Author: irfaur

  • Asy-Syadzili membawa gelar finalis

    Asy-Syadzili membawa gelar finalis

    Alhamdulillahirabbil ‘alamiin…

    Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada hari Selasa-Jum’at tanggal 9-12 Juli 2024 perwakilan tim Santripasir Media Creative dari PPSQ Asy-Syadzili 1 berhasil pulang membawa predikat “kelompok terbaik” dalam pelatihan Santri Digital Preneur Indonesia 2024 (disana para santri membawa produk dari pesantren masing-masing dan diberi tantangan membuat foto dan video iklan produk dengan waktu dan peralatan yang sangat terbatas) yang membuat bangga, tim dari PPSQ As-Syadzili 1 berhasil menyelamatkan tiket untuk acara Demoday Santri Digital Preneur Indonesia 2024 di Jakarta nanti dan juga mendapatkan “satu set alat produksi konten kreatif digital” berupa : laptop 1 set, kamera canon r100, Tripod beserta memori card nya.

    Yuk dukung produk Santripasir dengan membeli merchandise Santripasir di :
    📍Stand bazar santripasir (lapangan voli PPSQ Asy-Syadzili 1)
    🗓 Sambangan Ahad Pon
    🕗 08:00-selesai (selama waktu sambangan santri)

    Santripasir

    Jum’at, 2 Agustus 2024

    santripasir#ppsqasysyadzili1

    banggajadisantriasysyadzili

  • menteri kemenparekraf apresiasi santripasir merchandise

    menteri kemenparekraf apresiasi santripasir merchandise

    Alhamdulillahirabbil ‘alamiin…

    Pada hari ini (Ahad, 28 Juli 2024) mas Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI Sandiaga Salahuddin Uno mereview dan memberikan apresiasi terhadap produk merchandise “Santripasir”. Beliau sangat senang sekali setelah menerima pemberian kami dan berharap agar para santri terus dapat berkarya se kreatif mungkin untuk mengembangkan produk-produk dari pesantren. Melalui program Santri Digital Preneur Indonesia, kemenparekraf memberikan pelatihan kepada para santri dari pondok pesantren di Indonesia, hal ini juga dapat memberikan sisi positif yakni mematahkan stigma masyarakat yang menganggap santri itu gaptek (gagap teknologi). Dengan sologannya “Generasi kreatif, berdaya saing”.

    Yuk dukung produk Santripasir dengan membeli merchandise Santripasir di :
    📍Stand bazar santripasir (lapangan voli PPSQ Asy-Syadzili 1)
    🗓 Setiap Sambangan Ahad Pon
    🕗 08:00-selesai (selama waktu sambangan santri)

    Foto :

    • Plakat penghargaan kelompok terbaik “Santri Digital Preneur Indonesia 2024”.
    • Mas mentri membawa buku Biografi KH. Ahmad Syadzili Muhdlor.
    • Mas mentri membawa Tumbler Santripasir.
    • Mas mentri membawa Kaos Santripasir dan Gantungan Kunci Santripasir.

    Santripasir

    Jum’at, 2 Agustus 2024

    santripasir#ppsqasysyadzili1

    banggajadisantriasysyadzili

  • Sampah Melangitkan Manusia

    Sampah Melangitkan Manusia

    ASY-SYADZILI 1 – Dalam kehidupan ini pastinya kita dituntut untuk selalu beribadah pada Allah Subhanahu wataa’la
    Mulai dari melaksanakan kewajiban, melakukan sunnah-sunnahnya, hingga berbuat baik kepada sesama. 
    Tetapi kita tak tahu amalan apa yang membuat kita yang bisa menggiring kita masuk surga Allah Subhanahu wataa’la. 
    Belajar dari kisah kisah terdahulu kita tak bisa menilai seseorang dari penampilan atau perilaku yang tampak oleh mata saja, seperti hal nya, kisah dari Barseso seorang yang alim yang terobsesi untuk bisa lebih alim lagi, dan ternyata ia terperosok dalam kemaksiatan yang amat sangat buruk karena hasutan syaitan,hingga ia meninggal dalam keadaan Su’ul Khotimah  Naudzubillah.
    Dari kisah Seorang pendosa yang memberi minum seekor anjing juga kita bisa ambil pelajaran, bahwasanya orang yang memiliki perjalanan hidup yang buruk belum tentu ia memiliki akhir yang buruk juga, berkat kebaikan hati diakhir hanyatnya, justru itu yang menjadi sebab ia masuk surga. 
    Kesimpulan dari 2 cerita diatas ialah, kita memang harus terus berusaha berbuat amal – amal baik, karena kitapun tak tau hal apa yang bisa membuat kita masuk syurga, mungkin karena kita menyisakan sedikit makanan untuk diberikan kepada seekor kucing, atau menyingkirkan batu ditengah jalan agar tidak mengganggu arus lalu lintas, kita tak pernah tahu.


    DUNIA PESANTREN 
    Begitu pula, dalam pondok pesantren, kepintaran kita dalam menyerap ilmu bukan menjadi faktor kesuksesan kita, karena dalam pondok pesantren ada sebuah faktor yang sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang, yaitu faktor X (atau yang disebut dengan  barokah ), kita tak pernah tau bagaimana faktor ini bekerja, tetapi jika seseorang telah mendapat barokah maka taka da susah dalam kehidupannya, dan cara mendapatkan barokah yaitu dengan berkhidmah  (ngabdi/ngawulo) kepada guru. 


    KHIDMAH 
    Banyak macam cara berkhidmah untuk medapatkan barokah, mulai dari membantu bagian dapur, menjadi keamanan dan ketertiban, menjadi dari bagian dakwah pondok pesantren melalui media social, ataupun menjadi ketua kamar, tetapi berkhidmah bukan hanya itu saja, makna berkhidmah memiliki cakupan yang luas.
    Kita menyapu latar masjid dengan niatan agar jamaah sholat merasa nyaman itu termasuk khidmah, kita menata sandal agar jamaah tidak kebingungan mencarinya juga termasuk khidmah, hal apapun yang kita lakukan dengan niatan untuk kemaslahatan bersama juga termasuk dari khidmah.

    SAMPAH SEPELE YANG MEMBAWA BAROKAH 
    Kita selalu berpikir bahwa khidmah itu menjadi ketua kamar, menjadi keamanan, menjadi abdi ndalem, malah banyak dari kita tidak berpikir untuk membuang sampah yang ada disekitar kita padahal itu adalah peluang kita untuk berkhidmah yang sangat mulia.
    Banyak dari kita memandang khidmah dibagian kebersihan sebagai hal yang biasa saja, tetapi malah hal itulah yang membuat mereka cepat dalam mendapatkan barokah, karena mereka rela kotor, demi para santri nyaman dalam melaksanakan kegiatan sehari-harinya, banyak sekali kisah kesuksesan dari santri yang bersih-bersih menjadi kebiasaan sehari – hari, seperti halnya kisah santri yang diutus selalu bersih-bersih tidak pernah mengaji, tetapi ketika pulang beliau menjadi seorang kyai.
    Maka dari itu, kita tak usah bingung hal apa yang bisa kita lakukan untuk berkhidmah, minimal kita buang sampah di sekitar kita dengan niatan untuk kemaslahatan bersama, Insyallah, jika Allah berkehendak hal-hal seperti itu menjadi penyebab kita mendapat barokah serta ridho Allah Subhanahu wataa’la. 
    Amin yaa robbal AlaminASY-SYADZILI 1 – Dalam kehidupan ini pastinya kita dituntut untuk selalu beribadah pada Allah Subhanahu wataa’la
    Mulai dari melaksanakan kewajiban, melakukan sunnah-sunnahnya, hingga berbuat baik kepada sesama. 
    Tetapi kita tak tahu amalan apa yang membuat kita yang bisa menggiring kita masuk surga Allah Subhanahu wataa’la. 
    Belajar dari kisah kisah terdahulu kita tak bisa menilai seseorang dari penampilan atau perilaku yang tampak oleh mata saja, seperti hal nya, kisah dari Barseso seorang yang alim yang terobsesi untuk bisa lebih alim lagi, dan ternyata ia terperosok dalam kemaksiatan yang amat sangat buruk karena hasutan syaitan,hingga ia meninggal dalam keadaan Su’ul Khotimah  Naudzubillah.
    Dari kisah Seorang pendosa yang memberi minum seekor anjing juga kita bisa ambil pelajaran, bahwasanya orang yang memiliki perjalanan hidup yang buruk belum tentu ia memiliki akhir yang buruk juga, berkat kebaikan hati diakhir hanyatnya, justru itu yang menjadi sebab ia masuk surga. 
    Kesimpulan dari 2 cerita diatas ialah, kita memang harus terus berusaha berbuat amal – amal baik, karena kitapun tak tau hal apa yang bisa membuat kita masuk syurga, mungkin karena kita menyisakan sedikit makanan untuk diberikan kepada seekor kucing, atau menyingkirkan batu ditengah jalan agar tidak mengganggu arus lalu lintas, kita tak pernah tahu.


    DUNIA PESANTREN 
    Begitu pula, dalam pondok pesantren, kepintaran kita dalam menyerap ilmu bukan menjadi faktor kesuksesan kita, karena dalam pondok pesantren ada sebuah faktor yang sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang, yaitu faktor X (atau yang disebut dengan  barokah ), kita tak pernah tau bagaimana faktor ini bekerja, tetapi jika seseorang telah mendapat barokah maka taka da susah dalam kehidupannya, dan cara mendapatkan barokah yaitu dengan berkhidmah  (ngabdi/ngawulo) kepada guru. 


    KHIDMAH 
    Banyak macam cara berkhidmah untuk medapatkan barokah, mulai dari membantu bagian dapur, menjadi keamanan dan ketertiban, menjadi dari bagian dakwah pondok pesantren melalui media social, ataupun menjadi ketua kamar, tetapi berkhidmah bukan hanya itu saja, makna berkhidmah memiliki cakupan yang luas.
    Kita menyapu latar masjid dengan niatan agar jamaah sholat merasa nyaman itu termasuk khidmah, kita menata sandal agar jamaah tidak kebingungan mencarinya juga termasuk khidmah, hal apapun yang kita lakukan dengan niatan untuk kemaslahatan bersama juga termasuk dari khidmah.

    SAMPAH SEPELE YANG MEMBAWA BAROKAH 
    Kita selalu berpikir bahwa khidmah itu menjadi ketua kamar, menjadi keamanan, menjadi abdi ndalem, malah banyak dari kita tidak berpikir untuk membuang sampah yang ada disekitar kita padahal itu adalah peluang kita untuk berkhidmah yang sangat mulia.
    Banyak dari kita memandang khidmah dibagian kebersihan sebagai hal yang biasa saja, tetapi malah hal itulah yang membuat mereka cepat dalam mendapatkan barokah, karena mereka rela kotor, demi para santri nyaman dalam melaksanakan kegiatan sehari-harinya, banyak sekali kisah kesuksesan dari santri yang bersih-bersih menjadi kebiasaan sehari – hari, seperti halnya kisah santri yang diutus selalu bersih-bersih tidak pernah mengaji, tetapi ketika pulang beliau menjadi seorang kyai.
    Maka dari itu, kita tak usah bingung hal apa yang bisa kita lakukan untuk berkhidmah, minimal kita buang sampah di sekitar kita dengan niatan untuk kemaslahatan bersama, Insyallah, jika Allah berkehendak hal-hal seperti itu menjadi penyebab kita mendapat barokah serta ridho Allah Subhanahu wataa’la. 
    Amin yaa robbal Alamin

  • 3 SIFAT YANG MENGGIRING MANUSIA PADA BINASA

    3 SIFAT YANG MENGGIRING MANUSIA PADA BINASA

    Allah SWT menciptakan manusia sebagai sebaik baiknya makhluk, dengan bukti bahwa manusia adalah satu-satu nya makhluk yang di anugerahi al’aql (akal) oleh allah SWT yang mana disini manusia dapat membedakan antara perakara baik dan buruk.

    Dengan segala nikmat anugerah tersebut, kita sebagai manusia tidak dapat melepas satu hal yang sangat melekat pada setiap pribadi manusia, apalagi kalau bukan hawa nafsu, yang selalu melahirkan penyakit penyakit hati yang dapat menjerumuskan manusia pada murka allah SWT naudzubillah min dzalik

    Dalam bab al qoul ma’ashil qolbi kitab bidayatul hidayah al-imam ghozali menukil kembali rubu’il muhlikat dalam kitabnya,  ihya’ ulumuddin :

    “diantara banyaknya penyakit hati, disini saya akan memperingatkan kamu dari 3 hal (sifat) saja dari paling menjijikkannya hati, dan 3 sifat inilah yang menguasai ahli fiqih nya zaman sekarang. Dengan tujuan kamu dapat menjaga dengan sebetul betulnya penjagaan, karena 3 sifat ini merusakkan dalam dirinya sendiri dan dia menjadi pokok dari sifat-sifat menjijikkan lainnya. Apa saja sifat-sifat itu? Adalah hasut, riya’, dan ujub.”

    1. Hasut

    Hasut sendiri bermakna dengki, dalam kasusnya, orang yang memiliki sifat hasut cenderung tidak suka atau iri melihat orang lain mendapat anugerah atau nikmat yang lebih dari Allah SWT, mereka yang hasut tidak akan menemukan ketenangan dalam hidupnya, dan sifat ini juga memmiliki potensi yang besar untuk melahirkan penyakit-penyakit hati lainnya naudzubillah min dzalik. Untuk menghindari sifat hasut, alangkah baiknya kita senantiasa mensyukuri pemberian allah dalam bentuk dan berapapun itu, sebagaimana pepatah mengatakan, berapapun porsi yang kau diberi, maka nikmatilah.

    • Riya’

    Riya’ yang berarti pamer, mereka yang mengidap penyakit riya’ cenderung haus akan pujian dan sanjungan, berbuat baik hanya semata mencari muka didepan manusia lainnya bukan karena ridho Allah SWT, di zaman kita sekarang Dimana teknologi telah melaju pesat, praktek riya’ lazim kita lihat dalam platfrom-platfrom digital, seperti tiktok, Instagram dll . refleksi diri sangat perlu untuk menghindari sifat riya’, selalu mengingat bahwa seluruh harta benda yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita hanyalah titipan semata untuk mencapai ridhonya.

    • Ujub

    Keangkuhan atau membanggakan diri sendiri adalah pengertian dari ujub. Mereka yang ujub biasanya merasa dirinya paling sempurna dari siapapun, selalu membawa-bawa jabatan yang disandangnya seakan itu adalah hal yang mulia di mata Allah SWT. Orang yang ujub juga cenderung memiliki hati yang keras atau susah dinasehati, karena mereka merasa diri mereka paling sempurna dan tak boleh ada yang menasehati nya diatas kesempurnaan itu, dan orang seperti ini juga akan susah menerima nasehat yang baik dari para ulama sekalipun, sebab hati mereka telah hanyut dalam keangkuhan diri mereka sendiri naudzubillah min dzalik.

    Untuk menghindari sifat-sifat diatas, kerendahan hati adalah obat yang paling mujarab, dan tentu juga merupakan bentuk Langkah kita menuju kebijaksanaan dalam hidup, yang semoga dengan kerendahan hati, kita semua mendapat ridho dan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT, Allahumma amin.

    Jazakumullah khairan

  • Peran penting digitalisasi dalam memajukan pondok pesantren

    Peran penting digitalisasi dalam memajukan pondok pesantren

    Digitalisasi telah menjadi kekuatan pendorong di banyak sektor, termasuk pendidikan. Pondok pesantren, sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional di Indonesia, sering menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan teknologi, terutama dengan kebijakan yang membatasi penggunaan gadget di kalangan santri. Namun, digitalisasi tetap memegang peranan penting dalam memajukan pondok pesantren dengan cara-cara yang inovatif dan adaptif.

    1. Peningkatan Kualitas Pengajaran oleh Pengurus dan Pengajar

    Meskipun santri tidak diperbolehkan membawa gadget, pengurus dan pengajar dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pengajaran. Penggunaan perangkat digital oleh pengajar memungkinkan mereka untuk mengakses dan mengolah materi ajar dengan lebih efektif. Misalnya, mereka bisa menggunakan aplikasi pendidikan untuk merancang kurikulum, menyusun modul pembelajaran, dan memantau perkembangan santri. Ini memungkinkan pengajaran yang lebih terstruktur dan berbasis data.

    2. Komunikasi yang Lebih Efektif dengan Orangtua

    Digitalisasi juga mempermudah komunikasi antara pondok pesantren dan orangtua santri. Melalui platform digital, pesantren dapat mengirimkan informasi mengenai perkembangan akademis, absensi, dan kegiatan santri secara real-time. Aplikasi atau sistem manajemen yang terintegrasi memungkinkan orangtua untuk tetap terhubung dan mendapatkan laporan secara berkala tanpa harus hadir secara fisik di pesantren.

    3. Manajemen Administrasi yang Lebih Terstruktur

    Di luar ruang kelas, digitalisasi memainkan peran penting dalam manajemen administrasi pesantren. Sistem administrasi berbasis digital dapat digunakan untuk mengelola data santri, jadwal kegiatan, dan laporan keuangan. Penggunaan perangkat lunak ini membantu pengurus pesantren dalam mengorganisasi berbagai aspek operasional dengan lebih efisien dan akurat.

    4. Pengembangan Kompetensi Digital Pengurus dan Pengajar

    Dengan pelatihan dan pengembangan keterampilan digital, pengurus dan pengajar dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam menggunakan teknologi untuk keperluan pendidikan. Ini mencakup keterampilan dalam penggunaan perangkat lunak pendidikan, aplikasi manajemen, dan alat komunikasi digital. Kemampuan ini, pada gilirannya, memperbaiki kualitas pengajaran dan manajemen pesantren secara keseluruhan.

    5. Inovasi dalam Metode Pembelajaran

    Meskipun santri tidak diperbolehkan membawa gadget, metode pembelajaran yang memanfaatkan teknologi tetap dapat diterapkan. Misalnya, pengajaran berbasis proyektor atau interaktif bisa digunakan untuk memperkenalkan konsep-konsep baru. Selain itu, penggunaan teknologi dalam pembuatan materi ajar yang menarik dan interaktif dapat memperkaya pengalaman belajar santri.

    6. Promosi dan Penyebaran Informasi

    Digitalisasi juga membantu pondok pesantren dalam promosi dan penyebaran informasi. Dengan menggunakan situs web dan media sosial, pesantren dapat memperkenalkan program-program mereka, menyebarluaskan kegiatan, dan menarik perhatian masyarakat serta calon santri. Ini tidak hanya meningkatkan visibilitas pesantren tetapi juga membangun hubungan yang lebih baik dengan komunitas.

    Kesimpulan

    Meskipun santri di pondok pesantren tidak diperbolehkan membawa gadget, digitalisasi tetap memiliki peran penting dalam memajukan lembaga pendidikan ini. Pengurus dan pengajar dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pengajaran, komunikasi dengan orangtua, manajemen administrasi, dan promosi pesantren. Dengan mengintegrasikan teknologi secara efektif, pondok pesantren dapat menghadapi tantangan zaman dan memberikan pendidikan yang lebih baik bagi santri mereka.

  • Mengapa harus pondok pesantren?

    Mengapa harus pondok pesantren?

    ASY-SYADZILI 1 – Sebelum Pondok Pesantren Asy-Syadzili bisa menjadi seperti sekarang , dahulu Asy-Syadzili merupakan pondok pesantren murni, belum memiliki banyak hal. 

    Karen Sayyidina Ali pernah berkata:

    “Ajarilah anak-anak kamu kerena mereka akan hidup di zaman yang berbeda dari kamu”

    Maka dari itulah  para santri harus dipersiapkan dengan sebaik mungkin dalam menghafal Qur’an tetapi bukan hanya itu saja,  ia juga harus mau ngaji (belajar) ilmu-ilmu lainnya, seperti mempelajari ilmu tauhid agar memiliki tauhid yang benar, belajar ilmu akhlak agar kita tahu bagaimana bersikap pada pada sesama, dan fungsi dari mondok itu ialah untuk wiqoyah

    Allah Ta’ala berfirman dalam surat at-tahrim ayat 6 :

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارً

    “Wahai orang beriman jaga dirimu dan keluargamu dari api neraka”

    Dari penggalan ayat diatas kita diperintahkan bukan hanya menjaga diri sendiri tetapi bagaimana caranya kita menjaga keluarga dari api neraka, banyak hal yang dapat dilakukan salah satunya ialah menjaga putra-putri kita dari pergaulan bebas yang salah, dan seharusnya orang tua sangat berperan dalam menjauhkan putra-putrinya dari lingkungan dan pertemanan yang buruk, salah caranya yaitu dengan menempuh pendidikan di pondok pesantren.

    Sebelum itu semua dilakukan, seluruh pondok pesantren juga harus baik, dan bersih dari lingkungan yang buruk, juga selayaknya seorang santri memilah dan memilih dalam berteman, karena itu sangat berpengaruh dengan urusan akhirat kita, teman yang salah dapat menjerumuskan kita ke neraka.

    Kemudian, tidak kalah penting kita juga perlu belajar ilmu Fiqih (hukum), agar kita memiliki pegangan dalam kehidupan dan kita tahu bagaimana sholat dengan benar serta bisa membedakan antara yang dihalalkan dan yang diharamkan, juga selagi kita memiliki masa emas yaitu masa muda kita pergunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang menunjang kehidupan kita dunia maupun akhirat nantinya.

    Seorang santri tidak boleh menguasai atau ahli dalam 1 bidang saja tetapi ia juga harus bisa dalam bidang-bidang keilmuan lainnya, terlebih lagi bisa menyeimbangkan antara belajar di pesantren dan belajar di sekolah, kita juga harus bisa memaksimalkan potensi dan bakat dalam diri dengan cara mengikuti ekstrakulikuler supaya kreativitas dalam diri kita terpacu, karena seorang yang memiliki jiwa kreatif dapat merubah batu menjadi bernilai seperti emas.

    Adapun dalam pondok pesantren seharusnya haruslah ada pendidikan kewirausahaan, mempersiapkan bagaimana nanti para menghafal Al-Qur’an, menguasai ilmu agama serta mereka tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain, tetapi seharusnya seorang penghafal Al-Quran bisa menebar manfaaat bagi orang lain, baik melalui ilmunya ataupun hartanya.

    Sehingga dengan itu, output keluaran pesantren (alumni pesanten) adalah orang-orang yang siap terjun di tengah-tengah masyarakat menjadi sumber kemanfaatan  serta dapat mencapai semua cita-cita yang diimpikan.

    Harapannya pada para santri ialah, sekali hidup di dunia sekali bisa bermanfaat bagi umat dan sekali menebar manfaat bisa berguna sampai kapanpun.

  • Pentingnya ilmu Qiraat yang menjadi bagian dari Quran

    Pentingnya ilmu Qiraat yang menjadi bagian dari Quran

     ASY-SYADZILI 1 – ilmu Qiraat merupakan cabang ilmu dari Quran, yang mempelajari cara pengucapan (lahjah) atau pelafalan saat membaca Quran.

    Qiraat sendiri merujukk dari kitab syatibiyyah dan durroh terbagi menjadi menjadi 10 atau yang sering kita sebut Qiraat 10 (Qiraat Asyr), tetapi yang terkenal dalam beberapa kalangan masyarakat hanya Qiraat 7 atau di sebut Qiraat Sab’ah

    Telah hadir di PPSQ Asy-Syadzili 1, pada Senin 2 September, seorang alim ulama’ yang sekaligus profesor doktor dari Universitas Al-Azhar Mesir, juga merupakan guru dari Habib Ali bin Abdullah Alaydrus. Beliau Syaikh Prof. Dr. Jamal Faruq Al-Daqaq,

    Beliau menyempatkan hadir ditengah-tengah kita, untuk memberikan penjelasan tentang apa itu ilmu qiraat beserta kisah-kisah orang terdahulu dalam mempelajari ilmu qiraat.

    Dalam dauroh ilmiah yang disampaikan, beliau menyanjung Pondok pesantren Asy-Syadzili karena dapat mengajarkan

    ilmu Qiraat 10 berdasar kitab Syatibiyah dan durroh, karena sangat jarang pondok pesantren yang mempelajari ilmu Qiraat terutama Qiraat 10 (Qiraat asyr).

    Dalam kajian, beliau menjelaskan tentang apakah Al-Quran diturunkan dengan bacaan bacaan yang beragam?

    Rasulullah bersabda yang artinya “Sesungguhnya Al-Quran diturunkan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam 7 macam bacaan maka bacalah Al-Quran ini sesuai yang mudah bagi kalian dari bacaan-bacaan tersebut”

    jawabannya iya, karena dikuatkan oleh salah satu dalil yang sangat masyhur, menurut Imam Ash-Suyuthi dalam kitab Al-Azhar Al-Munakiroh bahwasannya hadist ini mutawatir dari rasulullah.

    Beliau juga bercerita tentang kisah awal mulanya pengumpulan ayat-ayat Al-Quran, terdapat 2 kali upaya pengumpulan Al-Quran yaitu pada zaman khalifah Abu bakar dan yang kedua pada zaman khalifah Utsman bin Affan.

    Pada era pimpinan Khalifah Abu bakar pengumpualn ini bertujuan untuk menghimpun bacaan atau tulisan Al-Quran yang belum disatukan menjadi satu tempat.

    Dahulunya para sahabat nabi lebih mudah untuk menghafa;kannya, berkat rahmat dari Allah Subhanahu wa ta’ala, karena kemudahan dari menghafal tersebut para sahabat-sahabat nabi menuliskan ayat-ayat Quran di pelepah qurma ataupun dahan pohon

    Sedangkan pada masa khalifah Ustman bin Affan, bukan lagi untuk menulis, tetapi untuk menghimpun Qiraat-qiraat yang saat itu mulai terjadi banyak perselisihan dikarenakan perbedaan qiraat, dan dari sekian banyaknya, akhirnya terciptalah mushaf Quran, karena para sahabat juga khawatir jika tidak dituliskan maka Quran akan menjadi kitab kitab terdahulu.

    diakhir nasehat beliau takjub dengan suatu peristiwa.

    “Saya pernah beberapa kali mejadi Juri MTQ Internasional dan saya mellihat peserta diantaranya ada yang bersal dari cina padahal ia tidak tahu 1 kalimatpun dari bahasa arab, tetapi bacaanya tidak salah sedikitpun baik makhroj ataupun tajwid, semuanya sempurna bagaikan malaikat.

    Begitu pula peserta dari Indonesia, dari negara eropa dan lain-lain yang notabene nya bukan negara arab pun, mampu menghafalkan Al-Quran dengan 10 Qiraat dan 20 riwayatnya, beserta dalil-dalilnya dari kitab Syatibiyah dan durroh,

    padahal menghafalkan Syatibiyah lebih susah daripada menghafalkan Al-Quran, sungguh Masyaallah

    Sekitar 40 tahun lalu saya sempat pesimis karena tidak ada lagi orang-orang yang peduli deng ilmu Qiraat tetapi , Masyaallah sekaranng banyak orang berlomba-lomba untuk mempelajarinya , dari hal itu menunjukkan bahwa Allah memang menjaga Al-Quran dengan sebenar-benarnya penjagaan hingga dari dahulu tidak ada perubahan 1 huruf pun dalam Al-Quran beserta Qiraat-Qiraatnya.

    Syaikh Jamal Faruq Jibril Mahmud Ad-Daqqaq.

  • Kapan ilmu kita bisa dikatakan barokah?

    Kapan ilmu kita bisa dikatakan barokah?

    ASY-SYADZILI 1 – Kedudukan paling istimewa ialah mencari ilmu, dan sudah seharusnya setiap santri memiliki cita-cita untuk bisa mengaji dan sanggup mengajarkan ilmu yang dimiliki.

    Tidak berhentinya ilmu yang dimiliki hanya pada diri sendiri, bisa dikatakan adalah ilmu yang  barokah, kita bayangkan, apabila seorang guru memiliki murid, dan muridnya memiliki murid hingga seterusnya,  maka alangkah banyaknya keberkahan ilmu dan amal jariyah yang guru tersebut dapatkan.

    Adapun hal-hal yang perlu ditahui dan kita lakukan supaya mendapat keberkahan ilmu yakni :

    • 2.Menjalin silaturahim pada kiyai dan guru

    Peranan orangtua bagi santri sangatlah penting, seandainya ingin memiliki anak yang ahli fiqih maka    harus terbiasa menyambungkan diri kepada para kiyai,  salah satu caranya dengan dermawan kepada orang alim ulama serta kiyai, kalaupun anaknya tidak menjadi ahli fiqih maka hal tersebut masih bisa turun kepada cucunya.

    Diceritakan dalam kitab ta’lim muta’alim, suatu ketika ada seorang kyai yang mengunjungi sebuah daerah dimana ketika beliau sampai disana semua santri yang ada disana sowan kepada beliau, akan tetapi terdapat satu santri yang tidak sowan kepada beliau, kemudian dipanggilah santri tersebut dan ditanya oleh sang kyai atas perilakunya tersebut, santri tersebut beralasan sedang merawat ibunya yang sakit lantas kiyai berkata

     “kamu tidak akan mendapat keberkahan ilmu”.

    Dari kisah diatas dapat kita petik pelajaran bahwa pentingnya menyambungkan diri dengan kiyai sangat berpengaruh atas keberkahan ilmu yang kita inginkan.

    2.Menjaga haqqul adami

    Adapun haqqul adami hak-hak yang dimiliki setiap manusia yang apabila kita mengganggu hak tersebut bisa mencegah kita mendapatkan keberkahan ilmu. Menjaga haqqul adami lebih tepatnya seperti tidak mendholimi teman, tidak merusak barang-barang mereka dan semacamnya. Intinya semua perkara yang menyebabkan terambilnya hak orang lain termasuk melanggar haqqul adami. Adapun ketika kita terlanjur melanggar haqqul adami untuk menebusnya tidak cukup hanya dengan meminta maaf saja tapi perlunya meminta kehalalan atas barang atau hak orang yang kita ambil (istihlal)

    Oleh karena itu apabila dirasa belum melakukan hal-hal tersebut maka mulalilah dari sekarang agar ilmu yang kita peroleh bisa mendatangkan keberkahan bagi kita maupun orang lain.

  • benih didikan orang tua

    benih didikan orang tua

    Mendidik anak dengan baik sama dengan menapaki jalan yang benar menuju ridho Allah SWT, sebab anak yang tumbuh dengan karakter dan akhlak yang baik berpotensi memberi dampak yang baik pula pada lingkungan sekitarnya, dan berkat itu semua berlimpahlah ridho dari Allah SWT.

    Tapi bagaimana ketika orangt ua/guru ceroboh dalam mendidik anaknya? Sehingga membuat anak memiliki pemahaman dan akhlak yang buruk, tidak mengenal hak dan batil, baik dan buruk. Tidak hanya kesengsaraan dalam hidup yang didapatnya, tapi juga murka dan dosa dari allah SWT.

    Pertanyaanya, apakah orang tua/guru ikut memikul dosa anak yang terlanjur terjerumus ini? adakah sebab akibat atas segala kecerobohannya? terdapat dua perspektif dalam masalah ini.

    Yang pertama, adalah dosa bagi orangtua/guru yang ceroboh dalam mendidik anaknya. Tetapi bukan dosa anak tersebut yang dipikulnya, melainkan tasabbab atau sebab atas kecerobohannya dalam mendidik dan mendorong anak tersebut melakukan maksiat, yang akhirnya membuat orangtua/guru ikut terjerumus dalam dosa. sekali lagi, bukan dosa anak tersebut yang dipikul melainkan sebab atas kecerobohan seorang orang tua/guru . karena telah dikatakan  وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۗ “orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”

    Yang kedua, bukan sebuah dosa bagi orang tua/guru yang sudah berusaha keras dalam mendidik anaknya, yang benar benar sepenuhnya berusaha menumbuhkan hal hal baik dan di ridhoi Allah SWT, namun takdir berkata lain, masih terdapat titik hitam dalam hati nya yang mendorong anak melakukan maksiat. Maka dosa atas segala perbuatannya akan ditanggung sendiri oleh sang anak, yang dimana disini orang tua/guru telah menggugurkan tanggung jawab nya dalam mendidik, dan terdapat sebuah kesalahan dalam diri anak tersebut yang membuatnya mengabaikan seluruh didikan yang pernah diberikan selama ini.

    Maka dari itu peran dari orang tua/guru dalam kehidupan seorang anak sangat menentukan karakter dan masa depannya. Jika orang tua/guru ceroboh dalam menanam benih, maka buruk pula buah yang dipetik kemudian. Sebaliknya, dengan selalu memperhatikan dan merawat dengan baik seluruh benih yang ditanam, maka ranum pula buah yang dipetik kelak.

    Jazakumullah khairan

  • membiasakan fokus dalam banyak hal

    membiasakan fokus dalam banyak hal

    ASY-SYADZILI 1 –  Perumpamaan orang mencari ilmu itu seperti orang yang menggali sumur dan menambang untuk mencari emas, ketika ditengah perjalanan menggali ia menemukan intan atau permata maka apakah ia akan membuangnya karena yang ia sebenarnya cari adalah emas? Tentu kita akan mengambilnya karena hal tersebut sama berharganya.

    Semakin banyak kegiatan yang kita lakukan dan dengan membiaskan untuk tidak hanya fokus dalam satu kegiatan saja maka akan semakin banyak yang kita peroleh di masa depan.Kalau hanya terbiasa fokus dengan satu hal maka ketika dihadapkan dengan banyak hal akan sulit mengerjakannya, seperti halnya  ketika fokus menghafal alquran saja lantas ketika datang tanggung jawab lain maka alqurannya akan lupa.Maka dari itu semakin banyak pekerjaan yang kita lakukan akan membuat kita pandai mengatur waktu.

    Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Barangsiapa tidak peduli dengan urusan kaum muslimin maka dia bukan ummatku”

    Dari sabda beliau bisa kita tarik pelajaran tersirat tentang pentingnya kita untuk membiasakan mengerjakan banyak hal karena  ketika nanti terjun ke masyarakat agar bisa tetap melaksanakan perintah beliau dengan tetap meenjaga hafalan alquran yang kita punya

    Menghafal alquran itu hal yang mudah,akan tetapi kalau sudah hafal tapi tidak ada ilmunya maka buat apa susah susah menghafal dan apa yang perlu dibanggakan dari itu, maka kalau sudah hafal quran dan dibarengi dengan ilmunya itu baru kita bisa mengharapkan sesuatu yang istimewa di sisi Allah.