“TEK TEK TEK.” Suara langkah kaki seseorang memecah keheningan di dalam masjid. Suara langkah kaki itu merupakan langkah kaki pemuda yang tengah memegang sapu di tangannya, Dia datang lebh awal dibanding para jemaah sholat yang lain. Dengan sabar dia pun mulai menyapu seisi ruangan masjid tersebut hingga benar benar bersih, dan tak lupa, ia selalu melakukannya dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
Amin. Itu adalah nama dari seorang pemuda yang mengabdikan dirinya ke masjid raya di dekat kampung halamannya. Dia seorang pemuda yang baru beranjak ke umur 18 tahun dan baru lulus dari sekolah Sekolah menengah kedua. Semasa sekolah Amin merupakan seorang siswa yang teladan dan menjadi contoh baik bagi siswa lainnya. Akan tetapi sangat disayangkan sekali, karna masalah ekonomi keluarganya yang buruk, dia tidak dapat melanjutkan karir pendidikannya ke perguruan tinggi.
Amin adalah anak sulung dari 3 bersaudara, ayahnya telah lama meninggal, dan saat ini ibunya sakit sakitan. Oleh karena itu, karena dia adalah anak laki laki pertama di keluarganya, iapun harus membanting tulang. Mau tidak mau diapun menjadi pekerja kasar yang bekerja serabutan di pasar tradisional.
Akan tetapi, hebatnya lagi. Di tengah kondisinya yang seperti itu ia tetap memegang teguh hadist Rasulullah yang berbunyi “ Sebaik baiknya manusia ialah yang dapat bermanfaat bagi manusia yang lain”.
Maka dari itu di sela sela waktu bekerjanya, amin senantiasa ikut serta berkontribusi menghidupi masjid di kampungnya tersebut. Ia istiqamah menyapu masjid disaat sebelum shubuh, kemudian berangkat bekerja di pasar seusai sholat jemaah shubuh. Selain menyapu, kontribusinya untuk masjid ialah memperbaiki barang-barang yang rusak seperti kipas ataupun kran yang mampet. Dan tidak hanya itu, ia juga menjadi pengurus penitipan barang di masjid tersebut.
Awalnya semua itu berjalan baik-baik saja, hingga pada suatu hari..
***
Sesaat setelah adzan Dzuhur berkumandang. Amin senantiasa siap siaga melayani siapa saja yang ingin menitipkan barangnya di pos penitipan masjid. Karena lokasi masjid tersebut sangatlah strategis dan tepat di dekat kantor dan Universitas. Alhasil setiap jemaah dzuhur, Masjid itu selalu dipenuhi oleh para jemaah mulai dari kalangan pekerja kantoran, mahasiswa, maupun warga sekitar. Ditemani dengan seorang sahabatnya yang bernama Banu, mereka berdua melayani semua orang dengan penuh semangat.
“ Banu! sebelah sini biar kuatasi, kamu layani saja rombongan pekerja kantoran yang baru datang itu” Ucap Amin. Tangannya sibuk menerima barang dari mahasiswa yang berdatangan untuk sholat.
“Okee, baiklah.” Balas banu, semangat.
Mereka berdua pun menanyakan nama dari setiap pemilik barang yang ingin dititipkan.
“ Baik saya terima Tas nya, atas nama siapa pak?” Amin bertanya dengan penuh sopan santun.
“ Tulis saja badrun mas”.
“Siap..” dengan sigap diapun menulis nama tersebut ke atas kertas stiker lalu menempelkannya ke tas ransel dihadapannya. Kemudian tas itu ia masukkan ke dalam Etalase kaca yang menjadi tempat pengumpulan barang.
“ Amin! Kertas stiker di sebelah sini habis, tolong ambilkan yang baru” mendengar permohonan temannya itu, Amin langsung sigap mengambil bungkusan kertas yang baru
“ Ini tangkap!” Ia melempar bungkus kertas stiker itu dengan meniru gaya atlit basket yang ia idolakan.
“Good pass bro” dengan sigap ia terima lemparan stiker itu layaknya pemain basket yang menerima pasing dari temannya.
Setelah beberapa menit melayani rombongan yang berdatangan. Suara iqamah terdengar lantang. Tanda sholat jemaa’ah akan segera dimulai . Ketika itu juga pos penitipan barang tutup sejenak dan kembali dibuka pasca jema’ah usai. Amin langsung mengunci etalase yang ada di dekatnya dan bergegas menuju ke barisan shaf guna ikut shalat berjamaah.
Selang beberapa waktu. Seusai Solat jema’ah Amin menjadi orang pertama yang meninggalkan shaf lebih dahulu karena dialah orang yang memegang kunci etalasetempat barang dititipkan. Disaat itu pula Amin kembali melayani orang orang yang menitipkan barangnya. Akan tetapi dia merasa kayak ada yang aneh, karena Banu rekan sesama takmirnya tidak kunjung kembali.
“Aneh sekali, tumben banget tuh anak gak langsung kembali. Yasudahlah, mungkin dia lagi dapet hidayah sudah mau ikut wiridan sekalian sholat sunnahnya juga, xixixi.” Gumam Amin di dalam hatinya sambil-tersenyum-senyum sendiri.
Namun, anehnya bahkan setelah imam selesai membaca wirid Banu tetap tidak kunjung kembali. Amin yang penasaran kadang sesekali mengintip ke dalam ruangan masjid memastikan apakah temannya masih ada di dalam masjid atau tidak. Akan tetapi, hingga barang titipan tersisa satu, Banu tetap tidak kunjung kembali.
Kemudian. Setelah cukup lelah melaksanakan tugasnya, kini Amin menyandarkan tubuhnya ke tembok pinggir etalase ditempatkan. Tangannya sibuk menggerakan songkok yang kini ia gunakan sebagai kipas. Dia terdiam, sempat sesekali melamun. Dan tanpa sengaja kini pandangannya tertuju ke satu tas yang tak kunjung diambil oleh pemiliknya.
“ NONAME. Hah? Nama siapa itu? Perasaan mulai tadi gak ada yang menitipkan tas pakai nama ini.” Alis di matanya menyempit. Memerhatikan tas itu dengan serius. Kalah dengan rasa penasaran yang menghantui dirinya. Ia beranjak dari tempat duduknya dan meraih tas yang tertinggal dari etalase.
“Buset! Aku lagi gak salah lihat kan, ini pasti tas yang sangat mahal. Dilihat dari pori-pori yang gak teratur ini. Ini pasti tas dari kulit buaya asli. Karna gak akan ada replika yang bisa membuat detail kulit se-asli ini”. Tangannya sibuk meremas, dan mengelus body dari tas itu.
Fokus menatap tas itu, tiba-tiba hp yang ada di saku Amin berdering, ada telfon yang masuk ke hpnya. ternyata yang menelpon adalah Banu. Segera Amin langsung mengangkat telfon itu dan mengomel. “Halo Ban, kemana aja kau! barusan aku kewalahan mengurusi semuanya sendirian. Seenaknya main ilang-ilang aja kamu.” Amin menggerutu dengan raut wajah kesal, seakan Banu ada dihadapannya saat ini.
“Hehe maaf boy, tadi pas baca dzikir tiba-tiba perutku terasa perih dan mual. Bergegas aku langsung keluar lewat pintu pinggir dan pulang ke rumah. Di rumah aku langsung rebahan di kasur, kayaknya kepalaku juga ikut ikutan pusing. Sekali lagi aku minta maaf yah, juga aku mau izin ke kamu kayaknya beberapa hari ke depan aku gak bisa bantu dulu, ngeliat kondisiku yang seperti ini aku butuh istirahat sejenak”.
“Owhh, kalau memang kondisimu kayak gitu. Yaudah, Lebih baik kamu istirahat aja dulu, nanti kalau sudah sembuh lanjut bantu-bantu di masjid lagi. Tapi ingat yah, harus sembuh total dulu baru bantu-bantu, aku gak mau kamu bantu-bantu disini kalau kondisimu masih kayak gitu.”
“iya makasih min, tumben banget mau pengertian sama kondisi temenmu.”
“ Haha, santai aja bro. Apa mau aku jenguk ke rumahmu?”
“Eh engak enggak, gak usah” Tolak banu spontan.
“kenapa? Jangan bilang kalau nanti jokes ku akan mengganggu istirahatmu”.
“hahaha, enggaak hanya saja jokes mu sudah seperti jokes bapak-bapak aja, garing dan gak ada isinya.”
“hahahahaha” kedua teman itu tertawa terbahak-bahak bersama.
“ Oh iya Ban, omong-omong tadi kamu ingat gak? Kalau ada orang yang menitipkan Barang pakai nama NONAME?
“Hmm, enggak. Barang apa sih?
“Ini lo handbag yang terbuat dari kulit”
“Enggak min, aku gak tau apa-apa. Memang sih, tadi kamu pergi duluan ke shaf sholat, tapi bukannya sudah kamu kunci dulu etalasenya sebelum masuk?”
“iya juga ya, kupikir setelah etalesanya ku kunci, kamu buka lagi etalase itu untuk nambah tas kulit ini, soalnya yang megang kunci dari etalase ini kan cuma kita berdua .Yasudah Ban kamu istirahat aja dulu, nanti kalau sudah sembuh kabari aku.”
“Oke bro”. Kemudian Amin menutup telfon. Lantas, kembali menatap tas itu.
“Sungguh tas yang aneh. Entahlah, mungkin nanti juga diambil sama yang punya” Ucapnya. mengangkat kedua bahu bersamaan.
Di malam harinya. Sang pemilik tas masih tak kunjung datang. Amin yang telah agak lama menunggu memutuskan untuk melanjutkannya di esok hari. Tepat di jam 8 malam pos penitipan barang akan ditutup, dan kembali buka sesaat sebelum sholat dzuhur. Tanpa Amin sadari, dari kejauhan ada seseorang yang fokus memerhatikan tas yang bernama NONAME itu. Orang tersebut mengenakan jaz dan dasi yang terikat rapi di lehernya, sembari memperbaiki posisi kacamata di wajahnya orang itupun pergi meninggal kan masjid Raya. “Sungguh barang yang menarik” ucap orang misterius tersebut lalu pergi menghilang.
***
Keesokan harinya, Amin menjaga pos penitipan seorang diri. Walaupun sedikit kewalahan, mau gak mau dia tetap harus melaksanakan tugasnya. Hingga setelah sholat dzuhur, Akhirnya dia dapat duduk dan terlentang untuk istirahat sejenak. Di ruangan sempit tempat penitipan barang itu, ia melepas segala kelelahan yang telah dia pikul mulai sebelum shubuh.
Gimana gak lelah? Bayangkan saja, Amin memulai harinya di jam 3 malam. Dilanjut memasak sarapan untuk ibuk dan adik-adiknya di pagi hari, karena akhir-akhir ini ibunya sakit parah jadi Amin lah yang memasak di rumah itu. Kemudian pergi ke masjid tepat sebelum shubuh dan langsung menyapu seisi ruangan yang ada di masjid lalu dilanjut ketika selesai sholat shubuh ia langsung pergi ke pasar. Bekerja `menjadi tukang pikul membantu pedagang memanggul barang dagangan. Amin akan memikulnya dari kendaraan untuk diletakkan ke kios-kios para pedagang. Tak hanya membantu pedagang, Amin juga membantu pembeli yang membeli dalam jumlah banyak dan digaji dengan upah harian yang hanya cukup untuk makan saja.
Setelah bekerja di pasar, jam 10 dia pulang. Mandi dan mengganti pakainnya dengan pakaian yang sopan untuk pergi ke masjid, lalu langsung berangkat ke masjid dan menjadi staf penitipan barang di masjid tanpa di bayar sepeserpun. Karena memang niatnya adalah mengabdi di rumah Allah. Yah… begitulah keseharian yang biasa dilakukan oleh seorang Amin.
Kembali ke waktu siang. Disaat enak-enaknya istirahat, terdengar langkah kaki seseorang menghampiri Amin. Amin pun menoleh ke suara langkah kaki tersebut.Terlihat seseorang menggunakan jaz rapi dan berkacamata mengulurkan tangannya. Mengajak bersalaman. “Halo tuan, perkenalkan nama saya Alexander smart, panggil saja Alex”
Seketika Amin berdiri dan turut menjabat tangan orang itu,” Owh iya mas. Nama saya Amin” Jawab nya singkat. sembari memperbaiki posisi songkok di kepalanya.
“ Jadi begini tuan, saya adalah salah satu anggota dari organisasi Hiperbratik ( Himpunan pengusaha Branded Otentik) Maksud tujuan saya disini ingin membeli tas kulit tuan yang ada di dalam etalase itu. Apakah tuan berkenan menjualnya ke saya.”
“ Mohon maaf mas, semua barang yang ada di dalam etalase ini bukan milik saya. Saya hanyalah orang yang diberi amanah untuk menjaga barang-barang titipan ini. Sebentar lagi juga para pemilik barang ini pasti akan mengambil tasnya” Ucapnya. Tenang dan tegas.
“Sudahlah tuan, tuan tidak perlu khawatir, saya sudah tau kok kalau sebenarnya tas itu sudah ada mulai kemarin. Mungkin saja pemilik tas itu sudah bosan dan tak peduli lagi dengan tasnya. jadi? bagaimana? Saya membawa uang cash yang cukup banyak lo. Nanti apabila orang yang memiliki tas ini kembali tinggal tuan berikan saja uang pemberian saya ini” Orang berdasi itu tetap bersikeras mendapatkan tas langka di etalase.
“Maaf mas. Mau berapapun uang yang anda bayar, saya tetap tidak bisa menjual tas itu tanpa seizin pemiliknya” Amin memasang wajah yang serius.
Kemudian, sang kolektor tas tetap tak mau kalah. Ia terpaksa mengeluarkan jurus andalannya. Ia memberi isyarat tangan ke Amin untuk mendekatkan kepalanya. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia bisikkan.
“ Koper yang ada di tangan saya ini berisikan uang cash seratus lima puluh juta rupiah, ini semua dapat tuan ambil sekarang juga. Apabila sang pemilik tas menanyakan tasnya tuan tinggal bilang habis tercuri orang lalu ganti rugi dengan uang yang saya berikan. Saya yakin jumlah uang ini lebih dari cukup untuk mengganti rugi. Dan untuk masalah keamanan privasi kita berdua, aku dapat menyuruh orang ku untuk meretas semua kamera cctv yang berada di sekitar sini. Jadi? apakah tuan tertarik dengan tawaran saya? Ucapnya lirih, lantas membuka isi koper untuk membuktikan ucapannya.
Mendengar itu, tiba-tiba Jantung Amin berdegup kencang, keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya. Segala macam godaan syetan seketika tayang di pikirannya, ia membayangkan. Dengan uang sebanyak itu dia dapat memberikan ibunya obat dan perawatan yang lebih baik, lebih-lebih melunasi biaya sekolah adiknya. Dan juga sebagai modal untuk membuka usaha.
“Ayolaah, gak ada salahnya sesekali melakukan dosa. Namanya juga manusiaa! semua pasti akan pernah melakukan kesalahan di hidupnyaa. Wajarlahh manusia, bukan nabi boyy.” Goda syetan yang menghantui pikirannya.
Seketika itu juga. Saat Amin hendak menjabat tangan sang kolektor tas, sepersekian detik sebelum Amin hendak mengucapkan kata “iya”. Tiba-tiba, tayangan di dalam pikirannya berubah menjadi kenangan Amin saat bersama almarhum Ayahnya.
Tiba-tiba pikiran Amin seperti terseret ke masa lalu. Di pinggiran pantai selat madura tempat masa kecilnya bermain. Matahari semakin tenggelam dibawah garis horizon. Burung-burung berkicau. Angin laut meniup rambut dan wajahnya. Disanalah dia selalu mendapat nasihat dan falsafah hidup dari sang ayah.
“Nak, kamu tahu tidak. Kenapa ayah kok memberimu nama Amin. Jadi Ayah terinspirasi dari gelar Rasullullah yang bernama Al-Amin, yang berarti Orang yang dapat dipercaya. Maka dari itu Ayah mohon kepadamu agar dapat menjadi orang yang amanah. amanah itu berat, maka jagalah! Berhati-hatilah menjaga amanah karena ada hak orang yang sedang kita jaga, ada tanggung jawab besar yang akan kita pertanggung jawabkan di dunia. Lebih-lebih kelak di akhirat. Kalau memang seseorang memberikanmu suatu amanat janganlah dikhianati. Tunaikanlah amanat tersebut dengan baik. Maka kau akan menjadi orang yang menyandang gelar yang sama dengan Rasulullah” Setelah mengucapkannya Ayah amin tersenyum.
Satu detik sempat melamun. Seketika pikirannya kembali. Spontan Amin yang telah menjulurkan tangannya menepis tangan sang kolektor tas. “MAU KAU BAYAR AKU DENGAN DUNIA DAN SEISINYA SEJKALIPUN! TAS INI TAKKAN KUBERIKAN PADAMU!” Sentakan Amin memecah ketenangan di masjid. Kolektor tas terdiam. Suasanapun menjadi canggung. Semua orang menoleh ke Alex. Dirinya yang saat ini merasa menjadi pusat perhatian lebih memilih untuk pergi daripada harus menanggung malu.
“Yasudah, kalau begitu saya permisi” Alex memutar badannya dan pergi menjauh, kedua alisnya bersentuhan. Urat-urat di wajahnya bermunculan. mengekspresikan wajahnya yang sangat marah. Akan tetapi, tak lama kemudian wajah Alex tiba-tiba tersenyum. senyuman yang sangat mengerikan, bahkan lebih mengerikan dari wajahnya yang sedang marah. dia juga tak ingin kalah dan menyerah begitu saja.
***
Di malam harinya. Setelah jemaah sholat isya’ Amin menyempatkan dirinya untuk membaca Al Quran ditempatnya menjaga barang. Kemudian pada saat jarum jam menunjukkan jam 8 malam. Amin mengunci etalase tempat barang-barang dititipkan. Lagi-lagi, di hari itu hanya tersisa tas yang bernama NONAME yang tak kunjung diambil oleh pemiliknya. Setelah semua tugasnya tuntas. Ia pulang.
Sesampainya di rumah, ia merasakan kejanggalan. Karena kondisi rumah yang sangat sepi dan tidak seperti biasanya. Biasanya, ketika Amin pulang adik-adiknya datang menyambut, begitupun ibunya. tetapi kali ini tidak, justru Amin lah yang mencari mereka. Lalu Amin pergi ke kamar depan. Mencari ke tiga orang keluarganya. ternyata nihil, kamar itu kosong. kemudian kamar tengah, dan kamar itu pun juga sama. Disitu Amin mulai berpikiran buruk tentang keberadaan keluarganya, karena tidak lama ini Amin pernah membaca berita tentang satu keluarga yang diculik oleh orang jahat. Lantas cepat-cepat ia menggelengkan kepalanya. Membuang pikiran buruk sejauh mungkin.
Kemudian Amin langsung mempercepat langkahnya, pergi ke kamar terakhir yang dimana itu adalah kamar ibunya. Lalu terlihat pintu kamar tersebut tertutup. Sejak sholat isya’ tadi perasaan Amin memang sudah tidak enak. seperti ada sesuatu yang terjadi pada keluarganya. Dengan tangannya yang gemetar, pelan-pelan ia membuka pintu kamar itu. Berharap semuanya baik-baik saja.”‘KREEEK” Pintu tua berderit pelan. Dan ternyata…
Napas amin terputus seketika. ternyata Alhamdulillah ibu dan kedua adiknya ada di dalam kamar itu. Terlihat adik perempuannya yang bernama Hilya tengah mengkompres dahi ibunya dengan lipatan kain yang dibasahi. Sedangkan adik bungsunya, Rafi. Sedang memijat kaki ibunya yang tidur dengan posisi terlentang di kasur.
“He dek, Ibuk kenapa??” Tanya Amin cemas. lalu menghampiri ibunya dan memegang kedua pipinya, memeriksa. Kulit ibunya terasa panas sekali, pertanda bahwa tidak baik-baik saja.
“Tadi setelah sholat isya’ ibuk terpeleset di depan kamar mandi. Aku yang lagi ngerjain tugas makalah sontak kaget mendengar ibuk berteriak. Sesampainya di lokasi ibuk sudah pingsan” Ujar Hilya dengan wajah melas. Sembari menahan tangis, si adik bungsu mengangguk kan kepalanya.
“pantas saja dari tadi perasaanku gak enak”. Bisik Amin di dalam hatinya. Lalu Amin duduk di ranjang ibunya tidur.
“Buk, sekarang ibuk makan terus minum obat ya”, ucap Amin lembut. Mendengar ucapan Amin sang ibu hanya mengangguk. Iapun pergi sebentar untuk mengambil makanan dan obat. Dengan sabar Aminpun menyuapi ibunya, dan memberinya obat. Setelah itu Amin menyuruh adik-adiknya untuk kembali mengerjakan tugas sekolahnya.
Namun tak lama setelah itu, masalah baru pun datang. HP di sakunya berdering, kemudian ia mengangkat telpon dari temannya, Banu. “ Halo ban, ada apa malem-malem telfon?”
“Sebelumnya maaf min ganggu waktumu, tapi ini gawat banget!. Tadi ada orang yang lapor ke aku. Katanya, sekarang ada seseorang yang sedang berusaha membobol etalase penitipan barang!. Aku minta tolong, Saat ini kondisiku masih belum sem-“. Tanpa pikir panjang Amin langsung mematikan telfon dari Banu.
“Dek Hilyaa!”
“ iyaa, ada apa mas?” dengan cepat Hilya menghampiri panggilan kakaknya tersebut. “ Tolong jaga ibuk, emas ada urusan penting, kalau terjadi apa-apa hubungi kakak” Ujar Amin dengan wajah serius. Dengan cepat ia membalikkan badannya dan menggenggam tangannya erat-erat. Ia langsung menaiki motor supra peninggalan bapaknya dan pergi dengan memacu kecepatan tertinggi. Saat ini benar-benar ada orang yang berani menguji kesabaran seekor singa yang telah lama tak mengamuk.
Karena lokasi masjid yang hanya sekitar 100 meteran saja, Amin yang memacu supranya dengan kecepatan penuh akhirnya sampai di lokasi. Ternyata memang benar, tampak sesosok orang yang bertubuh kekar dan mengenakan topeng sedang berusaha membuka etalase penitipan barang di masjid. Amin yang tak kuasa menahan emosinya, langsung menarik kerah baju pencuri itu dari belakang dan memberinya pukulan telak di kepalanya “BHUK” kemudian disusul dengan tendangan lurus yang mengenai perut pencuri “TENG” tubuh sang pencuri terpental ke etalase.
Pencuri yang bertubuh kekar itu tidak diam begitu saja, ia langsung menerjang dan memiting leher Amin dengan lengannya yang tebal akan otot. Membuat amin kesulitan bernafas, akan tetapi Amin yang merupakan mantan petarung di sekolahnya, tidak akan mudah ditaklukkan begitu saja. Ia seperti gunung berapi yang sedang meletus, penuh dengan energi yang destruktif. Dengan sekuat tenaga ia membalik badan pencuri berada di posisi bawah. Kemudian menghujani wajah pencuri itu dengan pukulan-pukulan dahsyat yang dulu sering ia berikan ke siswa yang berani kurang ajar kepada gurunya. “PLAK” “PLAK” “BHUM” “PHAW”.
Tangannya berlumuran darah. kemudian setelah menang telak, Amin memberi kesempatan pencuri itu untuk kabur. “Dasar pencuri!, Hama masyarakat!, panggil teman-temanmu!, bawa orang yang lebih banyak lagi aku tidak takut!”. Bentak amin, matanya menyala seperti bara api. penuh dengan kemarahan. Tanpa disuruh pencuri itu langsung pergi lari terbirit-birit.
Selepas itu Amin menarik nafasnya panjang-panjang, berusaha membuat dirinya tenang terlebih dahulu. Lalu setelah suasana hati lebih tenang ia pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudlu sekaligus membersihkan wajah dan tangannya yang terkena darah.
“Ahh sial. Kenapa tadi tidak ku buka saja topeng orang itu, biar sekalian kulaporkan ke polisi. tapi yasudahlah, apa gunanya melaporkan pencuri ke pencuri. Yang terpenting sekarang masjid ini aman” ujarnya di dalam hati.
Se usai berwudlu, Amin baru menyadari sesuatu, ia meraba-raba kantong di bajunya. Hp nya tidak ada di kantong. Segera ia mengecek lokasi ia berkelahi tadi, ternyata benar sesuai dugaan. Hp nya jatuh saat sibuk menghajar pencuri tadi, lalu ia meraih hp nya yang tergeletak di lantai. baru beberapa menit di tinggal, ternyata di hp nya telah banyak panggilan tak terjawab dari sang adik. Segera dia mengecek pesan yang dikirim oleh Hilya. Kaget setengah mati Amin rasakan. saat membaca pesan yang berisi
“ Mass, kamuu dimana aja..”
“ Mas cepat pulang, kondisi ibuk semakin parahh”
“ Mass, ibuk semakin panas. juga tambah sulit bernafas”
“ Mas, aku sudah nelfon paman, beliau langsung datang dan bersedia mengantar ibuk ke RS . Saat ini kami otw rumah sakit HUSADA UTAMA kutunggu disana”. Senin 21.40
Baru saja keluar dari suasana yang menegangkan, kini Amin harus kembali memacu supranya untuk pergi ke rumah sakit tempat ibunya dibawa. Bermodalkan rasa cinta yang mendalam kepada sang ibu, seluruh rasa kesal dan ngantuk tidak terasa olehnya. Sekitar 10 menit perjalanan, iapun sampai dan langsung menuju ke kamar ibunya di rawat.
“Assalamualaikum” Amin mendobrak pintu kamar tempat ibunya dirawat. Segera, amin langsung mendekat ke tubuh ibunya yang sedang terlentang di atas kasur dan memegang lembut tangan ibunya. “Kondisi ibuk sekarang gimana dek?” tanya amin dengan nafas yang tersengal-sengal.
“Alhamdulillah mas, setelah sempat di rawat di ruang darurat ibuk masih bisa diselamatkan. Tapi masih harus rawat inap disini hingga sembuh nanti.” Ucap hilya sembari mengisap matanya yang basah.
Amin menoleh kebelakang, ternyata dari tadi ada pamannya yang duduk di sudut ruangan turut menemani, iapun langsung beranjak dan memeluk pamannya “ Man, makasih. Makasih banyak mann. Berkat sampean ibuk masih bisa diselamatkan. bahkan sampai harus meninggalkan toko dan keluarga sampean rela dateng ke rumah. Maafkan aku mann, aku gagal menjadi seorang anak” haru tangis amin pun pecah, membasahi pundak pamannya. Sedari kecil amin sudah menganggap pamannya seperti kakak kandungnya sendiri.
“Sudah min. Bersyukurlah kepada Allah, karena hakikatnya semua pertolongan itu asalnya dari Allah. Aku hanyalah sebuah perantara, Aku juga tidak akan tega membiarkan kakak ipar ku menderita. Dan kamu, kamu tidaklah gagal min. Saat ini kamu sudah saangat luar biasa, kau telah menjadi pria yang tangguh dan amanah. Ayahmu pasti bangga min.” Ujar pamannya sembari menepuk-nepuk pundaknya menguatkan.
“Iya man, terimakasih banyak man.” Amin mengusap mata dengan lengan bajunya. Lalu amin melihat jam di pergelangan tangannya.
“ Ini sudah malam man, sampean silahkan pulang aja. biar aku aja yang menjaga ibuk.” Ujar Amin.
“ Yasudah, kalau begitu paman pamit dulu. Owh iya, bagaimana dengan hilya? mau ikut menjaga disini atau mau pulang?”
“Tidak usah man, biar aku aja yang jaga ibuk disini. Besok dia masih harus sekolah, sudah sana dek kamu ikut paman biar diantar pulang, kasihan Rafi sendiri di rumah” Hilya mengangguk mematuhi keputusan kakaknya itu. Kemudian mereka berpamitan, meninggalkan Amin dan ibunya di ruangan itu.
Kemudian Amin duduk di kursi tempat pamannya duduk. Menyandarkan badannya sembari menatap lamat-lamat wajah ibunya, lalu disambung dengan menatap langit-langit di ruangan itu. Disitu ia mulai berfikir, betapa “melelahkannya” hidup di dunia.
Sejak ditinggal oleh sang ayah tepat setelah hari wisuda sma nya. Ia mulai banyak mengetahui berbagai hal. Tentang busuknya kehidupan para manusia yang dirasuki oleh syetan. Pertengkaran, iri, dengki, saling memfitnah satu sama lain. Itu semua benar-benar membuat dirinya mengerti, betapa pentingnya untuk mempelajari ilmu agama dan juga mengamalkannya.
Selain berpikir ia juga mencurahkan segala isi hatinya “Ya Allah, saat ini hamba lelah ya Allah. Sudah terlalu banyak beban yang hamba terima sendirian. Dan sudah tentu hamba tidak akan kuat untuk memikulnya sendirian. Akan tetapi hamba percaya ya Allah.., Inna ma’al usri yusra, Bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Dan juga La yukallifullahu nafsan illa wus’aha Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Oleh karena itu, Hamba yakin sekali, dengan bantuanmu ya Allah hamba dapat mengatasi ini semua”. Lantas, seketika itu juga Amin meneteskan air matanya, lalu karena tak kuasa menahan rasa lelahnya Amin pun tertidur di kursi itu.
“Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaiyk,..” Irama tarhim menggema, memecah keheningan di sunyinya ketenangan malam. Amin yang sudah lama tertidur di kursi kemudian terbangun. Ia sudah terbiasa untuk bangun lebih awal tepat sebelum shubuh. Setelah bangun, yang pertama ia lakukan ialah mengecek kondisi ibunya terlebih dahulu. Kemudian setelah semuanya terlihat aman, iapun pergi ke kamar mandi dan disambung sholat witir 3 rokaat. Lalu setelah adzan shubuh berkumandang ia langsung mendirikan sholat sunnah rawatib dan disambung dengan sholat shubuh.
Untuk pertama kalinya, tepat di hari inilah dia tidak melakukan rutinitasnya yang biasa ia lakukan di masjid. Sempat terpikir di benaknya “kira-kira bagaimana kondisi masjid saat ini? Siapa yang akan menyapu masjid? Siapa yang akan menjaga masjid sedangkan Banu sakit dan aku harus menjaga ibuku disini?”. Pikiran itu benar-benar mengacau ke khusyuk an sholat Amin.
Selepas sholat, Amin langsung berdoa. Mengangkat kedua tangannya dan meminta kemudahan dari semua masalah yang saat ini sedang menimpanya. Lagi-lagi mungkin karena masih kelelahan atas kejadian semalam, Amin yang lagi berdoa kemudian tertidur di atas hamparan sajadah di pinggir ibunya itu.
Kemudian, selang beberapa jam setelah itu. Terdengar suara ketukan dari pintu kamar. “TOK, TOK, TOK. Assalamualaikum” Amin pun terbangun. Ia menoleh ke jam dinding. Dan diapun kaget karena saat ini jam di tangannya menunjukkan jam setengah 7 pagi. Yang artinya Amin telah tertidur lebih dari satu jam.
“Walaikumsalam.. iya sebentar” Jawab Amin, lantas ia pergi untuk meraupi wajahnya terlebih dahulu. lalu segera pergi untuk membukakan pintu.
iapun membuka pintu kamar. Setelah mengetahui seseorang dibalik pintu tersebut, wajah Amin menjadi lebih cerah 2 kali lipat. Ternyata orang yang mengetuk pintu itu adalah Banu, temannya yang selama ini sakit.
“ Heyy, gimana kabarmu?” tanya Amin sambil meremas erat-erat tangan sahabatnya itu.
“Alhamdulillah min, aku baik-baik saja. Justru aku lebih khawatir sama kondisi ibukmu, aslinya aku baru aja nyariin kamu di rumah. Tapi aku diberi tahu Hilya kalau ternyata kamu lagi jaga ibukmu disini.” Ujar Banu cemas.
“ Owh Alhamdulillah, sejak dibawa kesini kondisi ibuk sudah mendingan. Walau masih masih belum bangun juga sampai sekarang. Owh ya jadi ada apa nih kok tiba-tiba nyariin? Tumben banget inget ke temen, hehe” Ujar Amin dengan sedikit bergurau.
“ Jadi gini min, sebenarnya aku gak sendirian ke sini. Sebenarnya ada beberapa orang yang ingin menemuimu.” Raut wajah Bnu seketika menjadi datar.
Tiba-tiba muncul 3 orang lainnya dari belakang Banu. salah satu wajah dari 3 orang itu sangat familiar sekali di mata Amin. Dan ternyata benar orang itu adalah Alex, salah seorang collector tas yang pernah bertemu dengannya. Seketika suasana lenggang sejenak, Amin pun memasang wajah serius. Lalu menatap satu-persatu tamunya yang tak diundang itu.
Pertama-tama dia mengamati orang yang berada di samping kanan Banu, Orang itu bertubuh besar dan berbadan kekar, dengan perban yang menutupi luka di wajahnya. “Hey bentar-bentar, kok rasanya aku familiar sekali dengan postur tubuh itu?” Ucapnya di dalah hati. Lalu dia mengamati orang berkacamata di samping kiri Banu. “Hah dia lagii, dia lagi. Apa jangan-jangan kehadiran mereka ada hubungannya dengan tas kulit itu?”. Gumam Amin di dalam hati sembari menatap Alex dengan wajah yang tidak mengenakkan. Dan yang terakhir, ia mengamati pria yang benar-benar sangat asing di matanya, pria itu berdiri tepat di samping Banu. Pria itu tampil dengan kemeja dan celana panjang yang rapi.
Seketika Amin pun terkejut berkali-kali lipat. Karena orang terakhir yang dia amati terlihat sedang menjinjing tas yang selama ini dititipkan di masjid, yakni tas kulit yang bertuliskan Noname. Karena penasaran dan curiga Amin mempersilahkan mereka untuk masuk, lalu Amin mengampar karpet sederhana sebagai tempat untuk mereka duduk. Kemudian mereka duduk melingkar, seketika atmosphere udara di ruangan tersebut menjadi sangat mencekam.
“ jadi, mau membicarakan apa? Kok, Sampai repot-repot kesini.” Ujar Amin membuka pembicaraan. Dengan tenang tapi juga serius.
“Sebelumnya izinkan saya untuk memperkenalkan diri, nama saya Rafasya. Jadi maksud saya kesini untuk menyampaikan beberapa hal, tapi tujuan utama saya kesini adalah untuk meminta maaf. Saya pribadi juga mewakilkan semua teman-teman yang ada di ruangan ini memohon maaf sebesar-besarnya karena selama ini sudah mempermainkan anda”. Rafasya pun menggeggam erat-erat tangan Amin dan menundukkan kepalanya. Begitu pun dengan semua orang yang di ruangan itu turut menunduk dan memasang wajah malu.
Melihat itu, Amin merasa keheranan. “bentar-bentar, saya belum paham maksud anda gimana, kenapa kok tiba-tiba minta maaf saya kan gak tau permasalahannya.” Ujar Amin sembari mengerutkan alisnya.
“Baik, biar saya jelaskan semuanya” Ujar Rafasya dengan nada lirih.
Kemudian Amin pun membalasnya dengan memasang ekspresi serius menyimak dengan sungguh-sunguh.
“ Saya lah pemilik dari tas kulit yang selama ini tertinggal di masjid. Dan saya juga orang yang menyuruh dua orang ini untuk datang menguji seberapa amanah kamu sebagai petugas penjaga barang. Yang pertama saya suruh berpura-pura sebagai kolektor tas, dan yang kedua saya suruh sebagai pencuri yang berusaha mengambil tas itu secara paksa. Tetapi sebelum berangkat dia sudah kuberi pesan agar tidak terlalu kasar, jadi lagi-lagi saya minta maaf kalau dia sempat kasar kepadamu. Mungkin dari sini timbul pertanyaan, kenapa aku sebagai orang asing tiba-tiba sekali, ingin menguji seseorang yang sedang berkhidmah di masjid tanpa suatu alasan. Sebenarnya saya melakukan ini karna ada suatu alasan, jadi bolehkah saya bercerita lebih panjang lagi?”. Lalu Amin menganggukkan kepalanya, mengizinkan Rafasya untuk lanjut berbicara
“ Semua itu berawal sejak saya kehilangan satpam di rumah saya. Lebih tepatnya satpam saya lah yang menghilang dengan membawa barang-barang di rumah saya. Dulunya satpam di rumah itu sangat baik sekali, murah senyum di hadapan saya. Akan tetapi ketika saya keluar kota bersama keluarga untuk mengurus bisnis sekaligus liburan, tiba-tiba dia berkhianat. Menggunakan kesempatan itu untuk menyapu bersih harta-harta yang tertinggal di rumah. Oleh karena itu saat ini aku butuh seorang satpam yang benar-benar amanah dan kuat. Kemudian suatu hari salah seorang kenalanku yakni Banu menyarankan dirimu untuk menjadi satpam baruku. Tentunya aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, maka dari itu sebelum menawarkan pekerjaan ini kepadamu aku berencana untuk mengujimu terlebih dahulu, Lalu akhirnya saya dan Banu pun sepakat. Kemudian terjadilah kejadian yang selama ini kamu alami. Aku sungguh minta maaf yang sebesar-besarnya mas Aminn, kami telah kurang ajar. seenaknya merpermainkanmu tanpa mengetahui kondisi ibumu yang sedang sakit..” Rafasya benar-benar merasa malu hingga tak kuasa membendung air di matanya.
Melihat Rafasya yang menangis karna menyesali kesalahannya, Amin merasa iba. Ia mendekat dan merangkul Rafasya sembari mengelus punggunggya.
“ Sudah lah, aku sudah tidak marah kok. Asalkan kamu sudah mau minta maaf dan mengakui kesalahan itu sudah Keren sekali! Allah saja yang maha kuasa mau mengampuni siapapun hambanya yang siap bertaubat, lalu siapa aku? Yang masih seorang pendosa, tidak mau mengampuni kesalahan sesama saudara muslimku sendiri. Haha, tentu akan menjadi aib bagiku kalau sampai tidak memaafkan.” Ucap amin dengan senyuman yang lebar di pipinya.
Seluruh orang di ruangan itu tersentuh dengan ucapan Amin. Lalu Rafasya, banu, dan juga diikuti dua orang lainnya bergantian bersalaman dengan Amin. Mengungkapkan segala macam ucapan maaf untuk Amin. Kemudian ketika hendak berpamitan pergi, Rafasya memberi kode kepada bodyguard nya yakni pria yang bertubuh kekar itu untuk mengambil sesuatu. Ditinggal berbicara sebentar, tak lama kemudian orang itu kembali dengan membawa koper kecil di tangannya. Lalu diserahkanlah tas itu ke Rafasya.
“Mas Amin, jadi ini saya ada sedikit rezeki yang bisa sampean bawa pulang. Semoga dengan sedikit rezeki ini dapat membantu perekonomian keluarga di rumah.” Ujar Rafasya sembari membuka dan menyerahkan koper yang berisi dengan tumpukan uang rupiah berwarna merah.
“ Loh mas, yang bener aja ini. Masnya gak bangkrut apa kalau ngasih uang sebanyak itu” Ujar Amin yang masih shock melihat jumlah uang yang sebanyak itu.
“Sudah gak papa, silahkan kamu terima aja. Semoga dapat membantu biaya pengobatan ibuk. Dan juga saya tidak akan dirugikan sama sekali, karena berbagi itu tidak akan membuat siapapun rugi melainkan akan Allah gantikan dengan sesuatu yang lebih baik lagi.” Ujar Rafasya tersenyum.
Mendengar itu Amin pun terharu memeluk tubuh Rafasya sebagai ungkapan terimakasihnya yang mendalam.
“ Owh iya satu hal lagi, sebelum saya undur diri, saya ingin menawarkan suatu pekerjaan untuk mas Amin. Tapi pekerjaan itu bukan satpam, melainkan sebagai manager bisnis di perusahaan saya. Soalnya kebetulan manager saya baru saja resign minggu kemarin, dan saat ini saya sedang mencari penggantinya.” Ucap Rafasya menawarkan.
“ Sebenarnya saya mau-mau aja sih, tapi apa pantes orang seperti saya yang masih kurang dalam segi pengalaman menjadi manager.” Ujar Amin ragu.
“ Enggak kok, justru bagi saya value di dalam anak muda sepertimu merupakan sebuah permata yang tertimbun di dalam tanah. Dan juga saya dengar dari banu kamu pernah memegang toko jahit peninggalan Ayah mu kan?.
“ Iya sih, walaupun hanya bertahan beberapa bulan saja sebelum saya jual toko itu karna tidak seramai ketika dipegang sama ayah”. Ujar Amin sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“ Santai saja, dengan pengalaman itu kuyakin sudah cukup. Jadi bagaimana? Mau nerima tawaran saya?” Rafasya menjulurkan tangannya.
Amin pun berpikir sejenak, kemudian ia terpikir bagaimana dengan kondisi masjid apabila ditinggal olehnya, lantas siapa yang akan menemani Banu untuk mengurus masjid? Lalu Amin pun menoleh sejenak ke arah Amin, ekspresinya seperti meminta pendapat.
“ sudahlah kawan.. untuk urusan masjid serahkan saja padaku, lagi pula tanpa sepengetahuanmu aku sudah melakukan kaderisasi untuk membuat kelompok remaja masjid, dan alhamdulillahnya banyak peminat yang mendaftarkan diri mulai dari anak-anak smp hingga sma. Hilangkan keraguan di dadamu! Ingat! Kau dulunya adalah lulusan terbaik dari sekolah ternama, jangan ragukan kemampuanmu!.” Ujar Amin sembari menepuk punggung dari sahabatnya membari semangat.
Akhirnya setelah berpikir sejenak, iapun menerima tawaran tersebut dan menjabat erat-erat tangan tangan Rafasya, seorang pengusaha muda.
*********
7 tahun kemudian. Sudah bertahun-tahun sejak Amin bekerja di perusahaan milik Rafasya. Otak mudanya yang cerdas dapat berkontribusi baik dalam memberikan perkembangan untuk perusahaan milik Rafasya itu, alhasil perusahaan milik Rafasya semakin berkembang dan semakin menjadi lebih baik. Rafasya sendiri tak segan-segan untuk menaikkan jabatan Amin dan menambah gajinya, mulai dari situ kehidupan amin menjadi lebih baik.
Dia telah menjadi seorang millionaire muda yang dermawan. ia menggunakan harta kekayaannya bukan untuk berfoya-foya melainkan untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti membayar biaya pendidikan adiknya bahkan memberi beasiswa bagi anak yang tidak mampu dan juga menyumbangkan hartanya untuk berbagai macam kebutuhan masjid.
Saat ini ia hidup bahagia bersama ibu dan kedua adiknya dengan perekonomian yang lebih dari cukup, keberhasilannya itu dapat Amin dapatkan selain memang rezeki dari Allah, itu semua ia dapat dari kegigihannya dalam belajar dan juga usahanya untuk menjadi orang yang dapat senantiasa menjaga amanah. Di zaman ini manusia yang pintar itu banyak, akan tetapi mencari orang yang benar-benar amanah itu bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Oleh karna itu, Jadilah manusia yang yang berpendidikan dan juga dapat menjaga amanah. Amanah itu berat maka jagalah!.
~END~
Malang, pakis, 05 Mei 2025
