuannya tidak lain ialah, agar diri kita terhindar dari sifat berlebih-lebihan atau dalam bahasa arab biasa disebut dengan israf yang memiliki arti perilaku berlebihan atau melebihi batas yang dapat merugikan diri sendiri.

    Namun tanpa kita sadari, terkadang diri kita masih saja terhanyut dalam sifat israf ini, dan yang paling rawan ialah ketika diri kita memegang uang yang cukup banyak tetapi kita tidak dapat mengontrolnya. Karena pada saat itulah diri kita mulai timbul angan-angan untuk memenuhi hasrat yang hanya bersifat duniawi semata.

    Oleh karena itu salah satu cara ampuh untuk mencegah sifat israf  ini ialah dengan pandai menabung. Mengapa penulis mengatakan cara ini cukup ampuh?  karena dengan menabung, itu berarti kita menyisihkan beberapa uang kita untuk kepentingan yang akan mendatang, dan meminimalisir timbulnya angan-angan untuk memenuhi hasrat yang hanya bersifat duniawi semata.

    Kegiatan menabung baik dilakukan oleh siapapun, akan tetapi alangkah baiknya dilakukan sejak usia dini, karena dengan kita menabung di usia dini, otomatis diri kita akan terbiasa untuk belajar konsisten dalam kegiatan belajar menabung tesebut. Akan tetapi tidak ada salahnya bagi siapapun untuk memulai menabung bahkan di umur tua sekalipun.

    Kegiatan menabung sendiri sangat dianjurkan untuk para pelajar yang sedang mencari ilmu seperti  santri yang sedang tholabul ilmi di pesantren, karena selain dapat menghemat uang, belajar menabung juga dapat mebuat diri kita semakin pandai dalam membuat perhitungan untuk kepentingan yang akan mendatang. Jadi kesimpulannya dengan kita belajar menabung maka diri kita juga akan terbiasa belajar menjadi lebih disiplin dalam segala hal.