Author: irfaur

  • BICARA SEPERLUNYA, BUKAN SEMAUNYA

    BICARA SEPERLUNYA, BUKAN SEMAUNYA

    Berbicara merupakan bagian dari komunikasi verbal yang memungkinkan seseorang berinteraksi dengan orang lain, serta, bisa berbicara adalah salah satu anugrah terbesar yang diberi oleh Allah SWT.

    Oleh karna itu, kita harus menjaga lisan dalam berkata-kata, sebab jika dalam kita berbicara terdapat suatu kebohongan atau kesalahan, kita bisa mendapat dosa atau bahkan bisa terseret kedalam Neraka-Nya. Lantas, bagaimana cara berbicara yang benar, agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan?

    Untuk menghindari segala hal yang bertentangan dengan agama, sebaiknya, sebagai umat muslim harus selalu menjaga lisannya dari kata-kata yang tidak perlu. Dengan artian, kita harus membatasi bicara kita tehadap hal-hal yang tidak penting.

    اِذَا تَمَّ عَقْلُ الْمَرْءِ قَلَّ كَلَامُهُ

    Jika akal seseorang itu sempurna, maka akan sedikitlah bicaranya.

    Dari kutipan kitab Ta’limul Muta’allim di atas, dapat kita ketahui, apabila terdapat seseorang yang sedikit bicaranya, menandakan akalnya sempurna.

    Yang artinya, kita diharuskan untuk menghindari banyak bicara. yang dimaksud adalah bukan yang menjelaskan suatu permasalahan dengan sangat terperinci, tapi yang dimaksud banyak bicara adalah mereka yang menceritakan apapun yang telah mereka dengar, tanpa mengatahui benar atau tidaknya.

     يَتَكَلَّمُ بِكَلِمَةٍ لِيُضْحِكَ بِهَا النَّاسَ، فَيَهْوِيَ بِهَا فِي النَّارِ

    Dia berbicara dengan suatu kata untuk membuat orang tertawa, lalu dia terjatuh dengan kata itu ke dalam api (neraka).

    ketika kita berbicara, hendaklah katakan kata-kata yang benar dan baik, apalagi ketika kita sedang bercanda dengan orang lain, jauhilah berbohong untuk membumbui suatu kalimat agar terlihat lucu atau mengucapkan kata-kata yang jorok dan tidak pantas untuk diucapkan bagi seorang muslim, hanya untuk membuat orang lain tertawa.

    Sebab barangsiapa yang berbohong untuk membuat orang lain tertawa, maka An-Nar (Neraka)lah balasan dari Allah SWT. Maka, kita harus bisa memanajemen kata sebelum berbicara, bagaimana itu?

    Kalau berbicara biasakan untuk menyaring kata sebelum dilontarkan kepada orang lain juga harus melihat siapa lawan bicaranya, jadi berbicara itu tidak sembarangan.

    Karena dengan salah berbicara bisa memasukkan kita ke dalam lobang kesengsaraan, bahkan dapat membuat kita murtad, contohnya, berbicara dengan menghina nama-nama Allah atau menjelek-jelekan Nabi dan Rasulullah.

    Dengan kita berbicara dengan baik, tidak menggunjing orang lain dan selalu berkata jujur, Insyaallah kita akan dijauhkan dari hal-hal yang tidak di inginkan, juga mendapat rahmat serta petunjuk oleh Allah SWT.

  • 7 Kata Dalam Pancasila Yang Dihapuskan

    7 Kata Dalam Pancasila Yang Dihapuskan

    Pada awalnya, bunyi sila pertama dalam pancasila pada piagam Jakarta adalah “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Yang kemudian dihapus dan diganti menjadi “Ketuhanan yang maha Esa.”

    Penghapusan ini diusulkan oleh delegasi Indonesia timur yang meliputi Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua. Keberatan ini didasari oleh kekhawatiran bahwa frasa tersebut dapat menimbulkan perpecahan dan diskriminasi terhadap warga negara Indonesia yang beragama non-Muslim.

    Lantas, apa makna dan dampak perubahan penghapusan tujuh kata ini?

    Penghapusan “tujuh kata” ini bukan sekadar perubahan redaksional, melainkan sebuah keputusan politik yang sangat strategis dan visioner. Keputusan ini menunjukkan komitmen para pendiri bangsa untuk membangun negara Indonesia yang inklusif, berdasarkan prinsip kebinekaan, karena:

    1. Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa: Dengan dihilangkannya frasa tersebut, Pancasila mampu merangkul seluruh elemen bangsa Indonesia, tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan. Ini mencegah potensi perpecahan yang serius pada awal kemerdekaan.

    2. Menegaskan Negara Kesatuan: Perubahan ini memperkuat konsep Indonesia sebagai negara kesatuan yang tidak berdasarkan pada satu agama tertentu, melainkan mengakomodasi keberagaman keyakinan.

    3. Memperkuat Toleransi Beragama: Sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” menekankan pada pengakuan adanya Tuhan bagi setiap warga negara, namun memberikan kebebasan bagi setiap individu untuk memeluk dan menjalankan agamanya masing-masing tanpa paksaan atau diskriminasi. Ini menjadi fondasi penting bagi kehidupan beragama yang harmonis di Indonesia.

    Keputusan menghapus “tujuh kata” adalah salah satu momen paling penting dalam sejarah perumusan Pancasila. Ini adalah bukti bahwa para pendiri bangsa mengutamakan persatuan di atas segala perbedaan, menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang relevan dan mampu menyatukan masyarakat Indonesia yang majemuk hingga saat ini.

  • mengenal tarwiyah dan arafah

    mengenal tarwiyah dan arafah

    Di awal bulan dzuhijjah, terdapat dua hari istimewa yang dimana seluruh umat mulim disunnah kan untuk berpuasa, yaitu; hari Tarwiyah dan arafah. Dua hari tersebut memiliki banyak keutamaan yang luar biasa. Apa saja keutamaan yang dapat kita peroleh dari kedua hari tersebut?

    Hari Tarwiyah merupakan hari kedelapan bulan dzulhijjah, Tarwiyah mempunyai makna merenung ataupun berfikir, dikarenakan hari Tarwiyah sendiri, identik dengan merenungi suatu peristiwa yang masih dipenuhi keraguan.

    Menurut pendapat para ulama’, hari Tarwiyah disebut hari berfikir, dikarnakan ketika penduduk makkah keluar pada hari Tarwiyah menuju mina, mereka dalam keadan berfikir tentang doa-doa apa yang akan mereka panjatkan keesokan harinya, dihari Arafah.

    Sedangkan penamaan hari arafah, beberapa ulama’ berpendapat bahwa Arafah diambil dari kata I’tiraf (pengetahuan), disebabkan pada hari itu umat islam mengetahui bahwa Allah sebagai Dzat Esa yang harus disembah, dan Al-Haqq merupakan Dzat yang Mulia dan Agung.

    Membicarakan keutamaan dua hari tersebut, akan sangat perlu untuk dipahami oleh seluruh umat islam. Dua hari tersebut sangat mulia disisi Allah, sebagaimana Allah berfirman pada surat Al-Fajr ayat 3:

    وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ (الفجر: 3)

    Artinya, “Demi yang genap dan yang ganjil” (Al-Fajr: 3)

    Menukil kitab dari Ibnu ‘Abbas yang berpendapat, maksud dari ayat di atas adalah Asy-Syaf’i merupakan hari Tarwiyah dan Arafah, Walwatri merupakan hari raya Idul Adha.

    puasa di hari Tarwiyah dapat menghapus dosa kita dalam waktu setahun, sedangkan dengan kita berpuasa Arafah, dosa kita akan dihapuskan 2 tahun yakni, 1 tahun yang telah lepas dan yang akan datang.

    Walaupun begitu kita tidak diperkenankan untuk membanding-bandingkan kedua hari tersebut dengan hanya melihat dengan dangkal keutamaanya, kita harus menyadari bahwa keduanya mempunyai kedudukan yang agung disisi Allah.

    Tata cara puasa dua hari tersebut sama hal nya dengan tata cara puasa sunnah lainnya. Adapun niat yang dibaca untuk puasa Tarwiyah dan Arafah, dan untuk kapan waktu membacanya, yakni mulai terbenamya matahari (Maghrib) hingga sebelum memasuki waktu Dzuhur

    Niat puasa Tarwiyah

    نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

    Artinya, “saya niat puasa sunnah Tarwiyah karna Allah ta’ala.

    Niat puasa Arafah

    نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

    Artinya, “saya niat puasa sunnah Arafah karna Allah ta’ala.

    Pada intinya dua hari tersebut adalah peristiwa luar biasa yang sudah semestinya seorang muslim tidak mengabaikanya, selain karna keutamaanya, melakukan amalan-amalan yang baik di dua hari tersebut juga merupakan wujud nyata iman kita kepada Allah.  

  • menarik kembali pelajaran nabi ibrahim dan ismail

    menarik kembali pelajaran nabi ibrahim dan ismail

    Santripasir.id- Pelaksanaan sholat Idul adha di Masjid Asy-Syadzili berjalan dengan penuh khidmat. Jamaah terhimpun mulai dari santri, asatidz hingga alumni. Sebelum itu, gema takbir tak berhenti sejak malam sehabis pentas seni. Seluruh santri dibagi sesuai angakatan masing-masing untuk menyalakan malam dengan takbiran.

    Selepas sholat Idul adha, KH. Abdul Qodir selaku khotib naik ke atas mimbar. Beliau menarik kembali pelajaran penting dari kisah Nabi Ismail dan ayahnya, Nabi Ibrahim. 

    “Seperti yang kita ketahui dalam kisah nabi ibrahim dan putra nya. Beliau memberikan contoh yang luar biasa, yakni akan betapa pentingnya sifat tawakkal. Ketika mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih ismail, yang mendominasi pikirannya bukan pikiran bagaimana nanti jika dia kehilangan seorang anak, bagaimana rasa sakit yang akan dirasakan ismail juga bagaimana perasaan istrinya. Tapi bagaimanapun juga tetap patuh atas perintah Allah SWT.

    “فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ  ۗ اِنّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ”

    Sehingga seluruh jamaah dapat merenungi hikmah bahwa tawakkal adalah kekuatan yang luar biasa. Bertawakkal dapat membantu seorang hamba menjalani segala macam tantangan hidup, dan juga menjadi jalan menuju ridho Allah SWT.

    Khutbah ditutup setelah matahari mulai tampak dibalik kabut. Seluruh jamaah beranjak, sebagian santri memilih langsung ke kamar dan ambil makan, sebagian lagi berfoto mengabadikan kebahagiaan, sebagian lagi bahkan sudah duduk manis di sekitar area kurban, tak mau berdiri paling belakang saat proses penyembelihan.

  • Idul adha di pesantren, merawat tradisi menguatkan ukhuwah

    Idul adha di pesantren, merawat tradisi menguatkan ukhuwah

    Perayaan Idul Adha 1446H atau 2025, pondok pesantren salaf Al Quran asy-syadzili merayakan Idul Adha dengan penuh khidmat. Kegiatan pemotongan hewan qurban di pondok Asy Syadzili tahun ini juga berjalan lancar.

    Pada hari pertama, pondok asy syadzili diamanahi untuk memotong 3 ekor sapi dan 11 ekor kambing untuk dipotong dan didistribusikan. Pelaksanaannya dilakukan selang beberapa waktu setelah sholat Idul Fitri selesai, dan dilaksanakan langsung oleh sejumlah asatidz dan santri yang berpengalaman dan jelas paham akan ilmu untuk melaksanakan qurban.

    Proses pemotongannya, berlangsung mulai pagi hari kemudian istirahat sejenak untuk persiapan sholat jumat. Kemudian, Setelah sholat jumat proses pemotongan dilanjutkan kembali.

    Aktivitas pemotongan dan pembungkusan daging berjalan lancar. Melibatkan teman-teman santri yang tertunjuk untuk menjadi panitia qurban, mereka dengan antusias memotong dan membungkus daging yang kemudian akan didistribusikan. 

    Kegiatan berjalan bersukaria dari berbagai kalangan, mulai dari teman-teman santri, para shohibul qurban, asatidz, maupun warga sekitar yang menonton pada waktu itu.

    Pendistribusian daging qurban tidak hanya diberikan kepada sohibul qurban, tetapi juga kepada warga sekitar pondok dan tetangga-tetangga. Total perkiraan sekitar 100 bungkus lebih daging qurban yang didistribusikan, diluar organ seperti kepala kaki dan buntut.

    Kegiatan perayaan hari raya idul adha pada hari pertama ini, diakhiri dengan acara makan bersama ala santri. yakni setiap kalangan yang hadir dipersilahkan untuk membuat kelompok duduk berisi 5 orang per kelompok. Kemudian masing-masing kelompok akan diberikan 1 porsi besar talam yang berisi lauk daging yang sangat lezat.

    Beranjak ke hari kedua, hati masih hangat oleh semangat kemarin. Para panitia qurban telah siap menyambut kebaikan yang ada pada hari ini.

    Proses penyembelihan pun berlanjut, menuntaskan hewan yang belum dipotong. Proses penyembelihan berlangsung mulai sekitar jam 07:00 dini hari, lalu istirahat sejenak untuk persiapan sholat dzuhur.

    Kemudian setelah istirahat, proses penyembelihan terus berlanjut hingga sore hari. Hari ini ada sebanyak 12 kambing dan 2 sapi yang disembelih. dengan total sebanyak 23 ekor kambing dan 5 ekor sapi yang terkumpul pada tahun ini.

    Pada hari kedua ini, para santri menggelar kegiatan unik yang telah menjadi tradisi tahunan, yakni lomba memasak bersama . Lomba memasak ini merupakan bagian dari rangkaian acara, sekaligus penutup dari acara Idul Adha. Dimana setiap perwakilan santri tiap kamar ditantang untuk memasak daging qurban, yang kemudian akan dinilai oleh para juri.

    Peserta lomba diikuti berbagai macam kalangan santri, baik dari jenjang santri SMP, SMA, hingga santri non formal. Untuk panitia pelaksana berasal dari kalangan pengurus. Dan dewan juri berasal dari golongan asatidz pondok.

    Kegiatan ini berlangsung di dua halaman utama pondok dengan penempatan santri smp di lapangan atas, dan santri sma, non formal di lapangan bawah. Menu ragam sepeti gulai, sate, rawon dan soto turut serta menghiasi acara meriahnya di malam hari ini.

    Setiap masing-masing kamar diberi waktu 90 menit untuk menyiapkan masakannya dan kemudian dibawa ke juri di atas panggung. Untuk kriteria penilainnya meliputi rasa, kreativitas, kebersihan dan kekompokan. Jadi, selain berlomba-lomba untuk membuat masakan yang enak, para santri juga dituntut untuk memperkuat dan mempererat ilmu pengetahuan satu sama lain. 

    Sebagai bentuk penghargaan, panitia memberikan penghargaan dan juga piagam kepada tiga tim terbaik. Selain itu, makanan yang telah dimasak dipasarkan secara gratis kepada seluruh masyarakat pondok pesantren yang menginginkannya. Hal ini sebagai bentuk syiar semangat saling berbagi di idul adha.

    Dengan adanya serangkaian acara perayaan Idul Adha ini. Pondok pesantren salaf Al Quran Asy syadzili berharap, dapat turut serta memeriahkan dengan tidak hanya menunaikan ibadah qurban saja. Melainkan, juga mengadakan kegiatan edukatif sebagai wadah bagi para santri untuk menuangkan berbagai macam kreatifitasnya, dan juga sebagai media untuk mempererat hubungan ukhuwah Islamiyah.

  • pengantar ilmu qiro’at asy

    pengantar ilmu qiro’at asy

    BASMALAH

    Basmalah berarti mengagungkan nama Allah dengan sifat-Nya yang mulia. Kalimat basmalah adalah :

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

    Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

    Seseorang yang akan memulai perbuatan baik yang dianjurkan   untuk membaca basmalah termasuk dalam memulai membaca Al-Qur’an. Cara ini untuk mengikuti ajaran Al-Qur’an yang setiap surat dimulai dengan basmalah (kecuali surat baro-ah) dan untuk mengikuti pentunjuk rasulullah SAW seperti dalam sabdanya:

    كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بـِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم فَهُوَ أَقْطَعُ

    Setiap perkara yang penting (bernilai kebaikan) yang tidak diawali dengan basmalah, maka perbuatan tersebut menjadi kurang sempurna. (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi)

    v Dalam kaitannya dengan membaca Al-Qur’a, basmalah memiliki tiga keadaan, yaitu:

    1.      Membaca basmalah di awal surat.

    2.      Membaca basmalahdi tengah surat.

    3.      Membaca basmalah diantara dua surat.

    v Adapun uaraian dari tiga keadaan tersebut sebagai berikut:

    1.      Basmalah di Awal Surat

    Semua Imam Sepuluh sepakat membaca basmalah pada setiap membaca awal dari semua surat dalam Al-Qur’an kecuali Baro-ah, mereka sepakat tidak membaca basmalah ketika memulai membaca awal surat Baro-ah.

    Ulama berbeda pendapat tentang hukum cara membaca, Imam Ibnu Hajar (W. 974 H) dan Al-Khatib mengatakan haram membaca basmalah di awal surat Baro-ah, sedangkan di tengahnya makruh. Imam Al-Romli mengatakan makruh hukumnya membaca basmalah di awalnya, sesdangkan di tengahnya sunnah seperti halnya sunnah ditengah-tengah surat lainya. Para Ulama’ sepakat bahwa basmalah merupakan sebagian ayat dari surat An-Naml yang tercantum pada ayat 30.

    2.      Basmalah di tengah surat

    Tengah surat adalah ayat yang jauh dari awalnya atau ayat setelah awalnya walaupun satu kata. Semua Imam sepuluh memberikan kebebasan kepada pembaca Al-Qur’an untuk membaca basmalah atau tidak pada saat mulai membaca ayat di tengah surat kecuali tengah surat Baro-ah. Sebagian dari mereka melarang membaca basmalah di tengah surat Baro-ah seperti halnya membaca di awalnya. Sebagian dari mereka membolehkan membaca basmalah di tengah surat Baro-ah seperti membolehkan membaca di tengah surat lainya. Sehingga menurut mereka tidak ada bedanya antara tengah surat Baro-ah denagn tengah-tengah surat lainya di dalam Al-Qur’an.

    Apabila memilih membaca basmalah, maka berlaku empat cara seperti cara-cara yang diuaraikan pada pembahasan sebelumnya ( baca “Cara membaca antara isti’adzah, basmalah dan awal suratpada bab isti’adzah ), sedangkan jika memilih tidak membaca basmalah maka boleh diberikan dua cara yaitu waqaf pada isti’adzah dengan ayat tengah surat. Dua cara ini boleh diterapkan atas nama Imam sepuluh.

    Namun demikian ada sebagian Ulama’ yang tidak membolehkan membaca basmalah di tengah semua surat kecuali atas nama mereka yang memberlakukan basmalah antara dua surat. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa, membaca basamalah di tengah surat berarti mengikuti Qurro’ yang membaca basmalah di awal surat sehingga orang yang membaca basmalah di awal surat sehingga orang yang membaca basmalah di awal surat, maka ia juga membaca basmalah di tengah surat. Adapun yang membaca dengan saktah dan washal (menyambung akhir dan awak dua surat), maka ia tidak boleh membaca basmalah di tengah surat.

    3.      Basmalah Di Antara Dua Surat

    v Qolun, Ibnu Katsir, ‘Ashim, Ak-Kisa’i dan Abu Ja’far membaca basmalah di antara dua surat dengan tiga cara, yaitu:

    a.       Berhenti atau mewaqafkan semuanya.

    b.      Menyambung basmalah dengan awal surat.

    c.       Menyambung semuanya.

    v Warsy, Abu ‘Amrin, Ibnu ‘Amir dan Ya’qub di antara dua surat membaca dengan tiga cara:

    a.       Membaca basmalah diantara dua surat.

    b.      Membacanya dengan saktah tanpa basmalah.

    c.       Menyambug akhir surat dengan awal surat berikutnya tanpa basmalah.

    v Hamzah dan Khalaf Al-‘Asyir membaca washal di antara dua surat atau menyambung akhir surat dengan awal surat berikutnya tanpa basmalah.

    Keterangan:

    v membaca surat secara berurutan seperti membaca surat Al-Baqarah kemudian membaca surat Al-Imran, atau membaca surat tidak berurutan seperti membca surat Al-Baqarah kemudian membaca surat Al-Maidah, maka hukumnya disamakan dengan tepat mengikuti kaidah-kaidah pada Qurro’ di atas, dengan syarat dua surat tersebut sesuai dengan urutan Al-Qur’an.

    v Apabila membacanya tidak sesuai dengan susunan surat dalam Al-Qur’an seperti membaca surat Al-Maidah kemudian membaca surat Al-Baqarah, maka harus membac basmalah, tidak boleh sakta atau menyambung (ketentuan ini juga berlaku pada surat yang berulang-ulang,seperti membaca surat Al-Ikhlas, begitu pula ketika akan menyambung surat An-Nas dengan surat Al-Fatihah).

    Catatan:

    v Cara membaca yang tidak diperbolehkan yaitu dengan menyambung basmalah dengan akhir surat karna dapat menimbulkan kesan, bahwa basmalah dimiliki o;eh surat tersebut.

    v Adapun cara membaca akhir surat Al-Anfal dengan awal surat Baro-ah semua Imam sepuluh tanpa kecuali membaca dengan tiga cara yaitu, waqaf, saktah, dan washal (masing-masing dari cara ini dengan tanpa membaca basmalah.)

    Keterangan:

    v Semua Imam sepuluh juga memberlakukan tiga cara ini (waqaf, saktah, dan washal) keika menyambung akhir surat manapun dengan awal surat Baro-ah dengan syarat bahwa akhir surat tersebut terletak sebelum surat Baro-ah sesuai susunan surat-surat dalam Al-Qur’an.

    Contoh: menyambung akhir surat An-Nisa’ dengan awal surat Baro-ah.

    v Apabila akhir surat yang dibaca terletak setelah surat Baro-ah dalam susunan Al-Qur’an, maka cara yang diberlakukan hanyalah dengan cara waqof (tidak boleh dengan cara saktah maupun cara washal).

    Contoh: Menyambung akhir surat Al-Anfal dengan awal surat Baro-ah.

    v Kaidah yang hanya dibaca waqof saja yaitu ketika menyambung akhir surat Baro-ah dengan awalnya. ContohL menyambung akhir surat Al-A’raf dengan awak surat Baro-ah.

    v Adapun menyambung akhir surat An-Nas dengan awal surat Al-Fatihah semua Imam sepuluh hanya membaca basmalah karena hukumnya sama dengan memulai bacaan, mengingat surat pertama dalam Al-Qur’an adalah surat Al-Fatihah, begitu pula saat menyambung akhir suatu surat dengan awal surat sebelumnya, seperti menyambung akhir surat An-Nas dengan awal surat Al-Falaq.

    v Cara yang dipilih ahlul ada’ dalam membaca empat pasang surat tertentu (antara surat Al-Muddattsir dengan surat Al-Qiyamah – antara surat Al-Infithar dengan surat At-Tahfif – antara surat Al-Fajr dengan surat Al-Balad – antara surat Al-‘Ashr dengan surat Al-humazah), yaitu:

    a.       Ahlul ada’ dari para Qurro’ yang membaca basmalah di antara dua surat (Qolun, Ibnu Katsir, ‘Ashim, Al-Kisa’i dan Abu Ja’far) tidak membolehkan meyambung basmalah dengan awal surat berikutnya.

    b.      Ahlul ada’ dari para Qurro’ yang mempunyai wajah saktah diantara dua surat (Warsy, Abu ‘Amrin, Ibnu ‘Amir dan Ya’qub) memilih membaca dengan basmalah, sebagian kecil dari mereka ada yang membaca saktah.

    c.       Ahlul Ada’ dari para qurro’ yang mempunyai wajah washal di antara dua surat (Warsy, Abu ‘Amrin, Ibnu ‘Amir, Hamzah, Ya’qub dan Khalaf Al-‘Asyir) memilih membaca dengan saktah.

    Catatan :

    Walaupun demikian, Ulama’ yang telah melakukan penelitian secara seksama dan mendalam tidak membedakan cara membaca empat pasang surat dengan surat-surat yang lainnya dalam Al-Qur’an akan tetapi cara yang tersebut di atas dinyatakan sebagai cara yang paling shahih dan diharapkan untuk diterapkan. Apabila memberlakukan empat pasang surat seperti uraian di atas dan di kaitkan dengan surat-surat lainnya, maka akan terlihat dalam kedua keadaan sebagai berikut:

    1.      Apabila membaca akhir surat Al-Muzammil kemudian membaca awal surat Al-Qiyamah (tidak berurutan), maka atas nama mereka yang membaca basmalah di antara dua surat boleh memberlakukan tiga cara (membaca basmalah, saktah, dan menyambung) dalam empat pasang surat di atas.

    v Sedangkan yang membaca dengan saktah antara surat Al-Muzammil dan Al-Muddatsir (antara dua surat), maka ia membaca antara surat Al-Muddatsir dan Al-Qiyamah (empat pasang surat di atas) dengan cara saktah dasn tiga macam basmalah.

    v Adapun yang membaca washal antara surat Al-Muzammil dan Al-Muddatsir (antara dua surat) maka ia membaca antara surat Al-Muddatsir dan Al-Qiyamah (empat pasang surat di atas) dengan cara washal dan saktah.

    2.      Apabila membaca dari akhir surat Al-Muddatsir sampai awal surat Al-Insan, maka mereka yang membaca basmalah antara surat Al-Muddatsir dan Al-Qiyamah (empat pasang surat di atas) hendaknya membaca surat Al-Qiyamah dan Al-Insan dengan basmalah sekaliguis tiga cara membaca basmalah. Selain itu boleh membaca dengan cara saktah tanpa basmalah antara surat Al-Qiyamah dengan Al-Insan.

    Sedangkan yang membaca dengan saktah antara surat Al-Muddatsir dan Al-Qiyamah (empat pasang surat di atas), maka hendaknya membaca surat Al-Qiyamah dan surat Al-Insan dengan cara saktah dan washal.

    v Adapun yang membaca dengan washal antara surat Al-Muddatsir dan Al-Qiyamah (empat pasang surat di atas), mka hendaknya membaca surat Al-Qiyamah dan Al-Insan hanya dengan cara washal

  • Sulit hafal?Inilah 5 penyebab hafalan santri tidak optimal

    Sulit hafal?Inilah 5 penyebab hafalan santri tidak optimal

    1.   Malas

    Penyebab pertama yang akan kita bahas terlebih dahulu adalah penyebab paling umum atau paling sering terjadi. Yakni rasa “malas”. Malas merupakan hal yang wajar, semua orang pasti akan pernah merasakannya. Entah karena hilangnya minat, mengalami masa-masa sulit, atau lain sebagainya. Namun, yang tidak wajar adalah rasa malas yang tidak kunjung datang.

    Penyakit malas yang tak kunjung selesai ini, kerap kali dialami oleh santri yang menghafal Al quran di pesantren. Juga menjadi salah satu musuh terbesar yang menghambat produktifitas dalam menambah hafalan. Dan faktor terbesar yang menyebabkan rasa malas hadir adalah tidak adanya target atau keinginan yang kuat untuk menghafal al Quran.

     Sehingga santri yang tidak memiliki target, umumnya akan terjebak dalam zona nyaman dan akhirnya akan terus bermalas-malasan. Perlu penulis ingatkan, apabila seseorang ingin mengahafalkan Al Quran sebaiknya memiliki target dalam hidupnya. Baik target jangka panjang dan jangka pendek.

     Contohnya nih, “misalkan dalam setahun saya harus dapat 15 juz, berarti dalam dua tahun ke depan insyaallah hafalan saya selesai 30 juz”. Kemudian apabila target jangka panjang telah ditentukan, lalu tinggal dibagi dalam bentuk harian (target jangka pendek). Seperti, “kalau target saya dua tahun lagi hafalan sudah tuntas 30 juz, berarti dalam sehari minimal hafalan saya harus bertambah dua halaman”.

    Nah, dengan adanya target seperti yang dicontohkan tadi, insyallah seseorang dapat meminimalkan rasa malasnya dan menjauhkan dirinya dari zona nyaman. Mengapa demikian? sebab, seseorang yang memiliki tujuan tak akan pernah menyia-nyiakan waktu yang telah berlalu begitu saja. karena dia sadar, jika dia segera beranjak dari tempat tidurnya maka kelak dia akan menerima konsekuensi yang sangat besar. Apa itu? Yakni kegagalan dalam mencapai tujuan yang telah dia tancap mantap-mantap dalam keyakinannya.   

    2.      Tidak disiplin .

    Tidak disiplin, juga menjadi salah satu faktor tidak optimalnya menghafal santri. Disiplin disini mencakup banyak hal diantaranya adalah kendali diri, komitmen, dan kepandaian mengatur waktu.

    Disiplin melibatkan kemampuan untuk mengendalikan diri , menahan nafsu dan keinginan dari hal-hal yang tidak bermanfaat atau yang tidak sesuai dengan tujuan. Sebab, apabila seorang penghafal Al Quran tidak dapat menahan keinginannya, maka dia telah memilih lebih jauh dari keberhasilannya menghafal Al Quran. 

    Karena, tidak dapat menahan nafsu adalah sifat dari orang yang suka mempertahankan-nunda pekerjaan. Yang awalnya ingin melaksanakan suatu tujuan yang baik tetapi karena kalah dengan nafsu akhirnya dia mempertahankan tujuan yang baik tersebut dan malah menuruti nafsunya yang hanya akan membuang waktunya sia-sia.

    Mirisnya, fenomena seperti itu masih sering terjadi di dalam kehidupan kita. Contohnya nih, semisal ada seorang mahasiswi yang hendak mengerjakan tugas sekaligus membaca buku di perpustakaan umum. Pada awalnya niatnya bagus, akan tetapi ketika sampai di tengah perjalanan dia melihat ada konser dari band kesukaannya sedang tampil. Karna tak mampu untuk mengusai nafsunya alhasil dia pun terhanyut ke dalam lautan orang-orang yang menonton konser tersebut.

    Tentunya hal tersebut akan sangat merugikan dirinya, selain tugasnya tidak selesai di hari itu juga,  dia telah menyia-nyiakan waktunya untuk sesuatu yang kurang bermanfaat.

    Yang tak kalah penting dari menahan nafsu ialah komitmen. Seorang penghafal Al Quran harus dapat berkomitmen dengan tujuannya. Apabila nanti malam menambah hafalan maka harus benar-benar menambah. Apabila besok subuh harus bangun awal, maka besok  harus benar-benar bangun lebih awal. dan begitupun seterusnya.

    Mengapa penulis katakan sangatlah penting untuk berkomitmen dengan suatu tujuan? Karena, apabila seseorang tidak dapat berkomitmen dengan tujuannnya, maka tujuan tersebut hanya akan menjadi angan-angan belaka.

    Kemudian, yang terpenting dari sikap disiplin ialah disiplin dalam mangatur waktu, maksud dari mengatur waktu disini ialah merencanakan dan memanfaatkan waktu dengan bijaksana untuk mencapai praktik menghafal yang efektif dan efisien.

    Seorang peghafal Al Quran harus dapat menentukan waktu emas yang bagi dirinya efektif untuk menghafal Al Quran. Karena biasanya setiap orang memiliki cara dan waktunya tersendiri yang bagi dirinya nyaman dan mudah untuk menghafal.

    Selain pemilihan waktu yang optimal untuk menghafal. Ada sesuatu yang lebih penting dan sangat perlu diperhatikan. Yakni memaksimalkan waktu  untuk mengolahnya menjadi waktu yang benar-benar  produktif.

    3.     Tidak Istiqamah

    Istiqamah dalam menghafal Al Quran disini berarti menjaga keteguhan dan konsistensi dalam menjalankan rencana menghafal. Ini melibatkan terus menerus membaca, menghafal dan mengulang (murojaah) hafalan Al Quran secara rutin dan tidak terputus-putus.

    Walaupun disaat hafalan tersebut sulit atau mudah, disaat mood hati ini semangat atau tidak yang terpenting terus saja jalani. Disaat seiring meningkatnya tingkat kesulitan yang dihadapi, ingatlah! yang terpenting terus saja jalani. Entah berapapun jumlah hafalan yang dapat dihasilkan bahkan hanya satu ayat saja dalam sehari pesan penulis jangan sampai pernah berhenti dalam menambah hafalan.

    Sebab, berkat konsistensi dan kegigihan itulah yang akan terus mengupgradedan meningkatkan kualitas hafalan dari seorang penghafal Al Quran. Sebagaimana yang diakatakan oleh pepatah “ sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit”.

    4.     Wara’

    Wara’ merupakan sifat kehati hatian dan menjauhi hal-hal yang syubhat (meragukan) atau mendekati haram. Sifat wara dalam konteks mengahafal Al Quran berarti seorang penghafal Al Quran perlu menjaga diri dari setiap barang yang syubhat (meragukan)serta menjaga kehormatan dan akhlaknya.

    Sifat wara’ ini terbilang cukup penting, dan wajib dimiliki oleh setiap pengahafal Al Quran. Terutama santri yang sedang mengahafalkan Al Quran. Posisi santri yang sedang mencari ilmu di pesantren jelas akan lebih tertantang untuk mengamalkan sifat wara’, Karena di lingkungannya yang hidup bersama, terkadang seorang santri lalay dalam menggunakan barang temannya dengan meminjam tanpa izin terlebih dahulu kepada sang pemilik.

    Nah, dari situlah merupakan titik awal yang tidak banyak orang sadari, dan kerap kali diremehkan oleh orang-orang. Padahal hal tersebut sangatlah penting dan benar-benar dapat mempengaruhi hafalan seseorang.

     Bagaimana hal tersebut dapat terjadi? Jawabnnya ialah karena Al Quran itu adalah ilmu, dan ilmu itu adalah cahaya. Sebaigamana yang terdapat dalam nasehat imam Syafi’i yang cukup terkenal:

    “ Aku mengadu kepada guruku, Al Waki’,  tentang betapa buruknya hafalanku. Beliau lalu mensehatiku untuk meninggalkan perbuatan dosa. Beliau mengatakan juga bahwa ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat dosa.”

    5.     Kurang Fokus

    Arti dari fokus dalam menghafal Al Quran yakni kemampuan untuk menjaga konsentrasi dari berbagai macam pikiran yang tidak penting dan mengganggu konsentrasi menghafal. Memang apabila kita perhatikan aspek fokus ini seakan-akan seperti suatu hal yang sepele. Akan tetapi, jangan salah. Justru fokus inilah yang mempengaruhi seberapa banyak hafalan yang mampu kita produksi.

    Berdasarkan pengalaman dari para guru yang mengajar tahfidz di pesantren. Untuk menambah hafalan, sebenarnya tidak membutuhkan waktu yang banyak atau lama. Bahkan untuk membuat hafalan satu halaman sebenarnya hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit saja, untuk ukuran orang-orang yang normal.

    Akan tetapi mengapa banyak santri yang bahkan seharian penuh menghafal siang, sore, malam akan tetapi hasil yang diciptakan juga tetap sama hanya mendapat satu halaman? Nah, faktor yang mempengaruhi hal tersebut ialah tingkat kefokusan santri tersebut ketika menghafal.

    Bisa jadi santri yang menghafal seharian itu masih mencampur adukkan pikirannya antara Al Quran yang sedang dibacanya dengan masalah yang bermunculan dipikirannya. Juga bisa jadi, di sela-sela waktu dia mengahafal dia malah melamun. Alhasil tingkat kefokusannya menurun dan waktunya terbuang sia-sia.

    Oleh karena itu, Aspek fokus dalam menghafal Al Quran sangatlah penting. Karena itulah yang menentukan hafalan seseorang dapat bertambah. Saran yang dapat pembaca gunakan agar bisa fokus daalam menghafal yakni hindari melamun, hindari berbicara yang tidak penting, dan hindari berpikir yang berlebihan atau Overthinking .

    Baik, mungkin cukup itu saja sedikit pengalaman yang dapat penulis bagikan ke teman-teman pembaca, semoga bermanfaat. Semoga adanya tulisan ini dapat membantu kita semua. Barakallah fikum…    

  • Selamat Memperingati Harlah Asy-Syadzili Yang Ke-60

    Selamat Memperingati Harlah Asy-Syadzili Yang Ke-60

    Di balik setiap dinding, setiap sudut, dan setiap jengkal tanah, tersembunyi sebuah harta karun yang tak bernilai. Sebuah permata sejarah, berbalut waktu, menanti untuk ditemukan dan dipancarkan cahayanya. Harta itu bukanlah emas permata, melainkan kisah perjuangan, keteguhan, dan visi mulia yang telah mengukir jejak peradaban. Inilah warisan yang harus kita jaga, jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan, agar generasi penerus dapat menyelami samudra hikmah dari kisah juang sang mu’assisnya, pendiri pendiri pondok pesantren Asy-Syadzili ini.

    Lebih dari sekedar bangunan dan tradisi, Pondok Pesantren Asy-Syadzili adalah warisan yang istimewa. la adalah untaian nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi, sebuah mata air ilmu yang tak pernah kering, dan suluh yang menambah kegelapan zaman. Di setiap sudutnya terukir jejak pengabdian para pendirinya, semangat juang para santri, dan harapan akan masa depan yang gemilang. 

    Niat untuk mengulik kembali mengenai hari lahir pesantren muncul setelah kami yang tergabung sebagai tim pengembangan biografi KH. Ahmad Syadzili Muhdlor mengetahui dawuh salah satu dzurriyah beliau. Bahwasanya sang mu’assis dahulu selalu istiqomah dalam memperingati pesantren harlah setiap tanggal 13 Dzulhijjah, namun tradisi itu sempat terputus. Inilah sebabnya, demi memastikan keabsahan dan kehausan tradisi ini, tim pengembangan biografi merasa terpanggil untuk kembali menilik, mencari informasi, dan menggali lebih lanjut mengenai kapan pesantren ini didirikan.

    Setelah melalui wawancara dan pengumpulan informasi dari beberapa narasumber utama, yaitu para sesepuh santri generasi pertama dan para dzurriyah mu’assis. Banyak pernyataan yang sedikit demi sedikit menjadi petunjuk, membawa kami semakin dekat pada apa yang kami cari, diantaranya:
    * KH. Muhammad Chusaini (santri tahun 1975)
    * KH. Nur Kholis (santri tahun 1973)
    * KH. Nurul Yaqin (santri tahun 1972)

    Pencarian ini memiliki target bahwasanya, tahun dimana Asy-Syadzili berdiri, adalah tahun dimana santri pertama masuk ke pesantren, pencarian kami berakhir pada pernyataan KH. Nurul Yaqin yang mengatakan bahwa tidak ada santri sebelum beliau, kecuali santri pertama yakni KH. Maftuh Sa’id pendiri pondok pesantren Al-Munawwariyah, Bululawang. Selain menimbang dan menghubungkannya dengan biografi KH. Maftuh Said diberbagai sumber, dan diperkuat dengan dawuh beliau dihadapan para kyai NU di Wajak bahwa beliau mondok di Asy-Syadzili sekitar tahun 1967 M. Dari situlah diasumsikan berubah menjadi fakta yang terverifikasi, sebagai tahun lahirnya Asy-Syadzili. Ditambah setelah melihat hari lahir pesantren berdasarkan apa yang telah mu’assis istiqomahkan, maka pondok pesantren Asy-Syadzili, lahir pada hari Kamis Legi, 13 Dzulhijjah 1386 H. / 23 Maret 1967 M.

    Yang mana, jika dihitung berdasarkan tahun hijriyahnya, pada hari ini, pondok pesantren Asy-Syadzili secara resmi memasuki usia yang ke 60 tahun, dan pada hari ini juga, untuk pertama kalinya, peringatan harlah kembali di peringati. Dengan membawa tema, menjaga warisan, meraih kemajuan.

    المحافظة على القديم الصالح، والاخذ بالجديد الاصلح
    tradisi terdahulu yang baik, serta mengambil hal baru yang lebih baik.

    Tema Harlah Asy-Syadzili ini bukan sekedar slogan, melainkan cerminan dari visi dan misi Asy-Syadzili di era modern. Sebagai seruan untuk introspeksi, refleksi, dan aksi. Dengan mengajak seluruh civitasnya, baik pesantren, alumni, dan masyarakat untuk bersama-sama meneguhkan komitmen dalam melestarikan identitas keilmuan dan nilai-nilai luhur pesantren, seraya terus berinovasi dan melangkah maju demi mewujudkan generasi Muslim yang unggul, berakhlak mulia, dan mampu memberikan manfaat bagi agama, bangsa, dan dunia.

  • 7 Golongan yang selamat dari mahsyar

    7 Golongan yang selamat dari mahsyar

    Mahsyar merupakan sebuah padang pasir yang sangat luas, tempat dimana seluruh umat manusia kelak akan dikumpulkan menjadi satu didalamnya. Setelah tiupan sangkakala kedua, seluruh umat manusia yang telahir di bumi akan dikumpulkan dipadang mahsyar dalam keadaan tidak mengenakan pakaian dan belum dikhitan. Namun mereka tidak akan melirik satu sama lain, dikarenakan pada waktu itu, selain matahari berada tepat diatas kepala dan dalam keadaan ketakutan, mereka juga gelisah atas amalnya sendiri.

    Seluruh manusia pasti akan melewati fase ini, dimana seorang akan lupa dengan keadaan keluarganya, dan pada saat itu, manusia akan dibangkitkan dalam kondisi tubuh mereka, sesuai dengan amal  perbuatannya.

    Lalu, bagaimana cara agar mendapat naungan di padang mahsyar? Dari hadits Rasulullah, dikatakan ada 7 golongan yang ternaungi dipadang mahsyar, yaitu sebagai berikut:

    1.    Imam yang Adil

    Imam yang dimaksud disini adalah seorang pemimpin, dan seorang pemimpin kelak akan di mintai pertanggungjawaban atas apa yang telah dipimpin. Memang berat, tapi jika seorang pemimpin itu adil, maka mereka akan mendapat pahala yang setimpal.

    2.    Pemuda yang tumbuh beribadah kepada Allah

    Masa muda seseorang, yang dioptimalkan untuk beribadah kepada allah. Alih-alih dipergunakan untuk hal-hal yang sia-sia atau bahkan untuk hal yang berbau maksiat, ia justru mempergunakan masa mudanya untuk berusaha menggapai ridhonya Allah.

    3.    Orang yang hatinya terikat kepada masjid

    orang yang ingin selalu ingin berada di masjid, apabila setelah ia melakukan sholat dzuhur di masjid, ia tidak akan sabar menunggu untuk pergi ke masjid untuk melakukan sholat ashar.

    4.    Orang yang berdzikir dikesunyian sampai berlinang air mata

    Barangsiapa yang tanpa henti memuji allah di kesunyian malam sampai bercucuran air mata, kelak mereka akan mendapat kedudukan yang istimewa disisi Allah

    5.    Dua orang yang saling berkasihan untuk ketaatan kepada Allah

    Terdapat dua orang yang selalu bersama untuk beribadah kepada allah, jika seorang sahabat yang melakukan ketaatan bersama didunia, niscaya kelak persahabatan mereka akan berlanjut sampai kesurga-Nya.

    6.    Orang yang diajak zina wanita cantik, tapi dia berkata takut kepada Allah

    Ketika ia diajak melakukan maksiat oleh perempuan yang cantik juga berpangkat, namun ia mengatakan اِنِّيْ اَخَافُ اللّه (sesungguhnya aku takut kepada Allah), maka ketika dipadang mahsyar nanti ia akan mendapatkan naungan dari Allah

    7.   Orang yang menafkahkan hartanya, tapi menyamarkanya

    Orang yang bersedekah, tapi ia menyembunyikan perbuatanya itu dan tidak ingin orang melihatnya, bahkan sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh tangan kanannya.

    Memang tidak mudah untuk melakukan itu semua, tapi, ketika kita berusaha, kita akan menuai hasil yang sepadan dengan usaha yang kita lakukan. Minimal kita maksimalkan masa muda kita untuk beribadah kepada Allah, serta melakukan kebaikan-kebaikan.

    Pada intinya, kita harus selalu berusaha untuk bertaqwal kepada Allah, dan selalu mengingat bahwa, tanpa daya yang diberikan oleh-Nya, kita tidak akan bisa melakukan ibadah kepada-Nya. Dan semoga kita termasuk dari 7 golongan yang di naungi oleh Allah dipadang mahsyar.

  • Sesudah kesulitan ada kemudahan.

    Sesudah kesulitan ada kemudahan.

    Capek, Stres, dan kesulitan dalam menghadapi masalah. Adalah hal  yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Setelah melakukan berbagai macam pekerjaan yang monoton, tubuh kita pasti akan mencapai batas kemampuannya. tak jarang pula, seiring menurunnya kekuatan tubuh, suasana hati pun juga akan turut menurun. Dan kejadian seperti itu merupakan hal lumrah yang pasti akan dirasakan oleh setiap manusia selama hidup di dunia.

    Bahkan, sekelas nabi muhammad saja pernah mendapat perlakuan buruk dari kaumnya. Dengan hinaan, celaan, caci maki, bahkan dilempari batu. Kemudian disaat nabi amat kesusahan hati, Allah turunkan dua surat berurutan kepada nabi Muhammad  guna kelapangan urusan dan kelapangan hati. Salah satunya adalah surat Al-insyirah.

    Surat Al insyirah merupakan surat ke 94 dalam Al Quran yang berarti kelapangan. Surat ini terdiri dari 8 ayat dan tergolong surat makiyah. Di dalamnya, berisi banyak pesan-pesan penting yang Allah sampaikan kepada nabi. Diantaranya ialah, allah memberikan kelapangan dada kepada nabi Muhammad, meringankan beban yang dialami oleh nabi, dan pesan yang paling berkesan ialah “bahwa setiap kesulitan ada kemudahan.”

    Kalimat itu berbunyi  ان مع العسر يسرا  “inna ma’al usri yusra” yang merupakan bunyi dari surat al insyirah, tepatnya ayat ke 6. Ayat tersebut merupakan ayat yang menjadi sumber motivasi bagi umat muslim di dunia. Bukan tanpa sebab, melainkan ayat tersebut mengandung pesan optimis yang akan mendorong seorang muslim yang membacanya untuk tetap semangat berjuang di sepanjang hidupnya.

    Ayat tersebut merupakan ayat yang berisi pesan penting bahwa tiap kesulitan yang kita alami, Allah swt telah menyiapkan kemudahan yang akan turut menyertai. Pesan ini mengajarkan kita akan betapa pentingnya terus berusaha dan tak berputus asa karena dibalik kesulitan pasti ada kemudahan yang akan  Allah berikan.

    Dengan memahami ayat ini umat muslim diajak untuk terus optimis dan yakin bahwa di setiap ujian yang Allah berikan pasti ada solusi atau jalan keluarnya. Keyakinan yang memupuk, dapat menjadi penguat serta energi yang tak tertandingi untuk terus berusaha dan tidak menyerah dalam menghadapi berbagai macam tantangan hidup.

    Hal ini pun, juga ter refleksikan dalam ayat sebelumnya yakni “Fa inna ma’al usri yusra” yang memiliki arti serupa. Pengulangan ayat ini menunjukkan betapa kuatnya penegasan Allah, yang Allah sampaikan pada ayat tersebut.

    Ayat ini juga menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kegagalan atau pun kesulitan yang kita hadapi bukanlah akhir dari segalanya. Melainkan sebagai media kita untuk belajar dari kesalahan dan meraih kesuksesan yang telah Allah siapkan bagi siapapun hambanya yang mau berusaha.

    Sebagai umat muslim yang baik, sepatutnya kita perlu bersabar dalam menghadapi berbagai macam ujian. Sebab, Allah swt tidak akan memberikan hambanya suatu ujian kecuali ia mampu untuk mengatasinya “La yukallifullahu nafsan illa wus’aha”. Maka dari itu, mari kita sama-sama terus bermujahadah menjalani kehidupan ini dalam rangka mencari ridha Allah. Juga terus mengintropeksi diri  kemudian tumbuh menjadi lebih baik lagi. Barakallah fikum…