Author: irfaur

  • mampukah umat muslim mengembalikan kedudukannya

    mampukah umat muslim mengembalikan kedudukannya

    “Ibaratkan ikan yang besar tetapi apabila dipotong potong maka akan menjadi kecil kembali.”itulah yang terjadi pada umat islam.

       Umat Islam pernah mencapai puncak kejayaan dalam berbagai bidang, mulai dari ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, hingga budaya. Masa keemasan Islam, terutama pada abad ke-8 hingga ke-14, menunjukkan bagaimana umat Muslim mampu menjadi pelopor dalam ilmu kedokteran, matematika, astronomi, dan filsafat. Namun, saat ini, banyak yang mempertanyakan apakah umat Islam mampu mengembalikan kedudukan tersebut di tengah tantangan globalisasi dan perkembangan zaman.

       Pada saat ini kejayaan tersebut terasa semakin menjauh dengan fakta keadaan islam. Hal tersebut terjadi dikarenakan Di zaman sekarang ini para muslim dipecah belahkan oleh aliran. Satu menganggap aliran lain radikal dan satu lagi menganggap aliran itu liberal. Bahkan dalam satu aliranpun masih terbagi menjadi beberapa aliran lagi.

      Seperti setiap madzhab yang memiliki perbedaan pendapat masing-masingnya, dengan beberapa cara yang berbeda pula. Tapi apakah ada satu madzhab itu memusuhi yang lain? tidak, bahkan kata imam syafii

    الْخُرُوجُ مِنْ الْخِلَافِ مُسْتَحَبٌّ

    Keluar dari khilaf itu disunatkan

      imam syafii wudhu nya cukup mengusap sebagian kepala dan imam malik mengakatan wudhu itu harus mengusap seluruh kepala. apakah kemudian imam syafii berkomentar kepada imam malik “apa imam malik itu, wudhu kok harus mengusap seluruh kepala,  sebagian saja kan sudah cukup?” tidak seperti itu, bahkan kata imam syafii kalau kamu wudhu mengusap seluruh kepala itu adalah sunnah karena kamu keluar dari khilafnya imam malik, dan imam malik sendiri kemudian mengatakan kalau hal tersebut sah.

      Dari kisah tersebut seharusnya dapat menjadi pelajaran bagi kita bahwa bagaimana kita bisa menerima perbedaan. Orang yang dipuji sesudah orang muhajirin dan ansar adalah:

    وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌرَّحِيْمٌࣖ 

    Orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

      Pada ayat tersebut terdapat doa agar kita dijauhkan dari rasa dengki terhadap orang yang beriman,apalagi apabila berbeda pendapat. Hendaknya ketika terjadi perbedaan pendapat kita harus mencari titik pertemuan agar tidak terjerumus pada titik perpecahan.

      Kalau sudah seperti itu apa bisa umat muslim mengembalikan kedudukannya? Tentu saja mampu apabila semua dapat menghilangkan egonya dan melakukan upaya Reknosiliasi. Hal tersebut menjadi sulit bahkan dapat tidak  mampu apabila tidak terjadi persatuan di antara kaum muslim.

      Maka dapat kita simpulkan bahwa meskipun menghadapi berbagai tantangan, umat Islam masih memiliki potensi besar untuk mengembalikan kejayaannya. Dengan semangat persatuan umat Muslim dapat kembali memainkan peran penting dalam peradaban dunia. Namun, semua itu memerlukan usaha bersama yang konsisten dan berkelanjutan dengan selalu berusaha menghadapi segala perbedaan tanpa terjerumus pada perpecahan dan mempeloreh titik pertemuan atas perbedaan tersebut.

  • PUASA TERNYATA BIKIN BUGAR DAN AWET MUDA

    PUASA TERNYATA BIKIN BUGAR DAN AWET MUDA

      Selain jalan menuju ridho Allah SWT, ternyata puasa juga sangat bermanfaat bagi kesehatan fisik maupun mental. Dalam beberapa penilitian, ilmuwan telah menemukan beberapa manfaat dan efek samping puasa bagi kesehatan tubuh dan mental manusia yang menjalaninya. Dikutip dari buku The fasting cure karya upton sinclair (1878-1968) berikut beberapa ulasannya.

      Membersihkan racun di dalam tubuh secara alami

    Detoksifikasi adalah proses pengeluaran racun di dalam tubuh secara alami. Menurut peneliti, berpuasa dapat memicu detoksifikasi dan memungkinkan tubuh untuk berfokus pada penyembuhan dan regenerasi sel-sel tubuh yang rusak tanpa gangguan dari proses pencernaan.

      Pemulihan dari penyakit

    Berpuasa juga dapat menyembuhkan beberapa penyakit, seperti gangguan pencernaan, obesitas, radang sendi dan masih banyak lagi

      Peningkatan kesehatan mental

    Peniliti juga mengklaim, Selain manfaat fisik, puasa dapat meningkatkan kejernihan mental, fokus, dan bahkan suasana hati. Proses ini dianggap memberi waktu bagi tubuh untuk mengalihkan energi yang biasanya digunakan untuk pencernaan ke proses penyembuhan lainnya.

    Studi lain juga membuktikan bahwa puasa dapat meningkatkan aktivitas metabolisme dan mencegah penuaan dini. Studi mengatakan berpuasa khususnya yang dilakukan saat ramadhan, sama dengan program diet yang cukup populer, yaitu intermiten fasting yang mengatur pola makan, waktu makan, dan makanan yang dikonsumsi.

    Tapi puasa tidak selamanya baik bagi sebagian orang, lebih-lebih mereka yang baru mulai berpuasa, beberapa efek samping rentan menyerang, antara lain :

      Kelelahan atau Lemah di Awal Puasa

    peniliti mengatakan bahwa orang yang belum terbiasa berpuasa dapat mengalami Lelah dan lemah di hari-hari pertama. Hal ini dikarenakan tubuh belum dapat beradaptasi dengan perubahan pola makan dan mulai beralih dari proses pencernaan makanan yang terus- menerus ke proses penyembuhan dan detoksifikasi.

      Pusing atau Sakit Kepala

    Pusing dan sakit kepala adalah efek samping umum yang dapat muncul pada beberapa hari pertama puasa. Ini bisa disebabkan oleh penurunan kadar gula darah atau ketidakseimbangan elektrolit yang terjadi ketika seseorang tidak makan atau minum untuk jangka waktu lama.

      Perubahan Mood atau Irasibility (Mudah Tersinggung)

    Pada beberapa orang, puasa bisa menyebabkan perubahan mood, seperti perasaan mudah tersinggung, marah, atau bahkan cemas. Hal ini disebabkan oleh perasaan lapar atau ketidakseimbangan hormon yang terjadi ketika tubuh mulai beradaptasi dengan puasa.

      Risiko untuk Orang dengan Kondisi Kesehatan

    peneliti juga memperingatkan bahwa orang dengan kondisi medis tertentu, seperti diabetes, tekanan darah rendah, atau gangguan jantung, harus berhati-hati dalam melakukan puasa. Bagi mereka yang memiliki kondisi seperti itu, puasa bisa memengaruhi kadar gula darah atau keseimbangan elektrolit mereka, yang bisa berbahaya.

    Maka alangkah baiknya kita memperhatikan kondisi tubuh terlebih dahulu sebelum memulai berpuasa, mengidentifikasi Riwayat penyakit yang selama ini kita miliki, dan memberi penanganan sesuai arahan profesional. Metode puasa bedug yang diterapkan orangtua saat kita kecil dulu mungkin dapat membantu puasa dengan sehat dan bertahap, apalagi bagi kita yang memiliki riwayat penyakit tertentu dan baru ingin mulai berpuasa.

    Jazakumullah khairan jaza

  • pengantar ilmu qiro’at ‘asyr

    pengantar ilmu qiro’at ‘asyr

    DUA THARIQ ASY-SYATHIBIYYAH DAN AD-DURROH

    1. Thariq (jalur) Asy-Syathibiyyah

    Thariq Asy-Syathibiyyah merupakan salah satu thariq dari sekian banyak thariq yang ada sebagai jalur pengembangan dan penyebaran cara-cara membaca tujuh Imam Qiro’at. Bentuk kata Asy-Syathibiyyah adalah nisbat kepada Imam As-Syathibi, sebagai seorang jalur penerima cara-cara baca tujuh Imam Qiro’at dari orang-orang ahli sebelumnya yang kemudian beliau sampaikan kepada masyrakat luas seperti yang diabadikan dalam kitabnya “Hirzul Amaani Wa Wajhuttahani” yang juga populer dengan nama kitab Qiro’at Asy-Syathibiyyah. Dengan demikian semua bacaan tujuh Imam Qiro’at yang tertera dalam kitab tersebut populer dengan sebutan cara-cara membaca tujuh Imam Qiro’at berdasarkan thariq Asy-Syathibiyyah.

    Nama lengkap Imam As-Syatibi selaku penyusun kitab tersebut adalah Abul Qasim bin firruh bin Khalaf bin Ahmad Asy-Syatibiyyah Al-Andalusi Ar-Ru’aini Adh-Dharir. Imam Asy-Sayatfhibi lahir pada akhir tahun 538 H, di kota Syathibiyyah salah satu kota di Andalusia.

    Imam Asy-Sayathibi menghafal Al-Qur’an dan menerima qiro’at dari Abi Abdillah muhammad bin Abil ‘Ash. Kemudian beliau pergi ke Balansia sebuah kota dekat At-Taisir fil Qiro’atis Sab’ah yang disusun oleh Abu Amr Ad-Dani pada Ibnu Hudzail. Selain itu beliau mempelajari kitab Sibawaih pada Abi Abdillah Muhammad bin Hamid.

    Imam Asy-Sayathibi terkenal sebagai tokoh tenama dibidang ilmu-ilmu Al-Qur’an, Hadits dan bahasa. Imam Asy-Sayathibi telah menulis banyak kitab yang berhubungan dengan Al-Qur’an di antaranya yang paling monumental “Hirzul Amaani Wa Wajhuttahani” yang dikenal dengan nama kitab Qiro’at “Asy-Syathibiyyah” sekaligus populer dengan sebutan thariq Asy-Syathibiyyah” yang merupakan ringkasan dari kitab At-Taisir tersebut di atas. Kitab Asy-Syathibiyyah disusun dalam bentuk nadzom berisi 1.173 bait.

    Beliau seorang yang amat terkenal kesabaran dan kerendahan hatinya serta patuh terhadap hukum-hukum Allah SWT. Apabila beliau ditanya tentang keadaannya beliau hanya menjawab dengan “al-afiyah” (sehat ‘afiat).  Imam Asy-Sayathibi wafat pada bulan jumadil Akhir tahun 590 H. Beliau dimakamkan di pemakaman Al Qadhi Al Fadhil di kaki gunung Al-Maqtham kairo, Mesir. Sampai saat ini banyak diziarahi oleh masyarakat luas.

    • Thariq Ad-Durroh

    Thariq Ad-Durroh adalah salah satu thariq dari tiga thariq utama yaitu Asy-Syathibiyyah, Ad-Durroh, Thayyibatul Nasyr yang dijadikan referensi atau rujukan kaum muslimin saat ini dalam mempelajari Ilmu Qiro’at. Thariq Ad-Durroh sebegai jalur penyebaran Qiro’at menjelaskan tata cara membaca ketiga Imam Qiro’at yaitu Abu Ja’far, Yaqub dan Khalaf Al-‘Asyir. Ad-Durroh merupakan nama matan kitab, judul lengkapnya adalah “Ad-Durroh Al-Mudliyyah fi Qiro’atis Tsalats Al-Mutammimah lil_’Asyrah”.

    Dalam kitab Ad-Durroh diuraikan tata cara membaca tiga Imam Qiro’at sebagai pelengkap jika ditambah dengan tujuh Imam Qiro’at dehingga menjadi sepuluh Imam Qiro’at. Kitab Ad-Durroh ditulis dalam nadzom berisi 241 bait syair bersumber dari kitab At-Tahbir yang menjelaskan ushulul qaidah maupun farsyul kalimat dari tiga Imam Qiro’at. Tata cara membaca tiga Imam Qiro’at yang tertera dalam kitab tersebut, disebutkan tata cara membaca tiga Imam Qiro’at berdasarkan thariq Ad-Durroh.

    Penyusun kitab Ad-Durroh adalah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Yusuf yang terkenal dengan nama Imam Ibnul Jazari yang lahir di Damaskus (751 H-833 H). Beliau telah menggabungkan kitab At-Taisir susunan Imam Ad-Dani (W. 444 H) yang berisi tujuh Imam Qiro’at dengan tiga Imam Qiro’at dalam kitab At-Tahbir sehingga berjumlah sepuluh Imam Qiro’at dalam satu kitab dengan nama Tahbirut Taisir. Penggabungannya menjadi Sepuluh Qiro’at dikategorikan sebagai Sepuluh Qiro’at kecil. Disebut Qiro’at kecil karena yang ada di dalamnya telah tertera dalam kitab An-Nasyr Fil Qiro’atil Asyr kecuali empat kata yang tertera dalam Ad-Durroh dan tidak tertera dalam Thayyibatul Nasyr yaitu qiro’at Abu Ja’far riwayat Ibnu Wardan yang dibaca dengan dua cara yaitu:

    1. Q.S. Al-A’raf ayat 58 : لاَيُخْرَجُ إلاَّنَكَدًا (Syathibiyyah) dan لاَيَخْرُجُ إلاَّنَكَدًا (Durroh)
    2. Q.S. Al-Isro’ ayat 69 : فَيُغۡرِّقَكُمۡ بِمَا كَفَرۡتُمۡ​ (Syathibiyyah) dan فَيُغۡرِقَكُمۡ بِمَا كَفَرۡتُمۡ​ (Durroh)
    3. Q.S. At-Taubah ayat 19 :  اَجَعَلۡتُمۡ سُقَايَةَ الۡحَـآجِّ وَعِمَارَةَ(Syathibiyyah) dan اَجَعَلۡتُمۡ سِقَايَةَ الۡحَـآجِّ وَعِمَارَةَ (Durroh)
    4. Q.S. At-Taubah ayat 19 : وَعَمْرَةَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَـرَامِ (Syathibiyyah) dan وَعِمَارَةَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَـرَامِ (Durroh)

    Kitab An-Nasyr disusun oleh iamam Ibnul Jazari berisi uraian yang lebih lengkapdan detail tentang cara baca Imam Sepuluh denga tambahan satu thariq bagi setiap Rowi. Penambahan tersebut tidak ditemui dalam Qiro’at Sepuluh kecil sehingga  kitab An-Nasyr tersebut dikategorikan sebagai kitab Qiro’at Sepuluh besar. Dengan demikian kitab An-Nasyr fil Qiro’atil Asyr tergabung uraian yang lebih luas, lengkap dan detail tentang Qiro’at Sepuluh.

    Imam Asy-Syathibi memiliki kemampuan luar biasa versifier (naazim/saa’ir) telah memperindah kitab At-Taisir yang uraianya berbentuk prosa (natsr) menjadi puisi atau nadzam (bait-bait syair) yang isinya sama yaitu ushulul qaidah dan farsyul kalimat. Karya itu populer dengan nama kitab Asy-Syathibiyyah yang bersumber atau sebgian ringkasan dari kitab At-Taisir. Jika kitab Asy-Syathibiyyah tersebut digabung dengan Ad-Durroh, sama halnya dengan gabungan At-Taisir dan At-Tahbir. Semua cara membaca Imam sepuluh yang tertera dalamnya disebut tata cara membaca sepuluh Imam Qiro’at dari dua thariq At-Taisir dan At-Tahbir.

    Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan yaitu dua thariq (Asy-Syathibiyyah dan Ad-Durroh serta At-Taisir dan At-Tahbir) sama-sama menjelaskan Qiro’at sepuluh kecil. Asy-Syathibiyyah dalam bentuk nadzam (bait-bait sya’ir) merupakan penjelmaan indah dari At-Taisir yang digabungkan dengan Ad-Durroh sebagai bentuk nadzam dari At-Tahbir, kemudian At-Taisir  dari Asy-syathibiyyah digabungkan dengan At-Tahbir dari Ad-duroh. Mungkin itu sebabnya Asy-Syaikh Al-Qadhi (W. 1403 H) memberikan judul kitab Qiro’at yang beliau tulis dengan:

    البُدُوْرُ الزَّاهِرَةُ فِى القِرَاءَاتِ العَشْرِ المُتَوَاتِرَةِ مِنْ طَرِيْقَيِ الشَّاطِبِيَّةِ والدُّرَّةِ

    Dalam muqadimmah bukunya, beliau menegaskan yang artinya:

    “Aku tulis kitabku ini dan uraianya berisi tentang Qiroat sepuluh yang mutawatir berdasarkan dua thariq At-Taisir dan At-Tahbir dan atau dua thariq Asy-syathibiyyah dan Ad-durroh.”

  • pengantar ilmu qiro’at ‘asyr

    pengantar ilmu qiro’at ‘asyr

    ISTILAH-ISTILAH DALAM ILMU QIRO’AT

    1. Imam        :  Orang yang berijtihad secara isnadi dalam menentukan suatu bacaan yang mutawatir dari Nabi Muhammad SAW.

    2. Rowi         :  Orang yang meriwayatkan bacaan dari Imam dan berhak berijtihad sendiri tapi harus ditashih oleh Imam.

    3. Thariq ditinjau dari :

       Bahasa      : Jalur

       Istilah        : Jalur penyebaran Qiro’at         

    4. Ahlul Ada’   : Ahli mempraktekkan bacaan Imam atau Rowi tertentu, ahli menerima bacaan dari orang sebelumnya dan ahli menyampaikan kepada orang setelahnya.

    5. Ushulul Qoidah/kaidah ushul  : Kaidah-kaidah tajwid yang ditetapkan oleh Imam atau Rowi yang harus dikeahui dan diperhatikan karna ketentuan ini berdasarkan riwayat yang mutawatir dari Nabi Muhammad SAW. Seperti kaidah-kaidah membaca mim jama’, macam-macam mad, fathah, imalah, dll.

    6. Farsyul kaliamat/Farsyul Huruf     : Kalimat-kalimat tertentu yang dibaca berbeda oleh Imam atau Rowi dan tertulis di mushaf Qiro’at.

        Catatan penting :

                            Ushulul Qaidah seorang Im am juga termasuk Ushulul; Qaidah semua Rowi dari Imam tersebut sedangkan tidak semua Ushulul Qoidah seorang Rowi temasuk Ushulul Qoidah seorang Imam karna seorang Rowi berhak berijtihad sendiri tapi harus ditashih oleh Imam. Ketentutan ini juga berlaku pada Farsyul Kalimat seorang Imam atsu Rowi.

        Contoh     : Ushulul Qaidah/Farsyul Kalimat Ibnu Katsir juga termasuk Ushulul Qaidah/Farsyul kalimat Qunbul dan Al-Bazzi, tapi belum tentu Ushulul Qaidah/Farsyul Kalimat Qunbul atau Al-Bazzi termasuk Ushulul Qaidah/Farsyul Kalimat Ibnu Katsir.

    7. Wajah       :  Cara membaca lafadh-lafadh Al-Qur’an menurut Imam atau Rowi.

    8. Ittifaq        :  Tidak adanya perbedaan dari semua Imam atau Rowi.

    9. Waqof       :  Berhenti atau memutus akhir kalimat didalam Al-Qur’an untuk mengambil nafas dengan tujuan melanjutkan bacaanya, tidak dengan tujuan untuk mengakhiri bacaan.

    10. Qathaa    : Diam seperti waqof setelah membaca ayat Al-Qur’an dengan tujuan untuk mengakhiri bacaan dan bermaksud untuk melakukan pekerjaan yang lain setelah membaca ayatnya dengan sempurna, seperti mengakhiri bacaan Al-Qur’an pada salah satu rakat dalam shalat untuk melakukan ruku’.

                            Catatan :

                            Ayat Al-Qur’an yang dibaca harus sempurna, tidak boleh hanya membaca sebagian ayat kemudian memutusnya di tengah ayat sebelum sampai pada awal ayat karena pada dasarnya awal ayat itu dihukumi qathaa (terputus) dengan sendirinya.

    11. Washal   

    1. Kebalikan waqaf
    2. Menyambung semua ayat dengan sempurna tanpa bernafas.

    12. Saktah    : berhenti sejenak sekedar 2 harakat tanpa bernafas. Contoh : Q.S. Yasin ayat 52 dalam Qiro’ah Hafs.

    13. Isymam   :  bibir mecucu / moncong ditengah-tengah dengung sebagai isyarat bunyi dlommah.

          Isymam ada 4 yaitu :

    1. Isymam waqaf : melafadhkan dlommah ketika waqof tanpa bersuara.

    contoh : نستعينُ pada surat Al-Fatihah ayat 5. (kaidah ini berlaku untuk semua Qurro’)

    • Contoh : لا تأمنَّا pada surat Yusuf ayat 11. (kaidah ini berlaku untuk semua Qurro’ selain Abu Ja’far)
    • Isymam harakat : menyatukan harakat diommah dengan kasrah.

    Contoh L pada lafadh قِيل (Q.S. Yasin: 26), yaitu dibaca Qwiila. (Kaidah ini berlaku untuk Hisyam, Al-Kisa’i, Ruwais)

    • Isymam huruf : menyatukan makhraj (ص) dan (ز).

    Contoh : dalam membaca huruf (ص) pada lafadh صِراط (Q.S. Al-Fatihah: 6). (Kaidah ini brlaku untuk Khallad dan Khalaf rowi dari Imam Hamzah).

    14. Raum      : Berhenti dan mengurangi bunyi harakat ketika melafadhkan akhir kalimat dlommah atau kasrah sebanyak 1/3 harakat.

    15. Ikhtilas   : Membaca cepat dua pertiga harakat, ikhtilas kadang-kadang disebut juga dengan ikhfa’.

          Contoh    :

    1. Lafadh لاَتعدُّوْا (Q.S. An-Niss’: 154) dalam qaidah Qolun.
    2. Lafadh بارءِكُم (Q.S. Al-Baqarah: 54) dalam kaidah Ad-Duri Abu ‘Amrin.
  • Pesan Nuzulul Quran : Membaca adalah awalnya

    Pesan Nuzulul Quran : Membaca adalah awalnya

    Mungkin kita terlewat atau bahkan kita tidak sadar bahwasanya perintah yang pertama kali turun dalam Al-Quran ialah perintah membaca, tetapi apa yang kita pahami dari perintah membaca tersebut?

    اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقۚ

    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!

    Tafsir Ibnu Katsir:

    Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah yang menceritakan bahwa permulaan wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah Saw. berupa mimpi yang benar dalam tidurnya. Dan beliau tidak sekali-kali melihat suatu mimpi, melainkan datangnya mimpi itu bagaikan sinar pagi hari.

    Kemudian dijadikan baginya suka menyendiri, dan beliau sering datang ke Gua Hira, lalu melakukan ibadah di dalamnya selama beberapa malam yang berbilang dan untuk itu beliau membawa perbekalan secukupnya. Kemudian beliau pulang ke rumah Khadijah (istrinya) dan mengambil bekal lagi untuk melakukan hal yang sama.

    Pada suatu hari ia dikejutkan dengan datangnya wahyu saat berada di Gua Hira. Malaikat pembawa wahyu masuk ke dalam gua menemuinya, lalu berkata, “Bacalah!” Rasulullah Saw. melanjutkan kisahnya, bahwa ia menjawabnya, “Aku bukanlah orang yang pandai membaca.” Maka malaikat itu memegangku dan mendekapku sehingga aku benar-benar kepayahan olehnya, setelah itu ia melepaskan diriku dan berkata lagi, “Bacalah!” Nabi Saw. menjawab, “Aku bukanlah orang yang pandai membaca.” Malaikat itu kembali mendekapku untuk kedua kalinya hingga benar-benar aku kepayahan, lalu melepaskan aku dan berkata, “Bacalah!” Aku menjawab, “Aku bukanlah orang yang pandai membaca.” Malaikat itu kembali mendekapku untuk ketiga kalinya hingga aku benar-benar kepayahan, lalu dia melepaskan aku dan berkata:

    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan.

    Atas penjelasan tersebut, membaca memiliki keistimewaan tersendiri, bahkan menjadi perintah pertama sebagai wahyu dan ayat Al-Quran, sebab semua hal tidak lepas dari yang nama belajar dan salah satu pintu utama belajar ialah dengan membaca.

    Bahkan, Rasulullah Sallahu Alaihi wa Sallam pun berawal dari “belajar untuk membaca” dibimbing oleh Malaikat Jibril yang menyiratkan bahwa pentingnya membaca sebagai sarana untuk menimba ilmu,   

    Jika kita menyadari, berdasarkan data dari UNESCO, presentase membaca masyarakat Indonesia sangatlah rendah, yakni 0,001 % yang berarti dari 1000 orang hanya 1 orang yang memiliki minat baca lebih.

    Sungguh sangat disayangkan, karena salah satu pintu utama mencari ilmu ialah dengan membaca tetapi malah banyak dari masyarakat Indonesia yang tidak memilih untuk menempuh jalur tersebut.  

    Bahkan salah satu prestasi warga Indonesia ialah memiliki perputakaan nasional terbesar se-Asia Tenggara, yang seharusnya bisa menjadi sarana prasarana bahkan penyemangat masyarakat untuk terus mengembangkan minat literasi.

    Melihat sejarah, bahwasanya kaum muslimin memiliki masa keemas an atau yang sering disebut dengan Golden Age, pada masa dinasti Abbasiyah, yang saat itu dipim[in oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid.

    Beliau juga merupakan gambaran Pemerintahan yang sukses menggerakkan masyarakatnya agar membudidayakan literasi, hingga terciptalah Baitul hikmah yakni perpustakaan terbesar sepanjang masa, yang menjadi masa jayanya umat islam dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, bahkan banyak para ilmuan yang hidup pada zaman tersebut.

    Jika menelaah serta benar-benar belajar dari sejarah apakah pemerintah mampu menerapkan budidaya literasi pada masyarakatnya, dan sebaliknya apakah masyarakat juga memiliki ketertarikan juga semangat dalam menumbuhkan minat literasi ?

    Melihat banyak umat pada zaman sekarang memilih hanya berfokus pada ibadah tanpa mengembangkan ilmu pengetahuan yang berorientasi pada dunia, tanpa ia sadar dan ia tahu ilmu pengetahuan merupakan salah satu kendaraan akhirat.

  • pengantar ilmu qiro’at ‘asyr

    pengantar ilmu qiro’at ‘asyr

    16.v Qashr    :  Membaca pendek tergantung konteksnya sebagai berikut :

    1. Qashr dalam konteks tiga wajah berarti 2 harakat.
    2. Qashr dalam konteks tidak diikuti mad dan lin atau tidak diikuti oleh lin saja, maka qashr berarti 1 harakat.
    3. Qashr dalam konteks lin berarti 1 ½ atau 1 ¾ karena kurang dari 2 harakat, namun membacanya harus lebih dari 1 harakat seperti membaca عليهِم dalam semua riwayat begitu pula ketika membaca lafadh سَوءاتِ dalam riwayat Warsy menurut sebagia ahlul ada’.
    4. Thul                : Membaca dengan panjang 6 harakat.
    5. Tawassuth   : Membaca dengan panjang 4 harakat.

    17. Isyba’         Huruf lin dibaca panjang 6 harakat (thul), yaitu lafadh huruf lin yang diwaqafkan seperti lafadh السَّوْء pada surat A-Fath ayat 6 atau huruf lin yang berada di akhir ayat seperti lafadh خوفٌ pada surat Al-Quraisy ayat 4, kecuali pada haa dhomir tertentu yang membaca isyba’ dengan dua harakat karna ada yang membaca pendek satu harakat seperti lafadh يَتَّقْهِ pada surat An-Nur ayat 52.

    18. Mad            Memanjangkan suara ketika mengucaokan suatu huruf. Contoh : بَآءَ (Q.S. Al-Imran: 162) شَآءَ (Q.S. Al-Baqarah: 20) جَآءَ (Q.S. An-Nisa’: 43).

    19. Tashil         meringankan bunyi hamzah yang menyerupai alif, wawu (و) atau ya’ (ي). Contoh: ءَأَعْجَمِيٌّ (Q.S. Fush-shilat: 44), أَؤُنَبِّئُكُم (Q.S. Al-Imran: 15), أَئِنَّكُمْ (Q.S. Al-Ankabut: 29).

    20. Ibdal           :  Hamzah sukun dijadikan mad. Contoh: يُؤْمِنُوْن dibaca يُوْمِنُوْن (Q.S. Al-Baqarah: 88) dalam kaidah Warsy, Abu Ja’far, As-Susi dan Imam Hamzah ketika diwaqofkan.

    21. Naql           Memindah harakat hamzah kepada huruf mad sebelumnya. Contoh: قَدْ اَفلَحَ dibaca قَدَ افْلَحَ (Q.S. Al-Mu’minun: 1) dalam kaidah Warsy.

    22. Tarqiq (tipis) : Hanya untuk huruf Ro’ (ر) dan lam (ل). Tarqiq adalah bunyi asli dari huruf lam. Contoh:  مُنِيرًا(Q.S. Al-Furqan: 61) dalam kaidah Warsy harus dibaca tarqiq,الصَّلاَةَ  (Q.S. Al-Baqarah: 3) dalam kaidah semua Qurro’ selain Warsy harus dibaca tarqiq.

    23. Takhfim (tebal) :  Hanya untuk Ro’ () dan Lam (). Bunyi asli dari huruf ro’. Contoh: الصَّلاَةَ  (Q.S. Al-Baqarah: 3) dalam kaidah Warsy harus dibaca tafkhim, مُنِيرًا (Q.S. Al-Furqan: 61) dalam kaidah semua Qurro’ selain Warsy harus dibaca tafkhim.

    24. Taghlid      Huruf lam yang di baca tafkhim kecuali lam jalalah. Contoh: الصَّلاَةَ  (Q.S. Al-Baqarah: 3) dalam kaidah Warsy.

    25. v Imalah    :               Memirigkan bunyi fathah yang pada kasroh

                                    Contoh: pengucapan huruf e penuh pada “sate”. Imalah ada 2 yaitu imalah sughra dan kubro. Contoh:  مَجْرٮٰھَا di surat hud ayat 41 dalam bacaan Hafsh.

          v Taqlil    :  Imalah sughra, cara melafadhkanya yaitu antara a (50%) dan e (50%). Contoh: وَالضُحى disurat Ad-Dhuha ayat 1 dalam bacaan Warsy.

    26. Idhgam     Dua huruf yang dijadikan satu huruf dengan cara mentsydid huruf yang kedua. Idgham dibagi menjadi dua yaitu:

    1. Kabir  :  Apabila kedua hurufnya sama-sama berharakat. Contoh: فِيۡهِۛ هُدًى لِّلۡمُتَّقِيۡنَۙ‏ dibaca فِيۡهِۛ هُّدًى لِّلۡمُتَّقِيۡنَۙ‏ (Q.S. Al-Baqarah: 2) dalam kaidah Ash-susi.
    2. Shaghir : Apabila huruf pertamanya berupa sukun yang asli. Contoh: dibaca (Q.S. Al-Baqarah: 16)

    27. v Isti’la             mengangkat pangkal lidah ketika melafadhkan hurufnya.huruf isti’lah ada 7 yaitu yang terkumpul pada kalimat: (خُصَّ ضَغطٍ قِظ)

     v Istifal             menahan pangkal lidah ketika melafadhkan hurufnya. Adapun huruf-hurufnya yaitu selain huruf-huruf isti’la terkumpul pada kalimat (ثبت عز من يجود حرفه سل اذ شكا)

    28. Ya’Idhafah        :  Huruf ya’(ي) tambahan yang berarti aku, terdapat pada isim seperti lafadh نَفْسِي (Q.S. Al-Maidah: 25) ذِكرِيْ (Q.S. Al-Kahfi: 101) atau fi’il seperti فَطَرَنِيْ (Q.S. Hud: 51) وَلاَتُخْزِنِي (Qs.Asy-Syu’aro’: 87) dan pada huruf seperti إنِّي (Q.S. Al-Baqarah: 30) لِيْ (Q.S. Ali-Imran: 41) daiantara bacaan Qurro’ ada yang membacanya sukun dan adapula yang membacanya dengan fathah.

    29. Ya’ Zaidah         :  Ya’ (ي) yang terletak di akhir kalimat dan tidak tertulis (dibuang), seperti الدَّاعِ pada surat Al-Baqarah ayat 186, يَأتِ pada surat Hud ayat 105, نبغ pada surat Al-Kahfi ayat 64 dan lain-lain. Di antara para Qurro’ ada yang melafadhkanya dan ada pula yang membuangnya baik saat washol dan waqof atau hanya ketika washol ataupun waqof saja.

    • Perbedaan antara ya’ idhafah dan ya’ zaidah adalah sebagai berikut:
    • Ya’ idhafah terdapat pada isim, fi’il dan huruf sedangkan ya’ zaidah hanya terdapat huruf isim dan fi’il.
    • Ya’ idhafah hurufnya tertulis sedangkan ya’ zaidah pada umumnya dibuang (tidak tertulis dimushaf).
    • Cara Imam sepuluh membaca ya’ idhafah yaitu antara dibaca fathah atau sukun ketika washal sedangkan pada ya’ zaidah yaitu antara tetap dibaca hurufnya atau dibuang
    • Ya’ idhafah hanya sebagai ya’ tambahan sedangkan ya’ zaidah terkadang asli (sebagai kata dasar) atau hanya berupa tambahan.

    30. Idkhal                  memasukkan huruf alif pada dua hamzah yang berkumpul pada satu kalimat, disebut juga alif fashl (alif pemisah). Panjangnya sama dengan alif mad asli, yaitu 2 harakat. Contoh : أَأَنذَرْتَهُمْ dibaca ءَاأَنذَرْتَهُمْ (Q.S. Al-Baqarah: 6), yang merupakan salah satu bacaan dari Hisyam rowi dari Ibnu ‘Amir.

    31. Qiro’ah atau bacaan yang tidak boleh secara umum dibagi menjadi dua, yaitu:

             a. Qiro’ah Syadzah          :  Qiro’at yang keluar dari kaidah Imam Sepuluh bersama para rowinya.

             Contoh                                :  lafadh مَلِيكِ pada surat Al-Fatihah ayat 4 yang merupakan bacaan dari Imam Ibnu Mas’ud.

             b. Talfiq                               :  Menggabungkan kaidah bacaan dua Imam atau Rowi. Contohnya antara lain:

    1. Membaca 6 harakat mad wajib pada lafadh سَوَآءٌ عَلَيهِمْ adapun alasannya sebagai berikut:

    Qurro’ yang membaca mad dengan 6 harakat dalam thariqah syathibiyyah dan durroh adalah Warsy dan Imam Hamzah. Contoh kaidah diatas disebut talfiq karena:

    1. Warsy membaca shilah pada mim jama’ (عَلَيْهِموْ) dengan panjang 6 harakat karena huruf setelahnya adalah hamzah.
    2. Imam Hamzah membaca dlommah huruf ha (ه) pada dhamir jama’ (عَلَيهُمْ). (sama dengan Ya’qub)
    3. Adapun pembahasan tentang perbedaan para Qurro’ yang membaca shilah atau sukun pada mim jama’ akan dijelaskan selanjutnya pada bab VI.
    4. Membaca idgham bilagunnah nun sukukn atau tanwin yang bertemu dengan (ي) atau (و)padahal pembaca Al-Qur’an sedang tidak membaca riwayat khalaf rowi dari Hamzah. Contoh: مَنْ يَّقُوْلُ (Q.S. Al-Baqarah: 8), مِنْ وَّرَآءِهِ (Q.S. Ibrahim: 16), فَذٰلِكَ يَوْمَىِٕذٍ يَّوْمٌ عَسِيْرٌۙ (Q.S. Al-Muddatsir: 9) dan مُسْتَقَرُّ وَّمَتَاعٌ (Q.S. Al-Baqarah: 36)

    Catatan :

    Qiro’ah Syadzah dan Talfiq tidak boleh di praktekkan karena keluar dari kaidah Sepuluh Imam dan para Rowi serta tidak sesuai dengan bacaan yang mutawatir dari Nabi SAW.

  • pengantar ilmu qiro’at ‘asyr

    pengantar ilmu qiro’at ‘asyr

    Isti’dzah

    Kata isti’adzah ( إِسْتِعَاذَةٌ ) adalah masdar dari ista’adza ( إِستِعَادَ ) yang berarti memberikan perlindungan. Isti’adzah disebut juga dengan ta’awudz ( تَعَوُّذْ ), berasal dari kata ta’awwadza ( تَعَوُّذَ ) yang berarti melakukan upaya untuk mendapatkan perlindungan. Isti’adzah dan ta’awwudz berasal dari kata al ‘audz ( العَوْذْ ) atau al ‘iyadz ( العِيَاذ ) yang berarti perlindungan dan berpegang teguh. Sehingga apabila pembaca Al-Qur’an mengucapkannya   maka seakan-akan ia telah berjanji

    أَالجَأُ وأَعْتَصِّمُ وَأَتَحَصَّنُ بِالله

    Yang artinya: “Aku kembali berpegang teguh dan berlindung kepada Allah.”

    A.  Hukum membaca Ist’adzah

    Para Ulama’ mengatakan bahwa setiap orang yang akan membaca Al-Qur’an hendaknya terlebih dahulu membaca isti’adzah sebagaimana fiman Allah SWT dalam surat An-Nahl ayat 98:

    فَاِذَا قَرَاۡتَ الۡقُرۡاٰنَ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيۡطٰنِ الرَّجِيۡمِ

    “maka Apabila kamu ingin membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada allah dari godaan syaitan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl : 98)

    Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan hukum perintah pada ayat di atas. Jumhur (mayoritas) ulama’ memahami nilai-nilai perintah pada ayat di atas dengan mandubah atau sunnah sehingga menurut mereka apabila pembaca Al-Qur’an tidak membaca isti’adzah maka ia tidak berdosa. Sebagian ulama’ yang lain memahaminya sebagai perintah wajib, sehingga menurut mereka seandainya pembaca Al-Qur’an tidak membaca isti’adzah maka ia berdosa. Ibnu Sirin (wafat 110 H) sakah seorang yang menjaminya menegaskanya seandainya membaca isti’adzah ketika akan membaca Al-Qur’an walaupun hanya sekali dalam seumur hidupnya,, maka ia telah menjalankan perintah wajib yang tertera pada ayat.

    B.   Cara membaca Isti’adzah

    Riwayat menjelaskan bahwa Imam Nafi’ dan Imam Hamzah membaca isti’adzah dengan suara pelan ( sir ) yang hanya didengar oleh diri sendiri, tetapi ada riwayat yang menyatakan bahwa Khalaf (Rowi dari Imam Hamzah) membaca isti’adzah dengan suara nyaring ( jahr ) khusus pada surat Al-Fatihah sedangkan Khallad meskipun membaca dengan suara pelan tetapi tidak membaca dengan suara nyaring pada surat manapun.

    C.  Susunan Kalimat Isti’adzah

    Ta’awudz atau Isti’adzah yang terpilih dan populer dikalangkan para Qurro’ adalah:

    أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

    “ Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”

    Menurut ali Adh-Dhabba’ (W 1376 H) terdapat sejumlah riwayat dari Nabi yang diterima oleh para ulama salaf terutama yang disampaikan kepada Imam Qiro’at bahwa ada beberapa macam susunan kalimat isti’adzah .

    Ad-Dani (W 444 H) dalam bebrapa kitabnya yang menyebutkan bahwa ada 4 macam bentuk susunan kalimat isti’adzah , yaitu sebagai berikut:

    أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم

    أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم، إِنَّ اللهَ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْم

    Ad-Dani juga menyebutkan kalimat isti’adzah dengan susunan kalimat yang lain :

    أَعُوْذُ بِاللهِ الْقَادِرِ مِنَ الشَّيْطَانِ الْفَاجِرِ
    أَعُوْذُ بِاللهِ الْقَوِيِّ مِنَ الْشَيْطَانِ الْغَوِيِّ
    أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم، إِنَّ اللهَ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
    أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم
    أَعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم، إِنَّ اللهَ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
    أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم

    Para ulama’ memahami kalimat perintah pada surat An-Nahl ayat 98 di atas secara umum dan mutlak. Yaitu  (maka mohonkanlah perlindungan) sehingga semua susunan kalimat isti’agaadzah yang diuraiaikan di atas adalah sama. Dengan demikian, hukum pembaca menggunakan kalimat yang mana saja adalah boleh. Karena telah melaksanakan dan menjunjung tinggi pada ayat yang tertera di atas. Imam sepuluh menyatakan bahwa baik hukumnya membaca isti’adzah dengan suara nyaring atau membacanya dengan pelan pada tempat tempat tertentu.

    a.    Tempat-tempat yang dinyatakan baik membaca isti’adzah dengan suara nyaring sebagai berikut:

    1.      Apabila ada orang lain yang mendengar bacaan tersebut, seperti qari-qari’ah yang membaca Al-Qur’an pada hari-hari besar islam dan lain-lain.

    2.      Dalam proses belajar dan mengajar Al-Qur’an.

    3.      Apabila menjadi pembaca pertama dalam suatu jama’ah tadarrus Al-Qur’an. Hal ini bertujuan agar orang lain dapat mendengar Al-Qur’an secara utuh mulai dari ayat pertama sampai akhir dan sebagai syi’ar serta tanda bahwa bacaan Al-Qur’an akan segera dimulai.

    b.    Tempat-tempat yang dinyatakan baik membaca isti’adzah dengan suara pelan sebagai berikut:

    1.      Apabila membaca Al-Qur’an dengan suara pelan (sir).

    2.      Apabila membaca Al-Qur’an dengan suara nyaring dan tidak ada orang lain yang mendengarnya.

    3.      Ketika membaca Al-Qur’an dalam shalat, baik sebagai imam atau makmum maupun saat shalat sendirian.

    4.      Apabila bukan sebagai pembaca pertama pada jama’ah tadarrus Al-Qur’an. Hal ini berlakukan agar ada perbedaan antara Al-Qur’an yang dibaca dan bukan temasuk Al-Qur’an.

    v Ketika membaca awal surat kecuali surat baro-ah (At-Taubah), hendaknya membaca isti’adzah dan basmalah.

    v Adapun cara membaca antara isti’adzah dan waqaf pada basmalah dan awal surat sebagai berikut:

    1.      Waqaf pada isti’adzah dan waqaf pada basmalah kemudian membaca awal surat.

    2.      Waqaf pada isti’adzah dan menyambung basmalah dengan awal surat.

    3.      Menyambung isti’adzah dengan basmalah, kemudian waqaf dan dilanjutkan dengan membaca awal surat.

    4.      Menyambung isti’adzah, basmalah dan awal surat.

    Keterangan:

    Empat macam cara di atas boleh diberlakukan atas nama semua Imam Sepuluh ketika memulai membaca awal surat manapun di dalam Al-Qur’an kecuali ketika akan memulai surat Baro-ah.

    v Imam sepuluh sepakat bahwa cara membaca awal surat Baro’ah adalah dengan dua cara sebagai berikut:

    1.      Waqaf pada isti’adzah kemudian dilanjutkan dengan membaca awal surat tanpa basmalah.

    2.      Menyambung isti’adzah dengan awal surat tanpa membaca basmalah.

    v Adapun kesepakatan Imam Sepuluh dalam membaca antara surat Al-Anfal dan Baro-ah ada tiga cara sebagai berikut:

    1.      Berhenti (waqaf) diantara keduanya.

    2.      Saktah di antara keduanya.

    3.      Menyambung di antara keduanya.

    Catatan:

    Apabila pembaca Al-Qur’an menghentikan bacaannya karena sesuatu yang datang secara tiba-tiba seperti bersin, batuk atau berbicara sesuatu yang ada kaitannya dengan Al-Qur’an, maka hendaknya ia langsung menyambung bacaanya dan tidak perlu mengulangi untuk membaca isti’adzah. Akan tetapi kalau menghentikan bacaan karena sesuatu yang tidak ada hubunganya dengan bacaan Al-Qur’an seperti menjawab salam, maka pembaca hendaknya kembali membaca isti’adzah sebelum menyambung bacaannya.

    Membaca isti’adzah di tengah surat yang diawali dengan nama Allah ( اَللّٰهُ وَلِىُّ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا ) pada surat Al-Baqarah: 257 dan surat Thaha ayat 5, atau nama Nabi ( مُحَمَّدٌ رَّسُوۡلُ اللّٰهِ​ ) pada surat Al-Fath ayat 29 atau diawali oleh Dhomir (kata ganti) yang kembali pada Allah ( اِلَيۡهِ يُرَدُّ عِلۡمُ السَّاعَةِ​ ) pada surat Fusshilat ayat 47, Al-An’am ayat 59 dan 97, maka hendaknya lebih utama dibaca waqaf bahkan membaca basmalah setelah isti’adzah adalah lebih utama untuk menghindari kesan makna yang jelek ( albisya’ah ) karena isti’adzah dibaca secara washal yang berarti bahwa dhamir dari ayat tersebut kembali kepada Syaithan padahal kenyataannya tidak demikian.

    Sebaliknya, lebih baik setelah isti’adzah tidak membaca basmalah apabila pembacaan ayat yang akan dimulai dengan kalimat Asy-Syaithan dengan tujuan untuk menghindari kesan makna yang jelek ( albisya’ah ) atau kesan makna yang tidak baik.

    Contoh: اَلشَّيۡطٰنُ يَعِدُكُمُ (QS. Al-Baqarah: 268) dan لَّـعَنَهُ اللّٰهُ ​ (QS. An-Nisa’: 118)

    Kesimpulan:

    Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa para pembaca Al-Qur’an diharapkan cerdas dan jeli saat akan memakai basmalah atau tidak ketika akan membaca ayat di tengah surat. Bila memilih tidak membaca basmalah hendaknya ayat yang ada yang akan dibaca, dipahami terlebih dahulu maknanya, demikian pula jika memilih membaca basmalah. Mungkin ini salah satu hikmah dari pendapat para Imam Sepuluh yang memperbolehkan atau tudak diperbolehkanya membaca basmalah ketika akan membaca ayat ditengah surat.

  • MENOLONG ORANG DALAM KEMAKSIATAN?

    MENOLONG ORANG DALAM KEMAKSIATAN?

    Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa tolong menolong merupakan kewajiban bagi umat muslim.islam mengajarkan saling menolong dalam kebaikan dan tidak pernah membolehkan pemeluknya untuk menolong perbuatan-perbuatan yang bisa menjadi pendukung atas terselenggaranya maksiat dengan bentuk dan motif seperti apapun, bahkan Islam dengan tegas melarang semua perbuatan yang berbau maksiat.

    sebagaimana firman allah swt dalam QS. Al Maidah: 2

    وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ      

    Artinya: “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. 

    Ayat ini menegaskan bahwa tolong-menolong harus didasarkan pada prinsip kebaikan dan taqwa, bukan sebaliknya, yaitu membantu dalam dosa dan kemaksiatan. Dalam konteks ini, Islam sangat tegas melarang umatnya untuk saling membantu dalam perbuatan yang bertentangan dengan hukum Allah.

    Ridho dan menolong terhadap perbuatan maksiat berarti sama dengan orang yang bermaksiat.

    Dalam hadist riwayat Muslim disebutkan bahwa

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا (رواه مسلم)

    “Artinya: Diriwayatkan dari Abi Hurairah, sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa mengajak kepada petunjuk (amal baik), maka ia mendapatkan pahala sama seperti pahalanya orang yang mengikutinya. Tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang melakukannya. Barang siapa yang mengajak pada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa setimbang dengan dosa orang yang mengikutinya. Tanpa sedikitpun mengurangi dosa orang yang melakukannya.” (HR Muslim).

    hal tersebut menunjukkan bahwa membantu perbuatan maksiat tidak hanya mendatangkan dosa bagi orang yang melakukannya, tetapi juga bagi orang yang memberikan bantuan atau dukungan.

    Larangan untuk tolong-menolong dalam kemaksiatan ini bukan tanpa alasan. Islam ingin menjaga moralitas dan kehormatan umat manusia dari kerusakan. Dengan menghindari bantuan terhadap perbuatan yang bertentangan dengan syariat, maka kita turut menjaga diri kita dan orang lain dari dosa, serta memastikan kehidupan sosial yang lebih baik dan penuh berkah.

    Islam mengajarkan umatnya untuk hidup penuh kasih sayang dan tolong-menolong, namun tetap dakam kerangka kebaikan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, penting bagi umat islam untuk menjaga prinsip-prinsip moral dan tidak membantu dalam kemaksiatan. Semoga kita selalu diberikan petunjuk dan kemampuan untuk saling menolong dalam kebaikan dan menjauhi dosa-dosa yang merusak diri dan sesama umat. Amin.

  • Wanita Tangguh Pejuang Al-Qur’an

    Wanita Tangguh Pejuang Al-Qur’an

    PENDAHULUAN

         “Obate ati iku Qur’an. Dadi, lek loro balekno nang Qur’an, woco o sing akeh, ben penyakite ilang.” Artinya, “Obatnya hati itu Qur’an. Jadi, kalau sakit kembalikan ke Qur’an, baca yang banyak, biar penyakitnya hilang.” Begitulah salah satu dawuh dari Ummul Ma’had Asy-Syadzili, Simbah Nyai Hj. Rohmah Marzuki, kisah hidup beliau penuh keteladanan, cinta beliau terhadap Al-Qur’an membuat siapapun pencintanya iri. Bahkan, hingga memasuki usia yang sangat senjapun beliau tetap belajar Al-Qur’an. Seorang istri yang telah ditinggal suaminya wafat, namun tetap pantang menyerah untuk memberikan kesembilan putra dan putrinya pendidikan yang layak, mencetak mereka hingga menjadi penerus yang pantas untuk mendiang suami, yakni KH. Ahmad Syadzili Muhdlor. Dari tangan beliaulah puluhan lembaga dibawah bendera Asy-Syadzili berkibar dimana-mana. Gedung-gedung tersebut menjadi saksi bisu perjuangan tangan lembut dari Ummul Ma’hadnya, seakan-akan mempertegaskan bahwa Simbah Nyai Hj. Siti Rohmah Marzuki adalah sang wanita tangguh pejuang Al-Qur’an.

    MASA KECIL

         Simbah Nyai Hj. Siti Rohmah Marzuki biasa dipanggil dengan sebutan Nyai Rohmah adalah putri dari pasangan H. Marzuki dan Hj. Nasihah, yang lahir pada hari Kamis, 8 Ramadhan 1364 H. Atau bertepatan dengan tanggal 16 Agustus 1945 M. Sehari sebelum kemerdekaan Indonesia. H. Marzuki sendiri merupakan seorang dermawan yang kaya raya, shalih, serta sangat mencintai para ulama.

    Nyai Rohmah tumbuh cerdas dengan semangat mencari ilmu yang sangat tinggi, sehingga saat berusia 9 tahun, beliau menyampaikan keinginannya untuk pergi mondok. “Bah, mondok. Bah, mondok.” (Abah, saya ingin mondok), ucapnya kepada Haji Marzuki. Haji Marzuki tentu sangat senang dengan semangat putrinya untuk mencari ilmu. Tapi beliau memiliki rencana lain yang lebih baik. “Tak golekno guru dewe.” (Aku carikan guru sendiri). Setelah mendengar jawaban dari sang abah, Siti Rohmah girangnya bukan main. Suatu ketika, ayah beliau mendengar kabar bahwa seorang alim dan ahli Al-Qur’an yang juga merupakan menantu dari Syaikhul Huffadz KH. Munawwar Nur, baru saja ditinggal wafat istrinya. Timbullah keinginan sang ayah untuk menjadikan sang alim tersebut sebagai menantu. Di antara putri-putrinya, hanya beliau yang paling besar dan belum menikah, meski usianya masih anak-anak.

    MENJADI ISTRI SANG HAMILUL QUR’AN

         Kebahagiaan masa kanak-kanak Nyai Rohmah pun terenggut karena harus menikah dengan pria yang sudah tua dan telah memiliki tiga orang anak. Saat itu, banyak orang menasihati agar beliau menolak perjodohan tersebut. Namun, setelah mengetahui bahwa calon suaminya adalah seorang yang alim dan hafal Al-Qur’an, beliau tidak menolak perjodohan itu, dengan harapan dapat belajar banyak dari suaminya kelak.

    Pada tahun 1959 pernikahan itu diberlangsungkan, namun ada hal luar biasa yang terjadi setelahnya. Selama satu tahun pertama pernikahan, Nyai Rohmah yang masih sangat belia belum mau mendekat kepada suaminya, kecuali saat mengaji. Seusai mengaji, beliau akan kembali menjaga jarak. Sikap ini bukan karena kurangnya rasa hormat kepada Kyai Syadzili, melainkan karena usia beliau yang masih sangat muda dan belum sepenuhnya memahami makna sebuah pernikahan.

    Barulah setelah satu tahun, perlahan hati Nyai Rohmah luluh dan menerima kehadiran Kyai Syadzili sepenuhnya. Sejak saat itu, terciptalah rumah tangga yang bahagia, meski harus dijalani dengan segala keterbatasan ekonomi. Meskipun beliau adalah putri dari keluarga kaya raya, H. Marzuki hanya memberikan sebuah rumah kecil bekas gudang dan sepetak tanah yang diwakafkan kepada menantunya. Bukan sebagai pribadi, melainkan sebagai imam masjid.

    UJIAN DALAM BERUMAH TANGGA

         Ketika Allah menganugerahkan Kyai Syadzili dan Nyai Rohmah putra dan putri, justru di situlah puncak ujian hidup datang. Masa-masa krisis ekonomi melanda keluarga kecil ini, hingga untuk sekadar makan pun mereka seringkali kesulitan. Meski Kyai Syadzili yang tangguh dan pekerja keras telah mencoba berbagai usaha untuk mencukupi kebutuhan keluarga, namun keadaan tak kunjung membaik. Di tengah keterhimpitan itu, Nyai Rohmah merasa khawatir jika beban ekonomi akan mengganggu tugas mulia Kyai Syadzili sebagai pengajar dan imam. Maka dengan penuh keikhlasan dan keteguhan hati, Nyai Rohmah memutuskan untuk mengambil alih urusan ekonomi keluarga. Beliau pun turun tangan, bekerja dan berjuang mencari nafkah demi kelangsungan hidup keluarga tercinta.

    Saat masih kecil, salah satu putra beliau masih sangat ingat setiap kali beliau membutuhkan uang untuk keperluan sekolah dan kebutuhan lainnya, beliau selalu meminta kepada sang ibunda. Suatu ketika Salah satu putra beliau terlambat membayar SPP, rasa takut menyelimuti hati nya sehingga tak berani masuk sekolah dan menangis sejadi-jadinya. Melihat kesedihan itu, sang ibunda mengajak Salah satu putra beliau untuk pergi ke pasar bersama- sama menjual kain yang sudah dibordir. Dengan penuh harapan mereka berkeliling dari toko ke toko, menawarkan kain tersebut. Penolakan demi penolakan mereka terima hingga pulang tanpa membawa uang sepeser pun. Yang luar biasa, di tengah kondisi hidup begitu sulit Nyai Rohmah masih menyempatkan waktu untuk mengaji kepada Kyai Syadzili. Menunjukkan keteguhan hati dan semangat belajar yang tak pernah pudar meski dalam ujian terberat sekalipun.

    MENDIRIKAN PESANTREN

         Pada saat itu, sudah ada beberapa santri yang muqim di pondok. Santri putra dibuatkan bangunan di tanah masjid, sementara santri putri menempat di ndalem kecil yang sangat sederhana dan kurang layak. Melihat kondisi tersebut, Nyai Rohmah dengan penuh semangat dan kegigihan berusaha untuk mendirikan asrama khusus bagi santri di sepetak tanah milik beliau sendiri.

    Awalnya, usaha beliau ini tidak mendapat izin dari Kyai Syadzili. Namun, berkat keteguhan hati dan tekad yang kuat, beliau terus berjuang dan meyakinkan suaminya akan pentingnya keberadaan asrama yang layak bagi para santri. Alhamdulillah, akhirnya beliau mendapatkan restu dan izin dari Kyai Syadzili. Berkat kegigihan dan do’a beliau, terwujudlah sebuah asrama yang dapat ditempati oleh para santri dengan lebih nyaman dan layak. Keberhasilan ini kemudian diperingati setiap tanggal 13 Dzulhijjah sebagai momen yang penuh makna dan menjadi tonggak sejarah penting dalam perjalanan Asy-Syadzili.

    MENJADI IBU YANG VISIONER

         Di balik wajah beliau yang teduh, Nyai Rohmah adalah sosok yang tegas dan berwibawa. Beliau tidak membeda-bedakan baik itu putra, menantu, santri, saudara, maupun orang lain. Jika beliau mengetahui adanya kesalahan atau perbuatan yang tidak pantas, maka dengan segera mengingatkan bahkan menegur dengan tegas tanpa ragu.

    Selain itu, Nyai Rohmah juga dikenal sebagai pelindung yang luar biasa. Salah satu putra beliau masih ingat betul, ketika Kyai Syadzili begitu keras hingga pernah memukul putri dari istri pertama beliau, Nyai Rohmah dengan tegas menjadi tameng bagi putri tirinya itu dan justru Nyai Rohmah yang menerima pukulan tersebut. Pengalaman serupa juga pernah dialami oleh Salah satu putra beliau ketika beliau nakal dan dihajar oleh seseorang, Nyai Rohmah berdiri di antara Salah satu putra beliau dan orang tersebut. Akibatnya, Nyai Rohmah yang dipukuli dan dikejar hingga lari, kejadian itu disaksikan oleh banyak orang. Sikap Nyai Rohmah yang tegas namun penuh kasih itu menunjukkan betapa besar keberanian dan pengorbanan demi melindungi keluarga dan orang yang disayangi.

    Di balik hidup yang serba kekurangan, Nyai Rohmah dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan. Suatu ketika, salah satu putra beliau hendak membeli rumah, uang pelunasannya dititipkan kepada Nyai Rohmah. Tiba-tiba datang seseorang yang memelas meminta bantuan, tanpa ragu beliau memberikan seluruh uang itu tanpa menyisakan sedikit pun.

    Selain kemurahan hati, Nyai Rohmah juga seorang ibu yang visioner dengan pemikiran jauh ke depan, yang kadang sulit diikuti oleh putra-putri beliau. Salah satu contohnya adalah ketika Asy-Syadzili masih sangat sederhana dengan jumlah santri yang terbatas. Beliau meminta agar dibangun sebuah gedung enam lantai, sebuah permintaan yang tidak bisa ditawar. Alhamdulillah, akhirnya terwujudlah Graha Manarul Qur’an, sebuah bangunan megah yang menjadi simbol kemajuan dan harapan bagi Asy- Syadzili.

    Mewarisi kehati-hatian sang suami dalam urusan hukum, Nyai Rohmah juga dikenal sangat teliti dan berhati-hati. Hal ini terbukti ketika suami tercinta wafat, beliau tidak mendapat warisan sama sekali. Setelah itu, dari orang-orang yang berziarah terkumpul sejumlah uang, namun Nyai Rohmah tidak berani menggunakan uang tersebut karena ingin membaginya sesuai aturan waris. Namun, putra-putri beliau kemudian menjelaskan bahwa uang itu bukanlah tirkah atau harta peninggalan, sehingga tidak perlu dibagi. Kehati-hatian Nyai Rohmah tidak hanya terlihat dalam urusan harta, tetapi juga dalam segala hal. Nyai Rohmah tidak pernah merasa malu untuk bertanya tentang urusan agama kepada putra dan menantunya. Bahkan, beliau juga rutin mengaji kepada mereka, menunjukkan kerendahan hati dan semangat belajar yang luar biasa, meskipun sebagai sosok ibu dan pemimpin keluarga.

    MENGUTAMAKAN PENDIDIKAN PUTRA-PUTRINYA

         Diceritakan, saat salah satu putra beliau masih mondok di Singosari untuk menghafal Al-Qur’an, ia sering merasa tidak betah dan kerap pulang dengan berbagai alasan. “saya sering mengadu kepada Ibuk dengan menambahkan bumbu-bumbu agar diizinkan pulang. Alhamdulillah, setiap kali saya curhat Ibuk selalu memperhatikan dengan seksama. Namun, setelah mendengar keluh kesah saya, beliau selalu menegaskan, ‘Sudah selesai mengadunya? Kalau sudah, segera kembali’ karena tidak boleh boyong sebelum khotam.”

    Aduan dan curhatan tersebut ia ulang berkali-kali hingga suatu saat Mbah Nyai Rohmah berkata dengan tegas, “Sebagai orang tua, saya tidak mau kalah dengan anak. Apakah kamu tega memasukkan orang tuamu ke dalam neraka?” hingga saat ini, dawuh itu terus terngiang dalam ingatannya, menjadi pengingat yang kuat akan tanggung jawab dan tekad.

    Ketika hampir lulus SMA, ia juga pernah mengikuti program PBUD (Penjaringan Bibit Unggul Daerah) di UGM dengan mengambil jurusan kedokteran. Namun, tiba-tiba ia merasa terpanggil untuk mondok di Ploso. Pada saat yang sama, tokoh-tokoh NU mendatanginya dan mendorong agar dirinya tetap melanjutkan kuliah kedokteran, dengan alasan agar ada orang NU yang menjadi dokter. Keinginannya untuk mondok sempat goyah. Namun, Nyai Rohmah kembali memberi nasihat yang menguatkan,

    “Kalau sudah punya niat yang baik dan mulia, jangan mudah digoyahkan oleh siapapun.” Nasihat ini menjadi pegangan baginya untuk tetap teguh pada pilihan dan niat yang diyakini.

    WAFATNYA SANG SUAMI

         Pada akhir tahun 1991 M. Kyai Syadzili wafat. Sekitar 14 hari sebelum wafat, beliau memberikan wasiat kepada Nyai Rohmah (sebagaimana diceritakan Nyai Rohmah kepada Salah satu putra beliau). Di antara wasiat itu adalah agar tidak ada satu pun anak yang putus pendidikan, baik yang mondok, sekolah, maupun kuliah. Padahal saat itu, dari sembilan putra-putri Nyai Rohmah yang sudah menikah hanya satu orang. Dengan demikian, Nyai Rohmah mendapat amanat untuk menuntaskan pendidikan delapan putra-putrinya tanpa peninggalan warisan materi apapun. Pada masa itu, jumlah santri pun masih bisa dihitung dengan jari.

    Saat Kyai Syadzili wafat, para santri yang tersisa sowan kepada Nyai Rohmah dan menyampaikan bahwa jika Salah satu putra beliau yang berada di ploso tidak segera pulang, hanya menunggu waktu seluruh santri akan boyong. Namun, dengan tegas Nyai Rohmah berkata, “Apapun yang terjadi, dia harus tetap bertahan di Ploso.” Hal ini beliau lakukan karena ngugemi wasiat dari suami tercinta.

    Ketika keadaan sudah sangat menuntut anak tersebut untuk pulang, ia memohon izin kepada Mbah Yai di ploso, ternyata izin itu tidak diberikan. Nyai Rohmah pun meminta agar dia tetap patuh kepada Mbah Yai karena di situ ada hal yang lebih penting yaitu keberkahan.

    Inilah episode terberat dalam perjalanan hidup Nyai Rohmah. Beliau harus banting tulang menghidupi keluarga sendirian tanpa modal warisan sedikit pun, sekaligus membiayai pendidikan putra-putrinya sesuai amanat sang suami. Tanpa adanya barang berharga yang bisa dijual, Nyai Rohmah melakukan segala cara demi memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan ketika menanak nasi, beliau sengaja menyisihkan satu genggam beras untuk dikumpulkan selama sebulan penuh sebagai tabungan agar bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di balik segala kesulitan itu, Nyai Rohmah tetap aktif mendidik para santri dan terlibat dalam berbagai organisasi kemasyarakatan. Yang mengherankan, meskipun hidup dalam keterbatasan, Semua putra-putri beliau tetap tercukupi biaya hidup dan pendidikannya, seolah-olah Nyai Rohmah hidup dalam kondisi berkecukupan.

    MEMETIK APA YANG TELAH DITANAM

         Alhamdulillah, satu demi satu putra-putri Nyai Rohmah berhasil menuntaskan masa pendidikannya. Bahkan sebagian dari mereka sudah mampu membantu perekonomian keluarga. Pondok pun mulai berkembang dengan bertambahnya jumlah santri. Meski belum sempurna, sudah ada putra yang berkenan mengurus pesantren sehingga pengelolaannya mulai berjalan lebih baik.

    Akhirnya, semua putra-putri Nyai Rohmah telah berkeluarga dan terentaskan di bawah asuhan beliau. Berkat perjuangan gigih Nyai Rohmah, berdirilah pesantren Asy-Syadzili 1 hingga 6 yang kini menjadi lembaga pendidikan yang mapan. Tiga putra yang tidak mengasuh pesantren justru aktif di bidang lain; ada yang berkiprah di dunia pendidikan dan ada pula yang mengabdikan diri sebagai dokter di masyarakat. Semua tetap berperan aktif dalam pengembangan pesantren Asy-Syadzili, meneruskan amanah dan visi yang telah diwariskan.

    Nyai Rohmah adalah sosok yang sangat aktif dan tak pernah mau berdiam diri, meski usianya telah sepuh. Beliau terus mengajar para santri yang masih belum lancar membaca Al-Qur’an dan dengan penuh perhatian menyimak para santri yang hendak setor hafalan. Selain itu, Nyai Rohmah juga rajin mengaji kepada putra-putranya dan menantunya, menunjukkan semangat belajar yang tak pernah pudar.

    Tak hanya itu, beliau mengumpulkan ibu-ibu untuk diajak mengaji bersama dengan mewajibkan putra dan menantu beliau meluangkan waktu khusus untuk membimbing mereka. Yang luar biasa, waktu Nyai Rohmah hampir seluruhnya dihabiskan untuk menghafal Al-Qur’an. Kemanapun beliau pergi, selalu mengajak dua orang santri untuk menyimak hafalannya selama perjalanan.

    SEMANGAT WALAU DIUSIA SENJA

         Yang paling mengharukan adalah setiap pagi dengan duduk di atas kursi roda, Nyai Rohmah datang ke ndalem Salah satu putra beliau didampingi oleh dua orang santri untuk melanjutkan hafalan Al-Qur’annya. Keteguhan dan kecintaan beliau terhadap Al-Qur’an menjadi teladan yang menginspirasi, menunjukkan bahwa semangat belajar dan pengabdian tidak mengenal batasan usia.

    Suatu ketika di Asy-Syadzili 1 sedang berlangsung peringatan Haul Al- Habib Abu Bakar Al-Athos. Karena wabah corona yang sedang merebak, acara yang semestinya diadakan di ndalem Habib Abdurrahman dipindahkan ke pondok. Nyai Rohmah turut hadir saat acara berlangsung, namun di tengah-tengah kegiatan beliau mulai merasa tidak enak badan dan meminta agar dibawa ke rumah sakit.

    WAFATNYA SANG UMMUL MA’HAD

         Sesampainya di rumah sakit, Nyai Rohmah menjalani tes swab dan hasilnya negatif, sehingga beliau dapat dirawat di kamar perawatan biasa. Alhamdulillah, seluruh keluarga dapat menjenguk beliau di rumah sakit. Namun, tiba-tiba pada malam harinya rumah sakit menghubungi keluarga dan memberitahukan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan lanjutan, Nyai Rohmah dinyatakan positif terkena virus corona. Oleh karena itu, beliau harus dirujuk ke rumah sakit lain yang khusus menangani pasien Covid-19.

    Malam itu, seluruh keluarga berkumpul di rumah sakit karena secara medis kondisi Nyai Rohmah sudah sulit diharapkan untuk sembuh. Beliau pun tidak meminta didoakan agar sembuh, melainkan memohon agar didoakan husnul khotimah. Dengan penuh harap, putra-putri beliau secara bergantian membaca talqin melalui telepon genggam, karena putra dan cucu beliau yang dokter diizinkan mendampingi di ruang perawatan. Di tengah-tengah keluarga membaca talqin, suara lantang Nyai Rohmah terdengar dengan jelas, beliau berdoa, “Ya Allah biha, Ya Allah biha, Ya Allah bihusnul khotimah.” Suara itu menjadi penguat dan penghibur hati di saat- saat penuh ujian tersebut.

    Pagi itu, pada hari Selasa, 23 Dzulqo’dah 1441 H. Yang bertepatan pada tanggal

    14 Juli 2020 M. Nyai Rohmah menghembuskan nafas terakhirnya. Alhamdulillah, beliau dapat dimandikan dan dikafani oleh keluarga dengan penuh kasih salah satu putra beliaung. Jenazah kemudian dimasukkan ke dalam peti dan dibawa pulang bukan dengan ambulan, melainkan menggunakan mobil beliau sendiri. Sesampainya di pondok, jenazah Nyai Rohmah disholati oleh banyak penta’ziyah yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Beliau kemudian dimakamkan di area pondok, tempat yang selama ini menjadi pusat perjuangan dan pengabdian beliau. Saat itu Salah satu putra beliau teringat betul bahwa setiap pagi menjelang wafatnya, Nyai Rohmah selalu rawuh ke pondok, seolah memberi isyarat bahwa beliau akan bersemayam di sana, untuk tetap menemani dan menjaga para santrinya walau sudah tiada.

    Alhamdulillah, ketika pemakaman Nyai Rohmah, Salah satu putra beliau mendapat kesempatan untuk mendampingi hingga ke liang lahat, meskipun tanpa mengenakan APD (pakaian khusus untuk jenazah Covid). Selama tujuh hari tahlil berlangsung, selalu ramai dihadiri oleh banyak orang yang datang untuk mendoakan beliau. Para penta’ziyah pun tak pernah berhenti memberikan penghormatan, sebuah hal yang tidak lazim terjadi pada jenazah Covid lainnya. Setelah tujuh hari, semua yang mendampingi Nyai Rohmah dari rumah sakit hingga pemakaman menjalani tes swab. Alhamdulillah, berkah dari beliau, tidak ada satu pun yang terjangkit wabah ini.

    Kami semua sangat merindukan Panjenengan, Nyai Rohmah. Semoga kelak kami diberi kesempatan untuk berkumpul kembali bersama Panjenengan di tempat yang penuh rahmat dan kedamaian.

    Alfatihah..

  • dermawan dan ber-uang

    dermawan dan ber-uang

    Terkadang, orang pelit tak pernah menginginkan untuk menjadi pelit. Begitu pun dengan yang dermawan. setiap manusia memiliki motif yang membentuk mengapa mereka tidak ingin berbagi, dan mengapa mereka harus berbagi. Dalam islam, menjadi dermawan bukan hanya keistimewaan tapi juga cobaan, cobaan kapan kita akan jadi yang dermawan.

    perlu disayangkan, banyak orang yang menunda untuk menjadi dermawan hanya karena menunggu punya,padahal dikatakan oleh para ulama’ “Orang apabila semakin dermawan semakin banyak Allah memberi rezeki kepada dirinya” sebagaimana Allah swt berfirman dalam surah as saba ayat 39

    قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُ لَهٗۗ وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗۚ وَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ ۝٣

    Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.Suatu apa pun yang kamu infakkan pasti Dia akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.”

    Dari ayat tersebut kita dapat tahu, bahwa  dengan bersedekah dan suka berbagi terhadap sesama tidak akan membuat kita rugi, melainkan akan allah lipat gandakan dengan rizki yang melimpah.

    Selain bersikap dermawan, sebagai seorang muslim yang bijak kita juga perlu pandai menghemat dan menggunakan uang sesuai skala prioritasnya. Tujuannya tidak lain ialah, agar diri kita terhindar dari sifat berlebih-lebihan atau dalam bahasa arab biasa disebut dengan israf yang memiliki arti perilaku berlebihan atau melebihi batas yang dapat merugikan diri sendiri.

    Namun tanpa kita sadari, terkadang diri kita masih saja terhanyut dalam sifat israf ini, dan yang paling rawan ialah ketika diri kita memegang uang yang cukup banyak tetapi kita tidak dapat mengontrolnya. Karena pada saat itulah diri kita mulai timbul angan-angan untuk memenuhi hasrat yang hanya bersifat duniawi semata.

    Oleh karena itu salah satu cara ampuh untuk mencegah sifat israf  ini ialah dengan pandai menabung. Mengapa penulis mengatakan cara ini cukup ampuh?  karena dengan menabung, itu berarti kita menyisihkan beberapa uang kita untuk kepentingan yang akan mendatang, dan meminimalisir timbulnya angan-angan untuk memenuhi hasrat yang hanya bersifat duniawi semata.

    Kegiatan menabung baik dilakukan oleh siapapun, akan tetapi alangkah baiknya dilakukan sejak usia dini, karena dengan kita menabung di usia dini, otomatis diri kita akan terbiasa untuk belajar konsisten dalam kegiatan belajar menabung tesebut. Akan tetapi tidak ada salahnya bagi siapapun untuk memulai menabung bahkan di umur tua sekalipun.

    Kegiatan menabung sendiri sangat dianjurkan untuk para pelajar yang sedang mencari ilmu seperti  santri yang sedang tholabul ilmi di pesantren, karena selain dapat menghemat uang, belajar menabung juga dapat mebuat diri kita semakin pandai dalam membuat perhitungan untuk kepentingan yang akan mendatang. Jadi kesimpulannya dengan kita belajar menabung maka diri kita juga akan terbiasa belajar menjadi lebih disiplin dalam segala hal.